Buletin Al-Turas Mimbar Sejarah,Sastra,Budaya, dan Agama - Vol. XXi No. Juli 2017 Pemertahanan Bahasa Jawa Dialek Banten pada Guyub Tutur di Kelurahan Sumur Pecung Serang Alfi Syahriyani1 Abstract This research aims to investigate the degree to which the Banten Dialect of Javanese Language in Sumur Pecung Village. Serang. Banten is maintained by its speaker. It employs the concept of language maintenance and shift from Fishman . , and language attitude from Garvin and Mathiot . The method used in this study is the qualitative method. The main corpus of the data was extracted from answers of the respondents by means of a survey questionnaire, interview, participant observations, and the perusal of documentary. The result shows that there has been a language shift among the BJB speech community in Sumur Pecung Village, although the language attitude of the speech community tends to be positive. It is also found that the language shift happens due to several factors, such as age, interactions, economic development, and education development. Keywords: the Banten Dialect of Javanese Language, language maintenance, language shift, language attitude, the factors of language shift. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana Dialek Banten pada Bahasa Jawa di Desa Sumur Pecung. Serang. Banten dipelihara oleh si penutur. Ini menggunakan konsep dari Fishman . tentang perawatan dan pergeseran bahasa, dan sikap bahasa dari Garvin dan Mathiot . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Korpus data utama diambil dari jawaban responden melalui kuesioner survei, wawancara, observasi partisipan, dan pembacaan dokumenter. Hasilnya menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran bahasa di antara komunitas bahasa BJB di Desa Sumur Pecung, walaupun sikap komunitas bahasa ujaran cenderung positif. Dan juga ditemukan bahwa pergeseran bahasa terjadi karena beberapa faktor, seperti usia, interaksi, perkembangan ekonomi, dan pengembangan pendidikan. Kata Kunci: Banten. Dialek Bahasa Jawa, perawatan bahasa, pergeseran bahasa, sikap bahasa, faktor-faktor pergeseran bahasa. Fakultas Adab dan Humaniora. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, email: alfi. syahriyani@uinjkt. Alfi Syahriyani : Pemertahanan Bahasa Jawa Dialek Banten pada Guyub Tutur di Kelurahan Sumur Pecung Serang Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang terdiri dari ribuan pulau dengan suku bangsa yang beragam. Keanekaragaman tersebut bahkan menjadikan Indonesia disebut sebagai laboratorium Dalam pasal 32 UUD 1945 disebutkan bahwa AuNegara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasionalAy. Artinya, kedudukan bahasa daerah di Indonesia sangat penting karena merupakan warisan kekayaan nasional. Namun perkembangannya, bahasa daerah justru semakin terpinggirkan. Ada kecenderungan bahwa orangtua masa kini tidak lagi mewariskan bahasa daerah kepada anak-anaknya karena beberapa faktor, seperti perkembangan pendidikan, pergaulan, asimilasi, dan lain sebagainya. Holmes menggambarkan bahwa seringkali guyub tutur dengan bahasa yang berbeda dianggap sebagai salah satu ancaman bagi keberlangsungan bahasa masyarakat mayoritas (Holmes, 2001:. Akibatnya, terjadilah fenomena pergeseran bahasa . anguage shif. yang ditandai dengan adanya perubahan bahasa kelompok minoritas ke bahasa kelompok mayoritas. Kelompok yang memiliki bahasa yang lebih dominan enggan untuk mengadopsi bahasa kelompok minoritas (Holmes, 2001:. Apabila tidak ada tindakan revitalisasi, kenyataan ini bisa jadi mengarah pada kematian bahasa . anguage deat. Padahal. Crystal menyatakan bahwa kematian bahasa adalah sebuah tragedi karena setiap satu bahasa mati, dunia kehilangan para filsuf, antropolog, pendongeng, psikolog, ahli bahasa, dan penulis (Crystal, 2000:. Dalam kajian sosiolinguistik, penelitian mengenai pemertahanan bahasa telah banyak dilakukan. Misalnya Muhadjir . yang meneliti bahasa Mentawai. Sumarsono . yang mengkaji bahasa Melayu Loloan. Siregar, dkk. yang meneliti pemertahanan dan pergeseran bahasa beberapa kelompok etnis di Medan. Wantania tentang bahasa Tonsea. Lukman . yang meneliti para imigran Jawa di Sulsel. Grimes . dari SIL internasional. Wilian . yang mengkaji tentang pemertahanan bahasa Sumbawa-Sasak di Lombok, dan Istimurti . tentang pemertahanan Bahasa Jawa dialek Banten. Dari semua penelitian yang telah dilakukan, pergeseran bahasa terjadi karena adanya persaingan bahasa antara bahasa daerah dengan bahasa Indonesia. Pemertahanan dan pergeseran bahasa sangat berkaitan dengan perubahan perilaku, baik psikologis maupun sosial-budaya, terutama pada masyarakat dwibahasa . dan anekabahasa . Pada masyakarat dwibahasa dan anekabahasa, kontak bahasa sangat mungkin terjadi sehingga mengakibatkan terjadinya persaingan bahasa. Kontak bahasa juga dapat terjadi antara lain karena ada imigrasi, hubungan budaya yang erat, dan melalui pendidikan (Mesthrie, dkk. , 2. Berkaitan dengan kontak dan persaingan bahasa, wilayah Serang. Banten juga merupakan wilayah dengan masyarakat dwibahasa. Bahasa ibu . other tongu. sebagian besar penduduk Serang adalah bahasa daerah, yaitu Bahasa Jawa dialek Banten (BJB), sedangkan bahasa kedua mereka adalah bahasa Indonesia (BI). Sebagian juga menjalin kekerabatan atau berinteraksi secara langsung dengan etnis Sunda sehingga bisa berbicara bahasa Sunda. Buletin Al-Turas Mimbar Sejarah,Sastra,Budaya, dan Agama - Vol. XXi No. Juli 2017 Bahasa Jawa dialek Banten (BJB) merupakan salah satu kantung bahasa Jawa yang terancam keberadaannya. Wilayah persebaran BJB meliputi Kabupaten Serang. Kota Serang. Kota Cilegon, dan daerah barat Kabupaten Tangerang. Keempat wilayah tersebut telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam bidang sosial-ekonomi, sehingga generasi muda di wilayah tersebut cenderung lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia (BI) dibandingkan dengan BJB. sebagai bahasa pengantar mendominasi semua aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, pendidikan, sosial, maupun Alhasil, peran bahasa Indonesia secara tidak langsung menggantikan peran bahasa daerah di ranah-ranah publik. Kasus pergeseran bahasa Jawa salah satunya diasumsikan terjadi pada guyub tutur yang berdomisili di Kelurahan Sumur Pecung. Kecamatan Serang. Kota Serang. Banten. Di kelurahan tersebut terdapat jalan protokol Kota Serang yang diarahkan sebagai pusat perdagangan dan jasa. Menurut Aitchison, perubahan lingkungan memberikan pengaruh yang besar bagi situasi bahasa dalam suatu guyub tutur tertentu (Aitchison, 2001: 3-. Beberapa asumsi lama mengatakan bahwa perubahan bahasa berjalan sangat lambat sehingga sulit untuk diobservasi. Akibatnya, terjadinya perubahan bahasa seringkali tidak disadari. Pada guyub tutur di Kelurahan Sumur Pecung, ada kemungkinan hal ini terjadi sehingga saya merasa perlu untuk melakukan penelitian mengenai pemertahanan dan pergeseran BJB di daerah tersebut. Serang, khususnya di kelurahan Sumur Pecung. Permasalahan ini selanjutnya memunculkan sejumlah pertanyaan penelitian, yaitu: . Pada ranah apa saja BJB digunakan oleh guyub tutur di Kelurahan Sumur Pecung Serang?. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan pemertahanan dan pergeseran BJB pada guyub tutur di Kelurahan Sumur Pecung?, . Bagaimanakah sikap bahasa guyub tutur di Kelurahan Sumur Pecung Serang terhadap BJB? . Kajian Teori . Kedwibahasaan Keragaman suku di Indonesia memunculkan konsekuensi pada praktik pemakaian bahasa masyarakatnya. Beberapa bahasa di Indonesia cenderung mengalami asimilasi dengan bahasa lain di sekitarnya. Karena adanya interaksi antara satu penutur bahasa dengan penutur bahasa lain, muncul masyarakat dwibahasa atau bilingual. Edwards . , menyatakan bahwa konsep kedwibahasaan mengacu pada taraf penguasaan seseorang atas bahasa kedua dalam taraf yang paling rendah . ekedar dapat memahami sala. , sampai tahap yang paling tinggi, yaitu menguasai dua bahasa dengan sama baiknya. Pada tingkatan tertentu, kondisi bilingualisme dapat menciptakan masyarakat multilingual atau multibahasa, yaitu merujuk pada seseorang atau sekelompok orang yang menguasai dua bahasa atau lebih. Terlepas dari banyaknya pandangan para pakar mengenai konsep kedwibahasaan, mereka sepakat bahwa keduanya timbul karena adanya pertemuan antara satu komunitas tutur Dari paparan di atas, penelitian dengan komunitas tutur lain yang berbeini menjelaskan sejauh mana pemertah- da bahasa . ontak bahas. anan dan pergeseran bahasa di wilayah Alfi Syahriyani : Pemertahanan Bahasa Jawa Dialek Banten pada Guyub Tutur di Kelurahan Sumur Pecung Serang . Diglosia Konsep diglosia pada awalnya merujuk pada dialek dan ragam bahasa pada satu komunitas tutur . Fishman . kemudian mengembangkan pengertian diglosia dengan merujuk kepada situasi kebahasaan di mana tiap-tiap bahasa atau ragam bahasa, baik pada masyarakat ekabahasa, dwibahasa, atau anekabahasa mempunyai peran dan fungsi yang berbeda-beda. Dengan kata lain, diglosia merupakan keadaan di mana masyarakat mempunyai dua variasi bahasa dari satu bahasa yang digunakan berdampingan. Masing-masing bahasa tersebut memiliki peran dan fungsinya sendiri Lebih lanjut, menurut Fishman, interaksi antara diglosia dan kedwibahasaan membentuk empat tipe masyarakat, yaitu: Masyarakat dengan kdwibahasaan dan diglosia, masyarakat dengan kdwibahasaan tanpa diglosia, masyarakat dengan diglosia tanpa kedwibahasaan, masyarakat tanpa diglosia dan tanpa kedwibahasaan. (Fishman, 1972: 91-106. Mestrhrie dkk. , 2000:. Ranah Inti dari pengertian diglosia adalah bahwa terdapat dua variasi bahasa yang digunakan terpisah sesuai dengan Satu variasi digunakan dalam kondisi tertentu, sedangkan variasi lainnya digunakan dalam kondisi yang Kondisi semacam inilah yang disebut dengan ranah . Fishman . berpendapat bahwa ranah berkaitan dengan kondisi di mana seorang individu dituntut untuk memilih bahasa serta topik pembicaraan tertentu sesuai dengan norma sosial budaya guyub tutur yang bersangkutan. Misalnya, ketika seorang ayah berbicara dengan anaknya di meja makan, maka percapakan yang muncul adalah percakapan yang santai. Hubungan yang terjalin juga merupakan hubungan orangtua dan anak. Hal ini disebut dengan ranah keluarga. Namun, ketika ketika di sekolah, jika kebetulan ayahnya adalah guru sang anak, maka ragam bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa baku. Hubungan yang terjadi juga adalah hubungan antara guru dan murid. Situasi ini disebut dengan ranah pendidikan. Pemertahanan dan Pergeseran Bahasa Menurut Fasold . 4:213. pemertahanan bahasa adalah hasil dari proses pemilihan bahasa dalam jangka waktu yang sangat panjang. Pemertahanan bahasa lebih menyangkut bagaimana suatu komunitas tutur tertentu mempertahankan bahasa ibunya. Pemertahanan bahasa juga berkaitan dengan masalah sikap atau penilaian terhadap suatu bahasa untuk tetap digunakan di tengah-tengah bahasa-bahasa Dalam lingkungan yang plural, penutur akan cenderung memilih bahasa yang dianggap tepat untuk memahami situasi komunikasi di tempat mereka Menurut Fishman . , aktivitas komunikasi tersebut bergantung pada lokasi, topik, dan partisipan. (Fishman 1972. Hymes 1. Bertahan atau tidaknya bahasa suatu komunitas tutur memunculkan adanya peristiwa pergeseran bahasa . anguage shif. Lieberson . menyatakan bahwa hampir semua kasus pergeseran bahasa dalam masyarakat terjadi melalui peralihan antargenerasi dalam satu masyarakat dwibahasa. Namun, ada juga Buletin Al-Turas Mimbar Sejarah,Sastra,Budaya, dan Agama - Vol. XXi No. Juli 2017 masyarakat dwibahasa yang dapat tetap sikap. Garvin dan Mathiot, dikutip oleh mempertahankan bahasanya selama be- Chaer . mengemukakan beberapa rabad-abad. ciri sikap bahasa, yaitu kesetiaan bahasa . anguage loyalt. , kebanggan bahasa Fishman . dalam kajian- . anguage prid. , dan kesadaran adanya nya menyatakan bahwa pemertahanan norma bahasa . wareness of the nor. bahasa terjadi tidak semata-mata kare- Pertama, kesetiaan bahasa . anguage na kesetiaan yang tinggi atau perasaan loyalt. yang mendorong masyarakat yang kuat terhadap nasionalisme dalam suatu bahasa mempertahankan bahasuatu kelompok. Pada masyarakat desa, sanya dan apabila perlu mencegah adanpemertahanan bahasa cenderung tinggi ya pengaruh bahasa lain. Tidak adanya atau tidak mengalami pergeseran karena dorongan untuk mempertahankan kefaktor-faktor lain. Pada kasus pergeser- mandirian bahasanya menandakan bahan bahasa, tidak berarti juga bahwa ba- wa kesetiaan berbahasa penutur tersebut hasa dengan prestise yang tinggi dapat lemah. Hal ini dikategorikan sebagai menggantikan bahasa dengan prestise aspek kognitif, yaitu aspek yang diguyang rendah, sedangkan dilihat dari nakan manusia untuk berpikir. Kedua, sisi gender, tingkat pergeseran bahasa, kebanggaan bahasa . anguage prid. baik pada perempuan maupun lelaki yang mendorong masyarakat mengemjuga bisa jadi rendah atau tinggi karena bangkan bahasa dan menggunakannya faktor-faktor tertentu. Dari kasus-kasus sebagai lambang identitas dan kesatuan yang ada. Mesthrie mengutip Giles et masyarakat. Hal ini berkaitan dengan Appel dan Muysken, 1987: 32- aspek afektif yang dihubungkan dengan 45 merangkum faktor-faktor penyebab sikap positif dan negatif, menyenangkan pergeseran bahasa, seperti perubahan atau tidak menyenangkan, bangga atau kondisi ekonomi, status, demografi, dan tidak bangga. Jika seseorang mengalidukungan institusional. hkan rasa bangganya terhadap satu bahasa ke bahasa lain, ia termasuk orang . Sikap Bahasa yang memiliki sikap bahasa yang negatif. Misalnya, di masa penjajahan, teDinamika pemertahanan dan patnya di tahun 1950-an, banyak orang pergeseran bahasa melahirkan pengerIndonesia yang lebih bangga berbahasa tian mengenai sikap bahasa. Fishman Belanda dibandingkan dengan bahasa . mengatakan bahwa pengakuan Indonesia karena dianggap lebih memisikap terhadap bahasa merupakan topik liki prestis. Ketiga, kesadaran adanya yang sangat penting untuk mengkaji norma bahasa . wareness of the nor. perilaku sosial melalui bahasa. Mengiyang mendorong orang menggunakan kuti alur pemikiran Alport yang dikutip bahasanya dengan cermat dan santun. oleh Suhardi . , sikap didefinisikan dan merupakan faktor yang sangat besebagai Aukesiagaan mental dan saraf, sar pengaruhnya terhadap perbuatan, tersusun melalui pengalaman yang yaitu kegiatan menggunakan bahasa memberikan arah atau pengaruh dina. anguage us. Pada bagian ini, aspek mis kepada tanggapan seseorang terhakonatif atau perilaku yang berpengaruh. dap semua benda dan situasi yang berDengan demikian, dapat disimpulkan hubungan dengan kesiagaan ituAy. bahwa sikap bahasa memengaruhi sesSelanjutnya, berkaitan dengan eorang untuk menggunakan atau memilih bahasa. Penelitian ini melihat apakah Alfi Syahriyani : Pemertahanan Bahasa Jawa Dialek Banten pada Guyub Tutur di Kelurahan Sumur Pecung Serang guyub tutur mengalihkan sikap positif ga, pekerjaan, pendidikan, keagamaan, tersebut atau dengan kata lain bersikap ketetanggaan, transaksi, transportasi, negatif terhadap bahasanya. pemerintahan, dan ranah luar rumah. Penelusuran dokumen berupa data . Metode demografis Kelurahan Sumur Pecung yang diperoleh dari kantor Kelurahan di Penelitian ini menggunakan Sumur Pecung. pendekatan sosiolinguistik, yaitu suatu pendekatan yang mengkaji bahasa da. Teknik Pengumpulan dan lam kaitannya dengan masyarakat, atau Pengolahan Data perilaku kelompok, bukan perorangan (Wardhaugh dan Fuller, 2015:. Dalam penelitian ini pengumMetode yang dipergunakan dalam pe- pulan data dilakukan dengan beberapa nelitian ini adalah metode yang meng- cara, yaitu: . Kuesioner, yaitu berupa gabungkan pendekatan kuantitatif dan daftar tanyaan yang disusun sesuai denkualitatif untuk melihat kecenderun- gan tujuan penelitian. Susunan daftar gan pilihan bahasa yang digunakan dan tanyaan yang berisikan tentang pilihan menjelaskan fakta yang sesungguhnya bahasa responden dengan merumuskan terjadi di lapangan. pertanyaan siapa berbicara kepada siapa, apa topik pembicaraannya, dan daPenelitian dilakukan di sembi- lam situasi apa. Wawancara yang berlan titik perkampungan di Kelurahan tujuan untuk menggali informasi yang Sumur Pecung. Lokasi penelitian yang berkaitan dengan masalah penelitian. dipilih didasarkan pada pertimbangan Observasi yang dilakukan dengan panbahwa ke sembilan titik tersebut adalah gamatan terlibat, pencatatan percakawilayah perkampungan yang masih ban- pan, catatan harian, serta kajian kasus. yak terdapat penduduk asli, tapi dengan . Penelusuran dokumen dengan mekarakteristik yang lebih banyak berint- nelusuri dokumen untuk mendapatkan eraksi dengan masyarakat yang hetero- data tentang kondisi geografis dan degen . mografis atau sosial budaya masyarakat di Kelurahan Sumur Pecung Serang. Sumber Data Sebanyak 91 responden didata Data yang dianalisis adalah in- berdasarkan jenis kelamin, usia, status formasi yang diperoleh dari kuesioner, pernikahan, pendidikan, pekerjaan, dan wawancara, dan observasi mengenai tempat lahir. Namun demikian, variabel pemakaian dan sikap bahasa guyub tu- terikat yang digunakan dalam pengotur yang berdomisili di Kelurahan Su- lahan data terbatas pada usia, sehingga mur Pecung. Kecamatan Serang. Kota analisis dibatasi hanya pada kelompok Serang. Banten. Informasi tersebut di- umur. Tahap kedua, yaitu tabulasi data, gali dari beberapa sumber, yaitu: . In- yaitu dengan memasukkan data ke daforman yang terdiri dari pria dan wanita lam tabel-tabel dan mengatur angka-anyang masih sehat dan tidak pikun, mulai gka sehingga dapat dihitung jumlah kadari usia sekolah dasar hingga 60 tahun susnya dalam berbagai kategori. Tahap ke atas dengan latar belakang sosial yang terakhir, yaitu perhitungan persentase berbeda-beda. Peristiwa komunikasi berdasarkan jumlah jawaban yang madalam pelbagai ranah, seperti keluar- suk. Buletin Al-Turas Mimbar Sejarah,Sastra,Budaya, dan Agama - Vol. XXi No. Juli 2017 . Teknik Analisis Data Variabel yang diteliti dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen dan dependen. Data responden merupakan variabel independen, sedangkan pemakaian dan pilihan bahasa dan sikap bahasa merupakan variabel dependen yang menentukan tingkat pemertahanan atau pergeseran bahasa. Pengolahan data dilakukan dengan terlebih dahulu mengkategorisasikan data yang berasal dari kuesioner survei, wawancara, dan pengamatan terlibat. Kondisi Kebahasaan di Kelurahan Sumur Pecung Kelurahan Sumur Pecung Serang terletak di daerah Banten Utara. Terdapat dua bahasa daerah yang dominan digunakan di wilayah ini, yaitu Bahasa Jawa dialek Banten (BJB) dan Bahasa Sunda. Dalam sejarahnya. Bahasa Jawa Banten (BJB) mulai dituturkan pada zaman Kesultanan Banten di abad Istimurti . 9: . mengutip Iskandarwati dkk . menjelaskan bahwa BJB secara tidak langsung berasal dari bahasa Jawa dialek Solo. Demak. Ada beberapa tahap analisis dan Yogya. yang dilakukan. Pertama, melakukan skoring atau pemberian angka terhadap Para pembesar Kerajaan Dejawaban responden yang sudah diolah mak mendirikan Kesultanan Banten dan dalam bentuk tabel. Terakhir, mengin- menjalin hubungan yang akrab dengan terpretasikan data dalam bentuk per- wilayah berlatar belakang Jawa. Internyataan-pernyataan verbal yang sesuai aksi atau kontak dengan penutur bahadengan permasalahan penelitian. Pada sa di daerah pesisir Banten, yang pada bagian analisis, peneliti menuliskan saat itu menjadi jalur utama perdagansimbol untuk bahasa Jawa dialek Bant- gan antarpulau, membuat bahasa Jawa en (BJB), bahasa Indonesia (BI), baha- yang digunakan masyarakat Banten tersa campur Indonesia dan Jawa (BC), pengaruh dengan bahasa lain. Akibatndan bahasa daerah lain (BD). Terakhir, ya, dalam perkembangannya. BJB lebih membuat kesimpulan berdasarkan data mendekati dialek Cirebon, terutama dayang telah diinterpretasi. lam hal lagu tuturan dan lafalnya. Bahasa Jawa Banten memiliki dua tingkatan, yaitu tingkatan bebasan . dan standar. Bahasa ini menjadi bahasa utama Kesultanan Banten . ingkat bebasa. yang menempati Keraton Surosowan. Bahasa ini juga menjadi bahasa sehari-hari warga Banten Lor (Banten Utar. Tabel 1. Contoh Kalimat BJB dalam Berbagai Tingkatan BJB Tingkat Bebasan BJB Tingkat Standar Bahasa Indonesia Ibune sampun Ibune wis Ibunya sudah pergi? A A Mau kemana. Kang? A Arep ning endi. Kang? Umahe Pak Juned ning Ayun ning pundi. Kang? Permios, geriyane Pak Juned ning Permisi, rumahnya Pak Juned di mana? A Alfi Syahriyani : Pemertahanan Bahasa Jawa Dialek Banten pada Guyub Tutur di Kelurahan Sumur Pecung Serang Hasil Dan Pembahasan Berkaitan dengan pilihan bahasa, dalam penelitian ini responden diminta mengisi kuesioner tentang bahasa apa yang mereka gunakan, kepada siapa . nggota keluarga, tetangga, rekan kerja, dl. , dalam topik apa . endidikan, ekonomi, politik, sehari-hari, dl. , dan dalam ranah apa saja . anah dalam rumah, ranah luar rumah, ranah ketetanggaan, ranah keagamaan, ranah pemrintahan, ranah transaksi, ranah pendidikan, ranah pekerjaa. , serta situasi saat kesal, marah, atau tersinggung, dan tidak sadar . ermimpi, menghitung dalam hat. Dari 91 responden yang mengisi kuesioner, diketahui bahwa bahasa yang paling dominan digunakan adalah BI. Pola Pemakaian dan Pilihan Bahasa Kajian tentang pemertahanan dan pergeseran bahasa berkaitan dengan pola penggunaan dan pilihan bahasa masyarakat dalam berinteraksi. Fishman . , mengatakan bahwa pola penggunaan dan pilihan bahasa berhubungan dengan apa yang disebut ranah kebahasaan, yaitu semacam perilaku pemilihan dan penggunaan bahasa dalam masyarakat bilingual atau multilingual yang dikaitkan dengan konteks sosial atau latar pembicaraan, partisipan, topik, dan fungsi komunikasi. Tabel di bawah ini merupakan jawaban responden saat ditanya bahasa apakah yang paling serig digunakan. Tabel 2. Bahasa yang Paling Sering Digunakan Sehari-hari Berdasarkan Usia Responden Usia Responden Jml BJB % 1 <20 tahun 2 21-40 tahun 3 >40 tahun Jumlah Persentase Buletin Al-Turas Mimbar Sejarah,Sastra,Budaya, dan Agama - Vol. XXi No. Juli 2017 Tabel di atas memperlihatkan bahwa dari 91 responden, sebanyak 58,2% menggunakan BI sebagai bahasa yang paling sering digunakan, disusul dengan BJB yaitu sebanyak 27,5%. BC sebanyak 12%, dan BD sebanyak 2,2%. Responden kategori usia orangtua memiliki tingkat pemertahanan BJB yang paling tinggi dibandingkan dengan usia dewasa serta anak-anak dan remaja, yaitu sebanyak 37,7%. Namun demikian, penggunaan BJB dan BI pada responden usia orangtua dalam tabel jumlahnya seimbang, yaitu masing-masing sebanyak 12 orang atau 37,7%. Akan tetapi, menariknya, saat peneliti bertanya bahasa apa yang dominan digunakan pada pelbagai ranah, seperti ranah dalam rumah, ranah luar rumah, ranah ketetanggaan, ranah keagamaan, ranah pemerintahan, ranah pekerjaan, dan ranah pendidikan, responden usia orangtua lebih banyak yang menggunakan BJB dibandingkan dengan BI. BD, dan BC. Para orangtua paling dominan menggunakan BI saat berbicara dengan mitra tutur anak-anak dan cucu mereka, namun tidak dengan orangtua mereka. Alasan yang dikemukakan oleh mereka adalah bahwa BJB merupakan bahasa ibu mereka yang sudah mereka dapat sejak kecil, sehingga bahasa tersebut melekat dan bertahan. Selanjutnya, berbeda dengan responden usia orangtua, responden usia dewasa dalam tabel tersebut lebih dominan menggunakan BI. Akan tetapi, rseponden usia dewasa juga paling banyak menggunakan BC . ,7%) dibandingkan dengan usia orangtua . ,6%), anak-anak dan remaja . ,9%). Jika diteliti berdasarkan ranah, responden usia dewasa memang lebih dominan menggunakan BI dalam semua ranah, kecuali ranah keagamaan yang lebih di- dominasi dengan BJB, dan ranah transaksi yang didominasi dengan BC (BJB campur BI). Alasan yang dikemukakan adalah bahwa bahasa pengantar dalam pengajian-pengajian di mesjid adalah bahasa Jawa sehingga mereka menyesuaikan dengan kondisi, sementara ranah transaksi merupakan ranah yang lebih plural, sehingga sebagian besar responden dewasa menggunakan BJB yang dicampur dengan BI. Sedikit berbeda dengan responden usia dewasa, pemakaian BI pada responden usia anak-anak dan remaja sangat dominan yaitu sebanyak 24 orang . ,5%), dibandingkan dengan responden usia orangtua . ,7%) dan usia dewasa . ,9%). Jika dirinci dalam semua ranah, memang responden anak-anak dan remaja lebih dominan menggunakan BI pada semua ranah. Kalaupun sebagian kecil ada yang menggunakan BJB, mereka mengaku hanya bisa menggunakan BJB pada tingkatan standar . ukan babasan atau halu. Dari wawancara yang telah dilakukan, responden anak-anak mengaku kesulitan belajar BJB, terutama BJB dalam tingkatan babasan . karena tidak biasa dipraktikkan di dalam ranah rumah. Ranah dalam rumah merupakan benteng terakhir pertahanan bahasa seseorang (Istimurti, 2009: . Penelitian terhadap responden yang memiliki anak mengindikasikan bahwa kebanyakan dari mereka sengaja tidak mewariskan BJB kepada anak-anak mereka. Tabel di bawah ini menunjukkan pilihan bahasa kategori usia orangtua dan dewasa saat berbicara kepada anak-anak di ranah dalam rumah. Alfi Syahriyani : Pemertahanan Bahasa Jawa Dialek Banten pada Guyub Tutur di Kelurahan Sumur Pecung Serang Tabel 3. Pilihan Bahasa Terhadap Anak-anak di Ranah dalam Rumah Pada Responden Kategori Usia Orangtua dan Dewasa Usia Responden Jml BJB 1 21-40 tahun 2 >40 tahun Jumlah Dari tabel di atas, tampak bahwa pemakaian BI dominan digunakan terhadap anak. Sebanyak 15 responden usia dewasa . ,7%), dari 16 responden dewasa yang memiliki anak, memilih BI sebagai bahasa sehari-hari kepada anak di rumah. Hanya ada 1 orang . ,3%) yang menggunakan BJB. Sementara itu, pada responden usia orangtua, sebanyak 17 orang . ,5%) dari 26 orang responden yang memiliki anak juga dominan menggunakan BI. Dengan kata lain. BI sudah digunakan melintasi dua generasi. Dalam kuesioner, peneliti juga menyertakan pertanyaan tentang bahasa yang digunakan oleh responden terhadap anggota keluarga lainnya, seperti kerabat dan orangtua. Peneliti menemukan bahwa tingkat pemertahanan BJB saat berbicara kepada mereka yang lebih tua atau sebaya cenderung tinggi, tetapi tidak kepada yang lebih muda. Hal ini mengindikasikan terjadinya language shift . anguage shif. karena usia orangtua dan dewasa yang lebih banyak menggunakan BI saat berbicara kepada anak-anak. Begitupun anak-anak yang jauh lebih dominan menggunakan BI kepada orangtua mereka. 3 11,5 Faktor-faktor Penyebab Pergeseran BJB . Pergaulan Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara yang telah dilakukan, responden mengaku bahwa penggunaan BI yang lebih banyak dibandingkan BJB disebabkan karena faktor pergaulan. Karakteristik wilayah yang multilingual membuat mereka menggunakan BI sebagai jembatan untuk berinteraksi dengan masyarakat dari suku lain. Wilayah Kelurahan Sumur Pecung yang terletak di wilayah urban memiliki karakteristik masyarakat yang heterogen, sehingga pemakaian BI memudahkan mereka dalam berkomunikasi. Aktivitas ke luar daerah yang dialami oleh sebagian responden usia dewasa juga membuat tingkat pemertahanan BJB semakin . Perkembangan Ekonomi Menurut wawancara peneliti dengan beberapa responden dan informan yang dituakan, lingkungan yang heterogen atau banyak didatangi oleh pendatang membuat mereka mau tidak mau berbicara BI untuk memudahkan mereka dalam berinteraksi, menjalank- Buletin Al-Turas Mimbar Sejarah,Sastra,Budaya, dan Agama - Vol. XXi No. Juli 2017 an usaha, dan mendapatkan pekerjaan. Situasi jalan protokol yang diorientasikan untuk bisnis atau niaga, membuat para responden umumnya lebih sering menggunakan BI dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ranah pekerjaan dengan rekan beda suku, mereka menggunakan BI dan sebagian menggunakan BC atau mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa daerah . ang dalam hal ini adalah bahasa Sund. Dengan demikian, perkembangan ekonomi di wilayah yang didiami oleh guyub tutur memengaruhi tingkat pemertahanan BJB mereka. Perkembangan Pendidikan Kurang kokohnya pemertahanan BJB juga dapat dilihat dari upaya pewarisan bahasa dan budaya terhadap anak-anak mereka. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah dan interaksi dengan komunitas lintas suku membuat para responden enggan untuk aktif menggunakan BJB dalam lingkungan Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden usia orangtua dan dewasa ketika berbicara kepada anak- anak lebih dominan menggunakan BI. Hasil wawancara peneliti dengan para responden memperlihatkan bahwa sekolah sangat memengaruhi pilihan bahasa mereka. Para responden yang telah memiliki anak, berbicara BI dengan alasan agar anak-anak mereka mengerti pelajaran di sekolah. Mereka sadar bahwa pendidikan adalah eskalator untuk memperoleh kesejahteraan yang layak, sehingga anak-anak diarahkan untuk menggunakan BI di rumah dan di luar rumah demi melancarkan pendidikan . Sikap Bahasa Peneliti juga mencari tahu bagaimana sikap bahasa di kalangan guyub tutur Sumur Pecung Serang. Responden ditanya tentang beberapa hal terkait dengan tiga aspek dalam sikap bahasa, yaitu aspek kognitif, afektif, dan konatif. Hal ini dimaksudkan untuk mencari tahu adakah hubungan yang signifikan antara sikap bahasa dan tingkat pemertahanan bahasa. Ternyata, pada semua kategori usia, sikap bahasa mereka cenderung positif. Hal ini dapat dilihat dalam tabel di bawah ini: Alfi Syahriyani : Pemertahanan Bahasa Jawa Dialek Banten pada Guyub Tutur di Kelurahan Sumur Pecung Serang Tabel 4. Sikap Bahasa Guyub Tutur Kelurahan Sumur Pecung Serang Aspek Pertanyaan BJB wajib dihormati sebagai warisan Leluhur Kognitif BJB penting untuk tetap Dipergunakan BJB sebagai Penyangga Kebudayaan BJB sebagai penanda identitas Afektif BJB menunjukkan Keakraban Senang diajak berbicara BJB di luar kampung Bangga menguasai BJB Jawaban Sangat Setuju Setuju Agak setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat penting Penting Agak pentig Tidak penting Sangat Setuju Setuju Agak setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat Setuju Setuju Agak setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat Setuju Setuju Agak setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat senang Senang Biasa saja Tidak senang Sangat bangga Bangga Biasa saja Tidak bangga Orangtua Dewasa Anak-anak dan Remaja Buletin Al-Turas Mimbar Sejarah,Sastra,Budaya, dan Agama - Vol. XXi No. Juli 2017 Perlu upaya peningkatan BJB di ranah keluarga Konatif Sangat Setuju Setuju Agak setuju Ragu-ragu Tidak setuju BJB perlu diajarkan Sangat Setuju di sekolah Setuju Agak setuju Ragu-ragu Tidak setuju Pemerintah perlu Sangat Setuju Mengkampanyekan Setuju BJB Agak setuju Ragu-ragu Tidak setuju Ada keinginan mengajarkan BJB Tidak . Aspek Kognitif Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap bahasa responden usia orangtua cenderung positif. Sebanyak 43% menjawab sangat setuju, dan sisanya lagi 61% menjawab setuju. Sementara itu, tidak berbeda dengan responden usia orangtua, sikap bahasa para responden usia dewasa cenderung positif dilihat dari aspek kognitif. Responden secara dominan menjawab AusetujuAy, dan hanya 4% yang menjawab ragu-ragu menghormati BJB sebagai warisan leluhur, serta 3% merasa tidak penting untuk tetap dipergunakan. Lebih lanjut, sama halnya dengan responden orangtua dan dewasa, dilihat dari aspek kognitif, sikap bahasa para responden usia muda cenderung positif. Sebanyak 90% menjawab BJB wajib dihormati sebagai warisan leluhur, dan 87% menjawab BJB penting untuk tetap dipergunakan. tinggi ini mengindikasikan pengakuan mereka terhadap eksistensi bahasa Jawa sebagai alat pewarisan budaya. Jika pikiran seseorang sudah negatif terhadap bahasa Jawa, bisa jadi segala yang dilakukan terkait pelestariannya akan dianggap sia-sia. Persepsi sebagai kebudayaan yang tinggi akan membawa dampak terhadap aspek perilaku. Aspek Afektif Berkenaan dengan aspek afektif, responden diberikan pertanyaan yang berkaitan dengan rasa bangga mereka terhadap BJB. Dari tabel di atas, tampak bahwa mayoritas memiliki sikap yang positif terhadap BJB. Baik responden usia orangtua dan dewasa, umumnya bangga terhadap BJB. Mereka meyakini BJB sebagai identitas dan penyangga kebudayaan, sebagai bahasa keakraban, dan mereka juga merasa senang jika diajak berbicara di luar kampung. Secara umum, hasil tersebut mengindikasikan Kecenderungan persentase yang sikap positif para responden terhadap Alfi Syahriyani : Pemertahanan Bahasa Jawa Dialek Banten pada Guyub Tutur di Kelurahan Sumur Pecung Serang bahasa Jawa. mengenai upaya pengingkatan BJB di ranah sekolah dan pendidikan, sebanyak Lain halnya dengan responden usia 3% menjawab tidak setuju. Artinya, ada orangtua dan dewasa, pada aspek afek- kecenderungan bahwa sebagian kecil retif, jumlah responden usia anak-anak sponden usia muda bersikap apatis terhyang menjawab Aubiasa sajaAy saat ditan- adap usaha pelestarian BJB. ya mengenai bangga atau tidaknya menguasai BJB, dan senang atau tidaknya C. Kesimpulan diajak berbicara BJB cukup signifikan, yaitu masing-masing sebanyak 26% dan Dari analisis yang telah dilakukan, pe32%. Walaupun sebagian besar men- neliti merumuskan beberapa kesimpujawab setuju, akan tetapi jawaban Aobiasa lan yang menjawab permasalahan dan sajaAo pada sebagian kelompok usia muda membuktikan hipotesis. Pertama. BJB mengindikasikan kecenderungan yang dipertahankan oleh guyub tutur di Kelunegatif. Padahal, kebanggaan bahasa rahan Sumur Pecung bergantung pada . anguage parol. pada generasi muda siapa yang diajak bicara, topik apa yang dapat mendorong perkembangan dan re- dibicarakan, dan situasi yang melatarbelakangi mereka. BJB masih dominan vitalisasi bahasa. digunakan oleh anggota guyub tutur . Aspek Konatif usia orangtua dalam semua ranah, yaitu ranah dalam rumah, ranah luar rumah. Komponen konatif menunjuk- ranah keagamaan, ranah pemerintahkan kecenderungan untuk bertindak. an, ranah pendidikan, ranah transaksi. Ada perilaku atau kecenderungan per- dan situasi ketika mereka marah atau ilaku yang berkaitan dengan objek sikap menggunakan bahasa secara tidak sadar. yang dihadapinya. Berkaitan dengan as- Sementara itu, bagi anggota guyub tupek perilaku, tampak bahwa umumnya tur usia dewasa, penggunaan BJB yang responden menjawab setuju dengan be- dominan hanya pada ranah keagamaan, berapa pertanyaan tentang tindakan-tin- sedangkan ranah lainnya menggunakan dakan yang harus dilakukan untuk mem- BI dan BC (BI campur BJB), dengan pertahankan eksistensi BJB. perbedaan yang tidak begitu mencolok. Kemudian, bagi guyub tutur usia anakSebanyak 93% responden usia orangtua anak dan remaja BI digunakan secara berkeinginan untuk mengajarkan anak dominan dalam semua ranah akibat dari mereka BJB. Sisanya, yaitu sebanyak perkembangan pendidikan mereka. Den7% menjawab tidak berkeinginan kare- gan demikian, jelaslah bahwa semakin na kepentingan pendidikan dan agar tua usia seseorang, tingkat pemertahanbisa berkomunikasi dengan masyarakat an bahasanya semakin kuat. Sebaliknya. Begitu pula pada responden usia semakin muda, tingkat pemertahananndewasa, anak-anak dan remaja yang ya semakin lemah. dominan berkeinginan mengajarkan BJB. Namun demikian, ketika responKedua, tampak bahwa telah den usia anak-anak dan remaja ditanya terjadi pergeseran bahasa dari kelomtentang upaya pemerintah dalam meng- pok guyub tutur usia tua yang mankampanyaken BJB, sebanyak 6% men- tap menggunakan BJB kepada guyub jawab ragu-ragu, dan 6% lainnya tidak tutur dewasa, anak-anak, dan remaja. Begitu pula pada pertanyaan Pergeseran bahasa tersebut diakibatkan Buletin Al-Turas Mimbar Sejarah,Sastra,Budaya, dan Agama - Vol. XXi No. Juli 2017 oleh beberapa faktor. Pertama, faktor pergaulan yang memungkinkan anggota guyub tutur untuk berinteraksi dengan masyarakat urban yang memiliki karakteristik yang heterogen. Kedua, faktor ekonomi, yang memungkinkan anggota guyub tutur untuk menggunakan BI agar lebih mudah menjalankan usaha dan mendapatkan akses pekerjaan. Ketiga, faktor pendidikan yang membuat para orangtua enggan mengajarkan BJB kepada anak-anak mereka, atau pemakaian BI yang dominan di sekolah sehingga membuat anak-anak tidak menggunakan BJB secara aktif. Ketiga, sikap bahasa memengaruhi tingkat pemertahanan BJB anggota guyub tutur. Secara umum, ketiga kategori guyub tutur menampakkan bahwa sikap bahasa mereka positif terhadap BJB. Responden usia orangtua dan dewasa memiliki sikap bahasa yang positif dengan tingkat pemertahanan bahasa yang kuat. Akan tetapi, pada responden usia muda, ditemukan bahwa sikap bahasa yang positif tidak berarti bahwa tingkat pemertahanan bahasanya juga kuat. Dengan demikian, hubungan tingkat pemertahanan bahasa dengan sikap bahasa, khususnya pada guyub tutur responden usia muda masih sangat terbuka untuk diteliti lebih lanjut. Daftar Pustaka