Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2023, pp. p-ISSN: 2798-3188, e-ISSN: 2798-0316 || http://bk. id/index. php/chr DOI: https://doi. org/10. 24036/000720chr2023 Received (Januari 18th 2. Accepted (February 24th 2. Published (March 30th 2. Perilaku sosial negatif siswa dari keluarga broken home Maya Widiana. Dina Sukma*) Universitas Negeri Padang *Corresponding author, e-mail: sukmadina@fip. Abstrak Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosiopsikologis, termasuk didalamnya adalah belajar. Perilaku sosial yang akhirnya akan membentuk karakter seseorang seyogyanya mengarah pada karakter yang baik dan sesuai dengan tujuan pendidikan. Salah satu faktor siswa memiliki perilaku sosial negatif dikarenakan adanya kurangnya mendapat kasih sayang dari keluarga yang utuh, pergaulan lingkungan yang bebas serta kurangnya pemahaman dalam berperilaku sosial yang terarah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku sosial negatif siswa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif yaitu mendeskripsikan fenomena yang Populasi penelitian adalah siswa kelas VII SMPN 22 Padang berjumlah 285 siswa dengan sampel sebanyak 48 siswa yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan perilaku sosial dengan model skla likert. Data dianalisis menggunakan teknik analisis data deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku sosial negatif siswa dari keluarga broken home secara keseluruhan berdasarkan pada kategori rendah terdapat persentase 68,75%, terdapat siswa yang memiliki perilaku sosial negatif pada kategori sangat rendah terdapat persentase 31,25%, tidak terdapat siswa yang memiliki perilaku sosial negatif dengan kategori sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Implikasi bagi Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan dengan pemberian layanan informasi, layanan bimbingan kelompok, konseling individual. Maka dapat disimpulkan bahwa perilaku sosial negatif siswa dari keluarga broken home secara keseluruhan berada pada kategori rendah yang dimana pada perilaku nya berdasarkan pada aspek-aspek perilaku sosial negatif siswa. Keywords: Perilaku sosial, broken home This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2023 by author. Pendahuluan Manusia tumbuh dan berkembang di dalam lingkungan sosial yang memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan berbagai aspek kehidupan, terutama kehidupan sosio-psikologis. Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan dengan sesama manusia, bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan sosial (Sunarto dan Hartono, 2. Sunarto dan Hartono . mengemukakan bahwa kehidupan sosial pada jenjang remaja di tandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional, seseorang dapat mengalami sikap hubungan sosial yang bersifat tertutup sehubungan dengan masalah yang di alami remaja. Sebagian besar tugas perkembangan remaja berkaitan dengan aspek sosial, kemandirian emosional, perilaku Widiana. & Sukma. serta hal-hal yang berkaitan dengan nilai dan etik. Secara lebih khusus, aspek sosial mencakup hubungan sosial, peran sosial, perilaku sosial yang bertanggung jawab. Kemampuan dalam berperilaku sosial perlu dimiliki sejak anak masih kecil sebagai suatu fondasi bagi perkembangan kemampuan anak berinteraksi dengan lingkungan nya secara lebih luas. Ketidakmampuan anak berperilaku sosial yang diharapkan lingkungannya, bisa berakibat anak terkucil dari lingkungan, tidak terbentuknya kepercayaan pada diri sendiri, menarik diri dari lingkungan, dan sebagainya, akibatnya anak akan mengalami hambatan dalam perkembangan selanjutnya (Massa. Rahman. , & Napu. Sejalan dengan hal tersebut keberadaan keluarga yang broken home dapat dikatakan sebagai pemicu ketidakmampuan anak berperilaku sosial yang diharapkan di lingkungannya. Pratama. Syahniar. , & Karneli. broken home adalah suatu keadaan yang tidak menguntungkan di dalam keluarga, seperti perceraian, kematian pasangan, maupun kehidupan di dala keluarga yang tidak harmonis lagi. Keadaan keluarga yang demikian akan membuat siswa memunculkan perilaku yang negatif di dalam kehidupannya di sekolah, baik terhadap guru maupun terhadap teman sebayanya di lingkungan sekitar. Broken home juga terjadi apabila ibu dan ayah sering bertengkar. Pertengkaran ini biasanya terjadi karena tidak adanya kesepakatan dalam mengatur tata rumah tangga, terutama masalah kedisiplinan sehingga membuat anak merasa ragu akan kebenaran yang harus ditegakkan di dalam keluarganya. Hal inilah permulaan terjadinya kenakalan anak-anak (Rahmi. Mudjiran, dan Nurfahanah 2. Broken home terjadi akibat dari perpecahan suatu unit keluarga terputus atau retaknya struktur keluarga sehingga fungsi dari keluarga tidak bejalan dengan baik, broken home yang disebabkan perceraian orangtua sangat berdampak negatif kepada diri anak. Mereka akan merasa frustasi dengan keadaan orangtua mereka yang tidak lagi tinggal bersama. Secara akademis mereka juga tertinggal dari teman-teman yang lain karena tidak memiliki gairah dalam belajar karena terdapat masalah untuk mencapai kesuksesan belajarnya (Rahmi. Mudjiran, dan Nurfahanah 2. Sejalan dengan penjelasan diatas Walginto . berpendapat bahwa perilaku sosial merupakan perilaku yang di alami atau natural dan timbul secara spontan dalam interaksi. Perilaku sosial remaja sangat di pengaruhi oleh proses perlakuan dan bimbingan orangtua dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial di lingkungan sekiatar atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh dalam berperilaku sosial, sosialisasi dari orangtua ini sangatlah penting bagi remaja karena dia masih terlalu muda dan belum memiliki pengalaman untuk membimbing perkembangan perilaku sosial nya ke arah kematangan (Yusuf, 2. Orang yang bertingkah laku sosial akan lebih mempunyai kesempatan bersama orang lain atau diterima di lingkungan masyarakatnya. Berdasarkan kegiatan observasi di sekolah SMPN 22 Padang, ditemukan bahwa terdapat siswa yang terbukti melakukan perilaku sosial yang menyimpang yaitu diantaranya terpicu siswa berperilaku sosial negatif dan berinteraksi secara negatif di lingkungan sekolahnya. Siswa tersebut juga tidak jujur . uka berbohon. , kurang sopan terhadap guru, dan pernah bolos sekolah hanya karena untuk mementingkan kesenangan yang ia lakukan kemudian siswa ini juga sering mengganggu teman-teman di sekitarnya hal ini di akibatkan karena kurangnya perhatian yang diberikan dan kasih sayang dari orangtua yang utuh . roken hom. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan di SMPN 22 Padang pada uraian diatas maka penulis tertarik untuk meneliti tentang AuPerilaku Sosial Negatif Siswa dari Keluarga Broken Home di SMPN 22 PadangAy . http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2023, pp. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 285 siswa yang terdaftar pada tahun ajaran 2022/2023 di SMPN 22 Padang dengan sampel sebanyak 48 siswa dipilih dengan menggunakan teknik purposive Data diolah menggunakan teknik analisis data deskriptif. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan instrumen angket perilaku sosial siswa. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah peneliti lakukan, data hasil penelitian disajikan dan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian yang diajukan sebelumnya, yaitu perilaku sosial siswa sebagai berikut: Tabel 1. Perilaku Sosial Negatif Siswa Keseluruhan . Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Jumlah Interval Ou152 123 Ae 151 94 Ae 122 65 Ae 93 O 64 0,00 0,00 0,00 68,75 31,25 100,00 Dapat diketahui hasil penelitian secara umum perilaku sosial negatif siswa Broken Home secara keseluruhan pada kategori rendah terdapat persentase 68,75%, pada kategori sangat rendah terdapat 31,25%. Pada kategori sedang, tinggi, dan sangat tinggi tidak terdapat siswa yang memiliki perilaku sosial negatif dengan kategori tersebut. Dewasa ini, banyak keluarga yang rentan dengan broken home, persoalan yang melatar belakangipun semakin komplit. Faktornya tentu sangat berfariasi sesuai dengan kondisi yang dihadapi oleh masing-masing. Perilaku sosial anak yang cenderung nakal dan menyimpang karena faktor broken home. Perilaku sosial itu sendiri menurut Skinner dalam buku Sarlito adalah perilaku manusia berkembang dan dipertahankan oleh anggota masyarakat yang memberi penguat pada individu untuk berperilaku secara tertentu . ang dikehendaki oleh masyaraka. Dengan demikian perilaku sosial dapat diartikan sebagai segala tingkah laku atau aktivitas yang ditampakkan oleh individu pada saat berinteraksi keluarga, sekolah maupun masyarakat (Fauzi. , & Kamal. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu masalah yang paling berat bagi anak yang berasal dari keluarga broken home, dan akan berdampak pada hampir semua aspek kehidupannya. Salah satu dampak negatif dari perceraian orangtua adalah kepribadian dalam berperilaku yang dialami siswa di sekolah. Dengan banyaknya data Ae data yang menunjukan bahwa tindakan negatif pada remaja dipengaruhi oleh faktor perceraian, membuat banyak masyarakat menggeneralisasikan bahwa anak dengan latar belakang orang tua bercerai sudah pasti melakukan tindakan yang menyimpang atau dianggap sebagai pelaku kenakalan remaja (Hadianti. Nurwanti. , & Darwis. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa keadaan keluarga broken home memberikan pengaruh pada perilaku anak di sekolah Dilihat aspek pembangkang pada kategori pada kategori rendah terdapat persentase 60,42%, sangat rendah terdapat persentase 35,42%, pada kategori sedang terdapat persentase 4,17% dan pada kategori tinggi dan sangat tinggi tidak terdapat siswa yang memiliki perilaku sosial negatif pada kategori tersebut. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perilaku sosial negatif siswa dari keluarga broken home di SMP dilihat dari aspek pembangkang berada pada kategori rendah yaitu terdapat persentase Perilaku sosial negatif siswa dari keluarga broken home Widiana. & Sukma. 60,42%. Disimpulkan perilaku sosial negatif siswa Broken Home di SMP Negeri 22 Padang dilihat dari aspek pembangkang berada pada kategori rendah terdapat persentase 60,42% yaitu dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Perilaku Sosial Negatif Siswa dari Aspek Pembangkang . Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Jumlah Interval Ou32 26 Ae 31 20 Ae 25 14 Ae 19 O13 0,00 0,00 4,17 60,42 35,42 Perilaku-perilaku sosial anak-anak yang berasal dari keluarga broken home nampak jelas sangat menggelisahkan, mereka menyebabkan banyak guru yang mengeluh karena suka melanggar aturanaturan sekolah, bicara kasar, suka melawan/menentang, tidak berakhlaq, tidak sopan, tidak bermoral, malas ke sekolah, suka bolos, malas belajar, hilang semangat belajar, suka recok dan caper, suka mengganggu teman dan guru mengganggu suasana kelas dan sangat-sangat mengganggu jalannya proses belajar mengajar (Aziz. Dapat disimpulkan bahwa siswa yang berperilaku sosial negatif pada aspek pembangkang dikatakan pada kategori rendah. Dilihat dari aspek bertingkah laku berkuasa pada kategori pada kategori rendah terdapat persentase 52,83%, pada kategori sangat rendah terdapat persentase 47,91%, pada kategori sedang, tinggi, sangat tinggi tidak terdapat siswa yang memiliki perilaku sosial negatif pada kategori tersebut. Disimpulkan perilaku sosial negatif siswa Broken Home SMP Negeri 22 Padang dilihat dari aspek bertingkah laku berkuasa berada pada kategori rendah terdapat persentase 52,83% yaitu dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Perilaku Sosial Negatif Siswa dari Aspek Bertingkah Laku Berkuasa . Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Jumlah Interval Ou52 42 Ae 51 32 Ae 41 22 Ae 31 O21 0,00 0,00 0,00 52,83 47,91 Dari hasil penelitian yang di lakukan di SMPN 2 Lubuk Basung di dapati bagaimana perilaku sosial remaja korban broken home diataranya menjadi pendiam dan tertutup dari yang sebelumnya, setelah terjadinya broken home dalam keluarga menjadikan anak suka membangkang atau melawan kepada orang tua maupun kepada orang lain, serta adanya bentuk tidakan agresif seperti halnya sering berkelahi, suka berkata yang kasar terhadap orang tua maupun orang lain, ada juga yang suka berselisih atau bertengkar dengan orang lain, serta adanya sikap dan tingkah laku yang berkuasa, memetingkan diri sendiri dan tidak mau mendengarkan nasehat yang di berikan orang lain (Ikhsan, . Rahmi. , & Utami. Dapat disimpulkan bahwa siswa yang berperilaku sosial negatif ditinjau dari aspek bertingkah laku berkuasa memiliki perilaku yang menimbulkan penyimpangan pada siswa maupun di lingkungan sekitarnya. Dilihat dari aspek agresi pada kategori rendah terdapat persentase 62,50%, pada kategori sangat rendah terdapat persentase 31,25%, pada kategori sedang terdapat persentase 6,25%, pada kategori http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2023, pp. tinggi dan sangat tinggi tidak terdapat siswa yang memiliki perilaku sosial negatif pada kategori Jadi, dapat disimpulkan perilaku sosial negatif siswa dari keluarga broken home SMP dilihat dari aspek agresi berada pada kategori rendah yaitu terdapat persentase 62,50% yaitu dilihat pada Tabel 4. Tabel 3. Perilaku Sosial Negatif Siswa dari Aspek Agresi . Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Jumlah Interval Ou68 55 Ae 67 42 Ae 54 29 Ae 41 O28 0,00 0,00 6,25 62,50 31,25 Menurut hasil penelitian Nike Rahayu . di SMK Muhammadiyah 1 Padang terdapat hubungan negatif antara intimasi dalam keluarga dengan tingkah laku agresif siswa. Ketika siswa memiliki perilaku sosial negatif yang tinggi, ia akan melakukan tindakan permusuhan dari dalam diri seseorang ditujukan pada orang lain atau benda berupa suatu tindakan memarahi, merugikan, mencemoohkan atau menuduh secara jahat, menghukum berat atau tindakan sadis Menurut Rachmi . remaja yang memiliki perilaku agresif, suka menyerang dan bertindak kasar, berasal dari keluarga yang sangat minimalis dalam menyediakan ruang komunikasi bagi Remaja hanya sebagai pelaksana, bukan sebagai individu yang juga perlu dihargai dan didengarkan pendapatnya dalam keluarga. Kekecewaan atas minimnya komunikasi tersebut membuat remaja mencari ruang komunikasi di luar rumah dan tidak peduli jika nantinya memberikan dampak negatif pada remaja (Andani. Sano. , & Sukmawati. Jadi dapat disimpulkan bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis atau broken home, maka akan menimbulkan perilaku agresif yang semakin meningkat oleh siswa Implikasi Layanan Bimbingan dan Konseling Willi Purwanti. Firman dan Afrizal Sano . bimbingan dan konseling merupakan pelayanan dari, untuk, dan oleh manusia memiliki pengertian yang khas. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur, cara dan bahan agar individu tersebut mampu mandiri dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, sedangkan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang didasarkan pada prosedur wawancara konseling oleh seorang ahli kepada yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Guru BK harus menyediakan layanan yang baik dan optimal untuk seluruh siswa. Guru BK juga harus mampu merencanakan layanan sesuai dengan kebutuhan siswa di sekolah, sehingga layanan yang diberikan kepada siswa tepat pada sasaran dan memberikan efek yang baik kepada siswa (Sukmawati, dkk. , 2. Menurut Fiana. Daharnis dan Ridha . karakter siswa perlu adanya Pengendalian diri tersebut merupakan suatu kemampuan yang dimiliki individu dalam mengelola dirinya, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah, maupun lingkungan teman sebaya. Layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada siswa dalam memberikan pemahaman mengenai perilaku seksual dan meningkatkan resiliensi siswa terhadap perilaku seksual. upaya guru BK dalam meningkatkan pemahaman dan resiliensi siswa terhadap perilaku seksual yaitu dengan memberikan beberapa layanan bimbingan dan konseling sebagai berikut: Perilaku sosial negatif siswa dari keluarga broken home Widiana. & Sukma. Layanan informasi Menurut Prayitno . layanan informasi merupakan salahsatu layanan bimbingan dan konseling yang bertujuan agar individu menerima dan memahami berbagai informasi tentang bagaimana cara mengatasi perilaku prososial siswa yang minim. Layanan informasi menurut Fitri. Neviyarni, dan Ifdil . adalah layanan yang berusaha membekali individu dengan pengetahuan tentang data dan fakta dibidang sekolah, bidang pekerjaan,dan bidang pengembangan sosial. Layanan Informasi merupakan layanan bimbingan dan konseling yang dibeikan kepada individu/kelompok untuk memahami berbagai informasi, sehingga dapat memiliki pengetahuan yang memadai tentang dirinya beserta lingkungan serta dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan (Nova. Firman & Sukmawati, 2. Dalam layanan informasi ini guru BK atau konselor dapat memberikan materi tentang cara bertingkah laku dengan baik dan memberikan arahan tentang berperilaku prososial di lingkungan Berdasarkan hasil penelitian layanan informasi dapat digunakan sebagai acuan dalam meningkatkan resiliensi siswa. Prayitno . mengemukakan bahwa layanan informasi merupakan layanan yang berusaha memenuhi kekurangan individu terhadap informasi yang mereka perlukan. Layanan informasi ialah layanan bimbingan konseling yang diberikan kepada siswa untuk memahami dan mengetahui berbagai informasi sehingga memiliki pengetahuan yang memadai tentang dirinya serta lingkunganya dan dapat diaplikasikan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan (Tanjung. Neviyarni, dan Firman, 2. Layanan Bimbingan Kelompok Menurut Sukma . Bimbingan kelompok yaitu salah satu jenis layanan bimbingan konseling yang ditujukan kepada beberapa orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok untuk memperoleh berbagai macam informasi dan pemahaman baru dari topik yang dibahas. Terdapat dua jenis kelompok yaitu topik tugas dan topik bebas. Topik tugas artinya topik bahasan berasal dari pemimpin kelompok sementara topik bebas artinya topik berasal dari anggota kelompok. Tohirin . layanan bimbingan kelompok adalah suatu cara untuk memberikan bantuan . kepada individu melalui kegiatan kelompok. Layanan bimbingan kelompok, aktivitas kelompok harus diwujudkan untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan dan pemecahan masalah yang di alami oleh individu yang kemudian anggota kelompok yang menjadi peserta Dalam pelayanan bimbingan kelompok ini dapat diberikan materi tentang cara bertingkah laku yang baik, sopan dan memberikan pengarahan dengan cara berperilaku prososial yang baik di lingkungan sekitar. Bimbingan kelompok diduga akan menjadikan primadona dari layanan yang lain karena menekankan aspek dinamika kelompok yang memiliki semangat yang tinggi kerjasama yang lancer dan mantap dan adanya saling percaya antar anggota (Putra. Daharnis, & Syahniar, 2. Materi yang dapat diberikan pada saat bimbingan kelompok dengan memberikan topik tugas terkait dengan pemahaman diri siswa. Bimbingan kelompok bertujuan untuk menghilangkan keteganganketegangan emosi yang dialami siswa (Aswida & Syukur, 2. Layanan Konseling Individual Menurut Willis . konseling individual merupakan suatu pertemuan konselor dengan klien secara individual, dimana terjadi hubungan konseling yang bernuansa rapport dan konselor memberikan bantuan untuk pengembangan pribadi klien serta klien dapat mengantisipasi masalah-masalah yang Dalam layanan ini dapat diberikan materi yang berkaitan tentang cara berperilaku sosial dengan baik di lingkungan sekitar, sehingga dapat meminimalisir perilaku sosial yang negatif pada Yulfitri. Marjohan. , & Sano. Layanan konseling individual dapat diberikan kepada siswa yang memiliki perilaku sosial yang negatif di sekolah. Guru Bimbingan dan konseling membahas bersama siswa mengenai sikap dan perilaku yang seharusnya ia lakukan sebagai siswa http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 1, 2023, pp. dalam memenuhi aturan sekolah. Dengan konseling individual bisa memungkinkan siswa sadar dan dapat mengoptimalisasi kekuatan internalisasi dirinya dalam berperilaku. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, secara umum gambaran perilaku sosial negatif siswa yang berasal dari keluarga broken home di SMPN 22 Padang, berada pada kategori rendah terdapat persentase 68,75%. Berdasarkan hasil penelitian secara khusus disimpulkan secara rinci: . Perilaku sosial negatif siswa dari keluarga broken home SMPN 22 Padang dilihat dari aspek pembangkang berada pada kategori rendah. Artinya, cenderung siswa yang berasal dari keluarga broken home tidak memiliki sifat pembangkang. Perilaku sosial negatif siswa dari keluarga broken home SMPN 22 Padang dilihat dari aspek bertingkah laku berkuasa berada pada kategori sangat rendah. Artinya, cenderung siswa yang berasal dari keluarga broken home tidak memiliki bertingkah laku berkuasa. Perilaku sosial negatif siswa dari keluarga broken home SMPN 22 Padang dilihat dari aspek agresi berada pada kategori rendah. Artinya, cenderung siswa yang berasal dari keluarga broken home tidak memiliki sifat agresi, berarti siswa tidak memiliki perilaku menyerang balik yang dilakukan secara verbal dan non verbal. Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, dan kesimpulan yang telah dikemukakan, ada beberapa saran yang dapat direkomendasikan sebagai tindak lanjut dalam penelitian ini. Beberapa saran yang dapat diajukan adalah: . Guru BK. Guru BK memiliki peran yang sangat berpengaruh dalam membimbing dan membantu siswa dalam berperilaku dan bersikap. Salah satu peran guru BK tersebut yaitu dalam meningkatkan perilaku positif siswa Broken Home. Hal ini untuk mengurangi ketakutan mengenai merosotnya nilai-nilai kebaikan pada masyarakat terutama siswa sebagai generasi muda sekarang ini. Peran guru BK sangat dibutuhkan untuk memberikan bantuan dalam layanan bimbingan dan konseling agar individu dapat berkembang dengan baik, dengan adanya upaya ini membuat siswa dapat meningkatkan nilainilai kebaikan, terutama bagi siswa Broken Home yang berprilaku negatif. Orangtua. Bagi orangtua dapat bekerjasama dengan guru BK dan wali kelas dalam upaya meningkatkan perilaku positif siswa Broken Home. Perilaku siswa yang membantu orang lain dengan ikhlas tanpa imbalan demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain merupakan perilaku mulia yang seharusnya dapat dikembangkan sedari dini baik di rumah oleh keluarga maupun melalui kerjasama dengan pihak yang profesional seperti guru di sekolah. Peneliti Selanjutnya. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman atau acuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Kemudian disarankan kepada peneliti selanjutnya agar dapat meneliti faktor lainnya yang memungkinkan mempengaruhi perilaku negatif siswa Broken Home. Referensi