ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN DENGAN INSOMNIA PADA SISWA DI SMA NEGERI 03 BATAM Nopri Esmiralda1. Suryanti2. Reka Handayani3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, nopriesmiralda@univbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, suryanti@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, reka. handayani09@gmail. ABSTRACT Background: Anxiety that is often experienced by teenagers is usually related to the learning process at school. Anxiety can appear as a physiological response to anticipate a problem that may come or appear as a disturbance if it arises excessively. Insomnia is a symptom that refers to complaints of difficulty falling asleep, frequent or prolonged awakening, inadequate sleep quality, or short overall sleep duration in individuals who have sufficient time available for sleep. This study aims to determine the correlation between anxiety levels and insomnia on students at SMA Negeri 03 Batam. Method: This is an observational analytic research using a cross-sectional approach conducted at the SMA Negeri 03 Batam in December 2021. A total of 160 students were analyzed through a simple random sampling method. The research instrument used the Zung Self-Rating Anxiety Scale (ZSAS) to evaluate anxiety and the Insomnia Rating Scale (IRS) to evaluate insomnia. To determine the correlation between anxiety levels and insomnia on students, an analytical test was conducted by spearman test. Result: The results of the Spearman test showed that there was a significant relationship between the level of anxiety and insomnia on students with a p value = 0. <0. Conclusion: Based on the results of this study, it can be concluded that there is a correlation between the level of anxiety and insomnia on students of SMA Negeri 03 Batam. Keywords : level of anxiety, insomnia ABSTRAK Latar Belakang: Kecemasan yang sering dialami oleh remaja biasanya berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah. Kecemasan dapat muncul sebagai suatu respons fisiologis untuk mengantisipasi suatu permasalahan yang mungkin akan datang atau muncul sebagai gangguan jika timbul berlebihan. Insomnia merupakan gejala yang mengacu pada keluhan kesulitan tidur, sering atau terbangun berkepanjangan, kualitas tidur yang tidak memadai, atau durasi tidur keseluruhan pendek pada individu yang memiliki cukup waktu yang tersedia untuk tidur. Untuk mengetahuiadanya hubungan antara tingkat kecemasan dengan insomnia pada siswa di SMA Negeri 03 Batam. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional yang dilakukan di SMA Negeri 03 Batam pada bulan Januari 2022. Jumlah sampel sebanyak 160 siswa yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Instrument penelitian menggunakan Zung self-Rating Anxiety Scale (ZSAS) untuk menilai kecemasan dan Insomnia Rating Scale (IRS) untuk menilai insomnia Untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan insomnia pada siswa yang dilakukan uji analisis yaitu uji spearman. Hasil: Hasil uji spearman menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kecemasan dengan insomnia pada siswa dengan nilai p value = 0,000 . <0,. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat kecemaasan dengan insomnia pada siswa SMA Negeri 03 Batam. Kata Kunci: Tingkat kecemasan , insomnia Universitas Batam Page 204 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 lingkungan tertentu, pengalaman traumatis PENDAHULUAN Pada tahun pertama siswa SMA umumnya berusia 15-16 tahun. Pada usia tersebut sudah termasuk kedalamgolongan Usia remaja yaitu periode masa peralihan atau masa transisi dari usia anakanak ke usia remaja atau dewasa. Di usia remaja disebut masa peralihan adalah masa mengakibatkan rasa emosi, cemas, dan ketidaknyamanan pada diri seseorang karena hal tersebut diharuskan beradaptasi dan menerima suatu perubahan yang Pada masa ini akan mengalami perubahan diri seseorang secara biologis maupun psikologis. Terutama perubahan Perubahan perasaan, dan emosi, dan pola tidur (Sulana et al. , 2. Gangguan cemas digolongkaan sebagai penyakit gangguan kejiwaan, kompleks dari elemen biologis,psikologis, dan psikososial. Kecemasan yang sering dialami oleh remaja biasanya berkaitan dengan proses pembelajar di sekolah. Kecemasan dapat muncul sebagai suatu respons fisiologis untuk mengantisipasi suatu permasalahan yang mungkin akan datang atau muncul sebagaigangguan jika timbul berlebihan. Kecemasan biasanya disebabkan adanya perasaan takut tidak akan perpisahan atau kehilangan, rasa frustasi akibat kegagalan dalam mencapai tujuan dan ancaman terhadap integritas diri maupun konsep diri (Lamba et al. , 2. Kecemasan keadaan yang tidak menyenangkan berupa respon-respon psikofisiologis yang muncul sebagai antisipasi dari bahaya yang tidak nyata maupun imajinasi. Gangguan cemas kecemasan yang berlebihan, dan perubahan Ketakutan emosional terhadap ancaman langsung, baik secara nyata atau dibayangkan, sementara terhadap ancaman di masa depan, nyata atau dibayangkan (Lamba et al. , 2. Berdasarkan data dari WHO, secara global terdapat sekitar 3,6% populasi dunia yang mengalami gangguan cemas (Nst et al. Sampel populasi umum NMPOU (Non- Medical Prescription Opioid Us. di Amerika Utara menunjukkan prevalensi . %). Sekitar perempuan dan 20% anak laki-laki berjumlah 6,3 juta remaja - memiliki gangguan cemas, menurut data dari National Institute of Mental Health. Berdasarkan Data Riskesdas tahun 2018 menyatakan bahwa emosional sekitar 4,46% pada siswa SMA. Tingkat Prevalensi gangguan batam menunjukkan diterima dalam Universitas Batam Page 205 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 kecemasan sebanyak 39 orang . ,5%) mengacu pada keluhan kesulitan (Hunter et al. , 2. Insomnia merupakan gejala yang kualitas tidur yang tidak memadai, atau durasi tidur keseluruhan pendek pada skor tingkat kecemasan yang bervariasi, individu yang memiliki cukup waktu yang tersedia untuk tidur. Insomnia tidak . ,0%), tingkat kecemasan ringan . ,0%), tingkat kecemasan sedang . ,0%), langkah-langkah Gejala Insomnia ini merupakan Sedangkan skor Insomnia yang bervariasi, gangguan tidur yang sangat sering di dengan skor tertinggi adalah 44 dan skor terbanyak adalah 34 yaitu 14 responden. mencapai bagian atas. Prevalensiinsomnia Jadi, terdapat hubungan tingkat kecemasan di seluruh dunia, diperkirakan3,9% hingga dengan insomnia pada siswa SMA Negeri Sedangkan Hasil penelitian di 03 Batam. terdapat tingkat Insomnia, di Indonesia menunjukkan bahwa 44,7% kelompokkan menjadi: tidak ada keluhan orang tidak mengalami insomnia, 43,3% Insomnia . %). Insomnia ringan . %), menderita insomnia ringan, dan 11,2% Insomnia berat . %), dan Insomnia sangat memiliki gejala insomnia yang berat, lalu 1,7% menderita insomnia sangat berat. pendahuluan diatas, yang diketahui ada 14 Sedangkan yang memiliki gejala insomnia Sedangkan 56,2% . %). Berdasarkan kecemasan disertai dengan gejala insomnia (Pengpid & Peltzer, 2. Pada penelitian di Semarang, pada sebanyak 16 orang dari 20 responden. Berdasarkan tinjauan di atas,adapun tahun 2014 pada populasi mahasiswa faktor yang mempengaruhikecemasan yaitu faktor predisposisi dimana siswa mengalami didapatkan prevalensi tingkat kecemasan Konflik Emosional, yang dialami individu normal sebanyak . ,90%), sedangkan dan yang tidak terselesaikan dengan baik. Konflik antara id dan superego atau antara . ,10%) (Tyas Anggraini & Tsaqofah, keinginan dan kenyataan dapat menimbulkan kecemasan pada individu, lalu Konsep diri Dari survey pendahuluan yang dilakukan peneliti kepada 20 siswa SMA ketidakmampuan individu berpikir secara Negeri 03 Batam dengan menggunakan kuesioner Zung Self-rating Anxiety Scale Dari faktor itu siswa akan (ZSAS) secara online, didapatkan hasil mengalami suatu kondisi Universitas Batam Page 206 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 Tingkat Kecemasan Tidak Cemas Kecemasan Ringan Kecemasan Sedang Kecemasan Berat Total Frekuensi . Persentase (%) distribusi frekuensi tungkat kecemasan (WARUWU, menunjukkan, dapat di ketahui bahwa pada siswa di SMA Negeri 03 sebagian besar siswa tidak merasa cemas yakni sebanyak Dari latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka peneliti tertarik Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hubungan antara tingkat kecemasan dengan insomnia pada kecemasan sedang. Dalam penelitian ini didapatkan tingkat kecemasan yang berbeda pada siswa Menurut Sudrajat Erlamsyah . ada tiga faktor penyebab tingginya kecemasan pada diri siswa, yaitu, siswa di SMA Negeri 03 Batam. faktor kurikulum, faktor guru dan faktor METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan analitik dengan desain atau pendekatan cross sectional. Pada penelitian ini populasi yang digunakan adalah Siswa SMA Negeri 03 Batam dengan teknik pengambilan sampel metode random sampling dengan jenis simple random sampling berjumlah 158 responden. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Abai Sangir Padang padabulan Desember 2021. Variabel bebas dalam penelitianini adalah tingkat kecemasan. Variabel terikat dalam penelitian ini kecemasan ringan dan 8 orang . %) dapat disebabkan oleh karena adanya Negeri 03 Batam. 115 orang . , 37 orang . dengan dengan insomnia pada siswa di SMA Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan pada Siswa SMA Negeri 03 Batam Berdasarkan Tabel 1 mengenai Analisis Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kecemasan yang disebut dengan kecemasan atau HASIL DAN PEMBAHASAN adalah kejadian manajemen sekolah. Hal inilah yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan pada siswa (Yanti et al. , 2. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saleh tentang tingkat kecemasan siswa SMA menyatakan bahwa tingkat kecemasansiswa kelas X MIPA sebagian besar siswa berkategori cemas berat dengan jumlah 188 . ,82%). Sedangkan kecemasan siswa kelas X IPSsebagian besar berkategori kecemasan berat sejumlah 71 siswa . ,30%) Hal ini bisa jadi karena siswa mempersepsikan apa yang akan insomnia pada siswa. Universitas Batam Page 207 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 Hasil penelitian ini sejalan dengan dihadapinya tersebut dirasa sulit dan penelitian yang dilakukan oleh Walasary . tentang tingkat kecemasan pada siswa akan dihadapi adalah ujian akhir semester kelas xii SMA negeri 5 ambon yang (Saleh et al. , 2. menyatakan bahwa sebagian besar siswa mengalami kecemasan ringan dengan Faktor penyebab insomnia pada jumlah 77 siswa . ,3%) mengalami remaja disebabkan karena pola tidur yang kecemasan ringan. Hal ini disebabkan buruk, penggunaan media elektronik . elevisi, karena kecemasan siswa saat menghadapi komputer, gadget dan lain sebagainy. , ujian nasional sifatnya situasional atau penyakit migren, nyeri, gangguan psikologi, hanya dalam jangka waktu yang singkat depresi, kafein, nikotin dan rokok. Selain itu, (Walasary et al. , 2. penyebab insomnia pada remaja disebabkan menyelesaikannya, terlebih Distribusi Frekuensi Insomnia oleh gaya hidup remaja dan pola aktifitas Siswa SMA Negeri 03 Batam remaja di luar jam sekolah (Owens et al. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Insomnia Insomnia Frekuensi . (%) Tidak ada keluhan Ringan Sedang Berat Total Berdasarkan Tabel menunjukkan terdapat bahwa insomnia ringan yakni sebanyak 72 orang . %), 59 orang . 9%) insomnia sedang, 25 orang . tidak ada keluhan dan 4 orang . 5%) termasuk insomnia berat. Dalam tingkat insomnia yang berbeda pada siswa beberapa faktor yang mempengaruhi Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zahara . tentang gambaran insomnia pada remaja di SMK negeri 2 pekanbaru yang menyatakan bahwa sebagian besar siswa mengalami insomnia ringan sejumlah 43 siswa . ,7%) (Anggara S & Annisa, 2. Hal ini dikarenakan terdapat faktorfaktor yang mempengaruhi kejadianinsomnia seperti faktor psikologis, faktor lingkungan, adanya tekanan, internetan atau online, ruang tidur, merokok. Distribusi Frekuensi Insomnia Berdasarkan Jenis Kelamin pada Siswa SMA Negeri 03 Batam Tabel 3. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 Universitas Batam Page 208 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 1 FEBRUARI 2022 Berdasarkan Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anggara . yang berdasarkan jenis kelamin, menunjukkan menyatakan dari hasil penelitian didapati 55 terdapat bahwa insomnia ringan yakni 14 orang mengalami simptom insomnia yang siswa . ,2%) berjenis kelamin laki-lakitidak terdiri dari 11 orang mahasiswa laki laki dan memiliki keluhan insomnia, 23 siswa . ,5%) 44 orang mahasiswa perempuan (Zhang et al. berjenis kelamin laki-laki memiliki insomnia Tabel ringan, 23 siswa . ,5%) berjenis kelamin Penelitian lain yang dilakukan oleh laki-laki memiliki insomnia sedang dan 3 Zhang et al . juga menyebutkan bahwa siswa . ,8%) berjenis kelamin laki-laki perempuan lebih besar mengalami insomnia memiliki insomnia berat. dibandingkan laki-laki hal ini berkaitan Sedangkan 11 siswa . ,3%) berjenis dengan masa pubertas dimana hormon kelamin perempuan tidak memiliki keluhan ovarium saat siklus menstruasi menyebabkan insomnia, 49 siswa . ,5%) berjenis kelamin emosi yang labil (Jannah et al. , 2. perempuan memiliki insomnia ringan, 36 Hormon Estrogen merupakanhormon siswa . ,1%) berjenis kelamin perempuan yang disekresikan dari ovarium sebagai memiliki insomnia sedang dan 1 siswa . %) respon terhadap kedua hormon seks wanita dari kelenjar hipofisis anterior. Estrogen pada insomnia berat. wanita dihasilkan oleh sel tekadan granulosa Sehingga dapat disimpulkan kejadian perempuan dibandingkan dengan laki-laki. tersebut akan menyebabkan gangguan tidur Dibuktikan dengan jumlah perempuan yang pada perempuan atau insomnia. Selain itu mengalami insomnia sedang dan berat lebih banyak dibanding dengan laki-laki. Hal ini mengalami stres karena mereka memiliki diakibatkan oleh faktor dari insomnia. strategi koping yang kurang baik. Laki-laki Perempuan Total Hormon estrogen menurun ketika menjelang mentruasi, hal Jenis Kelamin Variabel Insomnia Tidak ada Ringan Sedang Variabel Total % f Total Ringan Sedang Berat Total % Berat Insomnia Tidak Kecemasan Value ZONA KEDOKTERAN %VOL. f NO. % FEBRUARI Tidak cemas Ringan Sedang Total Universitas Batam Page 209 0,000 0,470 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 1 FEBRUARI 2022 Analisis Hubungan Tingkat Kecemasan mengalami insomnia. Dengan Insomnia pada Siswa SMA Analisis Bivariat Negeri 03 Batam Tabel 4. Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Insomnia antara tingkat kecemasan dengan insomnia Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan menggunakan uji spearman dengan bantuan program komputer diperoleh nilai p value adalah sebesar 0,000. Karena nilai p value tersebut lebih kecil dari nilai signifikan yaitu sebesar 0,05. Berdasarkan hasil penelitianyang Didapatkan 15,6% siswa tidak mengalami diperoleh dari data responden siswa diSMA keluhan insomnia, 45,0% siswa yang Negeri 03 Kota Batam menunjukkan bahwa mengalami insomnia ringan, 36,9% siswa yang mengalami insomnia sedang, dan2,5% Berdasarkan hasil uji kecemasan dengan insomnia pada siswa SMA siswa yang mengalami Negeri 03 Batam. Adapun tingkat kecemasan insomnia berat. memiliki hubungan yang cukup kuat dengan Berdasarkan uji analisis spearman, terdapat kejadian insomnia dengan nilai koefisien hubungan antara tingkat kecemasan dengan korelasi sebesar 0,470. insomnia pada siswa di SMA Negeri 03 Batam Penelitian ini juga sejalan dengan dengan p value = 0,000 . <0,. dan memiliki penelitian yang dilakukan Janah . yang kekuatan hubungan yang cukup dengan koefisien korelasinya 0,470. korelasi yang dengan insomnia. Adapun SARAN stressor yang paling banyak ditemukan berupa Perlu adanya penelitian lebih lanjut adalah tututan akademik yang tinggi, diikuti dengan jenis dan variabel yang berbeda untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang hubungan perubahan kesehatan anggota keluarga dan item stressor lainnya. tingkat kecemasan dengan insomni. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menghanturkan terimakasih KESIMPULAN kepada dr. Fitta Deskawaty. Sp. KJ yang telah Didapatkan hasil sebesar 71,9% siswa tidak memberikan banyak bimbingan, dorongan mengalami kecemasan, 23,1% siswa yang motivasi dan masukan pada penelitian ini. mengalami kecemasan ringan, 5,0% siswa Ucapan terimakasih sebesar-besarnya kepada yang mengalami kecemasan sedang dan pihak SMA Negeri 03 Batam yang telah tidak ada siswa yang mengalami kecemasan melangsungkan penelitian. Universitas Batam ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 1 FEBRUARI 2022 Page 210 DAFTAR PUSTAKA