Vol. 3, 3 (Juli, 2. , pp. EISSN: 3031-0881 DOI: 10. 62083/masterpiece. Filosofi Pendidikan Berbasis Karakter Muhammadiyah: Kajian Pemikiran KH. Ahmad Dahlan Pandangan Rahma Azzahra1. Yusron Ghinanjar2,Nur Azizah Azzahra3. Muh. Asyraf Abdillah4 1Universitas Muhammadiyah Tangerang. rahmaazzahra0230@gmail. 2Universitas Muhammadiyah Tangerang. yusronghinanjar97@gmail. 3Universitas Muhammadiyah Tangerang. Azizahazzahra@gmail. 4Universitas Muhammadiyah Tangerang. abdillahalhanif01@gmail. ARTICLE INFO Keywords: Peran. Pendidikan. Karakter. Muhammadiyah. Pemikiran. KH. Ahmad Dahlan Article history: Received 2025-06-21 Revised 2025-07-08 Accepted 2025-07-08 Corresponding Author: Rahma Azzahra. Universitas Muhammadiyah Tangerang. rahmaazzahra0230@gmail. CopyRight: This is an open access article under the CC BY-NC-SA license. ABSTRACT Character education has become a major concern in addressing the moral and social crises of the modern era. Muhammadiyah, as one of the largest Islamic organizations in Indonesia, holds a strong commitment to building a character-based education system deeply integrated with Islamic values. This study aims to explore the educational philosophy of character formation according to KH. Ahmad Dahlan, the founder of Muhammadiyah, and its relevance to contemporary educational challenges. The method used is a literature review by analyzing primary and secondary sources including books, academic journals, and historical documents related to KH. Ahmad Dahlan's thoughts. The findings reveal that KH. Ahmad Dahlan developed a holistic and integrative educational concept that emphasizes not only cognitive development but also spiritual, moral, and social dimensions. He stressed the importance of integrating religious and general sciences, the moral example of teachers, the cultivation of akhlaqul karimah . oble characte. , and the practical application of values in students' lives. This concept is implemented through an integrated curriculum, extracurricular activities, valuebased school environments, and the utilization of digital technology in strengthening character education. KH. Ahmad DahlanAos ideas remain highly relevant in addressing todayAos educational issues, such as identity crises, moral degradation, radicalism, gender inequality, and the need for 21st-century skills. His model of character education aims to form religious, intelligent, independent, and socially responsible individuals. With a progressive and contextual approach, his educational philosophy serves as a foundational pillar for developing an adaptive, solution-oriented, and future-focused Islamic education system. ABSTRAK Pendidikan karakter menjadi perhatian utama dalam menghadapi tantangan krisis moral dan sosial di era modern. Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki komitmen kuat dalam membangun pendidikan berbasis karakter yang terintegrasi dengan nilainilai keislaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji filosofi pendidikan karakter menurut KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah, serta relevansinya terhadap tantangan pendidikan kontemporer. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menelaah sumber-sumber primer dan sekunder berupa buku, jurnal ilmiah, serta dokumen sejarah terkait pemikiran KH. Ahmad Dahlan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KH. Ahmad Dahlan Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 355 of 368 mengembangkan konsep pendidikan yang holistik dan integratif, yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga spiritual, moral, dan sosial. Beliau menekankan pentingnya integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum, keteladanan guru, penanaman nilai-nilai akhlakul karimah, serta penerapan langsung nilai karakter dalam kehidupan peserta didik. Konsep ini diwujudkan melalui kurikulum terintegrasi, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan nilai dalam lingkungan sekolah, serta pemanfaatan teknologi digital dalam penguatan pendidikan karakter. Pemikiran KH. Ahmad Dahlan juga sangat relevan dalam menjawab berbagai tantangan pendidikan masa kini, seperti krisis identitas, degradasi moral, radikalisme, ketimpangan gender, serta kebutuhan akan kecakapan abad 21. Pendidikan karakter menurut KH. Ahmad Dahlan mengarah pada pembentukan insan yang religius, cerdas, mandiri, dan peduli sosial. Dengan pendekatan yang progresif dan kontekstual, pemikirannya menjadi fondasi penting dalam pengembangan sistem pendidikan Islam yang adaptif, solutif, dan berorientasi masa depan. PENDAHULUAN Pendidikan berbasis karakter saat ini menjadi salah satu fokus utama dalam sistem pendidikan global maupun nasional, mengingat kompleksitas tantangan moral dan sosial yang dihadapi generasi muda. Pendidikan karakter tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga pengembangan moral, spiritual, dan sosial yang integral agar peserta didik mampu menjadi individu yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab. Dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia. Muhammadiyah menempatkan pendidikan karakter sebagai pilar utama yang menyatu dalam seluruh aspek proses pembelajaran. Muhammadiyah memandang pendidikan karakter sebagai proses yang menyeluruh dan berkelanjutan, yang bertujuan membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual (Kaharuddin. Malli, and Lamabawa 2. Pemikiran KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah sangat berperan dalam merumuskan filosofi pendidikan yang menekankan integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum, serta pentingnya pembentukan akhlak mulia sebagai fondasi utama KH. Ahmad Dahlan memandang pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses pembentukan kepribadian yang utuh, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang. Dalam karya-karyanya, seperti "Sifat-sifat yang Terpuji," beliau menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai seperti sabar, syukur, tawakal, rendah hati, dan kejujuran sejak dini agar terbentuk karakter berakhlakul karimah (Hasanah. Nursholichah, and Suleman 2. Filosofi pendidikan karakter menurut Muhammadiyah juga berakar kuat pada ajaran Al-QurAoan dan Hadis, yang menekankan kejujuran, integritas, dan teladan akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman utama. Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, sehingga pendidikan karakter Muhammadiyah berupaya meneladani sifat mulia beliau dalam membentuk peserta didik yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan moralitas yang kokoh. KH. Ahmad Dahlan juga melihat pendidikan sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat dan perubahan sosial Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 356 of 368 yang positif, sehingga lulusan pendidikan Muhammadiyah tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan siap berkontribusi bagi kemajuan Implementasi pendidikan karakter dalam Muhammadiyah dilakukan secara holistik dan terstruktur melalui integrasi nilai-nilai karakter dalam kurikulum formal, kegiatan ekstrakurikuler, serta pembentukan lingkungan sekolah yang kondusif. Mata pelajaran seperti Pendidikan Agama Islam. Pancasila, dan Kewarganegaraan dirancang untuk menanamkan nilai moral dan etika, sementara kegiatan seperti pramuka dan kegiatan sosial menjadi media pengembangan kepemimpinan, kerja sama, dan tanggung jawab. Peran guru sebagai teladan moral juga sangat ditekankan agar pendidikan karakter tidak hanya diajarkan tetapi juga dicontohkan secara nyata. Pendekatan ini menjadikan pendidikan karakter Muhammadiyah sebagai model pendidikan yang mengintegrasikan aspek spiritual, intelektual, dan sosial secara seimbang (Salsabila. Zalnur, and Masyhudi 2. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam filosofi pendidikan berbasis karakter dalam pandangan Muhammadiyah melalui pemikiran KH. Ahmad Dahlan. Dengan memahami landasan filosofis dan implementasi praktisnya, diharapkan dapat diperoleh gambaran komprehensif tentang bagaimana pendidikan karakter dapat dikembangkan secara efektif dalam konteks pendidikan Islam modern, sekaligus menjawab tantangan globalisasi dan perubahan zaman yang semakin kompleks. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dan sumber data dalam kajian ini adalah bukuAebuku, jurnalAejurnal yang berkaitan, maupun artikelAeartikel yang terbit di jurnal nasional. Kajian literatur ini memiliki beberapa tahapanAetahapan yang digunakan, mulai dari pengumpulan data, redukasi data, display data, pembahasan hingga kesimpulan. TEMUAN DAN DISKUSI Biografi dan Latar Belakang Pendidikan KH. Ahmad Dahlan . Biografi singkat KH. Ahmad Dahlan Selayaknya manusia pada umumnya, seorang KH. Ahmad Dahlan mempunyai sejarah perjalanan hidup mulai dari lahir, dibesarkan dan kemudian menjadi seorang ulama besar sekaligus tokoh pemikir pendidikan Islam pada zamannya. KH. Ahmad Dahlan lahir di kampung Kauman . ebelah barat alun-alun utar. Yogyakarta, pada tanggal 1 Agustus Kauman merupakan sebuah kampung di jantung Kota Yogyakarta yang berusia hampir sama tuanya dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan sejak ratusan tahun lampau, kampung ini memiliki peran besar dalam gerakan keagamaan Islam. KH. Ahmad Dahlan merupakan putera keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan KH. Abu Bakar dan Siti Aminah. Orang tuanya memberi nama Muhammad Darwisy sebelum berganti nama Ahmad Dahlan. Sebagai anak keempat, mempunyai saudara sebanyak 7 orang, yaitu Nyai Ketib Harum. Nyai Mukhsin atau Nyai Nur. Nyai Haji Saleh. Ahmad Dahlan. Nyai Abdurrahim. Nyai Muhammad Pakin dan Basir (Nani Kuniasih 2. Sementara itu silsilah nasab ayahnya bersambung ke tokoh Walisongo yaitu Maulana Malik Ibrahim dalam urutan ke-12, yaitu KH. Ahmad Dahlan bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin K. Murtadha bin K. Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribing Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 357 of 368 (Djatino. bin Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prape. bin Maulana Ainul Yaqin (Sunan Gir. bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim. (Ratnawati. Hendratno, and IstiqAofaroh 2. KH. Ahmad Dahlan lahir dan tumbuh dalam lingkungan dengan berlatar belakang sosial yang bernuansa agama yang kuat, sehingga tak mengherankan apabila pengaruh keluarga dan lingkungan sekitarnya ini yang kemudian mempengaruhi pribadinya dan menghantarkannya menjadi seorang muslim yang taat beragama. Di usia remaja, jiwa kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan sudah mulai muncul. Selain dikenal sebagai seorang yang cerdas, dia pun menunjukkan sikap kritis terhadap berbagai Dia juga merupakan sosok yang mudah diterima di tengah masyarakat. Selain itu, dia juga dikenal sebagai wirausahawan yang cukup berhasil dalam bisnis batik, serta aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang. Pada tahun 1889. KH. Ahmad Dahlan menikah dengan Siti Walidah, yang dikenal juga dengan nama Nyai Ahmad Dahlan. Siti Walidah lahir pada tahun 1872 di Kauman. Dari nasab keturunannya, dia berasal dari keturunan seorang ulama yang disegani oleh Dari pernikahan KH. Ahmad Dahlan dengan Siti Walidah keduanya dikaruniai enam orang putra. Siti Walidah adalah pendiri AoAisyiyah dan pahlawan nasional. Meskipun dia hanya memperoleh pendidikan dari lingkungan keluarga, akan tetapi karena pergaulannya dengan para tokoh seperjuangan suaminya, seperti Jendral Sudirman. Bung Tomo. Bung Karno. KH. Mas Mansyur, dan lain-lain, maka dia pun mempunyai wawasan yang luas. Sebagai panutan umat. Nyai Dahlan sadar betul menjaga sikap dan akhlaknya. Itu sebabnya, ia dikenal berperangai lemah lembut, peramah, sederhana, tenang, tekun, dan sangat dermawan (Nani Kuniasih 2. Latar Belakang Pendidikan KH. Ahmad Dahlan Semenjak kecil beliau mengawali pendidikannya dengan belajar Al-QurAoan kepada Setelah tamat beliau meneruskan pendidikannya dengan belajar berbagai konsentrasi keilmuan kepada beberapa orang kyai baik yang berada di dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri beliau belajar fiqh pada KH. Muhammad Shaleh, belajar nahwu kepada KH. Muhsin, berguru ilmu hadis pada K. Mahfudh Termas dan Syaikh Khayat, belajar Qiraah pada Syaikh Amien dan Sayyid Bakri Syatha, belajar falaq kepada KH. Dahlan Semarang, dan belajar ilmu racun binatang kepada Syaikh Hasan. Sementara itu, pengalaman juga beliau dapatkan selama menunaikan ibadah haji pada tahun 1889 dan 1903. Saat berhaji beliau belajar fiqh kepada Syaikh Salaf Bafadal. Syaikh SaAoid Yamani, serta Syaikh SaAoid Babusyel. Belajar ilmu hadis pada Mufti SyafiAoi, dan belajar ilmu qiraAoat pada Syaikh Ali Misri Makkah (Ratnawati et al. Seiring dengan semakin menggemanya pemikiran pembaharuan di belahan dunia Islam, saat belajar di Mekkah KH. Ahmad Dahlan pun mulai memiliki kecenderungan untuk mendalami pemikiran tentang pembaharuan Islam, karenanya ia mulai mempelajari dan mencari tahu makna pembaharuan Islam, yang kemudian dia kembangkan di Indonesia. Dia mulai membaca karya-karya para tokoh seperti Ibnu Taimiyah. Jamaluddin al-Afghani. Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Diantara karya-karya yang mengilhami dalam hidup dan perjuangan KH. Ahmad Dahlan adalah KitAb Tawhd dan Tafsr juz AoammA karya Syeikh Muhammad Abduh. KitAbKanz al-AoUlm. DAirahal-Marif karya Fard Wajd,KitAb fal Bidah dan KitAb al-Tawaul wahlah karya Ibnu Taimiyah. KitAb al-IslAm wa alNashariyah karya Muhammad Abduh. KitAbAoIzzaru al-Haq karya Rahmatullah al-Hindi. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 358 of 368 KitAbTafsr al-ManAr karya Rasyd RidhA dan majalah al-AoUrwahal-WuthqA (Mukhtarom Sekembalinya dari Mekkah dengan berbekal ilmu yang cukup. KH. Ahmad Dahlan diangkat sebagai khatib di Masjid Agung Yogyakarta, menggantikan ayahnya. Pada posisi ini, beliau mendapat gelar Aumas. Ketika berusia empat puluh tahun, 1909. KH. Ahmad Dahlan telah membuat terobosan dan strategi dakwah, beliau memasuki perkumpulan Budi Utomo. Melalui perkumpulan ini. KH. Ahmad Dahlan berharap dapat memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya. Lebih dari itu, karena anggota Budi Utomo pada umumnya bekerja di sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintah. KH. Ahmad Dahlan berharap dapat mengajarkan pelajaran agama di sekolah-sekolah pemerintah. Rupanya, pelajaran dan cara mengajar agama yang diberikan KH. Ahmad Dahlan dapat diterima baik oleh anggota-anggota Budi Utomo. Terbukti, mereka menyarankan agar KH. Ahmad Dahlan membuka sendiri sekolah secara terpisah. Sekolah tersebut hendaknya didukung oleh suatu organisasi atau perkumpulan yang bersifat permanen. Melalui organisasi tersebut selain sistem pengajaran dapat diatur sedemikian rupa, juga lebih dapat terhindar dari kebangkrutan manakala pendirinya telah meninggal, sebagaimana sistem pesantren tradisional ketika kiainya telah wafat. Akhirnya pada 18 November 1912. KH. Ahmad Dahlan mendirikan perkumpulan Muhammadiyah di Yogyakarta. Tujuan dari perkumpulan ini adalah menyebarkan pengajaran Rasulullah kepada penduduk bumi putera dan memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya. Untuk mencapai maksud ini. KH. Ahmad Dahlan bersama perkumpulan Muhamadiyah mendirikan lembaga pendidikan . ingkat dasar sampai perguruan tingg. , mengadakan rapat-rapat, dan tabligh, mendirikan badan wakaf, dan masjid, serta menerbitkan buku-buku, brosur, surat kabar dan majalah (Yuliasari 2. Landasan Filosofis Pendidikan dalam Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan yang memiliki nama kecil Muhammad Darwis, dilahirkan di Kauman Yogyakarta. Indonesia. KH. Ahmad Dahlan melihat bahwa persoalan pendidikan adalah alasan utama umat Islam atau bangsa Indonesia tidak pernah maju dan tertinggal. KH. Ahmad Dahlan memiliki tipe yang menyukai praktik langsung dibandingkan dengan berteori, terbukti dengan mendirikan persyerikatan Muhammadiyah, dan melalui persyerikatan itu beliau merumuskan cita-cita pendidikan Islam agar umat Islam jangan tertinggal dari bangsa lain serta beragama dengan akal sehat (Arlen and Sinaga 2. Potret pendidikan saat itu, menggugah KH Ahmad Dahlan untuk mengeluarkan umat Islam dari ketertinggalan serta kejumudan berfikir. Apalagi saat itu ia harus berseberangan dengan kiyai-kiyai yang mempertahankan pola pendidikan yang konvensional (Abbas 2. KH. Ahmad Dahlan berfikir bahwa umat Islam tidak akan maju apabila pola dan metode pendidikan Islam yang dianut masih seperti itu. Sehingga KH. Ahmad Dahlan melakukan tajdid di bidang pendidikan Islam, agar umat Islam mampu bersaing dengan pendidikan buatan Belanda saat itu. Maka cara yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan adalah dengan menggabungkan pengetahuan agama dan pengetahuan umum sebagai satu keilmuan yang harus dimiliki oleh umat Islam jika ingin maju dan terpandang (Syaifuddin et al. Menurut KH. Ahmad Dahlan umat Islam terlalu berpandangan tradisional dan menitikberatkan hanya pada aspek spiritual saja. Dalam hal ini untuk mengeluarkan umat Islam dari cara berfikir yang konvensional yaitu hanya dengan pendidikan. Selain itu, metode pembelajaran yang digunakan harus relevan pula dengan materi yang diajarkan Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 359 of 368 dalam proses pembelajaran. KH. Ahmad Dahlan mencoba mencermati bahwa pembelajaran selama ini berlangsung di lembaga Islam masih stagnan dan bersifat tradisional sehingga siswa lama memahami materi yang disampaikan (Lenggono 2. Oleh karena itu filosofi pendidikan Islam yang dikonstruk oleh K. Ahmad Dahlan bersifat visioner, dan fleksibelitas pendidikan Islam dalam mengakomodasi perkembangan KH. Ahmad Dahlan sangat mementingkan tujuan pendidikan yang integral dengan materi dan metode pembelajaran (Irawan and Barkah 2. Filosofi KH. Ahmad Dahlan tentang metode pembelajaran menekankan pada penguasaan berbagai cara yang sangat baik dalam menyampaikan materi pembelajaran. Cara mengajar menekankan pada keteladanan seorang guru dalam mengajarkan materi pembelajaran pada peserta didik. Di sini KH. Ahmad Dahlan sangat memperhatikan dan mengutamakan metode keteladanan dari seorang guru dalam mengajar karena hal itu menjadi contoh yang akan diikuti oleh peserta didik. Jika guru kehilangan teladan baik, maka murid akan mengabaikan hal-hal yang diajarkan dalam pendidikan sekolah. Maka aspek yang utama dibina oleh KH. Ahmad Dahlan adalah sifat atau karakter yang baik harus dimilki oleh guru. Memberikan contoh yang baik, perbuatan yang baik maka hasil yang didapatkan juga akan baik (Irawan and Barkah 2. Maka selanjutnya adalah menciptakan suasana pendidikan yang memiliki interaksi antara siswa dan pendidik. Interaksi nilah yang kemudian akan membangkitkan khazanah berfikir yang maju. Sehingga diperlukan wawasan yang luas dari pendidik agar mampu memberikan jawaban dari setiap pertanyaan yang disampaikan oleh siswa. Dengan demikian sebenarnya proses pendidikan Islam, yang utama adalah adanya hubungan yang harmonis antara pendidik dan peserta didik agar tercipta suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Materi dan metode dalam konsep pendidikan KH. Ahmad Dahlan ini, kemudian saling berkesinambungan satu sama lain. Setelah keduanya tercapai maka akan menghasilkan tujuan pendidikan Islam seperti yang diharapkan KH. Ahmad Dahlan yaitu mampu membentuk manusia atau umat muslim yang memiliki akhlak yang baik, alim dalam agama, berwawasan luas serta paham akan ilmu keduniaan. Dan pada akhirnya materi dan metode pendidikan Islam yang tertuang dalam konsep filosofis pemikiran KH. Ahmad Dahlan akan semakin memperkokoh tujuan dari pendidikan Islam (Asman. Wantini, and Betty Mauli Rosa Bustam 2. Konsep Pendidikan karakter menurut KH. Ahmad Dahlan Pendidikan karakter merupakan salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan yang bertujuan membentuk kepribadian, moral, dan etika peserta didik. Pendidikan karakter dalam perspektif Muhammadiyah memiliki landasan filosofis dan teologis yang kuat, berakar pada ajaran Islam yang komprehensif. Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, menjadikan Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW sebagai sumber utama dalam merumuskan konsep pendidikan karakter. Ajaran-ajaran dalam kedua sumber ini memberikan panduan yang jelas tentang nilai-nilai moral dan etika yang harus dimiliki oleh setiap individu. Dalam Al-Quran, terdapat banyak ayat yang menekankan pentingnya karakter yang baik (Hasnahwati. Romelah, and Hakim 2. Konsep pendidikan karakter dalam pemikiran K. Ahmad Dahlan tersirat dalam surah Al-MaAoun. Hal tersebut merupakan ruh Muhammadiyah sebenarnya didasari oleh sejarah tentang penetapan K. Ahmad Dahlan dalam menekankan Surah Al-MaAoun kepada murid-muridnya, yang setelah tiga bulan mereka berhasil merealisasikan esensi Al-MaAoun melalui aksi sosial. Bahkan murid-muridnya juga belajar surah lebih lama dari Al-Ma'un, yaitu Al-'Ashar selama delapan bulan (Mulyandari 2. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 360 of 368 H Ahmad Dahlan sangat menekankan pentingnya pendidikan karakter. Karena baginya pendidikan bukan hanya tentang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak dan kepribadian yang baik. Beliau menggabungkan nilai-nilai Islam seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam kurikulum pendidikannya. Dalam pandangan beliau, output pendidikan yang ideal adalah individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual saja, akan tetapi juga memiliki integritas moral yang tinggi dan kepedulian sosial (Hasanah et al. Beberapa konsep pendidikan karakter yang diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan meliputi: (Pancasila et al. Pembentukan karakter muslim: Pendidikan harus membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang baik, bertakwa dan berakhlak mulia. Kepedulian Sosial: KH Ahmad Dahlan sangat menekankan pentingnya kepedulian terhadap masyarakat, terutama bagi yang kurang mampu. Hal ini tercermin dalam berbagai program sosial yang dirintisnya melalui muhammadiyah. Integrasi Ilmu dan Amal: Pendidikan harus mengintegrasikan pengetahuan dengan praktik nyata. Ilmu yang diperoleh harus dapat diaplikasikan untuk kemaslahatan umat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Nilai-nilai Pendidikan karakter KH. Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan secara teori, tetapi membiasakan mempraktekan sehingga dapat membangun kecerdesan spiritual dan sosial. Kecerdasannspiritual adalah kecerdasan hati terkait dengan kualitas batinnya. Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk bertindak lebih manusiawi, sehingga dapat mencapai nilai-nilai luhur yang mungkin belum tersentuh oleh pikiran manusia. Kriteria Kecerdasan spiritual siswa tersebut memiliki sifat fleksibel, mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi, kemampuan menghadapi penderitaan, kemampuan menghadapi rasa takut, hidupnya berkualitas, mampu mengontrol emosi. Sedangkan kecerdasan sosial Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, dan keterampilan ini merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki agar dapat merasa nyaman menjalani hidup dan menikmati Kriteria Kecerdasan sosial siswa tersebut memiliki Memiliki rasa empati yang tinggi. Tidak suka berdebat. Mampu menempatkan diri dengan baik. Peka terhadap lingkungan sekitar. Dengan Kecerdasan sosial manusia mempunyai kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dalam menghadapi situasi dan masalah di sekitarnya, mengamati dan memahami perasaan orang lain serta membangun hubungan yang baik dan saling menguntungkan (Suharto. Rofi, and Huda 2. Strategi Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Lembaga Muhammadiyah Implementasi pendidikan karakter dilembaga pendidikan muhammadiyah dilakukan melalui berbagai strategi yang terstruktur dan sistematis. Berikut adalah beberapa cara utama Muhammadiyah mengimplementasikan pendidikan karakter di lembaga-lembaga pendidikannya (Kaharuddin et al. Kurikulum Terintegrasi Muhammadiyah: Mengintegrasi pendidikan karakter kedalam kurikulum formal. Mata pelajaran seperti Pendidikan Agama Islam. Pancasila, dan Kewarganegaraan dirancang untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika kepada peserta didik. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 361 of 368 . Kegiatan Ekstrakurikuler: Kegiatan ekstrakurikuler memainkan peran penting dalam pengembangan karakter peserta didik. Muhammadiyah menawarkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, kegiatan sosial, dan organisasi kemahasiswaan. Peran Teladan Guru: Guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah diharapkan menjadi teladan bagi siswa-siswinya. Perilaku dan sikap guru sangat mempengaruhi perkembangan karakter siswa. Lingkungan Sekolah yang Kondusif: Lingkungan sekolah yang kondusif sangat penting untuk pengembangan karakter peserta didik. Muhammadiyah berusaha menciptakan budaya sekolah yang positif melalui berbagai kegiatan rutin seperti salat berjamaah, pengajian, dan kegiatan keagamaan lainnya. Lingkungan yang religius dan kondusif ini membantu siswa untuk menerapkan nilainilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan Teknologi dalam Pendidikan Karakter: Muhammadiyah juga memanfaatkan teknologi untuk mendukung pendidikan karakter. Penggunaan aplikasi pembelajaran yang mengandung konten nilai-nilai moral dan etika dapat membantu memperkuat pendidikan karakter. Teknologi juga memungkinkan penyebaran informasi dan materi pendidikan karakter yang lebih luas dan mudah diakses. Evaluasi dan Pengembangan Berkelanjutan: Evaluasi merupakan bagian penting dari implementasi pendidikan karakter. Muhammadiyah melakukan evaluasi berkala terhadap program pendidikan karakter untuk menilai efektivitas dan menemukan area yang perlu diperbaiki. Pendidikan karakter ini diwujudkan dalam bentuk pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang diselenggarakan di setiap jenjang lembaga pendidikan Muhammadiyah. Pendidikan AIK ini dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan dasar dan menengah Muhammadiyah, yaitu: (Baidarus et al. Menyiapkan peserta didik menjadi pelajar muslim yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional dan beramal menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Mengamalkan, mengembangkan, menciptakan, menyebarkan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian dalam rangka memajukan Islam dan meningkatkan kesejahteraan ummat manusia. Secara umum. AIKA memiliki peran penting dalam pendidikan karakter, yaitu: (Winata et al. Memberikan landasan moral dan spiritual Pendidikan Agama Islam dan Aqidah Akhlak memberikan landasan moral dan spiritual bagi peserta didik untuk berperilaku baik. Pendidikan Agama Islam mengajarkan peserta didik tentang ajaran islam, sedangkan Aqidah Akhlak mengajarkan peserta didik tentang aqidah dan akhlak islam. Dengan landasan moral dan spiritual yang kuat, peserta didik akan memiliki motivasi untuk berperilaku baik. Memberikan pedoman perilaku Muamalah memberikan pedoman bagi peserta didik dalam berperilaku di Muamalah mengajarkan peserta didik tentang hukum islam dakam kehidupan sehari-hari. Dengan pedoman perilaku yang jelas, peserta didik akan dapat berperilaku baik sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya bangsa. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 362 of 368 Memberikan wawasan dan inspirasi Kemuhammadiyahan memberikan wawasan dan inspirasi bagi peserta didik untuk menjadi manusia yang bermanfaat bermanfaat bagi masyarakat. Kemuhammadiyahan mengajarkan peserta didik tentang nilai-nilai Muhammadiyah, yaitu: Iman dan takwa, adil dan bijaksana, berilmu dan beramal, berkemandirian dan bergotong royong, berdikari dan Relevansi Pemikiran KH. Ahmad Dahlan Terhadap Tantangan Pendidikan Karakter Masa Kini Krisis karakter yang melanda generasi muda di era kontemporer telah menjadi perhatian serius berbagai kalangan, mulai dari akademisi, praktisi pendidikan, hingga pemangku kebijakan. Dalam konteks ini, pemikiran KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah menunjukkan relevansinya yang signifikan dalam memberikan solusi alternatif terhadap problematika pendidikan karakter masa kini. Visi revolusioner Dahlan tentang integrasi antara pendidikan agama dan pendidikan umum, yang telah dicanangkan sejak awal abad ke-20, kini memperoleh validasinya di tengah kompleksitas tantangan pendidikan modern (Mulkhan 2010, 45-. Pemikiran KH. Ahmad Dahlan tentang pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dari konteks sosio-historis yang melatarbelakangi kelahiran gerakan Muhammadiyah. Pada masa itu, umat Islam Indonesia menghadapi dikotomi yang tajam antara pendidikan tradisional berbasis pesantren yang menekankan aspek keagamaan, dengan pendidikan modern colonial yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan umum. Dahlan melihat dikotomi ini sebagai hambatan fundamental bagi kemajuan umat Islam, dan menawarkan paradigma baru yang mengintegrasikan kedua aspek tersebut dalam satu sistem pendidikan yang holistik (Nashir 2015, 78-. Paradigma integratif ini menjadi sangat relevan dalam konteks pendidikan karakter masa kini yang memerlukan keseimbangan antara pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Fondasi Filosofis Pendidikan Karakter dalam Perspektif KH. Ahmad Dahlan Konsep pendidikan karakter yang dikembangkan oleh KH. Ahmad Dahlan didasarkan pada prinsip-prinsip fundamental yang bersumber dari ajaran Islam namun memiliki dimensi universal. Prinsip pertama adalah konsep tauhid yang menjadi landasan filosofis seluruh proses pendidikan (Shihab 1998, 156-. Dalam pemahaman Dahlan, tauhid bukan hanya keyakinan teologis, melainkan pandangan hidup yang mengintegrasikan seluruh aspek kehidupan manusia dalam kesatuan yang harmonis. Prinsip tauhid ini menghasilkan karakter yang utuh, di mana peserta didik mengembangkan kesadaran bahwa setiap tindakan dan keputusan dalam hidup memiliki dimensi moral dan spiritual yang harus dipertanggungjawabkan. Prinsip kedua dalam pemikiran Dahlan adalah konsep akhlakul karimah yang tidak hanya dipahami sebagai etika individual, tetapi juga sebagai basis untuk membangun peradaban yang berkeadilan. Akhlakul karimah dalam perspektif Dahlan mencakup dimensi hubungan vertikal dengan Allah SWT . ablum min Alla. dan hubungan horizontal dengan sesama manusia dan alam semesta . ablum min an-nas wa al-ala. (Pasha et al. 2005, 134-. Keseimbangan antara kedua dimensi ini menghasilkan karakter yang tidak hanya saleh secara individual tetapi juga memiliki kesadaran sosial yang tinggi dan komitmen terhadap transformasi masyarakat. Pendekatan holistik dalam pembentukan karakter yang diperjuangkan Dahlan menunjukkan kedalaman visinya dalam memahami kompleksitas pembentukan Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 363 of 368 kepribadian manusia. Dahlan meyakini bahwa karakter tidak dapat dibentuk secara parsial atau melalui pendekatan yang fragmentaris, melainkan memerlukan sistem pendidikan yang komprehensif dan terintegrasi (Peacock 2000, 89-. Pendekatan ini menjadikan pendidikan karakter Muhammadiyah sebagai model pendidikan yang mengintegrasikan aspek spiritual, intelektual, dan sosial secara seimbang (Salsabila. Zalnur, and Masyhudi Relevansi terhadap Krisis Identitas di Era Digital Dalam konteks tantangan pendidikan karakter masa kini, pemikiran KH. Ahmad Dahlan menunjukkan relevansinya melalui penekanan pada pengembangan karakter yang berbasis pada nilai-nilai universal namun berakar pada tradisi keislaman. Era globalisasi yang menghadirkan pluralitas nilai dan relativisme moral memerlukan fondasi karakter yang kuat namun fleksibel (Noer 1996, 167-. Pemikiran Dahlan menawarkan solusi melalui konsep Islam yang inklusif dan moderat, yang mampu berdialog dengan berbagai tradisi dan pemikiran tanpa kehilangan identitas dasarnya. Krisis identitas yang dialami generasi muda di era digital menemukan jawaban dalam pemikiran KH. Ahmad Dahlan tentang keseimbangan antara kemajuan material dan Dahlan sejak awal telah menyadari bahwa kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan kekuatan moral dan spiritual akan menghasilkan peradaban yang rapuh dan tidak berkelanjutan (Syamsuddin 2010, 123-. Visi ini sangat relevan dengan kondisi saat ini di mana kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah pola interaksi sosial namun tidak selalu berdampak positif terhadap pembentukan karakter. Fenomena degradasi moral di era digital, yang ditandai dengan meningkatnya kasus cyberbullying, penyebaran hoax, dan pornografi online, memerlukan pendekatan pendidikan karakter yang komprehensif. Pemikiran Dahlan tentang pentingnya mengembangkan karakter yang berdasarkan pada prinsip-prinsip kebenaran, keadilan, dan kasih sayang menjadi sangat relevan dalam konteks ini (Rahman and Prasetyo 2. Dahlan menekankan bahwa pendidikan harus menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan komitmen terhadap kemanusiaan universal. Integrasi Nilai-Nilai dalam Pembelajaran Pendekatan pendidikan karakter yang dikembangkan oleh KH. Ahmad Dahlan menekankan pada integrasi antara teori dan praktik, antara pengetahuan dan pengamalan. Dalam terminologi modern, pendekatan ini sejalan dengan konsep experiential learning dan service learning yang menekankan pada pembelajaran melalui pengalaman langsung dan keterlibatan dalam kegiatan sosial (Azra 2012, 178-. Dahlan meyakini bahwa karakter tidak dapat dibentuk hanya melalui transfer pengetahuan atau indoktrinasi, melainkan harus melalui proses internalisasi nilai yang melibatkan seluruh dimensi kepribadian peserta didik. Implementasi praktis dari pemikiran Dahlan dapat dilihat dalam model pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam seluruh aspek kurikulum. Pendekatan ini tidak menjadikan pendidikan karakter sebagai mata pelajaran terpisah, melainkan sebagai ruh yang menghidupi seluruh proses pembelajaran (Hidayat and Sari Metode ini terbukti efektif dalam membentuk karakter peserta didik karena memberikan konsistensi antara apa yang dipelajari dengan apa yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 364 of 368 Konsep pembelajaran berbasis nilai yang dikembangkan Dahlan juga menunjukkan relevansinya dalam menghadapi tantangan pendidikan inklusif. Pemikiran Dahlan tentang persaudaraan universal yang tidak dibatasi oleh perbedaan suku, agama, ras, dan golongan menjadi fondasi untuk mengembangkan pendidikan yang menghargai keberagaman (Steenbrink 2006, 201-. Konsep ini diimplementasikan melalui pendidikan yang menekankan pada dialog, toleransi, dan kerjasama antarumat beragama. Pengembangan Kecakapan Hidup dan Kewirausahaan Aspek kewirausahaan dalam pemikiran KH. Ahmad Dahlan juga menunjukkan relevansinya dengan kebutuhan pendidikan karakter masa kini. Dahlan menekankan pentingnya mengembangkan jiwa wirausaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan material tetapi juga pada kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat (Latif 2005, 234-. Konsep wirausaha sosial yang kini menjadi tren global sebenarnya telah diantisipasi oleh Dahlan melalui penekanan pada pengembangan karakter yang mandiri, kreatif, dan memiliki tanggung jawab sosial. Pendidikan kecakapan hidup yang dikembangkan berdasarkan pemikiran Dahlan tidak hanya fokus pada pengembangan kemampuan teknis, tetapi juga pada pembentukan mental entrepreneur yang beretika. Pendekatan ini sangat relevan dengan kebutuhan pasar kerja masa kini yang tidak hanya menuntut kompetensi teknis tetapi juga soft skills yang kuat (Wijayanti and Nasution 2. Karakter wirausaha yang dikembangkan meliputi kemandirian, kreativitas, inovasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial. Implementasi pendidikan kewirausahaan berbasis karakter juga terbukti efektif dalam mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan. Program-program pemberdayaan ekonomi yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga Muhammadiyah menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang terintegrasi dengan pengembangan kecakapan hidup mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya menjadi pencari kerja tetapi juga pencipta lapangan kerja (Firmansyah and Rizki 2. Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan Tantangan pendidikan karakter dalam menghadapi krisis lingkungan hidup juga menemukan jawaban dalam pemikiran KH. Ahmad Dahlan tentang hubungan manusia dengan alam. Dahlan mengembangkan konsep khilafah fil ardh . epemimpinan di bum. yang menekankan pada tanggung jawab manusia sebagai khalifah yang harus menjaga kelestarian alam (Madjid 2000, 145-. Konsep ini sangat relevan dengan pendidikan karakter berbasis lingkungan yang kini menjadi kebutuhan mendesak dalam menghadapi krisis ekologi global. Pendidikan lingkungan dalam perspektif Dahlan tidak hanya bersifat teknis-ekologis tetapi juga spiritual-moral. Konsep stewardship atau pengelolaan alam yang bertangungjawab menjadi bagian integral dari pembentukan karakter yang berorientasi pada keberlanjutan (Nurhayati and Pratama 2. Pendekatan ini menghasilkan kesadaran bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab praktis tetapi juga amanah spiritual yang harus ditunaikan. Program-program pendidikan lingkungan yang dikembangkan berdasarkan pemikiran Dahlan menunjukkan keberhasilan dalam membentuk karakter peduli Implementasi green school concept, urban farming, dan berbagai program konservasi di sekolah-sekolah Muhammadiyah menjadi contoh konkret bagaimana pemikiran Dahlan dapat diterapkan dalam konteks pendidikan lingkungan masa kini (Andriani and Wahyudi 2. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 365 of 368 Kesetaraan Gender dalam Pendidikan Karakter Pemikiran KH. Ahmad Dahlan tentang pendidikan perempuan juga menunjukkan progresivitasnya yang relevan dengan tantangan kesetaraan gender dalam pendidikan karakter masa kini. Melalui Aisyiyah. Dahlan memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh pendidikan yang setara dengan laki-laki (Salam 1963, 98-. Visi ini menghasilkan konsep pendidikan karakter yang tidak bias gender dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh peserta didik untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Konsep pemberdayaan perempuan yang dikembangkan Dahlan tidak hanya berfokus pada aspek pendidikan formal tetapi juga pada pengembangan kepemimpinan dan peran sosial perempuan. Pendekatan ini sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan karakter masa kini yang menekankan pada pengembangan leadership skills dan civic engagement bagi seluruh peserta didik tanpa diskriminasi gender. Implementasi kesetaraan gender dalam pendidikan karakter juga terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan kondusif. Program-program yang dikembangkan untuk mempromosikan kesetaraan gender tidak hanya menguntungkan peserta didik perempuan tetapi juga membantu peserta didik laki-laki untuk mengembangkan karakter yang lebih empatik dan inklusif (Putri and Mahmud 2. Teknologi dan Digitalisasi Pendidikan Karakter Dalam konteks globalisasi yang menghadirkan tantangan homogenisasi budaya, pemikiran KH. Ahmad Dahlan tentang keseimbangan antara keterbukaan terhadap kemajuan dan pelestarian nilai-nilai lokal menjadi sangat relevan. Dahlan mengajarkan pentingnya bersikap terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi dari manapun asalnya, namun tetap mempertahankan identitas dan nilai-nilai luhur bangsa (Federspiel 1970, 67-. Prinsip ini menjadi pedoman dalam mengembangkan pendidikan karakter yang berwawasan global namun tetap berakar pada budaya lokal. Implementasi teknologi dalam pendidikan karakter berdasarkan pemikiran Dahlan menunjukkan pendekatan yang seimbang antara pemanfaatan kemudahan teknologi dengan pemeliharaan nilai-nilai humanistik. Penggunaan platform digital untuk pembelajaran karakter, aplikasi monitoring perkembangan karakter siswa, dan gamifikasi pendidikan moral menjadi contoh bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pendidikan karakter (Hasanah and Khoiruddin 2. Relevansi pemikiran Dahlan juga terlihat dalam pendekatannya terhadap pendidikan yang berpusat pada peserta didik . tudent-centered learnin. Dahlan menekankan bahwa setiap individu memiliki potensi yang unik dan proses pendidikan harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing peserta didik (Daulay 2007, 189-. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan modern yang menekankan pada pengembangan multiple intelligences dan personalized learning. Critical Thinking dan Problem Solving Pemikiran KH. Ahmad Dahlan tentang pentingnya mengembangkan critical thinking dan problem solving skills dalam pendidikan karakter juga menunjukkan visionarisme yang luar biasa. Dahlan menekankan bahwa pendidikan harus menghasilkan individu yang mampu berpikir secara mandiri, menganalisis masalah secara objektif, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang (Nata 2005, 156-. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 366 of 368 Kemampuan ini menjadi sangat penting dalam era informasi yang ditandai dengan overload informasi dan proliferasi hoax. Pengembangan kemampuan berpikir kritis dalam konteks pendidikan karakter tidak hanya melibatkan aspek kognitif tetapi juga dimensi moral dan spiritual. Pendekatan yang dikembangkan Dahlan menekankan pada penggunaan akal pikiran yang sehat yang dipadukan dengan hati nurani yang bersih (Setiawan and Amin 2. Integrasi ini menghasilkan kemampuan berpikir kritis yang tidak hanya tajam secara analitis tetapi juga bijaksana secara moral. Implementasi pendidikan critical thinking berbasis karakter juga terbukti efektif dalam membangun resiliensi mental peserta didik menghadapi berbagai tantangan dan tekanan sosial. Kemampuan untuk menganalisis situasi secara objektif, mengidentifikasi berbagai alternatif solusi, dan mengambil keputusan yang tepat menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi kompleksitas kehidupan modern (Indraswari and Fadli Deradikalisasi dan Moderasi Beragama Dalam menghadapi tantangan radikalisme dan ekstremisme, pemikiran KH. Ahmad Dahlan tentang Islam yang moderat dan inklusif menjadi sangat relevan. Dahlan mengembangkan pemahaman Islam yang mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan universal, toleransi, dan perdamaian (Alfian 1989, 78-. Pendekatan ini menjadi antitesis terhadap pemahaman Islam yang rigid dan ekslusif yang seringkali menjadi akar dari radikalisme dan intoleransi. Konsep moderasi beragama yang dikembangkan Dahlan tidak berarti kompromi terhadap prinsip-prinsip keimanan, melainkan kemampuan untuk memahami dan mengimplementasikan ajaran agama secara kontekstual dan bijaksana. Pendekatan ini sangat relevan dalam konteks Indonesia yang majemuk dan memerlukan pemahaman agama yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa (Muslimah and Hakim Program-program deradikalisasi yang dikembangkan berdasarkan pemikiran Dahlan menunjukkan keberhasilan dalam membangun pemahaman Islam yang moderat dan toleran. Implementasi dialog lintas agama, program pertukaran budaya, dan berbagai kegiatan yang mempromosikan toleransi beragama menjadi contoh konkret bagaimana pendidikan karakter dapat berperan dalam mencegah radikalisme (Wibowo and Safitri KESIMPULAN Relevansi pemikiran KH. Ahmad Dahlan terhadap tantangan pendidikan karakter masa kini terletak pada visionarisme dan progresivitasnya yang mampu mengantisipasi berbagai problematika pendidikan di masa depan. Konsep pendidikan holistik yang mengintegrasikan aspek spiritual, intelektual, emosional, dan sosial tetap relevan dalam menghadapi kompleksitas tantangan pendidikan kontemporer. Prinsip-prinsip universal yang dikembangkan oleh Dahlan, seperti keadilan, toleransi, kerjasama, dan tanggung jawab sosial, menjadi fondasi yang kuat untuk membangun karakter generasi muda yang mampu menghadapi tantangan global namun tetap berakar pada nilai-nilai luhur Implementasi pemikiran Dahlan dalam sistem pendidikan masa kini memerlukan kreativitas dan inovasi dalam mengadaptasi prinsip-prinsip dasarnya dengan konteks dan kebutuhan zaman. Pendekatan integratif yang menggabungkan teknologi modern dengan Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 367 of 368 nilai-nilai tradisional, metode pembelajaran inovatif dengan fondasi spiritual yang kuat, serta orientasi global dengan identitas lokal yang kokoh, menjadi karakteristik khas pendidikan karakter yang dikembangkan berdasarkan pemikiran Dahlan. Esensi dan spirit yang terkandung dalam pemikiran KH. Ahmad Dahlan tetap memiliki daya tarik dan relevansi yang tinggi untuk menjawab tantangan pendidikan karakter di era digital dan global ini. DAFTAR PUSTAKA