e-ISSN 2540-9263 IT-Edu: Jurnal Information Technology & Education Vol. 11 No. Januari, 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 26740/it-edu. Pengembangan LMS Moodle Dengan Model Pembelajaran Project Based Learning Untuk Meningkatkan Kompetensi Administrator Jaringan Pada Materi Pemasangan Dan Konfigurasi Perangkat Jaringan (Studi Kasus : SMKN 2 Surabay. Yurie Enggarnisa1. Rindu Puspita Wibawa2 Pendidikan Teknologi Informasi. Universitas Negeri Surabaya. Artikel Info Kata Kunci: LMS. ADDIE. Project Based Learning. Pengembangan. Keywords: LMS. ADDIE. Project Based Learning. Development. Riwayat Article (Article Histor. Submitted: 29 Juli 2025 Accepted: 08 Desember 2025 Published: 19 Januari 2026 Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan LMS moodle berbasis PjBL untuk meningkatkan kompetensi Administrator Jaringan pada studi kasus SMK Negeri 2 Surabaya. Pengembangan LMS dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi informasi seiring dengan berjalannya waktu pada saat ini memengaruhi secara signifikan pada kenyataan dilapangan menggunakan metode konvensional yang dinilai kurang menarik minat siswa untuk Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE. Data hasil validasi RPP. Materi. Soal dan Media menunjukkan tingkat kevalidan secara berturut-turut yaitu dari 86% , 85%, 85%, 82%. Hasil menggunakan Uji Wilcoxon Test Psikomotorik menunjukkan bahwa Sig. -taile. bernilai Maka nilai 0. 000 < 0. Dari kedua hasil tersebut, maka pengambilan keputusan menyatakan bahwa H_1 diterima atau terdapat peningkatan kompetensi administrator jaringan dengan model pembelajaran Project Based Learning pada materi pemasangan dan konfigurasi perangkat jaringan Abstract: The purpose of this study is to develop a Moodle-based LMS using Project-Based Learning (PjBL) to enhance the competency of Network Administrators, with a case study at SMK Negeri 2 Surabaya. The development of the LMS is driven by the advancement of information technology over time, which has significantly influenced the reality in the field, where conventional methods are considered less engaging for students. This study uses the Research and Development (R&D) method with the ADDIE development model. The validation data for the lesson plan (RPP), materials, tests, and media showed respective validity levels of 86%, 85%, 85%, and 82%. The results of the Wilcoxon Test for psychomotor skills showed that the Sig. -taile. value was 0. Since 0. 000 < 0. 05, it can be concluded that HCA is accepted, indicating an improvement in network administrator competency through the implementation of Project-Based Learning on the topic of installing and configuring network devices. Corresponding Author: IT-Edu: Jurnal Information Technology & Education, 11. : 55-66 Yurie Enggarnisa1. Rindu Puspita Wibawa2 Yurie Enggarnisa Pendidikan Teknologi Informasi. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Surabaya Email: yurie. 21050@mhs. PENDAHULUAN Kemajuan informasi seiring dengan berjalannya waktu pada saat ini telah memberikan peran dan dampak yang signifikan dalam pelaksanaan kegiatan proses belajar dan mengajar di bidang Penggunaan teknologi informasi dalam bidang pendidikan tidak hanya dapat mempermudah mendapatkan informasi, tetapi juga dapat membawa pengaruh dalam metode pembelajaran yang dilakukan. Penggunaan teknologi dalam pendidikan menjadi suatu kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan keterampilan siswa. Dalam meningkatkan kualitas pembelajaran siswa terdapat beberapa metode pembelajaran, salah satu diantaranya kini diterapkan nya metode pembelajaran Project Based Learning, dimana metode pembelajaran ini berpusat pada pembelajaran siswa. Dengan adanya pembelajaran berbasis project (PjBL), siswa terus termotivasi untuk belajar dan mengasah keterampilan mereka dalam menghasilkan produk. Terdapat konsekuensi positif dan negatif dari penggunaan metode ini. Positifnya adalah bahwa siswa dapat berkembang lebih baik dan belajar untuk selalu berpikir kritis dalam menghadapi berbagai permasalahan. (Rineksiane. Dalam situasi tersebut, keterampilan abad 21 sebagai penunjuang siswa untuk berkembang dari tantangan global yang berubah. Dalam pembelajaran abad 21 yang berpusat pada peserta didik, dengan demikian pembelajaran dengan model Project Based Learning termasuk kedalam ketrampilan abad 21, dimana dalam proses pembelajaran siswa harus memiliki keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa. (Kuntari, 2. Sebagai penunjang pembelajaran untuk menyalurkan materi yang diajarkan diperlukan nya media pembelajaran yang menarik minat subjek pembelajaran dalam belajar. Fasilitas belajar sendiri merupakan sarana pendukung yang yang berisi materi pelajaran dan disampaikan dengan metode yang lebih efisien serta efektif, sehingga dapat mendorong siswa untuk menyerap materi secara lebih optimal. (Sugiharyanti, 2. Dalam era digital yang semakin maju, media pembelajaran tidak lagi terbatas pada buku teks dan papan tulis. Berbagai teknologi canggih, seperti platform e-learning, aplikasi interaktif, website pembejaran telah menjadi bagian integral dari proses pendidikan. Media pembelajaran telah banyak ditemukan dan digunakan untuk memfasilitasi kebutuhan siswa dalam meningkatkan proses hasil belajar. (Dkk, 2. Penggunaan teknologi ini memungkinkan pendekatan interaksi antara pengajar dengan siswa, serta memberikan kebebasan yang lebih luas pada sumber daya pendidikan. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran adalah pemanfaatan media pembelajaran. Namun, pada praktiknya di lapangan, penggunaan media tersebut masih belum dioptimalkan secara menyeluruh pada SMK Negeri 2 Surabaya. Media pembelajaran berbasis website salah satu diantaranya yaitu dengan menggunakan Moodle, dalam pembelajaran dengan menggunakan moodle ini bertujuan sebagai jembatan antara guru dengan siswa. Dengan website e- learning ini yang kerap digunakan dalam membantu proses pembelajaran, tentunya moodle memiliki berbagai plugin yang dapat diterapkan oleh pengguna sebagai media pembelajaran yang menarik minat belajar siswa, dimulai dari konten interaktif hingga Pada SMK Negeri 2 Surabaya berdasarkan obeservasi selama pengenalan lapangan persekolahan kurangnya media pembelajaran e- learning mempengaruhi motivasi belajar siswa dan kreativitas subjek pembelajaran di kelas. Minimnya media pembelajaran yang mendukung dan interaktif dapat memicu kebosanan saat siswa menerima materi. Oleh karena itu, diperlukan media pembelajaran yang mampu menarik perhatian dan menjaga antusiasme siswa dalam proses belajar salah satu contohnya yaitu dengan menggunakan e- learning yang memuat materi, video pembelajaran, dan kuis. Berdasarkan observasi selama PLP di SMK Negeri 2 Surabaya kurangnya sarana penunjang dalam proses belajar mengajar dan keterbatasan media pembalajaran yang masih sederhana dengan seiring berjalannya teknologi dalam proses pembelajaran menjadi salah satu penyebab kurangnya variasi IT-Edu: Jurnal Information Technology & Education, 11. : 55-66 Pengembangan LMS Moodle Model Pembelajaran PjBL Untuk meningkatkan Kompetensi Administrator Jaringan Siswa dalam menggunakan media pembelajaran. (Khusnul Khotimah. Reza Amaliani. Widia Suryadi Ningsih & Satiti, 2. Oleh karena itu, kiranya perlu dibuat media yang dapat memfasilitasi pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan kompetensi administrator jaringan dalam memahami materi yang diajarkan melalui media pembelajaran LMS Moodle agar pembelajaran dengan model pembelajaran PjBL dapat terlaksanakan. Media pembelajaran yang bervariasi mampu memotivasi siswa dalam aktivitas pembelajaran. Pengembangan media pembelajaran berbasis website ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi kendala dalam meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran di SMK Negeri 2 Surabaya. Dengan dikembangkan nya media pembelajaran ini diharapkan dalam proses pembelajaran menjadi interaktif, menarik, dan efektif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. METODE Penelitian ini termasuk dalam jenis Research and Development (R&D) dengan pendekatan pengembangan yang mengadopsi model ADDIE. Model ini terdiri dari lima tahap utama, yaitu: Analysis . nalisis kebutuha. Design . Development . Implementation . , dan Evaluation . ADDIE bertujuan untuk membangun fondasi pembelajaran yang sistematis melalui pengembangan desain produk pembelajaran. (Hidayat & Nizar, 2. Desain penelitian yang digunakan adalah Pre-Experimental Design, dengan bentuk One Group PretestPosttest Design, di mana satu kelompok sampel diberi perlakuan setelah terlebih dahulu dilakukan pengukuran awal melalui pretest. Setelah perlakuan berupa pembelajaran dengan media yang dikembangkan diberikan, efektivitasnya dievaluasi melalui posttest. (Yunita, 2. Jadi sebelum proses pembelajaran dimulai, akan dilaksanakan tes awal . pada kelompok tunggal dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa. Setelah itu untuk tes akhir . diberikan setelah pembelajaran berakhir dan setelah diterapkannya model pembelajaran project-based learning (PjBL) menggunakan LMS berbasis moodle. Berikut adalah gambaran desain penelitian yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini. (Wiwin Nur Istiqomah dan Siti Lailiyah, 2. Gambar 1. Desain Uji Coba Keterangan: =Nilai pretest . ebelum diberi perlakua. =Perlakuan terhadap kelas dengan menggunakan media pembelajaran LMS Moodle. =Nilai posttest setelah perlakuan media Populasi dan Sampel Populasi merupakan keseluruhan objek/subjek penelitian. Populasi dalam konteks penelitian dapat diartikan sebagai seluruh elemen yang meliputi objek dan subjek dengan karakteristik tertentu. (Nur Fadilah. Sabaruddin Garancang, 2. Populasi penelitian ini seluruh siswa kelas XI TKJ SMK Negeri 2 Surabaya merupakan populasi dalam penelitian ini. Sampel penelitian terdiri dari 37 siswa dari kelas XI TKJ 2 sebagai kelas eksperimen untuk penerapan LMS Moodle berbasis PjBL pada Pemasangan dan Konfigurasi Perangkat Jaringan. Teknik Pengumpulan Data Analisis Hasil Validasi Dengan memberikan pertanyaan tertulis kepada responder, kuisioner diterapkan untuk mengumpulkan informasi. Kuesioner dalam penelitian ini digunakan untuk validasi LMS Moodle yang IT-Edu: Jurnal Information Technology & Education, 11. : 55-66 Yurie Enggarnisa1. Rindu Puspita Wibawa2 Rumus berikut ini digunakan untuk menentukan presentase hasil validasi yang diambil dari pengisian lembar validasi : Presentase Validasi % ycycoycuyc ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa ycIycoycuyc ycycaycuyci yccycnEaycaycycaycyycoycaycu ycu 100% Hasil dari skor angket validasi dapat di interpretasikan seperti Tabel 1. Tabel 1. Angket Validasi Presentase Keterangan 81% - 100% Sangat Valid 61% - 80% Valid 41% - 60% Cukup Valid 21% - 40% Tidak Valid 0%- 20% Sangat Tidak Valid Analisis Penilaian Kompetensi . Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk menguji normal atau tidak suatu data penelitian karena normal suatu data merupakan syarat utama untuk melakukan analisis berikutnya. Uji normalitas adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang terdistribusi normal atau berada dalam sebaran normal. Data yang dilakukan uji normalitas menggunakan jenis uji Shapiro-Wilk karena sampel yang digunakan kurang dari 50 (Marwinda & Danardono, 2. Keputusan mengenai normalitas data dapat ditentukan berdasarkan nilai signifikansi (Sig. ) dengan pedoman: Jika nilai Sig. >0,05, data dianggap terdistribusi normal. Jika nilai Sig. <0,05, data dianggap tidak terdistribusi normal. Uji Hipotesis Setelah dilakukan uji normalitas, jika data memenuhi prasyarat dan dinyatakan berdistribusi normal, maka uji hipotesis akan dilakukan menggunakan uji T jenis Paired Sample T-Test Namun, jika data tidak memenuhi prasyarat tersebut dan dinyatakan tidak berdistribusi normal, maka uji hipotesis akan dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test (Kurniawan & Purnamawati, 2. Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: : Tidak terdapat peningkatan hasil kompetensi administrator jaringan pada materi pemasangan dan konfigurasi perangkat jaringan siswa dengan menggunakan media pembelajaran berbasis LMS Moodle dengan model pembelajaran Project Based Learning : Terdapat peningkatan hasil kompetensi administrator jaringan pada materi pemasangan dan konfigurasi perangkat jaringan dengan menggunakan media pembelajaran berbasis LMS Moodle dengan model pembelajaran Project Based Learning Terdapat dasar pengambilan keputusan yang digunakan yaitu : Jika nilai signifikasi atau Sig. -taile. > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Jika nilai dignifikasi atau Sig. -taile. < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengembangan Media Pada fase pengembangan dalam kegiatan penelitian yang dilakukan Learning Management System (LMS) ini dirancang menggunakan metode ADDIE. LMS ini dirancang untuk menunjang pembelajaran yang sedang berlangsung pada Peserta Didik Kelas XI TKJ. Adapun tahapan yang dilaksanakan sebagai berikut : Analisis IT-Edu: Jurnal Information Technology & Education, 11. : 55-66 Pengembangan LMS Moodle Model Pembelajaran PjBL Untuk meningkatkan Kompetensi Administrator Jaringan Siswa . Analisis Kebutuhan Pengembangan Tahap pertama dalam model ADDIE adalah analisis, pengembangan LMS dimulai dari permasalahan yang muncul, yang dapat disebabkan oleh kebutuhan produk dalam lingkungan belajar, serta teknologi dan kepraktisan pembelajaran. Pada penelitian ini, masalah yang dihadapi adalah rendahnya kompetensi administrator jaringan di kelas XI TKJ. Solusi yang diusulkan adalah pembuatan LMS berbasis Moodle dengan model pembelajaran Project Based Learning. Analisis Kebutuhan Fungsional Dalam implementasi media pembelajaran berbasis Moodle, terdapat tiga peran utama yang terlibat, yaitu administrator, pendidik, dan peserta didik. Baik administrator maupun guru memiliki kesamaan dalam beberapa aspek interaksi dengan sistem, namun juga menunjukkan perbedaan karakteristik dalam hal kebutuhan informasi serta pola penggunaan platform. Sedangkan pada siswa memiliki perbedaan. Admin bertanggung jaeab atas pengelolaan data da keseluruhan sistem. Guru memiliki akses untuk mengelola kursus, menilai tugas pengerjaan peserta didik, dan memantau perkembangan peserta didik. Sementara itu, peserta didik dapat melihat kursus, mengerjakan tugas, dan melihat hasil penilaian mereka. Analisis Kebutuhan Non Fungsional Analisis ini untuk mengidentifikasi terkait yang diperlukan agar LMS yang dibuat dapat berjalan dan mudah diakses. Berikut kebutuhan non fungsionalnya yaitu Pengguna LMS Moodle login menggunakan username dan password. LMS Moodle dapat diakses menggunakan Google Chrome. Admin dan guru memiliki fitur yang berbeda dengan siswa. Design Tahap desain ini berfungsi sebagai perancangan awal untuk alur media pembelajaran yang akan Untuk perancangan LMS menggunakan : Use Case Diagram Diagram use case adalah alat visual yang dipakai dalam analisis dan desain perangkat lunak untuk menunjukkan interaksi antara sistem yang sedang dikembangkan dengan aktoraktor yang terlibat. (Taufan et al. , 2. Rancangan Usecase Diagram dapat dilihat pada Gambar Gambar 2. Use Case Diagram Pada Gambar menunjukkan usecase diagram untuk (LMS) berbasis Moodle dengan pendekatan Project-Based Learning (PjBL). Dalam sistem ini, terdapat tiga peran utama. IT-Edu: Jurnal Information Technology & Education, 11. : 55-66 Yurie Enggarnisa1. Rindu Puspita Wibawa2 yaitu admin, guru dan siswa, yang memiliki hak akses dan tanggung jawab berbeda dalam pengelolaan proyek. Activity Diagram Project Based Learning Activity diagram adalah suatu diagram yang menggambarkan konsep aliran data/kontrol, aksi terstruktur serta dirancang dengan baik dalam suatu sistem(Arianti et al. bertujuan untuk mengetahui alur website yang di akses peserta didik yang akan membukan dan mengumpulkan project. Gambar 3. Activity Diagram Project Based Learning . Class Diagram Class diagram digunakan untuk menggambarkan struktur statis dari suatu sistem. Class diagram berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan pemahaman terhadap arsitektur sistem dan membantu dalam proses perancangan sistem Gambar 4. Class Diagram Pengembangan Sistem Pada tahap pengembangan media pembelajaran yaitu menggunakan LMS Moodle. Berikut ini merupakan tampilan LMS yang telah dibuat : Halaman Masuk Pengguna IT-Edu: Jurnal Information Technology & Education, 11. : 55-66 Pengembangan LMS Moodle Model Pembelajaran PjBL Untuk meningkatkan Kompetensi Administrator Jaringan Siswa Gambar 5. Halaman Masuk Pengguna Pada halaman ini pengguna menginput nama pengguna dan kata sandi yang telah ditetapkan oleh pihak admin untuk dapat masuk ke LMS. Halaman Utama Project Based Learning Gambar 6. Halaman Utama Project Based Learning Pada fitur ini Gambar 6. terdapat kursus project based learning, yang dimana pada menu tersebut, terdapat beberapa course yaitu PjBL. Didalam course tersebut berisikan . Orientasi pada Masalah yang mencangkup forum diskusi, rumusan, indikator penyelesaian, dan analisis masalah. Rencana dan Jadwal Proyek. Monitoring Pelaksanaan. Pengumpulan proyek. Presentasi Proyek. Penilaian dan Evaluasi, . Refleksi. Project Based Learning (PjBL) Gambar 7. Project Based Learning(PjBL) Pada Gambar 7. halaman PBL terdapat materi bahan ajar routing melalui pendekatan yang diterapkan berorientasi pada proyek. Halaman Kemajuan Progress IT-Edu: Jurnal Information Technology & Education, 11. : 55-66 Yurie Enggarnisa1. Rindu Puspita Wibawa2 Gambar 8. Halaman Kemajuan Progress Pada halaman ini terdapat kemajuan pengerjaan proyek kelompok untuk memantau progress kemajuan kelompok mengerjakan proyek yang dikerjakan. Dapat dilihat pada Gambar 8. Implementasi Tahap implementasi merupakan fase pengujian dari hasil rancangan yang telah selesai dikembangkan serta dinyatakan layak berdasarkan penilaian para validator ahli. Pengujian ini dilakukan melalui penerapan Learning Management System (LMS) berbasis Projecet Based Learning (PBL) pada subjek belajar tingkatan XI TKJ 1 di SMKN 2 Surabaya yang berjumlah 37 LMS tersebut dapat diakses melalui tautan https://netrouterclass. Pada tahap ini, peneliti menyelenggarakan pretest dan posttest yang mencakup dua jenis evaluasi, yaitu tes kognitif berupa soal pengetahuan, dan tes psikomotorik berbentuk proyek. Evaluation Pada tahap terakhir yaitu evaluation bertujuan untuk mengevaluasi LMS yang telah dibuat berdasarkan lembar penelaian oleh ahli validasi beserta komentar dan saran yang telah diberikan sebagai bahan revisi sebelum produk di implementasikan. Hasil Validasi Produk Merujuk pada hasil penilaian dari para validator, produk LMS yang dikembangkan dalam penelitian ini dinyatakan memiliki tingkat validitas yang sangat tinggi dan dinilai memenuhi kriteria untuk diterapkan dalam proses belajar-mengajar. Rangkuman rekapitulasi penilaian terhadap tingkat validitas produk yang diperoleh dari para pakar disajikan sebagai berikut: Validasi RPP Soal Materi Media Tabel 2 Presentase Validasi Presentase Keterangan Sangat Valid Sangat Valid Sangat Valid Sangat Valid Hasil validasi menunjukkan, perangkat pembelajaran yang dikembangkan menghasilkan kategori sangat valid, dengan persentase validasi: RPP 86%, soal 85%, materi 85%, dan media Hasil Penilaian Siswa IT-Edu: Jurnal Information Technology & Education, 11. : 55-66 Pengembangan LMS Moodle Model Pembelajaran PjBL Untuk meningkatkan Kompetensi Administrator Jaringan Siswa Temuan lain yng mndukung hasil penelitian adalah berdasarkan hasil penilaian PreTes dan Post-Tes yang diberikan kepada siswa XI TKJ 1 sebelum (Pre-Te. dan setelah (PostTe. menggunakan LMS. Gambar 9. Hasil Penilaian Siswa Data mnunjukkan bahwa rata-rata nilai Pos-Tes lebih tinggi daripada kognitif Pre-Tes, yaitu sekitar 95,10 > 55,03. Lalu, hasil tes psikomotor untuk Pos-Tes juga lebih tinggii daripada Pre-Tes, yaitu 90,47 > 43,81. Hasil Analisis Data Uji Normalitas Uji normalitas merupakan sebuah uji yang digunakan untuk mengetahui apakah sebaran data berdistribusi normal atau tidak (Sintia et al. , 2. Tabel 3. Uji Normalitas Kognitif . Kognitif Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic Sig. Shapiro-Wilk Statistic Sig. Pretest Kognitif ,147 ,042 ,944 ,061 Posttest Kognitif ,243 ,000 ,795 ,000 Pada Tabel 3 memperlihtkan hasil uji normalitas menggunakan Shapiroo-Wilk, yang dilakukann dengan SPSS versi 25, menunjukkan bahwa skor Pre-Test Kognitif memiliki tingkat 061 (Shapiro-Wil. , yang lbih tinggi dari tingkat signifikansi 0. Ini menunjukkan bahwa data Pre-Test Kognitif memiliki distribusi normal. Selanjutnya, hasil PostTest Kognitif memiliki tingkat signifikansi 0. 000 (Shapiro-Wil. , yang lebih rendah dari tingkat Ini menunjukkan bahwa data Pos-Tes Kognitif memiliki distribusi tidak Karena data kognitif pre-tes dan post-tes memiliki berdistribusi tidak normal, uji hipotesiis akan dilakukan mnggunakan Uji Wilcoxon. Psikomotorik Pretest Psikomotorik Posttest Psikomotorik Tabel 4. Uji Normalitas Psikomotorik Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Sig. Statistic ,167 ,011 ,893 ,167 ,011 ,905 Sig. ,002 ,004 Pada Tabel 4 memperlihtkan hasil uji normalita menggunakan Shapro-Wilk, yang dilakukan menggunakan SPSS 25, menunjukkan bahwa skor Psikomotorik Pre-Tes memiliki tingkat IT-Edu: Jurnal Information Technology & Education, 11. : 55-66 Yurie Enggarnisa1. Rindu Puspita Wibawa2 sgnifikansi 0,002 (Shapiro-Wil. , lebih rendah dari tingkat ignifikansi 0,05. Menunjukkan bahwa data Psikomotorik Pre-Test memiliki distribusi tidak normal. Selanjutnya, hasil Psikomotorik Post-Test memiliki tingkat signifikansi 0,004 (Shapiro-Wil. , yang kurang dari tingkat signifikansi 0,05. Ini menunjukkan bahwa data Psikomotorik Post-Test tidak memiliki distribusi normal. Karena kedua set datidak memenuhi asumsi normalitas. Uji T Sampel Berpasangan tidak dapat digunakan. Maka, analisiss dilakukan mnggunakan uji nonparametriks. Uji Wilcosxon Signed-Rank, untuk menentukan signifikansi perbedaan antara hasil Psikomotorik siswa pda nilai pre-tes dan post-tes. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis memiliki kaitan erat dengan bentuk distribusi data dalam Jika data memiliki bedisiytibusi normal, maka pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan menggunakan metode statistik parametrik. Sebaliknya, apabila distribusi data tidak normal atau tidak diketahui bentuk distribusinya, maka metode statistik nonparametrik lebih tepat untuk digunakan. (Junaedi & Wahab, 2. Kognitif Tabel 5. Uji Hipotesis Kognitif Test Statistics Posttest Psikomotorik Pretest Psikomotorik -5,310b Asymp. Sig. -taile. ,000 Pada Tabel 5 merupakan hasil Uji Wilcoxon Signed Ranks, nilai Asymp. Sig. -taile. adalah 0,000, kurang dar 0,05. Mnunjukkan bahwa ada perbedan yang signifinkan secara statistick antara hasil pre-tes dan post-tes pada keterampilan kognitif siswa. Psikomotorik Tabel 6. Uji Hipotesis Psikomotorik Test Statistics Posttest Psikomotorik Pretest Psikomotorik -5,233b Asymp. Sig. -taile. ,000 Pada Tabel 6 merupakan hasil Uji Wilcoxon Signed Ranks, nilai Asymp. Sig. -taile. adalah 0,000, kurang dar 0,05. Mnunjukkan bahwa ada perbedan yang signifinkan secara statistick antara hasil pre-tes dan post-tes pada keterampilan kognitif siswa. Karena nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 . < 0,. , maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara nilai pretest dan posttest. Dapat disimpulakan bahwa HCA ditolak dan HCA KESIMPULAN Produk LMS berbasis web yang dikembangkan dengan memanfaatkan platform Moodle ini dirancang sebagai media pembelajaran yang terstruktur dan interaktif, khususnya untuk mendukung implementasi model Project Based Learning (PjBL) pada mata pelajaran Pemasangan dan Konfigurasi Perangkat Jaringan. Pengembangan LMS ini mengikuti tahapan model ADDIE yang terdiri dari lima tahap: Analysis. Design. Development. Implementation, dan Evaluation dengan hasil validasi media mencapai 82% Sangat Valid. Moodle sebagai platform open-source mendukung integrasi berbagai fitur IT-Edu: Jurnal Information Technology & Education, 11. : 55-66 Pengembangan LMS Moodle Model Pembelajaran PjBL Untuk meningkatkan Kompetensi Administrator Jaringan Siswa pembelajaran seperti penilaian, diskusi, hingga pengumpulan tugas berbasis proyek, yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran praktik di SMK. Hasil uji hipotesis Wilcoxon pada data nilai siswa posttest kognitif diperoleh rata-rata 95,1, sedangkan pada hasil uji hipotesis posttest psikomotorik diperoleh rata-rata sebesar 90,4 pada pembahasan diatas dimana secara statik terdapat peningkatan rata Ae rata nilai dari pretest dan postest setelah penggunaan LMS. DAFTAR PUSTAKA