Pengaruh Content Marketing. Price Perception dan Influencer terhadap Impulsive Buying ISSN:Gen-Z Destinasi Wisata Kuliner (Studi Kasus G-Walk Surabay. E-ISSN: 2599-0209 (Lorenzia Aik. Homepage: http://jurnalpariwisata. id/index. php/JIP/index DOI: https://doi. org/10. 30647/jip. Pengaruh Content Marketing. Price Perception dan Influencer terhadap Impulsive Buying Gen-Z di Destinasi Wisata Kuliner (Studi Kasus GWalk Surabay. Lorenzia Aiko Universitas Ciputra Surabaya *lorenziaaiko01@student. Informasi Artikel Received: 09 Mei 2025 Accepted: 08 November 2025 Published: 17 November 2025 Keywords: content marketing, price perception, influencer. culinary, impulsive buying. Kata Kunci: konten marketing, persepsi pembelian impulsive, generasi Abstract This study aims to examine the influence of content marketing, price perception, and influencers on impulsive buying behavior among Generation Z at culinary tourism destinations, with a case study at GWalk. The population in this research consists of Generation Z individuals . orn between 1995Ae2. aged 16Ae26 years, who are active users of social media platforms and have seen content related to G-Walk Surabaya. Data collection was carried out through an online questionnaire with closed-ended questions using a 5-point Likert scale. The research sample consisted of 200 respondents, determined based on Lemeshow's formula. The collected data were analyzed using SPSS through a series of validity tests, reliability tests, classical assumption tests, as well as hypothesis testing and coefficient of determination The results show that content marketing, price perception, and influencers significantly affect the impulsive buying behavior of Generation Z at the G-Walk culinary tourism destination. These findings highlight the importance of relevant content marketing strategies, competitive price perception, and influencer involvement in driving impulsive buying decisions among Generation Z. This study contributes to understanding effective marketing factors to enhance the attractiveness of culinary tourism destinations. Abstrak Penelitian ini bertujuan memetakan peran dan transformasi pemandu wisata di era digital melalui telaah sistematis atas bukti empiris terkini. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) berpedoman PRISMA, dengan sumber Scopus. Web of Science, dan Google Scholar . 5Ae2. Seleksi menghasilkan 33 artikel yang dianalisis secara tematik dan disintesiskan secara naratif. Hasil menunjukkan tiga klaster tematik saling melengkapi. Klaster 1 menegaskan dimensi interpretatif, interpersonal, dan manajerial sebagai atribut inti layanan yang meningkatkan kualitas layanan, kepuasan, serta niat berperilaku. Klaster 2 menempatkan emotional labor, empati, dan rapport sebagai mekanisme psikologis yang mengonversi layanan menjadi memorable tourism experience, mendorong loyalitas dan wordof-mouth. Klaster 3 menandai pergeseran menuju model pemanduan hibrida melalui aplikasi bergerak. AR/VR/XR, tur virtual/livestream, dan kolaborasi berbasis AI yang memperkuat interaktivitas, imersi, personalisasi, serta eWOM. Sinergi kompetensiAeafeksiAedigital membentuk rantai nilai pengalaman dari kualitas layanan menuju kepuasan, loyalitas, dan penguatan citra destinasi, dipengaruhi moderator seperti jenis tur, ukuran kelompok, dan kesiapan teknologi wisatawan. Pengujian kesejahteraan pemandu sebagai moderator, evaluasi humanAe AI co-guiding dan AR micro-moments via uji A/B dan experience sampling, multi-group SEM lintas segmen, meta-analisis/bibliometrik, serta kebijakan sertifikasi berbasis hasil (MTE/WOM). Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. November 2025, pp 367-378 Pengaruh Content Marketing. Price Perception dan Influencer terhadap Impulsive Buying Gen-Z di Destinasi Wisata Kuliner (Studi Kasus G-Walk Surabay. (Lorenzia Aik. PENDAHULUAN Revolusi industri 4. 0 mempercepat digitalisasi di berbagai sektor, termasuk Akselerasi ini makin terasa sejak pandemi Covid-19 yang mendorong peralihan aktivitas ke ranah daring. Dalam lanskap tersebut. Gen Z menonjol sebagai segmen strategis: mereka terbiasa dengan ekosistem digital, responsif terhadap stimulus online, dan menunjukkan kecenderungan pembelian spontan. Data memperlihatkan 41% konsumen Gen Z tergolong pembeli impulsive lebih tinggi dibanding Milenial . %) dan Generasi X . %) serta cenderung mengejar produk terbaru (Djafarova & Bowes, 2. Khusus di Indonesia, 7 dari 10 Gen Z mengalokasikan belanja utamanya untuk survei Populix April 2024 menunjukkan 69% responden Gen Z menempatkan kategori ini sebagai pos pengeluaran terbesar (Santika, 2. Temuan ini menandakan besarnya peluang pada industri kuliner di era digital. Eksposur konten di media sosial menjadi pemicu penting dalam perjalanan konsumen Gen Z menuju pembelian termasuk pembelian impulsive seiring derasnya arus promosi lintas platform. Dalam konteks ini, tiga pendorong kerap disorot: content marketing, persepsi harga, dan peran influencer. Namun, bukti empiris terkait kekuatan dan konsistensi pengaruh ketiganya belum konklusif. Sejumlah studi menemukan content marketing berdampak signifikan terhadap minat beli (Lazuardi & Kaihatu, 2. , pengaruhnya tidak signifikan (Hardiyanah & Hidayati, 2. Pada dimensi harga. Apriliani et al. menunjukkan hubungan positif dan signifikan dengan pembelian impulsif, tetapi Mendur et al. melaporkan bahwa persepsi harga tidak berpengaruh secara parsial terhadap keputusan Di sisi influencer, pengguna memandang mereka sebagai figur rujukan yang membentuk opini publik dan menyajikan konten informatif, meski efektivitasnya tidak selalu tercermin dari jumlah pengikut (Sari et al. , 2. Ketidakselarasan temuan tersebut menegaskan adanya celah pengetahuan . esearch ga. Pertama, sebagian besar studi menilai pengaruh variabel secara terpisah, sehingga bukti mengenai kontribusi relatif dan pengaruh simultan content marketing, persepsi harga, dan influencer terhadap perilaku pembelian impulsif Gen Z masih terbatas. Kedua, bukti pada konteks destinasi kuliner luring . pengalaman, atmosfer, dan komunitas berbeda dari e-commerce masih jarang dieksplorasi secara mendalam. Ketiga, fokus pada Gen Z Indonesia sebagai populasi yang sangat terpapar media sosial dan memiliki pola belanja dominan pada makanan belum banyak dikaji dalam setting destinasi kuliner spesifik. Untuk menjembatani celah tersebut, penelitian ini memusatkan perhatian pada G-Walk Food Arcade di Citraland Surabaya kawasan kuliner ruang terbuka dengan lebih dari 100 restoran/kafe dan banyak food stall, serta fasilitas pendukung seperti taman dan Wi-Fi (Mulyansyah. Ramainya kunjungan harian menjadikan G-Walk konteks yang tepat untuk menguji bagaimana content marketing, persepsi harga, dan influencer secara simultan memengaruhi pembelian impulsif Gen Z. Secara teoretis, studi ini memberikan klarifikasi atas inkonsistensi temuan terdahulu dengan menyajikan model terintegrasi pada konteks kuliner. Secara praktis, hasilnya diharapkan memberi rujukan strategis bagi pelaku usaha kuliner dalam merancang bauran konten, penetapan harga yang dipersepsi bernilai, dan kolaborasi influencer yang efektif. TINJAUAN PUSTAKA Content Marketing Secara teoritis, konten yang relevan. Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. November 2025, pp 367-378 Pengaruh Content Marketing. Price Perception dan Influencer terhadap Impulsive Buying Gen-Z di Destinasi Wisata Kuliner (Studi Kasus G-Walk Surabay. (Lorenzia Aik. meningkatkan perceived diagnosticity . eyakinan bahwa informasi membantu keputusa. , memperkuat perceived value, dan menstimulasi arousal, tiga jalur psikologis yang lazim menumbuhkan serbacepat (Ustadriatul Mukarromah et , 2. Sejalan dengan itu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa content terhadap minat/niat beli (Lazuardi & Kaihatu, 2. Sementara temuan lain melaporkan tidak signifikan (Hardiyanah & Hidayati. Perbedaan ini dapat ditelusuri . nformativeness, entertainment, brand congruenc. , kategori kuliner dengan produk utilitarian, serta titik ukur perilaku . inat beli dengan impulsive buying yang lebih afektif dan situasiona. Implikasi konseptualnya, dalam kerangka SAeOAeR, content marketing berperan sebagai S yang memicu O . rousal, perceived value. FOMO) dan selanjutnya mendorong R . mpulsive buyin. , dengan kekuatan jalur yang sangat dipengaruhi oleh kesesuaian dan kualitas konten terhadap skema kognitif Generasi Z yang always-on. SAeOAeR adalah StimulusAeOrganismAe Response, pemasaran . , misalnya content marketing, persepsi harga, dan influencer diproses oleh organism . eadaan internal konsumen yang bersifat kognitifAeafektif seperti arousal, perceived value, dan FOMO), lalu bermuara pada response berupa perilaku, misalnya impulsive pemrosesan dapat terjadi secara cepat/heuristik (System-. maupun lebih elaboratif (System-. hingga akhirnya memicu tindakan. Persepsi Harga Teori reference price dan prospect theory, diskon atau price deal membentuk persepsi AugainAy yang meningkatkan nilai hedonik serta urgensi keputusan. mekanisme priceAequality inference, harga yang dipersepsi Aumasuk akal/adilAy sekaligus memberi isyarat kualitas mendorong keputusan cepat. Bukti empiris menunjukkan hasil yang beragam yaitu Apriliani et al. menemukan positif-signifikan persepsi harga dan pembelian impulsive. Sementara Mendur et al. melaporkan tidak berpengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian. Kontradiksi ini mengindikasikan adanya kondisi batas, antara lain bentuk promosi . isalnya langsun. , tingkat keadilan harga . rice fairnes. , dan sensitivitas harga pada segmen yang diteliti. Dalam segmen kuliner Generasi Z, promosi yang berbatas waktu . ime-boun. dan bernilai kecil tetapi real-time . icro-discoun. yang muncul di feed cenderung lebih memicu urge to buy dibandingkan penawaran Secara konseptual, persepsi harga merupakan S yang memengaruhi O melalui perceived sacrificeAevalue tradeoff. trade-off Influencer Mengacu pada model source credibility . eahlian, kepercayaan, daya influencer menurunkan ketidakpastian informasi sekaligus menyediakan social Konten yang autentik dan memiliki kecocokan tinggi . dengan kategori kuliner berpotensi menstimulasi arousal dan niat spontan. Namun, efektivitasnya tidak sematamata ditentukan oleh jumlah pengikut (Sari et al. , 2. Kredibilitas, contentAe audience fit, dan transparansi . merupakan faktor penentu. Secara konseptual, jalur pengaruh influencer terhadap perilaku impulsif bekerja melalui peningkatan trust, identifikasi parasosial, dan FOMO . isalnya saat influencer menandai kelangkaan seperti Aulimited Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. November 2025, pp 367-378 Pengaruh Content Marketing. Price Perception dan Influencer terhadap Impulsive Buying Gen-Z di Destinasi Wisata Kuliner (Studi Kasus G-Walk Surabay. (Lorenzia Aik. , yang memicu respons pembelian Impulsive Buying Impulsive buying dipahami sebagai keputusan spontan tanpa perencanaan, yang sangat peka terhadap isyarat situasional . isual konten, promosi harga, rekomendasi influence. dan keadaan afektif . rousal, moo. (Zhao et al. , 2022. Fitri et al. , 2. Pada kuliner Generasi Z yang proporsi belanjanya dominan pada makanan ketersediaan konten real-time, penawaran singkat, dan rekomendasi dari figur tepercaya memperpendek jarak dari paparan stimulus menuju tindakan Content Marketing (X. Price Perception (X. Impulsive Buying Gen-Z (Y. Influencer (X. Gambar 2. Kerangka Pemikiran . Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. H1 : Content marketing berpengaruh signifikan pada impulsive buying Gen-Z H2 : Perception signifikan pada impulsive buying Gen-Z H3 : Influencer berpengaruh signifikan pada impulsive buying Gen-Z METODE Penelitian kuantitatif explanatory potong-lintang menganalisis pengaruh content marketing, persepsi harga, dan influencer pada perilaku impulsive buying Generasi Z di destinasi kuliner G-Walk (Surabaya Bara. Populasi dan kriteria inklusi. Populasi sasaran adalah Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial dan pernah terekspos konten tentang G-Walk. Responden berusia Ou18 tahun . ntuk kepatuhan eti. dan berdomisili di Surabaya atau sekitarnya. Kriteria ini dipilih karena variabel yang diuji . onten, harga, influence. adalah stimuli yang memerlukan paparan nyata terhadap konteks G-Walk agar kaitannya dengan respons impulsif relevan . elaras dengan perbedaan temuan pada studi terdahulu: Lazuardi & Kaihatu, 2021. Hardiyanah & Hidayati, 2023. Apriliani et al. , 2020. Mendur et al. , 2021. Sari et al. , 2. Teknik sampling dan alasan Digunakan purposive sampling karena: . Studi membutuhkan responden dengan karakteristik spesifik (Gen Z, terekspos konten G-Walk, pengguna aktif media sosia. Memastikan kesesuaian stimulusAekonteks sehingga hubungan variabel lebih terukur . enghindari noise dari responden yang tidak releva. Efisien untuk menjangkau segmen target yang relatif tersebar di kanal digital. Ukuran . Karena ukuran populasi efektif tidak diketahui, jumlah minimum sampel dihitung dengan rumus Lemeshow menggunakan parameter umum: p = 0,5. = 1,96 . % CI). d = 0,07. Hasil perhitungan memberi n OO 196. 200 responden untuk mengantisipasi Instrumen dan pengukuran. Data dikumpulkan melalui kuesioner online . ertanyaan tertutu. dengan Skala Likert 1Ae5 . = sangat tidak setuju A 5 = sangat Indikator variabel diadaptasi dari . Content marketing (X. meliputi relevance, accuracy, value, clarity, accessibility, consistency (Fatimah et al. , 2. Persepsi (X. kualitas, daya saing, kesesuaian dengan manfaat (Natasya & Tarigan, 2. Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. November 2025, pp 367-378 Pengaruh Content Marketing. Price Perception dan Influencer terhadap Impulsive Buying Gen-Z di Destinasi Wisata Kuliner (Studi Kasus G-Walk Surabay. (Lorenzia Aik. Influencer (X. meliputi visibility, credibility, attraction, power (Ryana & Hidayat, 2. Impulsive buying (Y) meliputi pembelian spontan, tanpa pertimbangan matang, berdasar perasaan sesaat, kecenderungan obsesif, membeli meski tidak butuh (Zulcha et al. , 2. Adaptasi bahasa dilakukan melalui expert uji coba awal . kecil direncanakan untuk memeriksa kejelasan Prosedur pengumpulan data yaitu dengan survei disebarkan melalui media lokal/mahasiswa. Screening awal memastikan kriteria inklusi . sia Ou18, paparan konten GWal. Sistem hanya memperkenankan meminimalkan duplikasi. Sebelum menerima lembar informasi digital . ujuan, durasi, risiko minimal, manfaat, kerahasiaan, dan kontak penelit. serta menyetujui persetujuan berpartisipasi . heckbox informed consen. Partisipasi bersifat sukarela, dapat menghentikan pengisian kapan saja, dan data dicatat anonim . anpa identitas pribadi yang dapat Responden yang menyatakan <18 tahun otomatis tidak dapat melanjutkan survei. Penelitian mengikuti pedoman etik riset sosial yang berlaku di institusi peneliti. Uji kualitas data dan analisis. Analisis dilakukan dengan SPSS meliputi: Uji validitas . orelasi item-total. dilakukan EFA). Uji reliabilitas (CronbachAos alpha Ou 0,. Uji asumsi . ormalitas multikolinearitas, heteroskedastisita. Regresi linear berganda untuk menguji pengaruh X1AeX3 terhadap Y, serta koefisien determinasi (RA). Keterkaitan Pemilihan variabel dan indikator berlandaskan bukti empiris yang beragam misalnya pengaruh content marketing yang signifikan (Lazuardi & Kaihatu, 2. maupun tidak signifikan (Hardiyanah & Hidayati, 2. persepsi harga yang positif-signifikan (Apriliani et al. , 2. dan yang tidak berpengaruh (Mendur et al. , 2. efektivitas influencer yang bergantung pada kredibilitas dan fit, bukan sekadar jumlah pengikut (Sari et al. , 2. Dengan terhadap ketiga stimulus pada konteks kuliner luring yang relevan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Profil Responden Karakteristik Keterangan Frekuensi Presentase Jenis Laki-laki Kelamin Perempuan Usia 16-19 tahun 23 20-23 tahun 160 24-26 tahun 17 Sumber: Data diolah peneliti . Penelitian ini melibatkan 200 responden yang merupakan bagian dari Generasi Z, aktif bersosial media, dan pernah melihat konten mengenai destinasi wisata kuliner G-Walk. Berdasarkan karakteristiknya, mayoritas responden adalah perempuan . ,7%), sedangkan laki-laki . 3%). Dari sisi usia, responden didominasi oleh kelompok usia 20-23 tahun . %), kemudian usia 16-19 tahun . 5%), dan usia 24-26 tahun . 5%). Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. November 2025, pp 367-378 Pengaruh Content Marketing. Price Perception dan Influencer terhadap Impulsive Buying Gen-Z di Destinasi Wisata Kuliner (Studi Kasus G-Walk Surabay. (Lorenzia Aik. Tabel 2. Uji Validitas Variabel Item Pertanyaan r-hitung X1. X1. X1. Content Marketing X1. X1. X1. X2. X2. Price Perception X2. X2. X3. X3. Influencer X3. X3. Impulsive Buying Sumber: Data diolah peneliti . Tabel di atas menunjukkan bahwa seluruh item pernyataan dinyatakan valid, karena setiap item pada masing-masing variabel memiliki nilai r-hitung yang lebih besar dari r-tabel . ,1. Dengan demikian, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikatakan memenuhi syarat validitas dan layak digunakan sebagai alat ukur dalam proses pengumpulan data. Tabel 2. Uji Realiabilitas Variabel CronbachAos Alpha Content Marketing Price Perception Influencer Impulsive Buying Sumber : Data diolah peneliti . Tabel di atas menunjukkan semua item pernyataan adalah reliabel karena r-tabel Nilai Alpha semua variabel memiliki alpha > nilai alpha . Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. November 2025, pp 367-378 cronbachAos Pengaruh Content Marketing. Price Perception dan Influencer terhadap Impulsive Buying Gen-Z di Destinasi Wisata Kuliner (Studi Kasus G-Walk Surabay. (Lorenzia Aik. Gambar 3. Uji Normalitas P-Plot Sumber: Data diolah peneliti . Pada Gambar 3 tersebut, titik-titik pada grafik Normal P-P Plot terlihat menunjukkan bahwa distribusi residual mendekati distribusi normal. Pola penyebaran yang tidak menyimpang secara signifikan dari garis diagonal normalitas dalam model regresi telah Tabel 3. Uji Multikolinearitas Variabel Tolerance Content Marketing Price Perception Influencer Sumber: Data diolah peneliti . Tabel di atas menunjukkan bahwa semua variabel bebas tidak memiliki masalah multikolinearitas, karena seluruh variabel memiliki nilai Variance Inflation Factor (VIF) kurang dari 10 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,10. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan linear yang kuat antar variabel bebas, sehingga model regresi Tabel 4. Uji Linearitas Uji Linearitas Variabel Deviation from Dependen (Y) dengan Linearity Variabel Independen Content Marketing (X. Price Perception (X. Influencer (X. Sumber: Data diolah peneliti . Berdasarkan hasil uji linearitas, nilai signifikansi pada Deviation from Linearity masing-masing independen, yaitu Content Marketing (X. = 0,089. Price Perception (X. = 0,574. Influencer (X. 0,609, menunjukkan bahwa seluruh nilai tersebut VIF Linearity lebih besar dari 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat penyimpangan signifikan dari linearitas antara variabel independen dengan variabel dependen (Impulsive Buyin. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara masing-masing Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. November 2025, pp 367-378 Pengaruh Content Marketing. Price Perception dan Influencer terhadap Impulsive Buying Gen-Z di Destinasi Wisata Kuliner (Studi Kasus G-Walk Surabay. (Lorenzia Aik. dependen dalam model regresi ini bersifat linear, dan Tabel 5. Uji Koefisien Determinasi R Square Adjusted R Square Sumber: Data diolah peneliti . Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai Adjusted R Square sebesar 34,5%, yang berarti bahwa variabel pembelian impulsif dapat dijelaskan sebesar 34,5% oleh variabel content marketing, price perception, dan influencer. Sementara itu, sisanya sebesar 65,5% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model atau variabel yang tidak dianalisis dalam penelitian ini. Tabel 6. Uji t Model Constant Content Marketing Price Perception Influencer Sumber: Data diolah peneliti . Berdasarkan hasil uji T yang disajikan dalam tabel, variabel konten marketing (X. menunjukkan nilai thitung . > t-tabel . , serta nilai signifikansi . < signifikansi . Temuan ini mengindikasikan bahwa content marketing memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku impulsive buying Generasi Z di destinasi wisata kuliner G-Walk. Selanjutnya, variabel persepsi harga (X. memperoleh nilai t-hitung . > t-tabel . , dengan nilai signifikansi 0,011, yang lebih kecil dari 0,05. Ini menunjukkan bahwa persepsi harga memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku pembelian impulsif. Artinya, harga yang dianggap wajar atau menarik oleh konsumen dapat memotivasi mereka untuk melakukan impulsive buying, terutama dalam konteks wisata kuliner. Terakhir, variabel influencer (X. memiliki nilai t-hitung . > t-tabel . dengan nilai signifikansi 0,048, yang juga lebih kecil dari 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa influencer memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku impulsive buying Generasi Z. Keberadaan influencer dalam promosi produk atau layanan dapat memicu keputusan pembelian yang lebih cepat dan tanpa perencanaan, terutama di kalangan terpengaruh oleh opini orang lain di media Tabel 7. Uji F Mean Square Sumber: Data diolah peneliti . Berdasarkan hasil uji F, diketahui bahwa semua variabel bebas memiliki Sig. Sig. nilai F-hitung sebesar 35,933 > F-tabel sebesar 3,04, serta nilai signifikansi Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. November 2025, pp 367-378 Pengaruh Content Marketing. Price Perception dan Influencer terhadap Impulsive Buying Gen-Z di Destinasi Wisata Kuliner (Studi Kasus G-Walk Surabay. (Lorenzia Aik. sebesar 0,000 < signifikansi 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa marketing, persepsi harga, dan influencer impulsive buying Generasi Z di destinasi wisata kuliner G-Walk. Penelitian ini menunjukkan bahwa content marketing mampu meningkatkan pembelian impulsif. Konten yang cenderung relevan dan jelas, serta mudah diakses dan konsisten, dapat memicu Gen-Z dan mendorong keputusan Hal ini didukung juga dengan Lailawati . menyatakan bahwa konten marketing sangat penting jika digunakan untuk pembelian mendadak (Lailiawati, 2. Dengan demikian, hipotesis pertama (H. dapat dinyatakan berpengaruh signifikan. Price perception juga terbukti mempengaruhi impulsive buying Gen-Z. Dalam konteks pembelian impulsif, persepsi harga berperan sebagai stimulus yang signifikan, karena konsumen cenderung melakukan evaluasi terhadap ekspektasi nilai yang mereka miliki. Ketika harga dianggap wajar atau menguntungkan, hal ini dapat memicu keputusan pembelian yang bersifat spontan tanpa perencanaan sebelumnya (Darmawan, 2. Diperkuat juga oleh Natasya dan Tarigan . , yang menunjukkan bahwa persepsi harga memiliki dampak signifikan pada keputusan pembelian konsumen (Natasya & Tarigan, 2. Maka, hipotesis kedua (H. dapat diterima. Influencer pengaruh signifikan terhadap impulsive buying Gen-Z. Sebagai generasi digital, rekomendasi influencer yang dianggap autentik dan kredibel. Aktivitas seperti unboxing dan testimoni emosional dapat membangkitkan dorongan spontan untuk Sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Handriani et al yang menunjukkan bahwa influencer memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku pembelian impulsif (Handriani et al. Oleh karena itu, hipotesis ketiga (H. dapat dinyatakan berpengaruh KESIMPULAN DAN SARAN Berlandaskan pengujian hipotesis, penelitian ini menunjukkan bahwa content marketing, berpengaruh signifikan terhadap perilaku impulsive buying Generasi Z pada konteks kuliner luring di G-Walk Surabaya. Nilai Adjusted RA sebesar 0,345 menandakan bahwa model mampu menjelaskan sebagian variansi perilaku, 65,5% dipengaruhi faktor lain di luar model. Secara substansial, hasil ini memperkaya rangsangan pemasaran diproses oleh konsumen muda dalam lingkungan destinasi kuliner yang padat isyarat Kontribusi teoretis penelitian ini terletak pada pemodelan simultan tiga stimulus pemasaran dalam kerangka SAe OAeR . eadaan interna. dan akhirnya menghasilkan respons perilaku. Integrasi ini membantu menjelaskan ketidakkonsistenan temuan terdahulu dengan menunjukkan bahwa efek masing-masing stimulus menjadi lebih jelas ketika diuji bersama dalam satu konteks empiris. Dari sisi praktis, implikasi utama adalah perlunya perancangan konten yang menekankan vividness, interaktivitas, dan menumbuhkan arousal dan nilai yang Pengelolaan persepsi harga perlu menjaga keadilan harga melalui transparansi dan pengujian penawaran berbatas waktu yang relevan dengan karakter keputusan cepat pada Generasi Pemilihan influencer hendaknya berlandaskan kredibilitas dan kesesuaian Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. November 2025, pp 367-378 Pengaruh Content Marketing. Price Perception dan Influencer terhadap Impulsive Buying Gen-Z di Destinasi Wisata Kuliner (Studi Kasus G-Walk Surabay. (Lorenzia Aik. audiens, disertai penyingkapan yang jelas untuk mempertahankan kepercayaan. Rekomendasi ini bersifat operasional namun tetap berada dalam koridor etik dan tidak dimaksudkan sebagai promosi. Penelitian ini memiliki keterbatasan potong-lintang membuka peluang bias metode bersama, sementara pemilihan sampel purposif pada satu lokasi spesifik membatasi daya Nilai koefisien determinasi yang moderat juga mengindikasikan masih adanya konstruk psikologis dan situasional yang belum terakomodasi. Arah penelitian lanjutan sebaiknya menguji mediator psikologis seperti arousal. FOMO, nilai yang dirasakan, interaksi parasosial, dan kepercayaan untuk menjelaskan jalur pengaruh dari stimulus pemasaran menuju perilaku Kedua, mengevaluasi moderator pada tingkat individu misalnya trait impulsivity (UPPS), self-control, need for uniqueness atau need for cognition, serta sensitivitas harga dan moderator pada kualitas/kesesuaian konten, keadilan harga, serta kredibilitas influencer. REFERENCES