Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 1 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Poliandri Sebuah Refleksi Ajaran Bhakti dan oraddhA dalam Kakawin KreNA PancawiwAha Ni Made Wikandina Putri*. I Ketut Sudewa. I Nyoman Udayana Universitas Udayana. Bali. Indonesia *wikandina2000@gmail. Abstract Kakawin KreNA PancawiwAha tells the story of Dewi Kresna's marriage to Panca Pandawa, which is interesting to study because the concept of marriage in this text has The marriage that is supposed to be between a man and a woman is told differently in this text, where a woman marries five men at the same time, known as The polyandrous marriage narrated in the Kakawin KreNA PancawiwAha text is actually not merely the main purpose, but a symbolic one that has meaning in it. The purpose of this paper is to reveal the symbolic meanings of polyandry that have relevance to Hindu religious teachings. This research is an analytical descriptive research with a textual approach that uses the text of Kakawin KreNA PancawiwAha as the main data The method used in the data collection stage is literature study with translation, listening, and note-taking techniques. In the analysis stage, the analytical descriptive method was used, assisted by interpretative techniques based on the working principles of semiotic theory. The result found is that the phenomenon of polyandry in the Kakawin KreNA PancawiwAha text is a symbol that contains religious philosophical values for Hindus to reflect the teachings of Bhakti . and oraddhA . The implementation of the teachings of Bhakti . is realized by the attitude of Satya Laksana . oyal to the righteous action. to Guru Rupaka . as a reflection of the teachings of Guru Bhakti. Symbolic polyandry as a concept of oraddhA, is realized by the reflection of the teachings of Karmaphala Sraddha . elief in the existence of karm. which has a reciprocal relationship with Punarbhawa Sraddha . elief in the existence of repeated birth. The mythology found states that polyandry is an existence of life that has implications for the improvement of Bhakti and oraddhA. Keywords: Polyandry. Kakawin. Bhakti and oraddhA. Semiotic Study Abstrak Kakawin KreNA PancawiwAha mengisahkan perkawinan Dewi Kresna dengan Panca Pandawa yang menarik untuk diteliti karena konsep perkawinan dalam teks ini mengalami sebuah pergeseran. Pasalnya perkawinan yang semestinya dilakukan oleh sepasang laki-laki dan perempuan, justru dalam teks ini dikisahkan berbeda yakni seorang perempuan menikahi lima laki-laki secara bersamaan yang dikenal dengan istilah Perkawinan poliandri yang dinarasikan dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha sejatinya bukan semata-mata sebagai tujuan utama, tetapi merupakan sebuah simbolis yang memiliki makna di dalamnya. Adapun tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengungkap makna-makna simbolik poliandri yang memiliki relevansi dengan ajaran agama Hindu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan tekstual yang menggunakan teks Kakawin KreNA PancawiwAha sebagai sumber data utama. Metode yang digunakan pada tahap pengumpulan data adalah studi pustaka dengan teknik terjemahan, simak, dan catat. Pada tahap analisis menggunakan metode deksriptif analitik dibantu dengan teknik interpretatif yang dilandasi dengan prinsip kerja teori semiotika. Hasil yang ditemukan adalah fenomena poliandri dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha merupakan sebuah simbol yang mengandung nilai https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH filosofis religius bagi umat Hindu untuk merefleksikan ajaran Bhakti . dan oraddhA . Implementasi ajaran Bhakti . diwujudkan oleh sikap Satya Laksana . etia pada tindakan kebenara. kepada Guru Rupaka . rang tu. sebagai cerminan ajaran Guru Bhakti. Simbolis poliandri sebagai konsep oraddhA, diwujudkan dengan refleksi ajaran Karmaphala Sraddha . eyakinan akan adanya karm. yang memiliki hubungan resiprokal dengan Punarbhawa Sraddha . eyakinan akan adanya kelahiran berulan. Mitologi yang ditemukan menyatakan bahwa poliandri adalah sebuah eksistensi kehidupan yang berimplikasi pada peningkatan Bhakti dan oraddhA. Kata Kunci: Poliandri. Kakawin. Bhakti dan oraddhA. Kajian Semiotika Pendahuluan Kakawin sebagai karya sastra klasik berbahasa jawa kuno memiliki nilai yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Banyak tema yang dapat dituangkan dalam sebuah karya sastra kakawin salah satunya ialah tema tentang perkawinan . Terdapat beberapa kakawin yang menggunakan kata wiwaha sebagai judulnya salah satunya adalah Kakawin KreNA PancawiwAha. Kakawin KreNA PancawiwAha merupakan satu dari sekian banyak karya sastra kakawin yang menjadi koleksi Perpustakaan Pusat Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Hingga kini, belum dapat diketahui dengan pasti siapa pencipta Kakawin KreNA PancawiwAha. (Creese, 2. dalam bukunya yang berjudul The Women of The Kakawin World menyatakan bahwa Kakawin KreNA PancawiwAha merupakan salah satu karya sastra kakawin yang berkembang di Bali pada abad ke-19 dan tercipta di bawah pemerintahan Dewa Agung Istri Kanya. Kakawin ini diklasifikasikan ke dalam kakawin minor dikarenakan isi teksnya merupakan turunan dari kakawin mayor. Dilihat dari judulnya. Kakawin KreNA PancawiwAha terdiri dari tiga kata yaitu KreNA. Panca, dan WiwAha. Kata KreNA berarti berarti AohitamAo. Aobiru gelapAo. AogelapAo. Aoparo gelap bulanAo (Zoetmulder, 1. Kata panca berarti AolimaAo (Zoetmulder, 1. , dan wiwAha berarti AoperkawinanAo (Zoetmulder, 1. Oleh karena itu, secara harafiah kakawin KreNA PancawiwAha berarti lima perkawinan yang gelap. Namun, kata Kresna disini bukan semata-mata berarti hitam atau gelap, karena kresna yang dimaksudkan disini adalah merujuk pada salah satu tokoh yang bernama Dewi Kresna. Dewi Kresna merupakan sebutan lain dari putri raja Drupada yang lebih dikenal dengan nama Dewi Drupadi. PancawiwAha dapat berarti perkawinan sebanyak lima kali yang dilakukan Dewi Kresna bersama dengan kelima suaminya yaitu Panca Pandawa. Berdasarkan hal tersebut, dapat dipahami bahwa Kakawin KreNA PancawiwAha mengisahkan perkawinan Dewi Kresna dengan Panca Pandawa. Perkawinan yang dilakukan oleh tokoh bernama Dewi Kresna dengan Panca Pandawa dipandang menarik untuk diteliti karena konsep perkawinan dalam teks ini mengalami sebuah pergeseran. Pasalnya perkawinan yang semestinya dilakukan oleh sepasang laki-laki dan perempuan, justru dalam teks ini dikisahkan berbeda yakni seorang perempuan menikahi lima laki-laki secara bersamaan. Fenomena ini dikenal dengan istilah poliandri. Poliandri berasal dari Bahasa Yunani dari kata Polus yang berarti banyak. Aner yang berarti negatif dan Andros yang bermakna laki-laki (Amin dalam Aziz, 2. Poliandri secara istilah memiliki makna perempuan yang memiliki suami lebih dari satu. Poliandri merupakan lawan dari poligami, dalam artian seorang perempuan boleh memiliki suami lebih dari satu (Wahyuni, 2. Agama Hindu memiliki aturan tegas terkait dengan perkawinan yang dianggap sah dan boleh dilakukan sesuai dengan ajaran Weda. Sebagaimana disebutkan dalam Rgveda: X. AuIhaiva stam mA vi yaustam. VisvAm Ayur vyasnutam. Krindantau https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH putrair naptrbhih. ModamAnau sve grhe. Ay Yang artinya Aowahai pasangan suami-isteri, semoga kalian tetap bersatu dan tidak pernah terpisahkan, semoga kalian mencapai hidup penuh kebahagiaan, tinggal di rumah yang penuh kegembiraan bersama seluruh keturunanmuAo. Sloka tersebut berisi permohonan kepada Tuhan agar pasangan suami isteri itu tetap berdua selamanya dan hidup bahagia bersama anak dan cucunya dalam sebuah rumah. Begitu juga disebutkan dalam pasal 1 Undang undang Nomor 1 tahun 1974 bahwa perkawinan adalah suatu ikatan lahir dan bathin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami dan istri dalam membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa (Gata, 2. Mengacu pada pandangan hukum dan agama, maka dapat dipahami bahwa idealnya dalam perkawinan itu tidak ada poligami ataupun Perkawinan poliandri yang dinarasikan dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha sejatinya bukan semata-mata sebagai tujuan utama dan ajakan untuk berpoliandri, tetapi poliandri disini merupakan sebuah simbolis yang memiliki makna Adapun tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengungkap makna-makna simbolik poliandri yang memiliki relevansi dengan ajaran agama Hindu. Hal tersebut dapat dilihat dari dialog antar tokoh yang menyiratkan ajaran-ajaran spiritual mengenai Bhakti . dan oraddhA . Poliandri dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha terjadi karena salah ucap yang dilakukan oleh Dewi Kunti. Ibu dari Panca Pandawa yang tidak sengaja meminta Arjuna untuk membagi-bagi hasil perolehannya saat memenangkan sayembara. Kunti tidak mengetahui bahwa yang dibawa Arjuna saat itu adalah seorang gadis yang sangat cantik akan tetapi. Kunti tidak ingin mengulang perkataan yang sudah terlanjur Nilai Bhakti . tercermin dari sikap Satya Laksana . etia pada tindakan kebenara. yang ditunjukkan Yudistira dengan tidak ingin Ibunya Kunti mengulang ucapan yang sudah terlanjur dikatakannya. Di sisi lain, perkawinan poliandri dalam teks ini menyiratkan nilai filosofis tentang ajaran oraddhA . eyakinan dan kepercayaa. bagi umat Hindu. Nilai oraddhA yang terkandung di dalamnya adalah berkaitan dengan Karmaphala oraddhA . eyakinan akan adanya hukum karm. dan Punarbhawa oraddhA . eyakinan akan adanya kelahiran yang berulan. Keyakinan akan adanya hukum karma (Karmaphala oraddhA) dilihat dari tindakan seorang tokoh brahmani yang berdoa menginginkan suami sempurna sesuai dengan lima kriteria yang Sedangkan Punarbhawa oraddhA . eyakinan akan adanya kelahiran yang berulan. tercermin dari narasi yang dikisahkan oleh tokoh Bhagawan Byasa mengenai reinkarnasi Dewi Kresna dan Panca Pandawa. Nilai Bhakti dan oraddhA dalam teks ini direpresentasikan melalui interaksi antar tokoh beserta dengan hubungannya dengan para dewa dalam berbagai manifestasiNya. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian terhadap fenomena poliandri penting untuk dikaji dan disebarluaskan di kalangan masyarakat luas, guna meluruskan pandangan masyarakat saat ini terhadap fenomena poliandri dalam teks-teks tradisional seperti Mahabarata dan juga Kakawin KreNA PancawiwAha. Penelitian ini penting dilakukan karena menguraikan makna simbolik yang mengandung nilai-nilai filosofis religius yang penting untuk dijadikan refleksi dalam kehidupan utamanya bagi masyarakat Hindu. Dalam konteks budaya yang lebih luas, penelitian mengenai poliandri dilakukan oleh Aziz . yang menghasilkan sebuah pandangan dalam hukum Islam dan hukum negara tentang larangan untuk berpoliandri karena dapat mendatangkan masalah secara nilai moral, kesehatan, dan dampak psikologis bagi wanita poliandri, suami, anak hingga ke masyarakat. Tulisan ini juga menyampaikan bahwa wayang dapat dijadikan sebagai media dakwah dan pendidikan kepada masyarakat seperti mengisahkan Drupadi dengan memasukkan nilai bahasa serta dampak seseorang yang berpoliandri. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Agustina . juga pernah membahas faktor-faktor terjadinya poliandri berbasis studi kasus, yang disebabkan oleh beberapa aspek salah satunya adalah kurangnya iman dan lemahnya pemahaman agama sebagai kontrol sosial. Martha . juga menjelaskan tentang posisi wanita pada hukum Hindu khususnya dalam sistem Vivaha Samskara. Penelitian ini membahas perkawinan poliandri yang dilakukan Drupadi bukan sebagai panutan, tetapi sebuah problematika yang sifanya kasuistis . ertentu saj. , yang tidak perlu dicontoh. Justru perkawinan poliandri yang dilakukan Drupadi menjadi contoh yang sangat tidak patut dicontoh. Perkawinan poliandri yang terjadi pada jaman Dwaparayuga itu adalah sebuah contoh untuk tidak diikuti. Berdasarkan uraian di atas, analisis mengenai poliandri penting dikaji dari perspektif semiotika untuk menggali lapisan makna yang terkandung dalam narasi dilihat dari makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, penelitian ini akan menitikberatkan permasalahan pada makna poliandri beserta mitologi yang terkandung di dalamnya beserta implikasi filosofis dalam konteks modern. Metode Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik yang menitikberatkan pada deskripsi dan interpretasi dengan menggunakan pendekatan tekstual. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif berupa bait-bait kakawin yang bersumber dari teks alih aksara lontar Kakawin KreNA PancawiwAha. Teori semiotika model Roland Barthes akan digunakan untuk membedah makna denotasi, konotasi, mitos dan ideologi yang terkandung dalam Kakawin KreNA PancawiwAha. Penelitian ini melalui tiga tahapan metode yakni tahap pengumpulan data, analisis data, serta penyajian hasil analisis data. Pada tahap pengumpulan data digunakan metode studi pustaka . ibrary researc. dibantu dengan teknik terjemahan, simak, dan catat. Data berupa bait kakawin terlebih dahulu akan diterjemahkan, kemudian disimak melalui pembacaan secara berulang terhadap teks dan memahami isinya secara keseluruhan, lalu data yang relevan dengan permasalahan penelitian akan dikumpulkan dan dicatat menggunakan teknik Data yang sudah dikumpulkan selanjutnya akan diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti. Setelah diklasifikasi, maka dilanjutkan dengan tahap Metode yang digunakan dalam tahap analisis data adalah metode deskriptif analitik dibantu dengan teknik interpretatif yakni penafsiran sesuai dengan teori yang dirujuk secara logis dan bernalar. Data yang sudah diolah dan dianalisis akan disajikan secara deskriptif menggunakan bahasa Indonesia ragam ilmiah. Hasil dan Pembahasan Fenomena perkawinan poliandri mengundang berbagai interpretasi dan spekulasi yang menyoroti Dewi Kresna dan Panca Pandawa sebagai karakter utama dalam teks ini. Perkawinan poliandri dalam teks ini bukan semata-mata sebagai tujuan utama, tetapi hanyalah sebuah simbol atau sarana yang digunakan pengarang untuk menyampaikan maksud lain dibaliknya. Analisis semiotika dalam penelitian ini bekerja dengan menguraikan tanda berupa simbol-simbol penting dalam fenomena poliandri yang dapat berkaitan dengan konsep kesetiaan (Saty. , pengabdian (Bhakt. serta keyakinan dan kepercayaan . raddhA) dalam agama Hindu. Ketiga konsep tersebut dikemas dalam kesatuan Bhakti dan oraddhA yang dapat dilihat dari tingkah laku dan interaksi antar tokoh dalam kakawin. Gambaran Umum Kakawin KreNA PancawiwAha Teks Kakawin KreNA PancawiwAha menceritakan tentang perjalanan Panca Pandawa beserta dengan kisah perkawinannya dengan Dewi Kresna. Dewi Kresna merupakan sebutan lain dari tokoh Dewi Drupadi yang tiada lain adalah putri Raja https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Drupada. Adapun alasan dinamai Dewi Kresna karena terlahir dari hyma AoapiAo sehingga memiliki kulit yang gelap serta wajah yang sangat cantik yang diibaratkan seperti emas dewata hitam rupanya. Oleh karena itu, juga dinamai Dewi Kresna. Tokoh Panca Pandawa dan Dewi Kresna dalam Kakawin ini merupakan karakter utama yang memiliki hubungan keterkaitan antara satu sama lain sehingga kisah perkawinannya menjadi tema sentral yang banyak disoroti dalam kakawin ini. Kisah tersebut adalah tentang perkawinan Dewi Kresna dan Panca Pandawa yang sangat fenomenal dikenal dengan perkawinan poliandri yaitu perkawinan yang dilakukan oleh seorang perempuan bersama dengan lebih dari satu laki-laki. Kakawin ini diawali oleh kisah Panca Pandawa dan Korawa yang masih kecil sedang bermain bersama. Pihak Korawa selalu berada pada pihak yang kalah. Sejak saat itulah, muncul sifat-sifat jahat dari Duryodhana yang selalu ingin mencelakai Pandawa. Melihat kehebatan Panca Pandawa, membuat Sang Duryodhana semakin gelisah. Terlebih lagi, sempat terdengar pembicaraan yang mengatakan bahwa wajarlah jika Panca Pandawa yang akan menjadi raja Hastina menggantikan almarhum Prabu Pandu. Mendengar hal tersebut. Duryodhana lalu meminta ayahnya agar memerintahkan Panca Pandawa berkelana ke hutan sambil bersedekah kepada para brahmana. Berangkatlah Pandawa bersama ibunya Kunti mengikuti perintah Sang Destarastra pergi menelusuri Beberapa hari kemudian datanglah Bhagawan Byasa, memberi tahu bahwa di Kerajaan Pancala akan diadakan sayembara. Sayembara itu hendaknya diikuti oleh Panca Pandawa, sebab Dewi Kresna yang diperebutkan merupakan jodoh panca pandawa. Oleh karena itu. Pandawa pun melanjutkan perjalanannya dan tibalah di Selatan Sungai Gangga pada sebuah telaga yang airnya sangat jernih digunakannya untuk mandi dan berganti pakaian. Mereka lalu menyamar sebagai pendeta supaya tidak ada yang mengenal mereka. Setibanya di Pancala, sudah ramai kedatangan para peserta termasuk Sang Duryodhana. Keikutsertaan Pandawa diketahui Dewi Kresna dan dilaporkan pada Baladewa. Betapa senangnya mereka karena Pandawa masih hidup. Selanjutnya. Prabu Drupada menjelaskan tentang aturan sayembara. Setiap peserta mendapat jatah lima buah anak panah dan sasarannya ada di puncak pohon. Para peserta bergantian mencoba melakukannya namun tidak seorangpun berhasil. Tibalah giliran Sang Arjuna berdiri, meski semua orang mengejeknya, namun ternyata Arjuna mampu melepaskan anak panah tepat mengenai sasaran. Seketika, bunga-bunga berjatuhan dari langit disertai gemuruhnya gamelan. Dewi Kresna lalu dijemput oleh Sang Arjuna, sementara Prabu Drupada dikeroyok oleh para raja yang gagal namun dapat diselamatkan oleh Arjuna dan Bhima. Seusai sayembara. Dewi Kresna lalu dibawa Arjuna dan Bhima untuk menghadap Dewi Kunti. Setibanya mereka di rumah, dilihatnya Dewi Kunti sedang tidur menutup Dengan bahagia. Arjuna pun lalu berkata pada Dewi Kunti atas keberhasilan cita-citanya. Mendengar perkataan Arjuna. Dewi Kunti pun senang hatinya lalu berkata pada Arjuna untuk membagi-bagi perolehan yang didapatnya bersama dengan keempat saudaranya yang lain. Betapa terkejutnya Dewi Kunti setelah mengetahui yang dibawa putranya ialah gadis yang sangat cantik. Namun. Dewi Kunti tidak mau mengubah perkataannya karena takut akan akibatnya. Kemudian Sang Yudistira mengingatkan tentang wejangan Bhagawan Byasa yang mengatakan bahwa Dewi Kresna pantas menjadi istri dari Panca Pandawa. Prabhu Pancala lalu mengundang Pandawa untuk datang ke Pancala. Awalnya. Raja Drupada sangat senang ketika mengetahui bahwa menantunya adalah Panca Pandawa. Akan tetapi, setelah mendengar pernyataan Yudistira bahwa Dewi Kresna akan dibagi-bagi bersama kelima saudara itu, maka Raja Drupada sangat marah sehingga https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sempat terjadi perdebatan dengan Yudistira. Setelah itu. Bhagawan Byasa datang memberikan pemahaman tentang cerita putrinya dan Panca Pandawa di masa lalu. Mendengar nasihat Bhagawan Byasa. Raja Drupada akhirnya luluh dan menyetujui perkawinan Dewi Kresna dengan Panca Pandawa. Pada hari baik yang telah ditentukan, mereka melangsungkan upacara perkawinan. Secara bergiliran Panca Pandawa mengadakan pertemuan dengan Dewi Kresna menikmati malam sebagai suami istri. Pertemuan tersebut dimulai dari Yudistira. Bhima. Arjuna, hingga Nakula dan Sahadewa. Meski memiliki lima suami. Dewi Kresna selalu berprilaku adil kepada kelima suaminya dan tidak pernah bosan menghadap mertuanya Kunti. Poliandri sebagai Implementasi Konsep Bhakti Perkawinan poliandri yang dinarasikan dalam teks kakawin ini, merupakan sebuah simbol yang dapat dianalisis menggunakan teori semiotika untuk mengetahui makna dan nilai yang terkandung di dalamnya. Interpretasi terkait fenomena poliandri sebenarnya dapat berbeda tergantung pada perspektif pembaca. Seperti misalnya, dalam perspektif feminisme poliandri mungkin dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk perlawanan kepada kaum patriarki yang mendominasi. Ketika kaum pria beramai-ramai melakukan poligami secara terang-terangan, maka sebaliknya perempuan pun juga dapat melakukan poliandri. Adapun bentuk interpretasi makna poliandri dalam sub bab ini adalah terkait dengan konsep pengabdian . yang diwujudkan oleh sikap satya . dalam agama Hindu. Satya merupakan suatu kebajikan yang berlandaskan pada kesetiaan dan kebenaran yang menghantarkan kepada kedamaian dan kebahagiaan. Terdapat lima jenis konsep kesetiaan . ini diantaranya: Satya Wacana . erpegang teguh pada kejujuran atau perkataan yang akan membuat seseorang berada dalam keterpurukan maupun kebahagiaa. Satya Mitra . etia dan tidak menghianati tema. Satya Laksana . erpegang teguh pada dasar kebenaran untuk melakukan suatu tindaka. Satya Hredaya . apat mengikuti kata hati atau pikiran yang berdasarkan pada dharm. , dan Satya Semaya . etia dan dapat menepati janji yang telah dibua. (Natih, 2. Poliandri dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha merupakan simbolis dari sikap satya utamanya satya laksana . etia pada tindakan kebenara. yang ditunjukkan oleh Yudistira sebagai perwujudan guru bhakti. Hal tersebut dapat dilihat pada kata dharma dalam kutipan berikut. NdA tan wantin ika lwiring citani sanghulun iki ring adharma mantra ya. Knang hetuni tan sumaNsa ya ri dharmaning ujar ira Dewi Kunti yat. Apan tan dadi tA siran mujarakin rwa tlu pat ika jugatah sada. YAtangyan maka pAnngirku ri kadharma nahan ikana ling Yudiira (KKP. XXVII. Terjemahannya: Itu tidak ada dalam benak hamba tentang adharma itu. Adapun sebabnya tiada menentang apa yang sudah diucapkan Dewi Kunti. Sebab tak mau beliau berkata dua, tiga, empat kali. Itulah yang menurutku kebenaran demikian kata Sang Yudisthira. Kata dharma pada kata yang digaris bawahi di atas memiliki kedua bagian makna yaitu denotatif dan konotatif. Dharma tidak hanya memiliki makna prilaku yang berlandaskan pada kebenaran, melainkan juga dapat mengacu pada tindakan atau perbuatan yang seharusnya tidak boleh dilakukan, akan tetapi tetap dilakukan atas dasar pertimbangan suatu hal yang lebih besar. Perbuatan yang dilakukan bukanlah sematamata bermaksud melanggar ajaran agama tetapi sebagai perwujudan sikap patuh dan hormat yang juga merupakan bagian dari kebenaran . https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dharma yang dimaksud Yudistira pada kutipan di atas adalah dengan tidak membiarkan Dewi Kunti mengulang ucapan yang sudah terlanjur dikatakan untuk membagi Dewi Kresna bersama dengan keempat saudaranya. Ucapan tersebut dianggapnya sebagai sebuah perintah yang tidak boleh ditentang dan harus tetap dilaksanakan apapun konsekuensinya. Hal tersebut memiliki makna lain bahwa perkawinan poliandri yang memang seharusnya tidak boleh dilakukan, ternyata di sisi lain menjadi sebuah kebenaran . Dharma dalam hal ini diwujudkan oleh sikap Bhakti yang ditunjukkan oleh seorang anak kepada orang tua sebagai cerminan ajaran Guru Bhakti. Secara etimologi, kata Guru Bhakti berasal dari bahasa sansekerta, yang terdiri atas dua kata, yaitu kata guru dan kata bhakti. Kata guru berasal dari dua suku kata yaitu AuGuAy dan AuRuAy yang merupakan kependekan dari kata Gunatitha yang berarti tidak terbelenggu oleh materi. Ru kependekan dari kata Rupavarjitha yang artinya mampu mengubah . orang lain dari lautan sengsara, dan kata bhakti berarti hormat, sujud. Jadi, guru bhakti adalah sikap hormat atau sujud seorang siswa kepada seorang guru yang telah mendidik dan mencurahkan pengetahuan sucinya sehingga siswa terbebas dari belenggu materi atau kesengsaraan (Puniatmaja, 1. Sikap bhakti yang dilakukan oleh tokoh Yudistira merupakan wujud bhakti seorang anak kepada guru dalam hal ini adalah ibu sebagai guru rupaka. Yudistira menyadari hakikat kehadiran dirinya di dunia ini berasal dari seorang ibu. Oleh sebab itu. Yudistira berpegang teguh pada ucapan yang telah dilontarkan ibunya sebab tidak diperbolehkan berbohong atau mengingkari perintah ibunya. Dalam Sarasamuscaya 240 disebutkan: Mata gurutara bhumeh khat tathoccatarah pita, manah sighrataram vayoscinta bahutara trnat. Terjemahannya: Mengapa begitu pentingnya menghormati ayah dan terutama ibu, sebab jauh lebih berat kewajiban ibu daripada beratnya bumi, karena itu patut dihormati dengan sungguh-sungguh, tanpa ragu-ragu. Demikian pula penghormatan terhadap seorang ayah adalah lebih tinggi daripada langit. Sloka di atas memberikan pedoman tentang begitu pentingnya memberikan penghormatan kepada ibu dan ayah. Sloka ini mencoba mempersonifikasikan tugas seorang ibu bagaikan lebih berat dari bumi ini. Istilah kata AuibuAy . erasal dari bahasa Kawi yaitu dari kata ngibh. yang mula-mula berasal dari bahasa Sanskerta yaitu dari kata: bhuh artinya bumi. Itulah sebabnya seorang ibu yang memiliki tugas lebih berat dari bumi sangat patut memperoleh penghormatan dari anak-anaknya. Seorang ibu secara tulus telah mengandung anak-anaknya selama sembilan bulan dan setelah lahir, seorang ibu dengan ikhlas memberikan darah dagingnya berupa susunya untuk dinikmati oleh Selanjutnya seorang ibu mengajarkan anaknya memakan makanan dengan cara menyuapi makanan yang layak. Setelah itu mengajari merangkak, berjalan, melayani pada saat buang air kecil maupun saat buang air besar. Selain itu, juga mengajari anaknya berbicara dan berbakti kepada Tuhan. Semua itu dilaksanakan dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Kesabaran seorang ibu identik juga dengan kesabaran bumi. Bumi tetap tersenyum menerima perbuatan semua makhluk entah perbuatan itu baik atau buruk. Demikian itulah kewajiban seorang ibu dalam melaksanakan kewajiban terhadap Oleh sebab itu, amat sangat layak seorang ibu mendapat penghormatan dari putra dan putrinya (Donder, 2. Bhakti . yang dilakukan Yudistira kepada Kunti menghasilkan sebuah pandangan baru bahwa dharma yang sesungguhnya adalah sikap pengabdian kepada seorang ibu yang sudah membesarkan dan merawat dengan penuh kasih sayang. Selain itu, kesetiaannya pada tindakan yang berlandaskan pada kebenaran . atya laksan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH menyebabkan Yudistira memutuskan perkawinan Pandawa dengan Dewi Kresna tetap dilaksanakan karena ia percaya bahwa setiap pengambilan keputusan haruslah memperoleh restu dari orang tua karena dengan menyenangkan hati orang tuanya maka seorang anak mendapatkan segala pahala dari tapabrata-nya . (Sari & Suwantana, 2. Poliandri sebagai Refleksi Ajaran oraddhA Agama Hindu memiliki dasar keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan oraddhA. Terdapat lima dasar keyakinan atau kepercayaan umat Hindu yang dikenal dengan Panca oraddhA. Panca oraddhA berasal dari dua kata yaitu Panca dan oraddhA. Kata Panca berarti lima dan oraddhA berarti keyakinan atau kepercayaan. Bagi umat Hindu. Panca oraddhA dapat diartikan sebagai lima kepercayaan umat berkenaan dengan Agama Hindu yang dianutnya. Keyakinan terhadap Agama Hindu tersebut adalah landasan atau prinsip dasar yang harus dipegang teguh oleh umat Hindu dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat (Suhardana, 2. Lima unsur keyakinan atau kepercayaan berdasarkan Agama Hindu itu terdiri dari: . Keyakinan akan adanya Tuhan (Widhi oraddhA), . Keyakinan akan adanya Atman (AtmA oraddhA), . Keyakinan akan adanya Karmapala (Karmaphala oraddhA), . Keyakinan akan adanya samsara (Punarbhawa oraddhA), . Keyakinan akan adanya Moksa (Moksa oraddhA). Poliandri yang dikisahkan dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha adalah sebuah simbol yang mengandung ajaran Karmaphala oraddhA dan Punarbhawa oraddhA. Fenomena ini seolah hadir untuk mengingatkan kembali akan adanya Karmaphala . asil perbuata. dan Punarbhawa . elahiran yang berulan. Kedua konsep oraddhA ini memiliki hubungan resiprokal antara satu sama lain tercermin dalam karakter dan prilaku antar tokoh yang akan diuraikan sebagai berikut. Poliandri Dewi Kresna: Wujud Karmaphala oraddhA Poliandri menjadi sebuah tragedi yang menimpa salah satu tokoh bernama Dewi Kresna dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha. Pasalnya, berada dalam suatu situasi yang menghantarkan dirinya pada kenyataan pahit untuk menikahi kelima pandawa tentu membuatnya sangat sedih. Padahal yang sangat ia cintai hanya Arjuna, di samping itu juga hanya Arjuna yang berhasil memenangkan sayembara Raja Drupada atas dirinya. Tetapi takdir telah berkata lain sejak Dewi Kunti melontarkan ucapan yang merupakan sebuah ketidaksengajaan berujung pada tragedi poliandri. Terlepas dari semua kegelisahan tersebut, poliandri yang dijalani Dewi Kresna ternyata merupakan suatu simbol dari implementasi karmaphala yang diterimanya sesuai dengan perbuatannya Pernikahan poliandri yang harus diterima Dewi Kresna sejatinya merupakan buah dari perbuatannya di masa lalu saat dirinya menjadi seorang brahmani yang berkeinginan memiliki suami sempurna sesuai dengan kriterianya. Dalam ajaran Hindu istilah ini disebut dengan karmaphala. Dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha bab XVI disebutkan sebagai berikut. RingwAkin kacaritAnak sara hana BramAni duwita subhrat sira. SaprAtidina mja ring Bhatara Sangkara amalaku aswami mahA. Prihning kaguNanya dharmmaura bAlAwan umawa kriteng widhyajyana. Mwang priyambada tandwa tka sira Bhatara wara sira ang karottama. (KKP, XVI. Terjemahannya: Dengarkanlah cerita seorang brahmani sangat cantik tekun melaksanakan brata. Setiap hari memuja Dewa Sangkara agar mendapatkan suami yang sempurna. Berperilaku baik, bertabiat dharma, memiliki kekuataan, berpengetahuan baik. Serta penuh cinta dan kasih sayang. Dewa datang pertanda merestui sang utama. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kutipan yang digaris bawahi di atas dianalisis menggunakan teori semiotika Barthes yang menyatakan bahwa tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan, tetapi juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi Artinya dalam kutipan di atas tidak semata-mata satu kata hanya memiliki satu makna yakni makna sesungguhnya, tetapi juga mengandung makna kedua atau konotatif dari makna sesungguhnya. Seperti kata mahA yang berarti sempurna, tidak hanya memiliki makna utuh, lengkap, atau tidak cacat. Akan tetapi, mahA yang dimaksud adalah mengenai kesempurnaan sifat yang terpuji serta unggul dalam segala hal. Kutipan di atas menggambarkan keinginan seorang wanita untuk mendapatkan suami sempurna sesuai dengan kriteria yang telah diucapkannya. Sejatinya dalam kehidupan ini patut disadari bahwa Tan hana wwang swasta anulus AuTidak ada manusia yang sempurnaAoAo. Poliandri dalam teks ini menjadi sebuah simbolis bagi umat Hindu untuk kembali merefleksikan diri terhadap keterbatasan yang dimiliki manusia, karena tentunya tidak ada manusia yang sempurna dan unggul dalam segala hal. Sering kali manusia diliputi oleh besarnya kama . dan hawa nafsu yang apabila tidak dikendalikan maka akan membawanya pada kegelapan. Oleh karena itu. Tuhan seolah memberikan sebuah pembelajaran agar manusia menyadari keterbatasan yang dimilikinya sebab tidak mungkin semua kriteria suami yang diinginkan ada pada satu orang pria. Adapun semua keinginan dan doa brahmani itu di masa lalu, justru menjadi sebuah petaka pada kehidupannya di masa depan. Tanpa disadari, ucapan yang telah dilontarkan itu berubah menjadi sebuah kenyataan. Dari sebuah ucapan berubah menjadi sebuah karmaphala, yang tentu akan kembali pada diri sendiri sehingga kelima kriteria suami sempurna yang diinginkan brahmani itu direpresentasikan oleh lima orang pria yang berbeda yaitu Panca Pandawa. Agama Hindu memberikan perhatian yang sangat serius terkait dengan perkataan sebagaimana diungkapkan dalam Niti Sastra. Wasita nimitanta manemu laksmi. Wasita nimitanta pati kapangguh. Wasita nimitanta manemu dukha. Wasita nimitanta manemu mitra (Niti Sastra. Terjemahannya: Karena perkataan engkau menemukan kebahagiaan. Karena perkataan engkau mendapat kematian. Karena perkataan engkau akan menemukan kesusahan. Karena perkataan pula engkau mendapatkan sahabat. Seperti pepatah yang mengatakan mulutmu harimaumu, melalui perkataan manusia bisa mendapatkan segalanya. Sehingga menjadi penting untuk selalu mengatur lidah dalam mengarahkannya, dan menyesuaikan perkataan terhadap siapa lawan bicara. Pada teks Kakawin KreNA PancawiwAha Dewi Kresna tidak memiliki pilihan lain selain menjalani apa yang sudah menjadi takdirnya untuk menikahi kelima pandawa sesuai dengan doa yang telah diucapkannya di masa lalu. Kisah poliandri dalam Kakawin KreNA PancawiwAha seolah mengajarkan kita agar senantiasa merenungkan terlebih dahulu ucapan yang akan kita katakan. Sebab, tanpa kita sadari segala ucapan yang kita lontarkan akan menjadi sebuah doa dan berubah menjadi suatu kenyataan. Dewi Kresna sebagai penjelmaan brahmani tersebut, harus menanggung hasil perbuatannya di masa lalu dengan jalan menikahi Panca Pandawa. Adapun kelima Pandawa itu merepresentasikan kelima kriteria suami sempurna yang diinginkannya di masa lalu. Yudhistira sebagai simbol kebaikan dan kebijaksanaan . Bhima sebagai simbol kekuatan . AlAwa. Arjuna sebagai simbol pengetahuan intelektual . Nakula dan Sahadewa sebagai simbol cinta dan kasih sayang . https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Poliandri yang dikisahkan dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha merupakan sebuah refleksi dari ajaran Karmaphala oraddhA dalam agama Hindu. Karma Phala adalah salah satu bagian dari ajaran Panca oraddhA. Panca oraddhA merupakan lima dasar kepercayaan atau keyakinan yang dimiliki oleh umat Hindu dalam meyakini keberadaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Atman atau roh leluhur. Karma Phala atau hukum sebab akibat. Punarbawa atau kelahiran kembali. Moksa atau manunggal dengan Tuhan (Kemenuh, 2. Karmaphala oraddhA merupakan salah satu keyakinan dalam rangka Panca oraddhA, yaitu bahwa umat Hindu yakin akan adanya karmaphala atau hukum karma. Karmaphala berasal dari dua kata bahasa sansekerta AukarmaAy dan AuphalaAy. Karma berarti tindakan atau perbuatan yang baik atau buruk yang mengakibatkan hasil yang tidak dapat dielakkan pada masa yang akan datang (Suhardana, 2. Karma Phala merupakan ajaran yang memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada umatnya akan adanya gerak atau aktivitas kehidupan yang akan menerima pahala atau buahnya (Hariyanto, 2. Adapun fenomena poliandri yang terjadi di kehidupan Dewi Kresna saat ini, merupakan hasil dari perbuatannya di masa lalu yang harus ditanggungnya pada masa sekarang. Istilah ini disebut juga dengan sancita karma yakni perbuatan yang dilakukan sekarang di dunia hasilnya akan diterima pada kelahiran yang akan datang (Cudamani dalam Suhardana, 2. Dalam Kitab Niti Sataka Sloka 98 disebutkan: Majjatvmbhasi yatu merusikharam satrunjayatvahave vanijyam krsisevanam ca sakala vidyah kalah siksatu akasam vipulam prayatu khagavatkrtva prayatnam param nabhavyam bhavatiha karmavasato bhavyasya nasah kutah Terjemahannya: Meski sudah menyelam ke dalam samudra untuk mencari mutiara, naik ke gunung Semeru untuk mencari emas, mengalahkan musuh, berhasil dalam usaha, terbang ke angkasa seperti burung, di dunia ini semua terikat oleh karma dan tidak seorang pun dapat menghindarkan diri darinya. Ketika sudah terlahir menjadi manusia, manusia juga harus selalu mengingat hukum karma, karena tidak ada perbuatan yang tidak ada phala . (Widiantara, 2. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa di dunia ini semua orang terikat oleh karma. Tidak seorang pun dapat terhindar darinya, meskipun orang sudah mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan. Itulah takdir yang tidak bisa dilawan (Suhardana, 2. Ajaran karmaphala mengingatkan kita agar senantiasa selalu sadar atas apa yang kita perbuat, karena hukum sebab akibat atau pahala yang dihasilkan dari suatu perbuatan itu tidak dapat dipisahkan dengan karma itu sendiri. Antara perbuatan dan pahalanya, antara perbuatan dan hasilnya hanya bisa dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan (Suhardana, 2. Pada hakikatnya semua proses kehidupan di alam semesta ini merupakan hasil dari perbuatan, tindakan . , adalah setiap kerja dan gerak dapat berpengaruh terhadap hasil dari kerja itu sendiri. Karma yang menentukan apa yang patut dilakukan dan yang patut di pahami. Pasrah terhadap hukum karmaphala merupakan suatu cerminan, ketidak terikatan manusia terhadap perbuatan, karena hakikatnya semua dikuasai purwakarma . erbuatan terdahul. (Suharko, 2. Poliandri dalam Kaitannya dengan Punarbhawa oraddhA Selain sebagai refleksi ajaran Bhakti . , poliandri dalam Kakawin KreNA PancawiwAha juga berkaitan erat dengan keyakinan umat Hindu tentang ajaran oraddhA yakni Punarbhawa oraddhA . eyakinan akan adanya kelahiran berulan. Poliandri dalam Kakawin ini juga mencerminkan adanya hubungan manusia dengan Dewa dilihat dari narasi yang berisikan kepercayaan terhadap adanya reinkarnasi, penjelmaan, dan kelahiran berulang yang bersumber dari Dewa. Dalam Kakawin KreNA PancawiwAha perkawinan poliandri terjadi karena adanya penjelmaan kembali Dewa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Indra dan Dewi Sri menjadi manusia dalam wujud Panca Pandawa dan Dewi Kresna untuk menanggung karmanya di masa lalu. Adapun penjelmaan tersebut merupakan akibat dari perbuatan yang dilakukannya karena dahulu telah berani mengganggu Sang Hyang Parameswara bersama Dewi Uma saat sedang bermadu kasih. Hal tersebut diungkapkan pada bait berikut. Yeka ndyang Satayajya lmpas I bhajra nira kAdi tulis purih nira. KAhrit deni kasaktining Bhatara Sambhu irika pinasukakin sira. Ring parwwata pucaknya yan bhinaga de Hyang Isa matmahan limendriya. PAdha-pAdha ta teja ning kalima kon ira dadi manusa pwA rasika. (KKP. XXVII, Terjemahannya: Dengan segera kemudian dipanah dengan bajra bagaikan sudah suratan. Diikat oleh kesaktian bhatara Sambu disana dimasukkan ia. Ke puncak gunung dipisah oleh Hyang Isa menjadi lima indra. Sama-sama sinar kelimanya itu terlihat menjadi manusia semuanya. Kutipan di atas juga mengandung kedua bagian tanda yaitu denotatif dan Artinya dalam kutipan di atas tidak semata-mata satu kata hanya memiliki satu makna atau makna sesungguhnya, tetapi juga mengandung makna kedua atau konotatif dari makna sesungguhnya. Hal ini dapat dilihat pada kata yang digaris bawahi yaitu kata teja yang tidak hanya memiliki makna sinar atau cahaya. Akan tetapi, teja juga dapat dimaknai sebagai simbol atma, roh, atau jiwa yang suci dan cemerlang yang akan menghidupi semua makhluk hidup. Secara implisit kutipan di atas menggambarkan suatu pemahaman tentang adanya sebuah siklus kehidupan berulang atau penjelmaan kembali roh dan jiwa yang sebelumnya telah mengalami peleburan. Umat Hindu meyakini adanya Dewa-Dewi sebagai perwujudan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa seperti Tri Murti yaitu Brahma sebagai pencipta. Wisnu sebagai pemelihara, dan Siwa sebagai pelebur. Hyang Isa dalam kutipan di atas merupakan simbolis Brahman yakni konsep Tuhan tertinggi dalam agama Hindu yang bersifat kekal, tidak terwujud, dan menguasai alam Pada kutipan di atas Hyang Isa adalah perwujudan Brahman dalam manifestasi sebagai pelebur (Siw. yang bertugas meleburkan segala sesuatu yang sudah tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya untuk diregenerasi . iciptakan ulan. melalui kelahiran dan penjelmaan kembali yang disebut dengan Punarbhawa oraddhA. Punarbhawa merupakan salah satu bagian dari Panca oraddhA yang merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Menurut (Sivananda dalam Suhardana, 2. , manusia hampir tidak dapat meraih kesempurnaan dalam satu kehidupan. Manusia harus mengembangkan dirinya dan membentuk karakter dalam suatu cara yang Manusia harus banyak belajar dari pengalaman. Itulah sebabnya manusia harus mengalami banyak kehidupan melalui lahir, hidup, meninggal dunia dan punarbhawa atau lahir kembali secara berulang-ulang. Punarbhawa oraddhA menjadi kesempatan untuk memperbaiki perbuatan-perbuatan yang tidak baik menjadi baik, yang salah menjadi Sehingga melalui punarbhawa akan memberikan kesempatan seorang manusia untuk meningkatkan kualitas karmanya di masa depan. Agama Hindu meyakini bahwa sebelum makhluk hidup menjelma pada kehidupan sekarang, mereka pernah mengalami kehidupan pada masa lalu (Dauh, 2. Seringkali manusia tidak mengetahui kehidupannya pada masa lalu Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Bhagawadgita. IV. sebagai berikut: Bahuni vyantitani, janmani tavaAorjuna. Tanyaham vedasarvani, na tvam vttha Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Banyak kehidupan yang aku telah jalani, demikian juga engkau,O Arjuna. Semua kelahiran itu aku ketahui, tetapi engkau tidak mengetahui O Arjuna (Mantra. Sugriwa. Sarkar. Kern, & Rassers, 2. Sesungguhnya manusia telah mengalami kelahiran dan kematian berulang-ulang, tetapi tidak menyadarinya. Hal ini karena Sang Atma yang dibungkus oleh sukma sarira . adan astra. tidak menyadari dirinya sendiri. Pada akhirnya, perbuatan-perbuatan yang dilakukan akan melekat pada sukma sarira . adan astra. Ketika jasad meninggal, sukma sarira meninggalkan badan lama dan masuk ke badan baru dengan membawa karma yang dilakukan selama hidupnya (Gunadha, 2. Poliandri yang diterima Dewi Kresna dalam Kakawin KreNA PancawiwAha merupakan sebuah refleksi dari ajaran punarbhawa oraddhA yakni keyakinan umat Hindu terhadap adanya kelahiran secara berulang-ulang. Hal tersebut ditekankan pada kutipan berikut. Kunang janma nikang limendriya ya ta prasama dadi ta Payca PaNsawa. Metwing wiryyan dharmma Sanghyang ika BhAyu kalawan ikang Indra ingkana. Aswino mara tA kunang ri nira mangdadi anak ira Sang Naradhipa. Dew KriNa ngaran irA yaya wnang pakagara ri ka Payca PaNsawa. (KKP, XXVII,. Terjemahannya: Adapun penjelmaan dari lima indra itu semuanya menjadi Panca Pandawa. Lahir dari kekuatan Sanghyang Dharma. Sanghyang Bayu dan Indra ada disana. Aswino juga disana Adapun Dewi Sri itu menjadi anak paduka raja. Dewi Kresna namanya pantas dipakai istri oleh Panca Pandawa. Data . di atas merupakan sebuah penegasan kembali bahwa Dewa Indra bersama Dewi Sri telah mengalami reinkarnasi atau penjelmaan kembali ke dunia menjadi Panca Pandawa dan Dewi Kresna. Oleh karena itu. Dewi Kresna pantas menjadi istri dari kelima Pandawa akibat dari perbuatannya di masa lalu karena melakukan perlawanan terhadap Hyang Parameswara. Oleh sebab itu. Dewi Kresna harus tetap menjalani takdirnya sendiri untuk menikah dengan lima Pandawa. Meskipun mempunyai lima suami. Dewi Kresna tetap memenuhi kewajiban serta hidup rukun bersama kelima suaminya sebagai wujud sikap Satya . dan Bhakti . terhadap suami dan juga mertuanya Dewi Kunti, berdasarkan pada prinsip dan ajaran dharma. Pada dasarnya kelahiran yang kita dapatkan disebabkan oleh diri kita sendiri. Tuhan sebagai kekuasaan tertinggi akhirnya akan membagikan secara adil takdir sesuai dengan apa yang telah kita perbuat. Dengan demikian penting untuk kita bersyukur dapat lahir sebagai manusia dibandingkan dengan binatang atau tumbuh-tumbuhan. Manfaatkanlah kesempatan ini untuk memperbaiki diri dengan banyak belajar agama baik yang ada pada kakawin maupun gaguritan sehingga kita bisa bebas dari kelahiran kembali . (Suadnyana, 2. Mitologi Poliandri sebagai Sebuah Eksistensi Kehidupan Berdasarkan makna konotatif yang diuraikan di atas dapat ditarik sebuah mitos bahwa semua makhluk hidup akan mengalami kelahiran berulang, kembali lahir ke dunia untuk menanggung hasil karma perbuatannya di masa lalu tanpa memandang ras, suku, gender, atau pun strata sosialnya. Sejalan dengan hal tersebut, dalam Kakawin KreNA PancawiwAha dinyatakan sebagai berikut. Pan karmmo pati nira mangkana ri prwwaka dadi nira pangdaning widhi. SAmpun snak I pakrin ira ta norAna mirudha atut ulah nira. Tan hanang katakut Prabhu Drupada pan ging I manah iran ri sang lima Maka mantwa liwar asih nira kunyng anak ira towi mangkana. (KKP, x. Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sebabnya demikian karena karmanya dahulu telah menjadi kehendak Tuhan. Sudah rukun berkeluarga tanpa suatu halangan sesuai perbuatannya. Tak ada ditakuti Raja Drupada sebab besar kasihnya pada lima pandawa. Sebagai menantunya sangat sayang beliau pada putrinya sungguh demikian. Data . menyatakan bahwa hasil perbuatan yang dilakukan oleh Dewi Kresna di kehidupan lalu ditanggung pada kehidupannya yang saat ini sehingga ia harus menikahi lima laki-laki. Poliandri yang diwacanakan dalam Kakawin KreNA PancawiwAha juga membangun sebuah ideologi tentang sebuah eksistensi dalam menjalani kehidupan. Perlu diingat bahwa poliandri yang dilakukan Dewi Kresna disini bukanlah suatu kesengajaan yang direncanakan, melainkan sebuah problematika yang bersifat kasuistis sehingga memungkinkan keputusan yang diambil hanya berlaku pada suatu peristiwa tertentu saja dan memiliki alasan kuat dibaliknya. Poliandri bukanlah suatu hal yang patut untuk ditiru. Justru perkawinan poliandri menjadi contoh yang sangat tidak patut dicontoh (Martha. Pada dasarnya, pria dan wanita harus ada dalam hubungan kasih sayang antara yang satu dengan yang lainnya dan saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya karena manusia diciptakan berpasang-pasangan. Hindu menganggap bahwa masing-masing pihak benar-benar merupakan pasangan bagi yang lainnya secara mutlak (Titib, 1. Hal ini secara jelas menyatakan bahwa agama Hindu tidak membenarkan pernikahan poliandri maupun poligami. Poliandri yang diwacanakan dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha sebuah bentuk eksistensi kehidupan. Seperti halnya keberadaan hubungan sesama jenis yang dewasa kini telah banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan fenomena tersebut terasa sulit untuk dicegah atau pun dihilangkan. Sebagai umat beragama yang dapat dilakukan adalah dengan mengakui keberadaannya tanpa menghakimi atau merendahkan orang lain. Sikap ini dilakukan sebagai bentuk toleransi sehingga keharmonisan dalam kehidupan masyarakat dapat tetap terjaga. Begitu pula dengan eksistensi perkawinan poliandri dalam teks Kakawin ini bukanlah untuk ditiru melainkan dijadikan sebuah refleksi dalam menjalani kehidupan dilihat dari kandungan nilai-nilai filosofis yang terdapat di dalamnya. Poliandri dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha menyiratkan ideologi mengenai sebuah eksistensi berupa takdir yang harus dijalani. Artinya, apapun yang sudah menjadi takdir kita hendaknya kita jalani dengan baik. Sebab, pada dasarnya kita terlahir kembali dalam kehidupan ini adalah untuk membayar karma atau hasil perbuatan kita terdahulu. Singkatnya, hasil dari perbuatan kita di masa lalu akan kita terima dalam kehidupan selanjutnya. Poliandri yang dikisahkan dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha mengajarkan kita untuk senantiasa selalu berbuat yang baik agar mendapat kehidupan yang lebih baik di masa depan. Kita tidak dapat mengelak dari hasil perbuatan kita sendiri, kehidupan yang kita terima adalah tergantung pada bagaimana perbuatan kita di masa lalu. Melalui kisah poliandri Dewi Kresna, kita dapat mengambil suatu pesan yang ingin disampaikan bahwa berhati-hatilah juga dalam berbicara dan bertutur kata. Karena suatu ucapan yang keluar dalam mulut kita sendiri tanpa kita sadari akan menjadi sebuah doa yang akan kembali pada diri kita sendiri. Nilai moral yang dapat dipetik dari fenomena poliandri ini juga erat kaitannya dengan pengendalian diri melalui penanaman nilai-nilai oraddhA dalam agama Hindu untuk mengingatkan manusia agar senantiasa selalu berprilaku sesuai ajaran dharma. Implikasi Filosofis Poliandri dalam Konteks Modern Analisis makna poliandri dalam Kakawin KreNA PancawiwAha berimplikasi pada upaya peningkatan oraddhA dan Bhakti bagi umat Hindu. Melalui pemahaman dan esensi poliandri, mampu mengugah hati masyarakat untuk lebih meningkatkan oraddhA https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan Bhakti kepada Tuhan. Hal ini dapat dilihat dari kesadaran umat Hindu untuk tidak melakukan perkawinan poliandri yang tidak dibenarkan secara sah dihadapan hukum dan agama sebagai wujud Bhakti . kepada Tuhan. Ajaran Karmaphala oraddhA dan Punarbhawa oraddhA yang terselubung di dalam peristiwa poliandri dapat menjadi sebuah refleksi pada masa modern ini guna mengingatkan kembali umat Hindu agar senantiasa menjaga sikap dan prilaku. Hal ini dapat diwujudkan dengan selalu bersyukur kepada Tuhan, hormat . kepada orang tua, berusaha mengendalikan kama . ikiran dan hawa nafs. , menjaga ucapan dan tingkah laku, berusaha memperbaiki diri agar dapat mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan, serta tidak lupa memperhatikan dampak dari setiap tindakan yang dilakukan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Relevansi nilai Bhakti dan oraddhA yang dapat dipetik dari fenomena poliandri dalam kehidupan modern ini juga dapat dilihat dari proses apresiasi Kakawin yang berkaitan dengan pengajaran Agama Hindu. Implementasi pendidikan agama Hindu yang efektif dapat dicapai melalui upaya kolektif masyarakat dan generasi muda untuk menumbuhkan rasa oraddhA . man dan keyakina. yang lebih kuat kepada Tuhan (Widiastuti & Raimahayanti, 2. Apresiasi Kakawin sebagai sebuah karya sastra agama yang berisikan nilai-nilai filosofis religius juga merupakan sebuah upaya dalam meningkatkan Bhakti dan oraddhA masyarakat Hindu kepada Tuhan. Seperti misalnya apabila bait-bait dalam kakawin ini dilantunkan dan ditembangkan dalam kegiatan dharmagita di pura-pura maka akan menimbulkan vibrasi yang berbeda terlebih lagi ketika makna dibalik kakawin ini dapat disampaikan dengan baik, maka dapat menambah keyakinan umat dalam beragama sehingga mampu meningkatkan oraddhA dan Bhakti kepada Tuhan. Apresiasi Kakawin merupakan salah satu cara manusia memperdalam silaturahmi dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam berbagai manifestasiNya. Selain itu, isi dari Kakawin yang mengandung nilai-nilai ajaran Hindu juga menjadi suatu bentuk pendidikan Agama Hindu yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat sehingga dapat menghasilkan keharmonisan universal dalam kehidupan masyarakat. Kesimpulan Fenomena poliandri dalam teks Kakawin KreNA PancawiwAha merupakan sebuah simbol yang mengandung nilai filosofis religius bagi umat Hindu. Poliandri dapat dipahami sebagai sebuah simbolis untuk merefleksikan ajaran Bhakti . dan oraddhA . , yakni dua pilar penting dalam spiritualitas Hindu yang mendukung perjalanan spiritual. Implementasi ajaran Bhakti . dalam poliandri dapat dilihat dari sikap Satya . pada Guru Rupaka . rang tu. sebagai cerminan ajaran Guru Bhakti. Sebagai simbolis konsep oraddhA, poliandri merupakan wujud dari pengimplementasian ajaran Karmaphala Sraddha . eyakinan akan adanya karm. yang memiliki hubungan resiprokal dengan Punarbhawa Sraddha . eyakinan akan adanya kelahiran berulan. Sebagai warisan budaya bangsa Indonesia, karya sastra Kakawin merupakan sumber nilai dan pintu utama untuk masuk mendalami konsep-konsep ajaran Hindu. Kakawin sebagai susastra Jawa Kuno merupakan media subur dalam penyampaian nilai filosofis religius Hindu utamanya konsep Bhakti dan Sraddha yang dikemas melalui fenomena poliandri. Relevansi poliandri dengan konteks kehidupan di zaman modern ini dapat dilihat dari upaya dan kesadaran umat Hindu dalam menghubungkan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai kekuasaan tertinggi (Brahma. dengan cara meningkatkan pengabdian dan keyakinan yang mendalam . raddhA) dan praktik spiritual (Bhakt. Dengan demikian, nilai-nilai filosofis religius yang dikemas dalam fenomena poliandri dapat menjadi refleksi yang nantinya dapat menimbulkan keharmonisan universal dan keseimbangan dalam kehidupan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Daftar Pustaka