Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 DAMPAK STATUS SOSIAL EKONOMI KELUARGA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ANAK DI DESA MENTIRING *1&2 RifaAoi1. Yuliana2 Program Studi Pendidikan Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Bengkulu rifai@umb. id, 2yuliana. 2000@gmail. ABSTRACT This research aims to find out the socio-economic status of the Mentiring community and to know the Religious education of children in Mentiring Village. This study uses a qualitative type of research. The author's data collection technique uses observation, interviews, and documentation. Using primary, secondary and tertiary data sources. Data analysis techniques consist of collection, reduction, presentation, and conclusion as well as the validity of data. The results of the study show that: . The socio-economic status of the Mentiring community is between medium and medium. This condition can be seen from the education of the majority of junior high school/high school graduates with average jobs as fishermen, daily laborers, and entrepreneurs and a small number working as civil servants, community income under UMP. Religious education for children in Mentiring village has entered a medium level because children have begun to learn to recite at TPQ and other knowledge about religion and at home, parents teach about prayer, repetition of the Qur'an, and are taught to respect older people. Socio-economic status of children's Religious education the economic situation has an impact on children's Religious education because the busyness of parents working still pay attention to children's Religious education and direct children to learn to recite and from parental education also has an impact on children's Religious education because parents who have knowledge and understanding can teach children to read prayers at home and listen to the reading of the Quran. Keywords: Social status. Religious Education. Children. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status Sosial Ekonomi Masyarakat Mentiring. Mengetahui Pendidikan Agama Anak Di Desa Mentiring. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data penulis menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Menggunakan sumber data primer, skunder dan Teknik analisis data terdiri dari pengumpulan, reduksi , penyajian, dan kesimpulan serta keabsahan data. Hasil penelitian menunjukan bahwa: . Status sosial ekonomi masyarakat mentiring berada antara sedang atau menengah. Kondisi tersebut dapat dilihat dari Pendidikan mayoritas lulusan SMP/SMA pekerjaan rata-rata sebagai nelayan, buruh harian serta wirasuasta dan sebagian kecil bekerja sebagai PNS, penghasilan masyarakat di bawah UMP. Pendidikan Agama anak di desa mentiring memasuki tingkat sedang karena anak sudah mulai belajar mengaji di TPQ serta pengetahuan lainya tentang agama dan dirumah orang tua mengajarkan tentang sholat pengulangan baca Al-Quran serta diajarkan menghormati orang yang lebih tua. Status sosial ekonomi terhadap pendidikan Agama anak bahwa keadaan ekonomi memiliki dampak terhadap Pendidikan Agama anak karena dari kesibukan orang tua bekerja masih memperhatikan Pendidikan Agama anak serta mengarahkan anak untuk belajar mengaji dan dari Pendidikan orang tua juga memiliki dampak untuk Pendidikan Agama anak karena orang tua yang memiliki pengetahuan dan pemahaman bisa mengajarkan anak bacaan sholat dirumah serta menyimak bacaan Al-Quran. Kata Kunci : Status sosial, pendidikan islam, anak-anak Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Pendahuluan Di era digitalisasi Pendidikan Indonesia belum banyak mengalami perubahan-perubahan yang signifikan. Perubahan-perubahan itu hanya akan terjadi oleh pemerintah bersama masyarakat. Peningkatan kualitas pendidikan menjadikan priorias utama untuk dapat tercapai sesuai dengan yang di citacitakan oleh bangsa Indonesia, seperti yang telah dijabarkan dalam Undangundang Sistem Pendidikan Nasiaonal (UU SISDIKNAS) NO 20 tahun 2003. Karena pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas Pendidikan juga merupakan salah satu kebutuhan hidup yang prosesnya berlangsung seumur hidup dan dalam pelaksanaanya dapat terwujud melalaui tiga jalur yaitu Pendidikan informal. Pendidikan non formal, dan Pendidikan formal. Pendidikan informal adalah Pendidikan yang ada di dalam kehidupan keluarga di mana orang tua sangat berperan dalam pembentukan watak, kepribadian anak. Pendidikan informal juga merupakan Pendidikan yang diperoleh seseorang melalaui pengalaman sehari-hari secara sadar atau tidak Pendidikan informal didapatkan sejak lahir samapi menutup usia dalam keluarga atau pergaulan sehari-hari. (Rahmadani, 2. Pendidikan pertama ini dapat dipandang sebagai peletas fondasi pengembangan-pengemban berikutnya. Didalam lingkungan keluarga anak mendapat berbagai pengaruh. Pendidikan keluarga memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar, agama, dan kepercayaan, nilai-nilai moral, norma sosial serta pandangan hidup yang diperlukan anak-anak. Setiap anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya sehingga dapat menjadi berharga dalam kehidupannya sebagai individu dan warga negara. Pendidikan merupakan kewajiban bersama yang dipikul oleh keluarga, masyarakat, dan Keluarga, masyarakat, dan pemerintah semuanya berperan dalam Ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan. Ada proses belajar mengajar yang terjadi selama penyelenggaraan pendidikan di sekolah, yang mengakibatkan terjadinya perubahan dan keterampilan individu. Individu memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru sebagai hasil usahanya untuk belajar, dan perubahan tersebut berupa pengetahuan atau pengalaman baru. Keadaan sosial ekonomi orang tua sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Keluarga dengan status sosial ekonomi tinggi bisa dengan mudah memenuhi keperluan pokok sekaligus mempertimbangkan masa depan anaknya. Orang tua ditentukan oleh pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan mereka Status sosial (Nur et al. , 2. Proses pendidikan adalah suatu tindakan yang sistematis, berurutan, logis, berdasarkan ilmiah, dan terencana yang terdiri dari dua operasi besar yang saling bergantung, yaitu pengajaran dan pembelajaran. Proses ini membentuk siklus berkesinambungan yang juga melibatkan dua pemain yang saling bergantung, guru dan pelajar. Bersama-sama, mereka melakukan kegiatan belajar mengajar, yang hasilnya mengarah pada perubahan perilaku yang diinginkan bersama. Perubahan-perubahan ini mendorong pertumbuhan siswa dan, harus diakui, pertumbuhan guru juga. Dengan demikian, proses pendidikan merupakan kerangka pendekatan partisipatif dan bersama dalam proses belajar mengajar. (Sudarto, 2. Perubahan sosial budaya merupakan gejala perubahan struktur sosial dan pola budaya dalam kehidupan tatanan masyarakat. Hubungan antara perubahan sosial dengan pendidikan adalah perubahan struktur dan fungsi sistem Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 sosial dan termasuk pendidikan, karena pendidikan ada di masyarakat, baik itu pendidikan formal, informal maupun nonformal. (Lubis, 2. Proses pendidikan mengalami perkembangan selaras dengan proses pertumbuhan masyarakat serta tuntutan zaman dan dengan sistem pendidikan yang baik akan memberikan kesempatan kepada generasi baru untuk mengembangkan dan mempersiapkan diri guna menghadapi tantangan zaman yang selalu (Nurwati & Listari, 2. Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang berada di luar pendidikan Di dalam keluarga menyelenggarakan pendidikan keluarga dengan memberikan pendidikan, pengajaran, dan bimbingan agama, moral, etika, budaya, dan keterampilan. Sehingga keluarga mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang pendidikan. Jadi, keluarga Latar belakang harus diperhatikan agar tercapainya pendidikan yang maksimal. Dalam proses pembelajaran, fasilitas pendukung terkadang membutuhkan biaya yang mahal. Sebagai akibatnya bagi orang tua yang tidak mampu memenuhi fasilitas penunjang tersebut, yaitu anak akan terhambat dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, sumber daya manusia menjadi rendah sehingga menghambat kemajuan bangsa dan negara. Oleh karena itu Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan masyarakat pemerintah. Pendidikan melibatkan keluarga, masyarakat, pemerintah. (Mahyuddin BarniAo. Faktor ekonomi sangat menentukan untuk keberhasilan seseorang dalam belajar, keluarga yang ekonominya mampu akan memenuhi semua fasilitas dan kebutuhan anak. Sedangkan anak yang ekonominya lemah maka akan kurang terpenuhi kebutuhan belajarnya. Ekonomi keluarga sangat berpengaruh terhadap kegiatan belajar anak, kedudukan ekonomi . uat atau lemahny. terhadap prestasi belajar, dikarenakan kegiatan belajar itu memerlukan persyaratan yang cukup seperti kelengkapan buku-buku, alat tulis menulis, ruangan belajar yang memadai, penerangan tempat belajar, emosi yang stabil, waktu belajar yang cukup dan teratur dan sebagainya, cenderung akan optimal apabila biaya itu memenuhi kebutuhaan-kebutuhan untuk menjamin kegiatan belajar yang cukup baik, sedangkan kegiatan belajar yang efisien cenderung akan mengefektifkan hasil belajar atau pencapaian prestasi belajar yang optimal. (Desi Eka Pratiwi and Prasetya. Menurut Ingel dkk, status sosial ekonomi adalah diukur dengan variabel komposit berdasarkan orang tua pencapaian pendidikan, pendapatan rumah tangga, dan kesejahteraan orang tua. prestise pekerjaan. (Wenjie Duan. Yuan Guan, and He Bu, 2. Sedangkan Menurut Sugihartono, menyatakan status sosial ekonomi orang tua, meliputi tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, penghasilan orang tua. (Chotimah et al. , 2. Pekerjaan adalah salah satu aspek penting dalam status sosial ekonomi Pada umumnya, pekerjaan mencakup aktivitas atau tugas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan penghasilan atau memenuhi kebutuhan Menurt Emile Durkheim Pendekatan Fungsionalis. Durkheim memandang pekerjaan sebagai bagian integral dari struktur sosial. Pekerjaan tidak hanya menyediakan penghasilan, tetapi juga memberikan makna dan tujuan kepada individu. Peran pekerjaan dalam memelihara solidaritas sosial kedalam konteks Socio-Cultural dan konteks ekonomi politik. Dalam konteks socio-cultural, secara prinsip, bekerja merupakan sebuah kewajiban yang kuat Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 ewajiban mora. pada tiap individu agar bisa berkontribusi terhadap kesejahteraan keluarga. Sedangkan dalam konteks ekonomi politik, bekerja lebih sebagai promosi karena merepresentasikan status dan penghasilan yang (Purwokerto, n. ) Di bidang pekerjaan ada perbedaan dari setiap orang Dari beberapa pekerjaan yang dimiliki oleh orang tua bisa kita lihat bahwa ada perbedaan status sosial ekonomi yang cukup beragam. Pekerjaan orang tua juga memiliki differensiasi dalam mengartikulasikan pendidikan agama anakanaknya karena orang tua tidak selalu berada di sampingnya sehingga waktu . untuk mengajarkan Pendidikan pada umumnya terlebih Pendidikan Agama belum mendapatkan perhatian lebih. (Anas et al. , 2. Pendapatan merupakan hal yang menarik dan sering dibicarakan dalam Gilarso menjelaskan bahwa pendapatan adalah arus masuk berupa upah, bunga, sewa, dan laba serta arus masuk lainnya yang diterima oleh masyarakat sebagai balas karya atas sumbangannya dalam proses produksi. Penjabaran mengenai penghasilan orang tua dapat mencakup berbagai aspek, termasuk jumlah penghasilan, sumber penghasilan, stabilitas pendapatan, dan pengeluaran yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Menurut para ahli, penghasilan orang tua memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan keluarga dan perkembangan anak-anak. Tingkat penghasilan keluarga dapat mempengaruhi akses anak-anak terhadap pendidikan yang berkualitas, perumahan yang layak, pelayanan kesehatan, dan kebutuhan dasar Penghasilan yang cukup dapat menciptakan lingkungan yang stabil dan mendukung perkembangan anak-anak. (Wulandari et al. , 2. Status sosial ekonomi (SES) tidak hanya mencakup pendapatan tetapi juga pencapaian pendidikan, keamanan finansial, dan persepsi subjektif terhadap status sosial dan kelas sosial. Kemiskinan, khususnya, bukanlah sebuah faktor tunggal, melainkan disebabkan oleh berbagai pemicu stres fisik dan psikososial. Lebih lanjut. SES merupakan alat prediksi yang konsisten dan dapat diandalkan mengenai beragam hasil sepanjang hidup, termasuk kesehatan fisik dan psikologis. Dengan demikian. SES relevan dengan semua bidang ilmu perilaku dan sosial, termasuk penelitian, praktik, pendidikan, dan advokasi. (Duan et al. , 2. Pendidikan orang tua mencakup tingkat pendidikan tertinggi yang dicapai oleh setiap orang tua. Hal ini terkait dengan banyak ukuran kesejahteraan anak dan dilakukan di berbagai lingkungan, seperti sekolah, organisasi, kesehatan dan keagamaan, serta masyarakat. Census Bureau. Faktor sosial ekonomi seperti tingkat pendidikan orang tua, status pekerjaan dan tingkat pendapatan orang tua, jenis sekolah, tempat tinggal dan lingkungan. Secara umum berpengaruh terhadap Pendidikan anak. Oleh karena itu, sosial ekonomi mempunyai dampak yang signifikan terhadap Pendidikan anak. (Kumaravel Udayakumar. Shanmugan Rajendran, and Arumugam Sugirtha Rani, 2. Coleman mempertimbangkan bahwa keluarga dengan Status sosial ekonomi tinggi dapat memberikan penghidupan yang lebih baik lingkungan dan lebih banyak sumber daya pendidikan untuk anak mereka atau anak-anak. (Javeria Munir et al. Salah satu permasalahan di dalam melakukan Pendidikan agama anakanaknya di desa Mentiring, adalah pada tingkat pemahaman yang berbeda-beda terhadap Pendidikan anak-anaknya. Dari tingkatan Pendidikan orang tua yang berbeda-beda itu, tentu pemahaman akan agama Agama juga berbeda. Pemahaman orang tua yang hanya sebatas sekolah menengah pertama tentu berbeda dengan orang tua yang pendidikannya sampai pada sekolah menegah Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 atapun sarjana. Pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, tentu penghasilan orang tua juga berperan penting dalam Pendidikan Agama anak. Hal ini juga menjadi penting dalam mendukung Pendidikan anak karena dari penghasilan orang tua ini bisa digunakan untuk membantu dalam proses Pendidikan anak. Dari penghasilan orang tua bekerja seberapa besar orang tua memberikan perhatian untuk Pendidikan Agama anak dari hasil penghasilan mereka. Fenomena yang terjadi di lapangan mengambarkan bahwa Pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan orang tua seperti tidak memiliki dampak dalam Pendidikan agama anak-anaknya. Dari fenomena tersebut penulis ingin melakukan penelitian dan kajian tentang AuDampak Status Sosial Ekonomi Keluarga Dalam Pendidikan Agama Anak Di Desa MentiringAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan pendekatan studi kasus. Data yang akan diperoleh adalah data dari hasil observasi dan wawancara, kedua metode ini digunakan sebagai teknik pengumpulan data yang bisa melegkapi yang peneliti inginkan. Penelitian Deskriftif Kualitatif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan sesuai dengan apa adanya. (Creswell. John W. , author. Creswell, 2. Observasi adalah suatu metode pengumpulan data yang melibatkan pengamatan langsung terhadap objek atau situasi yang diteliti. Observasi sering digunakan dalam penelitian ilmiah untuk mendapatkan informasi tentang perilaku, kejadian, atau karakteristik tertentu. Observasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan data dengan cara mengamati perilaku, tindakan, atau fenomena langsung tanpa memanipulasinya. Jonathan D. Linton et al. Oberservasi dalam penelitian ini dimaksudnya untuk mendapatkan fenomena tentang kondisi status sosial ekonomi keluarga serta Pendidikan Agama anak di desa Mentiring. Sedangkan wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalaui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi atau data dari Masyarakat desa Mentiring. Data yang dimaksudkan adalah tentang status sosial ekonomi dan Pendidikan Agama anak-anaknya, serta fenomena-fenomena yang mungkin muncul dalam wawancara baik aspek sosiologis maupun aspek psikologis. Disamping observasi dan wawancara digunakan juga teknik dokumentasi yang berupa catatan pristiwa, yang berupa tulisan, gambar, catatan harian dan Guna melengkapin data-data lain yang sudah ada agar lebih akurat dan dapat dipertanggung jawabkan. Sumber data berasal dari. Kepala Desa. Orang Tua Dari anak Desa Mentiring. Anak Di Desa Mentiring dan Perangkat Desa. Teknik analisis data menggunakan tiga tahap: . tahap reduksi, . tahap display dan . tahap verifikasi Hasil Sebagaimana dikemukakan dalam rumusan masalah, bahwa penelitian ini mengkaji tentang dampak status sosial ekonomi keluarga dalam Pendidikan Agama anak. Sebelum memaparkan hasil penelitian, penting untuk penulis jelaskan tentang status sosial ekonomi dan dampaknya dalam Pendidikan Agama Anak. Status Sosial Ekonomi Masyarakat Mentiring Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Status sosial ekonomi merupakan tingkatan status yang dimiliki masyarakat, keluarga atau individu itu sendiri. Dari observasi dan wawancara yang dilakukan bersama kepala desa, orangtua dan anak serta perangkat desa di dapatkan hal-hal sebagai berikut: Dilihat dari struktur bangunan rumah bisa dikatakan bahwa status sosial ekonomi berada pada kelas menengah ke bawa sebagaimana dikatakan oleh beberapa informan AyBeliau Mengatakan bahwa status sosial ekonomi masyarakat mentiring berada dalam rentang antara sedang dan atau menengah. Kondisi tersebut terindikasi dapat dilihat dari Pendidikan yang mayoritas lulusan SMP/SMA , pekerjaan rata-rata berprofesi sebagai nelayan dan buruh harian serta wirasuasta dan sebagian kecil bekerja sebagai PNS, penghasilan masyarakat di bawah UMP. Dari pekerjaan yang beragam tentu penghasilan yang didapatkan juga berbedaAy. Apa yang disampaikan kepala desa juga bersesuaian dengan apa yang dikatakan masyarakat lainnya: . AuMengatakan bahwa status sosial ekonominya biasa atau dikatakan ini ialah sedang. Dari pernyataan informan bisa dilihat dari pendidikan bapak sendiri hanya sebatas MTsN dan pekerjaan yang hanya sebagai nelayan serta pendapatan pun tidak menentu berapa per-harinya hanya mendapatkan Rp, 50. 000- Rp, 75. 000 per hari jika keadaan laut bagus bisa jadi hasil melautnya juga bisa mendapatkan lebih dari itu dan dari uang itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. AuBahwa status sosial ekonominya biasa atau dikatakan ini ialah sedang. Dari pernyataan informan dapat dilihat dari pendidikan yang hanya sebatas MTsN dan pekerjaan sebagai buruh harian serta penghasilan hanya mencapai Rp,100. 000 per harinya kadang juga bisa mencapai lebih tergantug keadaan laut dan dari peluang kerja lainya. Dan dari hasil wawancara bersama ibu Luhis Tuti ia mengatakan AuBisa dilihat dari pendidikan hanya SMA dari Pekerjaan sebagai Nelayan tidak dapat tercukupi kebutuhan sehari-hari apalagi pendapatan sehari itu tidak bisa menentu jumlah uang yang didapat hanya saja untuk pemasukan ekonomi lainya menunggu dari hasil buah sawit dari sinilah pemasukan didapat bisa mencapai Rp 2. 000 per bulanya. Lain halnya dengan ibu En sebagai ASN AuIa mengatakan bahwa pendapatan perbulan mecapai 3 juta dan dari penghasilan itu segala kebutuhan keluarga dapat terpenuhi, dari pekerjaan sebagai seorang PNS, dan pendidikan mencapai sarjana serta penghasilan yang tetap dari sinilah kebutuhan dapat terpenuhi. Sedangkan Tuti Aumengatakan dari pendidikan sendiri ia hanya sebatas SMA untuk pekerjaan ia sebagai wirasuasta berjualan manisan dan kebutuhan sembako dari sinilah ia mencari penghidupan untuk kebutuhan sehari-hari Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 untuk masalah pendapatan tidak bisa tau jelasnya berapa tetapi kebuthan sehari bisa terbantu dengan adanya warungAy. Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui bahwa kesimpulan awal dari pendidikan orang tua yang ada mereka mencapai SMP. SMA bahkan ada yang mencapai sarjana dan dari pekerjaan yang beragam seperti Nelayan. Buruh Tani. Wirasuasta dan PNS tentu penghasilan pun berbeda-beda ada yang sehari mencapai RP. 000 -Rp. 000 per hari, ada yang mencapai Rp 2. 000- Rp 3. 000 per bulan Bagi PNS. Dari sini bisa kita lihat bahwa status sosial ekonomi masyarakat yang ada di desa ini memasuki kategori menengah. Pendidikan Agama anak di desa Mentiring Pendidikan Agama adalah sebuah konsep pendidikan yang mengacu kepada sistem pendidikan yang diarahkan untuk mengajarkan dan mengembangkan ajaran Agama dalam kehidupan sehari-hari. Dari penjelasan tersebut diatas Menurut kepala Desa berpendapat tentang Pendidikan Agama anak yang ada di Desa Mentiring. Berikut keterangan dari informan. AuSetelah melakukan wawancara bersama kepala desa beliau mengatakan pendidikan agama anak, diantaranya belajar mengaji kami menyediakan satu TPQ untuk anak belajar dan ada 2 orang guru yang mengajarkan mereka, dan untuk masjid sendiri desa ini hanya ada satu untuk jamaahnya sendiri itu tidak terlalu ramai hanya 1/3 dari masyarakat yang melaksanakan sholat 5 waktu di masjid hanya saja jika hari jumat jamaahnya itu lumayan rame walaupun tidak semua melaksanakan tetapi lebih banyak mengerjakan sholat jumat untuk laki-laki. Untuk pengajian yang ada di desa ini ada dua pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu ini dilaksanakan seminggu dua kali yaitu malam senin dan jumat, untuk peran orang tua dalam pendidikan anak di desa ini berperan walaupun tidak sepenuhnyaAy. Apa yang disampaikan oleh kepala desa itu juga diaminkan oleh masyarakat desa Mentiring bahwa pendidikan agama yang ada di desa ini adalah belajar mengaji di TPQ dan hanya seminggu sekali ada pengajian untuk kaum bapak dan ibu-ibu, sedangkan peristiwa shalat fardhu belum menjadi kebutuhan masyarakat. Au Ia mengatakan bahwa tempat pembelajaran Al-Quran yang ada di desa ini ialah TPQ dan anaknya belajar mengaji disana. Untuk keseharian anak, anak biasanya masih sibuk bermain setelah pulang dari sekolah. Untuk pengajaran tentang sholat kami belum mengajarkan hanya saja ia belajar disekolah tetapi untuk belajar baca Al-quran bisanya bersama Untuk pengetahuan dan pemahaman kami sebagai orang tua tentang agama itu hanya sebatas pengetahuan tentang shalat, dan waktu yang kami berikan untuk anak dalam belajar dari 2 jam per hari tetapi anak hanya mampu 30 menit saja karena ingin bermain sedangkan untuk mengajarkan agama hanya saat ada waktu saja. Untuk melaksanakan sholat kami sebagai orang tua belum terlalu rutin masih banyak ditinggalnyaAy. Sehingga apa yang dilakukan oleh orangtua juga dilakukan oleh anaknya tidak mau shalat. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Dari hasil wawancara yang dilakuakan di desa Mentiring bahwa Pendidikan Agama anak bisa dilihat dari keseharian dan bagaimana orang tua dalam mendidik anak. Anak yang melaksanakan sholat pastilah melihat orang tua nya sholat atau paling tidak sudah diajarkan bagaimana cara sholat. Akhlaq yang baik pastilah ia mendapatkan pengajaran yang baik dirumah serta menghormati orang yang lebih tua ini juga pasti hasil dari ajaran orang tua dirumah. Status sosial ekonomi dan Pendidikan Agama anak. Dari penjelasan rumusan masalah bagaimana status sosial masyarakat mentiring serta bagaimana Pendidikan Agama Anak di desa Mentiring Bisa diketahui bagaimana dampak status sosial ekonomi dalam Pendidikan Agama Anak. Dari wawancara yang dilakaukan peneliti kepada informan, ada beberapa status sosial ekonomi yang berdampak terhadap Pendidikan Agama Anak. Hasil wawancara dengan kepala desaAuMengatakan status sosial Ekonomi tidak terlalu berdampak terhadap Pendidikan Agama anaknya karena ia mengatakan dari segi Penghasilan tidak terlalu menentu berapa yang didapatkan per hari dan dari hasil itu banyak digunakan untuk keperluan sehari-hari jika mencukupi, apalagi sebagai nelayan yang tidak tentu pendapatanya berapa. Pendidikan sendiri ia mengatakan hanya sebatas lulusan MTsN. Untuk anak sendiri itu belajar mengaji nya di TPQ dan selebihnya belajar disekolah, hanya saja kami sebagai orang tua mengajarka tentang menghormati orang yang lebih tua dan tidak boleh nakal baik disekolah ataupun di lingkungan sekitarAy. Apa yang disampaikan kepala desa itu juga di aminkan oleh yang lainnya bahwa status sosial ekonomi . ekerjaan dan pendapata. tidak berdampak dengan Pendidikan agama anak-anak di desa Mentiring, karena Pendidikan agama di desa Mentiring tidak memerlukan biaya. Wawancara Bersama LT dan En selaku informan dan orang tua dari anak di desa Mentiring: AuMengatakan bahwa status sosial ekonomi tidak terlalu berdampak terhadap Pendidikan Agama anaknya karena dari segi pendidikan orang tua hanya sebatas SMA dan pemahaman akan agama Agama hanya Sebatas sholat dan mengerjakannya pun bolong-bolong. Dari hal itu anak pun belum terlalu diajarkan untuk masalah agama, karena dilihat dari keseharian anak lebih banyak bermain dari pada belajar terlebih belajar tentang Agama itu sendiri, hanya saja tempat belajar anak itu di TPQ untuk mengajinyaAy. Status sosial ekonomi berdampak terhadap Pendidikan pada umumnya, tetapi dengan pendidikan agama anak berdampak tatkala Pendidikan Orang tua Mencapai Sarjana dan Pekerjaan PNS serta pendapatan yang mencukupi hal ini mereka mempunyai waktu untuk mengajarkan anak tentang Agama. Walaupun anak belajar di Sekolah dan TPQ untuk mengaji dirumah tidak lupa diajarkan juga mengaji dan Doa-doa serta yang lainyaAy. Wawancara dengan ibuk luhis pundemikian ia mengatakan sebagai AuWawancara Bersama Ibu Tuti ia mengatakan dari status sosial ekonomi berdampak terhadap Pendidikan Agama Anak terutama dari Pendidikan orang tua, jika Pendidikan orang tua nya bagus pastilah banyak pengetahuan Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 yang didapat dan bisa diajarkan kepada Anak, serta penghasilan yang cukup ini juga bisa memenuhi kebutuhan anak secara baikAy. Hasil wawancara dengan orangtua ada hal yang berbeda dengan hasil wawancara yang dilakukan bersama anak. AyMenurut Feby. Naila. Ayu. Aqila dan Adib mengatakan hal yang sama tentang pendidikan agama (TPQ) tetapi kadang-kadang juga malas dan hanya bermain-main. dan ia mengatakan tempat belajar mengaji ialah TPQ perihal orang tua mengajarkan sholat hanya mengerjakan sholat magrib dan yang lain itu kadang-kadang, walaupun seperti itu orang tua mengajarkan bacaan sholat dan menyimak bacaan Al-Quran walaupun kadang-kadang, kami pun hanya mengerjakan sholat magrib belum sholat 5 waktu, waktu yang diberikan orang tua untuk belajar dirumah itu mencapai 30 menit / 1 jam per hari nya, selain itu orang tua kami juga mengajarkan untuk hormat terhadap orang yang lebih tuaAy. Dapat kita ketahui dari hasil wawancara orang tua dan anak bahwa status sosial ekonomi itu mendukung dalam pendidikan Agama anak dari segi pekerjaan orang tua dan pendapatan orang tua ternyata dari pendidikan orangtualah yang lebih berpengaruh terhadap pendidikan Agama anak itu Pembahasan Pada bagian pembahasan ini peneliti mencoba menganalisis Bagaimana dampak status sosial ekonomi dalam Pendidikan Agama anak di desa mentiring hal ini akan peneliti deskripsikan bersamaan dengan teori Status sosial ekonomi keluarga ialah status atau keadaan keluarga dalam atau masyarakat yang dapat diukur melalui Pendidikan, pekerjaan dan pendapatan. Tingkat status sosial ekonomi dilihat atau diukur dari pekerjaan orang tua, penghasilan dan kekayaan, tingkat pendidikan orang tua, keadaan rumah dan lokasi, pergaulan dan aktifitas sosialAy. (Suciningrum & Rahayu, 2. Kebutuhan manusia adalah semua tuntutan yang orang rasa harus mereka penuhi agar bahagia. Berbeda dengan sarana pemuas kebutuhan melalui pembelian barang dan jasa yang terbatas, kebutuhan manusia tidak Meskipun setiap orang berusaha untuk memenuhi kebutuhan unik mereka sendiri untuk memiliki kehidupan yang sejahtera dan memuaskan. Jika sebagian besar kebutuhan seseorang terpenuhi, mereka dianggap hidup sejahtera dan bahagia. (Langinan et al. , 2. Bila masyarakat sejahtera maka akan berdampak dalam kehidupannya termasuk di dalamnya adalah pendidikan(Nurwati & Listari, 2. Keluarga adalah kelompok sosial di mana hal ini terjadi aksi sosial. Status sosial ekonomi masyarakat mentiring termasuk kategori sedang hal ini bisa kita lihat dari hasil wawancara Bersama kepala desa bahwa ia mengatakan bahwa status sosial ekonomi masyarakat mentiring berada dalam rentang antara sedang dan atau menengah. Kondisi tersebut terindikasi dapat dilihat dari Pendidikan yang mayoritas lulusan SMP/SMA pekerjaan rata-rata berprofesi sebagai nelayan dan buruh harian serta wirasuasta dan sebagian kecil bekerja sebagai PNS, penghasilan masyarakat di bawah UMP. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Pendidikan Agama adalah usaha orang dewasa muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah . emampuan dasa. anak melalui ajaran Agama ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya. Pendidikan Agama merupakan sebuah usaha untuk menjadikan anak keturunan dapat mewarisi ilmu pengetahuan . erwawasan Agam. Setiap usaha dan tindakan yang disengaja untuk mencapai tujuan harus mempunyai sebuah landasan atau dasar tempat berpijak yang baik dan kuat. (Firmansyah, 2. Pendidikan Agama anak di desa mentiring sendiri sudah memasuki tingkat sedang menurut kepala desa hal ini karena orang tua berperan dalam Pendidikan Agama anak, hal serupa disampaiakan oleh bapak hermen sapri ia megatakan bahwa Pendidikan Agama anak sudah memasuki sedang karena anak sudah mulai belajar mengaji di TPQ serta pengetahuan lainya tentang agama dan dirumah pun sebagai orang tua kami mengajarkan tentang bacaan sholat pengulangan baca Al-Quran serta diajarkan menghormati orang yang lebih tua. Pada dasarnya status sosial ekonomi keluarga merupakan salah satu faktor penunjang Pendidikan anak. Status sosial ekonomi tersebut meliputi Pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua dan pendapatan yang diterima orang tua setiap hari atau perbulanya. Peneliti menjadikan ketiga aspek itu sebagai indikator dalam penelitian. Status sosial ekonomi keluarga dapat ditinjau melalui tiga hal utama yang memiliki keterkaitan satu sama lain. Ketiga hal tersebut antara lain tingkat pendidikan orang tua, status pekerjaan orang tua, dan pendapatan Hal ini mengemukakan tingkat pendidikan orang tua atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Pendapatan keluarga atau keadaan ekonomi keluarga juga sangat erat hubungannya dengan pendidikan anak. (Huba et al. , 2. Dari hasil penelitian yang penulis teliti ternyata status sosial ekonomi orang tua tidak terlalu berdampak dalam Pendidikan Agama anak terlebih dari penghasilan orang tua hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara Bersama orang tua, hanya saja dari pengetahuan dan Pendidikan orang tua memiliki dampak yang positif terhadap pendidikan Agama anak terlebih orang tua yang memiliki pemahaman terhadap agama atau Agama itu Dalam penelitian Basofi Alwi As Shihab dan Mugiyono yang berjudul pengaruh ekonomi keluarga terhadap pendidikan anak, status sosial ekonomi mempengaruhi pendidikan anak. Berdasarkan interpretasi data menunjukkan bahwa status sosial orang tua berpengaruh terhadap pendidikan anak. Ekonomi keluarga mempunyai pengaruh yang sedang terhadap pendidikan anak survei di Desa Kebon Bwang Kecamatan Tanjung Priok. (Alwi & Ulfah, 2. Hasil penelitian yang penulis teliti ternyata status sosial ekonomi dari penghasilan orang tua tidak berdampak terhadap pendidikan Agama anak hal ini karena orang tua tidak mengeluarkan biaya untuk kebutuhan anak karena untuk biaya mengaji anak gratis sehingga dari penghasilan Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 orang tua tidak terlalu berdampak terhadap pendidikan Agama anak hanya saja untuk kebutuhan alat tulis dan itu pun tidak terlalu besar. Sedangkan penelitian Suparmi dan kawan-kawan yang berjudul Pengaruh Status Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII Reguler Dan Binsus SMP Muhammadiyah 1 Pekanbaru bahwa status sosial ekonomi orang tua tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar karena . tatus sosial ekonomi orang tua kelas regule. tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap . restasi belajar sisw. (Lestari, 2. Hasil penelitian yang penulis lakukan bahwa status sosial ekonomi orang tua berdampak terhadap pendidikan Agama anak hal ini bisa dilihat dari hasil wawancara bersama anak di desa mentiring bahwa dari ekonomi yang berkecukupan atau pun kurang mereka tetap mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Penelitian Aisyah Nur Atika dan Harun Rasyid Dampak Status Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Keterampilan Sosial Anak bahwa status sosial ekonomi orang tua memiliki dampak positif terhadap keterampilan sosial anak. (Atika & Rasyid, 2. Dari penelitian yang penulis lakukan bahwa status sosial ekonomi orang tua berdampak terhadap Pendidikan Agama anak hanya saja untuk pekerjaan dan pendapatan orangtua kurang berdampak karena hal ini dapat dilihat dari keperluan anak tidak memerlukan biaya. Pendidikan dan pemahaman orang tua terhadap Agama sendirilah yang berdampak karena dari Pendidikan serta pemahaman Agama itulah anak bisa mendapat pembelajaran dan ilmu dari orang tua. Dari dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keadaan ekonomi keluarga tidak menjadi faktor utama dampak dalam pendidikan Agama anak karena kadang- kadang ada keluarga yang memiliki keadaan ekonomi yang cukup/lebih semakin membuat orang tua dari anak tidak ada waktu untuk memberikan perhatian lebih di rumah. Fakta di lapangan membuktikan bahwa dari pekerjaan dan hasil pendapatan orang tua memiliki dampak terhadap Pendidikan Agama anak karena dari kesibukan orang tua bekerja masih memperhatikan Pendidikan Agama anak serta mengarahkan anak untuk belajar mengaji ke TPQ dan dari Pendidikan orang tua juga memiliki dampak untuk Pendidikan Agama anak karena orang tua yang memiliki pengetahuan dan pemahaman bisa mengajarkan anak bacaan sholat dirumah serta menyimak bacaan Al-Quran. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat sosial ekonomi keluarga yang dialami oleh masing-masing anak memiliki dampak terhadap Pendidikan Agama anak. Kesimpulan Berdsarkan pembahasan dan hasil temuan penelitian tentang Dampak status sosial ekonomi keluarga dalam pendidikan Agama anak di desa Dapat ditarik kesimpulan sebagi berikut: Status sosial ekonomi masyarakat mentiring kategori menengah hal ini dapat dilihat dari pekerjaan, pendapataan serta Pendidikan di masyarakat itu sendiri yang mana pekerjaan orangtua yang beragam. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Pendidikan Agama Anak desa Mentiring terdiri atas dua komponen yaitu Ibadah dan Akhlaq hal ini dapat dilihat anak yang belajar Agama dan mengaji di TPQ yang sudah disediakan dan sudah cukup banyak, serta prilaku yang ada pada anak sudah cukup baik karena orangtua mengajarkan anak untuk menghoramati orang yang lebih tua. Dampak Status sosial ekonomi orang tua di desa mentiring tidak memiliki dampak peningkatan Pendidikan agama, hanya saja Tingkat Pendidikan orangtua berdampak bagi Pendidikan Agama anak dan hal ini juga memberikan rasa saling menghormati dan menyayangi terhadap anak lain walaupun status sosialnya berbeda. DAFTAR PUSTAKA