Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 HUBUNGAN AGEISME DENGAN HARGA DIRI PADA LANJUT USIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JEMBATAN KECIL KOTA BENGKULU Titin Aprilatutini1,Nova Yustisia2. Encik Putri Ema Komala3. Bardah Wasalamah4. Mey Rosa5 Program Studi Keperawatan Universitas Bengkulu corresponding author: taprilatutini@unib. ABSTRAK Latar Belakang: Lanjut usia merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan ketidakmampuan menjaga keseimbangan dalam kondisi stres fisiologis. Penurunan berbagai fungsi biologis pada lansia berdampak pada banyak aspek kehidupan, seperti perubahan fisik, psikis, dan social, jika tidak dikelola dengan baik dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyebabkan stres pada lanjut usia. Usia tua dipandang sebagai masa kesulitan, kesepian serta kehilangan eksistensi. Stereotip dan diskriminasi terhadap lansia berdasarkan usia . dapat mempengaruhi dan memperburuk kualitas hidup mereka. Kualitas hidup dapat dipengaruhi oleh konsep diri salah satunya adalah harga diri terhadap lanjut usia. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui hubungan antara ageisme dengan harga diri pada lanjut usia di wilayah kerja Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Hasil: Menunjukkan A value = 0. 005 pada variabel hubungan ageisme dengan harga diri lanjut usia . value = 0,. Kesimpulan: Ada hubungan ageisme dan harga diri pada lanjut usia di wilayah kerja Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu. Meningkatkan ageisme dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan harga diri lanjut usia melalui aktivitas-aktivitas atau kegiatan rutin yang dapat diikuti oleh lanjut usia. Kata Kunci: Ageisme, harga diri, lanjut usia ABSTRACT Background: Elderly people are characterised by an inability to maintain balance under conditions of physiological stress. A decline in various biological functions can impact many aspects of life for the elderly, including physical, psychological and social changes. If not managed properly, this can interfere with daily activities and cause stress. Old age is often perceived as a time of hardship, loneliness, and loss. Discrimination against the elderly based on ageism can affect their quality of life and make it worse. Quality of life can be influenced by self-concept, including self-esteem in older people. This study aimed to determine the relationship between ageism and self-esteem among the elderly in the Jembatan Kecil Health Centre area of Bengkulu City. Methods: This quantitative study employed a cross-sectional approach. The results showed a A value of 0. 005 for the relationship between ageism and the self-esteem of the elderly . value = 0. Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 Conclusion: There is a relationship between ageism and self-esteem among the elderly in the Jembatan Kecil Health Centre working area in Bengkulu City. Reducing ageism could be an effective way to boost the self-esteem of the elderly through activities or routines in which they can participate. Keywords: Ageism, self-esteem, elderly PENDAHULUAN Lanjut usia (Lansi. merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan ketidakmampuan menjaga keseimbangan dalam kondisi stres fisiologis (Pany dan Boy, 2. Penduduk lansia terus bertambah hingga saat ini, dan kehidupan lansia terus meningkat. Secara global, angka harapan hidup lansia di dunia akan meningkat secara terus-menerus. Proporsi penduduk lansia di dunia menurut World Health Organization (WHO) 2019, pada tahun 2019 mencapai 13,4%, tahun 2050 diperkirakan meningkat menjadi 25,3% dan pada tahun 2010 diperkirakan menjadi 35,1% dari total penduduk. Seperti halnya yang terjadi di dunia, menurut data Kementerian Kesehatan RI . , jumlah penduduk lanjut usia meningkat menjadi 11,34% dari total penduduk setiap tahun, dan jumlah masalah yang dihadapi pun semakin meningkat sehingga memerlukan Permasalahan umum lainnya seperti masalah penyakit dan keluhan kesehatan Data Riskesdas . melaporkan prevalensi sebesar 54,5% untuk tiga penyakit yang paling umum menyerang lansia yaitu hipertensi, arthritis, dan Hingga saat ini, upaya pemberian keluarganya belum mencapai potensi maksimal (Kementerian Kesehatan, 2. memberikan kesan bahwa lansia tampak masyarakat mengurangi partisipasinya dan memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada lansia dalam beraktivitas di lingkungan sosialnya. Hal ini dapat berdasarkan usia, atau asumsi dan stereotip yang biasa disebut dengan ageisme (Fitria, 2. Ageisme adalah suatu bentuk stereotip yang dirasakan, baik positif atau negatif, dan merupakan prasangka dan diskriminasi berdasarkan usia (Fitria. Usia tua dipandang sebagai masa kesulitan, kesepian serta kehilangan Stereotip dan diskriminasi terhadap lansia berdasarkan usia . dapat mempengaruhi dan memperburuk kualitas hidup mereka. Kualitas hidup dapat dipengaruhi oleh konsep diri salah satunya adalah harga diri terhadap lansia. Harga diri merupakan evaluasi atau persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri (Fitria, 2. Harga diri, merupakan aspek yang sangat penting dalam fungsi manusia. Harga diri pada orang dewasa yang lebih tua dianggap sebagai filter yang sangat efektif dalam identitas seiring bertambahnya usia. Harga diri pada lansia terbentuk seiring dengan pengalaman masa lalunya. Idealnya harga diri berperan dalam membentuk kualitas kesehatan mental lansia (Fitria, 2. Perubahan Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 Hasil penelitian sebelumnya yang telah diteliti oleh Fitria . tentang ageisme pada diskriminasi usia, harga diri, dan kesejateraan psikologis lansia telah membuktikan bahwasannya harga diri psikologis pada karakteristik subyek penelitian ini termasuk dalam kategori Hal ini juga berdampak langsung pada tingkat kesejahteraan psikologis lansia yang juga berada pada kategori Angka ini dapat menjadi indikator bahwa lansia yang masih aktif mengikuti kegiatan sosial cenderung memiliki harga diri yang tinggi. Ageisme dan harga diri berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis orang lanjut usia, namun masing-masing memainkan peran yang berbeda, dan ageisme malah menurunkan kesejahteraan psikologis, karena harga diri telah terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis. Harga diri dapat kecenderungan orang lanjut usia untuk menerima ageisme. Hubungan antara ageisme dan harga diri telah terbukti efektif dan penting dapat mempengaruhi peningkatan kesehatan psikologis pada orang dewasa yang lebih tua. Dapat disimpulkan bahwa upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesehatan meningkatkan harga diri, peran harga diri dalam penelitian ini menjadi variabel kesejahteraan psikologis. Berdasarkan Data Sasaran Program Dinas Kesehatan Kota Bengkulu Tahun 2023, jumlah lansia di wilayah kerja Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu yaitu lansia yang berusia 60 tahun keatas sebanyak 60 orang. Lansia biasanya banyak menderita penyakit tidak menular atau penyakit yang timbul karena hipertensi yang dapat menyebabkan membutuhkan perawatan jangka panjang bagi lanjut usia. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh lansia yang berada di wilayah kerja Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu dengan jumlah populasi lansia yang didapat sebanyak 60 orang dan didapatkan sampel penelitian ini 32 Teknik pengambilan sampel yang digunakan peneliti adalah teknik accidental samplimg. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini dua variabel yaitu variabel independen ageisme dan variabel dependen adalah harga diri. Instrumen penelitian ini kuesioner harga diri. Skala ageisme dari Ayalon . dan kuesioner harga diri Self Esteem Rosenberg. Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 HASIL Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik responden (F) (%) Usia 60-70 Tahun 71-80 Tahun 81-90 Tahun Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Tempat Tinggal Bersama keluarga Tinggal sendiri Pendidikan Dasar Menengah Tinggi Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Status Pernikahan Menikah Janda atau duda Aktivitas Aktif Pasif Pendapatan Sesuai UMR Tidak UMR Penyakit Diderita Hipertensi Selain Hipertensi Tidak ada Total Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa sebagian besar responden berusia 60-70 tahun . ,0%). Jenis kelamin hampir . ,5%). Status tempat tinggal hampir seluruh responden memiliki pendidikan terakhir pendidikan dasar . ,6%). Pekerjaan sebagian adalah bekerja . ,1%), status pernikahan sebagian besar responden . ,4%) adalah menikah. Sebagian besar responden aktif beraktivitas . ,8%). Pendapatan hampir seluruhnya responden tidak memiliki pendapatan yang sesuai UMR . ,6%). Penyakit yang diderita hampir setengahnya responden ada tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi dan . ,6%). Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 Tabel 2 Distribusi Frekuensi Ageisme Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu Ageisme (F) (%) Kurang Lebih Total hampir setengahnya . ,9%) mengalami ageisme lebih. Berdasarkan tabel 2, didapatkan bahwa sebagian besar . ,1%) lansia yang mengalami ageisme kurang. Sedangkan Tabel 3 Distribusi Frekuensi Harga Diri Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu Harga Diri (F) (%) Rendah Tinggi Total . ,8%) lansia mengalami harga diri Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar . ,3%) harga diri lansia Sedangkan hampir setengahnya Tabel 4 Hubungan Ageisme dengan Harga Diri pada Lanjut Usia (Lansi. di Wilayah Kerja Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu Harga Diri Jumlah Prevalence Ageisme Tinggi Rendah CI . %) p value Ratio Lebih 26,7 15 Kurang Jumlah Berdasarkan tabel 4, dapat dijelaskan bahwa, dari 15 Lansia yang mengalami ageisme lebih, 11 diantaranya . ,3%) memiliki harga diri tinggi. Dari 17 Lansia yang mengalami ageisme kurang, 14 ,4%) memiliki harga diri Hasil 4,156 1,424 12. 0,005 menggunakan uji Chi-Square didapatkan bahwa, terdapat hubungan yang bermakna antara ageisme dengan harga diri lansia . value = 0,. Lansia yang mengalami ageisme lebih memiliki risiko 4,156 kali memiliki harga diri rendah sebanyak 28 responden dengan presentase . 7%). Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 Ageisme pada lansia dapat meningkat bila lansia mau dan mampu melakukan aktivitas secara mandiri atau memiliki aktivitas yang aktif dan lansia dapat berinteraksi dengan lingkungan dengan Hal ini sejalan dengan (Fitria & Mawarni, 2. mengatakan bahwa tingkat kemandirian dan kegiatan interaksi sosial pada lansia dalam kehidupan seharihari dapat melawan anggapan stereotip dan diskriminasi usia yang banyak dialami pada lansia. Ageisme melibatkan perilaku, namun perilaku tersebut tidak harus disengaja, didasarkan pada individu, atau didasarkan pada stereotip negatif yang sebenarnya (Calasanti, 2. Menurut Lamont, et al, mengatakan bahwa diskriminasi usia dapat mempengaruhi semua kelompok umur, bukti yang ada menunjukkan bahwa orang lanjut usia mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami dampak negatif dari ageisme. Keyakinan dan sikap yang berkaitan dengan usia telah terbukti mempengaruhi kemampuan fungsi kognitif dan kinerja fungsional pada orang dewasa yang lebih tua (Ayalon, 2. Menurut Setiarsih dan Syariyanti . alam Hesti, 2. mengatakan bahwa faktor jenis kelamin sangat berpengaruh terhadap fungsi kognitif lansia. Lansia perempuan banyak mempunyai resiko yang besar terhadap terjadinya gangguan fungsi kognitif dibandingkan dengan lansia laki-laki hal ini dapat terjadi dikarenakan adanya penurunan fungsi hormon esterogen pada lansia perempuan yang sudah menopouse, sehingga hal ini dapat meningkatkan neurodegeneratif karena hormon tersebut dapat memegang peran penting dalam memelihara fungsi otak lansia. PEMBAHASAN Ageisme Pada Lansia Hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu menunjukan hasil sebagian besar . ,1%) pada ageisme kurang, sebagian besar ageisme kurang banyak dialami pada responden laki-laki. Pada ageisme lebih, responden sebesar . ,9%), sebagian besar ageisme lebih juga banyak dialami pada responden laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa lansia di wilayah kerja Puskesmas Jembatan Kecil banyak yang mengalami ageisme kurang, karena lansia banyak menganggap bahwa mereka sudah tidak mampu lagi melakukan banyak aktivitas Lansia dapat diidentifikasi sebagai korban diskriminasi usia apabila mereka mempunyai riwayat sebagai kelompok yang rentan karena faktor usia, penyakit, isolasi sosial, atau kondisi psikososial yang memburuk (Fitria, 2. Dari segi usia, sebagian besar lansia berusia 60-70 tahun. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh peneliti dari lapangan, faktor usia kemungkinan menjadi faktor yang mempengaruhi diskriminasi usia pada lansia. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan pada lansia yang berkaitan dengan usia, disertai perubahan fisik, mental dan psikososial yang menyebabkan lansia tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari dan hal ini mempengaruhi ageisme pada lansia. Hal ini sejalan dengan (Witono, 2. berkurangnya peran sosial pada lansia dapat mengakibatkan buruknya kesehatan fisik akibat berkurangnya aktivitas fisik yang pada akhirnya dapat menimbulkan gangguan kesehatan mental pada lansia. Sedangkan hasil yang didapatkan pada harga diri tinggi . ,8%). Kemungkinan beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya harga diri adalah usia dan Tingkat pendidikan juga Harga Diri Pada Lansia Berdasarkan dilakukan di Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu didapatkan hasil bahwa harga diri lansia rendah . ,3%). Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 menghadapi masalah. Semakin pendidikan seseorang, semakin banyak pengalaman hidup yang siap dalam menghadapi masalah yang terjadi. Umumnya, lansia yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi masih dapat Faktor yang dapat menyebabkan rendahnya harga diri pada lansia antara lain usia dan pendidikan. Hal ini sejalan (Setiarsih Syariyanti, 2. semakin berpendidikan seseorang maka semakin banyak pula pengalaman hidup yang dimilikinya, sehingga semakin siap pula ia menghadapi masalah-masalah Berdasarkan aktivitas lansia, bahwa semakin aktif lansia dalam melakukan aktivitas maka makin tinggi pula harga diri pada lansia. Harga diri pada lansia dapat meningkat dengan melakukan aktivitas yang melibatkan lansia dalam interaksi Hal ini sejalan dengan (Fitria & Mawarni, 2. mengatakan bahwa lansia yang memiliki keterlibatan langsung dalam komunitas atau aktivitas kelompok dapat menimbulkan harga diri serta lansia dapat memiliki kemampuan untuk mendapatkan kebutuhan psikososial yang baik, hal ini dapat membuat semangat baru pada lansia sehingga dapat meningkatkan kebahagiaan yang dirasakan Secara umum, seseorang dengan harga diri tinggi lebih mampu untuk bertahan dan beradaptasi terhadap lingkungan dan tekanan dibandingkan dengan seseorang yang memiliki harga diri yang rendah. Harga diri rendah dapat menyebabkan perasaan seseorang menjadi kosong sehingga dapat menimbulkan pemikiran untuk menghindari orang lain atau tidak mau beradaptasi dengan menyebabkan depresi, gelisah hingga seseorang memiliki rasa cemas yang berkepanjangan (Potter & Perry, 2. Apabila lansia merasa tidak bebas, maka lansia menjadi tertutup, dan tidak mampu untuk berinteraksi atau tidak mau mengekspresikan diri pada lingkungan menyebabkan harga diri rendah yang dapat dialami pada lansia (Andini & Supriyadi. Menurut Stuart . alam Nauli, dkk, 2. bahwa penyebab dari lansia yang mengalami harga diri rendah . yaitu saat lansia merasa tidak berguna, tidak berharga, dan lansia memiliki Hubungan Antara Ageisme dengan Harga Diri Hasil dari analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi Square . diperoleh p value = 0,005, yang artinya Ha diterima H0 ditolak. Hal ini membuktikan bahwa ada Hubungan Ageisme dengan Harga Diri pada Lanjut Usia (Lansi. di Wilayah Kerja Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu. Lansia yang mengalami ageisme kurang memiliki harga diri rendah ,7%), mengalami ageisme lebih memiliki harga diri tinggi . ,4%). Hal ini menunjukkan bahwa penyebab dari ageisme kurang adalah faktor usia, karena adanya perubahan pada lansia yang berkaitan dengan usia, disertai perubahan fisik, mental dan psikososial yang menyebabkan lansia tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari dan hal ini mempengaruhi ageisme pada lansia. Hal ini sejalan dengan penelitian (Fitria, 2. bahwa sebagian besar seseorang yang memiliki usia tua dapat terjadi penurunan pada pola persepsi seseorang yang dapat berperan penting dalam bertambahnya usia pada Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 dewasa akhir/lansia dan memasuki masa yang rentan. Lansia yang mengalami ageisme tinggi pada penelitian ini banyak dialami pada responden perempuan. Hal ini sejalan . cenderung mengalami perubahan harga diri akibat menurunnya seluruh fungsi tubuh pada seorang lanjut usia, dan pada lansia perempuan cenderung kurang percaya diri akibat menurunnya fungsi Penurunan fungsi pada lansia mempengaruhi harga diri mereka yang tidak stabil. dengan (Sabik, 2. mengatakan bahwa berdasarkan prinsip teori harapan sosial menyatakan adanya kemungkinan yang terjadi pada perempuan yang mengalami diskriminasi usia yang lebih besar diperlakukan berbeda dari orang lain, kemungkinan besarn ini didasarkan pada asumsi yang dibuat mengenai penampilan dan/atau usia mereka. Perlakuan yang berbeda ini juga dapat membentuk respons terhadap wanita lanjut usia dan mungkin bertanggung jawab atas perbedaan konsep diri, termasuk persepsi terhadap tubuh dan kesehatan yang dialami pada lansia Hubungan ageisme yang cukup signifikan dengan harga diri yang didapatkan dari analisis data yang menunjukan bahwa harga diri mungkin dapat berperan penting Kemungkinan harga diri yang muncul dalam hal ini dapat terbentuk melalui keterlibatan langsung dari lansia dalam interaksi sosial, seperti pada kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Jembatan Kecil. Hal ini berpartisipasi dalam aktivitas yang menciptakan peluang bagi mereka untuk menunjukan harga diri yang positif dan mereka juga dapat menjaga kesehatan fisik di usia tua. Hal ini dapat berguna di kalangan masyarakat agar terhindar dari ageisme yang menganggap masa tua adalah masa yang sepi dan tidak berdaya Menurut Maulida & Ramadhan SIMPULAN Berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square didapatkan bahwa, terdapat hubungan yang bermakna antara ageisme dengan harga diri lansia . value = 0,. Lansia yang mengalami ageisme lebih memiliki risiko 4,156 kali memiliki harga diri rendah UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti menyampaikan terimakasih atas dukungan, motivasi dan batuan kepada Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu SMART yang telah memberikan izin penelitian. Termasuk responden penelitian ini yang kooperatif, bersedia dengan sukarela menjadi responden, bersedia bekerjasama dan antusias dalam penelitian. Jurnal Mitra Rafflesia Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025 DAFTAR PUSTAKA