Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN KONDISI JARINGAN PERIODONTAL PADA LANSIA DI POSYANDU SEKAR ARUM DRIYOREJO GRESIK RELATIONSHIP BETWEEN MOTIVATION AND PERIODONTAL TISSUE CONDITION IN THE ELDERLY AT POSYANDU SEKAR ARUM DRIYOREJO GRESIK Robbiyatul Muslikha Azizah1. Ida Chairanna Mahirawatie2. Isnanto3 Poltekkes Kemenkes Surabaya. Jawa Timur. Indonesia . mail penulis korespondensi:muslikhaaziza@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Tingginya periodontitis pada lansia merupakan masalah serius yang dapat merusak jaringan lunak dan tulang penyangga gigi. Tingkat kesadaran dan motivasi seseorang dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut sangat berkaitan dengan kemampuan mengontrol plak agar tidak terjadi periodontitis sehingga lansia sadar akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut serta dapat mempertahankan kualitas hidup yang optimal. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi dengan kondisi jaringan periodontal pada lansia di Posyandu Sekar Arum Driyorejo Gresik. Metode: Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sejumlah 35 lansia yang berusia 60 tahun ke atas. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner untuk mengukur motivasi. Pemeriksaan Periodontal Disease Index (PDI) untuk mengukur jaringan periodontal. Penelitian ini bersifat analitik dengan rancangan cross sectional. Analisis data penelitian ini menggunakan uji korelasi SpearmanAos rho untuk menganalisis hubungan motivasi dengan kondisi jaringan periodontal pada lansia. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi dengan kondisi jaringan periodontal pada lansia. Distribusi frekuensi motivasi memiliki kategori motivasi intrinsik kuat dengan persentase 68,6% dan memiliki kategori motivasi ekstrinsik kuat dengan persentase 71,4 %. Distribusi frekuensi kondisi jaringan periodontal mengalami periodontitis dengan persentase 85,7%. Kesimpulan: Lansia di Posyandu Sekar Arum memiliki motivasi yang kuat tetapi masih mengalami periodontitis, karena kurangnya dorongan motivasi dari lingkungan sehingga dapat menyebabkan pengetahuan serta menurunnya kesadaran lansia dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya. Kata kunci : Motivasi. Kondisi Jaringan Periodontal. Lansia. ABSTRACT Background: The high prevalence of periodontitis in the elderly is a serious problem that can damage the soft tissue and bone supporting the teeth. The level of awareness and motivation of an individual in maintaining oral health is closely related to their ability to control plaque and prevent periodontitis, enabling the elderly to understand the importance of maintaining oral health and achieve optimal quality of life. The purpose of this study is to determine the relationship between motivation and periodontal tissue condition in the elderly at Posyandu Sekar Arum Driyorejo Gresik. Methods: The sample for this study consisted of 35 elderly individuals aged 60 and over. The instruments used were a questionnaire sheet to measure motivation and the Periodontal Disease Index (PDI) to measure periodontal tissue. This was an analytical study with a cross-sectional design. Data analysis for this study used the Spearman's rho correlation test to analyze the relationship between motivation and periodontal tissue condition in the elderly. Results: The results of the study showed that there was a relationship between motivation and periodontal tissue conditions in the elderly. The frequency distribution of motivation had a strong intrinsic motivation category with a percentage of 68. 6% and A strong extrinsic motivation category with a percentage of 71. The frequency distribution of periodontal tissue conditions experienced periodontitis with a percentage of 85. Conclusion: Elderly people at Sekar Arum Posyandu have strong motivation but still experience periodontitis, due to the lack of motivational encouragement from the environment which can lead to decreased knowledge and awareness of the elderly in maintaining their dental and oral health. Keywords : Motivation. Periodontal Tissue Condition. Elderly. Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 PENDAHULUAN Kesehatan mulut merupakan aspek penting dalam menjaga kondisi jaringan periodontal pada lansia. Seiring bertambahnya usia, perubahan fisiologis dan kebiasaan hidup yang berkembang dapat memengaruhi kesehatan gusi dan struktur pendukung gigi. Penyakit peradangan gusi hingga kerusakan pada tulang penyangga gigi, sering kali berkembang tanpa menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal, namun dapat menimbulkan masalah serius jika tidak segera ditangani. Banyak permasalahan yang dihadapi oleh lansia akibat kurangnya kesadaran akan menjaga kesehatan gigi dan mulutnya, salah satunya adalah periodontitis. Tingginya periodontitis pada lansia merupakan masalah serius yang dapat merusak jaringan lunak dan tulang penyangga gigi. Kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang periodontitis pada meningkatnya periodontitis yang dapat memperburuk kondisi gusi dan menyebabkan kehilangan gigi. Berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 prevalensi periodontitis pada lansia menunjukkan bahwa 75,9% pada kelompok umur 55-64 tahun, sedangkan pada kelompok usia 65 tahun ke atas prevalensinya adalah 66,0%. Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2022 kasus periodontitis merupakan kasus terbanyak dengan urutan ke 2 168 kasus. Badan Pusat Statistik Kabupaten Gresik tahun 2023 melaporkan bahwa terdapat 260 lansia yang periodontitis. Penyakit penyakit gigi dan mulut yang banyak dijumpai pada lansia. Penyakit periodontal disebabkan oleh bakteri plak yang diawali dengan gingivitis atau peradangan gusi. Penyebab utama lansia mengalami periodontitis karena kurangnya pengetahuan pada lansia dalam melakukan perawatan gigi sehingga banyak lansia mengabaikan dan tidak peduli terhadap kesehatan gigi dan mulutnya. Kurangnya kesadaran lansia dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut dapat menyebabkan periodontitis yang diawali dengan penumpukan plak pada gigi dan gusi, yang terbentuk dari campuran bakteri dan sisa Jika plak tidak dibersihkan secara rutin maka akan mengeras menjadi kalkulus atau karang gigi sehingga menyebabkan terjadinya radang gusi atau gingivitis. Jika gingivitis tidak ditangani infeksi dapat menyebar ke jaringan pendukung gigi termasuk tulang di sekitar gigi, yang dapat mengakibatkan kehilangan gigi. Hal ini berdampak pada kemampuan makan dan berbicara lansia. Periodontitis sulit dihindari jika kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut tidak diterapkan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengurangi akumulasi plak dan masalah periodontitis agar tidak terjadi penyakit pada gigi dan mulut. Salah satunya dengan cara menggosok gigi 2x sehari dengan baik dan benar serta menggunakan benang gigi setiap hari untuk menghilangkan sisa makanan di sela-sela gigi. Disisi lain, lansia juga harus memiliki motivasi karena motivasi memiliki peran penting yang dapat mempengaruhi kesehatan periodontal dan resiko terjadinya periodontitis pada lansia. Tingkat kesadaran dan motivasi seseorang dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut sangat berkaitan dengan kemampuan mengontrol plak agar tidak terjadi periodontitis sehingga lansia sadar akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut serta dapat optimal. Motivasi dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi Motivasi intrinsik merupakan dorongan yang berasal dari diri seseorang yang sesuai atau sejalan dengan kebutuhannya. Sedangkan motivasi ekstrinsik timbul karena adanya rangsangan dari luar individu. Keduanya memiliki peran penting untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian terkait AuHubungan Motivasi Dengan Kondisi Jaringan Periodontal Pada Lansia Di Posyandu Sekar Arum Driyorejo GresikAy yang bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi dengan kondisi jaringan periodontal pada lansia di Posyandu Sekar Arum Gresik. Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 METODE Penelitian ini bersifat analitik dengan rancangan cross sectional. Lokasi penelitian ini dilakukan di Posyandu Sekar Arum Kota Baru Driyorejo Kabupaten Gresik pada bulan Januari - Februari 2025. Rancangan pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu menggunakan total sampling yaitu 35 lansia yang berusia 60 tahun ke atas yang merupakan anggota Posyandu Sekar Arum. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner skala likert dengan 10 butir pertanyaan motivasi intrinsik (Kebutuhan. Harapan. Mina. dan 10 butir pertanyaan motivasi ekstrinsik (Dorongan keluarga. Lingkungan. Imbala. untuk mengukur motivasi responden. Pemeriksaan Periodontal Disease Index (PDI) menggunakan kaca mulut dan periodontal probe untuk mengukur jaringan periodontal. Analisis data menggunakan uji korelasi SpearmanAos rho. HASIL Hasil pengolahan data yang diperoleh setelah intervensi disajikan dalam bentuk table dan narasi sebagai berikut : Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik di Posyandu Lansia Sekar Arum Driyorejo Gresik No. Karakteristik Responden Distribusi Frekuensi Usia Lansia Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Lansia Laki Ae Laki Perempuan Distribusi Frekuensi Pendidikan Lansia Tidak Sekolah SMP SMA Perguruan Tinggi Distribusi Frekuensi Pekerjaan Lansia Tidak Bekerja Wiraswasta Swasta Pensiunan Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa sebagian besar lansia pada penelitian ini berada di usia 60-65 tahun sebanyak 19 orang lansia . ,4%), sebagian besar lansia berjenis kelamin perempuan sebanyak 28 orang lansia . %), sebagian besar pendidikan lansia yaitu lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu sebanyak 12 orang lansia . ,3%). Sebagian besar pekerjaan lansia yaitu tidak bekerja maupun ibu rumah tangga sebanyak 29 orang lansia . ,9%). Tabel 2 Distribusi Frekuensi Motivasi pada Lansia di Posyandu Lansia Sekar Arum Driyorejo Gresik Kategori Motivasi Motivasi Kriteria Intrinsik Ekstrinsik % F Motivasi 24 68,6 25 71,4 67-100% Kuat Motivasi 9 25,7 7 20 34-66% Sedang Motivasi 2 5,7 3 8,6 0-33% Lemah Total 35 100 35 100 Berdasarkan Tabel 2 diperoleh distribusi frekuensi motivasi pada lansia di Posyandu Lansia Sekar Arum Driyorejo Gresik dengan kuesioner yakni motivasi intrinsik dari 35 responden terdapat 24 responden dengan persentase 68,6% memiliki motivasi kuat, 9 25,7% memiliki motivasi sedang, serta 2 responden dengan persentase 5,7% memiliki motivasi Sedangkan motivasi ekstrinsik lansia dari 35 responden terdapat 25 responden dengan persentase 71,4% memiliki motivasi kuat, 7 responden dengan persentase 20% memiliki motivasi sedang, serta 3 responden dengan persentase 8,6% memiliki motivasi Tabel 3 Distribusi Frekuensi Kondisi Jaringan Periodontal pada Lansia di Posyandu Lansia Sekar Arum Driyorejo Gresik PDI Kriteria Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 Sehat Gingivitis Periodontitis Total Berdasarkan Tabel 3 diperoleh periodontal pada lansia di Posyandu Lansia Sekar Arum yakni dari 35 responden terdapat 5 14,3% mengalami Gingivitis, 30 responden dengan persentase 85,7% mengalami Periodontitis. Tabel 4 Analisis Hasil Uji SpearmanAos rho Hubungan Motivasi dengan Kondisi Jaringan Periodontal Pada Lansia di Posyandu Sekar Arum Driyorejo Gresik Variabel p value Spearman Motivasi rhoAos Kondisi Jaringan Periodontal 0,05 0,000 Uji Korelasi Berdasarkan tabel 4 didapatkan data hubungan motivasi dengan kondisi jaringan periodontal pada lansia di Posyandu Sekar Arum tahun 2025 menggunakan Uji SpearmanAos rho dengan nilai signifikasi 0,000 kurang dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa di Posyandu Sekar Arum Desa Gadung. Kec. Driyorejo. Kab. Gresik pada Tahun 2025 ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan kondisi jaringan periodontal pada PEMBAHASAN Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa di usia 60-65 tahun sebanyak . ,4%), sebagian besar berjenis kelamin perempuan . %), sebagian besar pendidikan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak . ,3%), sebagian besar lansia tidak bekerja maupun ibu rumah tangga sebanyak . ,9%). Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa motivasi intrinsik pada lansia di Posyandu Sekar Arum memiliki motivasi yang Lansia yang menyadari pentingnya menjaga kesehatan tubuh, termasuk gigi dan mulut, cenderung lebih termotivasi untuk melakukan perawatan yang diperlukan. Hal ini mendorong lansia untuk melakukan perubahan perilaku, seperti kebiasaan rutin menyikat gigi dan menjalani pemeriksaan gigi secara teratur. Zianna menyatakan bahwa pentingnya perawatan gigi dan mulut serta kesadaran lansia dapat memotivasi untuk melakukan perubahan dalam mencegah masalah kesehatan yang lebih Responden memiliki kebutuhan akan gigi dan gusi yang sehat berasal dari mengkonsumsi makanan yang berserat dan berair . uah dan sayu. sehingga dapat menanggulangi terjadinya periodontitis dan . Asrijati menyatakan bahwa sayur dan buah memang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan gigi dan gusi. Mengkonsumsi sayur dan buah yang kaya akan serat, vitamin, dan mineral, seperti vitamin C, dapat membantu mengurangi peradangan gusi dan memperkuat jaringan ikat yang menopang Jika gigi dan gusi lansia sehat, maka lansia dapat mengunyah dengan baik. Hal ini menjadi salah satu alasan utama yang mendorong responden untuk merawat kesehatan gigi dan Selain itu, responden juga menyadari bahwa masalah gigi yang tidak ditangani dengan benar dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan teori perilaku kesehatan yang dinyatakan oleh HL Blum dalam Notoatmodjo bahwa perilaku memiliki peran besar dalam menjaga kebersihan dan Kesehatan diri Lansia seringkali memiliki harapan untuk mempertahankan kualitas hidup yang baik selama masa tua. Harapan ini tidak hanya pada kesehatan fisik secara umum, tetapi juga meliputi kesehatan gigi dan mulut. Dengan memiliki harapan yang baik, lansia dapat menjaga kesehatan gigi seperti melakukan pembersihan gigi dan mulut serta melakukan pemeriksaan gusi secara rutin 6 bulan sekali, responden berharap dapat menghindari gangguan seperti sakit gigi, radang gusi, kehilangan gigi, atau masalah pengunyahan yang dapat memengaruhi asupan makanan kualitas hidup mereka. Isnanto menyatakan bahwa pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut seperti melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi di layanan kesehatan terdekat dapat mencegah terjadinya gigi lubang, bau mulut, karang gigi. Hal ini Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 akan mendukung tercapainya kualitas hidup lansia yang lebih baik. Selain memiliki harapan untuk mempertahankan kualitas hidupnya, lansia juga harus memiliki minat terhadap kesehatan gigi dan mulutnya, agar dapat mempengaruhi perilaku lansia dalam menjaga kesehatan gigi Responden memiliki minat terhadap perawatan gigi, sehinga responden cenderung lebih aktif dalam melakukan kontrol gigi dan gusi ke klinik gigi karena tidak ingin gusinya sering berdarah. Heni dan Sari menyatakan bahwa kontrol gigi ke klinik mengenai gusi berdarah sangat penting, karena jika tidak diobati akan menyebabkan terjadinya gingivitis dan periodontitis. Lansia di Posyandu Sekar Arum memiliki motivasi ekstrinsik yang kuat. Dorongan dari keluarga menjadi salah satu faktor ekstrinsik yang penting bagi responden dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut Anggota keluarga, terutama anak-anak atau cucu, memiliki peran penting dalam memberikan perhatian dan dukungan yang signifikan dalam merawat kesehatan gigi lansia. Dukungan keluarga tidak hanya sebatas pengingat, tetapi juga mencakup bantuan dalam mengatur perjalanan ke fasilitas kesehatan, serta memberikan perhatian yang dapat meningkatkan kesadaran lansia mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Responden memiliki nasihat dari keluarganya untuk merawat kesehatan gigi dan mulut. Yunita menyatakan bahwa dorongan untuk menjaga kesehatan gigi melalui pengingat atau pendampingan dalam melakukan pemeriksaan gigi secara rutin akan meningkatkan motivasi Kehadiran keluarga dalam merawat lansia sehari-hari, seperti membantu menyikat gigi atau mengingatkan untuk berkonsultasi dengan dokter gigi, akan memperkuat kesadaran dan perilaku positif lansia dalam merawat gigi dan mulut. Selain meningkatkan kesadaran lansia, lingkungan juga memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk dan memperkuat motivasi responden untuk menjaga kesehatan gigi dan mulutnya. Jika responden memiliki dukungan dan informasi dari lingkungan sekitar baik melalui petugas kesehatan, keluarga atau interaksi dengan teman sebaya, dapat sangat mempengaruhi perilaku responden dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya. Responden mendapatkan informasi dari petugas kesehatan akan pentingnya menyikat gigi dua kali sehari agar tidak terjadi peradangan gusi. Rumambi menyatakan bahwa lingkungan social yang positif dapat memberikan rasa saling mendukung di antara sesame lansia. Teman sebaya yang berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai perawatan gigi bisa memotivasi satu sama lain untuk menjaga kebersihan gigi mereka. Hal ini meningkatkan komitmen individu untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Di samping itu, akses yang mudah ke pelayana kesehatan dan komunikasi terbuka dengan petugas kesehatan tentang dampak periodontitis dan penanganannya akan semakin memperkuat niat lansia untuk melakukan perawatan kesehatan gigi dan mulut. Selain itu imbalan juga memiliki peran penting dalam memperkuat perilaku perawatan gigi pada responden. Imbalan ini bisa berupa penghargaan sosial, seperti pujian atau pengakuan dari keluarga, teman, atau tenaga medis yang memberikan dorongan positif bagi lansia untuk merawat gigi mereka. Responden rutin kontrol gigi setiap 6 bulan sekali karena puas dengan rongga mulut yang bersih dan mendapat pujian dari teman serta keluarganya. Fadila menyatakan bahwa lansia yang menerima pujian dari keluarga atas kebiasaan merawat gigi yang baik cenderung merasa dihargai dan lebih termotivasi untuk terus menjaga kesehatan gigi dan mulutnya. dihargai karena kebiasaan merawat gigi yang baik, cenderung akan lebih konsisten dalam menjaga kesehatan dan mulut mereka. Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa 35 lansia mengalami periodontitis dan gingivitis, hal ini disebabkan karena penumpukan plak gigi yang tidak dibersihkan sehingga menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan periodontal. Hal ini sejalan . Setiawati menyatakan bahwa apabila pemeliharaan kebersihan mulut yang tidak benar akan menyebabkan terjadinya akumulasi bakteri pada plak yang merupakan faktor etiologi utama penyakit periodontal. Plak gigi diyakini sebagai penyebab utama terjadinya kerusakan jaringan periodontal. Perilaku lansia memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan jaringan periodontal. Kebiasaan merawat gigi yang buruk, seperti Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 tidak menyikat gigi dengan benar, jarang atau tidak melakukan flossing adalah beberapa perilaku yang dapat meningkatkan risiko masalah periodontal. Setiawati menyatakan bahwa akumulasi pembentukan plak pada manula lebih cepat terjadi karena adanya perubahan fisiologis dari saliva atau terbukanya jaringan sementum yang permukaannya kasar sehingga memudahkan terjadinya pembentukan plak gigi. Jika penumpukan plak yang tidak dibersihkan secara teratur dapat menyebabkan peradangan pada gusi, sehingga dapat memperburuk kondisi gusi karena merusak sirkulasi darah di jaringan gusi. Oleh karena itu, perilaku yang mendukung kebersihan mulut yang baik sangat penting untuk mencegah terjadinya Kesehatan jaringan periodontal. Lingkungan sosial dan fisik memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kesehatan jaringan periodontal, dan ini sering kali tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan adalah pola makan yang tidak sehat. Konsumsi makanan yang kaya gula dan karbohidrat dapat mempercepat pembentukan plak gigi dan meningkatkan risiko infeksi pada gusi Asrijati menyatakan bahwa asupan konsumsi pola makan teratur tiga kali sehari ditambah dengan dua kali selingan berupa sayur dan buah memiliki manfaat yang penting untuk kesehatan gusi. Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan kondisi jaringan periodontal pada lansia di Posyandu Sekar Arum. Meskipun lansia cenderung memiliki motivasi yang kuat dalam men jaga Kesehatan gigi dan mulutnya, lansia tetap lebih rentan terhadap resiko terjadinya penyakit. Dalam hal ini, kondisi kebersihan mulut yang buruk menjadi faktor utama yang berhubungan erat dengan timbulnya periodontitis pada lansia. Hal ini sejalan dengan penelitian Firani yang menjelaskan bahwa penyakit gingiva dan periodontal dapat disebabkan oleh kebersihan mulut yang buruk. Keadaan di mana responden memiliki motivasi yang kuat namun tetap mengalami periodontitis dapat terjadi karena faktor usia lanjut . Seiring bertambahnya usia, lansia mengalami terjadi penurunan fungsi sistem imun dan regenerasi jaringan, sehingga lansia lebih rentan terhadap infeksi, termasuk pada penyakit jaringan periodontal. Meskipun motivasi lansia dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut kuat, faktor penurunan sistem imun dan penurunan regenerasi jaringan tetap meningkatkan risiko terjadinya periodontitis. Putri menyatakan bahwa lansia cenderung lebih rentan terhadap periodontitis karena berbagai faktor seperti penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh, penyakit sistemik yang sering menyertai, serta kebiasaan hidup yang kurang Selain itu penumpukan plak berlebih bisa menyebabkan terjadinya infeksi bakteri sehingga terjadi periodontitis. Invasi bakteri dan tekanan dari plak subgingiva dapat memicu migrasi epitel periodontal ke arah apikal, yang berkontribusi terhadap pendalaman sulkus gingiva dan pembentukan poket periodontal. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penyakit periodontal, yang secara klinis ditandai dengan kemerahan pada jaringan gingiva, serta terjadinya resesi gingiva. Perilaku dari lansia juga menjadi faktor penyumbang dalam menggerakkan motivasi pada lansia untuk menerapkan pola hisup sehat agar tidak terjadi periodontitis. Apabila lansia tidak memiliki kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut, serta melakukan sikat gigi dengan frekuensi dan teknik yang kurang tepat, maka risiko terjadinya periodontitis akan semakin meningkat. Selain itu, kondisi sistemik tertentu juga menjadi faktor penyebab umum yang memperburuk kondisi kesehatan periodontal pada lansia. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh . Sari dan Jannah yang menyebutkan bahwa pengetahuan lansia mengenai kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi perilaku untuk mendorong menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan Ketika pengetahuan yang kurang terhadap aspek ini, maka dapat mempengaruhi motivasi serta perilaku responden dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Hal ini dapat meningkatkan terjadinya penumpukan plak gigi yang dapat memberikan efek kerusakan pada jaringan periodontal seperti penyakit periodontitis. Hal ini sejalan dengan teori H. Blum dalam Notoatmojo bahwa status kesehatan seseorang dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu lingkungan, pelayanan kesehatan, keturunan, dan perilaku. Perilaku lansia, terutama dalam hal motivasi untuk menjaga kebersihan gigi dan Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 mulut, sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang dimiliki. Kurangnya dorongan motivasi dari lingkungan dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan serta menurunnya kesadaran dalam melakukan tindakan preventif, seperti menyikat gigi secara teratur, menggunakan benang gigi, maupun melakukan pemeriksaan rutin ke fasilitas pelayanan kesehatan gigi. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian hubungan motivasi dengan kondisi jaringan periodontal pada lansia di Posyandu Sekar Arum Driyorejo Gresik dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara motivasi dengan kondisi jaringan periodontal pada lansia di Posyandu Sekar Arum Driyorejo Gresik. Penelitian ini disarankan untuk menggerakkan motivasi lansia agar dapat mengurangi terjadinya penyakit periodontal pada lansia. UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur saya haturkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan petunjuk-Nya, yang telah memberikan kelancaran untuk saya sehingga penulisan jurnal ini berjalan dengan Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penelitian ini. Terutama kepada Kepala Posyandu Sekar Arum Driyorejo Gresik atas izin dan Terimakasih kepada Ketua Jurusan Kesehatan Gigi beserta staff dan jajarannya serta dosen pembimbing saya atas bantuan dan arahannya. Terimakasih kepada Orang tua dan kakak saya yang sudah memberikan doa, cinta serta dukungan yang diberikan selama ini. Dan yang terakhir saya sampaikan terimakasih kepada pihak yang telah membantu dalam berjalannya penelitian dan semoga penelitian ini bermanfaat untuk masyarakat dalam pengembangan ilmu dan DAFTAR PUSTAKA Setiawati. Robbihi. , & Dewi. Hubungan Usia Dan Jenis Kelamin Dengan Periodontitis Pada Lansia Puskesmas Pabuarantumpeng Tangerang. JDHT Journal of Dental Hygiene and Therapy, 3. , 43Ae48. https://doi. org/10. 36082/jdht. Fadila. Mahirawatie. , & Soesilaningtyas. MOTIVASI PEMELIHARAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT (PERIODONTITIS) PASIEN DIABETES MELITUS MENGGUNAKAN MEDIA LEAFLET (Studi di Puskesmas Maron Kabupaten Probolingg. Jurnal Skala Kesehatan, 12. , 75Ae85. https://doi. org/10. 31964/jsk. Riskesdas. Riset Kesehatan Dasar. https://kesmas. id/assets/uplo ad/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasilris kesdas2018_1274. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Profil Kesehatan Jatim Gresik. K . Pola Penyakit Penderita Rawat Jalan di Rumah Sakit Menurut Kelompok Umur Kabupaten Gresik - Tabel Statistik. Bps. Badan Pusat Statistik Kabupaten Gresik. https://gresikkab. id/id/statisticst able/2/NDIxIzI=/-pola-penyakitpenderita-rawat-jalan-di-rumahsakitmenurut-kelompok-umur-dikabupaten-gresik. Setiawati. Robbihi. , & Dewi, . Hubungan Usia Dan Jenis Kelamin Dengan Periodontitis Pada Lansia Puskesmas Pabuarantumpeng Tangerang. JDHT Journal of Dental Hygiene and Therapy, 3. , 43Ae48. https://doi. org/10. 36082/jdht. Pujiati. Kiswaluyo. , & Novita, . Hubungan Kebersihan Rongga Mulut dan Status Gingiva dengan Usia Kehamilan pada Ibu Hamil Wilayah Kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember. Pustaka