Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. APPLICATION OF NGAJU DAYAK CLOTHING MOTIFS INTO READY-TO-WEAR CLOTHING PENGAPLIKASIAN MOTIF BUSANA DAYAK NGAJU MENJADI BUSANA READY TO WEAR Linda Utami 1*. Sunarmi 2. Arif Jati Purnomo3. Afifah Nur 4. Nabila Khoirunisa 5, 1 * , 4 , 5 Desain Mode Batik. Fakultas Seni Rupa Dan Desain. Institut Seni Indonesia Surakarta 2 , 3 Pascasarjana. Institut Seni Indonesia Surakarta 1*anandalinda223@gmail. com, 2 sunarmi@isi-ska. 3 arifjati@isi-ska. id, 4 afifahlaila185@gmail. 5 khoirunisaz@gmail. [Article Histor. Submitted: September 9, 2025. Revised: November 21, 2025. Accepted: December 31, 2025 ABSTRACT Indonesia is rich in art and culture, one of which is the Dayak Ngaju tribe in Central Kalimantan with their traditional clothing full of symbolism, such as the Enggang and Kalalawit motifs. This research aims to transform Dayak Ngaju traditional clothing into ready-to-wear clothing for cultural preservation and promotion. Using the Design Thinking method, the process begins with understanding the philosophy of traditional attire (Empathiz. , identifying the needs of young people for comfortable and stylish traditional attire (Defin. , then conceptualizing ideas for simplifying motifs on modern materials using painting techniques (Ideat. , and finally creating prototypes (Prototyp. Testing results showed positive responses to the design, which blends modernity with authenticity, deemed attractive, boosting confidence, and potentially becoming a trend. However, constructive feedback was received regarding material comfort . olyester that feels ho. , motif proportions, garment cuts . leeves and collar. , and the durability of the painting after washing. Further development is recommended in terms of size variations and formal With this approach, it is hoped that the Dayak Ngaju adaptation clothing can preserve culture dynamically, promote innovation, empower the community, and open economic opportunities. Keywords: Dayak Ngaju. Design Thinking. Traditional Clothing. ABSTRAK Indonesia kaya akan seni dan budaya, salah satunya Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah dengan busana adat khas penuh simbolisme seperti motif Enggang dan Kalalawit. Penelitian ini bertujuan mentransformasi busana adat Dayak Ngaju menjadi busana ready-to-wear untuk pelestarian dan pengenalan budaya. Menggunakan metode Design Vol. No. Desember 2025 Linda Utami. Sunarmi. Arif Jati Purnomo. Afifah Nur. Nabila Khoirunisa Pengaplikasian Motif Busana Dayak Ngaju Menjadi Busana Ready To Wear Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. Thinking, proses dimulai dari memahami filosofi busana tradisional (Empathiz. , mengidentifikasi kebutuhan kaum muda akan busana tradisional yang nyaman dan stylish (Defin. , lalu menggagas ide penyederhanaan motif pada material modern dengan teknik lukis (Ideat. , hingga membuat prototipe (Prototyp. Hasil pengujian (Tes. menunjukkan respons positif terhadap desain yang memadukan modernitas dengan otentisitas, dianggap menarik, meningkatkan rasa percaya diri, dan berpotensi menjadi tren. Namun, ditemukan masukan konstruktif terkait kenyamanan material . oliester yang pana. , proporsi motif, potongan busana . engan dan kera. , serta ketahanan lukisan setelah Disarankan pengembangan lebih lanjut pada variasi ukuran dan sentuhan Dengan pendekatan ini, diharapkan busana adaptasi Dayak Ngaju dapat melestarikan budaya secara dinamis, mendorong inovasi, memberdayakan komunitas, dan membuka peluang ekonomi. Kata kunci: Dayak Ngaju. Desain Thingking. Busana Tradisi. PENDAHULUAN Keanekaragaman seni dan budaya yang dimiliki Indonesia menjadikannya negara yang memiliki ciri khas unik dan otentik. Setiap suku, daerah dan wilayah di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing yang sepatutnya untuk di banggakan dan dilestarikan. Hal ini dilakukan supaya budaya Indonesia tetap hidup, berkembang, dan memberikan kontribusi positif bagi generasi dimasa Sehingga perlu adanya penelitian, dokumentasi, pengembangan, dan pelestarian oleh masyarakat di Indonesia maupun di dunia Internasional. Upaya ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi generasi selanjutnya dan memupuk kesadaran bahwa budaya bukan sekedar warisan masa lalu, melainkan juga aset berharga yang memperkuat jati diri bangsa, serta dapat mempererat persatuan dalam keragaman. Salah satunya adalah suku Dayak Ngaju yaitu suku asli dan terbesar yang bermukin di Kalimantan Tengah. Dayak merupakan nama sekaligus identitas etnis suku Proto Melayu (Melayu Tu. yang di klaim sebagai penduduk pulau Kalimantan (Bella et al. , 2021, p. Suku Ngaju merupakan salah satu suku tertua yang ada di Indonesia, namun baru muncul di sensus pada tahun 2000. Mereka mendiami daerah aliran sungai-sungai besar seperti Kapuas. Kahayan. Rungan Manuhing. Barito, dan Katingan, bahkan ada pula yang mendiami daerah Kalimantan Selatan (Viorentina et al. , 2. Awalnya. Dayak Ngaju dinamakan Biaju, berasal dari kata bi dan aju yang artinya Audari huluAy atau Audari udikAy. Suku Dayak Ngaju memiliki budaya dan adat-istiadat yang masih terjaga secara turun-temurun hingga saat ini yaitu berupa bahasa, rumah dan pakaian adat, hal ini sebagai bagian dari menjaga identitas mereka. Busana adat biasanya di pengaruhi oleh letak geografis dan sejarah daerah tersebut (Utami & Laksmi, 2. Busana adat merupakan perwakilan budaya kelompok etnis tertentu, sehingga memiliki ciri khas yang berbeda dengan daerah lainnya. Motifmotif pada busana adat Dayak Ngaju memiliki ciri khas yang kuat, kaya akan Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. simbolisme, dan sangat terinspirasi oleh alam serta kepercayaan adat mereka. Ini bukan sekadar hiasan, melainkan representasi dari pandangan dunia, nilai-nilai, dan koneksi spiritual masyarakat Ngaju. Lunturnya budaya Indonesia dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah masuknya budaya asing. Adat istiadat dan warisan budaya semakin luntur dan menghilang, hingga akhirnya Indonesia berujung pada krisis identitas. Menurut Sukarwo dalam (Apandie & Ar, 2019, p. terdapat tiga hal yang menjadi akar krisis identitas budaya di Indonesia yaitu, pertama konsep identitas yang tidak pernah menjado absolut dan permanen, kedua kebijakan budaya terkait politik kebudayaan dari setiap rezim yang berkuasa di Indonesia, yang ketiga adalah invasi kapitalisme global. Kenyataan yang ada menyadarkan pemerintah Indonesia dan seluruh warga negaranya akan pentingnya menjaga kelestarian budaya lokal yang mulai terabaikan. Upaya pelestarian dan revitalisasi budaya nasional sejatinya membutuhkan keterlibatan semua pihak. Nilai-nilai moral dan akhlak berkaitan erat dengan aspek mentalitas, dan tampaknya hal ini memang menjadi salah satu persoalan penting dalam kehidupan bangsa di abad ke-21 ini. Oleh karena itu, hal ini perlu menjadi perhatian semua lapisan masyarakat, bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Di era globalisasi yang serba terbuka, arus informasi yang deras memungkinkan individu untuk menyerap nilai-nilai, pengetahuan, dan kebiasaan dari luar lingkungan sosialnya, bahkan yang secara fisik jauh dari jangkauannya. Lebih dari itu, nilai-nilai yang diadopsi sering kali tidak selaras dengan budaya ketimuran, akar tradisi, serta norma-norma agama yang Mengadaptasi busana suku Dayak Ngaju menjadi busana ready-to-wear tanpa menghilangkan ciri khas dan nilai-nilai tradisionalnya merupakan salah satu cara melestarikan warisan budaya sekaligus dapat memperluas cakupan masyarakat untuk mengenal busana suku dayak Ngaju. Ini bisa dilakukan dengan mengaplikasikan motif-motif Dayak Ngaju . eperti burung enggang, batang garing, kalalawi. pada bahan-bahan modern dan menggunakan teknik yang inovatif. METODE Metode desain thinking menjadi penting untuk proses adaptasi busana tradisi suku Dayak Ngaju ini, karna berfokus pada pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pengguna dan solusi kreatif dalam merancang produk yang inovatif dan Menurut Brown, 2008 dalam (Ardian & Werdhaningsih, 2019, p. design thinking adalah pendekatan kolaboratif dan berpusat pada manusia untuk mencari solusi secara kreatif, praktis, dan iteratif . Proses ini menekankan empati terhadap pengguna untuk memahami kebutuhan dan masalah mereka, karena orang yang mengalami masalah sering kali paling tahu solusinya. Design thinking mengedepankan empati, kolaborasi, serta masukan dari pihak terkait guna menghasilkan solusi inovatif. Tiga unsur utamanya mencakup keberlanjutan Vol. No. Desember 2025 Linda Utami. Sunarmi. Arif Jati Purnomo. Afifah Nur. Nabila Khoirunisa Pengaplikasian Motif Busana Dayak Ngaju Menjadi Busana Ready To Wear Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. bisnis, kebutuhan masyarakat, dan dukungan teknologi. metode design Thinking sangat relevan dan powerful untuk diterapkan dalam pengembangan busana Pendekatan ini memungkinkan desainer untuk tidak hanya menciptakan pakaian yang indah secara visual, tetapi juga yang memiliki makna mendalam, fungsional, dan relevan dengan konteks pengguna modern. Penerapan design Thinking memastikan bahwa busana tradisi Dayak Ngaju tidak hanya indah, tetapi juga berdaya guna dan berkelanjutan di masa depan. Tujuan utama yang diuraikan dalam rencana proyek termasuk menetapkan hasil akhir proyek yang jelas, memastikan kepatuhan terhadap standar yang relevan, dan mencapai penyelesaian tepat waktu dalam anggaran yang Tujuan ini bertujuan untuk memfasilitasi manajemen proyek yang efektif dan hasil proyek yang sukses (Syamsiar, 2010, p. Langkah pertama penerapan design thinking untuk busana tradisi Dayak Ngaju adalah yang pertama, tahap empathize . yaitu tahapan fondasi. Penulis benar-benar menyelami dunia dan pandangan masyarakat Dayak Ngaju, terkait siapa pengguna busana tradisi Dayak Ngaju, konteks penggunaan, kebutuhan, keinginan dan tantangan terkait busana ini. Tahapan kedua yaitu define . , setelah mengumpulkan data empati selanjutnya adalah mengidentifikasi masalah utama dengan merumuskannya dalam bentuk point of view (POV) atau how might we (HMW). Tahapan ketiga yaitu ideate . enggagas id. , melakukan brainstorming untuk menghasilkan beragam solusi bagi masalah yang didefinisikan. Melibatkan orang-orang dari berbagai latar belakang seperti desainer, ahli budaya, dan komunitas. Pembahasan dalam tahapan ini adalah bagaimana mengadaptasi material, inovasi potongan, fungsionalitas, serta inovasi motif dan warna. Tahapan ke empat adalah prototype . embuat prototip. , memilih ide-ide terbaik dan mewujudkannya dalam bentuk fisik yang bisa diuji, untuk mendapatkan feedback awal, tahapan ini berupa prototipe fisik dan prototipe Tahapan terakhir adalah test . , yaitu uji prototipe dengan target pengguna yang relevan, mengumpulkan umpan balik secara jujur dan terbuka, terdiri dari pengjian pengguna, pengujian fungsionalitas dan analisa umpan balik. PEMBAHASAN Pakaian adat Dayak Ngaju di masa lampau dikenakan secara khusus dalam upacara- upacara momen adat yang penting. Setiap detailnya, mulai dari motif kain hingga tata letak manik, mengandung filosofi mendalam tentang hubungan dengan alam, leluhur, dan nilai- nilai kehidupan. Namun, keelokan dan keunikan visualnya memiliki daya tarik lintas zaman. Kini, pakaian adat ini bertransformasi menjadi duta budaya, memeriahkan berbagai festival dan acara, memperkenalkan kekayaan warisan leluhur kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. menumbuhkan rasa bangga dan identitas bagi generasi penerus. karena hal itu, pakaian adat Dayak Ngaju tidak hanya sekedar busana, tetapi juga sebagai simbol identintas dan kebanggaan masyarakat Dayak. Pakaian adat Dayak Ngaju memiliki ciri khas yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, terutama pada aksesori (Hidayati & Press, 2021, p. Pria mengenakan celana selutut, selempit, ikat kepala bulu enggang, serta kalung inuk . dan cekoang . Wanita memakai rok pendek, rompi, ikat kepala bulu enggang, kalung, dan anting . Keunikan busana ini juga terlihat pada motif-motifnya. Dua motif utama yang sering ditemukan adalah: Motif Kalalawit. Menggambarkan cakar binatang liar, melambangkan kekuatan, ketangguhan, dan perlindungan. Motif ini dipercaya dapat menangkal roh jahat dan melindungi pemakainya, sering digunakan pada ukiran rumah adat, perisai, dan baju adat seperti Sangkarut(MaAoruf, 2012, p. Motif Burung Enggang (Rangkon. Hewan sakral yang dihormati, melambangkan kebesaran, kehormatan, dan hubungan spiritual dengan dunia roh. Enggang dianggap sebagai utusan dewa atau leluhur, serta simbol kekuasaan, keberanian, dan status sosial. Motif ini banyak diaplikasikan pada ukiran, anyaman, tato, dan baju adat. Dalam baju adat seperti Sangkarut, motif ini mencerminkan kekuatan, kebijaksanaan, dan keberanian, serta digunakan sebagai lambang pelindung pemakainya. Keanggunan dan cara terbang burung ini juga melambangkan ketinggian status sosial dan aspirasi spiritual masyarakat Dayak (Usop, 2. Motif baju adat Dayak Ngaju memiliki makna dan filosofi yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai budaya, kepercayaan, dan cara pandang hidup. Gambar 1. Busana Tradisi Dayak Ngaju Sumber: Adnan, 2025 Vol. No. Desember 2025 Linda Utami. Sunarmi. Arif Jati Purnomo. Afifah Nur. Nabila Khoirunisa Pengaplikasian Motif Busana Dayak Ngaju Menjadi Busana Ready To Wear Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. Gambar 2. Motif Kalalawit Sumber: Dayak ethnic ornament, 2025 Menurut Poepo, 2009 dalam (Anggraini & Suhartini, 2021, p. Busana ready to wear adalah pakaian yang sudah diproduksi dalam jumlah banyak dengan berbagai ukuran dan warna dari satu rancangan desain, sehingga bisa langsung dikenakan tanpa perlu proses pengukuran tubuh terlebih dahulu. Jenis pakaian ini tidak terbatas pada busana kasual saja, melainkan juga mencakup pakaian formal, kerja, hingga pesta, selama dipasarkan dalam kondisi siap pakai. Umumnya, pakaian ready to wear dibuat dengan desain pola yang simpel, potongan yang tidak rumit, pemakaian bahan yang efisien, serta dijual dengan harga yang cukup terjangkau bagi konsumen. Motif busana tradisional Suku Dayak Ngaju sangat cocok diaplikasikan ke dalam desain busana ready to wear karena memiliki nilai estetika yang khas dan mudah dikenali. Keunikan motifnya memberikan sentuhan etnik yang kuat, namun tetap mampu menampilkan kesan kasual dan modern ketika dipadukan dengan potongan busana yang sederhana. Dengan desain yang disesuaikan, motif Dayak Ngaju tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga menjadikan busana tampak unik dan menarik untuk dikenakan sehari-hari. Busana tradisi Dayak Ngaju pada masa lampau dikenakan secara khusus dalam upacara-upacara momen adat yang penting. Setiap detailnya, mulai dari motif kain hingga tata letak manik, mengandung filosofi mendalam tentang hubungan dengan alam, leluhur, dan nilai- nilai kehidupan. Warna dan motif busana Dayak Ngaju adalah warna-warna cerah seperti merah, kuning, hitam, putih, dan hijau dominan. Motif-motif sakral seperti Batang Garing (Pohon Kehidupa. , naga, burung enggang, dan flora-fauna khas hutan Kalimantan sangat sering ditemukan, baik dalam manik-manik, tenunan, maupun ukiran. Motif-motif ini bukan hanya hiasan, melainkan simbol spiritual dan perlindungan. Agar seni perwujudan karya baru dapat mengikuti pasar seni, pelaku seni perlu Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. memahami tren dan preferensi pasar melalui riset dan observasi terhadap karya yang sedang diminati. Selain itu, inovasi dan kreativitas harus disesuaikan dengan kebutuhan dan selera audiens tanpa mengorbankan identitas artistik (Retno Wulandari, 2016, p. Busana Dayak Ngaju merupakan simbol visual dari keterikatan spiritual dan ekologis masyarakat Kalimantan Tengah dengan alam dan leluhur. Ornamen manik-manik, bulu burung enggang, motif batang garing, serta teknik anyaman lokal dipahami tidak hanya dari sisi estetika, tapi juga fungsi simboliknya. Perancang fesyen busana ini dilakukan dengan hati-hati agar tidak mereduksi makna sakral menjadi sekadar hiasan. Perspektif perancangannya dengan mengembangkan bentuk busana menjadi kontemporer dengan mengadaptasi motif kalalawit yang diaplikasikan dengan tehnik lukis sebagai bagian dari koleksi kapsul etnik modern, dengan tetap menghormati batasan adat. Busana tradisional Dayak Ngaju merupakan bagian integral dari kebudayaan masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah yang menganut kepercayaan Kaharingan, sebuah sistem kepercayaan asli yang berfokus pada keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur(Sashita & Arimi, 2. Busana ini kaya akan elemen simbolik dan digunakan dalam berbagai upacara adat seperti Gawai . anen ray. Tiwah . itual kematia. , serta dalam prosesi penyambutan tamu Busana laki-laki Dayak Ngaju terdiri dari cawat atau kain penutup tubuh bagian bawah, rompi yang dihiasi dengan manik-manik berwarna cerah, serta penutup kepala berbulu burung enggang yaitu burung yang dianggap suci dan melambangkan langit serta kemurnian. Sementara itu, perempuan mengenakan rok selutut dan atasan yang juga dipenuhi hiasan manik-manik, serta dilengkapi dengan kalung dan aksesori ritual lainnya(Darmadi, 2. Teknik pembuatan busana ini mencakup tenun tradisional, rajutan manik-manik tangan, serta penggunaan bahan-bahan alami seperti kulit kayu, serat tumbuhan, dan bulu Salah satu simbol paling menonjol dalam busana Dayak Ngaju adalah motif Batang Garing atau pohon kehidupan, yang merepresentasikan harmoni kosmis antara dunia manusia, alam, dan para leluhur (Herlinda, 2. Kehadiran unsur simbolik ini menjadikan busana Dayak Ngaju bukan sekadar pakaian upacara, tetapi juga wujud ekspresi spiritual yang mendalam dan penghormatan terhadap siklus kehidupan. Vol. No. Desember 2025 Linda Utami. Sunarmi. Arif Jati Purnomo. Afifah Nur. Nabila Khoirunisa Pengaplikasian Motif Busana Dayak Ngaju Menjadi Busana Ready To Wear Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. Gambar 3. Motif Dalam Ragam Hias Dayak Ngaju Sumber: Darma, 2003 Era globalisasi yang modern ini, para generasi muda membutuhkan busana tradisi yang nyaman dan stylish agar mereka dapat mengenakan warisan budaya dalam keseharian tanpa merasa kuno atau tidak praktis(Afni Nur Afifah Fauziah. Hal Ini akan memungkinkan para generasi muda untuk melestarikan kekayaan budaya sambil membuatnya relevan dan fungsional, bahkan mungkin untuk pasar yang lebih luas. Dalam upaya mengintegrasikan motif Dayak Ngaju ke dalam busana readyto-wear, pendekatan desain difokuskan pada penyederhanaan dan abstraksi motif Pemilihan motif melibatkan Batang Garing yang divisualisasikan dalam bentuk geometris esensial, serta motif Kalawit. Selain itu, siluet dasar burung Enggang distilisasi menjadi representasi yang lebih abstrak. Aplikasi motif ini dilakukan secara selektif dan strategis pada bagian-bagian tertentu pada badan depan dan belakang pakaian, bukan sebagai pola all-over. Ukuran motif disesuaikan secara proporsional dengan potongan busana untuk menjaga harmoni estetika dan kesesuaian dengan karakter ready-to-wear kontemporer. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara identitas budaya yang kuat dan daya pakai yang modern. Pengembangan busana ini mengimplementasikan material polyester untuk memastikan kenyamanan penggunaan sehari-hari, dengan palet warna yang mengkombinasikan hitam, kuning, dan merah. Aplikasi motif dilakukan melalui teknik lukis, yang bertujuan untuk memberikan sentuhan personalisasi dan keunikan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan nilai estetika dan komersial produk, tetapi juga memfasilitasi ekspresi kreativitas tanpa batas. Desain busana ini dilengkapi dengan aksesoris pendukung berupa topi, tas, dan tali pita. Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. Konsep desain busana ini adalah transformasi warisan budaya Dayak Ngaju ke dalam bentuk busana kontemporer yang fungsional dan estetik, tanpa menghilangkan identitas visual dan filosofisnya. Melalui adaptasi motif tradisional seperti kalalawit yang merupakan simbol keterikatan sosial dan burung Enggang sebagai simbol kebangsawanan dan perlindungan, busana dikembangkan menjadi lebih praktis dan modern namun tetap kental dengan makna budaya. Paduan warna hitam, merah, dan emas menjadi fondasi visual yang kuat, menciptakan citra elegan dan berwibawa(Ginting & Pulungan, 2. Proses dari sketsa ke visualisasi produk menekankan pentingnya inovasi berbasis nilai lokal dalam menjaga kelestarian budaya melalui desain. Busana ini memiliki karakter modern-etnik, simbolis, dan adaptif. Gaya potongan seperti baju asimetris, lengan balon, rok A-line dengan aksen pita, dan kemeja tanpa kancing menciptakan tampilan dinamis dan modern yang tetap menghormati bentuk dasar busana adat. Motif kalalawit dan burung enggang tetap dihadirkan meskipun dengan variasi baru, sebagai ciri khas yang mengikat desain dengan akar budaya. Karakter busana laki-laki yang minimalis namun tetap bermotif menunjukkan kesan maskulin yang tegas namun berbudaya. Secara keseluruhan, karakter desain mencerminkan perpaduan inovasi desain kontemporer sebagai busana ready to wear. Bentuk busana yang ditampilkan dalam desain ini menggabungkan elemen modern dan tradisional secara harmonis. Siluet asimetris pada atasan menciptakan tampilan dinamis dan segar, sementara penggunaan lengan lonceng memberikan kesan feminin dan artistik. Rok berbentuk A-line dengan tambahan aksen pita di bagian pinggang menambah nuansa elegan sekaligus mempertegas struktur desain. Pada busana pria, kemeja tanpa kancing menampilkan kesan minimalis dan modern yang tetap berkarakter. Meski telah mengalami modifikasi, motif khas seperti kalalawit dan burung enggang tetap dihadirkan sebagai penanda identitas budaya Dayak Ngaju, memperkuat keterikatan desain terhadap nilai-nilai lokal. Keseluruhan bentuk busana ini mencerminkan karakter yang simbolis, adaptif, dan siap pakai, mewakili perpaduan antara inovasi kontemporer dan warisan budaya. Gambar 4. Desain Busana Ready To Wear Dayak Ngaju Sumber: Nabila, 2025 Vol. No. Desember 2025 Linda Utami. Sunarmi. Arif Jati Purnomo. Afifah Nur. Nabila Khoirunisa Pengaplikasian Motif Busana Dayak Ngaju Menjadi Busana Ready To Wear Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. Dalam konteks pengembangan produk fesyen atau busana, prototipe dalam bentuk fisik adalah tahapan yang sangat krusial dan tak terhindarkan. Prototipe ini berfungsi sebagai instrumen evaluasi kritis dalam proses pengembangan busana(Fara Devani & Marniati, 2. Utilitas utamanya mencakup beberapa aspek krusial: pengujian ergonomi dan kenyamanan pemakaian, evaluasi integritas siluet dan konstruksi, serta validasi visual motif dan palet warna. Pendekatan ini secara signifikan memfasilitasi perolehan umpan balik yang relevan dari pihak terkait, sekaligus mereduksi potensi biaya produksi yang berlebihan dan memitigasi risiko kegagalan desain pada tahap selanjutnya. Spesifikasi prototipe busana ini berbentuk sampel, yang direalisasikan menggunakan material kain yang memiliki karakteristik mendekati bahan akhir Implementasi detail pada sampel ini juga dilakukan dengan akurasi tinggi, memastikan representasi yang presisi dari produk final. Hal ini memungkinkan identifikasi dan resolusi isu desain maupun fungsional sebelum komitmen pada produksi massal. Tahapan membuat prototipe busana dimulai dari pembuatan pola dasar yang disesuaikan dengan ukuran dan rancangan desain, kemudian dimodifikasi agar mencerminkan transformasi konsep ke bentuk busana yang diinginkan(Fara Devani & Marniati, 2. Setelah itu, proses dilanjutkan dengan pemilihan dan persiapan bahan yang relevan secara estetis maupun filosofis, baik berupa kain Tahapan selanjutnya adalah membuat pola, yaitu proses awal dalam pembuatan busana untuk menerjemahkan desain menjadi potongan kain yang siap dijahit(Siska Handayani & Marniati, 2. Pola dibuat sesuai ukuran tubuh dan bentuk desain yang diinginkan, sehingga hasil busana bisa pas dan nyaman Kain kemudian dipotong mengikuti pola dengan ketelitian tinggi, terutama jika melibatkan motif yang harus ditempatkan secara strategis. Potongan kain ini lalu disusun dan dijahit secara sementara dalam bentuk mock up atau toile untuk mengevaluasi kesesuaian bentuk, ukuran, dan proporsi. Setelah hasilnya dinilai sesuai, proses jahit akhir dilakukan dengan memperhatikan teknik konstruksi, pemasangan aksesori seperti bordir, payet, atau resleting, serta penyempurnaan detail melalui proses finishing, yaitu proses akhir dari seluruh proses pembuatan busana (Mayliana, 2. Seluruh tahapan ini bertujuan untuk menghasilkan prototipe busana yang tidak hanya memenuhi aspek teknis, tetapi juga menjaga nilai estetika dan makna kultural dari tradisi yang diadaptasi ke dalam desain Mock up atau toile adalah versi awal dari busana yang dibuat menggunakan kain percobaan . iasanya kain muslin atau kain polos mura. untuk menguji bentuk, potongan, dan proporsi desain sebelum menggunakan bahan utama(Fanisa et al. , 2. Mock-up berfungsi sebagai prototipe awal guna memastikan kesesuaian pola, struktur, dan siluet pada tubuh. Dalam dunia fesyen. Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. mock-up sangat penting untuk mengevaluasi apakah desain sudah sesuai secara teknis dan estetis, serta untuk melakukan koreksi sebelum produksi akhir. Teknik ini membantu desainer menghemat waktu dan biaya, serta meminimalkan kesalahan pada pembuatan busana dengan kain yang bernilai tinggi seperti tenun tradisional atau bahan khusus lainnya. Gambar 5. Hasil Busana Ready To Wear Dayak Ngaju Sumber: Adnan, 2025. Secara keseluruhan, desain busana adaptasi Dayak Ngaju ini menerima respon positif yang kuat, khususnya dari segi estetika dan relevansi budaya. Pengguna sangat menghargai kemampuan desain untuk memadukan motif tradisional Dayak Ngaju . eperti burung Enggan. dengan gaya modern, menciptakan tampilan yang autentik namun tetap stylish. Kombinasi warna cerah seperti hitam, kuning, dan merah dianggap hidup dan menarik, yang pada akhirnya meningkatkan rasa percaya diri pemakainya dan memiliki potensi besar untuk menjadi tren baru di kalangan anak muda. Kehalusan detail lukis motif dan kualitas aksesori pendukung seperti topi dan tas juga sangat diapresiasi, menunjukkan bahwa busana ini tidak hanya dilihat sebagai pakaian, tetapi juga sebagai karya seni yang cocok untuk berbagai kesempatan kasual. Namun, beberapa area kunci perlu penyempurnaan untuk mengoptimalkan kenyamanan dan kepraktisan busana ready-to-wear ini. Isu utama yang muncul adalah kenyamanan material, di mana penggunaan poliester terasa panas di iklim Selain itu, ketahanan aplikasi motif lukis setelah pencucian berulang menjadi pertanyaan krusial yang harus diuji. Terakhir, untuk menjangkau pasar Vol. No. Desember 2025 Linda Utami. Sunarmi. Arif Jati Purnomo. Afifah Nur. Nabila Khoirunisa Pengaplikasian Motif Busana Dayak Ngaju Menjadi Busana Ready To Wear Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. yang lebih luas dan beragam, penting untuk mempertimbangkan variasi ukuran dan potongan agar busana ini cocok untuk berbagai bentuk tubuh, serta potensi pengembangan desain yang lebih mewah untuk penggunaan formal. Dengan mengatasi poin-poin konstruktif ini, busana adaptasi Dayak Ngaju memiliki peluang besar untuk tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menjadi produk fesyen yang sangat diminati, nyaman, dan fungsional di pasar modern. KESIMPULAN Dengan pendekatan Design Thinking, pengembangan busana tradisi Dayak Ngaju tidak hanya akan menghasilkan produk yang estetis, tetapi juga: Busana yang Relevan: Lebih mudah diterima dan digunakan oleh masyarakat Dayak Ngaju modern dan bahkan non-Dayak. Pelestarian Budaya yang Dinamis: Tradisi tidak beku dalam masa lalu, tetapi terus berkembang dan relevan di masa kini. Inovasi Berbasis Nilai: Solusi yang muncul akan berakar pada pemahaman mendalam tentang budaya dan kebutuhan manusia, bukan sekadar tren Pemberdayaan Komunitas: Mendorong kolaborasi antara desainer, pengrajin, dan komunitas lokal. Peluang Ekonomi: Membuka pasar baru bagi produk busana tradisi Dayak Ngaju, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan pengrajin. DAFTAR PUSTAKA