Dialog dan Persahabatan Sosial pada Satu-satunya Perguruan Tinggi Katolik Negeri di Indonesia: Memaknai Ensiklik Fratelli Tutti Paus Fransiskus Martinus1. Herkulanus Pongkot2. Varetha Lisarani3 Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Email: martinusambawang@gmail. Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Email: pherkulanus@gmail. Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Email: betzyvarethalisarani@gmail. Abstrak Fratelli Tutti (Saudara semu. merupakan salah satu ensiklik baru setelah Lumen Fidei dan Laudato siAo yang bertujuan untuk membangun persaudaraan, persahabatan sosial tanpa batas. kepenuhan pribadi dalam diri sesama. Dalam penelitian ini dideskripsikan bagaimana semangat persahabatan sosial yang terjadi antar sesama dosen yang bekerja di STAKat Negeri Pontianak, mengingat latar belakang budaya dan agama yang beragam. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil angket yang diisi oleh 20 responden diperoleh bahwa dosen di STAKat Negeri Pontianak berasa dari beragam suku antara lain suku Batak. Dayak. Flores. Jawa. Melayu. Nias, bahkan campuran Jawa-Dayak. Sedangkan untuk keragaman agama, terdapat 65% responden merupakan dosen beragama Katolik, 20% merupakan dosen beragama Kristen, dan 15% merupakan dosen beragama Islam. Berdasarkan hasil wawancara, telah terbentuk budaya dialog sosial menuju budaya baru di STAKat Negeri Pontianak. Secara spesifik, budaya baru yang dimaksud adalah budaya dialog untuk membangun bersama, dengan tetap memaklumi dan memfasilitasi perbedaan latar belakang rekan dosen, namun mengesampingkan kepentingan pribadi. Di lingkungan kerja dosen STAKat Negeri Pontianak sudah terjalin dialog otentik yang ditandai dengan kesediaan mendengar dan mengerti pandangan orang lain atau kelompok, serta telah dilaksanakan untuk mencapai nilai-nilai permanen, stabil dan tidak bisa ditawar, bukan sekedar untuk mencapai kesepakatan sesaat. Dengan berjumpa dengan rekan dosen yang berbeda suku serta agama, maka akan terbentuk dialog, dan dimungkinkan bagi individu untuk menempatkan diri di posisi orang lain. Responden juga merasa optimis bahwa kedepannya dapat dibangun budaya kehidupan yang memulihkan sikap baik yang akan membentuk individu-individu yang memancarkan terang. Kata kunci: dialog, persahabatan sosial, fratelli tutti Abstract "Fratelli Tutti" is one of the recent encyclicals, following "Lumen Fidei" and "Laudato Si'," with the aim of promoting boundless fraternity, social friendship, and finding personal fulfillment within one This research describes how the spirit of social friendship among the faculty members working at the State Catholic College of Pontianak (STAKat Negeri Pontiana. is nurtured, considering the diverse cultural and religious backgrounds. This is a descriptive qualitative research. Based on the results of a questionnaire filled out by 20 respondents, it was found that the faculty at STAKat Negeri Pontianak comes from various ethnic backgrounds, including Batak. Dayak. Flores. Javanese. Malay. Nias, and even a mix of Javanese and Dayak. Regarding religious diversity, 65% of the respondents are Catholic, 20% are Christian, and 15% are Muslim. Through interviews, a culture of social dialogue leading to a new culture at STAKat Negeri Pontianak has emerged. Specifically, this new culture refers to a culture of dialogue for collective building, accommodating and facilitating the differences in the colleagues' backgrounds while setting aside personal interests. In the faculty environment of STAKat Negeri Pontianak, authentic dialogues have been established, marked by a willingness to listen and understand the perspectives of others or groups, and they have been conducted to achieve enduring, stable, non-negotiable values, rather than merely reaching momentary By interacting with colleagues from different ethnic and religious backgrounds, dialogues are formed, allowing individuals to place themselves in others' positions. Respondents also express optimism that, in the future, a culture of life that restores goodwill can be cultivated, shaping individuals who radiate light. Keywords: dialogue, social friendship. Fratelli tutti PENDAHULUAN Indonesia adalah sebuah negara yang kaya akan keanekaragaman suku bangsa, ras, etnis, dan agama. Namun, meskipun kekayaan ini merupakan salah satu keistimewaan Indonesia, perbedaan-perbedaan ini juga menyebabkan masing-masing kelompok dan masyarakat di Indonesia sulit untuk bersatu dan berdialog dengan masyarakat yang lain. Perbedaan-perbedaan ini menciptakan variasi dalam pandangan, norma-norma perilaku, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Keanekaragaman ini memiliki dampak yang kompleks dalam kehidupan bermasyarakat, baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, makna dari dialog dan persahabatan sosial merupakan konsep yang penting untuk dipahami dalam menghadapi masyarakat yang beragam ini. Tujuan dari konsep ini adalah untuk meminimalisir potensi konflik-konflik yang mungkin muncul akibat perbedaan-perbedaan tersebut. Konsep dialog dan persahabatan sosial mengakui bahwa setiap individu lahir setara, meskipun memiliki beragam identitas. Dalam konteks ini. Fratelli Tutti, ensiklik Paus Fransiskus, menyoroti pentingnya dialog sebagai alternatif terhadap tindakan egois dan kekerasan. Ensiklik ini menggarisbawahi bahwa manusia seharusnya dapat saling mendengar, menerima, dan terbuka terhadap pencarian kebenaran bersama. Kehidupan berbangsa dan bernegara tumbuh melalui dialog yang melibatkan berbagai budaya, termasuk budaya populer, budaya universitas, budaya pemuda, seni, teknologi, ekonomi, keluarga, dan media. Sayangnya, seringkali dialog digantikan oleh opini berapi-api atau informasi palsu, yang pada akhirnya hanya berujung pada monolog tanpa perubahan yang berarti [Fratelli Tutti: 199-. Media massa seringkali hanya bertujuan untuk menyampaikan opini dan memprovokasi konflik, tanpa membuka ruang bagi dialog yang sejati. Sebagai akibatnya, narasi-narasi politik sering menjadi bahasa umum dalam berkomunikasi, yang mengakibatkan manipulasi dalam bahasa sehari-hari . Penggunaan bahasa yang ambisius dan manipulatif seperti ini telah merasuki sektor-sektor sosial, ekonomi, media, dan agama, menghambat terjadinya dialog yang konstruktif . Dalam konteks yang semakin spesialisasi dalam berbagai bidang ilmu, cara pandang dan pemahaman tentang realitas sosial dapat sangat beragam. Oleh karena itu, penting untuk melihat realitas dari berbagai sudut pandang, karena melihatnya hanya dari satu perspektif tidak cukup. Spesialisasi yang baik adalah yang mengakui keberagaman pandangan dan belajar dari spesialisasi lain, untuk memahami realitas sosial secara komprehensif. Di era globalisasi ini, media berperan sebagai alat untuk memperkuat kesatuan umat manusia dan membangun solidaritas demi kebaikan bersama. Paus Fransiskus mengartikan perkembangan teknologi dan internet sebagai anugerah Tuhan yang bisa menghubungkan seluruh umat manusia. Namun, perlu ada kontrol yang ketat agar media ini benar-benar menjadi sarana yang menyatukan, bukan yang memanipulasi dan memanfaatkan kelemahan individu. Kesimpulannya, dialog merupakan dasar dari budaya baru, yaitu budaya perjumpaan. Kebenaran adalah nilai utama dalam dialog, sehingga kejujuran dan keterbukaan sangat penting. Dialog bukanlah proses sekali jalan, melainkan perlu adanya tekad kuat dari semua pihak untuk menerima perbedaan. Perbedaan, bagaimanapun, adalah sumber kreativitas yang penting. Dialog memungkinkan perbedaan tersebut menjadi kesempatan untuk kerja sama yang memajukan kepentingan bersama. Pada akhirnya, tujuan utama dari dialog adalah menciptakan damai, dan setiap individu memiliki peran penting sebagai pelaku perdamaian. Damai bukanlah tujuan akhir, melainkan proses yang tak pernah berakhir. Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKa. Negeri Pontianak adalah salah satu perguruan tinggi yang memiliki keragaman agama dan budaya khususnya pada lingkungan dosennya. Meskipun merupakan satu-satunya perguruan tinggi keagamaan Katolik negeri di Indonesia. STAKat Negeri Pontianak memiliki dosen yang beragama selain Katolik seperti Islam dan Kristen. Keragaman budaya juga nampak dari latar belakang suku dosen seperti suku Dayak . engan banyak sub-sukuny. , suku Jawa. Flores. Nias. Melayu. Batak, dan campuran Jawa-Dayak. Dengan keberagaman ini dimungkinkan terjadi perjumpaan dan dialog antar agama maupun antarbudaya. Dengan latar belakang ini tim peneliti tertarik untuk mendalami mengenai dialog dan persahabatan sosial di STAKat Negeri Pontianak sebagai bentuk memaknai Ensiklik Fratelli Tutti Paus Fransiskus. METODE Penelitian ini dilaksanakan dengan metode deskriptif kualitatif. Metode kualitatif dilakukan karena terdapat fenomena sentral berupa konsep maupun proses yang hendak diinvestigasi (Creswell, 2. Dalam penelitian ini, fenomena sentral yang hendak diinvestigasi adalah mengenai keragaman agama dan budaya serta dialog dan persahabatan sosial khususnya dalam lingkungan STAKat Negeri Pontianak sebagai pemaknaan Ensiklik Fratelli Tutti Paus Fransiskus. Langkah pertama peneliti mengidentifikasi sumber data yaitu 33 dosen STAKat Negeri Pontianak. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan penyebaran angket dan wawancara terkait keragaman agama dan budaya serta dialog dan persahabatan sosial. Instrumen dikembangkan dengan didasarkan pada Ensiklik Fratelli Tutti Paus Fransiskus dengan mempertimbangkan kejenuhan data, kesediaan responden, dan representasi data. Instrumen angket disebarkan pada bulan November hingga Desember 2021 dan wawancara dilaksanakan pada bulan Desember 2021. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif dengan Model Miles and Huberman yaitu dengan langkah data collection, data reduction, data display, dan dan conclusion drawing (Sugiyono. Dengan analisis ini diharapkan akan diperoleh gambaran mengenai keragaman agama dan budaya serta dialog dan persahabatan sosial dalam terang Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus di STAKat Negeri Pontianak. HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaman Agama dan Budaya di STAKat Negeri Pontianak Keragaman agama dan budaya khususnya pada lingkungan dosen STAKat Negeri Pontianak baik dosen tetap Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun dosen Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN) cukup beragam. Hal ini dapat dilihat dari hasil angket Memaknai Dialog dan Persahabatan Sosial dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus di STAKat Negeri Pontianak yang disebarkan pada bulan November-Desember 2021. Dari ke-33 dosen PNS maupun PPNPN, terdapat 20 dosen yang bersedia menjadi responden penelitian ini dengan rincian 11 responden berjenis kelamin laki110 laki dan 9 responden berjenis kelamin perempuan. 19 orang responden berpendidikan terakhir S-2, dan 1 orang berpendidikan terakhir S-3. Gambar 1. Sebaran Jenis Kelamin Responden Penelitian Gambar 2. Pendidikan Terakhir Responden Penelitian Dari 20 orang responden ini dapat dilihat keragaman latar belakang suku dan budaya yang beragam pada lingkungan kerja dosen STAKat Negeri Pontianak. Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa dosen STAKat Negeri Pontianak berlatarbelakangkan suku Batak. Dayak. Flores. Jawa. Melayu. Nias, bahkan campuran Jawa-Dayak. Lebih jauh lagi, dosen berlatarbelakangkan suku Dayak masih terbagi lagi menjadi sub-sub suku seperti Dayak Ngaju. Dayak Taman. Dayak Iban. Dayak Kanayatn, dan Dayak Ketungau Sesaek. Gambar 3. Sebaran Latar Belakang Suku Responden Ragam latar belakang agama di lingkungan kerja dosen STAKat Negeri Pontianak masih didominasi oleh dosen beragama Katolik dengan persentase 65%, diikuti dengan dosen beragama Kristen dengan persentase 20% dan dosen beragama Islam dengan persentase 15%. Keragaman latar belakang agama dosen ini dimungkinkan dengan diadakannya penerimaan Calon Dosen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2018, di mana diterima dosen dari beragam latar belakang agama di STAKat Negeri Pontianak. Gambar 4. Sebaran Latar Belakang Agama Responden Dialog dan Hidup Persaudaraan dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus di STAKat Negeri Pontianak Fratelli Tutti (Saudara Semu. merupakan salah satu ensiklik baru setelah Lumen Fidei dan Laudato siAo. Ensiklik ini dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada 3 Oktober 2020. Ensiklik ini dikeluarkan oleh Paus atas dasar keprihatinannya dengan dunia saat ini, di mana karena adanya pandemi COVID-19 membuat semakin kurangnya dialog antar umat beragama. Rasa persaudaraan antara satu sama lain semakin tidak dirasakan. Tujuan dari ensiklik ini adalah membangun persaudaraan, persahabatan sosial tanpa batas. menemukan kepenuhan pribadi dalam diri sesama. Dalam hal ini peneliti ingin melihat bagaimana semangat persaudaraan yang terjadi antar sesama dosen yang bekerja di STAKat Negeri Pontianak, baik itu dosen PNS maupun PPNPN, mengingat latar belakang budaya dan agama yang begitu beragam. Berikut merupakan hasil penelitian dan pembahasan berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada sepuluh responden terpilih yang merupakan dosen di STAKat Negeri Pontianak yang juga sudah mengisi angket Memaknai Dialog dan Persahabatan Sosial dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus di STAKat Negeri Pontianak. Hasil penelitian dan pembahasannya akan dijabarkan berdasar poin-poin bab VI Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus. Dialog Sosial Menuju Budaya Baru Manusia pada dasarnya dapat saling memberi dan menerima satu sama lain. Dialog menjadi sangat penting dilakukan dalam kehidupan. Sebuah bangsa dapat tumbuh karena adanya dialog antara berbagai budaya: budaya populer, budaya universitas, budaya orang muda, seni dan teknologi, ekonomi keluarga dan media. Dialog sering kali ditempuh melalui opini panas maupun informasi palsu. Dewasa ini berita-berita yang ada di media sosial sering kali hanya bertujuan menyampaikan opini. Dengan adanya opini tersebut orang saling menyerang kesalahan, tanpa menyampaikan pandangan baru yang lebih berbobot dan mencari kebenarannya. Hal ini juga berdampak pada manipulasi pada sektor sosial, ekonomi, media dan agama. Akibatnya, kesalahpahaman sering terjadi dan dialog antar sesama jarang Dengan begitu setiap individu lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan kepentingan bersama. Dewasa ini, yang perlu kita lakukan ialah bagaimana memperjuangkan kebenaran melampaui kepentingan pribadi, melainkan mementingkan kepentingan STAKat Negeri Pontianak merupakan kampus Agama Katolik Negeri pertama yang ada di Indonesia. Semenjak berbuah status menjadi kampus Negeri. STAKat menjadi Sekolah Tinggi Katolik yang menerima siapa saja untuk menjadi tenaga pengajarnya. Walaupun dari suku dan agama yang berbeda-beda, dosen yang ada di STAKat dapat berkomunikasi dan bekerja sama dengan baik antara satu sama lain. Hal ini terbukti dengan hasil angket yang telah diisi oleh beberapa dosen yang bekerja di STAKat serta hasil wawancara. Berdasarkan hasil angket dan wawancara dari kesepuluh responden, kesepuluh responden sepakat bahwa mereka merasa dialog dan komunikasi yang dilakukan di STAKat Negeri Pontianak dilakukan atas dasar kepentingan bersama. Hal tersebut mereka ungkapkan berdasarkan pengalaman kerja yang telah mereka alami. Terkait dengan menyampaikan pandangan baru yang berbobot dibandingkan untuk serang salah, kesepuluh responden memiliki pendapat yang berbeda. Ada beberapa dosen yang merasa bahwa ada beberapa pandangan baru berbobot yang disampaikan. Namun demikian, yang lain mengatakan masih ada beberapa yang saling serang salah dan belum bisa menerima inovasi. Namun demikian, kesepuluh responden optimis bahwa ke depannya STAKat Negeri Pontianak dapat mengembangkan budaya baru berupa dialog yang mengutamakan kepentingan bersama. Hal tersebut dapat terjadi seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman. Membangun Bersama Dialog yang autentik dapat terjadi apabila setiap individu bersedia mendengarkan dan mau mengerti pandangan orang lain atau kelompok. Apabila pandangan kelompok benar-benar baik, tentu hal tersebut dapat berdampak positif terhadap kehidupan sosial. Dengan adanya dialog yang baik memungkinkan pencairan kebenaran dan bukan debat politik yang penuh dengan kepalsuan. Dialog memungkinkan kerja sama demi kepentingan bersama. Perbedaan tentunya selalu ada, akan tetapi perbedaan itu justru menunjukkan kreativitas. Perlu adanya dialog agar perbedaan tersebut menjadi kesempatan untuk bekerja sama. Di era kemajuan global ini, media dapat membantu kita untuk merasakan kesatuan umat manusia, agar tumbuh solidaritas untuk membangun kebaikan bersama. Paus memaknai kemajuan teknologi sebagai anugerah Tuhan. Anugerah ini dapat menjadi sarana jejaring yang baik, sebagai media penyatu segenap umat manusia. Di STAKat Negeri Pontianak sendiri kebersamaan untuk membangun juga sudah terasa. Hal tersebut terbukti lewat hasil angket dan wawancara yang telah diberikan kepada sepuluh responden, di mana mereka menyatakan bahwa ada kesediaan untuk mendengar dan mengerti pandangan orang lain maupun kelompok dalam berdialog dengan rekan dosen yang ada di STAKat Negeri Pontianak. Di sisi lain terkait dengan pandangan terhadap perbedaan melihat realitas. Kesepuluh responden berpendapat bahwa mereka menyadari jika dosen yang ada di STAKat berasal dari berbagai bidang ilmu. Terkait pendapat responden tentang media komunikasi dan teknologi di STAKat Negeri Pontianak menjadi sarana menumbuhkan solidaritas dan membangun kebaikan bersama. Kesepuluh responden memiliki pendapat yang berbeda-beda. Beberapa dosen setuju dengan pendapat tersebut. Namun demikian, beberapa dosen menyatakan bahwa tidak sepenuhkan media komunikasi dan teknologi menjadi sarana menumbuhkan solidaritas dan membangun kebaikan bersama. Oleh karena, interaksi jauh lebih dapat berjalan dengan baik apabila dilakukan secara langsung. Hal tersebut mereka utarakan berdasarkan pengalaman selama mereka bekerja di STAKat Negeri Pontianak. Dasar Konsensus Relativitas bukanlah solusi dalam berdialog. Lebih-lebih relativisme terkait dengan moral. Sebuah tatanan masyarakat yang baik terlihat dari upaya dialog berdasarkan kebenaran fungsional. Kebenaran tersebut ditentukan oleh kelompok dan kepentingan tertentu. Relativitas telah menidurkan umat manusia. Relativitas menyebabkan orang malas mencari nilai-nilai yang lebih luhur dari kepuasan Tidak ada lagi kebenaran moral berdasarkan perbedaan antara nilai yang baik dan yang buruk. Yang ada ialah mana yang baik dan yang buruk. Dasar konsensus yang terjadi antar dosen yang ada di STAKat Negeri Pontianak sudah terjadi dan mulai terasa. Kesepuluh responden sangat setuju dengan pernyataan bahwa dialog autentik harus ditandai dengan kesediaan mendengar dan mengerti pandangan orang lain atau kelompok. Ketika pandangan suatu kelompok benar-benar baik, tentu akan memberi dampak positif pada kehidupan sosial. Menurut mereka dengan adanya dialog autentik yang mau mendengarkan dan mengerti pandangan orang lain. Hal tersebut dapat memberi dampak positif pada kehidupan sosial. Konsensus dan Kebenaran Dialog menjadi cara yang terbaik di dalam dunia yang plural ini untuk sampai pada prinsip yang seharusnya terwujud. Dalam hal ini konsensus dan kebenaran dipahami sebagai suatu pemahaman rasional yang mempertimbangkan kekayaan berbagai sudut pandang menuju kebenaran fundamental. Maka dari itu, tidak harus ada pertentangan antara kesepakatan sosial, konsensus dan kebenaran objektif sebuah realitas. Sebab ketiga hal tersebut dapat dirangkum dalam dialog, sejauh orang terbuka untuk bertanya sampai pada pendasaran yang paling fundamental. Martabat manusia sebagai sebuah nilai luhur sebagai ciptaan Tuhan. Bagi iman Kristiani, manusia adalah citra Allah. Terkait dengan konsensus dan kebenaran di STAKat Negeri Pontianak, dari sepuluh responden, sebagian menanggapinya dengan positif. beberapa responden merasa bahwa dialog yang dilakukan di lingkungan STAKat Negeri Pontianak telah dilakukan untuk mencapai nilai-nilai permanen, stabil dan tidak bisa ditawar, bukan sekedar untuk mencapai kesepakatan sesaat. Namun demikian, ada beberapa responden yang berpendapat bahwa mereka masih meragukan hal tersebut, salah satu alasannya dikarenakan belum terlalu mengenal sesama rekan dosen lain, terutama rekan dosen senior. Di sisi lain, atas pengalaman responden selama bekerja di STAKat Negeri Pontianak, diutarakan bahwa dialog yang berlangsung di STAKat Negeri Pontianak dijalankan dengan melihat bahwa perbedaan itu bukan sebagai penghalang, tetapi justru modal untuk menjadi landasan yang kuat dalam mengangkat nilai-nilai luhur martabat manusia sebagai citra Allah. Sebuah Budaya Baru Kebenaran adalah sebuah seni perjumpaan. Dalam perjumpaan tersebut kita diperkaya. Dalam perjumpaan antara yang beragam, nilai kebenaran utama semakin utuh. Dalam konteks ini budaya dimaknai sebagai sesuatu yang luruh, konkret yang menyentuh ke dalam diri masyarakat. Dalam hal ini yang akan dibahas ialah tentang budaya perjumpaan. Perjumpaan dapat menjadi sebuah cara hidup, di mana orang duduk bersama, mencari titik temu, saling menghormati sebagian manusia dan saling menjembatani perbedaan. Pelaku dari budaya perjumpaan ialah manusia. Tanpa manusia sebagai pribadi tidak ada tatanan sosial. Perjumpaan memungkinkan kedamaian. Damai juga bukan berarti diam demi kesepakatan dan perjanjian. Terkait dengan sebuah budaya baru, responden memberikan respon yang positif. Kesepuluh responden berpandangan bahwa kebenaran adalah sebuah seni perjumpaan. Beberapa responden berpendapat bahwa kebenaran adalah sebuah seni perjumpaan. Menurut hasill wawancara dengan responden, kebenaran ada pada semua agama, tidak hanya pada agama tertentu saja. Jadi, perbedaan adalah kekayaan dan peluang saling mempelajari kebenaran agama lain. Hal tersebut diutarakan oleh responden berdasarkan pengalaman selama bekerja di STAKat Negeri Pontianak. Cita Rasa Berjumpa dengan Orang Lain Berjumpa dengan orang lain bukanlah suatu hal yang mudah. Salah satu cara yang bisa dilakukan ialah dialog. Dengan berdialog seseorang dapat mengenal satu sama lain. Namun demikian, hal tersebut juga perlu adanya keberanian. Budaya perjumpaan merupakan arti sesungguhnya bukan pertemuan dan kesepakatan formal antar pihak yang berkepentingan satu sama lain. Dialog yang baik melibatkan masyarakat sebagai subjek kebudayaan terutama masyarakat asli. Dalam konteks ini kita dihadapkan kita berhadapan dengan logika individualisme. Hanya kasih yang memungkinkan orang untuk dapat menempatkan diri pada orang lain, agar memahaminya secara otentik. Berdasarkan hasil angket yang telah diberikan terkait dengan cita rasa berjumpa dengan orang lain, kesepuluh responden tidak setuju dengan beberapa pernyataan. Dialog akan terjadi ketika kita berani berjumpa dengan yang berbeda dengan kita. Berdasarkan pernyataan tersebut, dari hasil wawancara responden mengungkapkan bahwa mereka setuju dengan pernyataan tersebut. Namun demikian, kesepuluh responden tidak merasakan adanya toleransi palsu yang terjadi. Hal tersebut mereka utarakan berdasarkan pengalaman yang mereka rasakan selama bekerja di STAKat Negeri Pontianak. Memulihkan Sikap Baik Individualisme mendatangkan banyak masalah. Seseorang yang individualis memandang orang lain sebagai gangguan bagi kenyamanannya. Dalam situasi sulit atau krisis, orang yang individualis hanya mencari jalan menyelamatkan diri. Namun demikian, ditengah dunia yang penuh dengan kegelapan, tentu masih ada orang yang memancarkan terang. Seperti yang dikatakan oleh Santo Paulus, orang tersebut disebut orang yang memiliki buah Roh: Kasih. Sukacita, damai sejahtera dan kesabaran . Gal 5:. Orang yang seperti itu merupakan orang yang mampu bertahan dan berpihak pada sesama dalam situasi yang sulit. Sikap yang baik adalah lawan dari hati yang keras. Ketika sikap baik bertumbuh dari hari kehari, perlahan-lahan ia membebaskan orang dari egoisme. Hal inilah yang menjadi cara sederhana agar menumbuhkan budaya kehidupan. Berdasarkan hasil angket dan wawancara, ada berbagai tanggapan terkait dengan memulihkan sikap Dari sepuluh responden yang ada, beberapa responden berpendapat bahwa masih ada pribadi individualis yang hanya mencari jalan menyelamatkan diri sendiri, misalnya dengan adanya rekan dosen yang tidak mau berbagi informasi yang didapat kepada yang lain. Ada pribadi yang memancarkan kegelapan karena keegoisan yang dimiliki individu. Namun demikian, masih ada beberapa orang yang memancarkan sinar terang di lingkungan STAKat Negeri Pontianak. Hal tersebut diungkapkan oleh sebagai besar responden. Berdasarkan hal tersebut kesepuluh responden juga merasa optimis bahwa ke depannya dapat dibangun budaya kehidupan yang memulihkan sikap baik. KESIMPULAN Fratelli Tutti (Saudara semu. merupakan salah satu ensiklik baru setelah Lumen Fidei dan Laudato siAo. Ensiklik ini dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada 3 Oktober 2020. Ensiklik ini dikeluarkan oleh Paus atas dasar keprihatinannya dengan dunia saat ini. Tujuan dari ensiklik ini ialah membangun persaudaraan, persahabatan sosial tanpa batas. menemukan kepenuhan pribadi dalam diri sesama. Dalam penelitian ini dideskripsikan bagaimana semangat persaudaraan yang terjadi antar sesama dosen yang bekerja di STAKat Negeri Pontianak, baik itu dosen Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun dosen Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN), mengingat latar belakang budaya dan agama yang begitu Berdasarkan hasil angket yang diisi oleh 20 dosen PNS dan PPNPN diperoleh bahwa dosen di STAKat Negeri Pontianak berasa dari beragam suku antara lain suku Batak. Dayak. Flores. Jawa. Melayu. Nias, bahkan campuran Jawa-Dayak. Sedangkan untuk keragaman agama, terdapat 65% responden merupakan dosen beragama Katolik, 20% merupakan dosen beragama Kristen, dan 15% merupakan dosen beragama Islam. Berdasarkan hasil wawancara, telah terbentuk budaya dialog sosial menuju budaya baru di STAKat Negeri Pontianak. Secara spesifik, budaya baru yang dimaksud adalah budaya dialog untuk membangun bersama, dengan tetap memaklumi dan memfasilitasi perbedaan latar belakang rekan dosen, namun mengesampingkan kepentingan pribadi. Di lingkungan kerja dosen STAKat Negeri Pontianak sudah terjalin dialog otentik yang ditandai dengan kesediaan mendengar dan mengerti pandangan orang lain atau kelompok, serta telah dilaksanakan untuk mencapai nilai-nilai permanen, stabil dan tidak bisa ditawar, bukan sekedar untuk mencapai kesepakatan sesaat. Dengan berjumpa dengan rekan dosen yang berbeda suku serta agama, maka akan terbentuk dialog, dan dimungkinkan bagi individu untuk menempatkan diri di posisi orang lain. Responden juga merasa optimis bahwa kedepannya dapat dibangun budaya kehidupan yang memulihkan sikap baik yang akan membentuk individu-individu yang memancarkan terang. DAFTAR PUSTAKA