Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 61-72 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/index. php/psikohumanika HUBUNGAN PROKRASTINASI AKADEMIK DAN EFIKASI DIRI DENGAN KETIDAKJUJURAN AKADEMIK PADA MAHASISWA DI SURABAYA Difa Prayustiana1*. Andik Matulessy2. Suhadianto3 1,2,3 Fakultas Psikologi. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ARTICLE INFO ABSTRACT Article History Be accepted: July 2024 Approved: April 2025 Published: June 2025 Universities are places where formal education can be found. Undergraduate students are the initial degree in taking education in college are generally aged 18-25 years, which means that in the review of developmental psychology students are in the emerging adulthood phase (Listyanti, 2. Facts in the field found that students tend to commit dishonesty or cheating which is then called academic dishonesty (Fitriana & Baridwan, 2. This study was conducted to determine the relationship between Academic Procrastination and Self-Efficacy with Academic Dishonesty in college students in Surabaya. This study used a correlational quantitative method. The sample in the study was 347 participants with the criteria of active students in Surabaya aged 18-25 years. The sampling technique used accidental sampling. Data analysis techniques using multiple regression analysis (R value = 0. Measurement of academic dishonesty data using a scale proposed by Lambert, academic procrastination using the Tuckman Procrastination Scale adapted by Suhadianto, measurement of self-efficacy data using Bandura's scale adapted by Kurniawan. The results show that there is a relationship between academic procrastination and self-efficacy with academic dishonesty (F value = 46. 573 with a significance of 0. Partial test results show a significant positive relationship between academic procrastination and academic dishonesty ( value = 0. Then the self-efficacy variable with academic dishonesty has a positive relationship ( value = 0. Based on the results of the study, the author hopes that the subjects are able to minimize academic dishonesty behavior by managing their time also being confident in their own abilities. Keywords: academic dishonesty. Alamat Korespondensi: Jl. Semolowaru No. 45 Surabaya. Indonesia 57127 E-mail: p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 difapray@gmail. andikmatulessy@untag-sby. Suhadianto@untag-sby. Difa Prayustiana1*. Andik Matulessy2. Suhadianto3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 61-72 ABSTRAK Sejarah Artikel Perguruan tinggi adalah tempat di mana pendidikan formal dapat ditemukan. Diterima: Mahasiswa strata satu adalah gelar awal dalam menempuh pendidikan Juli 2024 dibangku perkuliahan. Mahasiswa Strata Satu (S. secara umum berusia 18Disetujui: 25 tahun yang artinya dalam tinjauan psikologi perkembangan mahasiswa April 2025 berada pada fase dewasa awal . merging adulthoo. (Listyanti, 2. Fakta Dipublikasikan: pada lapangan ditemukan bahwa mahasiswa cenderung melakukan Juni 2025 ketidakjujuran atau kecurangan yang kemudian disebut dengan ketidakjujuran akademik (Fitriana & Baridwan, 2. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan Prokrastinasi Akademik dan Efikasi Kata Kunci: efikasi diri. ketidakjujuran Diri dengan Ketidakjujuran Akademik pada mahasiswa di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Sampel pada penelitian sebanyak 347 partisipan dengan kriteria mahasiswa aktif di Surabaya berusia 18-25 Tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan kuisioner. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi berganda . ilai R=0,. Pengukuran data ketidakjujuran akademik menggunakan skala yang dikemukakan oleh Lambert, prokrastinasi akademik menggunakan skala Tuckman Procrastination Scale yang di adaptasi bahasa Indonesia oleh Suhadianto, pengukuran data efikasi diri menggunakan skala Bandura yang di adaptasi oleh Kurniawan. Hasil menunjukkan terdapat hubungan antara prokrastinasi akademik dan efikasi diri dengan ketidakjujuran akademik . ilai F= 46,573 dengan signifikasi 0,. yang berarti terdapat hubungan signifikan. Hasil uji parsial menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara prokrastinasi akademik dan ketidakjujuran akademik . ilai =0,. Lalu variabel efikasi diri dengan ketidakjujuran akademik terdapat hubungan positif . ilai =0,. Berdasarkan hasil penelitian, penulis berharap subjek penelitian mampu meminimalisir perilaku ketidakjujuran akademik dengan mengatur waktu sebaik mungkin serta merasa yakin dengan kemampuan sendiri dan tidak mempengaruhi orang lain dalam berbuat tidak jujur secara akademik. INFO ARTIKEL PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu aspek penting yang dapat meningkatkan serta mengembangkan wawasan dan kemampuan dalam segi apapun. Hal tersebut berupa pengembangan sikap luhur, berpikir, serta keterampilan sosial guna mempersiapkan kedepannya. Pendidikan dapat ditempu melalui berbagai cara seperti pendidikan formal, non-formal, maupun Salah satu pendidikan formal yang dapat ditemukan adalah melalui perguruan tinggi (PT) (Sidjabat, 2. Dalam keseharian mahasiswa sebagai peserta didik pada perguruan tinggi tentunya memiliki permasalahan kompleks mengingat tanggung jawab yang dimiliki mahasiswa lebih besar dibandingkan pendidikan dalam strata sebelumnya. Mahasiswa Strata Satu (S. secara umum berusia 18-25 tahun yang artinya dalam tinjauan psikologi perkembangan mahasiswa berada pada fase dewasa awal . merging adulthoo. (Listyanti, 2. Pada kenyataannya tidak semua Mahasiswa Strata Satu (S. memiliki motivasi yang tinggi dalam menyelesaikan tanggung jawabnya selama menempuh pendidikan dengan usaha sendiri, fakta pada lapangan ditemukan bahwa mahasiswa yang terlalu mementingkan hasil belajar dibandingkan dengan proses belajar cenderung melakukan ketidakjujuran atau kecurangan yang kemudian disebut dengan ketidakjujuran akademik (Fitriana & Baridwan, 2. Lambert, dkk . mendefiniskan perilaku ketidakjujuran akademik adalah suatu tindakan ketidakjujuran atau usaha peserta didik dalam menggunakan cara, alat, atau sumber yang tidak diperbolehkan ketika Difa Prayustiana1*. Andik Matulessy2. Suhadianto3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 61-72 mengerjakan tugas. Terdapat enam aspek terkait ketidakjujuran akademik yaitu: . Menggunakan alat dan bahan yang tidak sah. Fabrikasi informasi. Membantu atau memberi kesempatan pada mahasiswa lain dalam berbuat ketidakjujuran serta . Melakukan plagiarism (Lambert dkk. Tindak ketidakjujuran akademik seperti menyontek atau melakukan plagiarisme sering kali dikaitkan dengan tahapan perkembangan moral yang rendah. Kohlberg . menjelaskan bahwa individu lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kurang mempertimbangkan norma sosial atau hukum. Adapun tiga tahapan perkembangan: . pra-konvensional, pada tahapan ini individu berperilaku berdasarkan konsekuensi langsung dari tindakan yang diperbuat. konvensional, individu lebih mementingkan norma sosial, aturan dan harapan Masyarakat. Individu memiliki prinsip moral yang kuat dan dapat mempertimbangkan nilai-nilai universal dan hak asasi manusia. Penelitian yang dilakukan oleh McCabe pada tahun 2020 melibatkan 840 mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi, mengungkapkan bahwa sebanyak 32% mengaku menyontek saat ujian, 2% melakukan kecurangan dengan menganggap pekerjaan orang lain sebagai pekerjaan pribadi, dan 25. 1% melakukan kecurangan dengan berbagai sumber elektronik, 28% melakukan kerjasama untuk menyelesaikan pekerjaan, 15% melakukan plagiarisme (International Center for Academic Integrity, 2. Fenomena tersebut dapat dibuktikan dari hasil penelitian dengan sampel sebanyak 263 mahasiswa Universitas Islam Bandung menunjukkan persentase 12,9% melakukan perilaku ketidakjujuran akademik (Husna dkk. , 2. Sebuah studi menjelaskan dampak dari ketidakjujuran akademik sendiri adalah dapat menyebabkan jatuhnya nama institusi perguruan tinggi sebagai penyelenggara pendidikan serta menimbulkan ketidakadilan dalam proses penilaian bagi mahasiswa yang melakukan ketidakjujuran akademik cenderung mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa lain yang menyelesaikan tugasnya dengan jujur, beberapa mahasiswa yang menyelesaikan tugasnya dengan jujur akan menimbulkan emosi negatif berupa perasaan marah dan kecewa sehingga menurunkan motivasi dalam berbuat jujur dan ikut terprovokasi dalam melakukan ketidakjujuran akademik (Whitley dan Keith-Spiegel, 2. Ketidakjujuran akademik memiliki beberapa faktor di antaranya rasa malas, motivasi belajar rendah, menuntut untuk sempurna dalam tugasnya serta perasaan yang timbul karena takut salah serta disebabkan oleh adanya prokrastinasi akademik dan efikasi diri yang rendah (Anderman dan Murdrock, 2007. Uswati dkk, 2022. Syahrina, 2. Seorang individu yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan dalam kurun waktu tertentu dan kerap terlambat dalam disimpulkan sebagai prokrastitinasi akademik (Djamarah, 2. Tuckman . mendefinisikan prokrastinasi akademik adalah kecenderungan individu untuk menunda atau menghindari suatu tugas secara sadar dengan asumsi bahwa mengerjakan tugas adalah hal yang tidak menyenangkan, sehingga individu tersebut memilih untuk menunda atau bahkan tidak mengerjakan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab untuk diselesaikan dan lebih memilih untuk mengerjakan aktivitas lain yang menurut individu tersebut lebih menyenangkan. Berdasarkan temuan oleh peneliti lain terkait penyebab terjadinya ketidakjujuran akademik selain prokrastinasi akademik adalah rendahnya efikasi diri pada mahasiswa. Bandura pada tahun 1997 menjelaskan bahwa efikasi diri mengacu pada keyakinan akan kemampuan individu untuk menggerakan motivasi, kemampuan kognitif, dan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan situasi. Keyakinan tersebut dapat mempengaruhi besarnya usaha dalam dalam mencapai Efikasi diri juga termasuk kedalam aspek penting yang berperan pada aktivitas setiap Difa Prayustiana1*. Andik Matulessy2. Suhadianto3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 61-72 Individu dengan efikasi diri tinggi cenderung memanfaatkan kemampuan yang dimiliki secara maksimal dalam kesehariannya untuk menyelesaikan tugas-tugas (Rustika, 2. Menurut Bandura . , efikasi diri memiliki tiga dimensi sebagai berikut: . Tingkatan. Individu dengan tingkat efikasi diri yang tinggi merasa mampu mengatasi masalah yang sulit, sedangkan individu dengan tingkat efikasi diri rendah hanya merasa mampu menyelesaikan tugastugas yang sederhana. Keterluasan. Individu dengan efikasi diri tinggi akan merasa mampu bertindak dalam berbagai situasi, sedangkan individu dengan efikasi diri rendah hanya merasa mampu bertindak pada situasi tertentu. Kekuatan. Individu dengan kekuatan efikasi diri tinggi memiliki ketahanan dalam menghadapi masalah sulit, mempu menghadapi rintangan, dan memiliki kekuatan dalam menyelesaikan tugas. Sedangkan apabila individu memiliki kekuatan efikasi diri rendah maka individu cenderung merasa kemampuannya lemah dan mudah goyah dalam menghadapi rintangan. Faktor yang mempengaruhi efikasi diri menurut Bandura . adalah: . penglaman orang lain. persuasi sosial. keadaan fisiologis dan emosional. Penelitian oleh Santrock . menjelaskan bahwa terdapat empat strategi yang meningkatkan efikasi diri, diantaranya: . memilih tujuan yang realistis untuk dicapai. memisahkan pengalaman masa lalu dari rencana yang sedang dan akan dilakukan agar tidak mempengaruhi . memperhatikan dan mempertahankan prestasi yang baik. membuat daftar situasi atau kegiatan yang dihadapi. Berdasarkan latar belakang di atas penulis kemudian ingin meneliti lebih jauh terkait ketidakjujuran akademik. Serta berdasarkan referensi yang ada penulis kemudian memiliki fokus penelitian dengan judul Hubungan Prokrastinasi Akademik dan Efikasi Diri dengan Ketidakjujuran Akademik pada Mahasiswa di Surabaya. Hipotesis yang didapatkan berdasarkan latar belakang adalah: . Apakah terdapat hubungan antara prokrastinasi akademik dan efikasi diri dengan ketidakjujuran akademik pada mahasiswa?. Apakah terdapat hubungan antara prokrastinasi akademik dengan ketidakjujuran akademik pada mahasiswa?. Apakah terdapat hubungan antara efikasi diri dengan ketidakjujuran akademik pada mahasiswa? METODE Partisipan pada penelitian ini adalah mahasiswa aktif S1 dari Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya. Partisipan dalam penelitian ini diambil menggunakan Teknik accidental sampling dengan bantuan Google Form yang disebar melalui berbagai media sosial baik itu X, instagram, dan whatsapp dengan rentan waktu 1 Mei 2024-1 Juni 2024. Accidental sampling memiliki potensi bias cukup tinggi dikarenakan pengambilan sampel dilakukan berdasarkan kemudahan akses, sehingga peneliti memerlukan screening jawaban. Hasil Google Form setelah melalui proses screening mendapatkan jumlah responden sebanyak 347 Skala Ketidakjujuran Akademik didapatkan berdasarkan aspek Lambert . , yang terdiri dari 19 butir item pernyataan ( = 0,. , variabel prokrastinasi akademik diukur menggunakan Tuckman Procrastination Scale (TPS) versi bahasa Indonesia yang di adaptasi oleh Suhadianto . serta terdiri dari 11 butir item pernyataan ( = 0,. , sementara itu untuk mengukur Efikasi Diri menggunakan alat ukur adaptasi Kurniawan . yang diambil dari aspek Bandura . yang terdiri dari 19 item pernyataan ( = 0,. Pengujian data penelitian menggunakan uji normalitas, linieritas, multikoliniertitas, heteroskedastisitas serta regresi berganda dan uji deskriptif statistik untuk melihat gambaran kategorisasi. Analisis data dilakukan dengan bantuan program Statistical Package For Science (SPSS) versi 16. Difa Prayustiana1*. Andik Matulessy2. Suhadianto3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 61-72 HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil perhitungan daru kuisoner yang ada, terdapat sebanyak 347 responden yang berasal dari Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta Ketidakjujuran Akademik Prokrastinasi Akademik Efikasi Diri Tabel 1. Realibilitas alat ukur Realibilitas Berdasarkan hasil perhitungan statisik, nilai relibialitas alat ukur Ketidakjujuran akademik sebesar 0,907, prokrastinasi akademik 0,915, dan efikasi diri 0,894 maka alat ukur bersifat reliable dan mengukur apa yang seharusnya diukur. Variabel Ketidakjujuran Akademik Interval X < 44 44 O X O 50 O 50 Prokrastinasi Akademik X < 22 22 O X O 33 O 33 Efikasi Diri X < 45 45 O X O 33 O 63 Tabel 2. Data Deskriptif Kategori Rendah Jumlah Persentase Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total Responden yang berada dalam rentang ketidakjujuran akademik tinggi berjumlah 300 mahasiswa dengan persentase sebesar 86% dan rendah berjumlah 46 mahasiswa dengan persentase sebesar 13%. Kemudian responden yang berada dalam rentang prokrastinasi akademik tinggi berjumlah 114 mahasiswa dengan persentase 33%, sedang berjumlah 185 mahasiswa dengan persentase 53%, dan rendah berjumlah 48 mahasiswa dengan persentase 14%. Sedangkan pada variabel efikasi diri, diketahui dalam kategori rendah sebanyak 8 partisipan mahasiswa dengan persentase 2%. Kategori sedang sebanyak 232 partisipan mahasiswa dengan persentase 67%. Kategori sebanyak 94 partisipan mahasiwa dengan persentase 27% Hasil Uji normalitas dilakukan untuk menguji normal atau tidaknya suatu sebaran data menggunakan KolmogorovSmirnov dengan bantuan SPSS versi 25 for windows. Syarat data dapat dikatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikansi >0,05. Sebaliknya, jika nilai signifikasi maka data tersebut tidak berdistribusi normal atau tidak memenuhi syarat asumsi normalitas. Difa Prayustiana1*. Andik Matulessy2. Suhadianto3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Variabel Residual . rokrastinasi akademik dan efikasi diri dengan ketidakjujuran Tabel 3. Hasil uji normalitas ketiga variabel Sig. 0,090 Hal 61-72 Keterangan Normal Berdasarkan tabel diatas nilai signifikasi >0. 05 maka data terdistribusi normal Pada Uji Linieritas atau Test for linierity pada progam SPSS versi 25 for Windows yang digunakan untuk menguji linieritas pada penelitian ini. Hubungan antar variabel dikatakan linier apabila mendapatkan nilai signifikasi <0,05 Sebaliknya, jika nilai signifikasi maka hubungan antar variabel dinyatakan tidak linier. Tabel 4. Hasil uji linieritas Variabel Ketidakjujuran Akademik Ae Prokrastinasi Akademik Ketidakjujuran Akademik Ae Efikasi Diri Sig. 0,000 Keteragan Linier 0,000 Linier Berdasarkan tabel diatas nilai signifikasi <0,05 maka data terdistribusi linier Kemudian pada uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji dalam sebuah model regresi yang ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas satu dengan lainnya (Hadi, 2. Uji multikolinieritas dapat diketahui menggunakan Tolerance dan VIF (Variance Inflation Facto. Model regresi dapat dikatakan bebas dari multikolinieritas apabila nilai VIF 0,10. Dari perhitungan yang ada pada tabel hasil uji multikolinearitas, diperoleh nilai tolerance untuk semua variabel > 0,10 dan nilai VIF < 10, maka model regresi tersebut tidak mengalami multikolinearitas. Variabel Prokrastinasi Akademik Efikasi Diri Tabel 5. Hasil uji multikolinieritas Tolerance VIF 0,986 1,014 0,986 Difa Prayustiana1*. Andik Matulessy2. Suhadianto3 1,014 Keterangan Tidak terjadi Tidak terjadi Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 61-72 Berdasarkan tabel diatas nilai VIF < 10 dan tolerance > 0,10 maka data dapat dikatakan tidak terjadi mulkolinieritas. Uji heteroskedastistas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya (Hadi, 2. Model regresi dapat dikatakan baik apabila tidak terjadi heteroskedastistas karena dapat mengakibatkan ketidak akuratan hasil analisis regresi. Hal tersebut dapat dilihat dari Absolut Residual pada variabel bebas. Apabila hasil Absolut Residual > 0,05 maka dapat dikatakan tidak terjadi Tabel 6. Hasil uji heteroskedastisitas Variabel p-value Keterangan Kesimpulan Prokrastinasi 0,742 > 0,05 Tidak terjadi Akademik Efikasi Diri 0,309 >0,05 Tidak terjadi Berdasarkan tabel diatas nilai absolut residual > 0,05 maka dapat dikatakan tidak terjadi Tabel 7. Hasil uji hipotesis Variabel Sig. Square Prokrastinasi akademik dan 46,573 0,000 0,462 0,213 efikasi diri terhadap ketidakjujuran akademik Berdasarkan tabel diatas diperoleh hasil analisis data melalui analisis regresi berganda yang menggunakan bantuan progam (SPSS) versi 25 for Windows, analisis statistik hubungan variabel prokrastinasi akademik dan efikasi diri secara simultan terhadap ketidakjujuran akademik memperoleh nilai F = 46,753 dengan signifikasi 0,000 < 0,05 yang berarti terdapat hubungan negatif yang signifikan antara prokrastinasi akademik dan efikasi diri dengan ketidakjujuran Uji koefisien determinan memperoleh skor R-square pada variabel bebas yaitu variabel independen (Prokrastinasi Akademik. Efikasi Dir. dalam menerangkan perubahan variabel dependen (Ketidakjujuran Akademi. sebesar 21,3% sisanya 78,7% dijelaskan oleh variabel lain diluar model regresi yang dianalisis. Berdasarkan hasil uji parsial pada variabel prokrastinasi akademik memperoleh nilai (= 0,205. t= 5,. dengan signifikasi 0,000 yang berarti terdapat hubungan positif yang signifikan antara prokrastinasi akademik dengan ketidakjujuran akademik sehingga semakin tinggi perilaku prokrastinasi akademik, maka semakin tinggi ketidakjujuran akademik yang dimiliki. Sedangkan hasil uji parsial pada variabel efikasi diri memperoleh nilai (= 0,255. t= 8,. dengan signifikasi 0,000 yang berarti terdapat hubungan positif yang signfikan antara efikasi diri dengan ketidakjujuran akademik. Difa Prayustiana1*. Andik Matulessy2. Suhadianto3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Variabel Prokrastinasi Akademik Ketidakjujuran Akademik Efikasi Diri Ketidakjujuran Akademik Tabel 8. Hasil uji parsial Sig. Hal 61-72 0,205 5,925 0,000 Signifikan 0,255 8,260 0,000 Signifikan Adapun persamaan regresi linier pada penelitian ini sebagai berikut: Y=35,627 0,205XCA 0,255XCC e Berdasarkan hasil data penelitian di atas menunjukkan bahwa secara simultan terdapat hubungan positif antara prokrastinasi akademik dan efikasi diri dengan ketidakjujuran akademik pada mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa Prokrastinasi Akademik yang tinggi dan Efikasi Diri yang tinggi memiliki hubungan yang signifikan sehingga dapat meningkatkan ketidakjujuran akademik yang terjadi pada mahasiswa. Dari penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama pada penelitian ini dapat diterima. Sejalan dengan hipotesis yag dijawab, prokrastinasi akademik dan efikasi diri merupakan salah satu penyebab dari munculnya ketidakjujuran akademik yang terjadi di lingkungan mahasiswa (Syahrina & Ester, 2016. Prasetyo & Handayani, 2. Dari hasil uji parsial, maka hipotesis kedua pada penelitian ini diterima dan menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara prokrastinasi akademik dengan ketidakjujuran akademik pada mahasiswa. Prokrastinasi akademik yang dimiliki mahasiswa di Universitas di Surabaya sangat berpengaruh pada tingkat perilaku ketidakjujuran akademik yang ada. Artinya mahasiswa yang memiliki prokrastinasi akademik yang tinggi kemungkinan akan melakukan tindak ketidakjujuran akademik. Begitupun sebalikanya, mahasiswa dengan prokrastinasi akademik yang rendah akan mampu merencanakan kegiatan positif yang menunjang akademik sehingga mengurangi tindak ketidakjujuran akademik, sehingga perilaku ketidakjujuran akademik juga semakin rendah. Hal tersebut di dukung oleh penelitian Amiruddin dkk . yang menjelaskan bahwa terdapat hubungan positif antara prokrastinasi akademik dan ketidajujuran akademik, karena mahasiswa cenderung melakukan ketidakjujuran akademik untuk menebus waktu yang terbuang sebagai akibat dari prokrastinasi akademik yang telah dilakukan agar tugas-tugasnya dapat segera terselesaikan. Dari hasil uji parsial yang ketiga, hipotesis kedua pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan negatif antara efikasi diri dengan ketidakjujuran akademik, dengan kata lain hipotesis ditolak. Hasil penelitian mengungkapkan efikasi diri yang dimiliki mahasiswa di Universitas di Surabaya termasuk pada kategori sedang. Namun, pada penelitian kali ini mahasiswa yang memiliki nilai efikasi tinggi dan sedang cenderung melakukan tindak ketidakjujuran akademik dengan bekerjasama dengan mahasiswa lain dalam bertindak ketidakjujuran akademik. Hal tersebut dibuktikan dari jumlah persentase 1,6% memilih antara setuju dan sangat setuju dalam hal berdiskusi mengenai jawaban dengan teman saat ujian. Difa Prayustiana1*. Andik Matulessy2. Suhadianto3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 61-72 memberikan bocoran informasi ujian pada mahasiswa lain yang belum mengerjakan ujian, serta bergabung dengan mahasiswa lain untuk berbagi jawaban. Hal tersebut menjawab mengapa efikasi diri memiliki hubungan positif dengan ketidakjujuran akademik. Maka dalam kata lain, mahasiswa yang memiliki efikasi diri tinggi belum tentu tidak melakukan ketidakjujuran Mahasiswa Strata Satu (S. secara umum berusia 18-25 tahun yang artinya dalam tinjauan psikologi perkembangan mahasiswa berada pada fase dewasa awal (Listyanti, 2. Berdasar karakteristik dewasa awal cenderung lebih memperhatikan karir yang sudah ditargetkannya dan tegas dalam mengeksplorasi identitas jika dibandingkan pada fase sebelumnya yaitu remaja awal (Santrock, 2. Pada tahap ini ada beberapa hal yang mampu mempengaruhi mahasiswa dalam melakukan sesuatu, salah satunya kepercayaan diri dalam menyelesaikan pekerjaan. Mahasiswa yang memiliki kepercayaan diri rendah dalam memecahkan masalah serta menyelesaikan pekerjaan akan cenderung sulit untuk mengevaluasi kemampuan dan kompetensi dirinya untuk menyelesaikan tugas, mencapai tujuan dan mengatasi hambatan yang ditemuinya (Manuntung. Penelitian ini juga memberikan hasil bahwa prokrastinasi akademik pada mahasiswa di Universitas di Surabaya termasuk dalam kategori sedang dengan 185 partisipan atau sebesar 53% yang artinya mahasiswa cenderung kurang mampu memprioritaskan tugas akademik dengan baik sehingga rencana yang seharusnya dapat menyelesaikan tugas secara tepat waktu malah digunakan untuk aktivitas lain yang menyenangkan sehingga dapat menimbulkan adanya ketidakjujuran akademik guna menyelesaikan tugas sesuai target yang telah direncanakan Mahasiswa yang melakukan ketidakjujuran akademik dalam aktivitas akademik akan menimbulkan generasi baru dalam melakukan tindak kecurangan di masa depan, sehingga diperlukan pengendalian waktu dan emosi sebagai motivasi dalam pengerjaan tugas guna penyelesaian tugas serta tanggung jawab sebagai mahasiswa dapat diselesaikan sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan. Begitu pula dengan efikasi diri yang dimiliki mahasiswa di Universitas di Surabaya yang termasuk dalam kategori sedang dengan 232 partisipan atau sebesar 67% yang artinya mahasiswa cenderung cukup percaya diri dan yakin terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas. Kemudian dari hasil kategori ketidakjujuran akademik pada partisipan penelitian ini dapat diketahui bahwa mahasisa di Universitas di Surabaya termasuk dalam tingkatan kategori tinggi dengan 300 partisipan atau sebesar 80%. Apabila dikaitkan dengan hasil penelitian, mahasiswa yang memiliki efikasi diri tinggi belum tentu dapat menurunkan perilaku ketidakjujuran akademik. Hal tersebut terlihat dari hasil peneliti yang mengungkapkan bahwa terdapat hubungan positif antara efikasi diri dengan ketidakjujuran Mahasiswa dengan prokrastinasi akademik tinggi akan memiliki perilaku ketidakjujuran akademik yang rendah, hal tersebut di dukung penelitian oleh Prasetyo dan Handayani . yang berjudul AuProkrastinasi Akademik dan Kecurangan Akademik Pada Mahasiswa yang Kuliah Sambil BekerjaAy. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai korelasi r = 0,503 . < 0,. yang berarti terdapat hubungan positif antara prokrastinasi akademik dan kecurangan Penelitian lainnya dengan judul AuProkrastinasi dan Kecurangan Akademik pada MahasiswaAy oleh Amiruddin dkk . dengan partisipan sebanyak 378 responden asal Universitas Negeri Makassar dengan nilai korelasi r=0,662 dengan nilai signifikasi p=0,000 yang artinya memiliki hubungan positif. Hal tersebut menjelaskan bahwa semakin tinggi prokrastinasi akademik maka semakin tinggi pula ketidakjujuran akademik. Berdasarkan hasil analisis ini maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dinyatakan diterima. Difa Prayustiana1*. Andik Matulessy2. Suhadianto3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 61-72 SIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara prokrastinasi akademik dan efikasi diri dengan ketidakjujuran akademik. Subjek penelitian ini merupakan mahasiswa di Surabaya yang berjumlah 347 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara prokrastinasi akademik dan efikasi diri dengan ketidakjujuran akademik pada mahasiswa di Surabaya. Pada hipotesis kedua terdapat hubungan positif antara prokrastinasi akademik dengan ketidakjujuran akademik pada mahasiswa di Surabaya. Sedangkan pada hipotesis ketiga terdapat hubungan positif antara efikasi diri dengan ketidakjujuran akademik, yang menunjukkan bahwa hipotesis ketiga dalam penelitian ini ditolak. Hal ini di dukung oleh teori dari Lambert . yang dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang memiliki efikasi diri tinggi memiliki potensi untuk melakukan ketidakjujuran akademik. Difa Prayustiana1*. Andik Matulessy2. Suhadianto3 Jurnal Psikohumanika. Volume 17. No 1 Juni 2025 Hal 61-72 DAFTAR PUSTAKA