Volume 3 Nomor 1 . Pages 47 Ae 59 EduBase : Journal of Basic Education Email Journal : edubase. bbc@gmail. Web Journal : http://journal. id/index. php/edubase Pentingnya Menerapkan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Jenjang Sekolah Dasar Sela Saputri1A Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Email : selasaputri02@gmail. Received: 2021-12-17. Accepted: 2022-02-27. Published: 2022-02-28 Abstract The writing of this article is done to provide a scientific contribution aimed at educators on the importance of applying humanistic learning theory in learning to improve student learning outcomes at the elementary school Humanistic learning theory in learning is a theory that prioritizes how to humanize humans and students so that the individual can develop his potential in learning. In humanistic learning theory, educators as facilitators are expected to become humanistic educators so that educators can guide students to increase their potential. Educators guide students by not burdening students in learning but instilling behavioral values or positive behavior or negative Humanistic theory has the aim of fully humanizing humans so that each individual can understand themselves as special humans. The purpose of writing this article is to discuss learning theory that is based on the flow of humanistic psychology and its implications for the learning process at the elementary school level. The writing in this article uses a qualitative method, namely using library research. The data collection technique carried out was using documentation techniques by collecting data sourced from books in libraries and the internet, as well as articles and journals related to the writings in research, and collected and summarized, then connected with research studies. Data analysis was carried out by examining various literature readings from documentation data related to the object of research articles on various data from research results. The results of writing this article prove that the application of humanistic learning theory in learning is able to improve student learning outcomes which can be proven through student circumstances, learning conditions, and the existence of other activities that support learning to apply humanistic learning theory. Keyword: Learning. Humanistic. Elementary School Abstrak Penulisan artikel ini dilakukan untuk memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan yang ditujukan kepada pendidik pentingnya menerapkan teori belajar humanistik dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada jenjang MI/SD. Teori belajar humanistik dalam pembelajaran merupakan teori yang mengutamakan cara memanusiakan manusia dan peserta didik sehngga individu tersebut dapat mengembangkan potensi dirinya dalam Dalam teori belajar humanistik, pendidik sebagai fasilitator diharapkan menjadi pendidik yang humanistik sehingga pendidik bisa membimbing peserta didik untuk meningkatkan potensi dirinya. Pendidik membimbing siswa dengan tidak memberatkan peserta didik dalam pembelajaran tetapi menanamkan nilai-nilai tingkah laku atau perilaku positif maupun perilaku negatif. Teori humanistik memiliki tujuan untuk memanusiakan manusia seutuh-utuhnya supaya tiap-tiap individu dapat memahami diri mereka sendiri sebagai manusia yang Tujuan penulisan artikel ini yakni untuk membahas mengenai teori belajar yang bersumber pada aliran psikologi humanistik serta implikasinya pada proses pembelajaran ditingkat SD/MI. Penulisan dalam artikel ini dengan metode kualitatif yakni menggunakan studi kepustakaan . ibrary researc. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yakni menggunakan teknik dokumentasi dengan mengumpulkan data Ae data yang bersumber dari buku Ae buku yang berada di perpustakaan maupun internet, serta artikel dan jurnal yang berkaitan dengan tulisan Ae tulisan dalam penelitian, dan dikumpulkan serta diintisarikan, lalu dihubungkan dengan kajian penilitian. Analisis data yang dilaksanakan yakni dengan cara menelaah berbagai literature bacaan dari data dokumentasi yang berhubungan dengan obyek penelitian artikel terhadap berbagai data dari hasil penelitian. Hasil dari penulisan artikel ini membuktikan bahwa penerapan teori belajar humanistic dalam pembelajaran mampu meningkatkan hasil belajar Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 48 | Pentingnya Menerapkan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Jenjang Sekolah Dasar peserta didik yang dapat dibuktikan melalui keadaan siswa, keadaan pembelajaran, dan adanya kegiatan Ae kegiatan lain yang menunjang pembelajaran untuk menerapkan teori belajar humanistic. Kata Kunci: Pembelajaran. Humanistik. Sekolah Dasar. Copyright A 2022. Author. This is an open-access article under the CC BY-NC-SA 4. DOI: https://doi. org/10. 47453/edubase. How to Cite : Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 49 PENDAHULUAN Peserta didik merupakan individu yang identitas kemanusiannya sebagai manusia yang memiliki kesadaran mesti dibantu dan dibangkitkan lewat system dan model pembelajaran yang berkarakteristik Aubebas dan adilAy. Tuntutan dunia pendidikan pada masa depan adalah dengan mengimplementasikan proses demokrasi dalam pembelajaran. Proses dalam demokrasi belajar menggambarkan bahwa belajar merupakan atas kehendak anak atau peserta. Demokrasi belajar memuat mengenai penetapan atas hak anak untuk melaksanakan kegiatan belajar sesuai dengan kekhasan masing-masing. Meningkatkan manusia untuk menjadi manusia yang seutuhnya dirasa kurang jika ia hanya dilatih, akan tetapi juga harus dididik. Peserta didik mestinya dididik untuk menjadi nyata, percaya akan kehidupan yang memiliki berbagai dimensi, tidak hanya satu macam dan peserta didik didampingi untuk menjiwai kebinnekaan dengan saling melengkapi. Pada saat pelatihan, yang lebih diutamakan yakni hanyalah membentuk tingkah laku lahiriah. Berbeda dengan pendidikan, yang dibentuk yakni mental dan emosional. Karena, mendidik bukan hanya sekedar membentuk anak menjadi ahli atau terampil akan tetapi dapat berdaya guna untuk lingkungannya (Perni, 2. Mendidik peserta didik dalam prosesnya mesti bertumpu pada sebuah teori, supaya peserta didik mampu menyerap dan menerima kegiatan pembelajaran dengan baik, serta mampu mempraktikan dalam kehidupan sehari Ae hari dengan baik pula (Mahrus & Itqon, 2. Pendidik yang professional mestinya dapat memilih teori belajar yang tepat untuk peserta didiknya baik dilihat dari tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran, sifat peserta didik maupun mata pelajaran, serta lingkungan pembelajaran dan sarana prasaran yang ada. Teori merupakan suatu argumen yang berlandaskan pada suatu penemuan dan penelitian yang dibantu oleh data dan argumentasi (Raiz, 2. Teori Belajar merupakan cara untuk menggambarkan bagaimana manusia belajar, sehingga dapat membantu kita untuk memahami proses yang melekat dalam pembelajaran. Cahyo berpendapat mengenai teori belajar menurutnya teori belajar dapat dimaknai sebagai prinsip Ae prinsip dan rancangan belajar yang bersifat teratur dan sudah terbukti kebenarannya dengan penelitian (Rachmawati, 2. Sehingga untuk bisa mencapai hal tersebut, pendidik mempunyai peran penting dalam kegiatan belajar mengajar, pendidik bertanggung jawab menuntun peserta didiknya untuk menugaskan dan menerapkan ilmu dalam kehidupan mereka masing - masing, memberikan dan menunjukkan teladan yang baik untuk peserta didiknya dengan cara menumbuhkan potensi yang ada pada peserta didik secara maksimal, maka pendidikan dapat berperan dalam proses memanusiakan manusia . Menerapkan hal itu dapat dilakukan dengan cara memberikan kebebasan pada ruang gerak peserta didik untuk menumbuhkan potensi yang dimilikinya secara maksimal, serta pembelajaran diharapkan mampu melaksanakan tugasnya sebagai wadah untuk penguatan dan humanisasi. Namun, pembelajaran di sekolah pada umumnya masih menggunakan cara lama yakni hanya dengan penyampaian materi saja. Hal tersebut dapat terlihat bahwa metode yang diterapkan oleh pendidik masih bersifat konvensional sehingga memberi kesan bahwa peserta didik pasif dalam pembelajaran (Diana Devi, 2. Oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah teori belajar dalam kegiatan belajar mengajar supaya pembelajaran dapat bermakna. Teori belajar tersebut dapat kita kenal dengan teori belajar Dalam teori humanistic, pendidik tidak hanya mentransferkan pengetahuan atau Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 50 | Pentingnya Menerapkan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Jenjang Sekolah Dasar nilai saja, melainkan pendidik mesti merancang peserta didiknya dengan kasih sayang supaya peserta didik dapat lebih peka terhadap lingkungannya. Maka dengan adanya teori belajar humanistic ini diharapkan pendidik dapat memahami potensi yang ada pada peserta didik, sehingga berkembangnya potensi peserta didik yang bersifat positif serta dapat mengurangi potensi peserta didik yang bersifat negative. Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan di atas, peneliti terdorong untuk mengetahui mengenai teori belajar humanistic lebih luas lagi serta pengaplikasiannya dalam pembelajaran di sekolah dasar. Meskipun pendidik mempunyai teori yang baik jika tidak dibantu dengan metode yang baik maka kemungkinan hasil yang akan diperoleh tidak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian dalam penulisan sebuah artikel ini menggunakan metode kualitatif yakni dengan studi kepustakaan . ibrary researc. dengan digunakannya pendekatan filosofis . enganalisis penerapan teori belajar humanistic dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik di sekolah dasa. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yakni menggunakan teknik dokumentasi dengan mengumpulkan data Ae data yang bersumber dari buku Ae buku yang berada di perpustakaan maupun internet, serta artikel dan jurnal yang berkaitan dengan tulisan Ae tulisan dalam penelitian, dan dikumpulkan serta diintisarikan, lalu dihubungkan dengan kajian penilitian (Subagyo, 1. Analisis data yang dilaksanakan yakni dengan cara menelaah berbagai literature bacaan dari data dokumentasi yang berhubungan dengan obyek penelitian artikel terhadap berbagai data dari hasil penelitian. Tahap petama melakukan analisis dan identifikasi mengenai masalah yang tersaji. Tahap kedua menelaah berbagai sumber serta dokumentasi yang mesti dicari solusi dari permasalahannya. Tahap ketiga ditariknya kesimpulan dari pengamatan masalah yang telah HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Teori Belajar Humanisme Pada pertengahan abad 20 teori humanisme muncul sebagai akibat reaksi terkait dengan teori behavioristic dan psikodinamik. Para ahli humanisme mempercayai bahwa perilaku laku manusia tidak dapat dideskripsikan sebagai hasil dari polemik yang tidak disadari maupun keadaan yang sederhana. Teori ini menitikberatkan pada pentingnya pensadaran pengalaman yang bersifat subyektif dan mengetahui diri sendiri atau self - direction (Diana Devi, 2. Terjadinya perang perpecahan di tahun 1960-an, membuat dunia merasa iba untuk lebih memahami sifat kemanusiaan. Pandangan humanistik membuat sebuah mekanisme untuk memahami tentang suatu individu dan melibatkan diri dalam konflik serta mewujudkan Kemudian timbul pemikiran baru mengenai bagaimana cara humanis dapat membangun mekanisme untuk mengurangi adanya persebaran konflik dan menciptakan perdamaian (Danim & Khairil, 2. Dalam dunia pendidikan, aliran humanisme muncul pada tahun 1960 sampai dengan 1970an dan tentunya mengalami perubahan-perubahan dan mendapatkan inovasi yang terjadi selama itu hingga akhir pada abad ke-20 pun juga tentunya menuju pada arah perubahan (Ormrod. Psikologi humanisme memfokuskan pada perasaan, kinerja, motivasi, dan kebutuhan Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 51 umat manusia tersebut. Pendidikan menurut humanism ini adalah aktualisasi diri individu Sehingga akhir dari perkembangan pribadi manusia adalah aktualisasi diri, serta mampu mengembangkan potensi secara utuh, bermakna, dan bermanfaat bagi dirinya maupun lingkungan (Rachmahana, 2. Beberapa individu berpendapat bahwa belajar hanya sebatas mengumpulkan atau menghafalkan realita yang telah tersedia dalam bentuk informasi maupun materi pelajaran. Individu yang memiliki pendapat tersebut, biasanya akan langsung berbangga ria ketika anakanaknya dapat mampu menyebutkan kembali beberapa informasi besar yang terdapat dalam buku berbentuk teks atau yang diberikan oleh guru baik secara verbal maupun lisan. Dan ada pula beberapa individu yang berpendapat bahwa belajar hanya sebatas pelatihan saja seperti yang biasa dilakukan yakni membaca dan menulis. Dengan pemahaman seperti itu, biasanya para orang tua akan merasa cukup jika anak-anak mereka sudah mampu menampilkan kemampuan fisik tertentu walaupun tanpa pengetahuan mengenai arti, hakikat, dan tujuan dari kemampuan tersebut (Syah, 2. Namun, belajar menurut pandangan humanistik merupakan kegiatan dari keseluruhan pribadi manusia yang melibatkan aspek intelektual dan emosional, serta motivasi belajar harus datang dari dalam diri anak itu sendiri. Di dalam pembelajaran, hubungan interpersonal akan terjalin dengan menerima siswa sebagai seorang pribadi yang memiliki keterampilan dan guru berperan sebagai partisipan dalam proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar, penerapan teori humanistic lebih berpacu pada manusia itu sendiri. Peran pendidik dalam pembelajaran humanistik yakni sebagai fasilitator untuk peserta didik, memberikan motivasi, serta memberikan kesadaran kepada peserta didik mengenai makna belajar untuk kehidupan. Pendidik berkeyakinan bahwa terdapat kemauan dari masing - masing peserta didik untuk melaksanakan hal - hal yang bermakna bagi dirinya untuk mencapai suatu tujuan, sehingga menjadi kekuatan tersendiri dalam melaksanakan proses Peserta didik menjadi tokoh sentral dalam mengartikan proses keahlian belajarnya tersebut. Sehingga peserta didik diharapkan dapat memahami dan mengetahui potensi diri mereka, serta dapat berkembangnya potensi ke arah positif dengan mengurangi potensi diri yang mengarah negative (Nast & Yarni, 2. Pendidikan dan kegiatan belajar mengajar di sekolah selama ini dinilai kurang membebaskan peserta didik untuk berdemokratis. Mulai dari kurangnya peserta didik untuk berimajinasi, berkarya menunjukkan kehadirannya dengan sudut pandang mereka sendiri, dan pendidikan kurang memperhatikan pendekatan realita yang dialami oleh peserta didik, serta kurang memperhatikan sifat saling memahami antar sesama yang dimiliki oleh peserta didik untuk menyelesaikan masalahnya. Padahal, kemampuan berpikir kritis dan kekreativitasan merupakan keterampilan yang menjadi modal peserta didik supaya mampu menghadapi tantangan dan dapat bersaing dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang ada (Diana Devi. Untuk mencapai pendidikan yang bersifat humanis, maka pola belajar atau kultur budaya yang sebaiknya diterapkan di sekolah, terutama yakni di sekolah dasar, yaitu pola pendidikan yang positif serta memiliki nilai-nilai yang humanis, seperti pola pendidikan yang demokratis, pola pendidikan yang memperhatikan keunikan peserta didik dalam pembelajaran, pola pendidikan yang menjaga hubungan harmonis antara warga sekolah, baik anatara peserta didik dengan peserta didik, guru dengan guru, maupun guru dengan peserta didik. Untuk Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 52 | Pentingnya Menerapkan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Jenjang Sekolah Dasar menghasilkan pola pendidikan sekolah yang positif perlu diadakannya pengembangan tradisi yang sudah ada (Suswanto et al. , 2. Proses pendidikan maupun pembelajaran dengan teori humanistic ini perlu untuk Dilihat dari teori ini yakni dengan memanusiakan manusia, menimbulkan gairah semangat tersendiri terhadap peserta didik untuk melaksanakan pembelajaran, tidak hanya itu dengan teori ini, peserta didik dapat berinisiatif untuk merubah perilaku, pola pikir dan sikap atas keinginan peserta didik tersendiri (Abdah, 2. Sehingga, teori humanistic ini sangat memungkinkan terciptanya peningkatan hasil belajar pada siswa di SD / MI. Karena, proses belajar dapat dikatakan berhasil jika peserta didik dengan lambat laun dapat memahami dirinya sendiri maupun lingkungannya sehingga terciptalah aktualisasi diri dengan versi sebaik Ae baiknya (Sulaiman & Neviyarni, 2. Dalam kegiatan belajar mengajar, belajar yang dimaksud tidak hanya untuk menghafal maupun hanya untuk mengingat saja, tetapi belajar merupakan suatu proses adanya perubahan pada diri peserta didik. Perubahan yang terjadi dari hasil proses belajar dapat terlihat dalam berbagai segi, baik itu perubahan dalam sikap, tingkah laku, pengetahuan, kecakapan, keterampilan pada peserta didik. Sehingga, belajar merupakan suatu proses yang tidak bersifat pasif melainkan bersifat aktif, proses yang dilakukan dapat berupa reaksi terhadap semua kondisi yang ada pada peserta didik. Belajar sendiri memiliki arah tujuan dalam prosesnya, yakni proses yang berupa tindakan terhadap kondisi yang ada pada peserta didik. Belajar merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk berpikir, bergerak, dan merasakan hal yang semestinya untuk dipahami setiap realita yang menghasilkan sebuah pengetahuan, tingkah laku, maupun teknologi serta karya dan suatu harapan manusia yang ingin dicapai. Belajar merupakan bentuk penyempurnaan yang mengarah pada pengembangan diri masing-masing individu supaya kehidupannya tersebut dapat lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Belajar juga dapat dimaknai sebagai suatu penyesuaian terhadap lingkungan dan korelasi antar manusia dengan lingkungannya (Nast & Yarni, 2. Oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah teori belajar dalam kegiatan belajar mengajar supaya pembelajaran dapat bermakna. Teori belajar tersebut dapat kita kenal dengan teori belajar Dalam teori humanistic, pendidik tidak hanya mentransferkan pengetahuan atau nilai saja, melainkan pendidik mesti merancang peserta didiknya dengan kasih sayang supaya peserta didik dapat lebih peka terhadap lingkungannya. Maka dengan adanya teori belajar humanistic ini diharapkan pendidik dapat memahami potensi yang ada pada peserta didik, sehingga berkembangnya potensi peserta didik yang bersifat positif serta dapat mengurangi potensi peserta didik yang bersifat negative. Kata Humanisme memiliki banyak pandangan, dilihat dari istilah kebahasaan, humanisme bermula dari kata latin humanus yang bermakna watak manusiawi yang sesuai dengan kodrat manusia. Secara terminologi, humanisme bermakna nilai dan kedudukan dari setiap manusia, serta usaha untuk meningkatkan baik fisik maupun non fisik keterampilan keterampilan alamiah yang dimiliki manusia (Djayadin & Fathurrahman, 2. Menurut pandangan lain, humanistik bermakna ketertarikan akan kualitas yang bukan berkarakter ketuhanan melainkan kualitas terhadap manusia. Sedangkan humanistik pada takaran akademik terarah pada pengetahuan mengenai kultur manusia, seperti kajian - kajian klasik mengenai tradisi Yunani dan Roma (Qodir, 2. Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 53 Humanisme melihat manusia seperti manusia, yang berarti manusia merupakan suatu makhluk hidup karya Tuhan dengan kemampuan Ae kemampuan tertentu. Istimewanya teori humanisme yakni adanya upaya untuk memahami tingkah laku individu bukan dari aspek si pengawas melainkan dari si pelaksana. Sebagai makhluk hidup karya Tuhan, ia harus melaksanakan, menjaga, serta mengembangkan, potensi - potensi yang dimilikinya selama hidup (Baharuddin, 2. Sehingga humanisme merupakan suatu kegiatan rohaniah dan jasmaniah untuk memaksimumkan jalan tumbuhnya perkembangan. Serta sebagai upaya pembentukan personalitas secara menyeluruh dengan menguasai rangkaian kekayaan ilmu pengetahuan (Ismail, 2. Namun, teori Humanisme dipandang terlalu sulit untuk diterapkan dalam kerangka yang lebih efesien. Teori ini dirasa lebih cenderung dengan ilmu filsafat dan teori personalitas daripada lapak pendidikan, sehingga cenderung rumit untuk diterjemahkan ke dalam tindakan - tindakan yang lebih aktual dan efisien, namun karena tabiatnya yang konseptual, yakni memanusiakan manusia, oleh sebab itu teori ini dapat memberikan petunjuk terhadap semua faktor pembelajaran untuk menunjang tercapainya tujuan atau target tersebut (Diana Devi. Teori Humanistik Menurut Para Ahli Arthur Combs . 2 - 1. berpendapat bahwa untuk memahami tingkah laku maupun karakter manusia, yang terpenting adalah memahami cara dunia ini memandang dari perspektifnya, sehingga untuk memahami orang lain, yang terpenting adalah melihat dunia sebagaimana yang individu itu lihat, dan memastikan bagaimana orang berasumsi, serta merasakan sebagai dia dan sebagai dunianya. Menurut Combs pembelajaran terjadi jika memiliki arti bagi seseorang, pendidik juga tidak dapat menuntut materi yang tidak sesuai maupun tidak disukai dalam kehidupan individu tersebut (Sulaiman & Neviyarni, 2. Abraham Maslow . merupakan salah satu tokoh aliran humanisme yang berpendapat bahwa manusia mempunyai motivasi untuk menerima dan memahami dirinya sendiri, serta berpendapat bahwa manusia mempunyai lima hierarki kebutuhan, yaitu yang pertama kebutuhan fisiologis (Physiological need. , yang mencakup kebutuhan sandang, papan, dan Kedua kebutuhan rasa aman . afety and security need. , merupakan kebutuhan untuk mendapatkan perlindungan dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti bahaya yang bersifat fisik maupun emosi. Ketiga kebutuhan rasa cinta dan rasa memiliki . ove and belonging need. , yakni suatu kebutuhan untuk dicinta dan mencintai serta memberi dan menerima kasih sayang dari individu lain. Keempat kebutuhan harga diri . steem need. , kebutuhan harga diri merupakan perasaan dan pengakuan akan dihargai individu lain. Terakhir kebutuhan aktualisasi diri . elf - actualizatio. , kebutuhan ini merupakan kebutuhan untuk dapat berkontribusi untuk orang lain maupun lingkungan sehingga tercapainya potensi diri secara maksimal. Sehingga pendidikan yang humanistik mestinya menjadi pendidikan yang meliputi lima kebutuhan kebutuhan yang sudah disebutkan (Arbayah, 2. Carl Rogers . merupakan seorang psikolog humanistic yang mengutamakan pentingnya untuk memiliki perilaku saling menghargai dan tidak saling mencurigai antara pasien dan terapis dalam memberikan bantuan untuk mengatasi permasalahan hidupnya. Carl Rogers mempercayai bahwa berbagai petunjuk yang ada didiri individu atas dunianya sinkron dengan pengalaman pribadinya (Arbayah, 2. Menurut Rogers yang utama dalam proses Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 54 | Pentingnya Menerapkan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Jenjang Sekolah Dasar kegiatan belajar mengajar yakni pendidik mencermati pentingnya prinsip pembelajaran beserta pendidikan, diantaranya: Menjadi manusia yang bermakna, pendidik menerima peserta didik dengan apa adanya, tanpa membeda-bedakan peserta didik satu dengan yang lainnya. Peserta didik tidak diharuskan mempelajari hal Ae hal yang tidak memiliki arti. Peserta didik mempelajari perihal yang bermakna bagi dirinya Serta menganugerahkan peluang pada peserta didik untuk berkembang sesuai kecepatan dan kemampuannya (Diana Devi, 2. Pengaplikasian teori humanisme pada kegiatan belajar mengajar sekiranya pendidik mengarahkan peserta didik untuk berpikir kritis, mendahulukan praktik serta menitikberatkan pada pentingnya keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran (Perni, 2. Teori humanisme juga sangat mengutamakan komponen - komponen lika-liku keahlian dan keikutsertaan peserta didik sebagai individu yang aktif dalam pembelajaran. Teori humanistic beranggapan bahwa semua teori belajar dapat digunakan dan bermanfaat, apabila bermaksud untuk memanusiakan manusia dalam mencapai segala bentuk kemampuan yang ada pada diri individu, memahami diri sendiri, serta sadar atas kenyataannya sebagai manusia yang sedang belajar secara maksimal. Hal ini membuat teori humanistik bersifat sangat Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap pendekatan dalam pembelajaran apapun, pastinya ada kekurangan maupun kelebihannya. Beberapa ahli dalam merancang teorinya hanya tertuju pada segi terbatas yang menjadi pusat utama dalam ketertarikannya pada saat itu. Dengan banyak pertimbangan setiap ahli selalu melakukan penelitiannya dari perspektifnya masing-masing dan menganggap bahwa pendapatnya mengenai bagaimana manusia itu belajar adalah sebagai keterangan yang paling Sehingga ada banyak macam teori mengenai belajar yang searah dengan sudut pandang mereka masing-masing. Oleh karena itu teori humanistic dengan pemahamannya yang selektif yaitu dengan mendayagunakan atau meringkas dari banyaknya teori belajar dengan maksud untuk melaksanakan perilaku memanusiakan manusia sehingga tidak hanya sekedar anganangan untuk dilakukan, tetapi semestinya harus dilakukan (Perni, 2. Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Humanistik Kelebihan teori humanistic Asri Budiningsih mengemukakan pendapatnya mengenai kelebihan teori humanistic sebagai berikut (Budiningsih, 2. Teori ini pantas untuk diimplementasikan dalam materi pembelajaran yang bertujuan untuk membentuk kepribadian, perubahan tingkah laku, hati nurani dan pandangan terhadap fakta . Menurut aliran humanisme: seseorang lebih mempunyai keinginan atau kesanggupan untuk mengembangkan potensi dirinya dan percaya pada takdir biologis dan ciri lingkungan . Keberhasilan dari menerapkan teori belajar humanistik adalah peserta didik merasa dirinya bergembira sehingga ada gairah atau inisiatif dalam belajar serta terjadinya perubahan dalam daya pikir, sikap dan tingkah laku atas keinginan diri sendiri. Berharap peserta didik menjadi manusia yang leluasa, sehingga tidak terbelenggu dengan pandangan orang lain dan dapat mengelola individualitas diri sendiri secara bertanggung Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 55 jawab dengan tidak mengambil hak - hak orang lain, serta tidak melanggar aturan hukum, norma, maupun etika yang berlaku. Aliran humanisme menolak sifat tidak percaya diri, dengan kata lain aliran humanisme mengarahkan individu untuk memiliki sifat percaya diri . Teori Humanistik sangat menolong pendidik dalam mengetahui arah belajar pada aspek yang lebih besar, sehingga terwujudnya hal-hal yang ingin dicapai serta membantu pendidik untuk memahami dan mengetahui hakikat dari jiwa manusia. Kekurangan teori humanistic Asri Budiningsih mengemukakan pendapatnya mengenai kekurangan teori humanistic sebagai berikut (Budiningsih, 2. Peserta didik yang tidak ada keinginan untuk memahami potensi dirinya akan tertinggal dalam proses belajar . Peserta didik terlalu diberi kebebasan . Teori humanisme sangat percaya diri secara alamiah dan tidak berhasil memberikan pengetahuan pada bagian buruk dari sifat asli manusia . Teori humanisme tidak dapat diuji dengan mudah . Dalam psikologi humanisme terdapat banyak konsep yang masih buram dan subjektif seperti pada aktualisasi diri . Beberapa kritikus menolak bahwa konsep ini menggambarkan idealisme dan nilai dari Maslow. Psikologi humanisme mendapati adanya penyimpangan terhadap nilai individualistis . Teori humanisme dikritik karena jarang dipakai dalam konteks yang lebih mudah. Sehingga teori ini dapat diibaratkan lebih akrab dengan dunia filsafat melainkan dunia pendidikan. Pendidik lebih membimbing peserta didik untuk berpikir induktif, mengutamakan pengalaman serta memerlukan keikutsertaan peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajaran dengan teori humanism. Teori humanisme masih sulit dimaknai ke dalam kegiatan yang mudah dan dapat Aplikasi Teori Belajar Humanistik Penerapan teori humanistik lebih menuju pada hasrat atau semangat selama proses pembelajaran sehingga mewarnai langkah-langkah yang akan diterapkan. Peran pendidik dalam kegiatan pembelajaran humanistic tentunya menjadi fasilitator untuk peserta didik, seperti pendidik memberikan motivasi, serta usaha untuk menyedarkan peserta didik mengenai pentingnya makna belajar dalam kehidupan. Pendidik memberikan fasilitas berupa sejumlah kegiatan proses pembelajaran dan memberikan dampingan terhadap peserta didik untuk meraih tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran (Soemanto, 1. Dalam pembelajaran humanistic. Peserta didik menjadi tokoh sentral dalam mengartikan proses keahlian belajarnya tersebut. Sehingga peserta didik diharapkan dapat memahami dan mengetahui potensi diri mereka, serta dapat berkembangnya potensi ke arah positif dengan mengurangi potensi diri yang mengarah negative. Pada teori ini, tujuan pembelajaran tidak berfokus hasil belajar melainkan pada proses pembelajarannya. Berikut beberapa proses yang umum untuk dilalui adalah: Tujuan belajar dirumuskan dengan jelas Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 56 | Pentingnya Menerapkan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Jenjang Sekolah Dasar Berupaya untuk membuat peserta didik berperan aktif dalam pembelajaran yang bersifat tidak ambigu, terintegritas dan positif. Mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan belajarnya secara inisiatif. Mengarahkan peserta didik untuk peka dalam berpikir kritis, serta mengartikan proses pembelajaran secara individu. Peserta didik diarahkan untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya, melaksanakan hal yang diinginkan dan bertanggung jawab atas tingkah laku yang Pendidik menerima peserta didik apa adanya, dengan memahami jalan pemahaman peserta didik, bukan memberikaian penilaian secara normatif akan tetapi mengarahkan peserta didik untuk bertanggungjawab atas segala akibat dari aktivitas dalam proses pembelajaran. Peserta didik diberi kebebasan untuk berkembang sesuai dengan kecepatan dan Pemberian evaluasi secara individual dengan berdasar pada perolehan prestasi peserta didik (Mulyati, 2. Keberhasilan dari menerapkan teori belajar humanistik adalah peserta didik merasa dirinya bergembira sehingga ada gairah atau inisiatif dalam belajar serta terjadinya perubahan dalam daya pikir, sikap dan tingkah laku atas keinginan diri sendiri. Berharap peserta didik menjadi manusia yang leluasa, sehingga tidak terbelenggu dengan pandangan orang lain dan dapat mengelola individualitas diri sendiri secara bertanggung jawab dengan tidak mengambil hak hak orang lain, serta tidak melanggar aturan hukum, norma, maupun etika yang berlaku (Zagoto et al. , 2. Impilkasi Teori Belajar Humanistik Penerapan teori humanistik lebih menuju pada hasrat atau semangat selama proses pembelajaran sehingga mewarnai langkah-langkah yang akan diterapkan. Peranan pendidik dalam pembelajaran humanistik yakni menjadi fasilitator bagi para peserta didik, dan motivasi diberikan oleh pendidik, menyadarkan peserta didik dalam mengartikan belajar untuk kehidupannya sekarang maupun yang akan datang (Aradea & Harapan, 2. Aktivitas pembelajaran yang bermakna di fasilitasi oleh pendidik dan pendidik mengarahkan peserta didik untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dalam tujuan pembelajaran yang ingin Menurut Dakir . psikologi humanistik memberikan afeksi kepada guru laksana Berikut ini ada beberapa kiat untuk memberikan keringanan dalam pembelajaran dan beberapa baik buruknya mengenai fasilitator, diantaranya: . Fasilitator memberi perhatian pada kondisi saat permulaan, kondisi kelompok, serta kondisi kelas. Fasilitator mengakomodasi untuk mendapatkan dan memperjelas arah tujuan - tujuan per peserta didik atau perorangan saat di dalam kelas dan juga mewujudkan tujuan - tujuan sekumpulan kelompok yang bersifat umum. Fasilitator mengakui adanya gairah dari masing - masing anggota peserta didik melaksanakan hal Ae hal yang akan dituju sehingga bermakna untuk dirinya, fasilitator juga menjadi daya pendorong, meskipun terselubung di dalam kegiatan pembelajaran yang bermakna tersebut. Fasilitator mencoba mengarahkan dan memberikan ketersediaan atas sumber Ae sumber yang akan digunakan untuk pembelajar dan mudah untuk Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 57 digunakan untuk suatu hal yang bermanfaat bagi peserta didik sehingga mudah tercapainya tujuan belajar yang diharapkan. Fasilitator berkedudukan sebagai pemberi pengetahuan yang selalu ada sehingga bisa dibutuhkan oleh peserta didik. Fasilitator mengamati pernyataan Ae pernyataan yang berada di dalam suatu kelas, dan menerima dengan baik segala hal yang bersifat kritis dan memiliki sikap yang berperasaan dan mencoba memberikan tanggapan yang sesuai dengan kriteria, baik untuk individual maupun untuk kelompok. Jika suasana anggota kelas telah konsisten, fasilitator secara bertahap dapat memerankan sebagai seorang peserta didik yang ikut terlibat dalam pembelajaran, peserta didik turut memberikan opininya kepada peserta didik yang lain. Fasilitator ikut berpartisipasi memberikan buah pikiran dalam kelompok, serta perasaannya untuk tidak memaksakan dan juga tidak menuntut, akan tetapi fasilitator sebagai bagian dari peserta didik secara pribadi bisa saja ditolak atau pun digunakan oleh peserta didik . Fasilitator diharapkan tetap hati-hati terhadap pernyataan pernyataan yang mengarah pada reaksi yang agresif dalam proses belajar . Sebagai fasilitator, pemimpin semestinya berupaya untuk mengetahui dan menerima kekurangan Ae kekurangan yang ada pada dirinya (Sulaiman & Neviyarni, 2. Para pendidik sering kali berpendapat bahwa pendidikan merupakan peninggalan suatu adat istiadat, sehingga bahan pembelajaran serta tanggung jawab merupakan suatu hal yang tidak dapat mereka yakini bahwa hal itu tidak bisa diberikan kepada peserta didik secara begitu saja (Nast & Yarni, 2. Dalam pembelajaran tidak hanya pendisiplinan peserta didik saja yang dilakukan, tetapi ketika proses pembelajaran berlangsung, supaya peserta didik dapat terpancing untuk aktif dalam pembelajran, pendidik dapat memberikan suatu penghargaan atau semacam hadiah kepada setiap peserta didik yang percaya diri menjawab pertanyaan yang disajikan dengan memberikan penambahan nilai, dengan begitu peserta didik akan berlomba-lomba untuk menjawab pertanyaan yang disajikan. Sehingga hal itu dapat membentuk tingkat kepercayaan diri peserta didik akan terus meningkat untuk mengeluarkan pendapatnya dengan berani. Selain untuk meningkatkan semangat belajar peserta didik di dalam kelas, peserta didik juga diberi kemandirian dalam pengalaman belajar berupa model pembelajaran yang merujuk pada pendidik yang bertugas sebagai fasilitator (Diana Devi, 2. KESIMPULAN Dari uraian Ae uraian yang telah dijabarkan dalam pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penerapan teori belajar humanistic dalam pembelajaran di sekolah dasar dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik diantaranya ditandai dengan peserta didik menunjukkan adanya keberanian dalam mengemukakan pendapatnya dan peserta didik leluasa dalam berpendapat tanpa adanya belenggu dari pandangan orang lain, serta peserta didik terbiasa untuk berpikir kritis karena peserta didik dalam pembelajaran menggunakan teori belajar humanistic diberi kebebasan juga dalam mencari dan mengenali potensi diri yang positif dan berkurangnya potensi diri yang negative. Namun, jika peserta didik tidak ada keinginan untuk memahami potensi dirinya akan tertinggal dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran tidak hanya pendisiplinan peserta didik saja yang dilakukan, tetapi ketika proses pembelajaran berlangsung, supaya peserta didik dapat terpancing untuk aktif dalam pembelajran, pendidik dapat memberikan suatu penghargaan atau semacam hadiah kepada setiap peserta didik yang percaya diri menjawab pertanyaan yang disajikan dengan memberikan penambahan nilai, dengan begitu peserta didik akan berlomba-lomba untuk Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 58 | Pentingnya Menerapkan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Jenjang Sekolah Dasar menjawab pertanyaan yang disajikan. Sehingga hal itu dapat membentuk tingkat kepercayaan diri peserta didik akan terus meningkat untuk mengeluarkan pendapatnya dengan berani. Selain untuk meningkatkan semangat belajar peserta didik di dalam kelas, peserta didik juga diberi kemandirian dalam pengalaman belajar berupa model pembelajaran yang merujuk pada pendidik yang bertugas sebagai fasilitator DAFTAR PUSTAKA