Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v13i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Perbandingan Kepekaan Tempo Peserta Didik Perdesaan dan Perkotaan melalui Body Percussion Rizal Ridwan Suhendar1*. Resa Respati2. Aini Loita3 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Pendidikan Indonesia. *Email: suhendarrizalridwan@upi. 1,2,3 Received 07/08/2025 . revised 08/08/2025 . accepted 08/08/2025 . published 10/08/2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kepekaan terhadap tempo antara peserta didik sekolah dasar di lingkungan perdesaan dan perkotaan dengan menggunakan pendekatan Carl Orff melalui teknik body Kepekaan tempo merupakan komponen penting dalam pendidikan musik yang mendukung perkembangan motorik, konsentrasi, serta kemampuan berpikir terstruktur. Metode yang digunakan adalah eksperimen komparatif tanpa kelas kontrol, dengan subjek penelitian sebanyak 44 siswa kelas V SD yang tersebar di wilayah perdesaan dan perkotaan. Instrumen penelitian berupa tes keterampilan musikal, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok siswa perdesaan dan perkotaan . ilai signifikansi 0,009 < 0,. , yang mengindikasikan bahwa lingkungan sosial dan budaya memengaruhi capaian kepekaan tempo. Peserta didik di perkotaan menunjukkan kepekaan tempo yang lebih tinggi, kemungkinan karena akses yang lebih besar terhadap paparan musik dan budaya populer, sementara peserta didik di perdesaan menghadapi keterbatasan dalam sumber daya dan kebebasan berekspresi musikal. Temuan ini menekankan pentingnya pendekatan pedagogis yang adaptif terhadap konteks budaya lokal dalam pembelajaran musik di sekolah dasar. Keywords: Kepekaan tempo, body percussion, siswa sekolah dasar, perdesaan, perkotaan Abstract This study aims to analyze differences in tempo sensitivity among elementary school students in rural and urban areas using the Carl Orff approach through body percussion techniques. Tempo sensitivity is a vital component in music education that supports the development of motor coordination, concentration, and structured thinking. The research employed a comparative experimental method without a control group, involving 44 fifth-grade students from both rural and urban settings. Data were collected using musical skill tests and analyzed through normality and Mann-Whitney tests. The results indicate a significant difference between the rural and urban student groups . ignificance value 0. 009 < 0. , suggesting that socio-cultural environments influence the development of tempo sensitivity. Urban students demonstrated higher tempo awareness, possibly due to greater exposure to music and popular culture, while rural students faced limitations in musical resources and expressive freedom. These findings highlight the importance of culturally responsive pedagogical approaches in elementary music education. Keywords: tempo sensitivity, body percussion, elementary school students, rural, urban PENDAHULUAN Dewasa kini pendidikan menghadapi tantangan dan peluang yang semakin kompleks. Perubahan sosial, kemajuan teknologi, dan tuntutan dunia kerja mendorong sistem pendidikan untuk melakukan penyesuaian secara menyeluruh, baik dari segi kurikulum, metode pembelajaran, maupun tujuan pembelajaran itu sendiri. Pendidikan tidak lagi sekadar berorientasi pada transfer pengetahuan, melainkan juga pada pengembangan kompetensi seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi (Putra et al. , 2. Meski demikian, realitas di This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 125 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v13i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ lapangan menunjukkan masih adanya kesenjangan kualitas pendidikan, baik antarwilayah maupun antarjenjang, serta keterbatasan dalam menerapkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan berpusat pada peserta didik (Nuryana et al. , 2. Undang undang Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing di tengah dinamika perubahan zaman. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensinya secara optimal. Pendidikan nasional tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan watak dan kepribadian bangsa yang berakhlak mulia, kreatif, dan bertanggung jawab (Rahmatiani. Untuk itu, sistem pendidikan di Indonesia dirancang agar mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat melalui jalur formal, nonformal, dan informal yang saling melengkapi. Pendidikan disekolah dasar Pendidikan di sekolah dasar merupakan fondasi awal dari jenjang pendidikan formal yang memiliki peran krusial dalam membentuk karakter, keterampilan dasar, dan pola pikir peserta didik. Pada tahap ini, anak-anak berada dalam masa perkembangan yang sangat pesat, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik (Mardatillah et al. , 2. sehingga pendekatan pembelajaran yang diterapkan harus mampu mengakomodasi kebutuhan perkembangan tersebut. Pada tingkat sekolah dasar, kurikulum dirancang untuk mencakup berbagai aspek keilmuan dan nilai-nilai budaya, termasuk pendidikan seni dan keterampilan, yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana ekspresi diri, tetapi juga sebagai bagian dari proses pengembangan karakter dan kecerdasan majemuk anak (Lubis, 2. Pendidikan seni memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian dan memperkaya pengalaman estetis peserta didik. Disamping itu Pendidikan seni adalah bentuk pendidikan yang menekankan pada ekspresi kreatif, dengan tujuan untuk mengembangkan kepekaan estetika, membangun karakter secara lahir dan batin, serta menanamkan nilai-nilai luhur yang selaras dengan budaya bangsa Indonesia (Loita & Afifah, 2. Peserta didik menjadi domain dalam pendidikan seni dimaksudkan untuk mempunyai peran seutuhnya, dimana peserta didik tidak hanya diajak untuk memahami unsur-unsur seni secara teoritis, tetapi juga dilatih untuk mengekspresikan gagasan, emosi, dan imajinasi melalui berbagai medium seperti musik, tari, rupa, dan drama. Pendidikan musik di sekolah dasar memiliki peran penting dalam menumbuhkan kepekaan estetis, kreativitas, serta perkembangan emosional dan sosial peserta didik. Pada usia sekolah dasar, anak berada dalam tahap perkembangan yang sangat reseptif terhadap pengalaman musikal (Fitriani, 2. , sehingga pembelajaran musik dapat menjadi media yang efektif untuk menstimulasi kecerdasan majemuk, khususnya kecerdasan musikal, kinestetik, dan interpersonal (Ariatman et al. , 2. Kepekaan terhadap tempo merupakan kemampuan dasar yang penting dalam pembelajaran musik di sekolah dasar. Menurut KBBI kepekaan diartikan sebagai kesanggupan bereaksi terhadap suatu keadaan, sedangkan tempo merujuk kepada persepsi kecepatan dan gerak yang dinterpretasikan dalam hitungan ketukan (Nurmalinda & Indriani, 2. Maka dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kepekaan terhadap tempo dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menangkap, memahami, dan menyesuaikan diri secara tepat terhadap kecepatan musik, baik melalui pendengaran maupun gerakan fisik. Pendekatan Orff dalam pendidikan musik menekankan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan berbasis pengalaman langsung melalui integrasi antara musik, gerak, sehingga This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 126 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v13i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ menjadikan suatu pengalaman bermakna bagi peserta didik (Ridwan et al. , 2. Salah satu strategi yang banyak digunakan dalam pendekatan ini adalah body percussion, yaitu eksplorasi bunyi tubuh seperti tepukan, hentakan, dan petikan jari sebagai alat musik alami. Aktivitas ini sangat sesuai untuk anak usia sekolah dasar karena bersifat kinestetik, menyenangkan, dan mudah diakses. Selain melatih kepekaan terhadap tempo, body percussion juga mengembangkan koordinasi motorik, konsentrasi, serta kemampuan untuk bekerja dalam kelompok. Kebudayaan Indonesia merupakan suatu tatanan yang bersifat menyeluruh, yang di dalamnya mencakup unsur-unsur seperti nilai, norma, pengetahuan, bahasa, kesenian, serta praktik sosial yang terus diwariskan dari generasi ke generasi dalam kehidupan masyarakat (Liliweri, 2. Lebih lanjut Widyastuti . menjelaskan bahwa kebudayaan merupakan hasil dari sistem pemikiran dan ide-ide yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat, yang kemudian menjadi landasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari di lingkungan Pada hakikatnya, budaya mencerminkan nilai-nilai teoritis yang mewujud dalam perilaku manusia, serta dibentuk dan dipengaruhi oleh norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat tempat individu tersebut hidup. Dalam realitas pembelajaran musik di sekolah dasar, pembelajaran musik kerap dipengaruhi secara signifikan oleh kondisi lingkungan. Hal tersebut sejalan dengan Fadhilah et al. yang mengemukakan bahwa pembelajaran musik dapat dipengaruhi oleh lingkungan, selain dari pada itu menurut Respati . bahwasanya lingkungan merupakan media tumbuh kembang anak dalam musik. Mengingat bahwa lingkungan merupakan salah satu medan tumbuh kembang anak, hal tersebut justru berbanding terbalik dengan fakta yang ada dilapangan, ketidaksesuaian lingkungan sekolah, seperti ketiadaan ruang khusus untuk praktik musik atau suasana kelas yang bising dan tidak kondusif, dapat menghambat konsentrasi siswa dalam memahami konsep dasar musik terkhusus dalam pembelajaran Di samping itu, rendahnya kesadaran dari berbagai pihak termasuk guru. Ay Guru seni yang tidak memiliki latar belakang pendidikan seni cenderung tidak memahami konsep pembelajaran sesuai dengan kurikulum dan memilih langkah pembelajaran yang tidak tepat dalam proses pembelajarannyaAy (Utami & Syamsuddin, 2. orang tua, dan komunitas sekolah akan pentingnya pendidikan musik, membuat mata pelajaran ini kerap dipandang sebagai hal sekunder. Akibatnya, dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan musik, termasuk latihan-latihan terkait tempo, menjadi sangat terbatas. Dalam beberapa situasi, pelajaran seni dan musik bahkan hanya dianggap sebagai pelengkap semata (Mujahidin, 2. , bukan bagian integral dari proses tumbuh kembang anak. Kondisi lingkungan belajar yang kurang mendukung ini dapat menghambat terbentuknya pemahaman musikal, khususnya dalam hal Penelitian ini hampir selaras dan beririsan dengan karya tulis Hidayat, & Lusiana . dimana penelitian tersebut mengkaji musikalitas peserta didik di wilayah perdesaan dan perkotaan. Dalam telaah terhadap sejumlah studi terdahulu, tampak bahwa kajian mengenai kepekaan terhadap tempo melalui pendekatan Carl Orff berbasis body percussion pada jenjang sekolah dasar masih belum banyak dijelajahi. Fokus penelitian sebelumnya umumnya lebih menitikberatkan pada aspek umum dari pembelajaran musik seperti musikalitas. Sementara itu, dimensi ritmis, khususnya tempo, belum menjadi perhatian utama. Terlebih lagi, belum ditemukan studi yang menyoroti bagaimana perbedaan lingkungan belajar antara wilayah perdesaan dan perkotaan dapat memengaruhi efektivitas pendekatan ini dalam meningkatkan kepekaan tempo peserta didik. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 127 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v13i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti bermaksud mengkaji sejauh mana perbandingan kepekaan terhadap tempo peserta didik sekolah dasar jika ditinjau dari aspek lingkungan kebudayaan di perdesaan dan perkotaan, dan penarikan rumusan masalah dapat didasarkan latar belakang diatas berupa adakah perbedaan kepekaan terhadap tempo dengan menggunakan pendekatan Carl Orff Body Percussion antara peserta didik sekolah dasar di perkotaan dan perdesaan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain komparatif untuk membandingkan hasil antara dua kelompok yang memperoleh perlakuan serupa, yaitu peserta didik di wilayah perkotaan dan perdesaan. Pendekatan ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kepekaan terhadap tempo antara peserta didik yang mengikuti pembelajaran musik dengan pendekatan Carl Orff berbasis body percussion. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes keterampilan yang dikembangkan untuk mengukur kepekaan tempo melalui empat aspek penilaian, yakni kesesuaian tempo, keselarasan gerakan dengan tempo, ketepatan ekspresi tempo, dan kemampuan mempertahankan tempo. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas V Sekolah Dasar di dua sekolah, masing-masing terletak di wilayah perkotaan dan perdesaan. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara random sampling, untuk memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anggota populasi agar terpilih sebagai sampel (Sugiyono, 2. Total jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 44 orang, yang terdiri atas 22 peserta didik dari sekolah di kota dan 22 peserta didik dari sekolah di desa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pemberian tes praktik musik yang mencakup aspek-aspek kepekaan terhadap tempo, yang kemudian diamati dan dinilai menggunakan lembar observasi terstruktur oleh pengamat. Sementara itu, teknik analisis data dilakukan dalam dua tahap, yaitu analisis deskriptif untuk melihat gambaran umum hasil tes di masingmasing kelompok, serta analisis inferensial menggunakan uji statistik parametrik atau nonparametrik dengan bantuan aplikasi software IBM SPSS 23. Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dan didasarkan pada rumusan masalah yang sebelumnya telah dibahas adalah: Terdapat perbedaan tingkat kepekaan terhadap tempo antara peserta didik di wilayah perkotaan dan perdesaan yang mengikuti pembelajaran musik menggunakan pendekatan Carl Orff berbasis body percussion. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum dilakukan analisis data menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics 23, perlu dikemukakan terlebih dahulu hipotesis yang menjadi dasar dalam pengujian statistik. Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: HCA (Hipotesis No. : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kepekaan tempo peserta didik antara wilayah perdesaan dan perkotaan melalui pendekatan Carl Orff body percussion. HCA (Hipotesis Alternati. : Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kepekaan tempo peserta didik antara wilayah perdesaan dan perkotaan melalui pendekatan Carl Orff body percussion. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 128 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v13i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Analisis hasil penelitian disusun secara sistematis berdasarkan rumusan masalah dan tujuan yang telah ditetapkan dalam bagian pendahuluan. Pembahasan diawali dengan pemaparan data secara deskriptif untuk memberikan gambaran umum terhadap hasil penelitian, kemudian dilanjutkan dengan pengujian hipotesis melalui pendekatan statistik Data diperoleh melalui pelaksanaan tes terhadap 44 peserta didik, yang terdiri atas 22 orang dari lingkungan perkotaan dan 22 orang dari lingkungan perdesaan. Seluruh proses analisis bertujuan untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan dalam kepekaan terhadap tempo musik sebagai dampak dari penerapan pendekatan Carl Orff body percussion pada kedua kelompok tersebut. Uji Normalitas data Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang digunakan dalam penelitian memiliki distribusi normal, lebih lanjut Fauzi . mengungkapkan bahwa pengujian normalitas data penting dilakukan karena menjadi syarat awal dalam berbagai analisis statistik, mengingat asumsi distribusi normal merupakan dasar utama dalam penerapan uji Berikut disajikan hasil uji Normalitas menggunakan aplikasi software IBM SPSS Tabel 1. Uji Normalitas Shapiro-Wilk Statistic Lilliefors Significance Correction Sig Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data di desa menunjukkan angka 0. 035<0. dengan demikian data tersebut dikatakan tidak berdistribusi normal, sementara itu di kota nilai signifikansi data yang diperoleh adalah 0. 542>0. 05 hal ini menunjukkan bahwa data terdistribusi normal. Karena salah satu data tidak terdistribusi normal maka pengujian selanjutnya akan menggunakan uji Mann-Whitney. Uji Mann-Whitney Uji Mann-whitney dilakukan pada sampel yang tidak berpasangan serta data tidak terdistribusi normal. Adapun hipotesis yang diajukan adalah. H0 : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan kepekaan tempo dengan menggunakan pendekatan Carll Orff Body Percussion peserta didik sekolah dasar di perdesaan dan perkotaan. Sedangkan Ha : Terdapat perbedaan yang signifikan kepekaan tempo dengan menggunakan pendekatan Carll Orff Body Percussion peserta didik sekolah dasar di perdesaan dan perkotaan. Berikut merupakan uji MannWhitney. Tabel 2. Uji Mann-Whitney Kepekaan Mann-Whitney U Wilcoxon W Asymp. Sig. -taile. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 129 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v13i3. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa H 0 ditolak dan Ha diterima, hal ini ditunjukkan pada tabel signifikansi. -taile. memperoleh nilai 009<0. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kepekaan tempo dengan menggunakan pendekatan Carll Orff Body Percussion peserta didik sekolah dasar di perdesaan dan perkotaan. Hasil analisis data menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam kepekaan terhadap tempo antara peserta didik sekolah dasar yang berada di lingkungan perdesaan dan perkotaan. Nilai signifikansi sebesar 0,009 (< 0,. menjadi dasar penolakan terhadap hipotesis nol (HCA) dan penerimaan terhadap hipotesis alternatif (HC. Hal ini menandakan bahwa tempat tinggal peserta didik, yang merepresentasikan lingkungan kultural dan sosial yang berbeda, memiliki pengaruh terhadap pencapaian kepekaan tempo setelah diberikan perlakuan dengan pendekatan Carl Orff Body Percussion. Perbedaan ini dapat dikaitkan dengan karakteristik lingkungan belajar di masing-masing Di wilayah perkotaan, peserta didik cenderung memiliki akses yang lebih luas terhadap berbagai bentuk paparan musik, baik melalui konser musik (Nasution et al. , 2. Selain itu, budaya populer di kota juga mendorong peserta didik lenih peka terhadap perkembangan zaman, hal itu berdampak pada paaparan musik yang lebih luas pula. Sebaliknya, meskipun lingkungan perdesaan memiliki kekayaan budaya lokal, akses terhadap pendidikan musik formal maupun informal cenderung lebih terbatas (Putrantiwi et , 2. Pengaruh nilai-nilai tradisional yang cenderung normatif juga dapat memengaruhi kebebasan ekspresi musikal peserta didik (Susilo & Ramadan, 2. Hal ini berdampak pada bagaimana mereka merespons pendekatan Orff Body Percussion, yang menekankan spontanitas, kreativitas, dan keterlibatan tubuh secara ritmis. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam kepekaan terhadap tempo antara peserta didik sekolah dasar di lingkungan perdesaan dan perkotaan setelah mendapatkan perlakuan pembelajaran musik menggunakan pendekatan Carl Orff dengan teknik body percussion. Siswa yang berasal dari lingkungan perkotaan menunjukkan tingkat kepekaan tempo yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa dari perdesaan. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor lingkungan, termasuk akses terhadap sumber daya musikal dan kebiasaan budaya, berpengaruh terhadap kemampuan musikal anak, khususnya dalam aspek tempo. DAFTAR PUSTAKA