E-ISSN 3046-4935 Journal Geological Processes. Risks, and Integrated Spatial Modeling Vol 02 No 01 2024 PEMETAAN TINGKAT KERENTANAN TANAH LONGSOR DI DESA PANGU SATU DAN SEKITARNYA KECAMATAN RATAHAN TIMUR KABUPATEN MINAHASA TENGGARA PROVINSI SULAWESI UTARA Alow1* A. Utomo1,2* 1Universitas Prisma/ Departemen Geologi/ Geofisika/ Jl. Pomorouw No. Kel. Tikala Baru. Kec. Tikala. Manado. Sulawesi Utara 2Pusat Kajian Bencana dan Pengembangan Sumber Daya Alam (PKBPSDA) Universitas Prisma Manado. Jl. Pomorouw No. Kel. Tikala Baru. Kec. Tikala. Manado. Sulawesi Utara Corresponding author: e-mail: reyalow@gmail. ABSTRAK Kabupaten Minahasa Tenggara adalah Kabupaten yang memiliki lahan-lahan yang berpotensi longsor karena daerah ini memiliki curah hujan rata-rata yang tinggi, kemiringan lereng yang curam . ebih dari 40%), dan kawasan rawan gempa. Kawasan rawan longsor dan gerakan tanah meliputi kawasan sekitar Suhuyon. Lowatag. Lomangi. Amburumalad. Maimbeng. Kaluya dan Pangu. Daerah penelitian berada pada Desa Pangu Satu dan sekitarnya. Kecamatan Ratahan Timur. Kabupaten Minahasa Tenggara. Provinsi Sulawesi Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode scoring pembobotan dan overlay. Hasil dari penelitian ini yaitu daerah penelitian memiliki 3 zona rentan tanah longsor yaitu zona dengan tingkat kerentanan tanah longsor rendah dengan luas 0,01% dari luas daerah penelitian, zona dengan tingkat kerentanan tanah longsor sedang luas 98,1% dari luas daerah penelitian dan zona dengan tingkat kerentanan tanah longsor tinggi dengan luas 1,9% dari luas daerah penelitian. Kata kunci: Kondisi geologi. Tanah longsor dan Metode scoring PENDAHULUAN Kabupaten Minahasa Tenggara memiliki lahan yang berpotensi longsor karena daerah ini memiliki curah hujan rata-rata yang tinggi yaitu 3,839. 60 mm, kemiringan lereng yang curam lebih dari 40% . dan kawasan rawan gempabumi tinggi yaitu kawasan yang berpotensi terlanda goncangan gempabumi dengan intensitas lebih dari Vi MMI berdasarkan Peta Kawasan Rawan Gempabumi Provinsi Sulawesi Utara yang dikeluarkan oleh PVMBG . Untuk kawasan rawan longsor meliputi kawasan sekitar Suhuyon. Lowatag. Lomangi. Amburumalad. Maimbeng. Kaluya dan Pangu . Daerah penelitian berada pada Desa Pangu Satu dan sekitarnya. Kecamatan Ratahan Timur. Kabupaten Minahasa Tenggara. Provinsi Sulawesi Utara yang berbatasan dengan Kabupaten Minahasa pada bagian Utara. Permasalahan tanah longsor sering terjadi pada daerah penelitian baik dalam skala besar maupun dalam skala kecil. Tepatnya pada tahun 2011 terjadi longsor pada ruas jalan yang menghubungkan Desa Noongan yang terletak di Kabupaten Minahasa dan Desa Pangu Satu. Longsor ini menutup ruas jalan sehingga memutuskan akses antara dua Desa bahkan antara dua Kabupaten tersebut sehingga merugikan warga secara ekonomi dan juga merugikan pemerintah dari segi infrastruktur karena longsor yang terjadi merusak sebagian jalan tersebut. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui zona rentan tanah longsor di daerah penelitian sehingga informasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiagaan masyarakat dan pemerintah untuk membuat mitigasi yang tepat di daerah penelitian dan juga mengurangi korban dan kerugian yang ditimbulkan di kemudian hari. METODE Penentuan kerentanan tanah longsor menggunakan metode analisis spasial . yang sebelumnya dilakukan penilaian atau scoring untuk setiap parameter. Parameter yang digunakan adalah kemiringan lereng, jenis batuan, asosiasi struktur geologi . , distribusi daerah kejadian tanah longsor, penggunaan lahan, kegempaan dan curah hujan. Parameter yang Alow/JGPRISM Vol 02 No 01/2024 digunakan mengacu pada metode statistik dalam . tentang penyusunan dan penentuan zona kerentanan gerakan tanah sedangkan untuk skoring diambil berdasarkan pengembangan dalam penelitian . yang dapat dilihat pada Tabel 1 Cura hujan . m/tahu. Tabel 1 Parameter penentuan kerentanan tanah longsor <1. 0,070 500 - 2. 0,178 > 2. 0,751 0,002 0,029 0,005 Kemiringan Lereng Derajat Persen Kel tase as (A) ( %) Nilai 0,029 Bobot Skor Total 0,021 Tabel 2 Klasifikasi kelas tingkat kerentanan tanah longsor 0,012 0,032 0,013 0,065 0,026 Kelas Kelas Interval Tingkat Rentan Longsor 0,109 0,043 0,042 Ae 0. Sangat Rendah 0,152 0,061 0,1656 Ae 0,289 Rendah 35-55 55-140 6 0,214 0,085 >55 0,399 0,159 i 0,290 Ae 0,4125 Sedang 0,4126 Ae 0,536 Tinggi >140 0,399 Geologi . enis batua. Batuan Padu 0,070 Batu Malihan dan Beku 0,178 Sedimen Lepas 0,751 > 5 km 0,070 2-5 km 0,178 <2 km 0,014 0,214 0,038 0,160 Jarak dari sesar 0,010 0,152 0,027 0,751 0,114 Tata guna lahan Hutan Rawa 0,016 0,001 Rumput/Tanah Kosong 0,029 0,003 Tegalan/Ladang 0,042 0,004 0,004 Semak/Belukar 0,043 Kebun/Perkebunan 0,057 Sawah Tadah Hujan 0,121 Sawah Irigasi 0,144 0,015 Hutan 0,167 0,018 Bangunan 0,183 0,019 Permukiman 0,198 0,021 (<. Sangat Rendah Rendah 0,006 0,109 0,013 Distribusi Longsor 0,043 0,002 0,006 0,102 0,065 Menengah 0,213 0,013 (>. Tinggi 0,642 0,041 Kegempaan Kegempaan PGA Kelas Nilai Bobot Skor Total Sangat Rendah <88 0,043 0,001 Rendah 0,102 Menengah 0,213 0,006 0,642 0,020 0,032 0,003 Tinggi >564 Data-data yang sudah dikumpulkan dilakukan penilaian atau scoring dan juga visualisasikan menjadi peta tematik sesuai dengan parameter yang digunakan. Kemudian dari hasil pembuatan peta tersebut di overlay kan kemudian dilakukan penjumlahan dan pengklasifikasikan sesuai dengan kelas tingkat kerentanan tanah longsor yang digunakan dalam penelitian ini, selanjutnya di visualisaikan menjadi peta tingkat kerentanan tanah longsor pada daerah penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN KEMIRINGAN LERENG Kemiringan lereng merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya tanah longsor. Semakin besar sudut lereng di daerah itu maka akan semakin berpotensi terjadinya tanah longsor. Menurut . kondisi kemiringan lereng lebih 15A perlu mendapat perhatian terhadap kemungkinan terjadinya tanah longsor dan tentunya dengan mempertimbangkan faktorfaktor lain yang mendukung. Dalam penelitian ini, untuk memperoleh peta kemiringan lereng dilakukan analisis spasial GIS dengan menggunakan data Digital Elevation Model (DEM) maka diperoleh 3 kelas kemiringan lereng yaitu, kelas lereng 8 - 16A, 16 - 33A dan 33 Ae 55A. Untuk kelas lereng 33 - 55A tersebar dibagian utara daerah penelitian dan untuk kelas lereng 8 - 16A kebanyakan tersebar dibagian selatan sampai tenggara daerah penelitian sedangkan untuk kelas lereng 16 - 33A tersebar diseluruh bagian daerah penelitian (Gambar . Untuk nilai skor dan pembobotan kemiringan lereng dapat dilihat pata Tabel 3. Alow Reynold Engelbert/JGPRISM Vol 02 No 02/2024 Secara megaskopis satuan ini ditemukan dengan warna abu-abu kecoklatan dengan fragmen batuan beku yang berukuran kerakal hingga berangkal . - 256m. dengan derajat kebundaran yaitu membundar hingga menyudut tanggung, matriks berukuran pasir sangat kasar hingga kerikil dan semen silika (Gambar 3 (A)). Memiliki sortasi yang buruk, dengan kemas terbuka, fragmen batuan beku andesit berwarna abu - abu gelap, mempunyai tekstur porfiritik dengan massa dasar afanitik dan mineral yang dapat diamati yaitu plagioklas dan biotit, dapat dilihat pada Gambar 3 (B). Gambar 1 Peta Kemiringan Lereng Daerah Penelitian Tabel 3 Skor dan Pembobotan Kemiringan Lereng Gambar 3 (A) Singkapan Breksi, (B) Fragmen Andesit Kemiringan Lereng Nilai Bobot Skor Total 8o Ae 16o 0,109 0,399 0,043 16o - 35o 0,152 0,399 0,061 35o - 55o 0,214 0,399 0,085 SATUAN TUF GEOLOGI (JENIS BATUAN) Berdasarkan hasil pengambilan data dilapangan, maka berdasarkan data tersebut dikelompokan menjadi 2 satuan batuan pada daerah penelitian yaitu satuan breksi dan satuan tuf (Gambar . Satuan ini menempati bagian tengah hingga selatan daerah penelitian dan berwarna coklat muda pada peta geologi (Gambar . Singkapan ini ditemukan disebelah sungai dan tertutup oleh sisa daun, batang kayu dan juga rumput liar (Gambar 4 (A)). Secara megaskopis satuan ini ditemukan dengan warna coklat gelap dan dalam keadaan kurang kompak, tersusun oleh material gunungapi dengan ukuran tuf halus . ,0625 m. Memiliki sortasi yang buruk, dengan kemas yang terbuka, dapat dilihat pada Gambar 4 (B). Gambar 4 (A) Singkapan Tuf, (B) Sampel Batuan Tuf Gambar 2 Peta Geologi Daerah Penelitian SATUAN BREKSI Pada peta geologi (Gambar . , satuan breksi ditunjukan berwarna coklat tua, sebarannya menempati atau berada pada bagian tengah hingga ke bagian utara dari daerah penelitian. Satuan ini ditemukan dalam kondisi yang sudah tidak kompak dan ada yang sudah mengalami pelapukan di beberapa lokasi. Hasil analisis kelas geologi didasarkan pada pengamatan jenis litologi dan kondisi di lapangan dimana satuan breksi di beberapa tempat mengalami pelapukan dan kepadatannya berkurang, serta satuan tuf juga kurang kepadatannya sehingga daerah penelitian masuk dalam kelas sedimen lepas. JARAK DARI SESAR Parameter jarak dari sesar . merupakan faktor kedekatan dengan lokasi sesar. Dalam . , jarak yang semakin dekat dengan sesar mempunyai faktor dominan akan terjadinya tanah longsor. Dikarenakan tidak ditemukan jejak sesar atau tanda-tanda struktural di lapangan maka data jarak dari sesar diambil melalui Peta Pola Sebaran Struktur Sesar Aktif skala 1:250. 000 oleh . Data yang diambil merupakan data sesar yang ada di lokasi penelitian. Berdasarkan peta Alow Reynold Engelbert/JGPRISM Vol 02 No 02/2024 tersebut, terdapat 2 zona jarak dari sesar pada daerah penelitian yaitu zona < 2 km dan 2 km (Gambar . DISTRIBUSI TANAH LONGSOR Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Minahasa Tenggara, pada tahun 2011-2020 Kecamatan Ratahan Timur tercatat sudah mengalami 13 kali tanah longsor. Pada tahun 2015 dan 2017 terjadi tanah longsor pada ruas jalan yang menghubungkan Desa Pangu Satu Kabupaten Minahasa Tenggara dan Desa Noongan Kabupaten Minahasa yang bisa dilihat pada Gambar 7 Arah longsor Gambar 5 Peta Jarak Lokasi Penelitian Dari Sesar Terdekat PENGGUNAHAN LAHAN Pembuatan peta penggunahan lahan didasari oleh data yang didapatkan melalui Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2019 yang kemudian dilakukan validasi kembali dengan melihat keadaan dilokasi daerah penelitian. Setelah dilakukan validasi dilapangan dan kemudian data tersebut dianalisis, maka didapati penggunahan lahan pada daerah penelitian seperti pada Gambar 6 dimana terdapat 4 jenis penggunahan lahan yaitu hutan lahan kering sekunder, permukiman, pertanian lahan kering dan pertanian lahan kering Gambar 6 Peta Kelas Penggunahan lahan Daerah Penelitian Arah longsor Gambar 7 (A) Kejadian Tanah Longsor Tahun 2015 , (B) Kejadian Tanah Longsor Tahun 2017 Parameter distribusi tanah longsor, merupakan intensitas kejadian terjadinya tanah longsor. Berdasarkan hasil pemetaan pada daerah penelitain untuk data distribusi kejadian tanah longsor didapati 9 titik tanah longsor yang kemudian dilakukan analisis sehingga menghasilkan 3 zona distribusi kejadian tanah longsor (Gambar . yaitu zona distribusi kejadian tanah longsor menengah dimana daerah tersebut terjadi longsor 4-6 kali, zona distribusi kejadian tanah longsor rendah dimana daerah tersebut terjadi longsor 2-4 kali dan zona distribusi kejadian tanah longsor sangat rendah dimana daerah tersebut terjadi kurang dari 2 kali. Gambar 8 Peta Distribusi Tanah Longsor Daerah Penelitian Tabel 4 Nilai Skor dan Pembobotan Penggunahan Lahan Jenis Penggunahan Lahan Nilai Bobot Skor Total Pertanian Lahan Kering Campur 0,057 0,109 0,006 Pertanian Lahan Kering 0,057 0,109 0,006 Hutan Lahan Kering Sekunder 0,167 0,109 0,018 Permukiman 0,198 0,109 0,021 Tabel 5 Nilai Skor dan Pembobotan Distribusi Tanah Longsor Kelas Distirbusi Tanah Longsor Nilai Bobot Skor Total Sangat Rendah 0,043 0,065 0,002 Rendah 0,102 0,065 0,006 Menengah 0,213 0,065 0,013 Alow Reynold Engelbert/JGPRISM Vol 02 No 02/2024 KEGEMPAAN Tabel 6 Data Curah Hujan Nasa Selama 10 Tahun Terakhir Berdasarkan peta rawan bencana gempabumi yang dikeluarkan oleh PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geolog. tahun 2010, seluruh daerah penelitian masuk ke dalam kawasan rawan gempabumi tinggi dimana kawasan ini berpotensi terlanda goncangan gempabumi dengan intensitas lebih dari Vi MMI (Modified Mercalli Intensit. Dalam peta tersebut, dikatakan bahwa skala gempabumi daerah penelitian lebih dari Vi MMI, berdasarkan tabel skala gempabumi BMKG maka daerah penelitian masuk kedalam kelas V yaitu berada dalam skala MMI IX-XII atau dalam nilai PGA > 546. (Gambar . Sehingga berdasarkan data tersebut, daerah penelitian masuk kedalam kelas curah hujan >1500 Ae 2500 mm/tahun. (Gambar . Gambar 9 Peta Kelas Kegempaan Daerah Penelitian CURAH HUJAN Curah hujan merupakan salah satu unsur iklim yang memiliki peran besar terhadap kejadian tanah longsor . Hujan dengan curahan dan intensitas yang tinggi dapat menyebabkan daya tahan tanah atau batuan penyusun lereng menurun tajam dan menyebabkan tanah menjadi labil sehingga dapat menyebabkan terjadinya tanah longsor. Air hujan yang meresap ke dalam lereng dapat meningkatkan kejenuhan tanah dan batuan pada lereng sehingga tekanan air meregangkan ikatan butir pada tanah yang ada di lereng, dan akhirnya ketika terjadi gangguan seperti getaran maka massa tanah akan terangkut oleh aliran air dalam lereng . Berdasarkan data curah hujan yang diperoleh secara online dari website National Aeronautics and Space Administration (Nas. selama 10 tahun terakhir dari tahun 2013-2022 (Tabel . yang kemudian dilakukan analisis, daerah penelitian memiliki rata-rata curah hujan tahunan yaitu 2203,695 mm/tahun Gambar 10 Peta Curah Hujan Daerah Penelitian TINGKAT KERENTANAN TANAH LONGSOR Setelah semua parameter telah diberi skor dan dibuatkan peta tematik, maka langkah berikutnya yaitu analisis secara overlay. Dari analisis overlay tersebut menghasilkan gabungan dari setiap peta tematik dan juga skor total dari setiap Untuk mengetahui skor total tingkat kerentanan longsor pada daerah penelitian, dilakukan penjumlahan skor total dari setiap parameter. Berdasarkan Tabel 2 maka skor total tingkat kerentanan tanah longsor daerah penelitian masuk ke kelas tingkat kerentanan tanah longsor rendah dengan kisaran nilai 0,042 Ae 0. 1655, sedang dengan kisaran nilai 0,289 Ae 0,4125 dan tinggi dengan kisaran nilai 0,4126 Ae 0,536 dapat dilihat pada Gambar 11 yang ditampilkan dalam grafik scater plot. Alow Reynold Engelbert/JGPRISM Vol 02 No 02/2024 penelitian, zona dengan tingkat kerentanan tanah longsor sedang dengan luas 98,1% dari luas daerah penelitian dan zona dengan tingkat kerentanan tanah longsor tinggi dengan luas 1,9% dari luas daerah penelitian Gambar 11 Hasil Analisis Overlay Semua Parameter Gambar 11 merupakan hasil analisis overlay atau penggabungan berdasarkan nilai skor total setiap parameter yang digunakan yang dituangkan dalam grafik scater plot. Untuk garis vertikalnya menggunakan nilai kelas interval kerentanan tanah longsor yang digunakan dalam penelitian ini dan untuk garis horizontalnya menggunakan nilai skor total overlay dari setiap parameter yang digunakan. Untuk lingkaran yang berwarna kuning merupakan nilai interval kelas yang masuk kedalam kelas kerentanan tanah longsor sedang dan untuk lingkaran merah masuk kedalam kelas kerentanan tanah longsor sedang. Kelas tingkat kerentanan tanah longsor rendah diberi warna hijau, kerentanan tanah longsor sedang diberi warna kuning dan kerentanan tanah longsor tinggi diberi warna merah yang dapat dilihat dalam Gambar 12. Zona rentan tanah longsor rendah dengan nilai 0,042 Ae 0. 1655 dengan luasan 0,01% dari daerah penelitian, zona rentan tanah longsor sedang dengan nilai 0,289 Ae 0,4125 dengan luasan 98,1% dari daerah penelitian yang umumnya tersebar diseluruh daerah penelitian dan zona rentan tanah longsor tinggi dengan nilai 0,4126 Ae 0,536 dengan luasan 1,9% dari daerah penelitian yang berada pada bagian baratlaut daerah penelitian. Gambar 12 Peta Tingkat Kerentanan Tanah Longsor Daerah Penelitian PENUTUP KESIMPULAN Pemetaan zona dan tingkat kerentan tanah longsor pada daerah penelitian berdasarkan hasil analisis yang dilakukan menghasilkan 3 zona yaitu zona dengan tingkat kerentanan tanah longsor rendah dengan luas 0,01% dari luas daerah SARAN Pemerintah daerah dapat memperhatikan zona dengan tingkat kerentanan tanah longsor tinggi yang berada di pinggiran jalan dan juga di daerah aliran sungai dengan mitigasi yang tepat dan berkoordinasi dengan masyarakat pada zona tersebut agar terhindar dari kerugian yang ditimbulkan bahkan kejadian bencana selanjutnya yang disebabkan oleh tanah longsor. DAFTAR PUSTAKA