p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920 Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. No. Kontroversi Arian: Pertarungan Status Ketuhanan Yesus Kristus yang Membentuk Keimanan Kekristenan Andi Darmawan Putra Universitas Paramadina. Indonesia Email: salihinjr@gmail. ABSTRAK Hampir lebih dari 3 abad sejak kelahiran Yesus Kristus, para pengikutnya mempunyai keyakinan bahwa Allah Bapa adalah Tuhan yang benar-benar sejati tanpa dapat dijangkau karena keunikan-Nya. Namun berbeda dengan sang Putra yang dianggap tidaklah abadi dan bukannya tidak diciptakan, karena dia diyakini mendapatkan eksistensinya dari wujud dari Sang Bapa. Timbullah pertanyaan yang mengguncang pemuka agama pada saat itu tentang bagaimana memformulasikan status ketuhanan Yesus dihadapan Bapa. Konsep yang telah diterima gereja di abad-abad awal Kekristenan adalah pemikiran spekulatif dalam memahami hubungan antara Bapa. Anak, dan Roh Kudus. Pada saat itu, belum ada konsep definitif tentang konsep Tritunggal yang dianut secara aklamasi oleh pihak gereja-gereja yang tersebar di Timur dan Barat kekaisaran Romawi. Dari pergumulan konsep inilah, muncul apa yang disebut Kontroversi Arian selama abad ke-4. Tokoh yang berlawanan adalah Arius dan Athanasius. Arius berpendapat bahwa Ketuhanan Bapa dan Ketuhanan Anak tidak selalu ada bersama di awal dan berbeda dalam esensi. Dalam konteks ini artikel penelitian ini mencoba untuk meninjau evolusi konsep Tritunggal Kudus dan Kontroversi Arian, memahami perbedaan utama antara argumen Arius dan Athanasius dan bagaimana Athanasius keluar sebagai pemenang dan menjadi landasan keimanan kekristenan. Kata kunci: Arianisme. Kristologi. Homoousios. Athanasius. Ketuhanan Yesus Kristus. ABSTRACT Almost more than 3 centuries since the creation of Jesus Christ, his followers have the belief that God the Father is a truly true God who cannot be reached because of his uniqueness. However, in contrast to the Son, who is considered immortal and not uncreated, because he is believed to derive his existence from the form of the Father. Questions arose that shook the religious leaders at that time about how to formulate Jesus' divine status before the Father. The concept that the church has accepted in the early centuries of Christianity is speculative thinking in understanding the relationship between the Father, the Son, and the Holy Spirit. At that time, there was no definitive concept of the concept of the Trinity embraced by acclamation by the churches scattered in the East and West of the Roman Empire. From this struggle of concepts, the so-called Arian Controversy during the 4th century emerged. The opposing figures were Arius and Athanasius. Arius argues that the Fatherhood and the Sonship do not always exist together in the beginning and differ in essence. In this context this research article attempts to review the evolution of the concept of the Holy Trinity and the Arian Controversy, understanding the main differences between the arguments of Arius and Athanasius and how Athanasius emerged victorious and became the cornerstone of the Christian faith. Keywords: Arianism. Christology. Divinity of Jesus. Council of Nicaea. Homoousios. Andi Darmawan PENDAHULUAN Kontroversi Arian merupakan salah satu pergumulan teologis paling berpengaruh dalam sejarah Kekristenan, yang tidak hanya berdampak pada perumusan doktrin iman, tetapi juga mengguncang stabilitas sosial, politik, dan spiritual Kekaisaran Romawi (Halawa, 2024. Waruwu et al. , 2. Pada tingkat global, isu mengenai relasi antara Allah Bapa dan Logos (Ana. tetap menjadi sorotan para teolog, sejarawan gereja, dan peneliti doktrin Trinitas hingga masa kini. Perdebatan mengenai hakikat ilahi Yesus Kristus tidak pernah terputus dari diskursus akademik, terutama karena isu tersebut menyentuh pertanyaan mendasar dalam teologi Kristen: bagaimana ketuhanan dan kemanusiaan Kristus dipahami secara konsisten? Dalam konteks modern, pembahasan mengenai Arianisme sering dikaitkan dengan perkembangan studi patristik, hermeneutika historis, serta rekonstruksi pemikiran teologi awal gereja (Anatolios, 2018. Ayres, 2. Isu global yang melatarbelakangi variabel penelitian ini tidak hanya bersifat historis, tetapi juga epistemologis, karena berkaitan dengan bagaimana tradisi dan naskah kuno ditafsirkan kembali dalam kerangka teologi kontemporer (Barnes, 2. Faktorfaktor yang memengaruhi munculnya permasalahan dalam kontroversi Arian dapat ditelusuri pada konteks gerejawi dan sosial pada awal abad ke-4. Arius, seorang presbiter dari Aleksandria, mengajukan pertanyaan kritis kepada Uskup Aleksander mengenai hubungan ontologis antara Allah Bapa dan Putra. Ajarannya berpusat pada keyakinan bahwa Logos adalah ktisma . akhluk ciptaa. dan tidak sefihak dengan Bapa. Menurut Arius. Anak adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah dan menjadi perantara penciptaan dunia (Williams, 2. Pemahaman ini didukung dengan penafsiran literal terhadap Amsal 8:22, yang menurutnya menunjukkan bahwa AuHikmatAy . ang Ia identifikasikan dengan Logo. diciptakan pada awal mula pekerjaan Allah. Perbedaan hermeneutik ini menjadi akar perdebatan teologis yang meluas (Edwards, 2. Selain itu, faktor sosial-politik Kekaisaran Romawi turut memperkeruh situasi. Kaisar Konstantinus, yang baru saja mempersatukan kembali kekaisaran, memandang perpecahan teologis ini sebagai ancaman terhadap stabilitas politik. Kondisi ini menciptakan ekosistem di mana perbedaan teologi bukan hanya perbedaan doktrin, tetapi juga isu kekuasaan dan integritas imperium (Gonzylez, 2. Faktor-faktor tersebut menghasilkan dampak yang luas dan berkepanjangan, baik bagi Gereja maupun bagi kekaisaran (Fear & Wood, 2016. Gwynn, 2015. Haar Romeny. Pertama. Gereja Aleksandria mengalami perpecahan internal yang semakin sulit dihentikan oleh Uskup Aleksander, sehingga sinode lokal pada tahun 318 akhirnya mengucilkan Arius bersama para pengikutnya. Kedua, dampak teologisnya lebih luas lagi: Arianisme menyebar dari Aleksandria ke berbagai wilayah, termasuk Asia Kecil. Antiokhia, dan bahkan mencapai dukungan politik tingkat tinggi. Ketiga, perpecahan ini memicu serangkaian konsili yang menandai pembentukan doktrin Kristen secara formal (Cross, 2017. DelCogliano, 2. Konsili Nicea . menolak Arianisme secara tegas melalui penggunaan istilah homoousios yang berarti AusehakikatAy antara Anak dan Bapa. Namun, walaupun Konsili Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Kontroversi Arian: Pertarungan Status Ketuhanan Yesus Kristus yang Membentuk Keimanan Kekristenan Nicea menetapkan kredo ortodoks, perpecahan tidak serta-merta berakhir. Dukungan politik terhadap Arianisme, terutama di bawah pemerintahan Konstantius, membuat ajaran ini tetap mendominasi sebagian besar wilayah timur. Akibatnya, kontroversi ini berlangsung selama lebih dari lima puluh tahun dan baru berakhir secara definitif melalui Konsili Konstantinopel . , yang menegaskan kembali ajaran Nicea dan meredam kekuatan teologi Arian. Keseluruhan proses ini menunjukkan betapa dampak faktorfaktor tersebut menciptakan perubahan mendasar dalam sejarah doktrin dan struktur gereja (Van Nuffelen, 2. Dalam penelitian ini, variabel utama berfokus pada dynamika teologi Arianisme, khususnya pandangan Arius mengenai hakikat Logos, serta bagaimana perdebatan tersebut membentuk perkembangan konsep Trinitas dalam teologi Kristen. Secara lebih rinci, variabel mencakup pemahaman tentang keilahian Anak, status ontologis Logos, penggunaan terminologi seperti homoousios dan homoiousios, serta argumentasi hermeneutik yang digunakan kedua kubu (Khaled, 2017. Louth, 2018. Papandrea, 2. Variabel ini juga melibatkan konsep-konsep filsafat Helenistik, terutama pemikiran mengenai AukeberadaanAy dan AukeserupaanAy dalam tradisi Platonis dan Origenis. Dengan menelaah variabel-variabel tersebut, penelitian ini ingin memetakan dinamika intelektual yang membentuk keputusan teologis gereja mula-mula (Radde-Gallwitz, 2019. Rapp. Robertson, 2. Kajian ini sekaligus menempatkan Arianisme dalam kerangka pemikiran Kristen awal, bukan sekadar sebagai bentuk AubidaahAy, tetapi sebagai bagian dari pergulatan filosofis yang sah pada masa itu. Novelty dalam penelitian ini terletak pada pendekatan rekonstruktif yang berusaha memahami kontroversi Arian bukan semata-mata sebagai konflik antara ortodoksi dan bidaah, tetapi sebagai fenomena teologis yang memiliki rasionalitas internal. Penelitian modern sering menekankan bahwa Arianisme tidak bisa dipahami hanya dari dokumendokumen lawannya, karena sebagian besar tulisan Arius sendiri hilang. Karena itu, penelitian ini memberikan kontribusi dengan menyusun kembali argumen Arius melalui sumber-sumber sekunder yang kredibel, serta membandingkannya dengan teks-teks Athanasius dan para Bapa Gereja lainnya. Selain itu, penelitian ini memadukan pembacaan historis dengan analisis hermeneutik untuk menampilkan gambaran yang lebih utuh tentang perkembangan doktrin Trinitas. Pendekatan integratif ini menjadi nilai kebaruan . karena menghubungkan perspektif sejarah, teologi, dan filsafat dalam satu kerangka analisis. Urgensi penelitian ini sangat relevan dalam konteks studi teologi kontemporer. Isu mengenai hubungan antara Bapa dan Anak tetap menjadi topik utama dalam ekumenisme, dialog antar-denominasi, dan studi kristologi modern. Banyak kesalahpahaman teologis saat ini muncul karena kurangnya pemahaman terhadap sejarah pembentukan doktrin gereja mula-mula. Dengan menelaah kembali Arianisme secara kritis, penelitian ini membantu membuka wawasan baru mengenai bagaimana gereja awal berjuang merumuskan identitas teologisnya. Di sisi lain, rekonstruksi terhadap ajaran Arius dapat menghindarkan kecenderungan simplifikasi historis yang menempatkan Arianisme hanya sebagai Aubidaah Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Andi Darmawan tanpa konteksAy. Penelitian ini menjadi penting untuk memperlihatkan bahwa perdebatan tersebut merupakan bagian alami dari proses formasi gereja, yang akhirnya melahirkan doktrin Trinitas sebagaimana dikenal saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai akar teologis dan historis Kontroversi Arian, serta menganalisis bagaimana perdebatan tersebut memengaruhi perkembangan doktrin Trinitas dalam Gereja Kristen. Penelitian ini bermaksud menjelaskan argumentasi Arius dan para pendukungnya, sikap teologis Athanasius dalam membela ortodoksi Nicea, serta peran konsili-konsili ekumenis dalam menyelesaikan konflik tersebut. Lebih jauh lagi, penelitian ini bertujuan merekonstruksi pemikiran Arius secara seimbang melalui sumber-sumber historis yang tersedia, serta menempatkan kontroversi ini dalam kerangka pergumulan teologis gereja mula-mula. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menjelaskan peristiwa sejarah, tetapi juga menguraikan dinamika intelektual yang membentuk teologi Kristen klasik. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat dirasakan secara akademik maupun praktis. Secara akademik, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi patristik dan sejarah doktrin, terutama melalui rekonstruksi argumentasi teologis Arius dan pembacaan ulang terhadap perkembangan konsili gereja. Penelitian ini juga dapat menjadi rujukan bagi peneliti yang ingin mengkaji lebih lanjut isu-isu seputar Trinitas, kristologi, atau hermeneutika teologis. Secara praktis, penelitian ini membantu pembaca dan mahasiswa teologi memahami bahwa perumusan doktrin Kristen bukanlah proses yang sederhana, tetapi melalui pergumulan panjang yang melibatkan dialog, konflik, dan pematangan pemikiran. Dengan demikian, penelitian ini berperan dalam memperkaya pemahaman iman dan menumbuhkan sikap kritis terhadap tradisi gereja yang diwariskan sepanjang sejarah. METODE PENELITIAN Penelitian ini disusun menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan deskriptif, karena fokus utama penelitian adalah memahami secara mendalam dinamika intelektual, teologis, dan historis dari Kontroversi Arian pada abad ke-4. Pendekatan kualitatif dipilih untuk memungkinkan peneliti melakukan analisis interpretatif terhadap gagasan-gagasan teologis yang bersumber dari teks, dokumen sejarah, karya teologis para Bapa Gereja, serta naskah-naskah konsili. Dalam penelitian ini, data tidak diwujudkan dalam bentuk statistik atau angka, melainkan berupa narasi historis dan pemikiran teologis yang dianalisis secara kritis. Pendekatan ini dianggap paling relevan karena penelitian bertujuan menafsirkan kembali perdebatan intelektual antara Arius dan Athanasius serta implikasinya terhadap terbentuknya doktrin iman Kristen. Penelitian dilakukan dengan merujuk pada berbagai dokumen akademik, literatur sejarah gereja, karya teologi patristik, serta sumber-sumber sekunder yang dianalisis dari perspektif historis dan teologis. Secara geografis, penelitian tidak terikat pada lokasi fisik tertentu, tetapi fokusnya berada pada wilayah historis Kekaisaran Romawi, khususnya Aleksandria. Antiokhia. Nicea, dan Konstantinopel sebagai pusat muncul dan berkembangnya kontroversi. Ruang lingkup penelitian meliputi rekonstruksi konteks Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Kontroversi Arian: Pertarungan Status Ketuhanan Yesus Kristus yang Membentuk Keimanan Kekristenan sosial-keagamaan abad ke-4, analisis perkembangan doktrin Tritunggal, identifikasi faktor-faktor yang memicu pertentangan, hingga penelusuran proses konsiliar yang mengarah pada peneguhan ajaran ortodoks dalam Konsili Nicea 325 dan Konsili Konstantinopel 381. Penelitian ini dilakukan dalam rentang waktu yang telah ditentukan untuk proses penyusunan artikel ilmiah, yakni dalam kurun yang memungkinkan pengumpulan data pustaka, penelaahan sumber primer dan sekunder, serta penulisan analisis secara Waktu pengumpulan bahan dilakukan secara bertahap, dimulai dari penelusuran sumber-sumber klasik hingga kajian teologis modern yang membahas Arianisme dan pengaruh Athanasius. Rentang waktu tersebut memungkinkan peneliti menelaah dinamika historis yang berlangsung selama lebih dari satu abad, mulai dari munculnya Arianisme, konflik teologis yang berlarut-larut, hingga kemenangan ortodoksi melalui konsili-konsili besar. Penelitian ini mencakup beberapa aspek penting sebagai fokus analisis, yaitu: Aspek Historis, yang menelaah konteks sejarah kemunculan Arianisme, kondisi sosial-keagamaan Kekaisaran Romawi pada abad ke-4, serta peran tokoh kunci dalam kontroversi, untuk memahami penyebab konflik, posisi gereja Timur dan Barat, dinamika politik kekaisaran, dan peristiwa konsiliar yang menjadi titik balik penegakan ajaran Kedua. Aspek Teologis, yang menelusuri ajaran yang diperdebatkan antara kubu Arius dan Athanasius, termasuk makna logos, konsep Audiperanakkan,Ay hakikat ousia dan hypostasis, serta perbedaan terminologi homoousios, homoiousios, dan anomoios, guna menggambarkan bagaimana argumen-argumen tersebut memengaruhi pembentukan dogma Kristen. Ketiga. Aspek Hermeneutik dan Doktrinal, yang mengkaji bagaimana teks-teks Kitab Suci ditafsirkan oleh kedua kubu, dengan hermeneutika teologis sebagai kunci untuk memahami perbedaan penafsiran dan dasar iman gereja. Keempat. Aspek Konsiliar dan Eklesiologis, yang mencakup kajian mengenai proses konsili, peran kekaisaran, mekanisme pengambilan keputusan gerejawi, dan bagaimana kredo dirumuskan, menjelaskan bahwa kemenangan ajaran Athanasius merupakan hasil dari proses panjang, bukan sekadar keputusan teologis tunggal. Dalam penelitian kualitatif berbasis teks ini, populasi penelitian mencakup seluruh literatur yang berhubungan dengan Arianisme, teologi Trinitas, sejarah Konsili Nicea, dan karya para Bapa Gereja. Populasi tidak dipahami sebagai kelompok manusia, tetapi sebagai korpus literatur historis-teologis. Sampel penelitian adalah literatur yang dipilih secara purposif, yaitu sumber-sumber yang memiliki relevansi langsung dengan topik, antara lain: . Tulisan Athanasius dan para apologis ortodoks, . Surat-surat Arius dan rekonstruksi ajarannya. Dokumen Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel. Analisis modern dari sejarawan dan teolog seperti Newman. Prestige. Bethune-Baker. Armstrong, dan Schaff. Penelitian akademik tentang Arianisme dan perkembangan dogma Tritunggal. Pemilihan sampel dilakukan berdasarkan kriteria kredibilitas, relevansi tematik, dan kontribusi terhadap pemahaman topik penelitian. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Andi Darmawan Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen kualitatif, yang berfungsi menghimpun data, membaca, memilih, dan mengevaluasi sumber, serta melakukan analisis interpretatif. Selain itu, penelitian menggunakan: . Instrumen kepustakaan, berupa dokumen historis, buku teologi, jurnal ilmiah, dan arsip konsili. Instrumen analisis teks, yaitu kerangka analisis hermeneutik, teologis, dan historis yang digunakan untuk menafsirkan dan mengaitkan argumentasi Arius dan Athanasius. Instrumen kategorisasi, untuk menyusun tema-tema pokok seperti doktrin logos, ousia, hipostasis, dan dinamika konsili. Instrumen-instrumen tersebut memungkinkan penelitian berjalan secara sistematis dan menghasilkan gambaran komprehensif mengenai perkembangan doktrin. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui telaah pustaka yang melibatkan penelusuran sumber primer, seperti dokumen konsili dan tulisan para tokoh, serta sumber sekunder berupa analisis akademik kontemporer. Selain itu, dilakukan komparasi antarsumber untuk menghindari bias interpretasi dan identifikasi konsep-konsep kunci yang menjadi akar perdebatan. Teknik ini dipilih karena penelitian bersifat teologis-historis dan tidak memerlukan data empiris lapangan. Analisis data, digunakan teknik analisis isi . ontent analysi. dan analisis interpretatif dengan langkah-langkah sebagai berikut: reduksi data untuk memilah informasi penting dari teks, kategorisasi tema seperti Logos. Trinitas, ousia, begotten, homoousios, dan kontroversi konsiliar, interpretasi historis untuk mengkaji hubungan antara peristiwa sejarah, konteks sosial, dan perkembangan ajaran, serta interpretasi teologis untuk memahami argumen kedua kubu secara mendalam. Langkah terakhir adalah sintesis, menyusun narasi utuh yang menggambarkan kronologi, konflik, dan penyelesaian doktrin. Hasil analisis ini memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana perbedaan pemikiran Arius dan Athanasius berkembang menjadi keputusan final Konsili Nicea dan pengaruhnya terhadap iman Kristen. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian mengenai Kontroversi Arian menunjukkan bahwa inti problem teologis yang memecah gereja abad ke-4 bukan sekadar persoalan istilah, melainkan persoalan ontologis dan metafisis tentang hakikat keberadaan Yesus Kristus. Analisis mendalam terhadap sumber-sumber patristik dan kajian teologi historis memperlihatkan bahwa pertentangan utama berada pada cara memahami hubungan antara Bapa dan Anak, terutama terkait konsep kekekalan, esensi ilahi, dan status keputraan. Hasil kajian mengungkap bahwa perdebatan tidak hanya bersifat doktrinal, tetapi juga mengandung konsekuensi soteriologis. Pandangan Arian menimbulkan perubahan radikal terhadap konsep penyelamatan, karena jika Kristus adalah makhluk . reated bein. , maka Ia tidak dapat menjadi penyelamat yang bersifat ilahi. Sebaliknya, teologi Athanasius menunjukkan bahwa hanya Allah sendiri yang dapat menyelamatkan manusia, sehingga Kristus harus homoousios dengan Bapa. Dengan demikian, temuan penelitian memperlihatkan bahwa Kontroversi Arian merupakan pertempuran teologis Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Kontroversi Arian: Pertarungan Status Ketuhanan Yesus Kristus yang Membentuk Keimanan Kekristenan tentang status ketuhanan Kristus yang kemudian menjadi fondasi Trinitas dalam Peristiwa Yang Mengarah Pada Arianisme Monarkianisme Kesatuan Keberadaan Tuhan benar-benar merupakan keyakinan Tetapi ketika itu terlalu ditekankan, untuk mengabaikan "Tritunggal" Allah, kesalahan serius terjadi. Ini terjadi, mungkin dimulai dengan cukup polos, dengan apa yang dianggap sebagai penekanan yang diperlukan pada keesaan Tuhan melawan politeisme yang dianut komunitas sekitarnya. Bidaah-bidaah Monarki adalah hasil dari upaya sepihak untuk mendamaikan keilahian Kristus dengan Kesatuan Bapa Allah. Monarkianisme Modalistik Monarkianisme modalistik, atau "Sabellianisme" . amanya diambil dari salah satu pemimpinnya. Sabellius, di Roma sekitar 198-. , memberikan keilahian penuh kepada Putra, tetapi menyangkal kepribadiannya dan mengaburkan perbedaan antara dia dan Bapa. Nama-nama Bapa. Anak, dan Roh Kudus menjadi "hanya sebutan dari tiga fase yang berbeda di mana satu esensi ilahi mengungkapkan dirinya sendiri - tiga nama dari satu makhluk yang sama. Berbagai kebutuhan dari kesempatan itu akan menentukan cara di mana esensi ilahi akan berfungsi. Dapat dikatakan bahwa, di satu sisi. Bapa sendiri . tau "AnakBapa") menderita dan mati di kayu salib. Untuk menyerang bidaah ini, perlu ditekankan perbedaan antara Bapa dan Putra. Kalau tidak, ini dapat dengan mudah diartikan sebagai Arianisme. Tentu saja kaum Arian . ang menekankan perbedaan antara Bapa dan Ana. benar-benar menentang jenis Monarkianisme ini. "Sabellianisme" menjadi tuduhan yang digunakan Arian terhadap Ortodoks (Kannengiesser, 2. Dynamic Monarchianism Monarkianisme yang dinamis Ae pandangan lain yang dihasilkan dari terlalu menekankan kesatuan Allah Ae mereduksi keilahian Kristus menjadi "sekedar kuasa yang dianugerahkan kepadanya oleh Allah. " Logos ("Firman", seperti dalam Yohanes 1:1, atau "Kebijaksanaan" Tuha. disebut sebagai sifat Tuhan, dan oleh karena itu, tidak pernah dapat menjadi pribadi. Manusia Yesus, yang diperanakkan oleh Roh Kudus, tidak diberi energi oleh Logos sampai ia dibaptis. Setelah dibaptis, karena penyatuan kehendaknya yang tak tergoyahkan dengan kehendak Tuhan, kekuatan ilahi meningkat, sepanjang hidupnya sampai dia mencapai "keilahian". Paulus dari Samosata. Uskup Antiokhia, digulingkan karena memegang pandangan ini pada tahun 268. Ajarannya berkontribusi pada perkembangan Arianisme di daerah itu. Origenism Sebagai seorang Platonis. Origen . 185-c. berjaya melawan bidaah Monarki, tetapi dengan berbuat demikian, dia secara tidak sengaja memperkenalkan konsep-konsep lain yang kemudiannya diadopsi oleh Arian. Dia mengajarkan bahwa Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Andi Darmawan generasi . indakan memperanakka. Kristus adalah kekal Ae bukan serangkaian peristiwa, tetapi peristiwa tunggal yang berkelanjutan Ae sehingga tidak pernah ada waktu ketika Anak tidak ada. Dia adalah Tuhan yang tidak diciptakan, berasal dari dan dari sifat dan esensi Tuhan sendiri, dan sama sekali tidak berbeda dengan dia. Namun Origen memegang subordinasi Anak kepada Bapa, yang menyediakan perbedaan pribadi dalam Ketuhanan, dan perlindungan terhadap Sabellianisme. Gagasan subordinasi ini diambil oleh orang-orang Arian, dan pengaruhnya, yang dipisahkan dari sistem teologisnya yang lain, akhirnya menyebabkan sebagian besar Kekristenan bereaksi terhadap terminologi tertentu dalam kepercayaan Nicea. Lucian Lucian adalah penduduk asli Samosata, dan kepala sekolah kritis, eksegetis dan teologi di Antiokhia. Dia hidup pada zaman Paulus dari Samosata, dan tampaknya telah berada dalam keadaan persekutuan yang ditangguhkan setelah penggulingan Paulus. kemudian berdamai dengan gereja. Penentangannya yang besar terhadap Sabellianisme akhirnya menyebabkan kemartirannya pada tahun 312. (Itu mungkin juga membawanya ke pernyataan yang tidak hati-hati tentang kecenderungan Arian. Teologi Lucianus adalah kompromi antara Paulus dari Samosata dan Origen. Dia tampaknya telah mengikuti teologi Paulus kecuali untuk dua poin utama: . Dia mengenali Kepribadian Logos, dan . dia percaya inkarnasi Logos dalam Kristus historis, menggantikan jiwa dalam tubuh. Sebagian besar pendukung asli Arianisme adalah muridmuridnya. Pada Konsili Nicea, sembilan dari tiga belas Arianizer telah berada di bawah Analisis Teologis terhadap Kristologi Arian Hakikat AuKeputraanAy dalam Teologi Arian Arian menafsirkan AuAnakAy sebagai makhluk pertama dan paling mulia yang diciptakan Allah sebelum segala zaman. Bagi Arius, kata AudiperanakkanAy identik dengan AudiciptakanAy, sehingga Anak tidak bersifat kekal. Temuan literatur memperlihatkan bahwa Arianisme dibangun atas premis metafisik berikut: Only the Father is unbegotten . : Hanya Bapa yang tidak berasal, kekal, dan tidak diciptakan. The Son is begotten/created . : Anak memiliki awal, sehingga tidak dapat dianggap setara dengan Bapa. Karena memiliki awal. Anak tidak bisa memiliki esensi yang sama dengan Bapa. Arian menolak penyamaan esensi . dan memandang Anak sebagai makhluk antara . ntermediate bein. Analisis ini sesuai dengan dokumen AuThaliaAy Arius, yang menyatakan AuThere was when He was notAy, sebuah pernyataan bahwa Anak tidak kekal. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Kontroversi Arian: Pertarungan Status Ketuhanan Yesus Kristus yang Membentuk Keimanan Kekristenan Dampak terhadap Kristologi Penelitian menunjukkan bahwa apabila Kristus adalah makhluk, maka: . Ia tidak dapat memiliki kemuliaan ilahi secara hakiki. Ia tidak dapat menjadi objek penyembahan secara ontologis. Ia tidak dapat menjadi penyelamat dalam arti penuh. Ia tidak dapat membawa manusia kepada natur ilahi. Ini membawa pada kesimpulan bahwa Arianisme secara teologis meruntuhkan dasar soteriologi kekristenan. Analisis Kebingungan Istilah AuDiperanakkanAy Dualitas Makna dalam Bahasa Yunani Penelitian menemukan bahwa kontroversi ini sebenarnya diperparah oleh kebingungan linguistik antara: genetos (AAEUC) Ae sesuatu yang terjadi atau dibuat Ie gennetos (AEUC) Ae diperanakkan Ie begotten. Arian menganggap kedua kata ini identik sehingga konsep AubegottenAy diartikan sebagai AucreatedAy. Penjelasan Teologi Athanasian Athanasius menunjukkan bahwa: . AuDiperanakkanAy bukan berarti diciptakan, . tetapi berarti berasal dari esensi Bapa secara kekal . ternally begotte. Analisis literatur yang dilakukan dalam penelitian menunjukkan bahwa Athanasius menolak setiap bentuk pembuatan analogi antara keputraan ilahi dan keputraan manusia. Bagi Athanasius, relasi BapaAeAnak bukan relasi temporal, melainkan relasi ontologis. Analisis Metafisika Esensi (Ousi. dan Persona (Hypostasi. Temuan Penting tentang Ousia Penelitian menemukan bahwa konsep ousia dalam tradisi Yunani memiliki dua makna: Esensi individual, sesuatu yang eksis dengan sendirinya. Genus/sifat, sesuatu yang dapat dimiliki Bersama. Dalam Konsili Nicea, ousia digunakan dalam arti pertama: esensi individual Bapa dan Anak adalah satu . , bukan dua. Homoousios vs Homoiousios Hasil kajian menunjukkan bahwa inti kontroversi terletak pada satu huruf: . homoousios = sehakikat. homoiousios = mirip hakikat. Arian dan kelompok SemiArian tidak menerima kesetaraan esensi. Dampak Teologis Jika Kristus bukan sehakikat, maka: . Ia tidak dapat disebut Allah secara penuh. Trinitas tidak memiliki dasar ontologis. Wahyu Allah dalam Kristus bersifat tidak . Penyelamatan tidak bersumber dari tindakan Allah sendiri Sebaliknya, jika Ia sehakikat, maka: Ketuhanan Kristus bersifat ontologis. Penyembahan kepada Kristus adalah sah. Relasi BapaAeAnak bersifat kekal, bukan temporal Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Andi Darmawan Tabel 1. Perbandingan Sistematis Arianisme dan Athanasianisme Aspek Kekekalan Hakikat Fungsi kristus Arianisme Tidak kekal Athanasianisme Kekal Makhluk Perantra pencipta Sehakikat Allah sejati Relaso Bapa Lebih tinggi Setara Soteriologi Tidak dapat menyelamatkan secara ilahi Allah sendiri Implikasi Status ketuhanan Menentukan trinitas Menentukan Menentukan metafisika Menentukan iman Logika Arian Diuji Penelitian menemukan beberapa kelemahan logis: . Jika Anak adalah makhluk, bagaimana Ia dapat mencipta segala sesuatu. Jika Ia disembah, tetapi makhluk, bukankah itu menjadi penyembahan makhluk . Jika Ia tidak memiliki esensi ilahi, bagaimana Ia dapat merekonsiliasi manusia dengan Allah? Sintesis Penelitian: Mengapa Athanasius Menang? Penelitian ini menyimpulkan bahwa kemenangan teologi Athanasius bukanlah akibat dari faktor politik kekaisaran, melainkan karena konsistensi logika teologisnya. Athanasius berargumen bahwa Allah tidak dapat menyelamatkan melalui makhluk yang tidak ilahi, dan hanya jika Kristus adalah Allah sepenuhnya, maka keselamatan menjadi Selain itu, konsep homoousios dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mempertahankan keesaan Allah dan ketuhanan Anak. Penelitian juga menemukan bahwa teologi Athanasius lebih kompatibel dengan seluruh kesaksian Kitab Suci, khususnya dalam Injil Yohanes dan tulisan-tulisan Paulus, yang memberikan dasar kuat bagi ajaran yang dibawanya. Implikasi Teologis terhadap Keimanan Kristen Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan Konsili Nicea . dan Konstantinopel . membentuk beberapa dasar penting dalam iman Kristen, yaitu dasar doktrin Trinitas, keyakinan bahwa Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati, kerangka soteriologi Kristen, struktur liturgi gereja, serta standar ortodoksi sepanjang sejarah Dengan demikian. Kontroversi Arian bukan hanya merupakan perselisihan pada abad ke-4, melainkan juga penentu arah keimanan Kristen yang terus berlanjut hingga hari ini. KESIMPULAN Keimanan Kristen tidak terbentuk segera setelah Yesus Kristus meninggalkan ajarannya kepada murid-muridnya. Dibutuhkan sekitar tiga abad untuk mefinalisasi statusnya dalam struktur keimanan Kristen. Tidak hanya status Yesus dalam teologi Kristen, tetapi juga berbagai macam doktrin yang sejak awal belum pernah terjadi Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Kontroversi Arian: Pertarungan Status Ketuhanan Yesus Kristus yang Membentuk Keimanan Kekristenan kesepakatan mayoritas, seperti konsep Trinitas dan logos. Begitu banyak perbedaan tentang hal-hal yang menjadi dasar keimanan mereka, terutama disebabkan begitu beragam intrepretasi akan makna yang diajarkan Al Kitab itu sendiri. Walaupun pihak Gereja menyepakati Yesus sebagai AuSon of GodAy, tetapi pemikiran dan pertanyaan baru tentang hubungan Yesus dalam bentuk manusia yang utuh di hadapan Tuhan Bapa menimbulkan perdebatan yang hampir mencapai 100 tahun. Arius dan Athanasius adalah dua sosok yang mempunyai kubu-kubu yang bertentangan dalam menanggapai esensi dan substansi keilahian Yesus. Merekalah yang memulai perdebatan yang menjadi kontroversi yang dikenal sebagai Kontroversi Arian, dimana pada saat itu mengguncang posisi Gereja Barat dan Timur, begitu juga Kekaisaran Roma. Ajaran Arius dari Aleksandria dianggap suatu bidaah yang telah berjalan. Setelah lima puluh lima tahun pergumulan, para tokoh dan bapak-bapak gereja Kristen yakin bahwa mereka harus menerima keilahian Kristus yang lengkap dan penuh, atau Athanasius memenangkan pertarungan. Dibantu dengan strategi argumentasi doktrin, mencari aliansi para tokoh, dan bantuan dari penguasa, pandangan doktrin Athanasius diadopsi gereja-gereja saat itu dan setelahnya. Tidak ada jalan tengah. Adapun Arian, mereka bertahan selama beberapa abad. Mereka tidak pernah lagi memegang posisi penting di gereja dan pengaruh Arianisme hanya dianut oleh kaum Unitarian Kristen dan Saksi Yehovah. REFERENSI