Dewan Redaksi SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah Editor in Chief Yeni Asmara. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Section Editor Ira Miyarni Sustianingsih. Hum (Universitas PGRI Silampar. Reviewer/Mitra Bestari Prof. Dr. Sariyatun. Pd. Hum. (Universitas Sebelas Mare. Prof. Kunto Sofianto. Hum. Ph. (Universitas Padjadjara. Dr. Umasih. Hum. (Universitas Negeri Jakart. Administrasi Viktor Pandra. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Dr. Doni Pestalozi. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Dewi Angraini. Si. (Universitas PGRI Silampar. Alamat: Jl. Mayor Toha Kel Air Kuti Kec. Lubuklinggau Timur 1 Kota Lubuklinggau 31626 Website: http://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JS/index Email: jurnalsindang@gmail. SINDANG: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN KAJIAN SEJARAH Vol. 5 No. 1 (Januari-Juni 2. Halaman Dewan Redaksi . Daftar Isi . Kehidupan Masyarakat Etnis Tionghoa Dan Arab Dalam Perspektif Sejarah Perdagangan di Kota Palembang Agus Susilo. Yeni Asmara. Fitriyan Della Widya Ningrum . Tradisi Upacara Adat Mandi Kasai (Kajian Etnografi di Kota Lubuklingga. Isbandiyah. Supriyanto . Degredasi Tradisi Betangas Pada Masyarakat di Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas Safariza Setyowati. Ira Miyarni Sustianingsih. Agus Susilo . Perkembangan Perkebunan di Aceh Abad ke Xi - XIX Dewi Setyawati . Persepsi Masyarakat Batu Urip Terhadap Tradisi Mandi Kasai Artiani Manullang. Sarkowi. Ira Miyarni Sustianingsih . Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 31-36 ISSN-P: 2684-8872 ISSN-E: 2623-2065 PERSEPSI MASYARAKAT BATU URIP TERHADAP TRADISI MANDI KASAI Artiani Manullang1. Sarkowi2. Ira Miyarni Sustianingsih3 Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Silampari Alamat korespondensi: artianimanullang@gmail. Diterima: 30 Agustus 2022. Direvisi: 30 November 2022. Disetujui: 30 Desember 2022 Abstract This study aims to describe the Batu Urip Community Perceptions of the Mandi Kasai Tradition in Batu Urip Village. North Lubuklinggau II District. Lubuklinggau City. Mandi Kasai is one of the stages used in marriage which is carried out after the marriage contract. Then after that in the afternoon it will be followed by a Kasai Bath. Mandi Kasai tradition has a long and unique implementation process. Bathing Kasai is to prevent behavior during the bachelor period and the girl and bride can live in harmony, peace and prosperity. The research method used in this research is qualitative description. The steps used include: Observation. Interview. Questionnaire and Documentation. The results of this study contain the public's perception of the kasai bath tradition and the process of its implementation. The community responds well and supports this tradition to be maintained and preserved so as not to lose it. The implementation process is from the beginning of the bridal procession, melanger, simburan bath, procession back home until the limit of this tradition is at Adam's marriage. Then the newlywed couple can continue sexual intercourse. Keywords: Perception. Society. Tradition. Mandi Kasai Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Persepsi Masyarakat Batu Urip Terhadap Tradisi Mandi Kasai di Kelurahan Batu Urip Kecamatan Lubuklinggau Utara II. Kota Lubuklinggau. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskripsi. Langkah-langkah yang digunakan antara lain : Observasi. Wawancara. Angket dan Dokumentasi. Hasil penelitian ini berisi mengenai anggapan masyarakat terhadap tradisi mandi kasai dan proses pelaksanaannya. Mandi kasai merupakan tradisi yang digunakan dalam pernikahan setelah akad nikah. Masyarakat menyikapi dengan baik dan mendukung tradisi ini tetap dijaga dan dilestarikan agar tidak sampai hilang. Proses pelaksanaannya dari awal arak-arakan pengantin, melanger, mandi simburan, arak-arakan pulang kerumah hingga batas tradisi ini berada di kawin adam. Kemudian pasangan pengantin baru bisa melanjutkan hubungan badan. Kata Kunci: Persepsi. Masyarakat. Tradisi. Mandi Kasai. Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang sangat kaya dan unik. Indonesia memiliki begitu banyak pulau-pulau sehingga disebut juga dengan negara Di dalamnya terdapat berbagai suku, ras, bahasa dan berbeda-beda. Keunikan negara ini, juga tidak jarang menarik perhatian orang dari luar. Salah satu yang menarik perhatian dari orang luar Indonesia adalah kebudayaannya. Di Indonesia terdapat banyak kebudayaan yang memiliki ciri khusus dan menjadikan negara Indonesia itu Kebudayaan tentu sangat berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat yang saling mengikat satu sama lain. Kata kebudayaan berasal dari kata dasar Secara http://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JS/index merupakan suatu kebiasaan manusia yang sudah biasa dilakukan dan sangat sukar sekali untuk dirubah karena sudah melekat pada manusia itu sendiri. Kata budaya yang sebenarnya berasal AuSansekertaAy AubuddayahAy. Dalam bentuk jamak yaitu buddhi yaitu yang berarti budi dan akal. Dalam bahasa inggris, kata budaya berasal dari kata Culture, sedangkan dalam bahasa Belanda berasal dari istilah kata Cultuur dan dalam bahasa Latin yaitu dari kata Colera. Colera berarti mengolah, (Bertan. Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti Culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Pasaribu, 2013: . SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 31-36. Menurut Koentjaraningrat . alam tantawi, 2019:. kebudayaan merupakan yang dimana dijadikan menjadi milik diri Menurut Soelaeman . 0:21-. AuKebudayaan merupakan hal-hal yang berkaitan dengan akalAy sedangkan kata budaya merupakan perkembangan dari budi daya yang berarti daya dari budi. Kata kebudayaan dan budaya artinya sama yang berarti hasil dari cipta, karsa dan rasaAy. Menurut Selo Sumarjan dan Soelaeman Soemardi . alam Pasaribu, 2013:. Aumenyimpulkan bahwa kebudayaan itu merupakan hasil dari usaha manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani supaya hasilnya dapat masyarakat,seperti halnya: . ebudayaan materia. yaitu kemampuan manusia untuk menghasilkan benda atau lainnya yang berwujud benda . Rasa, didalamnya termasuk agama, ideology, kebatinan, kesenian, dan semua unsur ekspresi jiwa manusia yang mewujudkan nilai-nilai social dan norma norma social. Cipta merupakan kemampuan mental dan berpikir yang menghasilkan ilmu pengetahuanAy. Berdasarkan kebudayaan berasal dari kata budaya yang artinya akal dan budi. Kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa yang aturan-aturan, petunjuk lainnya yang telah dibuat sedemikian rupa oleh manusia sesuai situasi dan daerah yang ada disekeliling Kebudayaan juga merupakan suatu hubungan yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Kebudayaan dihasilkan oleh manusia itu sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani sehingga dapat memenuhi keperluan masyarakat yaitu kepercayaan, kesenian, moral, adat istiadat serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Terdapat unsur-unsur teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi, dan kesenian. Berdasarkan pendapat di atas, tradisi masyarakat itu sendiri yang diajarkan oleh nenek moyang tradisi itu diturunkan turun temurun oleh nenek moyang mereka sendiri yang telah terlebih dahulu menyelenggarakan tradisi itu sendiri. Tradisi merupakan suatu kebiasaan yang dimiliki manusia yang secara tertulis maupun secara lisan yang kemudian diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Dilakukan secara berulang-ulang diturunkan dari generasi ke generasi Sehingga generasi berikutnya dapat mengikuti adat yang sama seperti yang dilakukan nenek moyang mereka Tradisi yang ada di Batu Urip ini dapat dikatakan masih cukup aktif. Hal ini karena masih terdapat beberapa tradisi yang masih ditengah-tengah Adapun salah satu tradisi yang akan dikaji melalui penelitian ini yaitu tradisi Mandi Kasai yang ada di Batu Urip. Tradisi Mandi Kasai merupakan salah satu tahapan yang digunakan dalam pernikahan pada masyarakat di Batu Urip, kecamatan Lubuklinggau Utara. Kota Lubuklinggau. Provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan hasil wawancara dari bapak Rusli Abidin selaku masyarakat umum mengatakan bahwa: AuAdapun tahapan dalam tradisi Mandi Kasai ini bertujuan agar pengantin tidak bertingkah laku seperti masa bujang gadis karena sudah Mandi Kasai juga bermakna untuk membersihkan secara lahir batin, agar malam pertama pasangan yang sudah mendapatkan berkah. Tradisi ini juga memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri dalam proses upacara pernikahannyaAy. Metode Penelitian Dalam kualitatif sedangkan metode penelitian yang dilakukan yang digunakan adalah analisis wawancara, angket dan dokumentasi sesuai dengan situasi dilapangan tentang tradisi mandi kasai di tengah masyarakat khususnya di kelurahan Batu Urip, kota Lubuklinggau. Dari hasil penelitian jenis data yang di dapatkan berdasarkan sumber primer dan sumber sekunder, yaitu: Data Primer. Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari sumber yang asli tanpa adanya perantaraan dari orang lain (Sugiyono, 2016:. Sama halnya menurut Kuntowijaya . Aubahwa sumber primer merupakan sumber sejarah yang apabila disampaikan langsung oleh saksi mata yang melihat langsung kejadian tersebut kepada pengumpul data. tempat berada sumber itu, maka harus mendatangi suatu perpustakaan (Herlina, 2008:. Data Sekunder. Sumber merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat dokumen (Sugiyono, 2016:. Artiani Manullang. Sarkowi. Ira Miyarni Sustianingsih. Persepsi Masyarakat Batu Urip Terhadap Tradisi Mandi Kasai Hal ini juga dikemukakan oleh Kuntowijoyo . dikatakan bahwa sumber sekunder yang didapatkan bukan dari orang yang mengalami secara langsung peristiwa tersebut, sumber sekunder biasanya diperoleh dari bukubuku, jurnal, koran, internet dan lain Penelitian ini memilih model analisis interaktif miles & huberman. Menurut (Saleh, 2017:95-. model analisis interaktif miles & huberman dalam dilakukan analisis data pada waktu peneliti berada di lapangan maupun setelah kembali dari lapangan baru dilakukan analisis. Pemeriksaan Keabsahan Data menurut Sugiyono 8:270-. menggunakan Kredibilitas. Transferbilitas. Dependibilitas. Uji Konfirmalitas. Triangulasi / gabungan. Sebelum kesungai sudah harus disediakan jeruk nipis yang sudah dimasukkan kedalam mangkok secukupnya yang telah dipotong-potong. Setelah sampai disungai pasangan pengantin ini sebelum mandi akan duduk berdekatan lalu berhadapan dengan air. Laki-laki akan duduk lebih Kemudian yang menjadi pawangnya yang memegang mangkok berisi jeruk nipis yang telah membacakan mantra, kemudian menyiram mereka dengan jeruk nipis tersebut. Setelah itu, mereka mandi disiram dengan air oleh orang yang ada disana, setelah selesai mandi, diajak pulang kerumah dan disambut oleh orang tua mereka di depan rumah. Didalam rumah diganti dengan pakaian lain dan mereka diukur dengan benang 3 warna, yaitu: hitam, merah dan putih. Hitam Artinya, kecerdasan bagi laki-laki, putih artinya kesucian, dan merah artinya berani mengarungi berbagai Setelah itu mereka akan ditepungi . epung tersebut merupakan beras yang sudah ditumbuk dan kemudian mereka ditepungi dengan daun srigati srigayu oleh pawang atau pemangku adat keseluruh badan. Setelah itu mereka akan di suap makan nasi kuning tanpa garam dan ayam yang sudah dimasak dengan jeroan. Yang disuap pertama kalinya adalah laki-laki, baru setelah itu perempuan dengan nasi kuning dan jeroan. Setelah selesai pasangan pengantin ditaruh beras kunyit, setelah itu akan dibiarkan dipatuk ayam. Maknanya, supaya lakilaki nanti bekerja seperti ayam. Mandi Kasai ini dilakukan maknanya adalah pelepasan dari masa remaja ke masa hubungan rumah tangga. Dan pelepasan sifat-sifat buruk dimasa bujang gadis supaya meninggalkan sifat buruk tersebut setelah mereka masuk ke Kemudian dengan kawin adam. Pembahasan Proses pelaksanaan Tradisi Mandi Kasai di Masyarakat Batu Urip Tradisi Mandi Kasai ini merupakan salah satu tradisi yang sangat unik dan di laksanakan di sungai. Proses pelaksanaan Mandi Kasai umumnya dilakukankan di Namun jika situasi keadaan tidak mengizinkan, seperti misalnya karena sungai jauh yang susah untuk dijangkau atau tidak ada sungai yang dangkal atau tempat yang kering untuk meletakkan tikar tempat duduk pengantin, tikar harus dibentang ketika upacara melanger dan melaksanakan ritual di tepi sungai. Oleh sebab itun ada juga yang terpaksa melaksanakan Mandi Kasai di darat dan memilih tempat yang cocok. Terpaksa menampung air setidaknya tiga atau empat buah. Airnya diangkut dari sungai dan dimasukkan ke dalam derum. Berdasarkan penjelasan dari Pak Zulhijah . , tentang proses Mandi Kasai, yaitu : AuMandi Kasai adalah tradisi dalam pernikahan yang dilakukan di pinggir sungai yang dilakukan setelah akad nikah dan selesai persedekahan dan sorenya lanjut Mandi Kasai. Dengan syarat bagi perempuan yang ikut mengantarkan pasangan pengantin kesungai tidak boleh ada yang sudah Jadi, yang bisa ikut harus yang statusnya gadis dan bujang atau yang Setelah perlengkapan dan peralatan sudah disiapkan, seorang yang sudah ditunjuk untuk memandu pelaksanaan Mandi Kasai dari rumah yang disebut dengan Berdasarkan pendapat diatas dalam proses pelaksanaan Mandi Kasai tidak rombongan yang ikut dalam arak-arak pengantin, tidak boleh ada yang statusnya sudah bercerai. Harus seorang bujang dan gadis atau yang sudah berkeluarga tetapi masih keadaan utuh. Makna hubungan rasa antara kedua mempelai dan bujang gadis. Bahwa kedua mempelai sampai dengan waktu acara Mandi Kasai masih bujang dan SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 31-36. telesan mandi pengantin perempuan, telesannya tinggi hingga menutupi dada, sedangkan telesan pengantin laki-laki cukup hingga di atas pinggang. Kedua pengantin lalu menarik pengantin masuk ke sungai, di tempat yang agak dalam sehingga tubuh mereka terendam hingga di atas pinggang. Pendamping pengantin lakilaki dan pendamping pengantin perempuan, masing-masing Memang melakukan tugas memandikan pengantin. Biasanya mereka enggan mandi diatur-atur seperti itu, lagi pula ditonton oleh orang Akhirnya dengan cara setengah memaksa Bnoyan menekan mulai dari kepalanya sehingga seluruhnya terbenam. Tampaknya, pengantin pun membenamkan dirinya masing-masing berulang-ulang. Mandi Simburan, mulai terjadi. Ketika kedua pengantin tidak segan-segan lagi mencelupkan tubuhnya, kepala mereka tampak, bayah kuyub. Saat itulah yang dinantikan-nantikan oleh para Bnoyan Mereka menyimburkan air, di arahkan ke darat, di mana orang-orang yang menonton paling dekat dari situ. Di antara mereka ada pula yang sengaja didorong terjun ke sungai sehingga basah kuyub. Sambil bersorak riang gembira, saling menyimburkan air, saling dorong agar semakin basah. Terjadilah suasana hiruk pikuk, diselingi bunyi sorak sorai, namun kegembiraan, karena Mandi Simburan memang sudah menjadi menjadi kebiasaan dan hanya terjadi dalam Acara tradisi Mandi Kasai. Naik ke Darat : setelah Selesai mandi, keduanya mengeringkan badan dengan handuk, ketua Bujang membantu pengantin laki-laki , ketua Gadis membantu pengantin Setelah itu, dipakaikan lagi pakaian yang sudah dipersiapkan. Laki-laki memakai songket, bedong, . ending Dan setelah rangkaian proses mandi kasai selesai dan akan dilanjutkan dengan kawin adam atau kawin adat sebelum memulai hubungan badan dengan Dari proses pelaksanaan Mandi Kasai diatas, terlihat banyak rangkaian prosesnya yang akan dilakukan. Nilai yang terkandung di dalam pelaksanaan acaranya yang tampak unik itu, kedua mempelai sudah berhasil menjadi raja dan permaisuri, berkat usaha untuk menggapai cita-cita berumah tangga. Keduanya telah berhasil menjadi sepasang suami isteri , merupakan salah satu bukti sita-cita mereka telah tercapai. Bujang gadis sebayany, pada saat acara itu, merasa senang dan bangga melayani rajanya bersama permaisurinya berjalan menuju tempat terakhir mengarungi masa lajang dan melepaskan masa pergaulan muda-mudi, lalu pergi berlayar bersama dalam bahtera hidup Adapun keyakinan atau nilai-nilai dari tradisi pernikahan yaitu memberikan dorongan semangat bagi orang-orang muda mudi, agar mereka juga dapat mengalami kebahagian sebagaimana dialami oleh kedua mempelai yang sedang mereka layani. Sebab pekerjaanya memindahkan tikar puar kedepan secara berulang-ulang, di iringi bunyi tetabuan dan diselingi sorak sorai. Setiap ada keterlamabatan atau jalannya pengantin hampir terlanjur melangkah, sedangkan tikar Puar belum terpasang. Kala itu, suara sorak dan gelak tawa terdengar sangat ramai. Saat berada di Tepi Sungai : Perjalanan menuju Sungai, telah sampai ke tempat yang Tikar puar dibentangkan hanya Kedua pengantin didudukkan berdekatan, sukar sekali untuk meminta mereka mau duduk berdekatan ( kejadian seperti itu memang sudah terbiasa terjad. sebab tampaknya masih malu-malu, apalagi ditonton orang banyak. Namun, dukun Bayan dan Bnoyan dengan gigihnya mengatakan bahwa mau atau tidak mau sudah menjadi keharusan dalam aturan adat, akhirnya keduanya menurut saja duduk berdekatan, sedekat yang ditunjukkan oleh Dukun Bayan. Dukun Bayan mengangkat mangkuk langer yang sudah diisi ramuan jeruk tipis yang sudah diiris-iris, kayu balik angin angin dan potongan kayu tiang lepas, diaduk menggunakan daun setawar, sedingin sementara mulutnya komat kamit menyebutkan kata-kata mantra. Memandikan Pengantin : setelah upacara melanger selesai. Masing-masing Bnoyan sebelum menarik pengantin sampai turun ke dalam sungai, terlebih dahulu dibantu oleh Ketua Bujang. Ketua Gadis mengganti pakaian dan memakaikan Artiani Manullang. Sarkowi. Ira Miyarni Sustianingsih. Persepsi Masyarakat Batu Urip Terhadap Tradisi Mandi Kasai Persepsi Masyarakat Batu Urip Terhadap Tradisi Mandi Kasai Persepsi merupakan suatu anggapan atau pendapat terhadap sebuah objek. Persepsi berperan dalam penerimaan mengintepretasikan rangsangan yang sudah teratur itu untuk mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap (Saleh, 2017:. Dalam setiap persepsi manusia pastilah memiliki persepsi yang berbeda-beda. Hal ini juga berkaitan dengan pesepsi masyarakat Batu urip terhadap Mandi Kasai yang telah di teliti. Dari hasil penelitian yang dilakukan tedapat namun masih banyak yang mencintai dan bahkan ingin tradisi ini dilestarikan dan Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan Bapak Komaro Syamsin . selaku Lurah di Kelurahan Batu Urip ini, menurut AuMenurut saya sangat baik. Karena, tradisi ini merupakan tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang kita. Sudah seharusnya tradisi ini dijaga, tetap dilaksanakan dan diturun khususnya generasi muda sekarang dan yang akan datang. Tradisi ini dilaksanakan setelah akad nikah sudah selesai. Tentunya dalam setiap tradisi yang bersifat lokal itu memiliki nilai dan makna tersendiri bagi kita. Untuk itu kita harus tau makna dan nilai apa yang terkandung dalam tradisi Saya sebagai lurah sangat mendukung Mandi Kasai ini untuk bisa tetap dilaksanakanAy. Hal ini didukung oleh perangkatperangkat desanya terhadap persepsi tentang Mandi Kasai. Ibu Ajeng . sendiri memiliki persepsi tersendiri: AuMenurut saya, tradisi ini cukup meriah dalam pelaksanaannya. Banyak orang yang arak-arakan kearah sungai untuk mengiring pengantin. Dengan alat-alat musik, seperti rebana, gong dll. Saya juga sangat mencintai yang berkaitan dengan kearifan lokal. Harapannya juga orangorang muda juga dapat mencintai kearifan lokal dan ikut andil dalam hal khususnya Mandi KasaiAy. Menurut anggapan pak Dede . menjelaskan bahwa: Au Mandi Kasai itu masih dilaksanakan di Batu Urip ini. Beberapa masyarakat juga masih melakukannya. Saya pribadi juga setuju dan sangat senang apabila Mandi Kasai ini mulai dikenal banyak orang terutama orang muda sekarang yang sudah kurang mencintai kearifan lokal akibat perkembangan zaman yang semakin maju dan zamannya teknologi yang semakin canggihAy. Dari penjelasan diatas terlihat bahwa Lurah selaku pemerintah setempat dan perangkat-perangkat desanya juga sangat antusias dan memiliki keinginan supaya tradisi Mandi Kasai ini juga tetap ada dan dilestarikan kembali karena merupakan tradisi nenek moyang kita khususnya bagi masyarakat Batu Urip. Diharapkan juga tradisi ini sebagai kearifan lokal Batu Urip bisa dikenal khususya generasi muda. Mandi kasai memang sudah cukup lama dilaksanakan namun sudah mulai kurang nya pelestarian dan semakin banyak juga yang kurang mengenal akan tradisi ini. Hal ini sependapat dengan oleh nenek Saliam, . yang merupakan sesepuh yang juga pelaku Mandi Kasai pada zamannya dulu. Menurutnya : AyTentu hal ini sangat baik dan kami sangat Mendukung kalau tradisi ini tetap dijalankan dan diterapkan pada masa sekarang ini. Namun, zaman sekarang ini sudah cukup jarang ditemukan orang-orang muda yang masih cinta akan kearifan lokal. Terlihat adanya beberapa orang yang tidak mengetahui tentang mandi kasai. Saya juga salah satu yang dapat terlibat dan ikut andil dalam pelaksanaan Mandi Kasai. SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 1 (Januari-Juni 2. : 31-36. Pengembangan Desain Uji Kualitatif Dan Kuantitatif. Malang: Literasi Nusantara https://digstraksi. com/mengenalmandi-kasai-upacara-pemandian-calonpengantin-dari-lubuklinggau-sumsel/ diakses oleh Artiani Manullang, pada hari Selasa, 23 Agustus 2022 jam 11. Wib. KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesi. Jakarta:PT. Persero Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi Jakarta: Rineka Cipta. Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi II. Jakarta: Rineka Cipta. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi Jakarta : Rineka Cipta. Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta:Tiara Wacana Notoatmodjo. Metode ilmu pengetahuan dalam metodelogi penelitian Jakarta: PT Rineka Cipta Pasaribu,F,B,R. Manusia dan Kebudayaan:Manusia Indonesia. Nasionalisme Simbolisme Kebudayaan. Qutuby, dkk. Tradisi kebudayaan Nusantara. Semarang : Elsa Press. Ramadhani. Puspa: 2020. Busana Pengantin Tradisional Pada Upacara Mandi Kasai Di Kota Lubuk Linggau Provinsi Sumatera Selatan. Jurnal Pendidikan. Busana. Seni dan Teknologi. Vol. 02 No. 01 Hal. Saleh,Sirajuddin. Analisis Data Kualitatif. Bandung Pustaka Ramadhan Soekanto. Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakartan: PT. Raja Grafindo Persada Soelaeman,M. Ilmu Budaya Dasar suatu pengantar. Bandung:PT. Refika. Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R & D Bandung:Alfabeta. Sugiyono. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung:Alfabeta Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif. R&D. Bandung:Alfabeta Sulasman. Metode Penelitian Sejarah. Teori. Metode. Contoh Aplikasi. Bandung:Pustaka Setia. Suwandi. Adat Perkawinan Khas Tradisional Masyarakat Lubuk Linggau Wilayah Pemerintahan Kota Lubuk Linggau. Lubuk Linggau: Laboratorium Pendidikan Sejarah STKIP-PGRI Lubuklinggau Tantawi. Isma. Dasar-dasar Ilmu Budaya (Deskripsi Kepribadian Bangsa Indonesi. Jakarta:Kencan Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di kelurahan Batu Urip. Lubuklinggau Utara II, Sumatera Selatan. Hasil dari persepsi masyarakat terhadap tradisi Mandi Kasai 57% dianggap rata-rata Setuju untuk tetap dijalankan dan dilestarikan baik oleh Terutama merupakan masyarakat asli dari Batu Urip itu sendiri. Mereka sangat mencintai dan mengharapkan agar tradisi mandi kasai ini diturun-temurunkan generasi selanjutnya sehingga tradisi ini dapat dijaga dan dijalankan ditengahtengah masyarakat dan semakin banyak diketahui masyarakat lainnya sehingga tradisi ini tidak mengalami kepunahan atau sampai terhilang. Karena dengan demikian, ini akan menjadi sebuah salah satu kekayaan kebudayaan Batu Urip yaitu tradisi selain dari keseniannya dan peninggalan-peninggalan Namun terdapat juga masyarakat Karang Tarun. tidak terlalu antusias dalam pelaksanaan Mandi Kasai. Salah satu penyebabnya, karena orang tua tak mengajarkan pada anak-anak mereka lagi dan diantaranya memiliki persepsi tidak terlalu peduli terhadap tradisi mandi kasai karena dianggap terlalu kuno untuk dilakukan pada masa sekarang yang sudah modern dan canggih. Daftar Referensi Basir. Tradisi Mandi Kasai Batu Urip . atatan arsip wawancara pribadi narasumber dari Alipit. tidak David. Berry. Pokok Ae pokok dalam sosiologi. Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada. Elly. S, et all. Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar. Jakarta:Kencana Ghony. Dkk. Analisis Interpretasi Data Penelitian Kualitatif. Bandung:Refika Aditama Hamzah. Amir . Metode Penelitian Pengembangan (Research & Developmen. Uji Produk Kuantitatif Dan Kualitatif Proses Dan Hasil Dilengkapi Contoh Proposal