EDUMANDIRI: JURNAL ILMU PENDIDIKAN DASAR Vol 01. No. Juli-Desember 2025 ISSN 3089-9575 https://ojs. id/index. php/edumandiri Pendidikan Literasi dalam Al-QurAoan dan Hadis serta Peran Orang Tua dalam Membentuk Budaya Baca Anak Muhammad Nuzhan 1 . Muhammad Noor Alamsyah2 & Masrudin3 Institut Agama Islam Darussalam Martapura E-mail: nafishazahranuzhan@gmail. com, muhammadnooralamsyah@gmail. com, masruddin. net@gmail. Abstract Literacy constitutes a fundamental foundation for the development of knowledge and human civilization. From an Islamic perspective, literacy is not merely understood as the technical ability to read and write, but also as a means of comprehending revelation, social realities, and fostering intellectual as well as spiritual awareness. The QurAan and Hadith place literacy in a highly central position, as reflected in the first revelation through the command iqraA . and the emphasis on the importance of the pen . l-qala. This article aims to examine the concept of literacy education in the QurAan and Hadith, the urgency of reading and writing in the development of knowledge, the role of literacy education in shaping reading culture and research interest, as well as the role of parents in cultivating childrenAs reading habits from an early age. The method employed is a literature review by analyzing primary sources such as the QurAan. Hadith, and classical scholarly works, along with contemporary educational literature. The findings indicate that literacy education in Islam serves as a gateway to knowledge acquisition, the formation of an intellectual culture, and the strengthening of lifelong learning character. Furthermore, parental involvement as facilitators of literacy contributes significantly to the development of childrenAs interest in reading, both through cognitive and emotional approaches. Therefore, literacy education needs to be comprehensively integrated across educational institutions, families, and society to produce generations who love knowledge, think critically, and uphold noble character. Keywords: Literacy Education. QurAan And Hadith. Reading And Writing. Reading Culture. Parental Role Abstrak Literasi merupakan landasan fundamental dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban manusia. Dalam perspektif Islam, literasi tidak dipahami sebatas keterampilan teknis membaca dan menulis, melainkan sebagai sarana untuk memahami wahyu Ilahi, realitas sosial, serta membangun kesadaran intelektual dan spiritual. Al-QurAoan dan Hadis menempatkan literasi pada kedudukan yang sangat penting, sebagaimana tercermin dalam wahyu pertama melalui perintah iqraA serta penegasan tentang peran pena . l-qala. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep pendidikan literasi dalam Al-QurAoan dan Hadis, urgensi aktivitas membaca dan menulis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, peran pendidikan literasi dalam membentuk budaya membaca dan minat riset, serta kontribusi orang tua dalam menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak sejak usia dini. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menganalisis sumbersumber primer berupa Al-QurAoan. Hadis, dan karya-karya ulama, serta literatur pendidikan Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan literasi dalam Islam berperan sebagai gerbang utama penguasaan ilmu, pembentukan budaya intelektual, dan penguatan karakter pembelajar sepanjang hayat. Selain itu, keterlibatan orang tua sebagai fasilitator literasi memberikan kontribusi yang signifikan dalam menumbuhkan minat baca anak, baik melalui pendekatan kognitif maupun emosional. Oleh karena itu, pendidikan literasi perlu diintegrasikan secara menyeluruh antara lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat guna melahirkan generasi yang mencintai ilmu, berpikir kritis, dan berakhlak mulia. Kata Kunci: Pendidikan Literasi. Al-QurAan Dan Hadis. Membaca Dan Menulis. Budaya Baca. Peran Orang Tua. Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 PENDAHULUAN Literasi merupakan kemampuan fundamental yang menjadi kunci utama dalam proses pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam konteks pendidikan Islam, literasi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis, karena berkaitan erat dengan upaya memahami wahyu, mengkaji realitas kehidupan, serta membangun peradaban yang berlandaskan ilmu dan nilai-nilai Ilahiyah. Al-QurAoan secara tegas menempatkan literasi sebagai fondasi awal perubahan peradaban melalui perintah iqraA dalam Surah Al-AAlaq, yang menandai dimulainya era pencerahan umat manusia. Sejalan dengan itu. Hadis Nabi Muhammad SAW juga menekankan pentingnya menuntut ilmu, mencatat, dan menulis sebagai sarana menjaga dan mengembangkan Di tengah tantangan zaman modern yang ditandai dengan derasnya arus informasi, pendidikan literasi menjadi semakin urgen untuk membentuk budaya baca, minat riset, serta kemampuan berpikir kritis. Selain peran lembaga pendidikan, keluargaAikhususnya orang tuaAimemegang peran strategis dalam menanamkan kebiasaan membaca sejak usia dini. Oleh karena itu, kajian ini membahas pendidikan literasi dalam perspektif Al-QurAoan dan Hadis, urgensi membaca dan menulis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, serta peran orang tua dalam membentuk budaya literasi dan minat baca anak secara berkelanjutan. METODE PENELITIAN Penelitian kualitatif berbasis studi pustaka ini mengkaji konsep literasi dalam AlQur'an dan Hadis serta peran orang tua dalam membentuk budaya baca anak. Data dihimpun melalui dokumentasi dari sumber primer (Tafsir. Syarah Hadis, karya ulam. dan sekunder . urnal/buku releva. Analisis dilakukan secara deskriptifanalitis dengan teknik content analysis, sementara validitas temuan dipastikan melalui triangulasi sumber guna menghasilkan kesimpulan yang komprehensif. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Literasi Dalam Al-QurAoan Dan Hadits Literasi dipahami sebagai kemampuan individu dalam mengakses, mengelola, dan memanfaatkan informasi melalui aktivitas membaca dan menulis. Seiring dengan perkembangan zaman, konsep literasi mengalami transformasi dan perluasan makna sesuai dengan tuntutan sosial yang terus berubah. Pada tahap awal, literasi dipahami sebatas keterampilan dasar membaca dan menulis, namun dalam perkembangannya literasi telah menjadi konsep yang lebih luas dan multidimensional, mencakup praktik-praktik kultural yang berkaitan dengan dinamika sosial dan politik. Budaya literasi mencerminkan pola pikir yang Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 berkelanjutan melalui kebiasaan membaca dan menulis, yang bermuara pada lahirnya karya sebagai bentuk aktualisasi dari proses literasi tersebut. Budaya literasi merupakan serangkaian aktivitas yang terinternalisasi sebagai kebiasaan dalam proses berpikir, yang diwujudkan melalui kegiatan membaca dan Melalui aktivitas tersebut, lahir pengetahuan baru bagi pelakunya, khususnya peserta didik. Literasi tidak semata-mata dipahami sebagai keterampilan teknis membaca dan menulis, melainkan juga berfungsi sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan individu dalam mengidentifikasi, memecahkan, dan menyelesaikan berbagai permasalahan. Selain itu, literasi berperan dalam membentuk individu yang berpotensi, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta mampu berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan sosial. Morocco et al. menegaskan bahwa literasi diwujudkan melalui pengembangan keterampilan berbahasa, baik secara lisan maupun tulis, yang dikembangkan melalui beragam pendekatan dan strategi pembelajaran. Islam meletakkan aktivitas literasi sebagai semangat utama melalui perintah iqraA dalam wahyu perdana. Makna iqraA melampaui pembacaan tekstual. ia mencakup proses pendalaman dan penelitian terhadap fenomena alam serta ilmu pengetahuan. Eksistensi istilah seperti shuhuf dan al-qalam kian mempertegas bahwa Al-QurAoan mendorong manusia untuk aktif dalam tradisi tulis-baca dan pengembangan Pendidikan Literasi Dalam Al-QurAoan Islam merupakan agama samawi yang sejak awal menegaskan pentingnya pendidikan, sebagaimana tercermin dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Penegasan tersebut termaktub dalam Q. al-AAlaq . : 1Ae5 yang berbunyi: AEac aIA a aO aEaCa y aEaCA a AEac aI a eECaEa aI yA a AaOA a AOa aN eOA a Ue AeEA e AaCe aO aacEa eEa eE aI y EacA a AEaC y A e AaCe a aeI a aEa EacA a AA AOa aNEa eI O eEa eI yA ae a Ue AeEA Artinya : Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Pencipta. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Dia mengajarkan manusia melalui pena, serta mengajarkan manusia berbagai hal yang sebelumnya tidak diketahuinya. Izzudin Hitimala. AuPentingnya Membangun Budaya Literasi di Sekolah Dasar Islam Terpadu,Ay Jurnal Manajemen dan Pendidikan Agama Islam 2, no. : 40, Laila Badriyah dan Cholifatul Azizah. Implementasi Budaya Literasi Pada Materi Hakikat Penciptaan Manusia Dalam Pembelajaran Al-QurAoan Hadist, t. , 4. Wa Ode Zalmatin dkk. Pendidikan Literasi Perspektif Hadits, 6 . : 1268. QS. Al-Alaq . :1-. Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 Secara etimologis, iqraA berakar dari kata qara yang berarti menghimpun. Proses ini tidak hanya terbatas pada melafalkan teks tertulis, tetapi mencakup aktivitas intelektual yang lebih luas. Oleh karena itu, iqraA dapat dimaknai sebagai kegiatan menelaah, mendalami, dan meneliti fenomena, di mana seluruh aktivitas tersebut pada dasarnya memiliki satu tujuan utama: menghimpun pengetahuan. Ayat kedua beserta ayat-ayat berikutnya menjelaskan tentang Tuhan yang disembah oleh Nabi Muhammad saw. , yakni Tuhan yang dijadikan dasar dalam perintah membaca sebagaimana ditegaskan pada ayat sebelumnya. Dia adalah Tuhan Yang Maha Pencipta manusia, yaitu seluruh keturunan manusia selain Adam dan Hawa, yang berasal dari Aalaq, berupa segumpal darah atau sesuatu yang melekat pada dinding rahim. Pengulangan perintah membaca pada ayat ketiga mengandung berbagai hikmah menurut para ulama. Sebagian menafsirkannya sebagai pembagian sasaran . ertama untuk Nabi saw. , kedua untuk uma. atau konteks ibadah . i dalam dan di luar Pandangan lain melihatnya sebagai tahapan literasi: perintah pertama untuk menuntut ilmu, dan yang kedua untuk mengajarkannya. Selain itu, pengulangan ini juga dimaknai sebagai penguatan psikologis guna menumbuhkan kepercayaan diri Nabi saw. dalam mengemban misi intelektual meski beliau seorang yang ummi. Menurut pandangan penulis, perintah membaca yang kedua dimaksudkan agar Nabi Muhammad saw. semakin memperbanyak aktivitas membaca, menelaah, dan merenungi alam semesta, baik melalui bacaan terhadap kitab yang tertulis maupun tanda-tanda yang tidak tertulis, sebagai bekal dalam mempersiapkan diri untuk terjun dan berinteraksi dengan masyarakat. Pada ayat keempat dan kelima tersebut terdapat gaya bahasa yang dikenal dengan istilah ihtibAk, yaitu penghilangan sebagian keterangan yang seharusnya disebutkan dalam dua susunan kalimat yang saling berhubungan, karena keterangan tersebut telah diwakili atau disebutkan pada susunan kalimat lainnya. Dalam ayat keempat, kata manusia tidak disebutkan karena telah disebutkan pada ayat kelima. Sebaliknya, pada ayat kelima tidak disebutkan keterangan tanpa pena, karena maknanya telah diisyaratkan dalam ayat keempat melalui penyebutan kata pena. Dengan demikian, makna gabungan dari kedua ayat tersebut dapat dipahami sebagai: AiDia (Alla. mengajarkan dengan pena . elalui tulisa. hal-hal yang telah diketahui manusia sebelumnya, dan Dia mengajarkan manusia . anpa pen. apa yang sebelumnya belum diketahui. An Ungkapan Aiyang telah diketahui sebelumnyaAn ditambahkan sebagai penjelas karena adanya frasa Aiyang belum atau tidak diketahui Quraish Shihab. Tafsir al-Mishbah: pesan, kesan dan keserasian Al-QurAoan (Lentera Hati, 2. Shihab. Tafsir al-Mishbah, 396. Shihab. Tafsir al-Mishbah, 398. Shihab. Tafsir al-Mishbah, 398. Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 sebelumnyaAn pada susunan ayat kedua, sedangkan keterangan Aitanpa penaAn disisipkan sebagai penegasan atas keberadaan kata Aidengan penaAn pada susunan Adapun yang dimaksud dengan Aiyang telah diketahui sebelumnyaAn ialah khazanah pengetahuan yang tersimpan dalam bentuk tulisan. Dapat disimpulkan bahwa kedua ayat tersebut merepresentasikan dua jalur epistemologi dalam pendidikan Islam. Pertama adalah metode instruksional melalui media tulisan . l-qala. yang menuntut aktivitas membaca dan menelaah secara Kedua adalah metode intuitif, di mana Allah menganugerahkan pengetahuan secara langsung ke dalam jiwa manusia tanpa perantara alat, yang secara teologis dikenal sebagai Ailm ladunn. Potongan ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tampil sebagai pelopor utama yang membuka gerbang pembebasan manusia dari kebodohan. Upaya awal untuk memutus rantai kebodohan yang telah lama melekat dalam sejarah umat manusia, sebagaimana dipahami dari tafsir ayat tersebut, dilakukan melalui perintah membaca berbagai informasi yang berkaitan dengan kebesaran Allah Swt. Pencipta alam semesta dan manusia. Surah al-AAlaq menjadi tonggak awal terjadinya transformasi peradaban dunia, yang menegaskan urgensi ilmu pengetahuan serta perubahan dari kehidupan jahiliyah menuju kondisi yang lebih tercerahkan. Transformasi tersebut diawali dengan perintah iqraA . , yang maknanya tidak terbatas pada aktivitas membaca teks tertulis semata, tetapi juga mencakup upaya membaca dan memahami tanda-tanda kebesaran Allah Swt. yang terpancar di seluruh alam semesta. Secara umum, konsep literasi yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut mencakup aktivitas iqraA . dan al-qalam . Ayat pertama menjelaskan syarat serta tujuan yang harus dipenuhi dalam aktivitas literasi. Ayat kedua menegaskan pentingnya kesadaran manusia dalam berliterasi melalui pengkajian berbagai disiplin ilmu, termasuk kajian tentang embriologi. Ayat ketiga menggambarkan bentuk-bentuk aktivitas yang dapat meningkatkan semangat literasi beserta manfaat yang dihasilkannya. Ayat keempat menunjukkan tahap aktualisasi literasi dalam praktik nyata, sedangkan ayat kelima menegaskan cabangcabang utama ilmu pengetahuan yang dianugerahkan oleh Allah Swt. Shihab. Tafsir al-Mishbah, 401. Shihab. Tafsir al-Mishbah, 402. Siti Aisyah. AuLiterasi dalam Pendidikan Islam,Ay Journal of Islamic Education El Madani 3, no. : 48 Thoriq Aziz Jayana. Konsep Pendidikan Literasi Dalam Al-Quran: Telaah Atas Penafsiran M. Quraish Shihab Dan Hamka Terhadap Surat Al-AoAlaq: 1-5, 8, no. : 195. Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 Pendidikan Literasi Dalam Hadits Dalam perspektif Islam, literasi dan informasi memiliki kedudukan yang sangat penting, sebagaimana tercermin dalam ajaran Nabi Muhammad saw. menekankan urgensi ilmu pengetahuan dan pembelajaran sepanjang hayat. Hal ini juga ditegaskan melalui berbagai hadis yang mendorong aktivitas membaca dan menuntut ilmu, sekaligus menghadirkan perspektif edukatif yang sarat dengan nilainilai pembinaan. Sejak turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw. dengan perintah Auiqray . Islam telah memberikan penekanan yang kuat terhadap pentingnya literasi. Penekanan tersebut tidak terbatas pada aktivitas membaca teks semata, tetapi juga mencakup pengembangan kemampuan literasi secara luas yang berperan dalam membantu individu menghadapi serta mengatasi berbagai tantangan sosial dan ekonomi. Seorang hanya mengandalkan menghapal materi yang telah guru sampaikan, tetapi juga harus dicatat. Para ulama generasi awal dikenal sangat produktif dalam menulis karya-karya keilmuan, yang seluruhnya ditulis secara manual dengan tangan mereka sendiri. Melalui tradisi penulisan tersebut, warisan ilmu pengetahuan dapat terjaga dan terus lestari hingga masa kini. Semangat ini tidak terlepas dari dorongan dan motivasi Rasulullah A Ayang berwasiat agar ilmu tidak hilang dan terlupakan dengan cara mengikatnya melalui tulisan. Dalam hal ini. Rasulullah A Abersabda: AOO aeO aaOA e A eO aNA a A eOA a UA O EOEE O NEE O O AOOAUA UO O OAUAU O AIA ca A aO a aO a eOa eEA a A COeO eE a eE aI a eE aE aA: A OCOEA- AEa eO aNA a a a A a aeOO NEEA- AA a A aUacNA: aA eA aOOA Diriwayatkan dari Abu AAim, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Jurayj, dari AAbdul Malik bin AAbdullah bin Ab SufyAn, dari pamannya AAmr bin Ab SufyAn, bahwa ia mendengar AUmar bin al-KhaAb Ae semoga Allah meridhainya Ae berkata: AuIkatlah ilmu dengan menulisnyaAy14 Suatu ketika, seorang laki-laki mengadukan kepada Rasulullah A Atentang sifat pelupa yang dimilikinya. Rasulullah A Akemudian bersabda. AiGunakanlah tanganmu,An yang dimaksudkan agar ia menulis, sehingga apabila lupa, ia dapat kembali merujuk kepada apa yang telah dicatatnya. Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa Rasulullah A Amenganjurkan umatnya untuk mencatat dan menuliskan ilmu yang dipelajari sebagai upaya menjaga dan menguatkan ingatan. Terdapat sebuah ungkapan yang sangat masyhur dari Imam al-SyafiAi rahimahullah yang sering dikutip dalam konteks keilmuan, yaitu: AuIlmu adalah Tasmin Tangngareng Dan Mirawati Danial. Literasi Sebagai Dasar Kemelekan Informasi, t. , 15. Abdullah bin Abdurrahman ad-DArim. Sunan ad-DArim, tahqiq: Husain Salim Asad (Beirut: DAr Ibn azm, 1421 H/2000 M). Kitab al-Muqaddimah. Bab f KitAbat al-Ilm, hadis no. 400, jil. 1, hlm. Nurlia Putri Darani. AuKewajiban Menuntut Ilmu dalam Perspektif Hadis,Ay Jurnal Riset Agama 1, no. : 141 Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 buruan, dan tulisan adalah ikatannya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat, karena termasuk kebodohan jika engkau memburu kijang kemudian membiarkannya terlepas begitu Ay (DwAn al-SyAfiA). Ungkapan ini menegaskan pentingnya menulis sebagai sarana untuk menjaga dan mengokohkan ilmu pengetahuan. Dengan menuliskan ilmu, seorang penuntut ilmu memiliki kesempatan untuk mengulang dan menelaah kembali materi yang telah dipelajarinya. Sebagaimana diketahui, mengulang ilmu merupakan bagian dari zikir dan penguatan pemahaman. Oleh karena itu, menulis ilmu memberikan manfaat yang sangat besar, dan seorang penuntut ilmu yang berwibawa selayaknya membiasakan diri mengikat ilmu yang dipelajarinya melalui aktivitas menulis. Urgensi Membaca Dan Menulis Dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan Literasi membaca menempati posisi yang sangat fundamental karena menjadi pintu awal terbentuknya kesadaran epistemik seorang Muslim. Literasi tidak dimaksudkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen untuk menginternalisasi nilai-nilai ilahiah serta membangun perspektif yang menyatukan wahyu dengan realitas kehidupan. Imam al-SyafiAi, melalui karya-karyanya seperti al-RisAlah, menunjukkan bahwa keterlibatan dengan teks keagamaan tidak sekadar membaca secara literal, tetapi mencakup pemahaman menyeluruh terhadap kaidahkaidah, penangkapan maksud syariat, serta pengaitannya dengan maqAid al-syarAah. Pada titik inilah letak urgensi literasi dalam pendidikan Islam. Kelemahan dalam kemampuan membaca berimplikasi langsung pada ketidakmampuan memahami teks-teks suci secara benar, yang pada akhirnya dapat menimbulkan kekeliruan dalam pola pikir dan perilaku. Sebaliknya, kemampuan membaca yang memadai memungkinkan peserta didik mengakses khazanah keilmuan Islam, membangun argumentasi yang kokoh, serta mengembangkan daya kritis dalam merespons tantangan zaman. Ayat Al-QurAoan yang pertama kali diturunkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. adalah lima ayat dari Surah al-AAlaq yang mengandung perintah membaca . qraA). Ketika wahyu tersebut pertama kali disampaikan. Nabi Muhammad menjawab dengan tegas bahwa beliau tidak dapat membaca. Oleh karena itu. Nabi dikenal dengan sifat umm, yakni tidak pernah belajar membaca dan menulis Penetapan perintah membaca sebagai wahyu pertama menunjukkan bahwa AlQurAoan secara langsung menantang struktur budaya keilmuan masyarakat Arab Miftahul Hamdi dkk. AuTelaah Adab Penuntut Ilmu Dalam ilyatu Alib Al-AIlmi Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Pai,Ay Al-Fikr: Jurnal Pendidikan Islam 8, no. : 32 Moh Fajar Saputra dan Lukman S Thahir. Urgensi Literasi Membaca dalam Pendidikan Islam: Studi Epistemologis atas Pemikiran Imam SyafiAoi, 2025, 68. Bahrul Ulum. AuTradisi Menulis Ulama Indonesia (Abad Ke-19 SD. ,Ay WARAQAT : Jurnal IlmuIlmu Keislaman 4, no. : 85, https://doi. org/10. 51590/waraqat. Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 pada masa itu. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa aktivitas membaca mengandaikan keberadaan tradisi tulis-baca, sementara di kalangan bangsa Arab saat itu praktik menulis belum menjadi budaya yang berkembang secara luas. Dengan demikian, kalimat pembuka Al-QurAoan telah merefleksikan karakter dasarnya, yaitu upaya untuk merombak tatanan peradaban Arab lama dan menggantinya dengan peradaban baru yang dibangun di atas asas dan prinsip keilmuan yang berbeda. Tradisi kepenulisan Islam berkembang pesat sejak kodifikasi hadis di awal abad kedua Hijriah. Momentum ini mencapai puncaknya pada masa Dinasti Abbasiyah di bawah kepemimpinan Harun al-Rasyid dan al-MaAomun. Era keemasan tersebut melahirkan intelektual besar dengan karya-karya ilmiah monumental yang menjadi pilar peradaban Islam. Ayat ini menunjukkan keutamaan tulisan, karena tulisan memiliki manfaat yang sangat besar dengan tulisanlah ilmu dapat dicatat, hikmah dapat diwariskan, berita tentang masa lalu, keadaan, sejarah, dan ucapan-ucapan mereka dapat diketahui. Tanpa tulisan, urusan agama dan dunia tidak akan tegak. Melalui ayat ini. Allah Swt. menegaskan urgensi literasi tulis sebagai sarana pelestarian hikmah dan kemaslahatan manusia. Penulisan menjadi instrumen vital dalam mendistribusikan serta mewariskan ilmu pengetahuan lintas generasi. Tanpa tradisi tulis, penegakan hukum dan tatanan hidup yang benar akan sulit dipertahankan keberlangsungannya secara konsisten. Aktivitas penulisan juga memiliki peran penting dalam menjaga kisah-kisah umat terdahulu serta merekam sejarah mereka. Bahkan, kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah Swt. tidak akan dapat terpelihara dan bertahan hingga generasi berikutnya tanpa adanya tradisi penulisan. Pada hakikatnya, ilmu menulis memiliki manfaat yang sangat besar, karena tanpa keberadaannya, berbagai aspek kehidupan, baik yang berkaitan dengan urusan agama maupun keduniaan, tidak akan dapat diwariskan secara berkelanjutan dan kehilangan nilai kemanfaatannya dalam jangka panjang. "Berdasarkan Tafsir Al-Wasith karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili. Surah Al-AAlaq ayat 1-5 menegaskan urgensi membaca dan menulis sebagai pilar utama pendidikan Islam. Beliau menekankan bahwa kedua aktivitas tersebut bukan sekadar bahrul Ulum. AuTradisi Menulis Ulama Indonesia (Abad Ke-19 Sd. ,Ay 85. bahrul Ulum. AuTradisi Menulis Ulama Indonesia (Abad Ke-19 Sd. ,Ay WARAQAT : Jurnal IlmuIlmu Keislaman 4, no. : 85 Al-KhAzin. LubAb al-TaAowl f MaAoAn al-Tanzl, jilid 4 (Beirut: DAr al-Kutub al-AIlmiyyah, t. ), hlm. Al-Qurub. Al-JAmiAo li AukAm al-QurAoAn, jld. 3 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. TaAliq: Muhammad Ibrahim al-Hifnawi, hlm. Al-Qurub. Al-JAmiAo li AukAm al-QurAoAn, jld. 3 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2. TaAliq: Muhammad Ibrahim al-Hifnawi, hlm. Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 keterampilan teknis, melainkan instrumen spiritual dan intelektual untuk mengenal Allah serta sarana vital dalam menjaga, mengkodifikasi, dan menyebarkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan umat: Perintah membaca dan menulis sebagai wahyu pertama dalam Islam Membaca dan menulis sebagai kunci utama dalam menuntut ilmu Pentingnya memohon pertolongan Allah Swt. dalam aktivitas membaca dan Membaca dan menulis sebagai bentuk ibadah Manfaat ibadah membaca dan menulis yang kembali kepada pelakunya Kemampuan membaca sebagai karunia Allah Swt. Yang Maha Mulia Keterampilan membaca sebagai kemampuan yang dapat diusahakan dan Hakikat membaca yang efektif terwujud melalui pengulangan Kekuatan dan penegasan perintah membaca dalam Al-QurAoan Keterkaitan yang erat antara aktivitas membaca dan menulis Keutamaan aktivitas menulis dalam Islam Menulis dan pena sebagai nikmat dari Allah Swt. Menulis sebagai sarana komunikasi dan saling memahami antar manusia Peran menulis dalam menjaga ilmu, melestarikan budaya, dan mengabadikan Terpelihara dan tegaknya agama Islam melalui tradisi penulisan Membaca dan menulis sebagai sarana perbaikan kualitas kehidupan Tegaknya aturan dan hukum melalui aktivitas penulisan Menyiapkan masa depan melalui tulisan dan dokumentasi ilmu Pengajaran Allah Swt. kepada manusia sebagai bentuk karunia dan nikmat. Pendidikan Literasi Dapat Membentuk Budaya Baca. Minat Riset. Dan Penguasaan Ilmu Al-QurAoan secara tegas menempatkan perintah membaca sebagai perintah pertama yang ditujukan kepada umat manusia. Hal ini tampak dari wahyu awal yang diturunkan oleh Allah Swt. , yaitu perintah iqraA . Penetapan perintah tersebut mengandung makna bahwa membaca memiliki kedudukan yang sangat Membaca menjadi AijendelaAn pengetahuan, baik yang berkaitan dengan kehidupan dunia maupun bekal untuk kehidupan akhirat. Pada hakikatnya. Adila Farizqy Nur Rahimi. AuUrgensi Membaca Dan Menulis Dalam Pendidikan Islam Berdasarkan Surah Al-AAlaq Ayat 1-5 Menurut Perspektif Tafsir Al-Wasith Karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili,Ay Tarbiyah Islamiyah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam 12, no. : 97Ae110 Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 membaca merupakan aktivitas mentransfer dan mengolah informasi yang memungkinkan manusia memperoleh pemahaman serta wawasan yang lebih luas. Kemampuan literasi merupakan fondasi utama bagi keberhasilan pembelajaran pada seluruh mata pelajaran. Oleh karena itu, pengembangan literasi perlu menjadi kesadaran bersama dalam dunia pendidikan, khususnya bagi para guru. Guru dituntut untuk mengintegrasikan strategi literasi dalam setiap proses pembelajaran. Strategi literasi tersebut mencakup dua aspek utama, yaitu keterampilan berbahasa serta kemampuan berpikir. Literasi membantu kita memahami apa yang terjadi di sekitar kita, mendengarkan dengan saksama, berbicara dengan bijak, dan menyampaikan pikiran kita dengan jelas dan penuh tanggung jawab. Dalam Islam, kemampuan seperti ini sangat dijunjung tinggi, karena Allah SWT sendiri memerintahkan kita untuk membaca dan belajar dalam wahyu pertama-Nya, seperti yang tertulis dalam Surat Al-AAlaq ayat 1 sampai 5. Ayat ini mengajarkan bahwa ilmu adalah cahaya yang Allah berikan kepada manusia agar kita bisa menjalani hidup dengan penuh Kemampuan literasi membuat kita tidak hanya pandai berkata-kata, tetapi juga peka terhadap kebenaran dan kebaikan. Kita belajar untuk tidak terburu-buru menilai, tetapi terlebih dahulu mendengarkan, merenung, dan bertanya dalam hati: apakah informasi ini benar? apakah ini membawa manfaat?. Enam keterampilan literasi dasar yang dapat diterapkan dalam membangun budaya literasi serta meningkatkan kualitas pendidikan meliputi: Literasi Baca Tulis Literasi baca-tulis merupakan integrasi kecakapan membaca, menulis, serta kemampuan mengolah dan memahami informasi secara kritis. Kompetensi ini menjadi instrumen penting bagi individu untuk mengembangkan potensi diri dan berpartisipasi aktif dalam lingkungan sosial melalui penggunaan teks yang efektif. Sebagai fondasi utama, literasi baca-tulis menjadi pilar strategis yang mendasari penguasaan berbagai jenis literasi lainnya. Literasi Numerasi Literasi numerasi adalah kecakapan menggunakan angka dan simbol matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan ini juga melibatkan analisis data dalam bentuk grafik, tabel, atau bagan, yang hasilnya digunakan untuk memprediksi, menarik kesimpulan, serta mengambil keputusan secara tepat. Joko Sugeng Prianto. Budaya Baca untuk Kemajuan suatu Bangsa, 2020, 15. febi Aisqil Jamilah. Literasi Pedoman Dalam Pendidikan Islam, t. , 873. bagus Nurul Iman. Budaya Literasi Dalam Dunia Pendidikan, 2022, 26. Iman. Budaya Literasi Dalam Dunia Pendidikan, 27. Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 Literasi Sains Literasi sains merupakan kompetensi ilmiah untuk mengidentifikasi masalah, menjelaskan fenomena secara objektif, dan menarik kesimpulan berbasis fakta. Kecakapan ini mencakup pemahaman mendalam atas karakteristik ilmu pengetahuan serta dampak teknologi terhadap lingkungan dan budaya. Lebih jauh, literasi sains mendorong keterlibatan aktif dan kepedulian individu terhadap berbagai isu berbasis sains dalam kehidupan bermasyarakat. Literasi Digital Literasi digital adalah kecakapan menggunakan media digital secara bijak dan bertanggung jawab untuk mengakses informasi, memecahkan masalah, serta berkomunikasi dalam konteks pembelajaran. Penguasaan kompetensi ini sangat krusial agar peserta didik mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Literasi Finansial Literasi finansial adalah kecakapan dalam memahami konsep dan risiko keuangan untuk mengambil keputusan ekonomi yang efektif. Kompetensi ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan finansial personal maupun sosial, serta mendorong individu untuk berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam sistem Literasi Budaya dan Kewargaan Literasi budaya dan kewargaan adalah elemen dasar yang esensial dalam ekosistem keluarga, sekolah, dan masyarakat. Literasi budaya berfokus pada apresiasi terhadap budaya nasional sebagai identitas bangsa, sedangkan literasi kewargaan menekankan pemahaman atas hak dan kewajiban sipil. Secara kolektif, keduanya membentuk kecakapan individu untuk berinteraksi dan berperilaku secara tepat sebagai bagian dari komunitas bangsa. Menurut Yunus Abidin tujuan penting membudayakan literasi Islam di kalangan generasi muda terutama pada anak dalam proses pendidikan dasar, yaitu: Memiliki kepercayaan diri, kelancaran, serta pemahaman yang baik dalam membaca dan menulis. Menunjukkan ketertarikan terhadap buku-buku keagamaan, menikmati aktivitas membaca, serta mampu mengevaluasi dan menilai bacaan secara Mengetahui dan memahami berbagai genre sastra, termasuk fiksi dan puisi. Iman. Budaya Literasi Dalam Dunia Pendidikan, 28. Iman. Budaya Literasi Dalam Dunia Pendidikan, 29. Iman. Budaya Literasi Dalam Dunia Pendidikan, 30. Iman. Budaya Literasi Dalam Dunia Pendidikan, 32. Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 Memahami serta terbiasa dengan struktur dasar teks naratif. Mampu memahami dan menggunakan beragam jenis teks nonfiksi. Dapat memanfaatkan berbagai strategi dan petunjuk membaca untuk memantau serta memperbaiki pemahaman membaca secara mandiri. Mampu merencanakan, menyusun draf, merevisi, dan menyunting tulisan secara mandiri. Memiliki minat terhadap kata dan maknanya serta aktif mengembangkan perbendaharaan kosakata. Memahami sistem bunyi dan ejaan serta mampu menerapkannya untuk membaca dan mengeja secara tepat. Terampil dan terbiasa dalam menulis tangan dengan lancar. Beberapa uraian diatas dapat dipahami bahwa Pendidikan literasi memiliki peran penting dalam membentuk budaya baca, minat riset, dan penguasaan ilmu, sebagaimana tercermin dalam perintah pertama Al-QurAoan, iqraA, yang menegaskan bahwa membaca adalah pintu utama menuju pengetahuan. Dengan kemampuan literasi yang baik meliputi literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan. Peserta didik tidak hanya mampu memahami informasi, tetapi juga menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakannya secara bijaksana dalam kehidupan. Literasi menjadikan seseorang mampu berpikir kritis, komunikatif, bertanggung jawab, serta peka terhadap kebenaran dan manfaat Dalam konteks pendidikan Islam, literasi juga menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, kemampuan menulis dan membaca yang efektif, serta keterampilan memahami berbagai jenis teks. Dengan demikian, pendidikan literasi tidak hanya meningkatkan mutu pembelajaran, tetapi juga menanamkan karakter pembelajar sepanjang hayat yang cinta ilmu, terbiasa membaca, dan gemar melakukan riset. Peran Orang Tua dalam Membentuk Kebiasaan Membaca Anak Perkembangan minat baca anak tidak dapat dilepaskan dari peran lingkungan keluarga, khususnya keterlibatan orang tua dalam proses literasi sejak usia dini. Orang tua bukan hanya berfungsi sebagai pendamping, tetapi juga sebagai fasilitator yang membentuk suasana belajar yang mendukung, baik secara kognitif maupun Oleh karena itu, pembahasan berikut mengkaji peran orang tua dalam menumbuhkan kebiasaan membaca anak, teknik membaca yang efektif, faktor emosional dalam interaksi orang tuaAeanak, hambatan yang dihadapi, serta implikasi praktis bagi pengembangan program literasi anak usia dini. Peran Orang Tua sebagai Fasilitator Literasi Orang tua memiliki peran penting sebagai fasilitator dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kegiatan membaca. Orang tua yang secara konsisten meluangkan waktu untuk membaca bersama anak melaporkan adanya peningkatan Yeri Utami. Pendidikan Literasi Islam Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Anak, 20 . : 130. Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 antusiasme anak terhadap buku dan cerita. Temuan ini selaras dengan teori Vygotsky yang menekankan bahwa interaksi sosial dengan orang dewasa berfungsi sebagai scaffolding dalam membantu anak mengembangkan keterampilan serta minat baru, termasuk ketertarikan terhadap aktivitas membaca. Teknik Membaca dalam Meningkatkan Minat Anak Berbagai strategi membaca yang diterapkan oleh orang tua, seperti penggunaan intonasi suara yang bervariasi, dialog interaktif, serta mengaitkan isi cerita dengan pengalaman sehari-hari anak, terbukti efektif dalam menarik perhatian dan meningkatkan minat baca. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menegaskan pentingnya keterlibatan aktif orang tua dalam mendukung partisipasi anak selama kegiatan membaca berlangsung. Faktor Emosional dalam Hubungan Orang Tua dan Anak Interaksi emosional yang positif selama sesi membaca juga berkontribusi signifikan terhadap meningkatnya minat baca anak. Orang tua yang menunjukkan sikap penuh kasih sayang, kesabaran, dan kehangatan cenderung memiliki anak yang merasa lebih nyaman serta antusias dalam membaca. Hal ini menguatkan pandangan bahwa aspek afektif memegang peranan penting dalam pembelajaran anak usia dini, di mana hubungan yang suportif dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan minat belajar anak. Hambatan yang Dihadapi Orang Tua Meskipun manfaat membaca bersama anak cukup signifikan, penelitian ini juga menemukan sejumlah kendala, seperti keterbatasan waktu dan minimnya variasi bahan bacaan di lingkungan rumah. Orang tua yang bekerja penuh waktu umumnya memiliki intensitas membaca bersama anak yang lebih rendah, sehingga berdampak pada tingkat minat baca anak yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan anak yang memperoleh pendampingan membaca secara rutin. Implikasi Praktis Temuan penelitian ini menunjukkan perlunya program PAUD dan komunitas literasi untuk melibatkan orang tua secara aktif melalui pelatihan serta penyediaan bahan bacaan yang beragam. Dengan membekali orang tua pengetahuan mengenai teknik membaca yang efektif dan materi yang menarik, kegiatan membaca dapat lebih mudah diintegrasikan ke dalam rutinitas sehari-hari keluarga. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dianalisis bahwa peran orang tua merupakan faktor kunci dalam membentuk kebiasaan membaca anak sejak usia dini, baik melalui dukungan lingkungan belajar, strategi membaca yang tepat, maupun kualitas hubungan emosional yang terbangun. Keterlibatan aktif orang tua berfungsi sebagai scaffolding yang tidak hanya meningkatkan kemampuan kognitif anak, tetapi Yuli Kanti dkk. PERAN ORANG TUA TERHADAP MINAT BACA USIA DINI. Jurnal Pendidikan Inklusif 8, no. : 59. Kanti dkk. PERAN ORANG TUA TERHADAP MINAT BACA USIA DINI, 59. Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 juga menumbuhkan rasa nyaman, antusiasme, dan motivasi intrinsik terhadap aktivitas membaca. Namun demikian, keterbatasan waktu dan sumber bacaan menjadi tantangan nyata yang dapat menghambat konsistensi pendampingan literasi di rumah. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara keluarga, lembaga PAUD, dan komunitas literasi untuk memperkuat kapasitas orang tua sebagai fasilitator literasi, sehingga kebiasaan membaca anak dapat berkembang secara berkelanjutan dan berdampak positif pada proses belajar jangka panjang. KESIMPULAN Pendidikan literasi dalam perspektif Al-QurAoan dan Hadis menempati posisi yang sangat fundamental sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Perintah iqraA dalam wahyu pertama menegaskan bahwa aktivitas membaca dan menulis bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan sarana memahami wahyu, menghimpun ilmu, serta membangun kesadaran intelektual dan spiritual. Al-QurAoan dan Hadis secara konsisten mendorong umat Islam untuk berliterasi sebagai bentuk ibadah dan upaya pencerahan yang mengantarkan manusia dari kebodohan menuju kemajuan peradaban. Membaca dan menulis memiliki urgensi yang sangat besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam pendidikan Islam. Keduanya menjadi kunci utama dalam memahami teks-teks keagamaan secara mendalam, mengakses dan melestarikan khazanah keilmuan Islam, serta membentuk pola pikir kritis dan analitis. Tradisi literasi yang kuat sejak masa awal Islam menunjukkan bahwa kemajuan peradaban dan keberlanjutan ilmu pengetahuan sangat bergantung pada budaya baca tulis yang terus dijaga dan dikembangkan. Pendidikan literasi juga berperan penting dalam membentuk budaya baca, minat riset, serta penguasaan ilmu pengetahuan pada peserta didik. Melalui literasi, peserta didik tidak hanya mampu memahami informasi, tetapi juga mengolah, mengevaluasi, dan mengaplikasikannya secara bijaksana dalam kehidupan. Dalam konteks pendidikan Islam, literasi menjadi sarana strategis untuk menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, memperkuat karakter pembelajar sepanjang hayat, serta mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan Selain peran lembaga pendidikan, keterlibatan orang tua memiliki kontribusi yang sangat signifikan dalam membentuk kebiasaan membaca anak sejak usia dini. Orang tua yang berperan sebagai fasilitator literasi, menerapkan teknik membaca yang efektif, serta membangun interaksi emosional yang positif mampu meningkatkan minat baca dan kenyamanan anak dalam belajar. Meskipun dihadapkan pada kendala seperti keterbatasan waktu dan bahan bacaan, sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, dan komunitas literasi menjadi kunci dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan guna melahirkan generasi yang cinta ilmu, kritis, dan berakhlak. Muhammad Nuzhan. Muhammad Noor Alamsyah dan Masrudin / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 115 - 130 REFERENSI