ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSYARAFAN POST OPERASI KRANIEKTOMI BERBASIS MODEL TEORI OREM SELF CARE: STUDI KASUS Siska Mariany Ocfica Napitupulu1,*. Reny Juliana Sihombing2 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Darmo *Penulis Koresponden: napitupuluikan70@gmail. ABSTRAK Kraniektomi adalah prosedur bedah untuk mengangkat sebagian tulang tengkorak. Prosedur yang dilakukan untuk mengurangi tekanan di dalam kepala akibat pembengkakan otak, cedera kepala, stroke, atau tumor otak. Tujuan dilakukannya studi kasus ini adalah untuk mengimplementasikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem persyarafan post operasi kraniektomi pada Tn. S di RSUP H Adam Malik Medan. Penyusunan asuhan keperawatan berdasarkan model teori self-care orem. Setelah 5 hari dilakukan asuhan keperawatan didapatkan hasil bahwa tingkat kesadaran pasien baik dengan tingkat kesadaran compos mentis, pola nafas pasien reguler dan pasien mampu melakukan sedikit pergerakan pada tangan kiri. Kata Kunci : Kraniektomi. Teori Orem. Self Care Pendahuluan Pada pasien stroke, kraniektomi, khususnya kraniektomi dekompresif, adalah prosedur bedah dimana sebagian tengkorak diangkat untuk mengurangi tekanan pada otak akibat pembengkakan atau perdarahan. Prosedur ini sering sekali merupakan tindakan penyelamat jiwa untuk stroke berat, terutama pada pasien dengan infark arteri serebral ganas, dimana pembengkakan otak dapat mengancam jiwa (Pallesen. Barlinn. , & Puetz. , 2. Kraniektomi adalah prosedur bedah di mana sebagian tengkorak diangkat untuk mengurangi pembengkakan atau peningkatan tekanan Tidak seperti kraniotomi, di mana tulang yang diangkat biasanya diganti, kraniektomi dilakukan dengan membiarkan flap tulang terbuka selama beberapa waktu agar otak dapat membengkak tanpa menyebabkan kerusakan lebih lanjut (Schryder. Gyresir. Vatter. , & Soehle. , 2. Data menurut American Brain Foundation menyatakan bahwa pada tahun 2021, terdapat 3,4 miliar individu atau 43,1% dari populasi global terkena kondisi neurologis, dan kondisi ini menyebabkan 11,1 juta kematian (ABF, 2. Data ini didukung dengan hasil survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1. 000 penduduk (Muhawarman A, 2. Kraniektomi adalah prosedur bedah untuk mengangkat sebagian tulang tengkorak. Prosedur ini biasanya dilakukan untuk mengurangi tekanan di dalam kepala akibat pembengkakan otak, cedera kepala, stroke, atau tumor otak (Yang. & Shen. , 2. Pasien yang menjalani kraniektomi dekompresif sekunder sebagai terapi tingkat akhir untuk hipertensi intrakranial refrakter memiliki mortalitas yang lebih rendah dan dapat membaik seiring waktu dibandingkan dengan mereka yang menerima tatalaksana medis DC sekunder harus dipertimbangkan berdasarkan kasus per kasus, bekerja sama dengan keluarga terdekat atau perwakilan hukum Kraniotomi dekompresif merupakan pilihan alternatif ketika kranioplasti tidak memungkinkan atau ketika otak tidak menonjol maupun rileks setelah evakuasi primer Hernyndez-Duryn. S, et al. , 2. Teori Self-Care Orem dalam asuhan keperawatan berfokus pada upaya membantu pasien mencapai atau mempertahankan kemandirian dalam perawatan diri. Perawat berperan sebagai agen yang memberikan bantuan ketika pasien mengalami defisit perawatan diri, baik secara penuh . holly compensator. , sebagian . artly compensator. , atau suportifedukatif . upportive-educativ. (Surani. , & Nursanti. , 2. Dengan menerapkan teori Orem, perawat tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik pasien, tetapi juga membantu pasien mengembangkan kemampuan perawatan diri, sehingga pasien dapat mencapai kemandirian dan meningkatkan kualitas hidup (Hermalia. Yetti, , & Riyanto. , 2. Malik Medan selama 1 minggu. Tekhik pengumpuan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan studi literatur. Hasil Pengkajian Tn. S berusia 45 Tahun. Jenis kelamin Laki-Laki, masuk ke RSUP H Adam Malik Medan pada tanggal 21 April 2025, diantar keluarga dengan keluhan pasien tidak sadar, terpasang ventilator dan oksigen. Riwayat sebelumnya pasien pernah berobat ke puskesmas dengan keluhan pegal Ae pegal di daerah leher dan mengkonsumsi obat Amlodipine 10 Keluarga mengatakan sebelum dibawa ke rumah sakit pasien mengalami kejang 10x muntah menyembur sudah dimulai 2 hari. Hasil pengkajian pasien tidak sadarkan diri. Pengkajian Universal selfcare requisite didapatkan sebagai berikut. Hasil pemeriksaan fisik Tekanan Darah 163/92 mmHg, tampak pernafasan cepat dengan frekuensi pernafasan 25 kali permenit pada paru kanan dan kiri terdengar adanya suara lendir. Pols: 71 kali permenit dan suhu 36. 6 0C Pasien tidak sadar (Somnole. E : 4 V : 3 M : 2. Pasien tampak terpasang kateter, pada jam 2 sampai 00 urine yang dikeluarkan 500 cc pada bag urine. Klien berpenampilan tidak rapi dengan kondisi pasien bedrest. interpretasi hasil skoring barthel indeks adalah ketergantungan total sebab tidak mampu segala aktifitas dengan pasien tidak sadarkan diri. Hasil pengkajian Development self-care requisite, pasien berada pada tahap perkembangan dewasa akhir yang mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan perawatan diri akibat pasien tidak sadarkan diri. Pasien telah dilakukan pembedahan kraniektomi dengan indikasi stroke hemoragik. Adapun terapi yang diberikan adalah Ceftriaxone 1 gr/12 jam/iv. Dexametasone 5 mg/8 jam/iv. Fentanyl 25 mg/jam/sp/iv. Metode Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Kasus yang ditentukan adalah pasien dengan gangguan sistem persyarafan post operasi kraniektomi. Metode kasus dipilih untuk mengatasi masalah keperawatan yang dialami pasien dan memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif pada pasien kelolaan dengan menggunakan teori model keperawatan self-care Orem. Peneliti melakukan studi kasus pada 1 . orang pasien dengan gangguan sistem persyarafan post operasi kraniektomi yang dirawat di ruang ICU Dewasa RSUP H Adam Dexketoprofen 50 mg/12 jam/iv. Omeprazole 40 mg/24 jam/iv. Asam traneksamat 500 mg/0 jam/iv. Phenitoin jam/iv. Acetylcystein 200mg/8 jam/NGT. Vipalbumin 2cp/8 jam/NGT dan Nacl 0,9 % 16 tpm/10 jam. napas membaik (L. dengan kriteria hasil : Dispnea menurun . Pengunaan otot bantu napas menurun . Pemanjangan fase ekspirasi menurun . Frekuensi napas membaik . Kedalaman napas membaik . Diagnosa Keperawatan Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular (D. , setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 5 hari maka pola mobilitas fisik meningkat (L. dengan kriteria hasil : Pergerakan ekstremitas cukup meningkat . Kekuatan otot cukup meningkat . Rentang gerak (ROM) cukup meningkat . Kelemahan fisik cukup menurun . Diagnosa keperawatan Perumusan diagnosa keperawatan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia. Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien Tn. maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan, yaitu Penurunan kapasitas adaptif intrakranial berhubungan dengan edema serebral . (D. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas (D. dan Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular (D. Intervensi Penyusunan intervensi keperawatan pada kasus ini berdasarkan Buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia dan teori self-care Orem. Pada Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, tindakan keperawatan terdiri dari observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi. Diagnosa Keperawatan Penurunan kapasitas adaptif intrakranial berhubungan dengan edema serebral . (D. intervensi Pemantuan neurologis, yaitu tindakan observasi berupa Monitor keluhan sakit kepala dan Monitor respons babinski. Tindakan terapeutik berupa Hindari aktivitas yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial. Tindakan edukasi berupa Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan. Manajemen peningkatan tekanan intrakranial (I. , yaitu tindakan Observasi berupa Monitor tanda/gejala peningkatan TIK . Tekanan darah meningkat, tekanan nadi melebar, bradikardia, pola napas ireguler, kesadaran menuru. Monitor MAP (Mean Arterial Pressur. Luaran Penyusunan luaran atau hasil yang akan dicapai didasarkan kepada Buku Standar Luaran Keperawatan Indonesia yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia. Pada Diagnosa Keperawatan Penurunan kapasitas adaptif intrakranial berhubungan dengan edema serebral . (D. , setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 5 hari diharapkan kapasitas adaptif intrakranial meningkat (L. dengan kriteria hasil: Tingkat kesadaran meningkat . Sakit kepala menurun . Gelisah menurun . Tekanan darah membaik . Pola napas membaik . Refleks neurologis membaik . Diagnosa Keperawatan Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas (D. , setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 5 hari diharapkan pola Monitor status pernapasan dan Monitor intake dan output cairan. Tindakan Terapeutik berupa Berikan posisi head up 30o. Minimalkan stimulus dengan menyediakan lingkungan yang tenang dan Pertahankan suhu tubuh normal. Tindakan Kolaborasi berupa Kolaborasi pemberian diuretik osmosis, jika perlu. Diagnosa Keperawatan Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya (D. Manajemen jalan napas . , yaitu tindakan observasi berupa Monitor pola napas . rekuensi, kedalaman, usaha napa. Monitor bunyi napas tambahan . Gurgling, mengi, wheezing, ronkhi kerin. dan Monitor sputum . umlah, warna, arom. Tindakan terapeutik berupa Posisikan head up 30o. Berikan oksigen, jika perlu. Tindakan Edukasi berupa Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak Tindakan Kolaborasi berupa Kolaborasi ekspektoran, mukolitik, jika perlu. Manajemen napas buatan . , yaitu tindakan observasi berupa monitor posisi selang endotrakeal (ETT), terutama setelah mengubah Tindakan Terapeutik berupa Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik jika diperlukan . ukan secara berkala/ruti. Tindakan Kolaborasi berupa kolaborasi intubasi ulang jika terbentuk mucous plag yang tidak dapat dilakukan penghisapan. Manajemen ventilasi mekanik dengan tindakan Observasi berupa monitor kriteria perlunya penyampihan ventilator, monitor gejala peningkatan pernapasan . eningkatan denyut jantung atau pernapasan, peningkatan tekanan dara. Tindakan Terapeutik berupa atur posisi kepala 45-60o untuk mencegah aspirasi, ganti sirkuit ventilator setiap 24 jam dan dokumentasikan Tindakan Kolaborasi berupa kolaborasi pemilihan mode ventilator . ontrol volume, control tekanan atau gabunga. , kolaborasi pemberian agen pelumpuh otot, sedatif, analgesic sesuai kebutuhan dan kolaborasi penggunaan PS atau PEEP untuk meminimalkan hipoventilasi Diagnosa Keperawatan Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular (D. dilakukan intervensi Manajemen energi (I. yaitu dengan Tindakan Observasi berupa monitor pola dan jam tidur dan monitor lokasi dan ketidaknyaman selama melakukan aktivitas. Tindakan Terapeutik berupa lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif dan berikan aktivitas distraksi yang menenangkan. Tindakan kolaborasi berupa kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan Implementasi Diagnosa Keperawatan Penurunan kapasitas adaptif intrakranial berhubungan dengan edema serebral . (D. dengan intervensi yang telah dilakukan Menilai tingkat kesadaran dengan hasil Tingkat kesadaran somnolen. GCS: 10 (E4V0M. Melakukan skin test Ceftriaxone 3cc dengan hasil tidak ada tanda-tanda alergi obat pada pasien. Menakar urine dengan hasil urine: 500 cc. Diagnosa Keperawatan Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas (D. dengan intervensi yang telah dilakukan Memonitor tanda-tanda vital dengan hasil TD: 159/76 mmHg N: 48x/menit R: 16x/menit S: 36oC. Memonitor frekuensi, irama kedalaman upaya napas dengan hasil Respirasi: 16x/menit, ada upaya napas. Memonitor saturasi oksigen dengan hasil SPO2 : 100% terpasang ventilator SIMV. Memberikan volume ventilasi mekanik dengan hasil Tidal volume: 389. Memonitor bunyi napas tambahan dengan hasil terdengar bunyi Melakukan penghisapan lender dengan hasil penghisapan lender telah dilakukan kurang dari15 detik selama 3x penghisapan - Memonitor sputum dengan hasil tampak sputum berwarna putih dengan jumlah sebanyak 2cc. Diagnosa Keperawatan Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular (D. dilakukan intervensi Manajemen energi (I. dengan intervensi yang telah dilakukan Memposisikan semi fowler dengan hasil pasien dalam posisi semi fowler, melakukan Latihan rentang gerak pasif dan Memonitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas dengan hasil tampak pasien meringis saat kepalanya digerakkan dan mengalami kelemahan fisik pada tangan kiri. kedua lapang paru, tampak pola napas reguler, tampak pasien masih mengalami penurunan . GCS: 15 (E4 V5 M. , tampak pasien masih gelisah, tampak warna kulit tidak pucat, tampak terpasang nasal canul 2 Lpm. Diagnosa Gangguan mobilitas fisik belum teratasi melalui tindakan keperawatan yang dilakukan selama 5 hari berdasarkan hasil evaluasi keperawatan yang ditemukan pasien tampak aktivitas harian pasien masih dibantu keluarga dan alat, tampak pasien tidak mampu melakukan pergerakan pada tangan kiri, tampak pasien masih mengalami kelemahan fisik, tampak pasien belum mampu melakukan ROM, kekuatan otot masih menurun pada tangan kiri dan kaki dan refleks babinski kiri: positif. Pembahasan Evaluasi Asuhan keperawatan yang dilakukan pada kasus ini menggunakan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Standar Luaran Keperawatan Indonesia dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia dan konsep teori Self-care Orem. Sistem pemberian asuhan keperawatan pada teori self-care Orem meliputi Wholly Compensatory System. Partially Compensatory System dan Supportive Educative System. Wholly Compensatory System adalah tindakan keperawatan dengan memberikan bantuan penuh kepada pasien karena ketidakmampuan pasien dalam mengatasi masalah keperawatan. Partially Compensatory System adalah memberikan tindakan keperawatan dengan bantuan sebagian kepada pasien. Sedangkan Supportive Educative System adalah pemebrian tindakan keperawatan berupa dukungan edukasi sehingga pasien mampu untuk melakukan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5 hari pada diagnosa keperawatan Penurunan kapasitas adaptif intrakranial berhubungan dengan edema serebral . belum teratasi berdasarkan hasil evaluasi keperawataan yang menyatakan bahwa tampak kesadaran pasien baik dengan tingkat kesadaran compos mentis. GCS: 15 (E4V5M. , nadi teraba lemah. CRT < 3 detik. TD: 128/78 mmHg. N: 95x/menit. 20x/menit. SPO2: 100%. Tampak pasien sudah tidak gelisah. Akral teraba hangat. Tampak konjungtiva tidak anemis dan Refleks Babinski kiri: positif. Diagnosa keperawatan Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas belum teratasi melalui tindakan keperawatan yang dilakukan selama 5 hari berdasarkan hasil evaluasi keperawatan yang menyatakan R: 20x/menit. SPO2: 100%, masih terdengar suara napas tambahan: ronchi di tindakna Tindakan keperawatan menurut teori Orem berupa guidance, teach, support dan providing development environment (Taalab, . Qasem. Gamal. , & Ashour. , 2. Sedangkan pada Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, tindakan keperawatan terdiri dari observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi. Gangguan merupakan salah satu penyakit yang berpengaruh lebih dari 600 penyakit, terkhusus pada pasien stroke terdapat lebih dari 80 juta Dimana secara global menyebabkan kecatatan dan kematian (Dumurgier. , & Tzourio. C, 2. Nyeri dan Pembengkakan akibat sayatan di lokasi operasi, sakit kepala, dan pembengkakan di sekitar luka merupakan hal yang umum, seringkali berkurang seiring Terdapat adanya perubahan neurologis yaitu Masalah kognitif, kelelahan, dan kelemahan mungkin muncul pada awalnya, dengan perbaikan bertahap. Sakit kepala, terutama sakit kepala pascakraniotomi (PCH), dapat terjadi, terkadang menyerupai sakit kepala tegang atau migrain. Adanya masalah di Lokasi Sayatan pembengkakan, drainase, atau pendarahan di lokasi sayatan harus dipantau dan terdapat perubahan penglihatan yaitu perubahan penglihatan dapat terjadi setelah kraniotomi (Subbarao. , et all, 2. Perawatan pascakraniektomi berfokus pada pemantauan, manajemen nyeri, perawatan luka, dan peningkatan aktivitas secara bertahap sambil mencegah komplikasi. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda vital dan status neurologis sangat penting, terutama pada periode pascaoperasi, seringkali di ruang ICU. Nyeri ditangani dengan obat-obatan yang diresepkan, dan kepala ditinggikan untuk mengurangi pembengkakan. Perawatan luka meliputi menjaga sayatan tetap bersih dan kering, serta menghindari produk atau losion rambut tertentu. Pasien dianjurkan untuk meningkatkan aktivitas secara bertahap, dimulai dengan berjalan dan menghindari mengangkat beban berat atau aktivitas berat hingga diizinkan oleh dokter. Aspek penting lainnya meliputi pencegahan jatuh, penanganan potensi komplikasi seperti kejang atau infeksi, dan pemberian dukungan emosional. (Carone, , et all, 2. Pemberian intervensi pada penurunan kapasitas adaptif intrakranil behubungan dengan edema cerebral . dengan wholly compensatory system. Intervensi yang diberikan bertujuan agar verbalisasi mendengar bisikan menurun, distorsi sensori menurun, perilaku halusinasi menurun dan respon sesuai stimulus membaik. Tindakan berupa metode guidance yaitu monitor perilaku yang menindikasikan halusinasi, monior isi Metode teach yaitu anjurkan bicara pada orang lain yang dipercaya untuk memberi dukungan dan umpan balik korektif terhadap halusinasi dan anjurkan melakukan distraksi atau melakukan aktivitas dan teknik relaksasi. Metode support yaitu pemberian obat diuretik osmosis, jika perlu. Setelah 5 hari dilakukan tindakan keperawatan, didapatkan hasil Tampak kesadaran pasien baik dengan tingkat kesadaran compos mentis. GCS: 15 (E4V5M. - Nadi teraba lemah - CRT < 3 detik - TD: 128/78 mmHg - N: 95x/menit - R: 20x/menit spO2: 100% - Tampak pasien sudah tidak gelisah - Akral teraba hangat - Tampak konjungtiva tidak anemis - Refleks Babinski kiri: positif. Pemberian intervensi pada Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas dengan wholly compensatory Intervensi diberikan bertujuan untuk membuktikan bahwa pola napas membaik yaitu Dispnea menurun. Penggunaan otot bantu napas menurun. Pemanjangan fase ekspirasi menurun. Frekuensi napas membaik dan Kedalaman napas membaik. Metode metode guidance yaitu Monitor pola napas . rekuensi, kedalaman, usaha napa. Monitor bunyi napas tambahan . Gurgling, mengi, wheezing, ronkhi kerin. , monitor sputum . umlah, warna. Metode teach yaitu Anjurkan asupan ml/hari. Metode support yaitu Kolaborasi ekspektoran, mukolitik, jika perlu. Setelah 5 didapatkan hasil R: 20x/menit. SPO2: 100%, masih terdengar suara napas tambahan: ronchi di kedua lapang paru. Tampak pola napas reguler. Tampak pasien masih mengalami penurunan kesadaran dengan tingkat kesadaran . GCS: 15 (E4 V5 M. Tampak pasien masih gelisah. Tampak warna kulit tidak pucat dan Tampak terpasang Nasal canul 2 Lpm. Intervensi pada Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular dengan wholly compensatory system. Intervensi yang diberikan bertujuan untuk mobilitas fisik meningkat yaitu diantaranya Pergerakan ekstremitas meningkat. Kekuatan otot meningkat dan Rentang gerak (ROM) Metode guidance yang dilakukan adalah lakukan latihan rentang gerak pasif dengan bantuan perawat dan berikan aktivitas distraksi yang menenangkan. Metode teach yang dilakukan adalah anjurkan tirah baring, dan anjurkan melakukan aktivitas secara Metode support yang dilakukan adalah membuat Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan. Setelah 5 hari dilakukan tindakan keperawatan, didapatkan hasil Tampak aktivitas harian pasien masih dibantu keluarga dan alat. Tampak pasien mampu melakukan sedikit pergerakan pada tangan kiri, namun masih dibantu keluarga dan pewarat. Tampak pasien tidak mampu melakukan pergerakan pada tangan kiri. Tampak pasien masih mengalami kelemahan fisik. Tampak pasien belum mampu melakukan ROM. Kekuatan otot masih menurun pada tangan kiri dan kaki dan Refleks Babinski kiri: positif. Kesimpulan Pengkajian fisik dan mental dilakukan menggunakan format pengkajian keperawatan untuk memperoleh data untuk dianalisis. Penyusunan Asuhan Keperawatan pada kasus ini menggunakan Buku Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Buku Standar Luaran Keperawatan Indonesia dan Buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia serta berdasarkan model teori self-care Orem. Selama pelaksanaan asuhan keperawatan terdapat perubahan yang signifikan terhadap kemampuan klien dalam perawatan dirinya. Untuk itu disarankan agar pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem persyarafan menggunakan ketiga buku tersebut dan didasarkan kepada teori self-care Orem. Referensi