ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 Praktik Thrifting Pada Kalangan Masyarakat Kelas Atas Konsumen Jombang Thrift Style Karin Tria Amelia1. Abu Tazid2. Khudrotun Nafisah3 . Farichatun Nisa4. Bambang Widianto Akbar5 1,2,3 Program Studi Ilmu Sosiatri. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Darul Ulum 4 Program Studi Ilmu Pemerintahan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Darul Ulum 5 Program Studi Ilmu Hubungan Internasional. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Darul Ulum amelia@gmail. Abstract Thrifting activities were initially based on economic and consumption reasons aimed at sustainability but globalization have caused socio-cultural conditions to change. The activity of shopping for used goods, which is often carried out by lower class people, has now changed and even become a lifestyle that reflect the upper class. The topic of this research is about how upper class society represents their lifestyle through thrifting, especially Jombang Thrift Style consumers. This research focuses on upper class consumers of Jombang Thrift Style and determining informants using purposive sampling, consisted of members of the Jombang Thrift Style community and upper class consumers, then studied using the theory of consumer society put forward by Jean Paul Budrillard. The results of this research found that the Jombang Thrift Style community played a role in the development of thrifting in Jombang. The presence of the community is also able to bring a new lifestyle to upper class society. Representations of thrifting in upper class society are as follows: forms of thrifting in simulations and simulacra. thrifting becomes a form of hyperreality. thrifting results in symbolic desublimation. The main motive for the upper class consumers is as a form of representation of group exclusivity. Keywords : thrifting. upper class. Abstrak Thrifting pada mulanya dilandasi karena alasan ekonomi dan konsumsi yang bertujuan untuk keberlanjutan tetapi pada perjalanannya globalisasi dan perkembangan zaman membuat keadaan sosial budaya mengalami perubahan. Kegiatan berbelanja barang bekas yang kerap dilakukan oleh masyarakat golongan kelas bawah, kini sudah berubah bahkan menjadi gaya hidup yang bahkan dapat mencerminkan golongan kelas atas. Topik kajian dalam penelitian ini adalah tentang bagaimana masyarakat kelas atas merepresentasikan gaya hidup nya melalui thrifting terutama konsumen Jombang Thrift Style. Penelitian ini difokuskan kepada masyarakat kelas atas konsumen Jombang Thrift Style dengan teknik penentuan informan menggunakan purposive, kemudian dikaji menggunakan teori masyarakat konsumsi yang dikemukakan oleh Jean Paul Budrillard. Informan dalam penelitian ini terdiri dari anggota komunitas Jombang Thrift Style dan masyarakat kelas atas konsumen Jombang Thrift Style. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa komunitas Jombang Thrift Style berperan dalam perkembangan thrifting di Kabupaten Jombang. Hadirnya komunitas Jombang Thrift Style juga mampu menghadirkan gaya hidup baru bagi masyarakat kelas atas. Representasi Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 thrifting pada masyarakat kelas atas adalah sebagai berikut: bentuk thrifting dalam simulasi dan simulakra. thrifting menjadi bentuk hyperreality. thrifting mengakibatkan desublimasi Motif utama masyarakat kelas atas konsumen Jombang Thrift Style melakukan thrifting adalah sebagai bentuk representasi eksklusifitas golongannya. Kata kunci : thrifting. masyarakat kelas atas. gaya hidup PENDAHULUAN Dalam konteks sosiologi, gaya hidup merujuk pada pola-pola perilaku, preferensi, dan kebiasaan sehari-hari yang mencirikan kelompok atau masyarakat Menurut Alfathri Adlin (Lifestyle Ecstasy, 1. , style . berasal dari bahasa Yunani AostilusAo yang artinya alat tulis atau tulis tangan. Bisa diartikan, gaya adalah Aoalat tulisAo individu atau seseorang untuk menampilkan identitasnya. Sedangkan menurut Chaney . , gaya hidup dimaknai sebagai pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang yang lain. Gaya hidup dapat mencakup berbagai aspek, seperti pola makan, aktifitas fisik, kebiasaan tidur, hubungan sosial, pemikiran dan kegiatan rekreasi. Gaya hidup bukan hanya tentang apa yang seseorang lakukan, tetapi juga mencakup nilai-nilai, keyakinan, dan prioritas dalam hidup. Faktor-faktor seperti budaya, lingkungan, ekonomi, dan pendidikan dapat mempengaruhi pembentukan gaya hidup seseorang. Dalam konteks sosiologi, gaya hidup memiliki beberapa konsep dan pandangan yang meliputi pengaruh struktur sosial, budaya konsumen, pola interaksi sosial, globalisasi, kesenjangan sosial dan gaya hidup. Sosiolog melihat bahwa struktur sosial, seperti kelas sosial, status ekonomi, dan struktur keluarga dapat memberikan panduan untuk gaya hidup seseorang. Orang dari kelompok sosial yang berbeda mungkin memiliki gaya hidup yang berbeda karena perbedaan dalam sumber daya, kesempatan dan akses ke kebijakan sosial. Selain itu budaya konsumen juga dapat mengonstruksi masyarakat tentang makna melalui barang dan jasa yang mereka konsumsi. Hal ini juga didukung dengan pola interaksi sosial. Kelompok sosial dan teman sebaya dapat memainkan peran penting dalam membentuk preferensi dan kebiasaan seseorang. Proses sosialisasi, di mana individu belajar norma-norma dan nilai-nilai masyarakat, juga berkontribusi pada pembentukan gaya hidup. Satu yang tak kalah pentingnya adalah pengaruh Dalam hal ini globalisasi terfokus dalam bagaimana interkoneksi antara masyarakat dapat mempengaruhi gaya hidup. Pertukaran budaya dan pengaruh global dapat membawa perubahan dalam preferensi dan kebiasaan konsumsi di berbagai belahan dunia. Faktor yang paling mudah dalam menentukan gaya hidup seseorang adalah kelas sosial. Karl marx yang merupakan seorang filsuf, ekonom, ahli teori politik dan sosiolog membagi kelas sosial menjadi tiga kelompok yaitu kelas kapital atau biasa disebut borjuis. Seiring berjalannya waktu, konsep kelas sosial yang dibawa Karl Marx diadopsi dan dikembangan oleh individu maupun masyarakat dengan perkembangan kondisi yang ada. Kelas sosial masyarakat juga dapat ditentukan melalui pengeluaran yang Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 dilakukan oleh individu. Semakin besar pengeluaran seseorang maka besar pula Pengelompokan masyarakat menurut pengeluaran yang dirilis oleh bank dunia dibagi menjadi lima kelas (Budy Kusnandar, 2. Kelas atas dengan pengeluaran lebih dari enam juta rupiah per orang dalam satu bulan. Kelas menengah dengan pengeluaran satu jua dua ratus ribu rupiah hingga enam juta rupiah per orang dalam satu bulan. Yang ketiga adalah masyarakat menuju kelas menengah dengan pengeluaran lima ratus tiga puluh dua ribu rupiah sampai satu juta dua ratus ribu per orang sebulan. Selanjutnya adalah kelas rentan dengan pengeluaran tiga ratus lima puluh empat ribu rupiah sampai lima ratus tiga puluh dua ribu rupiah per orang dalam satu bulan. Terakhir adalah masyarakat kelas miskin dengan pengeluaran dalam satu bulannya kurang dari tiga ratus lima puluh empat ribu rupiah. Pola perilaku atau tingkat konsumsi diatas dapat menjadi acuan terhadap gaya hidup seseorang. Konsumsi pakaian atau fashion juga berpengaruh terhadap gaya hidup seseorang. Gaya hidup dan fashion merupakan dua konsep yang saling terkait erat dan keduanya sering kali saling mempengaruhi. Fashion memainkan peran penting dalam ekspresi identitas. Cara seseorang berpakaian seringkali merupakan bentuk eksternalisasi dari gaya hidup dan nilai-nilai yang dipegangnya. Pengaruh dalam gaya hidup seringkali menciptakan tren dan pergeseran dalam perilaku Misalnya meningkatnya minat pada gaya vintage dapat mempengaruhi keputusan konsumen terkait dengan pembelian barang second atau thrift. Masyarakat kelas atas yang sudah terbiasa dengan tingkat konsumsi yang tinggi biasanya senang terhadap brand, simbol, atau tanda yang dapat menunjukkan Hal ini dapat dikaji dengan teori milik Jean Baudrillard yaitu simulacra dan Sebuah objek yang dikonsumsi masyarakat kelas atas tidak hanya dipertimbangkan melalui use value atau nilai kegunaan tidak pula melalui exchange value tetapi juga mempertimbangkan sign value dan symbol value. Sehingga masyarakat membeli sebuah produk tidak hanya karena nilai tukar dan kegunaan tetapi juga adanya nilai tanda dan nilai simbolik yang bersifat abstrak pada sebuah barang (Saumantri, 2. Menurut Jean Baudrillard, konsumsi menjadi bagian yang penting dalam hidup Konsumsi membuat manusia tidak hanya mencari kebahagian, tidak berusaha mendapat kesamaan dengan manusia lain, dan tidak adanya intensitas untuk melakukan homogenisasi tetapi justru individu melakukan diferensiasi melalui konsumsi dalam gaya hidup. Masyarakat kelas atas yang identik mengkonsumsi tanda seperti brand atau merek barang-barang mahal tetapi kali ini dilakukan melalui thrifting atau barang bekas yang pada umumnya dipandang sebelah mata. Media sosial memainkan peran besar dalam membentuk presepsi tentang gaya Orang-orang seringkali membagikan aktivitas sehari-hari mereka, kebiasaan dan minat melalui platform ini, menciptakan citra diri dan gaya hidup tertentu. Melalui platform media sosial ini dapat mempromosikan gaya tertentu, mencipatakan Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 tren dan mempengaruhi preferensi konsumen fashion. Trend fashion yang beberapa tahun ini sedang berkembang adalah fashion dari barang second-hand atau thrift. Thrifting merupakan istilah untuk kegiatan membeli pakaian bekas atau second-hand di toko yang disebut thrift shop. Barang-barang yang dijual bisa berupa perkakas hingga pakaian. Thrifthing atau transaksi jual beli pakaian bekas pakai saat ini telah menjadi budaya populer di Indonesia (Ayu Rizky & Teguh, 2. Kegiatan atau aktivitas yang sebenarnya sudah lama dilakukan oleh masyarakat tetapi semakin hari kian popular. Thrifting kini banyak digandrungi kawula muda begitu pula di Kabupaten Jombang. Pandangan pakaian bekas yang dahulu hanya untuk masyarakat kelas bawah namun saat ini kegiatan thrifting atau membeli pakaian bekas dilakukan untuk memperoleh citra diri yang unik, trendi, fashionable, dan berbeda dari orang lain terlepas dari status ekonomi konsumen pembeli pakaian bekas. Fashion dan pakaian merupakan cara yang dilakukan individu untuk mendapatkan presentasi diri yang mereka inginkan. Pakaian yang langka yang mungkin karena usianya sudah sangat tua atau bisa jadi sangat baru dapat menunjukkan sisi unik sang pemakai (Sakinah. Mega Nanda, & Toharuddin, 2. Jual beli pakaian bekas yang dahulu lapaknya di pinggir jalan sekarang semakin berkembang dan mudah ditemui. Berkembangnya dan fenomena thrifting yang semakin ramai membuat beberapa masyarakat Kabupaten Jombang yang bergerak di bidang thrifting menjadi tertarik dan membentuk komunitas. Tingginya tingkat konsumsi masyarakat Kabupaten Jombang terhadap pakaian bekas yang semakin meningkat, membuat mereka tertarik untuk melahirkan kreatifitas baru. Komunitas besar yang ada di Kabupaten adalah Jombang Thrift Style yang menjadi salah satu pioner berkembangnya aktifitas thrifting di Kabupaten Jombang. Jombang Thrift Style merupakan suatu komunitas yang terbentuk pada tahun Barang-barang yang dijual tidak hanya pakaian tetapi ada juga aksesoris hingga Melihat dan menimbang konsumen yang datang dengan jumlah konsumsi yang tinggi membuat Jombang Thrift Style konsisten dilaksanakan oleh para member Lahirnya komunitas dan event ini berhasil membuat masyarakat Jombang yang dahulunya tidak mengerti apa itu thrifting atau yang dahulunya berbelanja thrift di luar Jombang akhirnya mempunyai wadah untuk belajar dan berbelanja di kotanya Tak hanya itu, adanya komunitas dan event yang mereka laksanakan mampu melahirkan budaya baru, trend fashion masyarakat yang baru dan mengikuti style yang hampir setiap tahunnya mengalami perubahan. Melihat dari perkembangan thrifting dan thrifter di Kabupaten Jombang juga kegiatan yang dilaksanakan Jombang Thrift Style membuat hal tersebut menarik untuk dikaji. Penelitan ini akan difokuskan kepada representasi diri masyarakat kelas atas terhadap gaya hidup thrifting mereka. Hal-hal menarik seperti latar belakang mereka melakukan thrifting, bagaimana mereka merepresentasikan diri sebagai thrifter meskipun mereka termasuk sebagai golongan kelas atas Kabupaten Jombang Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 menjadikan peneliti tertarik melakukan penelitian AuRepresentasi Thrifting Dalam Gaya Hidup Kelas Atas : Studi Analisis Berbelanja Barang Bekas Pada Masyarakat Kelas Atas Konsumen Jombang Thrift StyleAy. Sebab pasti terdapat makna dan representasi unik individu khususnya masyarakat kelas atas Kabupaten Jombang tentang kegiatan thrift atau berbelanja barang bekas berdasarkan pengaruh media sosial sebagai basis preferensi dalam menentukan minat terhadap konsumen, sebab media sosial memiliki kekuatan yang cukup signifikan berdasarkan tendensi dari konsumen (Tazid, 2. Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis empirik Penelitian fenomenologi bertujuan untuk mengungkap pengalaman individu secara mendalam terkait suatu peristiwa sebagai bentuk interaksi dengan lingkungannya (Dr. Raco, 2. Teknik penentuan informan dilakukan dengan Informan yang dalam penelitian ini terdiri dari ketua dan anggota komunitas Jombang Thrift Style, serta konsumen Jombang Thrift Style yang termasuk dalam kalangan kelas atas. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara terbuka . pen intervie. dan wawancara mendalam . ndepth intervie. dengan menggunakan pedoman wawancara . nterview guid. , ditambah dengan teknik dokumentasi sebagai sumber pengumpulan data melalui bahan-bahan tertulis ataupun video, foto dan gambar, dan menggunakan sumber pustaka sebagai pelengkap data yang tidak ditemukan pada saat penelitian (Asyari, 2. Proses analisis data dilakukan dengan tiga pokok proses, yakni reduksi data, memilah data dengan fokus pada hal penting dan pokok. penyajian data, memaparkan data atau informasi hasil reduksi yang telah tersusun untuk menarik kesimpulan atas data yang diperoleh dan mencari makna kesesuaian hubungan dengan konsep dasar penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas thrifting biasa dilakukan dengan membeli produk bekas di toko khusus yang menjual produk bekas atau yang biasa disebut dengan thrift shop. Masyarakat melakukan kegiatan thrifting dengan tujuan untuk pengehamatan, karena barang thrift memiliki harga yang jauh lebih murah dibanding dengan harga normal barang baru, tak hanya barang lokal tetapi melalui thrift masyarakat juga mendapat kesempatan untuk mendapatkan barang luar negeri atau impor. Jika beruntung, konsumen juga bisa mendapat barang maupun pakaian limited edition. Thrift pada umumnya bergerak pada komoditi sandang sebagai bentuk perlawanan terhadap fast fashion yang konsumtif. Salah satu tujuan thrifting adalah membantu dalam upaya penghematan polusi atau limbah tekstil. Industri tekstil dan pakaian menjadi salah satu penyumbang terbesar polusi dan limbah tekstil di dunia. Alasan lain nya adalah budaya thrifting dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye zero waste. Zero waste adalah pengurangan dan pemanfaatan sampah, terutama sampah tekstil yang dihasilkan oleh industri fashion (Mevia Setiyana Putri & Patria, 2. Aktivitas thrifting atau berbelanja barang bekas juga memiliki beberapa Berikut sejumlah kelebihan belanja thrifting: Harga lebih terjangkau Keuntungan pertama yang bisa didapat dari membeli barang hasil thrifting adalah mendapatkan harga yang lebih rendah alias murah. Dari barang dengan Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 harga dibawah pasaran, konsumen tidak hanya bisa menghemat biaya, tetapi juga berkesempatan memiliki barang dengan kualitas bagus tetapi harga nya juga lebih terjangkau. Bahkan perbandingan harga nya bisa mencapai 50 persen dari harga normal. Jombang Thrift Style Event Market yang merupakan wadah untuk konsumen berbelanja barang bekas tentunya menjual barang dengan harga yang lebih rendah dari pada harga di store asli. Terlebih pada barang-barang bermerek seperti Adidas. Puma. Nike. TNF. Converse dan lain sebagainya jika dibandingkan harga store dengan harga thrift shop memiliki perbedaan harga. Sebagai contoh pakaian dengan merek Adidas jika di toko resmi seharga diatas satu juta rupiah, tetapi pada event Jombang Thrift Style biasanya dijual dengan harga mulai dari lima ratus ribu rupiah. Kualitas barang bagus Selain harga yang lebih murah, jika jeli dan teliti ketika berbelanja barang thrift tentu konsumen bisa mendapat kualitas barang yang masih bagus atau layak Meskipun barang thrift merupakn barang yang sudah pernah digunakan orang lain, namun fungsi dan kualitas barang thrifting tentu saja masih layak pakai bahkan jika disandingkan dengan produk baru. Barang bermerek Keuntungan selanjutnya dengan melakukan thrifting adalah bisa mendapatkan produk atau barang dengan merek terkenal atau biasa disebut barang branded. Tak hanya itu, jika beruntung juga bisa mendapat barang luxury brand. Namun tentu saja tidak semudah itu untuk bisa mendapatkan barang bermerek, karena memang memerlukan kesabaran dan ketelitian saat berburu. Selain itu pengetahuan mengenai perbedaan barang original dan tiruan harus digunakan dengan baik. Budget yang disiapkan juga harus lebih ekstra karena barang baru nya saja sudah memiliki harga tinggi tentu di pasar thrift meskipun barang tersebut sudah pernah dipakai tetapi tetap memiliki value melalui simbol atau tanda yang dimiliki. Sensasi berburu Kegiatan thrifting sama hal nya dengan berburu target yang dalah hal ini biasanya barang dengan kualitas baik atau bermerek dengan harga yang miring. Dalam proses thrifting, seseorang yang berbelanja barang bekas dapat merasakan sensasi berburu sesuatu yang sangat di ingin-inginkan. Hal ini dikarenakan dari ketersediaan barang yang ada hanya berjumlah tunggal atau satu-satunya. Sampai pada hari ini, thrifting semakin berkembang tak hanya di kota-kota besar seperti Jakarta. Bandung. Surabaya tetapi juga mampu berjaya di wilayah bukan ibu kota seperi hal nya di Kabupaten Jombang. Daerah yang dikenal dengan masyarakat religius tetapi ternyata mampu menjadi wadah para pelaku bisnis thrifting untuk hadir dan berkembang. Meski tidak bisa diketahui dengan pasti Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 berapa jumlah thrift shop yang ada di Kabupaten Jombang, tetapi di seluruh penjuru Kabupaten Jombang sudah terdapat thrift shop. Hal tersebut menunjukkan bahwa minat konsumen thrifting di Kabupaten Jombang termasuk cukup tinggi. Menurut data yang diperoleh dari komunitas Jombang Thrift Style, konsumen thrifting di Kabupaten Jombang mulai dari remaja hingga lansia. Kegiatan thrifting di Kabupaten Jombang juga tak hanya dilakukan secara langsung atau offline tetapi juga melalui media online. Perkembangan thrifting di Kabupaten Jombang juga dapat dilihat melalui lahirnya Komunitas Jombang Thrift Style sebagai gabungan individu yang membentuk kelompok sosial dengan visi dan misi yang sama. Perkembangan dan arah gaya mode fashion thrifting di Jombang juga selalu diperbarui sesuai dengan pasar global. Komunitas Jombang Thrift Style Thrifting atau berbelanja barang bekas bukan suatu hal yang baru di Tetapi perubahan gaya hidup, globalisasi dan arah kebudayaan membuat kebiasaan berbelanja barang bekas mengalami perubahan. Pada saat ini, thrifting sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat tak hanya masyarakat golongan kelas bawah, tetapi masyarakat kelas atas jga menikmati kegiatan tersebut dengan berbagai alasan dibaliknya. Perubahan masyarakat menjadi masyarakat konsumsi . onsume societ. seperti yang dikatakan oleh Jean Baudrillard mampu merubah situasi sosial-budaya. Hadirnya komunitas Jombang Tthrift Style dan terlaksana nya Jombang Thrift Style Event Market membawa perubahan baik dalam internal komunitas maupun konsumen dan karakteristik thrifting di Kabupaten Jombang. Jika dahulu thrift hanya dilatar belakangi karena sisi ekonomis, kini konsumen thrifting lebih menikmati brand-brand yang dihadirkan dalam thrift shop dan event market yang dilaksanakan oleh komunitas Jombang Thrift Style. Harga murah bukan alasan utama tetapi pengalaman, nilai tanda, prestise sebagai lambang dan eksistensi menjadi hal baru dalam thrifting di Kabupaten Jombang. Gaya Hidup Konsumtif Masyarakat Kelas Atas Konsumen Jombang Thrift Style Menggunakan teori postmodernisme Jean Baudrillard khususnya konsep simulakra dapat memberikan perspektif yang mendalam dalam menganalisis bagaimana praktik thrifting di kalangan kelas atas dapat dilihat sebagai representasi dari fenomena simulasi dalam masyarakat postmodern. Praktik thrifting oleh masyarakat kelas atas bisa dilihat sebagai tanda atau simbol dari berbagai nilai identitas, seperti kesadaran lingkungan, etika konsumsi, dan keunikan individu. Dalam tahap simulacra, thrifting ini mungkin tidak lagi sekedar tentang penghematan atau keberlanjutan, tetapi tentang representasi status dan identitas yang diciptakan dan diterima oleh kelas atas. Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 kegiatan thrifting sudah menjadi gaya hidup masing-masing informan karena dilakukan dengan intensitas yang rutin. Melalui kebiasaan thrifting mereka juga dapat menggambarkan gaya hidup melalui apa yang mereka konsumsi dalam jenis barang. Pengaruh Komunitas Jombang Thrift Style terhadap konsumen JTS Sangat menarik untuk mengkaji dan mencermati bagaimana pola interaksi yang dibangun oleh komunitas Jombang Thrift Style. Kelompok sosial yang berasal dari inidividu-individu dengan pemikiran visioner mampu membentuk lingkungan dan situasi sosial-budaya baru di masyarakat khususnya Kabupaten Jombang. Fenomena thrifting yang telah ada sejak lama namum belum berkembang seperti sekarang dan menjadi gaya hidup dapat mampu mempengaruhi masyarakat tak terkecuali kelas atas melalui kreatifitas manusia dengan promosi menarik yang dilakukan masyarakat itu sendiri. Yang kedua adalah hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial tempat pemikiran itu timbul, bersifat berkembang dan Thrifting di Kabupaten jombang berkembang melalui sebuah interaksi antar individu hingga dapat melahirkan sebuah komunitas. Fenomena yang berkembang ini juga diwadahi melalui komunitas yang telah dibentuk. dalam konstruksi sosial juga membahas mengenai makna yang dihasilkan melalui konstruksi yang telah dibuat. Hal ini sesuai dengan teori konstruksi sosial milik Peter L. Berger. Jika membahas teori konstruksi sosial . ocial constructio. tentu tidak bisa terlepas dari bangunan teoritik yang telah dikemukakan oleh Peter L Berger dan Luckman. Salah satu pencetus teori kostruksi sosial yang merupakan sosiolog dari New School for Social Research. New York. Teori konstruksi sosial ini dirumuskan sebagai kajian teoritis dan sistematis mengenai sosiologi pengetahuan. Fokus kajian sosiologi pegetahuan adalah bagaimana pembentukan kenyataan oleh masyarakat . ocial construction of realit. itu dijabarkan. Jika dirunut, munculnya teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Luckman terpengaruh langsung oleh gurunya yaitu tokoh sosiologi Alfred Schutz yang mengangkat tentang fenomenologi (Syaifudin & M, 2. Konstruksi sosial yang dikemukakan Peter L Berger dan Luckman didefinisikan sebagai proses sosial melalui Tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus menerus realitas yang dimiliki dan dialami secara Jika ditelaah Kembali, teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Luckman memunculkan beberapa asumsi dasar. Yang pertama, realitas merupakan hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan konstruksi sosial terhadap dunia sosial di Teori konstruksi sosial menekankan pada ide bahwa makna thrifting tidak ada secara secara inheren dalam barang bekas itu sendiri, tetapi dibangun melalui interaksi sosial. Dimana masyarakat Bersama-sama menciptakan makna dan nilai terkait dengan thrifting melalui proses sosial, budaya, dan komunikasi. Hal ini terjadi pada komunitas Jombang Thrift Style yang dengan komunikasi antar anggota yang Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 baik dan semangat anggota untuk melakukan pengembangan membuat makna dan nilai terhadap thrifting di Kabupaten Jombang mengalami perubahan. Proses observasi yang dilakukan anggota, diskusi bersama mengenai thrifting, tukar pikiran sesama anggota bahkan dengan konsumen dapat melahirkan satu makna yang disepakati oleh banyak orang. Budaya yang selalu mengalami perubahan dan pergerakan membuat dampak yang besar dalam industri fashion. Tak hanya pasar barang-barang baru tetapi di pasar barang bekas atau thrift juga mengalami perubahan. Dilihat dari sejarahnya, dahulu thrift merupakan metode manusia berbelanja barang bekas sebagai bentuk keberlanjutan dalam desakan ekonomi. Mode jual beli lawas dan dikemas se minimalis mungkin, kini sudah sangat jauh berkembang. Perkembangan thrift di Kabupaten Jombang juga tak kalah pesat. Dahulu nya pasar barang bekas di Kabupaten Jombang hanya ada di pasar tradisional atau dipinggir jalan digelar Barang-barang yang dijual juga mungkin burang barang yang memiliki value besar. Atau mungkin dulu masyarakat membeli barang thrift seratus persen karena masalah ekonomi saja tanpa memikirkan barang tersebut memiliki brand atau tidak. Seiring berjalannya waktu, dampak teknologi dan globalisasi dapat merubah kebiasaan dan cara jual-beli masyarakat pada umumnya. Setiap tahunnya selalu ada perubahan dan perkembangan bisnis melalui interaksi sosial di masyarakat. Adopsi budaya dan pertimbangan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat membuat manusia melakukan inovasi. Seperti pada bisnis jual-beli barang bekas atau thrift, dahulu yang hanya digelar seadanya sekarang sudah dipasarkan melalui toko-toko dengan penjualan yang dikemas secara menarik. Semakin tahun semakin banyak toko barang bekas yang ada di Kabupaten Jombang. Hal tersebut dikarenakan meningkatnya peluang bisnis karena bertambahnya minat masyarakat Kabupaten Jombang terhadap barang-barang thrift. Jika dikaji melalui teori konstruksi sosial, disini juga menyoroti pentingnya peran komunitas dalam membentuk praktik thrifting. Komunitas thrifting dapat dilihat sebagai kelompok sosial yang Bersama-sama menciptakan norma, nilai, dan aturan terkait dengan berbagi dan berbelanja barang bekas. Hadirnya Komunitas Jombang Thrift Style mampu membentuk praktik thrifting yang berkarakter. Melalui komunitas Jombang Thrift Style, mereka membentuk lingkungan yang memiliki norma, nilai dan aturan dengan harapan pasar thrift di Kabupaten Jombang memiliki persaingan sehat dengan harga yang memiliki standar agar tidak mematikan rekanrekan bisnis thrift yang cakupan pasarnya masih kecil. Analisis Representasi Thrifting dalam Gaya Hidup Masyarakat Kelas Atas Konsumen Jombang Thrift Style Konsumsi adalah fenomena sosial atau kegiatan yang selalu berkaitan dengan manusia sebagai homo economicus. Kegiatan konsumsi merupakan fenomena sosial Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 yang selalu berkaitan dengan manusia dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Karena pada dasarnya dengan melakukan praktik konsumsi maka setiap manusia dapat melanjutkan keberlangsungan hidupnya. Kegiatan konsumsi diawali karena manusia terus memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi dan keinginan yang harus di wujudkan sehingga aktivitas belanja menjadi kegiatan mengonsumsi. Kegiatan konsumsi yang seperlunya sudah diubah oleh manusia menjadi konsumsi yang mengada-ada. Hal menarik dari masyarakat konsumsi . onsumer societ. adalah masyarakat tersebut mengonsumsi barang-barang atau komoditas material bukan hanya karena kebutuhan dan fungsi tertentu oleh karena itu dapat dikatakan bahwa konsumsi sebagai cara hidup selalu menarik manusia untuk mengejar, memiliki dan mengganti secara terus-menerus barang-barang material yang cepat berkembang secara global (Djalal. Adam, & Kamaruddin, 2. Perilaku konsumsi juga memiliki makna sosial karena hal tersebut merupakan cara yang dapat menandai posisi sosial seseorang atau mayarakat. Oleh karena hal tersebut, maka kegiatan konsumsi juga dapat dikatakan sebagai tindakan sosial bukan hanya kegiatan individu. Konsumsi menurut Jean Budrillard memegang peranan penting dalam hidup manusia. Konsumsi membuat manusia tidak hanya mencari kebahagiaan, tidak berusaha mendapatkan persamaan, dan tidak adanya intensitas atau keinginan untuk melakukan homogenisasi atau persamaan dengan manusia lain. Manusia justru melakukan diferensiasi atau melakukan cara untuk menjadi berbeda dengan yang lainnya dalam gaya hidup dan nilai, bukan lagi kebutuhan Sehingg ahal tersebut yang menjadi latar belakang munculnya sebutan masyarakat konsumerin . onsumer societ. oleh Jean Baudrillard. Pemikiran tentang konssumsi pada awalnya muncul dalam kegiatan ekonomi sehingga hal tersebut menjadi bagian penting dalam pembahasan di bidang ilmu Tetapi seiring berjalannya waktu hingga memasuki abad kontemporer, persoalan konsumsi dan budaya konsumerisme menjadi perhatian atau sorotan dari berbagai perspektif, baik dari perspektif ilmu ekonomi, sosial, seni budaya, filsafat, bahkan politik dan kebijakan pemerintah juga tak terlepas dari pembahasan tentang hal tersebut. Menurut Bauman . , konsumerisme merupakan atribut Selanjutnya menurut Miles . konsumerisme sudah menjadi cara hidup atau the way of life. Internalisasi struktur pada konsumerisme dapat menjadi habitus atau kesadaran praktis dalam diri seseorang sehingga membentuk sebuah kesadaran kolektif (Tazid, 2. Apabila membahas konsumsi atau budaya konsumerisme tentu tidak bisa lepas dari pakar yang Bernama Jean Baudrillard. Jean Baudrillard merupakan seorang pakar teori kebudayaan, filsuf, komentator politik dan juga seorang sosiolog atau pengamat sosial. Karya Jean Budrillard sering kali diakitkan dengan postmodern, yang mencoba mengkaji masyarakat konsumeris . onsumer societ. dalam relasinya Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 dengan system tanda . ign valu. Menurutnya, tanda atau sign merupaan salah satu elemen penting dalam masyarakat konsumeris . onsumer societ. saat ini. Jean Baudrillard menuangkan studi tentang masyarakat konsumen melalui tiga karya awal miliknya. Karya pertama nya berjudul The System of Object . , selanjutnya setelah dua tahun buku pertama beredar terbit lagi salah satu karya Budrillard yang paling fenomenal yaitu The Consumer Society. Myths and Structures. Lalu karya ketiga Budrillard yang terbit pada tahun 1983 dengan judul Simulations (Setia Bakti. Nirzalin, & Alwi. KONSUMERISME DALAM PERSPEKTIF JEAN BAUDRILLARD, 2. Karya pertama Baudrillard dengan judul The System of Object . merupakan pengembangan hasil disertasi Baudrillard yang terinspirasi oleh buah pemikiran beberapa tokoh sosial seperti Roland Barthes. Marcel Mauss, dan David Reisman. Gagasan Barthes yang ada di dalam buku The System of Fashion . mempengaruhi pemikiran Baudrillard bahwa konsumsi memiliki hubungan dengan sistem tanda dan semiotika. Lalu esai Mauss dalam karya berjudul The Gift . menginspirasi Baudrillard tentang perukaran simbolik. Selanjutnya karya David Riesman. The Lonely Crowd . juga menjadi pemeran sentral dalam membantu memfokuskan pemikiran Baudrillard tentang bagaimana struktur tanda menggantikan urutan simbolis pada tingkat subjek dan pengalaman hidup manusia. Karya pertama milik Baudrillard ini bermaksud menceritakan kondisi pada era kapitalisme lanjut, dimana objek konsumsi berhasil mendikte seluruh aspek kehidupan manusia. Sehingga seseorang memaknai eksistensi dirinya melalui komoditi atau objek yang dibeli yang sudah disisipkan tanda-tanda tertentu. Jean Bbaudrillard berpendapat bahwa mereka yang berada dalam masyarakat konsumen perlu mengonsumsi untuk merasa hidup. Hal ini melahirkan slogan. Auaku mengonsumsi maka aku adaAy atau dapat dipahami bahwa penerimaan kode secara bertahap menciptakan pola konsumsi yang tidak terpikirkan sebelumnya. Selanjutnya melalui karya kedua Baudrillard yang paling mencuri perhatian dan fenomenal yaitu buku berjudul AuThe Consumer Society. Myths and StructuresAy. Melalui buku tersebut, ia mengembangkan pemikirannya tentang fenomena masyarakat konsumeris. Baudrillard meyakini bahwa konsumsi telah menjadi faktor mendasar dalam ekologi spesies manusia. Ia juga mengklaim bahwa konsumsi sebagai penggerak utama masyarakat era kontemporer. Hal tersebut searah dengan pemikiran Weber yang melijat persaingann kelompok status diorganisir di sekitar mode konsumsi . ode of consumptio. Namun sebaliknya, hal ini bertolak belakang dengan pemikiran Marx. Karl Marx masih melihat perjuangan kelas diorganisir di sekitar mode produksi . ode of productio. hal tersebut mengakibatkan jalan berpikir kedua tokoh ini harus berpisah dan mencari jalannya masing-masing. Karya ketiga Jean Baudrillard adalah buku dengan judul Simulations, buku tersebut terbit pada tahun 1983. Buku ini menjelaskan tentang kondisi sosial-budaya masyarakat Barat yang berada dalam dunia simulasi. Ia menjelaskan bahwa dalam Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 era kapitalisme lanjut, semua hal yang nyata menjadi simulasi. Simulasi yang dimaksud Jean Baudrillard . adalah generasi oleh model-model nyata tanpa asal atau kenyataan: sebuah dunia yang ia sebut hiper-realitas. Hal ini membuat realitas lebih sekedar rekayasa ketimbang representasi, yang menandai bahwa di era ini merupakan era postmodern. Melalui tiga karya tersebut. Baudrillard sedang berusaha meyakinkan dunia akademis bahwa masa yang sedang disepakati saat ini adalah era postmodern. Hal tersebut dijelaskan oleh Baudrillard dengan cara membuat klasifikasi ciri khas cara berpikir masyarakat yang dominan pada masing-masing era. Pada setiap era terdapat logika dominan yang tertanam di benak masyarakat. Baudrillard menggambarkan perbedaan logika antara era postmodern . ogika simulas. dengan era sebelumnya yaitu era modern . ogika produks. dan era pra modern . ogika pertukaran simboli. Ia menegaskan bahwasannya pada era postmodern, dominasi permainan citra dan tanda telah merasuk atau menguasai ke dalam hampir keseluruhan aktivitas komunikasi antar manusia. Relasi tanda, citra, dan kode menjadi penentu dalam kehidupan masyarakat konsumsi . onsumer societ. (Setia Bakti. Nirzalin, & Alwi. Konsumerisme dalam Perspektif Jean Baudrillard, 2. Thrifting dalam simulasi dan simulacra Pada tahap awal adalah tahap dimana konsumen barang bekas atau thrift membaca realitas bahwasanya kegiatan thrifting merupakan kegiatan berbelanja barang bekas biasa. Kegiatan thrifting pada awalnya juga hanya dilatarbelakangi konsumsi dengan maksud tujuan untuk keberlanjutan. Selain itu alasan orang melakukan thrifting juga sesuai dengan istilah thrift itu sendiri yaitu penghematan. Pada mula nya konsumen thrift berbelanja barang bekas karena alasan ekonomis dan berujung menjadi gaya hidup. Thrifting sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas oleh para informan dengan intensitas yang cukup tinggi. Hal ini juga dibarengi dengan meningkatnya pengeluaran yang mereka habiskan dalam satu kali thrifting, khususnya golongan kelas atas konsumen Jombang Thrift Style. Kini belanja barang bekas menjadi sebuah kegiatan yang menunjukkan eksistensi golongan dengan konsumsi tanda melalui merek dan brand yang mereka beli. Hyperreality Baudrillard menyebutkan bahwa dalam masyarakat postmodern, kita hidup dalam hyperreality, di mana batas antara realitas dan simulasi kabur. Masyarakat kelas atas yang mengadopsi thrifting mungkin terlibat dalam menciptakan dunia di mana nilai dan makna barang bekas lebih tentang persepsi sosial daripada fungsi asli atau nilai materialnya. Desublemasi simbolis Dengan bergesernya praktik thrifting mejadi tren di kalangan kelas atas, proses desublimasi simbolis terjadi di mana barang-barang bekas yang dulunya memiliki makna dan nilai rendah menjadi simbol status dan gaya hidup yang tinggi. Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 Hal ini menciptakan paradoks di mana barang bekas menjadi tanda dari sesuatu yang lebih besar dan lebih kompleks dari sekedar penghematan atau keberlanjutan. Hal ini dapat dilihat melalui bagaimana pergeseran kegiatan thrifting yang dahulu hanya dilakukan masyarakat kelas bawah tetapi seiring berjalannya waktu dilakukan oleh masyarakat kelas atas. Terbentuknya komunitas hingga segmentasi pasar yang mengalami pergeseran menjadi pertanda bahwa desublimasi simbol terjadi. Barang bekas yang dijual di thrift shop kini merupakan barang-barang dengan merek ternama dan harga yang tinggi. Display toko yang dipenuhi dengan brand luar negeri seperti Nike. Adidas. Puma. The North Face (TNF). Dickies. Stussy. MLB. Ralph Lauren, dan masih banyak lagi brand luar negeri lain yang dipatok dengan harga tinggi menunjukkan bahwa jual beli barang bekas tak lagi dilatar belakangi faktor ekonomi. Harga jual tiap barang yang rata-rata diatas lima ratus ribu rupiah menjadi pertanda bahwa nominal tinggi dapat menunjukkan kelas konsumen. Barang bekas yang menjadi tanda dari sesuatu yang besar dilihat melalui brand atau label pada barang tersebut. Nominal dan pemakai barang bekas yang dalam praktik kehidupan bermasyarakat memiliki privilege atau prestise juga menjadi faktor penunjang. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menggunakan teori utama masyarakat konsumen . onsumer societ. Jean Paul Budrillard, di mana dalam era masyarakat konsumtif memiliki banyak karakteristik baru. Pergeseran perilaku konsumsi yang tidak lagi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tetapi didasarkan motivasi untuk mendapat senses, kegembiraan, dan menghadirkan trend. Saat ini kegiatan konsumsi menjadi aktivitas komunikasi yang di dalamnya terdapat simbol-simbol sosial yang memuat status, prestise yang membentuk personalisasi diri sebagai perbandingan di antara anggota Berbelanja barang bekas atau thrifting yang harfiahnya untuk pengehematan sebagai bentuk konsumsi berkelanjutan kini bergeser menjadi sebuah gaya hidup. Konsumsi tanda maupun simbol dalam kegiatan thrift yang dilakukan masyarakat kelas atas menunjukkan bagaimana tahap simulacra terjadi. Jika golongan kelas bawah melakukan thrifting hanya karena alasan ekonomi dan keberlanjutan, berbeda dari masyarakat kelas atas yang memaknainya sebagai eksistensi diri dan pembentukan identitas. Pada masyarakat kelas atas konsumen Jombang Thrift Style, faktor ekonomi bukan merupakan satu-satunya alasan, selebihnya adalah soal makna dan representasi karena konsumsi tanda atau simbol. Bagaimana mereka dapat menghabiskan nominal yang tinggi dalan pembelian barang-barang branded merupakan sebuah pertunjukkan nyata yang dapat menggambarkan golongannya. Selain itu eksklusifitas dan sisi unik merupakan nilai tambah yang dihadirkan sebagai bentuk pembeda. Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 7 No. 2 Tahun 2023 Thrifting pada masyarakat kelas atas berhasil membentuk proses di mana simulasi berubah menjadi simulacra. Berbelanja barang bekas yang pada mulanya sebagai bentuk penghematan menjadi gaya hidup konsumtif di mana sebuah golongan menunjukkan eksistensinya melalui nilai tanda. Thrifting pada masyarakat kelas atas juga menunjukkan bentuk hyperreality di mana saat ini barang bekas membentuk persepsi sosial yang nilai dan makna barang bekas lebih daripada fungsi dan nilai materialnya. Thrifting yang dilakukan masyarakat kelas atas juga mengakibatkan desublimasi simbolis di mana barang bekas menjadi tanda yang lebih besar dan lebih kompleks dari hanya sekedar barang bekas guna dan aktifitas Berdasar hasil penelitian di atas, ada beberapa saran yang bisa dikemukakan, pertama, kepada konsumen Jombang Thrift Style agar tetap memperhatikan jumlah konsumsinya karena salah satu tujuan utama thrift adalah untuk mengurangi limbah Kedua, kepada distributor atau penjual barang thrift agar tetap menjaga kualitas dan kebersihan dari pakaian dan barang yang dijual, serta melakukan inovasi yang kreatif dalam pelaksanaan Jombang Thrift Style Event Market. Ketiga, saran untuk penelitian selanjutnya adalah, mengingat gaya hidup selalu berubah dan thrifting selalu mengalami perkembangan baik dalam trend fashion maupun segmen pasar maka dapat menjadi pertimbangan fokus yang akan diteliti dengan data-data kuantitatif yang memuat klasifikasi usia, jenis kelamin, pekerjaan, jenis pakaian yang konsumen sukai, dan lain sebagainya. DAFTAR PUSTAKA