Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra P-ISSN: 1978-8800. E-ISSN: 2614-3127 http://journal. um-surabaya. id/index. php/Stilistika/index Vol. 18 No. Juli 2025, hal 293-318 REPRESENTASI KETIDAKADILAN GENDER DALAM FILM PLEASE BE QUIET: ANALISIS WACANA KRITIS SARA MILLS THE REPRESENTATION OF GENDER INJUSTICE IN THE FILM PLEASE BE QUIET: A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF SARA MILLS Nadia Khoirunnisa1*. Muhammad Hambali2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Brawijaya. Indonesia1,2 delisaarsyla@student. id1 , mhambali@ub. *penulis korespondensi Info Artikel ABSTRAK Sejarah artikel: Diterima: 11 Mei 2025 Direvisi: 01 Juli 2025 Disetujui: 12 Juli 2025 Penelitian ini mengkaji ketidakdilan gender dari posisi tokoh dalam film Please Be Quiet melalui analisis wacana kritis Sara Mills, semiotika Charles Sandres Pierce sebagai pendekatan utama, dan teori resepsi Struat Hall. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan data primer transkrip dialog dan simbol visual, serta data sekunder komentar netizen di kanal YouTube William Adiguna. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui transkripsi dengan peneliti sebagai instrumen utama. Hasil penelitian menunjukkan, . Tokoh Putri sebagai objek karena mengalami stereotipe, pelecehan seksual, pembungkaman, dan marginalisasi. Tokoh Sarah memiliki posisi sebagai objek dan subjek, karena ambisi pribadi menyebabkan pembungkaman suara. Tokoh Pak Benny sebagai posisi subjek karena lebih dominan dibandingkan tokoh Putri dan Sarah. Simbol visual tokoh mengalami pelecehan seksual dan tanpa mulut ketidakadilan akibat dominasi patriarki di ruang kerja. Kesimpulannya Film Please Be Quiet mengungkap ketidaksetaraan gender dan dominasi kekuasaan di tempat kerja melalui berbagai pendekatan teori. Kata kunci: Representasi, gender, film Please Be Quiet, analisis wacana kritis Article Info ABSTRACT Article history: Received: 11 May 2025 Revised: 01 July 2025 Accepted: 12 July 2025 This study examines the gender inequality of the position of the characters in the film Please Be Quiet through the analysis of Sara Mills' critical discourse. Charles Sandres Pierce's semiotics as the main approach and Struat Hall's reception theory. The method used is qualitative descriptive with primary data in the form of dialogue transcripts and visual symbols, as well as secondary data from netizens' comments on William Adiguna's YouTube channel. The data collection technique is carried out through transcription, with the researcher as the main instrument. The results of the study show that each figure has their own position. Putri as an object because she experiences stereotypes, sexual harassment, silencing, and . Sarah's character has two positions, as an object and a subject, because personal ambition leads to the silencing of voices. The character of Pak Benny as the subject position because it is more dominant than the characters of Putri and Sarah. The visual symbol of the character experiencing sexual harassment and without a mouth represents the inability of women to voice injustice due to patriarchal dominance in the workplace. The conclusion of the discussion shows that the film Please Be Quiet reveals gender inequality and the dominance of power in the workplace through various theoretical approaches. Copyright A 2025. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra DOI: http://dx. org/10. 30651/st. Keyword: Representation, gender, film Please Be Quiet. Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 PENDAHULUAN Film merupakan media yang menggambarkan realitas sosial yang khalayak yang lebih luas (Kaukab & Hidayah, 2. Film didefinisikan sebagai karya sastra yang terdiri dari serangkaian gambar bergerak yang menyusun sebuah narasi. Film juga menggambarkan masalah kehidupan dan kepribadian tokoh (Azzahra & Solihati, 2. Salah satu unsur terpenting dalam sebuah karya sastra adalah karakter. Pengarang dapat menghidupkan cerita dengan memberi mereka peran yang mereka inginkan (Fatimah, 2. Isu gender berkaitan erat dengan lingkungan sosial dan representasi media, dan isu perempuan merupakan bagian tak terpisahkan dari film (Isninadia & Yudhi, 2. Peran film dalam membentuk kesadaran sosial menjadikannya alat penting untuk mengangkat isu-isu ketidaksetaraan Film-film yang membahas digolongkan sebagai film feminis Dengan kemampuannya dalam menyampaikan pesan secara langsung maupun tersirat, film memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir masyarakat. Mills . dalam karya ketidakadilan gender dan representasi negatif terhadap perempuan menjadi fokus utama dalam studi wacana Pendekatan ini juga mengkaji bagaimana pembaca atau penonton ditempatkan untuk menerima atau menolak ideologi yang disampaikan melalui representasi tersebut. Hal ini membuat film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai alat penyebar ideologi yang berperan dalam mempertahankan budaya patriarki (Ayomi, 2. Film sering kali memproduksi kembali konstruksi sosial yang tidak kenyataan sosial yang tidak netral. Representasi tersebut diwujudkan dalam bentuk simbol, cerita, dan kehidupan sehari-hari, serta disajikan secara estetis untuk menarik perhatian Makna dalam film bersifat berubah-ubah, bergantung pada cara penonton Konsep ini sejalan dengan konsep konkretisasi dalam teori resepsi yang menekankan bahwa makna tidak melekat secara tetap pada teks, tetapi terbentuk melalui interaksi antara teks dan latar belakang pembacanya (Jauss. Setiap individu membawa perspektif, nilai, dan pengalaman unik yang memengaruhi cara mereka ditampilkan dalam film. Menurut Stuart Hall . , representasi adalah konsep yang Representasi digunakan untuk menyampaikan atau menggambarkan sesuatu yang bermakna di dunia ini, dan Hall menjelaskan bahwa representasi harus dipahami sebagai hasil dari peran aktif dan kreatif seseorang dalam memberi makna pada dunia, karena setiap individu mungkin memiliki cara Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 representasinya terhadap gambar atau kata-kata tertentu. Gagasan mengenai representasi juga dapat ditelaah melalui pendekatan Semiotika menurut Pierce merupakan istilah lain dari logika, yaitu "doktrin formal tentang tanda-tanda" . he formal doctrine of sign. Istilah semiotika maupun semiologi samasama dapat digunakan untuk merujuk pada ilmu yang mempelajari tandatanda . he science of sign. tanpa adanya perbedaan pengertian yang terlalu mencolok (Ersyad, 2. Makna terbentuk tidak hanya dari simbol . dan objek, tetapi juga melalui interpretasi, yaitu pihak yang menafsirkan tanda tersebut. Dalam pandangannya, tanda terdiri dari tiga elemen utama yang membentuk segitiga triadik: simbol . , objek . , dan interpretant. Semiotika mempelajari sistem tanda serta aturanaturan yang menjadikan tanda tersebut bermakna dalam konteks sosial (Kartini et al. , 2. Dalam perspektif ranah analisis kritis, perspektif feminisme merupakan salah satu yang termuat. Teori feminis hubungan kekuasaan serta bagaimana perempuan, baik sebagai individu maupun anggota kelompok, melakukan kekuasaan tersebut. Kajian feminis terbaru telah bergeser dari pandangan yang melihat perempuan sebagai kelompok yang tertindas dan sebagai korban dominasi laki-laki, menuju upaya merumuskan metode analisis kekuasaan berdasarkan bagaimana kekuasaan itu terwujud dan bagaimana kekuasaan itu ditentang dalam interaksi kehidupan sehari-hari (Mills, 1. Salah satu film yang menyimpan pesan menarik untuk dianalisis adalah film yang memuat nilai-nilai feminis. Kehadiran media film yang membahas tentang feminisme diharapkan dapat ketidakadilan seperti marginalisasi, penindasan, stereotipe dan sosialisasi ideologi gender yang masih sering terjadi hingga saat ini. Film berjudul Please Be Quiet yang disutradarai oleh William Adiguna ini merupakan film pendek berdurasi 20 menit bergenre thrillerdrama. Film pendek Please Be Quiet diproduksi pada tahun 2021 dan cukup populer di kalangan mayarakat terbukti kurang dari 2. 000 telah ditonton pada tahun 2025 di kanal YouTube. Film Please Be Quiet menceritakan isu diskriminasi terhadap perempuan berdasarkan kelas atau disebut dengan kelasisme, yaitu prasangka atau diskriminisasi berdasarkan kelas sosial. Oleh karena itu, film tersebut sangat relevan jika topik kajian menggunakan Banyak penelitian lain juga menunjukkan bahwa tingkat pelecehan seksual di tempat kerja mencapai 3040% di negara-negara Asia-Pasifik. Studi lain yang dilakukan di Hong Kong pada bulan Februari 2007 sekitar seperempat dari para pekerja yang disurvei melaporkan pernah mengalami tindakan pelecehan seksual oleh satu sampai tiga pelaku di tempat kerja (Dwiyanti, 2. Berdasarkan Catatan Tahunan Komisi Nasional Perempuan (CATAHU) tahun 2023, tercatat 451 kasus kekerasan seksual yang terjadi di ruang publik Permasalahan pelecehan seksual di tempat kerja merupakan sebuah kejadian yang merugikan bagi para pekerja, khususnya pekerja perempuan. Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 Representasi perempuan dalam film Indonesia telah banyak dikaji oleh peneliti terdahulu mengenai berbagai ketimpangan gender (Isninadia & Yuhdi 2. serta pengaruh patriarki Jawa perempuan (Novianti et al. , 2022. Putri & Nurhajati, 2. Selain film, media lain seperti novel juga menjadi ruang kajian representasi perempuan. Dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer perempuan dalam posisi subordinat akibat relasi kuasa kelas dan gender (Rosyidi & Puspita, 2. Kajian tersebut menunjukkan kesamaan dengan penelitian terdahulu dalam hal fokus pada representasi perempuan, namun berbeda dalam ruang lingkup pembahasan. Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terletak pada posisinya yang signifikan, yaitu dengan mengangkat representasi perempuan dalam dunia kerja melalui media film. Sebuah aspek yang masih jarang dikaji secara spesifik dalam penelitianpenelitian sebelumnya. Pendekatan ini tidak hanya memperluas cakupan kajian representasi perempuan dalam media, tetapi juga menghadirkan isuisu feminisme yang lebih kontekstual dan relevan dengan dinamika sosial kontemporer, khususnya terkait peran perempuan di ruang publik dan tantangan yang dihadapi dalam struktur kerja modern. Film Please Quiet kehidupan perempuan di Indonesia yang dapat dianalisis dari berbagai Oleh karena itu, fokus utama dalam kajian ini adalah cara film ketidakadilan gender serta interpretasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap gambaran tersebut. Tokoh-tokoh dalam film Please Be Quiet, khususnya yang ditampilkan dengan karakter yang tantangan wanita di lingkungan kerja adalah hasil legitimasi pandangan dari pencipta film. Bagaimana peran dan kedudukan wanita digambarkan, baik secara autentik sesuai kenyataan maupun dalam bentuk rekaan cerita. Oleh karena itu, analisis yang dilakukan oleh peneliti meliputi isi narasi dan percakapan yang dipakai untuk menguraikan peran wanita dalam film Please Be Quiet. Kemudian, adegan menunjukkan bukti ketidakadilan yang dialami oleh tokoh perempuan dalam film Please Be Quiet. Berdasarkan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana ketidakadilan gender dan kedudukan perempuan dalam dunia kerja direpresentasikan dalam film Please Be Quiet dengan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis Sara Mills, dan semiotika Charles Sanders Pierce. Terdapat tiga tujuan khusus dalam kajian ini, yaitu: . Ketidakadilan gender dari posisi tokoh Putri dalam film Please Be Quiet. Ketidakadilan gender dari posisi tokoh Sarah dalam film Please Be Quiet. Menganalisis posisi tokoh Pak Benny dalam film Please Be Quiet. METODE Pendekatan analisis wacana kritis oleh Sara Mills, semiotika Charles Sanders Pierce, dan pendekatan resepsi menjadi jenis kajian yang dipilih peneliti untuk kajian ini. Jenis penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif kualitatif. Sukmadinata dalam Sudarisman . menyatakan bahwa kajian Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 kualitatif memiliki tujuan utama, yaitu mendeskripsikan, sedangkan tujuan lainnya adalah memaparkan dan menjelaskan suatu penelitian. Teori dalam penelitian ini lebih dari satu sehingga dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu . Teori untuk menganalisis data film adalah analisis wacana kritis Sara Mills dan semiotika Charles Sanders Pierce. Teori untuk menganalisis tanggapan penonton adalah teori resepsi Struart Hall. Menurut Sugiyono dalam Arifin . segala hal yang mampu menyampaikan keterangan terkait data disebut sebagai sumber data. Sumber data penelitian ini adalah berupa film pendek berjudul Please Be Quiet yang tersedia di saluran YouTube milik William Adiguna. Data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu data primer dan Data utama dalam penelitian ini adalah data primer berupa teks hasil transkrip film yang berisi dialog dari tokoh Putri. Sarah, dan Pak Benny. Selain itu, terdapat juga data berupa simbol visual yang terdapat di dalam Dalam proses seleksi data adegan film Please Be Quiet, langkah pertama dilakukan dengan mengidentifikasi dua merepresentasikan sosok wanita karier Pemilihan adegan dilakukan melalui analisis wacana Sara Mills, dengan memilih sejumlah dialog yang secara eksplisit maupun implisit menggambarkan adanya ketidakadilan, serta didukung oleh beberapa indikator yang memperkuat temuan data tersebut. Sementara itu, pemilihan adegan berdasarkan teori semiotika Charles Sanders Peirce difokuskan pada adegan-adegan yang secara visual memperkuat analisis terhadap data Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini berupa komentarkomentar netizen baik perempuan maupun laki-laki yang di ambil dari kanal YouTube Wiliam Adiguna untuk terhadap gambaran film Please Be Queit. Data sekunder berfungsi sebagai data pendukung dalam penelitian tambahan yang melengkapi dan memperkuat data primer yang diperoleh secara langsung. Adapun proses seleksi data dalam pemilihan komentar netizen dilakukan dengan menggunakan kriteria tertentu. Peneliti memilih komentar dari netizen perempuan yang memiliki latar belakang sosial atau pengalaman terkait pelecehan seksual, netizen yang berstatus karyawan dan pernah seksual, serta netizen laki-laki yang terhadap pendapat netizen perempuan. Pendekatan seleksi ini bertujuan untuk memperoleh perspektif dari masyarakat yang relevan dan beragam. Sugiyono dalam Arifin . menjelaskan bahwa dalam penelitian kualitatif, instrumen atau perangkat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri . uman instrumen. , yaitu peneliti sebagai pelaksana seluruh tahapan Dengan kata lain, peneliti bertanggung jawab dalam perencanaan, melakukan pengumpulan data, menilai Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 kualitas data, menganalisis data, menafsirkan data, serta menarik kesimpulan hingga menyampaikan hasil penelitian. Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti dibantu oleh lembar analisis berupa transkrip data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode transkripsi data. Sudaryanto dalam Jannah et al. , . menjelaskan bahwa teknik transkripsi merupakan bagian dari teknik simak, peneliti melakukan penyadapan percakapan untuk memperoleh data yang akurat dan kemudian mentranskripsikannya ke dalam bentuk tulisan. Dalam kajian ini, teknik transkripsi dilakukan dengan cara menyimak film pendek berjudul Please Be Quiet yang ada di kanal Youtube berulang-ulang, mencatat seluruh dialog, dan memilih data sesuai dengan fokus penelitian. Selain menangkap secara rinci tutur kata dan konteks dalam dialog film sehingga mempermudah analisis lebih lanjut. Teknik analisis data dalam kajian ini dengan tiga pendekatan teoritis secara integratif. Pertama, analisis wacana kritis Sara Mills diterapkan untuk mengkaji dialog dalam film yang mengandung bias gender, khususnya mengeksplorasi relasi kuasa melalui struktur bahasa seperti stereotipe, marginalisasi, pembungkaman suara, pelecehan seksual, dan ambisi pribadi. Kedua, teori semiotika Charles Sanders Peirce digunakan untuk menganalisis adegan visual film melalui tiga aspek: sign, object, dan intepretan guna mengidentifikasi tanda-tanda pelecehan seksual dan Analisis semiotik merupakan suatu metode atau menganalisis dan memberi makna pada simbol terkandung dalam simbol visual (Kartini et al. , 2. Ketiga, teori resepsi Stuart Hall diaplikasikan untuk memetakan variasi interpretasi audiens terhadap film, encoding/decoding yang menekankan peran latar belakang sosial-budaya dalam konstruksi makna (Gunawan & Wirawanda, 2. Triangulasi ketiga teori tersebut menciptakan adanya analisis holistik yang dapat menjembatani teks, konteks produksi, dan resepsi penonton. Triangulasi teori adalah strategi penting dalam penelitian kualitatif yang mengombinasikan berbagai kerangka teori untuk memperkaya analisis dan meningkatkan validitas hasil penelitian. Menurut Denzin dalam Nugraha , triangulasi teori adalah pendekatan terhadap data dengan menggunakan beragam sudut pandang dan hipotesis, serta memperbandingkan teori-teori yang berbeda pada data yang Cara ini diterapkan ketika terdapat ketidaksesuaian antara teoriteori yang ada dalam merumuskan proposisi tentang suatu fenomena HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian ini didasarkan pada perumusan perempuan ditampilkan dan ditekankan dalam konteks profesional. Analisis wacana kritis menurut Sara Mills berfokus pada dua konsep utama, yaitu posisi subjek-objek dan posisi Setiap pembaca dapat mengonsumsi teks sehingga dapat menempatkan diri mereka sendiri, mendefinisikan dan memengaruhi teks yang mereka pahami, dan bagaimana aktor sosial memperoleh posisi mereka. Hal ini menimbulkan keberadaan pihak Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 yang sah dan tidak sah (Lesmana & Valentina, 2. Adapun adegan yang menunjukan indikator bias gender ditemukan oleh perempuan dalam film Please Be Quiet. Pemilihan adegan dilakukan sesuai dengan fokus penelitian dan disajikan dalam format tabel berikut. Strategi Negosiasi Kuasa / Ambisi Pribadi C Tabel 1. Indikator Penelitian Teori Analis Waca Kritis Sara Mills Fokus / Kategori Analisis Stereotipe Gender Pelecehan Seksual Pembungk Suara Marginalis Perempua Indikator / Aspek Diskursif C Tuntutan Perempuan C Standar ganda dalam C Perilaku yang tidak C Janji seksual C Pemaksaan C Sentuhan fisik tanpa C Komentar atau ucapan C Tidak diberi C Pendapat C Perspektif C Ketidakhadir an di ruang C Tidak dalam Data Sumber Data Pak Benny: AuTungg u dulu. Ay Pak Benny: AuSyarat Ay Pak Benny: AuMaksu d saya, na?Ay Adegan Dialog Film Please Queit Putri: AuLupain Sar, ga apa-apa Ay Pak Benny: AuSaya Ay Putri: AuGue ga di apaapain Semio Charle Peirce Simbol Pelecehan Seksual (Visua. Studi Persep Pemba Simbol Pembungk Suara (Visua. Persepsi Perempua Persepsi Laki-laki C Diskriminasi Perempuan an situasi Pembelaan motif jabatan Posisi subjek yang Sentuhan tanpa izin . Tatapan . Jarak fisik . Mulut dihapus atau C Relasi C Rasa trauma C Kesadaran akan sistem C Perasaan C Respons C Penolakan C Kritik Sarah: AuSaya Putri. Adegan Visual Film Please Queit Data 8,9,10,1 Koment Youtube Film Please Queit Data 12,13 Tabel di atas menjadi dasar bagi peneliti dalam memilih adegan dari seluruh adegan yang diperoleh melalui transkrip data. Pemilihan dilakukan berdasarkan kandungan makna yang sesuai dengan fokus penelitian. Terdapat tiga tokoh yang menjadi fokus Putri dan Sarah sebagai posisi objek. Pak Benny sebagai subjek dan komentar netizen sebagai posisi pembaca (Penonto. Analisis lebih lanjut terhadap adegan-adegan tersebut akan dijelaskan secara rinci pada bagian pembahasan sebagai berikut. Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 Posisi Tokoh Putri dalam Film Please Be Quiet Analisis Wacana Sara Mills Tokoh Putri dalam Film Please Be Queit menepati posisi objek. Posisi objek adalah posisi yang membahas pihak mana yang ditentukan dan digambarkan keberadaannya oleh orang lain. Dalam sebuah film, posisi objek terlihat dari aktor yang paling sering tampil. Adegan dimulai dengan Sarah dan Putri sebagai karyawan terakhir yang pulang karena masih menyelesaikan tugas. Namun. Putri mendapatkan pekerjaan tambahan yang Sarah pekerjaannya di rumah. Dalam film Please Be Quiet tokoh Putri sebagai peran perempuan yang marginalisasi dan pembungkaman di lingkungan kerja. Hal tersebut dapat dilihat dari penjelasan data berikut. Stereotipe Tabel 2. Data 1 Tokoh Pak Benny Putri Pak Benny Putri Pak Benny Putri Pak Benny Narasi AuKalau saya liat si kinerja kamu oke, saya naikin kamu jadi junior manajer ya. Ay AuYang bener pak?Ay AuIya dong masa saya Ay AuTerimakasih banyak Pak. Saya pasti ga akan ngecewain bapak. Ay AuTunggu dulu, ada Ay AuSyaratnya? Syaratnya apa Pak?Ay AuSyaratnya kamu pulang sama saya. Ay Keterang an Waktu 5:05 5:14 5:15 5:20 5:25 5:30 . Pelecehan Seksual Tabel 3. Data 2 Tokoh Narasi Keterang an Waktu Pak Benny AuMaksud saya, kamu nginep di tempat saya, bagaimana?Ay 5:50 5:35 Berdasarkan data AuTunggu dulu, ada syaratnyaAy dan AuSyaratnya kamu pulang sama sayaAy menunjukkan selain pelecehan seksual, perilaku Pak Benny juga bisa disebut dengan pelabelan negatif . Dalam film Please Be Quiet, tokoh Putri ditampilkan dalam posisi yang dapat dikontrol, terlihat saat Pak Benny memberikan tawaran jabatan Junior Manager dengan syarat harus tidur Pak Benny memanfaatkan kekuasaan dan posisinya untuk mendapatkan keuntungan seksual dari Putri. Pak Benny merasa memiliki kontrol atas bawahan dan menganggap Putri mudah menerima ajakan yang tidak sesuai. Hal tersebut merupakan wujud dominasi laki-laki sebagai kelompok mayoritas dan sistem patriarki yang memanfaatkan otoritas mereka untuk memaksa karyawan perempuan yang dianggap lebih lemah agar menginap bersama. Sikap Pak Benny terhadap Putri mencerminkan stereotipe gender yang nyata terjadi dalam banyak struktur organisasi dan masyarakat. Stereotipe sebagai pihak yang lebih lemah dan rentan sehingga mudah dimanipulasi atau dipaksa untuk tunduk pada keinginan laki-laki yang berkuasa. Akibat dari stereotipe mengakibatkan ketidakadilan lainnya (Fakih, 1. Dalam organisasi, promosi jabatan sering keberhasilan karir dan motivasi kerja Namun. Putri sebagai karyawan menunjukkan bahwa tawaran Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 promosi dapat menjadi dilema etis pelecehan seksual. Berdasarkan data AuMaksud saya, kamu nginep di tempat saya, bagaimana?Ay menunjukkan dialog dan adegan bahwa Pak Benny melakukan perilaku yang dapat diklasifikasikan sebagai pelecehan seksual dilihat dari tiga indikator, yaitu . perilaku yang mengandung unsur ajakan seksual. perilaku yang dilakukan dengan sengaja oleh pelaku. perilaku tersebut tidak disetujui oleh korban (Hanyfah & Purwanti. Menurut Winarsunu pelecehan seksual adalah berbagai tindakan yang mengandung unsur seksual yang dilakukan secara sepihak tanpa persetujuan dari korban. Bentuknya dapat berupa kata-kata, tulisan, simbol, isyarat, maupun tindakan yang memiliki makna seksual. Putri, yang awalnya menunjukkan respons positif terhadap tawaran promosi, merasa ambigu setelah menerima persyaratan implisit dari atasannya karena mengarah pada tindakan yang berpotensi melanggar batas profesional. Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce pada Visual Pak Benny Gambar 1. Scene Putri Mengalami Pelecehan Seksual (Sumber: Capture film Please Be Quei. Berdasarkan analisis semiotika Charles Sanders Peirce, tanda . dalam adegan tersebut, perilaku Pak Benny dapat diinterpretasikan sebagai tindakan yang memenuhi definisi pelecehan seksual . Hal ini terlihat dari sikap Pak Benny merayu Putri dengan pesan seksual dan memainkan rambut Putri. Perilaku tersebut mencakup tindakan melanggar kesusilaan atau melibatkan hasrat seksual yang tidak diinginkan dan merendahkan martabat korban. Berdasarkan analisis semiotika Charles Sanders Peirce, perilaku Pak Benny dapat diinterpretasikan sebagai tindakan yang memenuhi definisi pelecehan seksual. Dalam konteks ini, perilaku Pak Benny yang merayu Putri dengan pesan seksual dan memainkan menunjukkan hubungan indeksial antara tindakan fisik dan niat tersembunyi . asrat seksua. Tindakan ini mencakup pelanggaran kesusilaan dan dapat dianggap sebagai pendekatan seksual yang tidak diinginkan, yang merendahkan martabat korban. Dengan demikian, perilaku tersebut bukan melainkan juga mengandung makna simbolik pelecehan, sesuai dengan pemahaman tentang sentuhan di area sensitif tubuh dalam kajian mengenai kekerasan berbasis gender. Pelecehan seksual dikenali sebagai jenis pendekatan seksual yang tidak menerimanya, dengan berbagai bentuk dan alasan di baliknya. Menurut Zastrow & Ashman dalam Valia . fenomena tersebut dapat dikategorikan menjadi dua bentuk utama, yaitu pelecehan verbal dan pelecehan fisik. Pelecehan merendahkan dan mengganggu, seperti Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 . rayuan yang bersifat kasar dan . pengiriman pesan seksual yang persisten dan tidak diinginkan. rayuan yang diulang-ulang meskipun telah ditolak secara tegas. pengiriman pesan yang mengandung unsur ofensif atau merendahkan martabat individu. komentar yang bersifat sugestif dan tidak pantas mengenai tubuh, pakaian, atau perilaku seksual perempuan. Pembungkaman Suara Tabel 4. Data 3 Tokoh Sarah Putri Narasi AuPut, gue ada sesuatu yang harus gue bahas si sama lu. Gue liat semuanya, dan lu masih bisa diem saja sekarang?!Ay AuLupain ajalah Sar, ga ada apa-apa kok. Ay Keteran Waktu Berdasarkan data AuLupain ajalah Sar, apa-apa kokAy menunjukkan ketidakmampuan tokoh perempuan dalam film Please Be Quiet untuk bersuara, bahkan kepada rekan kerjanya Sarah, ini mengindikasikan adanya diskriminasi dan rasa takut yang mendalam akan konsekuensi negatif jika ia melaporkan kejadian tersebut. Putri sebagai sasaran pelecehan seksual mengalami kejadian yang menimbulkan luka batin. Korban pelecehan seksual sering menghadapi kesulitan dalam melaporkan kasus yang Selain terbebani oleh stigma negatif, penegakan hukum di Indonesia masih lemah, terutama untuk kasus pelecehan seksual secara lisan yang sulit ditindaklanjuti secara Korban kerap merasa bingung dan malu dalam menghadapi situasi Dalam film. Putri tampak kebingungan dan kesal ketika Sarah kejadian itu ke pihak berwenang. Sebagai korban. Putri tidak mengetahui dialaminya sehingga ia memilih diam dan menunjukkan kemarahan saat Sarah mencoba berbicara. Teori Kelompok Bungkam (Muted Group Theor. oleh Cheris Kramarae menjelaskan bahwa perempuan sering menyuarakan pengalaman mereka karena norma-norma yang ditetapkan oleh kelompok dominan, yaitu laki-laki (Lusianukita. Hal merasa tertekan untuk tetap diam dan tidak melaporkan pelecehan yang mereka alami. Berbeda dengan Sarah yang memiliki ambisi untuk melawan kejadian yang dialami Putri. Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce pada Visual Putri Gambar 2. Scene Visual Mulut Putri Hilang (Sumber: Capture Film Please Be Quei. Berdasarkan Charles Sanders Peirce, tanda visual Putri tanpa mulut berfungsi sebagai representamen yang mewakili tekanan struktural untuk membungkam korban pelecehan seksual. Ketiadaan mulut bersifat indeksial karena menunjukkan hubungan sebab-akibat antara tanda fisik . ulut yang hilan. dengan konsep abstrak, yaitu pembungkaman Adegan tersebut secara langsung dapat dilihat sebagai manifestasi visual dari ketidakmampuan korban untuk bersuara akibat intimidasi, ancaman. Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 atau ketakutan terhadap konsekuensi sosial dan profesional. Interpretasi yang muncul adalah pemahaman bahwa pembungkaman ini bersifat sistemik dan struktural, membuat korban menghadapi pelaku yang berkuasa. Hal ini mencerminkan dinamika kekuasaan sehingga korban kehilangan perlawanan akibat tekanan psikologis atau ancaman (Futaqi & Amanah. Ketiadaan mulut juga beroperasi sebagai simbol yang terhubung dengan norma sosial yang menormalisasi pembungkaman korban pelecehan. Dalam konteks ini, interpretan . muncul dari pengalaman kultural yang mengasosiasikan korban untuk diam dengan kepatuhan atau Adegan tersebut disaksikan oleh rekan kerja Putri, yaitu Sarah yang secara diam-diam mengamati interaksi antara Putri dan Pak Benny. Kehadiran saksi mata . dalam kasus pelecehan seksual dapat memiliki implikasi signifikan terhadap proses pelaporan dan penegakan hukum, namun juga dapat menimbulkan dilema etis terkait dengan tanggung jawab untuk bertindak . uty to interven. Tawaran Sarah untuk membantu Putri berulang kali ditolak hingga akhirnya Sarah merasa putus asa dan memutuskan untuk mengambil inisiatif . Marginal Tabel 5. Data 4 Tokoh Narasi Keteran Waktu Sarah AuYa itu tapi ga bener Put, itu namanya pelecehan Gue bisa lakuin sesuatu buat bantu lu kalau lu mau. Ay Putri AuSar, please. IAom okay. Gue ga kenapa-kenapa. Gue ga di apa-apain 10:12 Selain pembungkaman suara, sikap Putri juga menginterpretasikan bentuk marginalisasi terlihat dalam data AuSar. IAom okay. Gue ga kenapakenapa. Gue ga di apa-apain jugaAy menunjukkan status Putri sebagai bagian dari kelompok marginalisasi memperkuat persepsi ketidakberdayaan untuk melawan kelompok besar yang memiliki kekuasaan lebih besar. Marginalisasi ini tidak hanya berkaitan dengan posisi sosial atau ekonomi, tetapi juga terkait dengan bagaimana individu atau kelompok tertentu didorong ke pinggir dan kehilangan akses terhadap kekuasaan atau perlindungan yang memadai. Dalam kasus Putri, pernyataannya yang berusaha menenangkan kekhawatiran dan menolak bantuan menunjukkan tekanan internal yang kuat akibat rasa takut, malu, dan ketidakberdayaan. Fenomena kondisi kelompok termarginalkan mengalami keterbatasan ruang untuk kekhawatiran terhadap konsekuensi sosial, profesional, maupun ancaman Proses tersebut secara sistemik memperkuat dominasi kelompok yang berkuasa sekaligus melemahkan posisi korban sehingga sikap Putri dapat dipahami sebagai representasi konkret dari struktural yang berlangsung dalam tatanan sosial dan lingkungan kerja. Pernyataan Augue ga kenapakenapaAy dan Augue ga di apa-apain jugaAy adalah bentuk penyangkalan yang lahir bukan dari ketidaktahuan, melainkan dari rasa bahwa Putri tidak Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 memiliki posisi yang cukup kuat untuk Hal ini menunjukkan bahwa Putri telah terdorong ke pinggir dalam sistem sosial dan budaya yang tidak mendukung korban untuk bicara sehingga diam menjadi strategi Marginalisasi memiliki makna memberi batasan atau mengasingkan individu lemah yang berada di tepi Selain marginalisasi juga bisa terjadi dalam wujud pengabaian hak sosial dan termarginalkan tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka (Burchardt Ketidakseimbangan kekuasaan antara atasan dan bawahan serta potensi konsekuensi negatif terhadap karir, menjadi faktor penghambat bagi Putri untuk melakukan perlawanan langsung. Posisi Tokoh Sarah dalam Film Please Be Quiet Analisis Wacana Sara Mills Sarah Namun, sebelum suara Sarah dibungkam, terdapat alasan di balik tindakannya, yaitu ia mencoba mengancam atasan kerja untuk mendukung perempuan yang menjadi korban pelecehan Meski demikian, dukungan Sarah tidak sepenuhnya murni, karena ada unsur ambisi pribadi untuk naik Adapun untuk penjelasan lebih lanjut sebagai berikut. Strategi Negosiasi Kuasa / Ambisi Pribadi Tabel 6. Data 5 Tokoh Narasi Sarah AuSaya liat Bapak sama Putri dan apa yang Keterang an Waktu Pak Benny Sarah Pak Benny Sarah Bapak lakukan terhadap diaAy AuOh. i see. Lalu rencana kamu apa?Ay AuRencana untuk laporkan ke HRD atau bahkan ke secara apa yang Bapak lakukan terhadap dia bisa dibilang pelecehan seksual loh. Pak. Tapi setelah saya pikir-pikir Pak, santai aja si. Bapak kan selalu baik sama saya jadi menurut saya Bapak merencakan sesuatu gitu buat saya yang bisa buat saya tutup mulut gitu?Ay AuOkey Sar. Oke Sar, please please jangan laporkan ke siapa-siapa Saya sudah punya keluarga. Sar. Saya tahu ini kesalahan saya, saya sekali kok Sar, tolong Sar. Kamu minta apa saya kasih. Ay AuSaya si, saya ga minta Hm. saya cuman saja jabatan manajer seperti yang Bapak tawarkan ke Putri. 13:24 13:50 Berdasarkan data AuRencana saya si untuk laporkan ke HRD atau bahkan ke pihak kepolisian, secara apa yang Bapak lakukan terhadap dia bisa dibilang pelecehan seksual loh. PakAy. Sarah. Putri, menunjukkan respons aktif terhadap dugaan pelecehan seksual yang Pak Benny. Mills menekankan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga instrumen kekuasaan. Dalam situasi pelecehan seksual, bahasa sering digunakan untuk membungkam korban dan mempertahankan dominasi pelaku. Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 Respons Sarah yang tegas dan langsung menantang Pak Benny merupakan bentuk perlawanan terhadap bahasa kekuasaan yang mencoba menutupi atau meremehkan pelecehan tersebut. Kekecewaan Sarah kurangnya ketegasan Putri dalam mencerminkan adanya perbedaan ketidakadilan gender. Tindakan Sarah mengancam Pak Benny dengan laporan ke HRD atau kepolisian dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk mengadvokasi hak-hak perempuan dan menciptakan akuntabilitas bagi pelaku pelecehan seksual. Ancaman yang dilayangkan Sarah kepada Pak Benny Dalam perempuan sering ditempatkan sebagai objek yang pasif dan tidak berdaya. Namun. Sarah mengambil posisi subjek yang aktif, yang berani mengungkap dan menolak tindakan pelecehan. Hal ini menunjukkan perubahan dalam konstruksi identitas perempuan dari objek menjadi agen yang memiliki suara dan kekuatan. Namun, perilaku yang dilakukan oleh Sarah tidak sepenuhnya didasari niat untuk membantu Putri dalam menangani kasus pelecehan seksual. Sarah justru mencoba menegosiasikan sesuatu dengan Pak Benny selaku atasan, dengan menawarkan imbalan berupa tutup mulut agar kejadian tersebut tidak dilaporkan. Hal tersebut dapat dilihat pada data AuSaya si, saya ga minta banyak kok pak. Hm. saya cuman ingin dipromosikan saja jabatan manajer seperti yang Bapak tawarkan ke Putri. Ay Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa Sarah tidak hanya berperan sebagai agen perlawanan, tetapi juga sebagai aktor yang memanfaatkan bahasa dan posisinya untuk mencapai ambisi Strategi ini mencerminkan kompleksitas hubungan kekuasaan di tempat kerja, perempuan terkadang harus berkompromi dengan struktur patriarki demi keuntungan pribadi, meskipun hal tersebut mengorbankan keadilan bagi korban lain. Posisi Sarah ini menggambarkan ambiguitas yang sering dialami perempuan dalam wacana patriarki, perempuan sering berada dalam posisi sebagai korban sekaligus agen yang bernegosiasi dengan sistem dominasi. Sarah sekaligus mengadvokasi hak perempuan dengan ancaman pelaporan, namun juga menegosiasikan posisi kekuasaan pribadi melalui imbalan promosi jabatan. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan dalam konteks ketidakadilan gender tidak selalu bertindak murni sebagai korban atau pahlawan, tetapi memiliki motivasi campuran yang dipengaruhi oleh struktur sosial dan kekuasaan yang ada. Perilaku Sarah mengilustrasikan bagaimana wacana pelecehan seksual dan kekuasaan di tempat kerja tidak hanya soal benar atau salah, tetapi juga soal negosiasi dan kompromi yang Bahasa yang awalnya digunakan Sarah untuk menantang pelecehan berubah menjadi alat tawar-menawar dalam sistem patriarki, memperlihatkan bahwa bahasa dan tindakan perempuan dalam konteks pelecehan seksual bisa menjadi sarana reproduksi maupun resistensi terhadap kekuasaan gender. Dengan demikian, berdasarkan teori Sara Mills, respons Sarah dalam film Please Be Quiet menggambarkan kekuasaan yang kompleks. Sarah menggunakan bahasa untuk melawan pelecehan seksual, namun juga Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 bernegosiasi dengan kepentingan pribadi. Pembungkaman Suara Tabel 7. Data 6 Tokoh Narasi Pak Benny AuOh ngerti, ngerti Sekarang saya tanya sama kamu, emang kamu punya bukti apa saya lakuin itu ke putri hah?Ay AuYa saya gaada, tapi saya yakin saya bisa bikin putri bicara. Ay AuOh really? Are you Emang putrinya mau? By the way ini ga lama lagi ada peninjaun kinerja karyawan kalau liat track record kamu sama putri yang suka suka telat, ya saya kontrak kalian ga Apa lagi dengan adanya pelecehan seksual tanpa bukti tanpa dasar seperti ini. Ay Sarah Pak Benny Keteran Waktu 14:40 14:53 14:58 Bukan hanya tokoh yang menjadi korban pelecehan seksual, dalam film Please Be Queit tokoh perempuan sebagai saksi mata juga mengalami pembungkaman suara seperti yang dialami Putri. Berdasarkan data AuBy the way ini ga lama lagi ada peninjaun kinerja karyawan kalau liat track record kamu sama putri yang suka pulang duluan, suka telat, ya saya sedikit khawatir kontrak kalian ga Apa lagi dengan adanya pemfitnahan pelecehan seksual tanpa bukti tanpa dasar seperti ini. Ay membuktikkan terjadinya pengacaman oleh kalangan atas kepada kalangan Sebagai bagian dari kelompok dominan. Pak Benny yang awalnya mendapat ancaman dari Sarah yang akan melaporkan kejadian mengenai pelecehan seksual pada akhirnya ancaman tersebut berbalik kepada Sarah karena Pak Benny memiliki kekuatan untuk menolak kasus Dengan pengaruh yang dimilikinya. Pak Benny mampu memenangkan perkara tersebut. Putri sebagai korban dan Sarah sebagai saksi merasa terbebani oleh kekuasaan Pak Benny sehingga mereka memilih untuk diam dalam mengenai kejadian pelecehan seksual itu. Hal ini dapat menyebabkan korban pelecehan seksual berisiko menghadapi tuntutan balik atau dikriminalisasi oleh pelaku. Selain itu, terjadi ancaman terhadap rekam jejak kerja Sarah, seorang perempuan, sebagai bagian dari Pak Benny untuk melaporkan kasus pelecehan seksual, namun pada akhirnya Pak Benny Dengan kekuasaan dan pengaruh yang dimilikinya. Pak Benny mampu menyangkal tuduhan pelecehan dan memenangkan perkara tersebut. Situasi ini menyebabkan Putri sebagai korban dan Sarah sebagai saksi merasa terbebani oleh kekuasaan Pak Benny sehingga mereka memilih untuk tetap diam atas kejadian pelecehan seksual Situasi ini menggambarkan risiko yang sering dihadapi korban pelecehan seksual, yaitu kemungkinan menghadapi tuntutan balik atau Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 dikriminalisasi oleh pelaku. Selain itu, terdapat ancaman terhadap rekam jejak kerja Sarah, sebagai perempuan yang ingin mempertahankan pekerjaannya lebih memilih diam agar dapat terus bekerja tanpa kehilangan posisinya. Dalam konteks ini. Pak Benny menggunakan kekuasaannya untuk mengontrol narasi dan membungkam perlawanan sehingga bahasa yang seharusnya menjadi alat untuk mengungkap ketidakadilan justru pembungkaman dan intimidasi. Pilihan Putri dan Sarah untuk diam bukan semata-mata karena ketidakberdayaan, melainkan respons strategis terhadap struktur kekuasaan yang menempatkan mereka pada posisi rentan sehingga lebih memilih untuk diam agar tidak kehilangan pekerjaan. Analisis Sanders Sarah Semiotika Charles Peirce pada Visual Gambar 3. Scene Visual Mulut Sarah Hilang (Sumber: Capture film Please Be Quei. Di akhir film Please Be Quiet, tidak hanya Putri yang divisualisasikan kehilangan suara, tetapi juga Sarah tanda-tanda pembungkaman setelah mencoba Pak Benny untuk melaporkan kasus pelecehan seksual kepada pihak berwenang. Berdasarkan analisis semiotika oleh Charles Sanders Peirce, . Sarah Putri kehilangan mulut yang berarti kehilangan suara. Kehilangan suara di sini bukan hanya secara harfiah, melainkan juga simbolik yang merepresentasikan ketidakmampuan korban untuk bersuara atau melawan ketidakadilan, khususnya pelecehan seksual di tempat kerja. Visualisasi pembungkaman ini menjadi tanda yang kuat untuk menyampaikan pesan tentang tekanan dan ketakutan yang membelenggu korban. Objek . dari tanda ini adalah situasi nyata pelecehan seksual di lingkungan kerja yang sulit diungkap dan diselesaikan. Objek ini mencakup kondisi korban yang lemah, rasa takut profesional, serta ketidakberdayaan menghadapi otoritas pelaku yang berkuasa, seperti atasan. Berdasarkan hal tersebut dapat dinterprestasikan . bahwa pelecehan seksual di tempat kerja bukan hanya masalah individual, melainkan juga masalah struktural dan sosial yang kompleks. Kehilangan suara Putri dan Sarah mengindikasikan bagaimana sistem kekuasaan dan norma sosial yang patriarkal menekan korban untuk tetap diam, sehingga keadilan sulit tercapai. Posisi Tokoh Pak Benny dalam Film Please Be Quiet Analisis Wacana Sara Mills Pak Benny menempati posisi subjek yang mengendalikan, sementara Putri dan Sarah berada dalam posisi yang lebih rentan. Pak Benny, sebagai atasan, memang menempati posisi kekuasaan yang dominan, yang secara ketidakseimbangan dalam hubungan Dalam situasi tersebut, terdapat indikasi tindakan yang merugikan Putri dan Sarah, seperti pelecehan seksual. Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 pembungkaman suara. Namun, penting dinamika interpersonal dan konteks organisasi yang lebih luas, termasuk bagaimana struktur sosial dan budaya di tempat kerja dapat memengaruhi interaksi tersebut. Posisi Pak Benny sebagai figur otoritas memang memberikan kekuatan untuk mengendalikan situasi, namun respons Sarah terhadap situasi tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk persepsi mereka terhadap risiko dan konsekuensi melaporkan tindakan tersebut. Ketegangan yang muncul antara Pak Benny dan Sarah, negosiasi kekuasaan yang kompleks, ancaman dan tuduhan saling digunakan sebagai strategi untuk mempertahankan atau menantang posisi masing-masing. Motivasi di balik tindakan yang dilakukan oleh Pak Benny, yang melibatkan dugaan pelecehan seksual serta penyalahgunaan wewenang, dapat individual maupun struktural. Secara individual, tindakan tersebut dapat didorong oleh keinginan untuk mempertahankan serta mempertegas kedudukannya sebagai otoritas di Dengan memanfaatkan posisi dominannya, ia bawahannya, yang dalam konteks ini adalah Putri dan Sarah. Motivasi ini sering kali berkaitan dengan kebutuhan untuk menunjukkan kekuasaan dan dominasi yang dapat memberikan rasa superioritas dan keamanan dalam lingkungan yang kompetitif. Dari perspektif struktural, tindakan Pak Benny juga tidak terlepas dari pengaruh sistem patriarki yang masih melekat kuat dalam budaya organisasi maupun masyarakat secara umum. Sistem tersebut menempatkan laki-laki dalam posisi yang lebih unggul serta memberikan akses lebih besar terhadap kekuasaan dan sumber daya, sekaligus cenderung melindungi mereka dari pertanggungjawaban hukum dan sosial Perilaku Pak Benny mencerminkan bagaimana individu dengan posisi sosial tinggi sering kali memanfaatkan kekuasaan untuk mengatur situasi Mills mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bersifat eksplisit, tetapi juga membentuk identitas dan hubungan Pak Benny, sebagai subjek kekuasaan untuk membentuk narasi sementara Putri dan Sarah sebagai objek mengalami pembungkaman dan ketidakadilan kelas sosial. Kondisi ini, termasuk prasangka terhadap kelompok etnis atau sosial tertentu, menyebabkan individu memiliki kekuatan dan sumber daya yang terbatas sehingga lebih rentan menjadi sasaran kekerasan dan agresi seksual (Burn, 2. Posisi Pembaca (Penonto. Film Please Be Quiet Analisis Wacana Sara Mills dan Pendekatan Resepsi Stuart Hall Masyarakat sebagai penerima memperhatikan pesan secara selektif, terutama jika pesan tersebut relevan dengan kebutuhan mereka dan sesuai dengan perilaku yang mereka miliki. Selain itu, resepsi mereka terhadap pesan dipengaruhi oleh kondisi psikologi mereka. Ini mengakibatkan resepsi individu terhadap teks tidak sama, tetapi beragam. Hal ini terjadi karena setiap individu memiliki perbedaan dengan yang lainnya. Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 Dengan demikian, posisi pembaca memiliki peranan signifikan dalam membentuk cara pandang pembaca disampaikan dalam sebuah teks. Eriyanto . menyatakan bahwa aspek penting dan menarik dalam pendekatan yang dibuat oleh Mills adalah bagaimana posisi pembaca digambarkan dalam teks tersebut. Mills berargumen bahwa posisi pembaca sangat penting dan harus diperhatikan dalam sebuah teks. Penemuan data untuk posisi pembaca dalam kajian ini diperoleh dari komentar-komentar netizen terhadap film Please Be Quiet. Komentar-komentar mencerminkan beragam pandangan dan interpretasi pembaca terhadap film Variasi opini ini menunjukkan bahwa setiap individu memiliki latar belakang dan pengalaman yang Dengan demikian, timbul persepsi yang memengaruhi dalam memahami dan menilai sebuah teks atau film. Menurut teori resepsi Stuart Hall, terdapat tiga cara berbeda yang dapat menanggapi pesan dari media. Pertama, posisi hegemoni dominan, yaitu kelompok yang menerima pesan tersebut secara utuh sesuai dengan maksud pembuatnya. Selanjutnya, posisi negosiasi, yaitu orang-orang yang pada dasarnya menerima pesan itu, namun mereka menyesuaikan atau pengalaman dan kepentingan pribadi. Sementara memahami apa yang ingin disampaikan media, tetapi memilih untuk menolak dan menafsirkan pesan tersebut secara bertentangan dengan makna aslinya. Posisi Hegemoni Dominan Data pertama yang ditemukan dari komentar netizen perempuan termasuk ke dalam posisi hegemoni dominan pengalaman pribadi ketika mengalami pelecehan seksual. Komentar-komentar tersebut sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan media sehingga menunjukkan bahwa isu pelecehan seksual di tempat kerja tidak hanya terjadi dalam narasi film, tetapi juga merupakan realitas sosial yang dialami banyak orang. Hal ini dapat dilihat pada data . sebagai berikut. AuJaman magang sama kerja dlu sering dpt perlakuan yg kyg gini. Dan mmg I chose the same, to keep Yang penting kita bisa jaga diri, dan ga terjebak. Ay . AuDan ak pernah ngalamin kejadian ini, pas dulu jd sekretaris, bahkan lebih parah dari yang di cerita film ini kejadiannya, tapi akhirnya ak langsung keluar sih ga tetap bertahan kerja. Ay Data . merupakan wujud data yang ditemukan dari komentar netizen dengan akun @TheMsYanti. Melalui menunjukkan pengalamannya ketika magang dan bekerja dahulu, pembaca ini sering mengalami perlakuan serupa, yaitu pelecehan seksual. Namun, ia memilih untuk diam dan menjaga diri tanpa melawan karena merasa tidak memiliki keberanian yang cukup besar. Komentar ini menunjukkan bahwa pembaca adalah individu yang pernah perlakuan tidak menyenangkan, seperti pelecehan, diskriminasi, atau tekanan di lingkungan kerja saat magang. Pembaca berasal dari latar sosial, yaitu Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 posisi sebagai anak magang atau pekerja baru membuatnya merasa rentan dan kurang berdaya untuk melawan perlakuan tersebut secara Pilihan untuk "keep quiet" atau diam mencerminkan sikap pragmatis yang umum ditemui dalam budaya kerja Indonesia yang cenderung hierarkis dan mengutamakan senioritas. Bahasa yang digunakan dalam komentar tersebut juga menunjukkan bagaimana korban internalisasi norma patriarki yang membatasi ekspresi dan Komentar @TheMsYanti bagaimana tekanan struktural dan menciptakan kondisi korban merasa tidak berdaya dan memilih diam sebagai bentuk perlindungan diri. Komentar pembaca pada data . erat kaitannya dengan adegan dalam film Please Be Quiet, khususnya dialog-dialog marginalisasi korban. Dalam film, dialog seperti AuLupain ajalah Sar, ga apa-apa kokAy . ata menunjukkan bagaimana lingkungan kerja, termasuk atasan atau rekan, mendorong korban untuk menutup mulut dan mengabaikan pelecehan yang terjadi. Ini menciptakan tekanan sosial yang besar agar korban merasa bahwa bersuara tidak akan membawa perubahan, bahkan bisa memperburuk keadaan mereka. Data . merupakan wujud data yang ditemukan dari komentar netizen dengan akun @libbibee. Pada data pengalaman serupa, yaitu mendapatkan pelecehan seksual saat menjadi sekretaris di tempat kerja. Namun, pembaca ini memilih untuk keluar dari perlindungan diri. Keputusan ini pelecehan seksual sangat signifikan hingga dapat memaksa korban meninggalkan pekerjaannya demi kesehatan mental dan emosional. Latar belakang sosial pembaca perempuan yang pernah bekerja dalam lingkungan kerja yang keras dan tidak aman, pelecehan atau perlakuan tidak adil masih sering terjadi namun jarang mendapat perhatian serius atau Dengan mengatakan bahwa pengalamannya Aulebih parah dari yang di cerita film ini,Ay pembaca menegaskan bahwa situasi tersebut bukan sekadar fiksi atau dramatisasi, melainkan kenyataan pahit yang pernah Pilihan pembaca untuk Aulangsung keluarAy menunjukkan keberanian dan kemampuan untuk mengambil keputusan tegas demi menjaga kesejahteraan diri, sekaligus menunjukkan bahwa pembaca mungkin memiliki opsi atau dukungan sosialekonomi yang memungkinkan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut. Selain itu, pembaca juga kemungkinan memiliki kesadaran kritis terhadap kondisi sosial dan profesional yang tidak adil, serta berani mengambil langkah konkret untuk melindungi dirinya sendiri. Komentar pada data . yang pembaca yang bahkan lebih buruk daripada yang digambarkan dalam film Please Be Quiet, serta keputusannya untuk langsung keluar dari pekerjaan, sangat terkait dengan adegan-adegan dalam film yang menunjukkan pelecehan seksual oleh atasan terhadap Data dialog seperti AuTunggu dulu, ada syaratnyaAy dan AuSyaratnya kamu pulang sama sayaAy . Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 merefleksikan stereotip atasan yang memanfaatkan posisi dan jabatan untuk menuntut sesuatu yang bersifat pribadi dan tidak profesional, yang dalam konteks ini adalah pelecehan seksual. Posisi Negosiasi Pembaca kenyataan di Indonesia, menunjukkan bahwa pembaca menonton film bukan hanya untuk hiburan semata, melainkan juga sebagai cerminan kondisi sosial yang sebenarnya. Hal ini sesuai dengan tujuan pembuat film yang ingin menumbuhkan kesadaran bersama. Data diambil dari komentar netizen Perempuan sebagai sudut pandang pendapat pribadi yang didasarkan pada peristiwa yang mereka saksikan di lingkungan sekitar. Hal ini dapat dilihat pada data . sebagai berikut. AuRelate banget ga sih?? Dipaksa tutup mulut seakaan akan ga ada yang terjadi. Btw ini ga berlaku di kantor saja. Sekolah dll. Seseorang yang memiliki jabatan menganggap dirinya benar dan tidak melakukan kesalahan karna dia memiliki kuasa mungkin di luar sana masih banyak yang bungkam akan hal seperti ini. Sang lelaki pun mungkin sudah lupa. Sedangkan wanita tidak akan pernah lupa. love this short filmAy. AuThis actually happened in our Like hell, tempat aman buat perempuan rasanya menipis dan ya cewe gabisa bersuara kalo ada kasus kaya gini setelah sadar apalah-hamba-cumakaryawan. Mau lapor, tapi khawatir sama karir. Akhirnya, ya cuma bisa diem :(Au. Data . merupakan wujud data yang ditemukan dari komentar netizen dengan akun @rainly8823. Pada akhir kalimat menunjukkan sikap pembaca yang menyukai film Please Be Quiet karena film ini menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Dalam komentar tersebut pembaca menyoroti tekanan kuat yang dialami korban pelecehan untuk menutup mulut dan berdiam seolah-olah kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Hal ini menunjukkan adanya pembungkaman sistemik yang sering terjadi dalam hubungan atasan dan bawahan, posisi kekuasaan atasan memungkinkan mereka untuk mengabaikan batas-batas profesional dan melancarkan pelecehan dengan rasa impunitas. Pembaca juga menegaskan bahwa pelaku pelecehan yang memegang jabatan cenderung merasa benar dan tidak bersalah karena mereka memiliki kekuasaan yang membuat mereka sulit ditantang atau Komentar tersebut mencerminkan latar belakang pembaca yang besar kemungkinan seorang perempuan memiliki pengalaman langsung atau kedekatan emosional dengan kasus penyalahgunaan kekuasaan, baik di tempat kerja, sekolah, atau institusi Ungkapan seperti Audipaksa tutup mulut seakan-akan nggak ada yang terjadiAy dan Aumasih banyak yang bungkamAy pembaca memiliki kesadaran kritis korban, terutama perempuan, dalam masyarakat yang bersifat hierarkis dan Pembaca memahami bahwa pelaku yang biasanya berada di posisi kuasa sering merasa kebal terhadap konsekuensi karena status atau Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 Kalimat Auseseorang yang memiliki jabatan serta kekuasaan kadang menganggap dirinya benarAy menunjukkan pemahaman tentang struktur sosial yang tidak adil, kekuasaan sering disalahgunakan dan sistem jarang berpihak pada korban. Ketika pembaca mengatakan Ausang lelaki pun mungkin sudah lupa, sedangkan wanita tidak akan pernah lupa,Ay itu mencerminkan perspektif emosional seorang korban atau seseorang yang sangat empatik terhadap korban menggambarkan perbedaan cara laki-laki dan perempuan memproses trauma atau luka sosial. Komentar tersebut memiliki kaitan dengan data dalam dialog film Please Be Quiet, khususnya pada data . yaitu AuMaksud saya, kamu nginep di tempat saya, bagaimana?Ay data memperkuat gambaran pelecehan seksual. Data dialog ini memiliki kaitan dengan komentar tersebut karena menunjukkan kontrolnya hingga ruang pribadi bawahan, yang secara jelas melewati batas profesional dan melanggar hakhak bawahan sebagai individu. Ini bukan hanya pelecehan seksual, melainkan juga bentuk eksploitasi kekuasaan yang memaksa korban untuk merasa terancam dan terjebak dalam situasi yang sulit dilaporkan. Data . merupakan wujud data yang ditemukan dari komentar netizen dengan akun @syrsbl. Pada data tersebut, pembaca menyayangkan perempuan yang tidak memiliki ruang untuk bersuara. Kaum perempuan yang mendapatkan subordinasi dalam bentuk diskriminasi cenderung tidak memiliki kepercayaan diri atas dirinya sendiri. Hal cenderung memilih untuk diam dan menerima perlakuan buruk demi mempertahankan pekerjaan di tengah kesulitan mencari pekerjaan saat ini. Komentar ini mencerminkan latar belakang pembaca yang kemungkinan besar adalah seorang perempuan pekerja atau pernah berada dalam posisi kerja dengan status dan kuasa yang rendah, seperti karyawan junior, staf biasa, atau bahkan magang. Ungkapan Auapalah-hamba-cuma-karyawanAy menunjukkan kesadaran kelas sosial dan posisi subordinat dalam struktur organisasi, seseorang merasa tidak punya kekuatan atau ruang aman untuk bersuara ketika mengalami atau menyaksikan ketidakadilan, seperti pelecehan atau penyalahgunaan kuasa. Komentar pembaca pada data . sangat relevan jika dikaitkan dengan data dialog dalam film Please Be Quiet, khususnya pada data . karena data komentar pembaca dan data dialog sama-sama mengangkat tema ancaman struktural dari atasan terhadap bawahan, terutama dalam konteks lingkungan kerja. Pernyataan atasan dalam data dialog film yang menyebut Aupemfitnahan tanpa bukti dan dasarAy menunjukkan upaya sistematis untuk membungkam suara korban dan mendiskreditkan pengalaman mereka. Hal tersebut ditegaskan dalam komentar netizen melalui pernyataan Auakhirnya, ya cuma bisa diem :(,Ay yang menggambarkan bagaimana korban melindungi karir dan posisi mereka. Keterkaitan ini memperlihatkan bahwa sistem kerja yang hierarkis sering berpihak pada pelaku yang memiliki jabatan lebih tinggi, sementara korban justru dimarginalkan dan dianggap sebagai ancaman bagi citra institusi Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 Dari kedua komentar tersebut termasuk ke dalam posisi negosiasi karena pembaca atau penonton. Perempuan, menikmati film Please Be Quiet dengan mengaitkannya pada pengalaman pribadi yang pernah mereka alami. Hal ini menunjukkan bahwa film tersebut berhasil membangun keterhubungan emosional dengan penonton melalui alur cerita yang relevan dan dekat dengan realitas kehidupan mereka. Dengan adanya pengalaman pribadi sebagai latar, penonton dapat lebih mudah memahami situasi yang dialami oleh karakter dalam film sehingga tercipta empati, refleksi, dan kedekatan emosional terhadap isu yang diangkat. Posisi Oposisi Setelah membahas komentar dari netizen perempuan yang membagikan pengalaman tidak menyenangkan, seperti pelecehan seksual di tempat kerja, kajian ini kemudian berfokus pada komentar dari netizen laki-laki. Berbeda komentar-komentar tersebut justru menunjukkan penolakan atau perlawanan terhadap argumen yang diajukan oleh netizen perempuan. Hal ini mencerminkan adanya perbedaan sudut pandang berdasarkan gender dalam merespons isu pelecehan Komentar mencerminkan reaksi yang khas dari individu dengan latar belakang sosial tertentu, yang dapat berbeda dengan maksud pengarang atau pembaca ideal. Komentar tersebut dapat ditemukan pada data . AuJenis berpengaruh, sama halnya dulu pernah ada pria yang dilecehkan tetapi tidak ditanggapi dengan Ay . AuTahu ga yang lucu? Kalau pria pukuli wanita dibilang kasar. kalau pria dipukuli wanita. dibilang prianya banci, cemen kalah sama cewe. Cewe ga suka cowo polos, lugu. lebih milih cowo Tapi pas disakitin. dibilang semua cowo sama saja. Ay Data . merupakan wujud data yang ditemukan dari komentar @MoskusMoskiferus1611. Pernyataan tersebut mencoba menyampaikan perspektif bahwa pelecehan seksual tidak hanya menimpa perempuan, laki-laki, menyatakan bahwa jenis kelamin tidak berperan dalam kasus pelecehan. Selain itu, komentar ini menyebutkan pengalaman seorang pria yang pernah menjadi korban pelecehan namun tidak memperoleh perhatian atau penanganan serius dari lingkungan sekitarnya. Hal ini mengindikasikan bahwa pembaca kemungkinan berasal dari lingkungan sosial yang pernah menunjukkan ketimpangan dalam respons terhadap korban pelecehan berdasarkan gender, atau memiliki tingkat empati yang tinggi terhadap laki-laki Pembaca tampaknya tidak menolak kenyataan yang dialami memperluas perspektif agar masyarakat juga menyadari bahwa laki-laki dapat menjadi korban dan bahwa sistem atau masyarakat sering gagal memberikan perlindungan serta pengakuan yang Komentar AuJenis kelamin tidak berpengaruh, sama halnya dulu pernah ada pria yang dilecehkan tetapi tidak ditanggapi dengan seriusAy menyoroti bahwa korban pelecehan tidak selalu Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 perempuan, dan laki-laki sebagai korban pun sering tidak dianggap serius, baik oleh sistem maupun Hal ini berkaitan secara tidak langsung dengan data dialog dalam film Please Be Quiet pada data . AuSar. IAom okay. Gue ga kenapakenapa. Gue ga diapa-apain juga,Ay yang menggambarkan marginalisasi meminimalkan kejadian pelecehan karena takut tidak dipercaya atau dianggap lemah. Konteks tersebut bisa dialami siapa saja, termasuk laki-laki, yang dalam norma sosial dan budaya maskulinitas sering ditekan untuk tidak Maka, komentar ini mengajak penonton untuk melihat bahwa pelecehan seksual ketimpangan, bukan semata-mata soal jenis kelamin, serta menyoroti bahwa sistem sosial yang tidak mendukung korban juga berdampak pada laki-laki yang memilih bungkam karena takut dilecehkan secara sosial atau tidak mendapatkan dukungan. Data . merupakan wujud data yang ditemukan dari komentar @simoncristian4425. Komentar tersebut membahas isu ketidakadilan dan stereotip gender, khususnya terkait persepsi sosial terhadap laki-laki dan perempuan dalam konteks kekerasan dan hubungan interpersonal. Dalam mengungkapkan ketidakadilan dalam cara masyarakat memandang tindakan kekerasan berdasarkan gender pelaku dan korban. mereka disakiti dalam Komentar tersebut menunjukkan bahwa pembaca memiliki latar belakang sosial dan emosional yang pengamatan terhadap bias gender dalam relasi sosial dan emosional, khususnya yang merugikan laki-laki. mengungkapkan rasa frustrasi dan kekecewaan terhadap standar ganda dalam masyarakat, yakni kekerasan terhadap perempuan dianggap serius, sementara kekerasan terhadap laki-laki dianggap remeh atau menjadi bahan Pernyataan tentang perempuan yang Autidak suka cowok polosAy dan Aulebih pilih badboyAy menunjukkan bahwa penulis kemungkinan pernah merasa ditolak, disalahpahami, atau dibandingkan secara tidak adil dalam hubungan personal atau asmara karena tidak memenuhi ekspektasi stereotip maskulinitas dominan. Komentar ini mengandung nada resah, sinis, dan penuh kritik terhadap norma-norma sosial yang menurutnya menyudutkan laki-laki, baik dalam soal kekerasan maupun dalam dinamika hubungan. Komentar ini berisi kritik terhadap standar ganda dalam masyarakat dan stereotip gender, terutama bagaimana laki-laki juga sering menjadi korban kekerasan atau dilecehkan secara psikologis, tetapi tidak mendapat empati sosial. Meski komentar ini tidak secara langsung sejalan dengan data dialog film Please Be Quiet yang berfokus pada pelecehan dari atasan laki-laki terhadap bawahan perempuan namun komentar ini menyuarakan ketimpangan perspektif sosial tentang siapa yang dianggap layak menjadi korban atau pelaku. Dalam konteks film, komentar ini menjadi semacam kontras naratif, yaitu pengingat bahwa sistem sosial bisa gagal memihak korban karena prasangka gender, baik terhadap perempuan maupun laki-laki. Kedua komentar tersebut termasuk ke dalam posisi oposisi karena menunjukkan bahwa pembaca menolak Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 narasi dominan yang disampaikan dalam film dan bahkan berupaya mengalihkan fokus wacana. Kedua dikategorikan sebagai pembaca ideal maupun pembaca implisit, karena respons mereka justru mencerminkan jarak atau resistensi terhadap pesan yang ingin disampaikan oleh film. Hal pembaca posisi oposisi membaca teks melalui lensa pengalaman, ideologi, dan kepentingan pribadi sehingga menghasilkan interpretasi yang berbeda atau bertentangan dengan arah yang diharapkan oleh teks. PENUTUP Kesimpulan dari pembahasan menunjukkan film Please Be Quiet ketidaksetaraan gender dan dominasi kekuasaan di tempat kerja melalui berbagai pendekatan teori. Pertama, melalui analisis wacana kritis Sara Mills, data dialog dalam film menunjukkan bagaimana perempuan, ditempatkan sebagai objek yang tekanan dari atasan. Menurut teori Mills, posisi subjek dan objek dalam bagaimana perempuan digambarkan. Dalam film ini, perempuan lebih sering diposisikan sebagai objek yang mengalami ketidakadilan, sementara laki-laki berperan sebagai subjek yang Hal ini terlihat dalam percakapan yang menggambarkan pengucilan, dan pembungkaman suara yang dialami oleh perempuan, yang sekaligus menegaskan adanya ideologi patriarki yang mengatur hubungan gender di lingkungan kerja. Selanjutnya, melalui analisis semiotika Charles Sanders Peirce, ditemukan data visual yang mendukung temuan tersebut. Simbol visual seperti penggambaran bawahan tanpa mulut melambangkan pembungkaman suara tekanan patriarki dan ketidakmampuan ketidakadilan yang dialami. Simbol ini termasuk ikon, indeks, dan simbol yang menunjukkan hubungan sebab-akibat serta makna sosial di balik pelecehan seksual dan penindasan tersebut. Visualisasi ini menegaskan bagaimana laki-laki kebebasan perempuan, tidak hanya secara lisan tetapi juga secara simbolik dalam lingkungan kerja. Selain itu, tanggapan netizen terhadap film ini dianalisis dengan menggunakan teori resepsi Stuart Hall yang mengelompokkan pembaca atau penonton ke dalam tiga kategori: Posisi Hegemoni Dominan. Posisi Negosiasi, dan Posisi Oposisi. Posisi hegemoni menangkap pesan kritis film mengenai ketidakadilan gender secara tersirat, posisi negosiasi memahami pesan moral dan sosial yang ingin sementara posisi oposisi dapat memberikan respons yang beragam, mulai dari dukungan kritis hingga keraguan atau bahkan penolakan, tergantung pada latar belakang dan pengalaman masing-masing. Dengan menggunakan teori Sara Mills, simbol visual yang dianalisis dengan semiotika Peirce, serta respons penonton yang dianalisis dengan teori resepsi, film Please Be Quiet secara menyeluruh Khoirunnisa dan Hambali/ Representasi Ketidakadilan GenderA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 18 No. Juli 2025 Hal 293-318 ketidaksetaraan gender dan kekuasaan yang bersifat sistemik di tempat kerja, perempuan sering dibungkam dan menjadi korban pelecehan oleh pelaku yang memiliki kekuasaan. DAFTAR PUSTAKA Arifin, . Metodologi penelitian pendidikan. Jurnal Al-Hikmah, 1. Ayomi. Representasi dan Resepsi Khalayak Terhadap Film Pendek AuTilikAy REKAM: Jurnal Fotografi. Televisi. Animasi, 17. , 51Ae62. Azzahra. , & Solihati. Representasi Psikologi Sastra pada Film Penyalin Cahaya Karya Wregas Bhanuteja. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 17. , 183196. Burchardt. Le Grand. , & Piachaud. Social exclusion in Britain 1991-1995. Social policy & administration, 33. , 227-244. Burn. The psychology of sexual harassment. Teaching of Psychology, 46. , 96-103. Dwiyanti. Pelecehan seksual pada perempuan di tempat kerja . tudi kasus kantor satpol PP Provinsi DKI Jakart. University of Indonesia. Eriyanto. Analisis wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yokyakarta: LKIS. Ersyad. Semiotika Komunikasi dalam Perspektif Charles Sanders Pierce. CV. Mitra Cendekia Media. Fakih. Analisis gender & transformasi sosial. Pustaka