Hubungan Antara Kepercayaan diri dan Dukugan Sosial dengan Kemandirian Santri HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KEMANDIRIAN SANTRI Wulandhari Program Studi S-1 Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya. Email: wulandhari. 21065@mhs. Dr. Ari Khusumadewi. Pd. Pd. Program Studi S-1 Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email: arikhusumadewi@unesa. Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis hubungan antara kepercayaan diri dan dukugan sosial dengan kemandirian santri. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif dengan metode analisis korelasional. Teknik analisis data melibatkan Korelasi KendallAos tau dan korelasi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara keperayaan diri dengan kemandirian santri . = 0,. , meskipun lemah. Nilai p = 0,000 . < 0,. menunjukkan hubungan ini signifikan secara statistik. Artinya, peningkatan kepercayaan diri akan diikuti oleh pengingkatan kemandirian santri. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara dukugan sosial dengan kemandirian santri . = 0,272, p = 0,. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukugan sosial yang diterima santri, semakin tinggi kemandirian santri. Kemudian hasil uji korelasi berganda menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,441 dengan nilai Sig. F Change sebesar 0,000, hasil tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan diri dan dukugan sosial secara simultan memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan kemandirian santri. Artinya secara bersama-sama apabila nilai kepercayaan diri dan dukugan sosial meningkat maka nilai kemandirian juga akan meningkat. Kemudian nilai R Square . menunjukkan bahwa terdapat sumbangan kedua variabel secara simultan terhadap kemandirian sebesar 19,5% sedangkan 80,5% lainnya ditentukan oleh variabel yang tidak diteliti pada penelitian ini. Kata Kunci: kepercayaan diri, dukugan sosal, kemandirian santri, santri, pondok pesantren Abstract This study aims to analyze the relationship between self-confidence and social support with the independence of santri (Islamic boarding school student. The research adopts a quantitative approach using a correlational analysis method. The data analysis techniques involve KendallAos tau correlation and multiple correlation analysis. The results indicate a positive relationship between self-confidence and the independence of santri . = 0. , although the correlation is weak. The p-value of 0. < 0. indicates that this relationship is statistically significant. This means that the higher the self-confidence, the higher the level of independence among santri. There is also a positive and significant relationship between social support and the independence of santri . = 0. 272, p = 0. This suggests that the higher the social support received by santri, the higher their level of independence. Furthermore, the results of the multiple correlation analysis show a correlation coefficient of 0. 441 with a Sig. F Change value of 0. This indicates that self-confidence and social support simultaneously have a positive and significant relationship with the independence of santri. In other words, when both self-confidence and social support increase, the level of independence also increases. The R Square value of 0. 195 indicates that the two variabels simultaneously contribute 19. 5% to the independence of santri, while the remaining 80. 5% is influenced by other variabels not examined in this study. Keywords: self confident, social support, student independence, santri, islamic boarding school . Hubungan Antara Kepercayaan diri dan Dukugan Sosial dengan Kemandirian Santri PENDAHULUAN Pondok pesantren menjadi tempat atau miniatur kecil bagi santri mengenai hidup bermasyarakat. Tak hanya mempelajari agama, santri di pondok pesantren juga belajar untuk hidup mandiri. Hidup di pesantren dan tinggal jauh dari kedua orang tua serta keluarga. Pesantren sebagai tempat belajar santri mengajarkan bagaimana hidup mandiri dan nilai-nilai dalam kehidupan, serta bagaimana mengatur hidup mereka sendiri. Menurut Noor dalam (Azizah and Rahma, 2. lewat pendidikan peserta didik diharapkan mampu merawat dirinya sendiri, memiliki kesadaran sebagai umat Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai kemandirian dan dapat menjalin ikatan dengan masyarakat serta lingkungan di sekitar mereka. Menurut Marie dalam (Azizah and Rahma, berkelanjutan diharapkan dapat memberi dampak baik untuk peserta didik, karena tiap metode pembelajaran peserta didik selalu didukung agar mempunyai jiwa yang berkarakter dan akhlak yang kuat. Hal tersebut dapat dilaksanakan pondok pesantren agar santri memiliki tempat untuk belajar mengatur dirinya sendiri, baik secara perilaku, emosional, atau prinsip hidup. Kemandirian bermula dari kata sifat AumandiriAy yang memiliki arti bebas dan berpengeruh kepada diri sendiri. Sedangkan menurut Steinberg definisi kemandirian atau autonomy merupakan kecakapan seseorang untuk mengontrol diri sendiri serta memperlihatkan perilaku yang tidak menggantungkan diri dengan orang lain, secara emosional, perilaku, dan kognitif (Steinberg, 2. Menurut (Saimroh, 2. dalam penelitiannya di Madrasah Aliyah Al Hamidiyah, kendala pembentukan karakter kemandirian pada santri dipengaruhi oleh faktor interal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari, tidak ada peraturan tertulis tentang pendidikan karakter kemandirian, kurangnya sumber daya manusia . enaga pendidi. Faktor eksternalnya yaitu, pendidikan santri sebelumnya dan asal keluarga santri yang beragam. Santri yang berasal dari pendidikan islam cenderung lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan dan tidak bergantung dengan orang lain dibanding santri dengan latar belakang pendidikan sekolah Pendidikan santri ketika di rumah juga sangat berpengaruh dengan kemandirian santri di pondok pesantren. Kemandirian merupakan aspek penting yang harus dimiliki seorang santri mengingat kehidupan mereka yang jauh dari orang tua dan keluarga. Kemandirian perlu menjadi perhatian khusus bagi guru BK dan pengasuh pondok pesantren, sehingga guru BK dan pengasuh pondok pesantren dapat memberikan layanan preventif dan kuratif untuk mengatasi kemandirian santri, dengan memberikan pemahaman dan pelatihan mengenai penyebab yang dapat mempengaruhi kemandirian pada santri. Dalam hal ini faktor yang dapat berdampak untuk kemandirian santri ialah kepercayaan diri dan dukugan sosial. Kemandirian menurut Erickson dalam (Sari and Rasyidah, 2. kemandirian merupakan upaya individu untuk membebaskan dirinya dari kedua orang tua, dengan maksud agar menjumpai diri sendiri melewati sebuah jalan mencari identitas ego yaitu individu yang yakin dan berdiri Menurut (Steinberg, 2. kemandirian atau autonomy adalah kesanggupan seseorang dalam mengatur dan meluapkan tingkah lakunya yang tidak bergantung kepada orang lain, baik dalam bentuk emosional, perilaku dan kognitif atau nilai. Kemudian menurut Learner . dalam (Saimroh, 2. kemandirian melingkupi kebebasan berperilaku, tidak menggantungkan diri dengan individu lain, tidak terkena pengaruh dengan lingkungan sekiar dan dapat dengan bebasa mengatur keperluannya sendiri. Kemandirian Kemandirian menurut OAoNeill dalam (Sobri, 2. , berhubungan dengan kebebasan. OAoNeill berpendapat bahwa Auautonomy is usually identified with individual independentAy. Bersamaan dengan itu Santrock dalam (Sobri, 2. berpendapat kemandirian berhubungan kebebasan dan dapat mengatur dirinya sendiri. Kemudian menurut Basri dalam (Sobri, 2. mengatakan kemandirian merupakan keadaan individu yang memiliki kemampuan mengambil keputusan atau mengerjakan sesuatu tanpa bantuan dari orang lain. Dari beberapa pengertian kemandirian di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah kemampuan seseorang untuk bebas mengatur dirinya sendiri dalam berbagai aspek kehidupan tanpa terpengaruh dan bergantung dengan lingkungan. Kemandirian santri di pesantren pada umumnya dilakukan melalui kegiatan yang bersifat individual seperti berusaha menyelesaikan tugas sekolah dan pesantren, menyiapkan kebutuhan mengaji dan sekolah sendiri, mengatur jadwal kegiatan belajar dan mengaji sendiri, mencari Solusi atas masalah yang sedang dihadapi, berani bertanggung jawab, dan berani mengutarakan pendapat yang berbeda dengan orang lain. Kepercayaan diri Menurut Hakim dalam (Ningtias, 2. kepercayaan diri ialah keyakinan individu atas kecakaoan yang ada pada Keyakinan tersebut mampu membuat seseorang untuk menghadapi tantangan dan mengambil resiko untuk mencapai tujuan hidupnya. Menurut Gilmore . kepercayaan diri ialah salah satu bentuk faktor yang dapat mendukung kemandirian seseorang, kepercayaan diri yang kuat membuat sesorang tidak memiliki rasa ragu dalam Menurut (Walgito, 2. kepercayaan diri adalah kepribadian yang salah satunya sangat penting untuk tumbuh kembang remaja. Kepercayaan diri akan muncul ketika Hubungan Antara Kepercayaan diri dan Dukugan Sosial dengan Kemandirian Santri seseorang mampu menerima dirinya apa adanya. Ketika penerimaan diri telah muncul dan dapat diwujudkan, seseorang akan memiliki kepuasan atas kualitas dirinya, dengan begitu individu akan lebih mengenali dirinya dan paham segala sesuatu yang ia butuhkan. Hal tersebut akan membuat seseorang menjadi indivdu yang mandiri serta tidak bergantung dengan orang lain. Dukugan sosial Menurut Johnson (Widiantoro, et al. , 2. dijelaskan bahwa dukugan sosial merupakan pemberian dukugan baik secara emosional, material, dan informasi dengan tujuan agar psychological well-being seseorang dapat meningkat. Kemudian menurut Rook (Alhafid and Nora, 2. , mengemukakan dukugan sosial adalah suatu bentuk fungsi dari hubungan sosial. Kualitas dan tingkat hubungan antara individu dapat dicerminkan dari keterhubungan sosial Keterhubungan tersebut dinilai sebagai salah satu aspek yang memunculkan kepuasan emosional dalam hidup Dukugan yang didapat dari orang-orang sekitar membuat segala sesuatu terasa lebih mudah. Individu juga terlindung dari dampak negatif stres karena peran dari dukugan sosial itu sendiri. Mendapatkan dukugan sosial dapat memunculkan perasaan yang damai, perhatian dan rasa cinta dan mampu meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Melihat pada penjelasan di atas, sehingga kesimpulan yang dapat diambil yaitu dukugan sosial adalah hubungan yang saling mendukung antar individu baik secara emosional, material dan informasi baik di lingkup keluarga, sekolah, organisasi dan masyarakat. Dukugan sosial yang diperhatikan, dicintai, dihargai dan dihormati. METODE Pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian kausal korelasi dipilih sebagai metode dalam penelitian ini. Penelitian korelasi merupakan suatu jenis penelitian untuk mengetahui apakah dari variabel yang diajukan memiliki hubungan dan tingkat hubungan atau tidak. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling total, yaitu (Sugiyono, 2. Maka dari itu sampel yang digunakan adalah jumlah seluruh populasi santri kelas sepuluh yaitu 89. HASIL PENELITIAN Deskripsi data yang tersaji meliputi mean, median, standart deviasi, varian, minimum, maksimum dari tiap variabel penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Aitam. Pondok Pesantren Mambaul ulum, dan Islamic School MA Miftahul Ulum yang melibatkan seluruh santri pada jenjang sekolah menegah kelas sepuluh. Dengan jumlah total santri yang berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 89 santri. Penelitian menggunakan sampel jenuh atau keseluruhan dari populasi santri kelas sepuluh pada masing-masing pondok pesantren, hal ini dikarenakan keterbatasan jumlah santri yang ada di pondok pesantren. Berikut disajikan hasil perhitungan deskripsi data: Tabel Analisis Statistik Deskriptif Masing-Masing Variabel Variabel Kepercayaan diri (X. Dukugan Sosial (X. Kemandirian (Y) Min Max Mean 56,73 77,61 57,97 Std 5,59 10,12 5,08 Dari data deskripsi yang telah disajikan diketahui bahwa. N atau jumlah keseluruhan data yaitu 89 santri. Tabel memperlihatkan nilai minimal dan maksimal pada masingmasing variabel. Tercantum juga nilai rata-rata variabel kepercayaan diri adalah 56,73, nilai rata-rata variabel dukugan sosual yaitu 77,61, dan nilai rata-rata variabel kemandirian ialah 57,97. Selanjutnya dicantumkan juga standar deviasi setiap variabel yaitu untuk variabel kepercayaan diri sebesar 5,59, variabel dukugan sosial sebesar 10,12 dan variabel kemandirian sebesar 5,08. Uji Normalitas Data variabel dapat berdistribusi normal jika nilai Asymp. Sig . Ou 0,05 dan berlaku sebaliknya jika nilai Asymp. Sig . -taile. O 0,05 maka data dinyatakan tidak Berikut hasil uji normalitas data menggunakan One Sample Kormogorov-Smirnov: Tabel Hasil Uji Normalitas One Sample Kormogorov-Smirnov Variabel Asymp. Sig . Status Kepercayaan diri (X. Dukugan Sosial (X. 0,200 Normal Kemandirian (Y) Berdasarkan hasil uji normalitas tersebut ialah Asymp. Sig . -taile. 200 lebih dari sama dengan 050 yang artinya bahwa Asymp. Sig lebih besar dari standart yang ditentukan maka variabel yang digunakan dikatakan normal. Uji Homogenitas Data ditetapkan homogen ketika angka Signifikan atau Sig. lebih besar dari 0,05, berarti bahwa dua atau lebih varian kelompok populasi data ialah sama . , sebaliknya jika Signifikan atau Sig. kurang dari 0,05, bermakna bahwa dua atau lebih varian kelompok populasi data ialah tidak sama . idak homoge. Berikut hasil uji homogenitas data menggunakan levene: Tabel Variabel Kepercayaan diri dengan Kemandirian Levene statistic 3,047 Sig. 0,001 Merujuk pada tabel hasil uji homogenitas di atas didapatkan nilai signifikansi 0,001 di mana nilai tersebut kurang dari 0,050 (<0. Hasil tersebut berarti bahwa Hubungan Antara Kepercayaan diri dan Dukugan Sosial dengan Kemandirian Santri variabel kepercayaan diri dengan variabel kemandirian tidak Tabel Variabel Dukugan Sosial dengan Kemandirian Levene statistic 2,511 Sig. 0,003 Terkait hasil perhitungan di atas terlihat bahwa angka signifikansi sebesar 0,003 atau kurang dari 0,050 (<0. Hasil menunjukkan hasil bahwa variabel dukugan sosial dengan variabel kemandirian tidak homogen. Korelasi KendallAos tau Hipotesis pertama yang diajukan penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dengan kemandirian. Hipotesis tersebut akan diuji menggunakan uji korelasi sederhana dengan pendekatan Kendall's tau dengan pedoman pengambilan keputusan, apabila angka Sig. - taile. tidak lebih besar dari 0,05 bermakna adanya hubungan secara signifikan, sebaliknya apabila Sig. - taile. bernikai lebih dari 0,05 bermakna tidak adanya hubungan secara signifikan. Berikut adalah hasil uji korelasi dengan pendekatan Kendall's tau: Tabel Hasil Uji Korelasi KendallAos tau Kend-all Kepercayaan diri Kemandirian Correlation Sig. Correlation Sig. Kepercaya-an Kemandiri-an 0,289 0,000 0, 289 1,000 0,000 Mengacu tabel analisis di atas, diperoleh nilai signifikansi (Sig. 2-taile. yaitu 0,000 atau tidak lebih besar dari 0,05. Angka tersebut menunjukkan bahwa antara variabel kepercayaan diri dan kemandirian terdapat hubungan yang signifikan. Nilai koefisien korelasi yang diperoleh yaitu senilai 0,289 dan berarah positif, jadi hasil tersebut bermakna bahwa dua variabel tersebut memiliki arah hubungan ynag positif. Artinya, ketika seseorang memiliki tingkat kepercayan diri tinggi, maka tingkat kemandiriannya juga cenderung meningkat. Namun, kategorisasinya termasuk rendah, maka kekuatan hubungan antara kedua variabel ini tergolong lemah. Hipotesis kedua yaitu untuk megukur seberapa signfikan hubungan antara dua variabel yaitu antara variabel dukugan sosial dan variabel kemandirian. Untuk mengkaji hipotesis yang telah diajukan, digunakan uji korelasi sederhana dengan metode Kendall's tau. Dasar pedoman keputusannya yaitu sebagai berikut: bila angka signifikasi (Sig. 2-taile. kurang dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel. Berlaku kebalikannya, jika nilai Sig. -taile. lebih dari 0,05, maka tidak terdapat hubungan yang signifikan. Berikut adalah hasil uji korelasi dengan pendekatan Kendall's tau: Tabel Hasil Uji Korelasi KendallAos tau Dukung-an Kend-all Dukung-an Kemandiri-an Correlation Sig. Kemandiri-an 0,272 0,000 Correlation Sig. 0, 272 1,000 0,000 Dari analisis perhitungan di atas ditunjukkan besaran Sig. -taile. adalah 0,000 atau tidak lebih dari 0,05 jadi dapat diputuskan variabel dukugan sosial mempunyai hubungan yang signifikan dengan variabel kemandirian. Correlation Coeffiticient bernilai positif sebesar 0,272 memperlihatkan hubungan kedua variabel adalah searah artinya jika tingkat kepercayaan diri naik maka tingkat kemandirian juga meningkat. Nilai Correlation Coeffiticient sebesar 0,272 maka ditarik Kesimpulan jika tingkat hubungan kedua variabel memiliki hubungan yang rendah. Uji korelai berganda Hipotesis ketiga yang diajukan yaitu apakah antara variabel kepercayaan diri dan dukugan sosial dengan kemandirian memiliki hubungan yang signifkan dengan kriteria pengujian uji korelasi berganda yakni jika Sig. Change kurang dari 0,05 berkesimpulan ada hubungan secara signifikan dan sebaliknya, jika Sig. F Change lebih besar dari 0,05 berarti tidak terdapat hubungan yang Berikut hasil uji korelasi berganda variabel kepercayaan diri dan dukugan sosial dengan kemandirian: Tabel Hasil Uji Korelasi Berganda Merujuk pada tabel yang telah disajikan terlihat nilai koefisien korelasi berganda (R) sebesar 0,441. Koefisien tersebut menyatakan bahwa adanya hubungan positif secara Hubungan Antara Kepercayaan diri dan Dukugan Sosial dengan Kemandirian Santri simultan pada variabel kepercayaan diri dan dukugan sosial dengan kemandirian. Dengan kata lain, apabila kepercayaan diri dan dukugan sosial meningkat secara bersamaan, maka tingkat kemandirian juga akan meningkat, demikian pula Selain itu, nilai Sig F Change menampilkan hasil 0,000 yang mana hasil tersebut lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa hubungan antara kepercayaan diri dan dukugan sosial terhadap kemandirian bersifat signifikan. PEMBAHASAN Uji korelasi KendallAos tau digunakan pada penelitian ini untuk menguji hipotesis pertama. Metode ini dipilih karena data yang ada dalam penelitian berjenis data ordinal atau jenis data yang memiliki tingkatan atau peringkat. Salah satu contoh data ordinal adalah data yang diperoleh melalui skala Likert, sama halnya dengan yang digunakan dalam instrument pada penelitian ini. Selain itu, data telah memenuhi syarat uji asumsi klasik. Hasil analisis memperlihatkan jika antara kepercayaan diri dan kemandirian memiliki hubungan postifi dan signifikan, dengan tingkat kategori yang tergolong rendah. Hasil tersebut menunjukkan ketika kepercayaan diri yang tinggi akan diikuti oleh kenaikan tingkat kemandirian. Nilai koefisien korelasi kepercayaan diri dengan kemandirian santri sebesar 0,289. Hasil ini tergolong rendah karena nilai koefisien korelasi yang kurang dari 0,40. Hal ini dapat disebabkan karena banyaknya penyebab yang melatarbelakangi kepercayaan diri seseorang seperti konsep diri, harga diri, kondisi fisik, pengalaman hidup, pendidikan, pekerjaan, dan lingkungan. Hasil penlitian ini mendukung teori Steinberg yang menjelaskan bawah kepercayaan diri akan membuat individu tidak bergantung dengan individu lain, percaya dengan keterampilan diri sendiri dan tidak bergantung dengan kemampuan individu lain. Indvidu yang percaya diri, membuat dirinya dapat mengandalkan diri sendiri baik secara emosional, perilaku dan nilai. Sehingga, ditarik kesimpulan bahwa kepercayaan diri memiliki hubungan dengan kemandirian (Steinberg, 2. Nilai koefisien korelasi kepercayaan diri dengan kemandirian santri sebesar 0,272. Hasil ini tergolong rendah karena nilai koefisien korelasi yang kurang dari 0,40. Hal ini dapat disebabkan karena dukugan sosial dipengaruhi oleh banyak faktor seperti empati, norma, pertukaran sosial dan Hasil tersebut mendukung teori Steinberg yang menjelaskan jika dukugan sosial yang baik akan menimbulkan rasa aman, nyaman dan dihargai. Sehingga, membuat individu dapat mengekspresikan dirinya seperti berani mengambil keputusan sendiri, menyampaikan ide dan pendapat, hal tersebut dapat meningkatkan kemandirian Hasil tersebut juga sejalan dengan teori Johnson, dijelaskan bahwa dukugan sosial merupakan pemberian dukugan baik secara emosional, material, dan informasi dengan tujuan agar psychological well-being seseorang dapat meningkat. Hasil ini menemukan bahwa kepercayaan diri dan dukugan sosial memiliki hubungan secara simultan dengan Pernyataan tersebut merujuk pada hasil uji hipotesis yang menyatakan angka koefisien korelasi yaitu 0,441, yang berarti terdapat hubungan positif antara kedua variabel independen tersebut dengan kemandirian. Selain itu, hasil uji korelasi berganda menunjukkan nilai Signifikansi F Change sebesar 0,000. Karena nilai ini lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri dan dukugan sosial secara bersama-sama memiliki hubungan yang signifikan dan positif terhadap kemandirian. Artinya, jika kepercayaan diri dan dukugan sosial meningkat secara bersamaan, maka tingkat kemandirian juga akan meningkat. Sementara itu, nilai R Square sebesar 0,195 menunjukkan bahwa kontribusi kedua variabel tersebut secara simultan terhadap kemandirian adalah sebanyak 19,5%, kemudian, yaitu 80,5% kurangnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian yang telah dilakukan. Pada penelitian ini kekuatan korelasi antara kepercayaan diri (X. dengan kemandirian (Y) dan dukugan sosial (X. dengan kemandirian (Y) memiliki perbedaan. Koefisien korelasi antara X1 dengan Y lebih kuat jika dibandingkan hubungan antara X1 dan Y. Sehingga, secara simultan saat dilakukan uji hubungan kemandirian memiliki hubungan yang positif dengan kepercayaan diri dan dukugan sosial. Adapun faktor yang menyebabkan rendahnya variabel kepercayaan diri dan dukugan sosial dengan kemandirian yaitu kemungkinan adanya variabel lain yang menjadi lebih berkorelasi terhadap variabel kemandirian. Hal ini sejalan dengan teori kemandirian Steinberg kemandirian atau autonomy ialah kecapakan seseorang untuk mengatur dan meluapkan tingkah lakunya yang tidak menggantungkan diri kepada orang lain, baik dalam bentuk emosional, perilaku dan kognitif atau nilai (Steinberg, 2. Kemudian dukugan sosial sejalan dengan teori Johnson yang menyebutkkan bahwa bahwa dukugan sosial merupakan pemberian dukugan baik secara emosional, material, dan informasi dengan tujuan agar psychological well-being seseorang dapat meningkat. Hubungan Antara Kepercayaan diri dan Dukugan Sosial dengan Kemandirian Santri PENUTUP Kesimpulan Melihat pada hasil analisis perhitungan data yang telah dijabarkan di atas, jadi kesimpulannya adalah sebagai Kepercayaan diri dan kemandirian santri memiliki hubungan positif serta signifikan dengan nilai koefisien korelasi yaitu 0,289. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara kepercayaan diri dan kemandirian santri, meskipun tingkat kekuatannya tergolong rendah. Hubungan positif ini berarti bahwa ketika tingkat kepercayaan diri naik, maka tingkat kemandirian santri juga cenderung mengalai kenaikan. Kepercayaan diri berperan sangat penting dalam kemandirian santri karena dengan kepercayaan diri yang baik, santri akan lebih mandiri dan tidak terlalu menggantungkan dirinya kepada individu lain, serta yakin terhadap kemampuan dirinya sendiri. Koefisien korelasi senilai 0,272 bermakna bawah antara dukugan sosial dengan kemandirian santr memiliki hubungan secara signifikan dan positif. Artinya, ada hubungan antara dukugan sosial dengan kemandirian santri. Namun, hubungan yang dimiliki tergolong dalam kategori rendah. Hubungan di antara dukugan sosial dengan kemandirian yang positif ini diartikan semakin meningkat tingkat dukugan sosial maka akan semakin meningkat tingkat kemandirian pada santri. Dukugan sosial yang baik yang diterima santri akan memunculkan perasaan aman, nyaman, dan Hal tersebut akan membuat santri leluasa untuk mengekspresikan dirinya dan membuat tingkat kemandiriannya meningkat. Adanya hubungan positif serta signifikan secara simultan pada variabel kepercayaan diri dan dukugan sosial dengan kemandirian santri, ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar 0,441 serta kontribusi senilai 19,5%. Kemudian 80,5% dipengaruhi oleh selain dari faktor yang ada telah diteliti. Peningkatan kepercayaan diri dan dukugan sosial secara bersamaan akan diikuti oleh peningkatan kemandirian santri. Oleh karena itu, untuk mencegah masalah terkait kemandirian, santri perlu memiliki kepercayaan diri yang kuat serta mendapatkan dukugan dari berbagai pihak. Saran Meujuk hasil dari Kesimpulan di atas, maka dapat diberikan saran sebagai berikut: Hasil dari penelitian yang telah disusun ini dapat dijadikan sebagai referensi ilmiah oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK) serta pengasuh pondok pesantren dalam merancang dan memberikan layanan bimbingan konseling yang selaras dengan visi dan misi pondok Guru BK dan pengasuh pondok pesantren tidak hanya memberikan bimbingan mengenai kemandirian, tetapi juga membentuk kepercaya diri santri serta memastikan bahwa santri mendapat dukugan sosial yang baik. Bagi santri, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami diri sendiri dengan baik. Dengan pemahamn diri yang baik, seseorang akan dapat mengerti kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Bagi orang tua, untuk membantu anak memiliki kepercayaan diri yang baik, menjadi pendukung utama bagi anak agar terbentuk kemandirian yang baik pada dirinya, terlebih ketika mereka berada di pondok pesantren yang jauh dari lingkungan keluarga. dan memiliki tingkat kemandirian yang kuat. Bagi peneliti berikutnya, temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang studi lanjutan di bidang pendidikan. DAFTAR PUSTAKA