REKA KARYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN . : 2829-0. DOI: https://doi. org/10. 26760/rekakarya. Volume 5 | Nomor 1 Maret 2026 Optimalisasi Inovasi Kualitas Produk dan Daya Saing Melalui Pemberdayaan UMKM Pangan Dapur Sehat Kebon Waru Kota Bandung Intan Nurrachmi 1. Mutiara Refanisa Zaeni 2. Asti Fitriyanti 3. Lasmanah4. Jaka Rukmana5 1,2,3,4 Universitas Islam Bandung. Bandung. Indonesia Universitas Pasundan. Bandung. Indonesia intannurrachmi@unisba. id1, nisarara66@gmail. com2, astifitriyanti5@gmail. lasmanah@unisba. id4, jakarukmana@unpas. ABSTRAK Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pangan memiliki kontribusi penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah, penguatan ketahanan pangan, serta penciptaan peluang kerja. Meski demikian, sejumlah UMKM pangan, termasuk Dapur Sehat yang dibina oleh Baitul Maal Muamalat di Kelurahan Kebon Waru. Bandung, masih menghadapi hambatan, khususnya dalam inovasi produk. Daya simpan produk yang rendah akibat teknik pengawetan dan pengemasan yang belum memadai menjadi faktor penghambat pemasaran ke wilayah yang lebih luas. Selain itu, sebagian pelaku usaha belum memiliki sertifikasi halal, sehingga akses menuju segmen pasar tertentu menjadi Kegiatan ini bertujuan menyusun strategi pemberdayaan yang tepat guna meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM Dapur Sehat, terutama dalam aspek pengawetan, pengemasan, dan manajemen keberlanjutan usaha. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan para pelaku UMKM serta pengelola Baitul Maal Muamalat, serta pendekatan partisipatif yang bersifat Temuan menunjukkan bahwa program pemberdayaan melalui pendampingan berkelanjutan, pelatihan inovasi produk, dan fasilitasi sertifikasi halal secara signifikan meningkatkan pemahaman pelaku usaha mengenai teknik pengawetan, tata kelola produksi, dan kesadaran akan pentingnya sertifikasi halal. Hasil pretest sebelum pelatihan memperlihatkan rata-rata pengetahuan mitra sebesar 68,9, sementara hasil posttest setelah pelatihan meningkat menjadi 89,4. Kenaikan sebesar 20,5% tersebut menegaskan adanya peningkatan kemampuan terkait teknik pengawetan dan pengemasan. Secara keseluruhan, strategi pemberdayaan yang terpadu dengan pendekatan partisipatif dan dukungan kelembagaan terbukti mampu memperkuat kemandirian serta keberlanjutan UMKM pangan. Kata kunci: UMKM. Dapur Sehat. Pengawetan Pangan. Sertifikasi Halal Reka Karya - 59 Intan Nurrachmi dkk PENDAHULUAN Baitulmaal Muamalat (BMM) merupakan lembaga amil zakat nasional (LAZNAS) dan nazhir wakaf, didirikan oleh Bank Muamalat Indonesia pada 16 Juni tahun 2000. BMM dikukuhkan oleh pemerintah dengan tugas utama menghimpun dan menyalurkan dana Zakat. Infak. Sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan lainnya (ZIS DSKL). BMM juga merupakan Nazhir resmi yang mengelola dan mengembangkan wakaf terutama wakaf produktif ekonomi. BMM melakukan tata kelola yang baik terutama dalam hal pendistribusian dan pendayagunaan dana ZISWAF dan DSKL guna meningkatkan kesejahteraan umat melalui program-program yang inovatif, kreatif, dan berkesinambungan. (Baitulmaal Muamalat, 2. Baitulmaal Muamalat Jawa barat dibentuk pada tahun 2020 dan memiliki empat program utama, yaitu dakwah, sosial kemanusiaan, ekonomi, dan pendidikan. Program pada bidang ekonomi diantaranya adalah: Program Dapur Sehat, merupakan himpunan ibu-ibu yang memiliki keinginan untuk dapat mandiri atau membantu ekonomi keluarga. Melalui program dapur sehat. BMM Jawa Barat mendapat bantuan sarana dapur beserta perlengkapannya yang dapat digunakan oleh ibu-ibu secara bergiliran untuk memproduksi makanan untuk dijual kepada pelanggan atau konsumen. Program dapur sehat melahirkan UMKM Dapur Sehat yang berada di bawah binaan Baitul Maal Muamalat (BMM) Kebon Waru. Bandung. UMKM ini bergerak di bidang pengolahan makanan rumahan sehat dan halal dengan jumlah anggota sebanyak 18 orang. Komunitas ini berfokus pada produksi berbagai jenis makanan ringan dan olahan, seperti rempeyek, seroja, pangsit bumbu, kacang ebi, basreng, keripik pisang, kentang mustofa, lumpia, comro, risol mayo, cilok goreng, cassava, bawang goreng, dan makaroni. UMKM Dapur Sehat memiliki peran strategis dalam perekonomian masyarakat, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan pangan. Komunitas Dapur Sehat dan UMKM binaannya memiliki potensi dalam memproduksi makanan berupa kue-kue, snack kering dan usaha catering. Mereka memasarkannya kepada keluarga, tetangga dan teman-teman. Untuk catering, bisa melayani kegiatan-kegiatan seperti aqiqah, buka puasa bersama, syukuran dan lain-lain. Tentunya untuk menjamin produk yang dihasilkan oleh Komunitas Dapur Sehat memiliki kualitas yang baik, diperlukan pembinaan terkait keamanan pangan baik pada proses produksi pangan olahan ataupun pada aspek cara produksi pangan yang baik dan benar. Sebagai komunitas yang bertumbuh. Dapur Sehat menghadapi beberapa tantangan yang menghambat peningkatan skala usahanya. Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya daya tahan produk akibat metode pengawetan yang belum optimal. Mayoritas produk yang dihasilkan memiliki masa simpan pendek karena tidak adanya teknologi pengawetan yang diterapkan secara efektif, sehingga menghambat distribusi produk ke pasar yang lebih luas. Selain itu, belum adanya sertifikasi halal bagi sebagian anggota menyebabkan keterbatasan dalam menjangkau segmen pasar yang lebih luas, terutama konsumen yang memperhatikan standar halal dan keamanan pangan. Kebon Waru merupakan kawasan urban yang memiliki potensi besar dalam pengembangan UMKM. Letaknya yang strategis di Kota Bandung memberikan peluang besar untuk ekspansi pasar, baik melalui toko fisik, pemesanan online, maupun kerja sama dengan penyedia jasa katering dan restoran, saat ini mitra berharap melalui perbaikan fasilitas dan pembinaan keamanan pangan yang akan dilakukan oleh tim Dosen UNISBA berkolaborasi dengan Program Studi Teknologi Pangan Universitas Pasundan yang merupakan tim Pengabdian Kepada Masyarakat yang mendapatkan pendanaan dari DPPM Kemdisaintek pada skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dalam ruang lingkup Pemberdayaan Reka Karya - 60 Optimalisasi Inovasi Kualitas Produk dan Daya Saing Melalui Pemberdayaan UMKM Pangan Dapur Sehat Kebon Waru Kota Bandung kemitraan Masyarakat tahun 2025. Tanpa adanya standar pengolahan yang baik dan sertifikasi halal, produk-produknya masih sulit bersaing di pasar yang lebih luas. Keterbatasan akses terhadap modal dan teknologi juga menjadi kendala yang dihadapi para pelaku usaha dalam meningkatkan kualitas dan daya saing produk. Sebagai komunitas UMKM yang berbasis pada industri pangan. Dapur Sehat memiliki berbagai aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangannya, meliputi bahan baku, produksi, proses pengolahan, packaging, sertifikasi halal dan keberlanjutan Usaha. Dengan rincian sebagai berikut: Bahan Baku dan Proses Produksi Dapur Sehat mengandalkan bahan baku lokal yang mudah didapatkan di pasar sekitar. Tantangan utama dalam produksi adalah keterbatasan metode pengawetan yang dapat memperpanjang masa simpan produk tanpa mengurangi kualitasnya. Selain itu, sebagian besar proses produksi masih dilakukan secara manual, sehingga kapasitas produksi terbatas dan belum bisa memenuhi permintaan dalam jumlah besar. Produk yang dihasilkan terdiri dari berbagai jenis makanan ringan dan camilan tradisional yang memiliki permintaan tinggi di pasar. Namun, karena belum adanya inovasi dalam pengawetan, produkproduk tersebut memiliki masa simpan yang relatif pendek. Teknologi pengawetan yang lebih modern, seperti penggunaan bahan tambahan pangan berupa pengawet alami maupun pengawet sintetis sebagai bahan pengawet atau metode pengemasan vakum, perlu diterapkan untuk meningkatkan daya tahan (Abdurohim et al. , 2. Sertifikasi Halal Hambatan lainnya adalah belum adanya sertifikasi halal. Sertifikasi halal menjadi sangat penting karena mayoritas konsumen di Indonesia memperhatikan aspek kehalalan produk sebelum membeli. Tanpa sertifikasi ini. UMKM kesulitan untuk bekerja sama dengan mitra bisnis yang lebih besar, seperti ritel modern atau restoran. (Aprilia S. & Priantina A. , 2. Oleh karena itu, pendampingan dalam proses sertifikasi halal menjadi salah satu kebutuhan utama bagi komunitas ini. Anggota Tim Pengusul yang berkolaborasi UNISBA dengan Program Studi Teknologi Pangan UNPAS sudah mendapatkan pelatihan dan sertifikasi BNSP terkait kehalalan dan tersertifikasi secara internasional dari Netherland untuk implementasi program keamanan pangan untuk usaha di bidang pangan. METODOLOGI Metode pendekatan yang digunakan dalam program ini adalah pendekatan partisipatif dan aplikatif, di mana komunitas Dapur Sehat terlibat langsung dalam setiap tahap pelaksanaan. Program ini menekankan pada penerapan teknologi yang dapat langsung digunakan oleh komunitas dan mudah diadopsi oleh UMKM pangan skala kecil. Penerapan teknologi yang dilakukan akan menyesuaikan dengan kondisi dan kapasitas komunitas, sehingga tidak membebani mereka dalam hal investasi peralatan, selain itu pendampingan hingga produknya lengkap tersertifikasi halal. Pendekatan ini pula memastikan bahwa solusi yang ditawarkan benarbenar bermanfaat dan dapat diterapkan secara mandiri oleh komunitas setelah program selesai sebagai salah satu upaya keberlanjutan usaha untuk para UMKM. Pelaksanaan program ini dilakukan dalam beberapa tahapan utama yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan mitra dalam bidang produksi, manajemen usaha, dan menjelaskan urgensi inovasi pengawetan produk, serta memberikan pemahaman mengenai pentingnya sertifikasi halal bagi UMKM pangan. Reka Karya - 61 Intan Nurrachmi dkk Gambar 1. Peta Lokasi PKM RW 08 Kelurahan Kebonwaru PELAKSANAAN Profil UMKM Dapur Sehat Kebon Waru UMKM Dapur sehat merupakan himpunan beberapa pelaku usaha di bawah binaan Baitul Maal Muamalat (BMM). Anggotanya sekarang berjumlah 18 orang yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga di Kebon Waru. Bandung. Komunitas ini berfokus pada produksi berbagai jenis makanan ringan dan olahan, seperti rempeyek, seroja, pangsit bumbu, kacang ebi, basreng, keripik pisang, kentang mustofa, lumpia, comro, risol mayo, cilok goreng, cassava, bawang goreng, dan makaroni. Bentuk dukungan BMM Jawa Barat yaitu berupa sarana dapur beserta perlengkapannya yang dapat digunakan oleh ibu-ibu secara bergiliran untuk memproduksi makanan untuk dijual kepada pelanggan atau konsumen. Sebagai komunitas UMKM yang beru bertumbuh. Dapur Sehat menghadapi beberapa tantangan yang menghambat peningkatan skala usahanya. Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya daya tahan produk akibat metode pengawetan yang belum optimal. Mayoritas produk yang dihasilkan memiliki masa simpan pendek karena tidak adanya teknologi pengawetan yang diterapkan secara efektif, sehingga menghambat distribusi produk ke pasar yang lebih luas. Selain itu, belum adanya sertifikasi halal bagi sebagian anggota menyebabkan keterbatasan dalam menjangkau segmen pasar yang lebih luas, terutama konsumen yang memperhatikan standar halal dan keamanan Reka Karya - 62 Optimalisasi Inovasi Kualitas Produk dan Daya Saing Melalui Pemberdayaan UMKM Pangan Dapur Sehat Kebon Waru Kota Bandung Tabel 1. Daftar Anggota Dapur Sehat Nama Jenis Usaha Sani Elsen Rempeyek Endang Yulianti Seroja Dwi Hartati Pangsit Bumbu Putri Sri Sevinia Kacang Ebi Endang Purnawanti Basreng Jubaedah Keripik Pisang Tri Yuliastuti Kentang Mustofa Rita Yuningsih Sumpia Nurhayati Comro Mimin Karmini Puding Emi Risol Mayo Hana Rahayu Cilok Goreng Heni Gustini Cassava Yulianti Bawang Goreng Handriyanti Kue Kering Sinta Makaroni Yani Rempeyek Siti Jenab Cireng Rujak Sebagai Upaya dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, maka Tim PKM yang bekerja sama antara Unisba dengan Unpas melakukan pengabdian kepada Masyarakat dengan melakukan pemberdayaan UMKM Dapur Sehat yang berada di Kebon Waru. Bandung. Pelaksanaan PKM diawali dengan sesi diskusi rapat Tim bersama Mitra dengan komunitas Dapur Sehat untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik mereka terkait peningkatan daya tahan produk dan legalitas Sosialisasi akan dilakukan melalui pertemuan tatap muka dan webinar interaktif dengan menghadirkan para tim PKM sekaligus sebagai Pendamping dan Penyelia Halal serta ahli teknologi pangan dari perguruan tinggi terkait. Gambar 2. Kegiatan Sosialisasi Program Kedua. Pelatihan, tahap ini mencakup berbagai sesi pelatihan yang difokuskan pada peningkatan keterampilan produksi dengan praktik langsung. Pelatihan yang diberikan meliputi: a. Pelatihan penerapan teknologi pengawetan produk serta penerapan teknologi spinner dan vacuum untuk Reka Karya - 63 Intan Nurrachmi dkk memperpanjang masa simpan produk. Dan penjelasan terkait Kriteria Jaminan Produk Halal untuk sertifikasi halal, yang mencakup pemenuhan standar halal, pengisian dokumen administrasi, serta simulasi audit halal oleh BPJPH. Gambar 3. Kegiatan Pelatihan dan Sertifikasi Halal Ketiga. Pendampingan dan Evaluasi. Pendampingan akan dilakukan selama program berlangsung untuk memastikan bahwa setiap anggota komunitas dapat menerapkan teknologi dengan baik. Tim pengabdian akan memberikan pendampingan secara offline. Pada setiap tahapan dilakukan evaluasi dalam beberapa tahap, yaitu: a. Evaluasi pelaksanaan pelatihan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Evaluasi keberhasilan penerapan teknologi, dengan melihat efektivitas metode pengawetan dalam Gambar 4. Kegiatan Pendampingan dan Evaluasi Dan tahapan terakhir untuk tetap memonitoring usaha para UMKM binaan ini hingga berakhirnya program PKM tersebut. Gambar 5. Kegiatan Akhir PKM untuk Materi Bahan Tambah Pangan dan Desain Produk Reka Karya - 64 Optimalisasi Inovasi Kualitas Produk dan Daya Saing Melalui Pemberdayaan UMKM Pangan Dapur Sehat Kebon Waru Kota Bandung Hasil Intervensi Pemberdayaan Tahapan dalam pemberdayaan ini meliputi sosialisasi kegiatan PKM. Pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi serta keberlanjutan program. Pelatihan yang dilaksanakan merupakan pelatihan teknologi pengolahan dan pengawetan pangan. Pada tahapan ini mitra dilatih proses pengeringan optimal untuk produk pangan dan penggunaan alat. Sehingga produk hasil uji coba menunjukkan produk menjadi lebih baik kualitasnya dengan metode pengeringan. Peningkatan kualitas pengemasan dengan menggunakan teknologi vacuum sealer dan kemasan multilayer dapat memperpanjang umur simpan produk kering sehingga dapat meningkatkan citra produk makanan kering tersebut. Hal ini dapat didukung dengan perbaikan label klaim halal produk. Tabel 2 Perbandingan kondisi sebelum dan setelah intervensi pengawetan produk Aspek Umur Simpan produk Sebelum Intervensi Cepat lembab, berubah Kemasan Plastik tipis dan mudah Nama produk sederhana Label produk Setelah Intervensi Stabil pengeringan optimal dan oxygen absorber Vacuum Sealer dan multilayer foil Label Halal Dampak Utama Kualitas terjaga Daya simpan meningkat dan citra produk meningkat Transparansi meningkat Tabel tersebut menjelaskan kondisi sebelum dan setelah intervensi serta dampaknya. Pada aspek umur simpan yang sebelumnya cepat lembab dan tidak tahan lama menjadi stabil dan umur simpan menjadi lebih lama hal ini berdampak pada terjaganya kualitas produk. Pada aspek kemasan yang pada awalnya menggunakan plastik tipis dan mudah bocor menjadi menggunakan vacuum slayer dan multilayer foil sehingga berdampak pada meningkatnya daya simpan dan citra produk. Sedangkan pada aspek laber produk yang awalnya hanya menggunakan nama produk sederhana label halal berdampak pada meningkatnya transparansi produk. Kemudian dalam pendampingan sertifikasi halal, tim melaksanakan sosialisasi regulasi Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, yang bertujuan untuk menjamin kehalalan produk yang beredar di Indonesia. Setelah itu dilaksanakan simulasi pendaftaran HALAL, dengan tahapan mitra mendata bahan baku produk. Menyusun alur proses pembuatan produk, dan melakukan proses sertifikasi halal dengan didampingi oleh PPH. Hasil dari program ini berupa keberhasilan mitra dalam mendaftar sertifikasi halal sampai keluar sertifikat Tabel 3 Perbandingan kondisi sebelum dan setelah intervensi sertifikasi halal Aspek Sertifikasi Halal Pengetahuan Bahan Tambahan Pangan Sebelum Intervensi Sebagian mitra sasaran belum memiliki sertifikat Belum pengetahuan terkait bahan tambahan pangan (BTP) Setelah Intervensi Proses pendaftaran sertifikasi halal Pengetahuan mitra sasaran terkait teknologi pengawetan produk pangan dengan penerapan teknologi pengemasan dan penambahan BTP meningkat Dampak Utama Akses pasar kredibilitas meningkat untuk kehalalan Daya tahan produk meningkat Tabel tersebut menjelaskan bahwa sebelum intervensi terdapat mitra yang belum memiliki sertifikat halal dan setelah dilakukan intervensi dilakukan proses pendaftaran sampai keluar sertifikat halal sehingga berdampak pada peningkatan akses pasar yang lebih luas. Kondisi pengetahuan mitra terhadap Reka Karya - 65 Intan Nurrachmi dkk BTP minim sebelum dilakukan intervensi dan meningkat setelah dilakukan edukasi. Pengetahuan mitra sasaran terkait teknologi pengawetan produk pangan dengan penerapan teknologi pengemasan dan penambahan BTP meningkat. Gambar 6. Perbandingan Produk Sebelum dan Sesudah Penerapan Teknologi Pengawetan Pangan Dalam Aspek Produk Pada gambar 4 menunjukkan bagaimana kondisi produk sebelum intervensi produk dibungkus dengan plastik tipis dan tanpa proses oxygen absorber sehingga umur simpan tidak lama, sedangkan setelah intervensi produk menggunakan vacuum sealer dan multilayer foil sehingga umur simpan produk lebih tahan lama dan kualitasnya tetap terjaga. Gambar 7. Teknologi Pengemas Vakum yang Diaplikasikan pada mitra Sebelum Intervensi Setelah Intervensi Gambar 8. Perbandingan Produk Sebelum dan Sesudah Intervensi Label dan Sertifikasi Halal Gambar 6 menunjukkan kondisi produk sebelum dan sesudah intevensi labeling dan sertifikasi halal. Dimana sebelumnya produk dikemas secara sederhana kemudian setelah dilakukan intervensi menjadi lebih elegan dengan kemasan yang menarik, dilengkapi klaim produk halal. Gambar 9. Mesin Sealer dan Spinner yang Diaplikasikan pada mitra Reka Karya - 66 Optimalisasi Inovasi Kualitas Produk dan Daya Saing Melalui Pemberdayaan UMKM Pangan Dapur Sehat Kebon Waru Kota Bandung Peningkatan Mutu dan Umur Simpan Penggunaan inovasi teknologi sederhana mampu memperpanjang umur simpan suatu produk tanpa mengurangi kualitas produk. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa metode accelerated shelf life testing dapat membantu UMKM dalam menetapkan masa kadaluarsa suatu produk berdasarkan data. (Nurul Asiah et al. , 2. begitu pula penggunaan kemasan merupakan cara melindungi produk pangan dari kerusakan, bahaya mikrobiologi, memperpanjang umur simpan, menjaga kualitas produk dan sebagai sumber informasi produk yang akan (Ropikoh et al. , 2. Memelihara kualitas produk, melindungi dari kontaminasi, mempermudah distribusi dan meningkatkan estetika produk. (Sundari et al. , 2. Penggunaan teknologi pengemasan vakum atau kedap udara, yang dapat memperpanjang masa simpan produk hingga 6 bulan. (HARIADI et al. , 2. Pemanfaatan teknologi vakum ini telah terbukti dapat menambah masa ketahanan produk, seperti hasil penelitian Maherawati, dkk bahwa penggunaan kemasan vakum untuk mengurangi kontak dengan udara sehingga memperlambat pertumbuhan mikrobia dan dapat memperpanjang masa simpan pada pemasaran produk segar ikan/ayam. (Maherawati et al. , 2. dan olahan ikan teri. (Anisa Ulya Darajat et al. , 2. Perningkatan kualitas packing produk frozen food. (Achmad Hamdan et al. , 2. Pengembasan Sebagai Strategi Daya Saing Rekayasa kemasan dapat meningkatkan nilai tambah UMKM pangan baik dari segi keamanan maupun dari segi estetikanya. (Martha Herlinawati Simanjuntak, 2. Metode vacuum packaging dan MAP merupakan cara yang efektif untuk mempertahankan kualitas produk. (Kumari et al. , 2. Begitu pula dengan produk yang dihasilkan oleh UMKM Dapur Sehat dapat menguatkan penelitian tersebut dengan meningkatkan citra produk setelah menggunakan teknologi vacuum sealer tersebut. Sertifikasi Halal untuk Meningkatkan Kepercayaan Dalam konteks produk pangan di Indonesia, sertifikasi halal bukan hanya bentuk kepatuhan, akan tetapi sebagai simbol kepercayaan. Karena Masyarakat di Indonesia akan memperhatikan label halal Ketika membeli dan mengkonsumsi suatu produk terlebih lagi dalam produk pangan. (Intan Nurrachmi & Setiawan, 2. Oleh karenanya menurut LPPOM MUI bahwa produk halal akan lebih dapat diterima baik di level pasar domestik maupun ekspor. (Yana, 2. Dengan mengikuti program SEHATI. UMKM Dapur Sehat dapat mendaftar sertifikasi halal dengan tidak terkendala biaya sertifikasi. Hal ini sesuai dengan hasil riset Hubeisd kk yang menyebutkan bahwa integrasi regulasi dan branding halal merupakan faktor strategis dalam pemberdayaan UMKM Pangan. (Musa Hubeis et al. , 2. Model Pemberdayaan Komunitas Dapur Sehat Adanya peran serta BMM dalam menaungi UMKM Dapur sehat dan kolaborasi tim PKM Unisba dan Unpas hal ini merupakan salah satu program pemberdayaan kolaboratif. Diman peran BMM merupakan Lembaga keuangan berbasis syariah, peran perguruan tinggi sebagai fasilitator pendampingan dan pemberdayaan, sedangkan UMKM Dapur Sehat merupakan UMKM penerima Strategi seperti ini merupakan hal yang efektif dalam penguatan UMKM dimana strategi berbasis SWOT-AHP memetakan prioritas yang harus ditingkatkan. (Asri Delmayuni et al. , 2. Dalam hal ini Dapur Sehat secara konteksnya berfokus kepada teknologi pengawetan pangan dan sertifikasi Halal. Reka Karya - 67 Intan Nurrachmi dkk KESIMPULAN Program ini mempertegas bahwa pemberdayaan berbasis kolaborasi di antara UMKM. Lembaga keuangan syariah dan pendamping akademik dapat meningkatkan kapasitas produksi dan menyelesaikan permasalahan pada UMKM Dapur sehat dalam integrasi teknologi pengawetan makanan dan proses sertifikasi halal. Dalam hal ini penerapan teknologi vacuum packaging, edukasi bahan tambahan pangan dapat memperpanjang umur simpan produk sampai tiga kali lipat dengan kualitas yang tetap terjaga dengan baik. Dalam waktu yang sama juga pendampingan sertifikasi halal menjadikan UMKM Dapur Sehat patuh secara regulasi dan dapat menguatkan posisi produk pangan yang aman dan Pemberdayaan terpadu yang bukan hanya berfokus kepada aspek produksi namun juga mensinergikan aspek regulasi, kelembagaan dan branding menjadi kebaruan dalam program ini. Hal ini menjadi pembeda dengan penelitian sebelumnya yang pada umumnya hanya berfokus pada satu aspek saja. Program ini dapat memberikan kontribusi praktis dalam pengembangan UMKM Pangan yang menghadapi permasalahan yang sama. Implikasi dalam cakupan yang lebih luas bahwa model pemberdayaan dapat dikembangkan sesuai dengan situasi dan kebutuhan di lapangan yang mungkin berbeda di setiap daerah yang berfokus kepada produk sehat dan halal. Hal ini relevan dalam menguatkan daya saing lokal dan mendukung agenda nasional dalam Upaya mencapai SDGs yaitu goal 8 pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi dan goal 12 konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, serta mendukung visi Indonesia yang menjadi pusat industri halal food global. UCAPAN TERIMAKASIH Kami sampaikan terimakasih pada DPPM Kemdiksaintek atas Program ini yang merupakan pendanaan dari DPPM Kemdiktisaintek pada skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dalam ruang lingkup Pemberdayaan kemitraan Masyarakat tahun 2025. Selain itu terima kasih juga kepada mitra PKM Unisba dan Unpas yaitu Lembaga Baitul Maal Muamalat Bandung. Komunitas UMKM Dapur Sehat, dan UP3H Unisba yang telah banyak mendukung dan berkontribusi dalam program ini yang tentunya membawa dampak yang positif untuk meningkatkan PKM pada masyarakat. DAFTAR PUSTAKA