Tahun . Vol. Nomor . Bulan (Novembe. Halaman . https://doi. org/10. 53544/sapa/v10i2. Kasih Allah Dalam Pergumulan Iman Para Leluhur Israel: Kajian Biblis dan Makna Teologis-Spiritual Bagi Umat Kontemporer Yanto Sandy Tjang1* Mayong Andreas Acin2 Alfeus Sunarso3 Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Indonesia Abstrak Penulis koresponden Nama : Yanto Sandy Tjang Surel : ystjang17766@gmail. ManuscriptAos History Submit : September 2025 Revisi : Oktober 2025 Diterima : November 2025 Terbit : November 2025 Kata-kata kunci: Kata kunci 1 Kasih Allah Kata kunci 2 Patriark- Matriark Kata kunci 3 Spiritualitas Biblis Kata kunci 4 Teologi Perjanjian Lama Copyright A 2025 STP- IPI Malang Penelitian ini menelaah pergumulan iman para leluhur Israel: Abraham. Sarah. Ishak. Ribka. Yakub. Lea. Rahel, dan Yusuf, sebagai cerminan kasih Allah yang aktif, setia, dan transformatif. Dengan pendekatan kualitatif-teologis berbasis studi kepustakaan, kajian ini menyoroti pola kasih Allah melalui panggilan, janji, pengujian, pemeliharaan, dan penggenapan yang tercermin dalam kehidupan para patriark dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa Abraham dan Sarah menjadi teladan keberanian dan kepercayaan dalam menghadapi Ishak memelihara janji lintas generasi. Ribka. Lea, dan Rahel menegaskan peran aktif perempuan dalam penggenapan rencana Yakub mengalami transformasi iman melalui pergumulan pribadi dan keluarga. serta Yusuf menampilkan penyertaan Allah dalam penderitaan yang menghasilkan berkat. Temuan ini menegaskan bahwa kasih Allah hadir di tengah kerapuhan dan konflik manusia, mendorong partisipasi aktif umat dalam rencana ilahi. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian teologi Perjanjian Lama sekaligus memperkaya refleksi spiritual kontemporer mengenai iman yang dinamis dan Abstract Corresponding Author Name : Yanto Sandy Tjang E-mail : ystjang17766@gmail. ManuscriptAos History Submit : September 2025 Revision : October 2025 Accepted : November 2025 Published : November 2025 Keywords: Keyword 1 Biblical Spirituality Keyword 2 GodAos Love Keyword 3 Old Testament Theology Keyword 4 Patriarch - Matriarch Copyright A 2025 STP- IPI Malang This study explores the faith journeys of Israelite ancestors: Abraham. Sarah. Isaac. Rebekah. Jacob. Leah. Rachel, and Joseph, as exemplifications of GodAos active, faithful, and transformative love. Employing a qualitative-theological methodology grounded in library research, the study analyzes patterns of divine love manifested through calling, promise, testing, providence, and fulfillment within the lives of the patriarchs and matriarchs. Findings indicate that Abraham and Sarah model courage and trust amid uncertainty. Isaac safeguards the generational continuity of GodAos promise. Rebekah. Leah, and Rachel highlight the proactive role of women in the divine plan. Jacob experiences faith transformation through personal and familial and Joseph illustrates GodAos providential care in adversity, resulting in blessing. The study affirms that GodAos love operates even within human fragility and conflict, inviting active engagement in divine purposes, and contributes to Old Testament theology while offering insights for contemporary spiritual reflection on dynamic and transformative faith. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Yanto Sandy Tjang | Kasih Allah dalam Pergumulan Iman Pendahuluan Kisah pergumulan iman para leluhur Israel menjadi fondasi penting dalam pembentukan identitas teologis umat Allah yang kaya akan makna. Narasi-narasi ini tidak semata-mata berfungsi sebagai catatan sejarah asal-usul bangsa Israel, melainkan juga sebagai kesaksian iman yang hidup mengenai kasih Allah yang memanggil, menuntun, menguji, dan memelihara umat-Nya di tengah keterbatasan manusia. Dalam tradisi Alkitab, kisah para leluhur Israel menjadi pola konseptual yang membimbing pemahaman hubungan Allah dengan umat-Nya, khususnya terkait perjanjian, panggilan, janji, dan penggenapan (Takaliuang, 2. Panggilan Abraham untuk meninggalkan Ur dan menapaki tanah yang belum dikenal (Kej. 12:1Ae. menandai inisiatif kasih Allah yang memilih dan memanggil tanpa mempertimbangkan prestasi manusia. Janji keturunan bagi Abraham dan Sarah, meskipun secara biologis tampak mustahil, memperlihatkan kesetiaan Allah yang melampaui keterbatasan manusia. Ishak, sebagai anak janji, menjadi bukti penggenapan tersebut. sementara Ribka, dengan meninggalkan keluarganya untuk mengikuti panggilan Allah, menegaskan keberanian iman yang aktif. Transformasi iman Yakub, yang bergumul di tepi sungai Yabok dan kemudian dinamai Israel (Kej. 32:24Ae. , menampilkan perubahan dari penipu menjadi penerima berkat sejati. Dinamika rumah tangga Lea dan Rahel, penuh kecemburuan dan persaingan, menjadi sarana lahirnya suku-suku Israel, memperlihatkan bagaimana Allah bekerja melalui relasi manusia yang rapuh. Puncaknya, kisah Yusuf di Mesir menegaskan pemeliharaan Allah dalam penderitaan dan pengkhianatan, sehingga menghasilkan keselamatan bagi keluarganya sendiri (Kej. (Rumanto, 2. Pergumulan iman para leluhur Israel menyampaikan pesan yang relevan lintas zaman: kasih Allah hadir tidak hanya dalam kondisi ideal, tetapi juga dalam kerapuhan dan konflik. Kasih itu bersifat aktif, setia, dan transformatif, mengundang manusia untuk berpartisipasi dalam rencana keselamatan yang lebih luas. Oleh karena itu, pembacaan ulang kisah para patriark dan matriark tidak hanya berfungsi untuk memahami pembentukan identitas Israel, tetapi juga memperkaya refleksi teologis dan spiritual umat masa kini (Adelman, 2. Kajian akademis terkini menekankan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam memahami dinamika kasih Allah dalam narasi para leluhur Israel. Ndishua . menyoroti ciri khas agama Israel pada masa patriarkal yang membedakannya dari praktik keagamaan bangsa lain, sehingga memperdalam pemahaman tentang keunikan panggilan Abraham dan St Andrews Encyclopaedia of Theology menegaskan peran matriark: Sarah. Ribka. Lea, dan Rahel, sebagai figur yang aktif berpartisipasi dalam penggenapan janji Allah, bukan sekadar pendamping patriark (Adelman, 2. Lombaard . meneliti bagaimana narasi patriark dan matriark dimanfaatkan oleh para nabi selama masa pembuangan untuk membangun pengharapan dan identitas umat yang menghadapi krisis. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa kisah kasih Allah dalam kehidupan para leluhur Israel bersifat dinamis, terus diinterpretasikan sesuai konteks umat sepanjang zaman. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Yanto Sandy Tjang | Kasih Allah dalam Pergumulan Iman Berdasarkan latar tersebut, penelitian ini bertujuan menelaah secara mendalam ekspresi kasih Allah dalam pergumulan iman para leluhur Israel. Dengan pendekatan biblis-teologis, penelitian ini menguraikan dimensi-dimensi kasih Allah yang tercermin dalam panggilan, janji, pengujian, pemeliharaan, dan penggenapan yang dialami Abraham. Sarah. Ishak. Ribka. Yakub. Lea. Rahel, dan Yusuf. Pendekatan ini diharapkan memberikan kontribusi pada kajian teologi Perjanjian Lama sekaligus memperkaya refleksi spiritual kontemporer, menegaskan relevansi dan inspirasi kasih Allah, yang dinyatakan melalui pergumulan iman para leluhur Israel, bagi umat beriman masa kini. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-teologis dengan metode studi Sumber data primer diperoleh dari teks Kitab Suci, khususnya Kejadian 12Ae 50, yang memuat narasi tentang para leluhur Israel: Abraham. Sarah. Ishak. Ribka. Yakub. Lea. Rahel, dan Yusuf. Analisis dilakukan melalui pendekatan biblis-teologis, yang menekankan kajian teks dalam konteks literer dan teologis, guna mengidentifikasi pola kasih Allah yang terwujud melalui panggilan, janji, pengujian, pemeliharaan, dan penggenapan. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan sumber sekunder, meliputi artikel jurnal, buku, dan ensiklopedia teologi kontemporer, sebagai bahan pendukung interpretasi. Proses analisis dilaksanakan secara deskriptif-interpretatif, yakni dengan mendeskripsikan pergumulan iman para leluhur Israel berdasarkan data teks dan literatur, kemudian menafsirkan makna teologisnya dalam kerangka kasih Allah yang aktif, setia, dan Pendekatan ini memungkinkan penelitian tidak hanya menyajikan uraian historis tentang kisah para leluhur Israel, tetapi juga memberikan refleksi teologis-spiritual yang relevan bagi pemahaman iman masa kini. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan kontribusi ganda: memperdalam kajian teologi Perjanjian Lama sekaligus memperkaya perspektif spiritual bagi umat beriman kontemporer. Hasil dan Pembahasan Abraham: Bapa Orang Beriman Dalam tradisi biblis. Abraham menempati posisi fundamental sebagai tokoh yang pertama kali menerima panggilan personal dari Allah untuk meninggalkan pola hidup sebelumnya dan memasuki realitas baru yang dibentuk oleh janji Ilahi (Widianto, 2. Ajakan dalam Kejadian 12:1Ae3 tersebut menjadi kerangka paradigmatik mengenai iman: Allah memanggil, menjanjikan berkat, dan menuntut respons ketaatan. Oleh karena itu. Abraham dihormati dalam tradisi Yahudi. Kristen, dan Islam sebagai bapa segala orang beriman (Ndishua, 2. Panggilan terhadap Abraham menggambarkan keberanian eksistensial untuk melepaskan tanah kelahiran, kerabat, dan rumah bapanya tanpa kepastian arah yang jelas. Hal ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar konsep teoretis, melainkan tindakan penyerahan penuh kepada tuntunan dan kasih Allah. Kasih Allah termanifestasi dalam janji tentang keturunan (Kej. , tanah (Kej. , dan berkat bagi semua bangsa (Kej. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Yanto Sandy Tjang | Kasih Allah dalam Pergumulan Iman Meski demikian, perjalanan menuju penggenapan janji tersebut tidak bebas dari ketegangan, khususnya karena kemandulan Sarah, yang kemudian melahirkan inisiatif manusiawi melalui Hagar (Kej. Allah tetap meneguhkan komitmen-Nya melalui perjanjian sunat (Kej. dan pengumuman kelahiran Ishak (Kej. 18:10Ae. St Andrews Encyclopaedia of Theology menegaskan bahwa Sarah berperan aktif sebagai matriark dalam penggenapan janji tersebut, sekaligus menolak asumsi mengenai kepasifannya (Adelman, 2. Puncak pengujian iman Abraham tampak dalam perintah untuk mempersembahkan Ishak sebagai kurban (Kej. Narasi ini menyingkap karakter Allah yang menuntut kemurnian iman dan menolak praktik persembahan manusia (Halawa & Putrawan, 2. Abraham menunjukkan ketaatan karena percaya bahwa Allah yang memberi janji juga berkuasa memelihara atau memulihkan . Ibr. 11:17Ae. Kisah ini membentuk pola keselamatan yang menampilkan penyediaan kurban pengganti oleh Allah (Kej. Lombaard . menunjukkan bahwa cerita AbrahamAeIshak kemudian direinterpretasi oleh teks-teks profetik dan tulisan pasca-pembuangan untuk memperkuat identitas dan harapan komunitas yang sedang berada dalam masa krisis. Selain itu. Abraham juga berdialog dengan Allah, seperti terlihat dalam intervensinya terkait nasib Sodom dan Gomora (Kej. 18:16Ae. Hal ini menegaskan bahwa iman bukan sekadar ketaatan pasif, tetapi mencakup keterlibatan aktif dalam pergumulan etis. Keseluruhan perjalanan hidup Abraham memperlihatkan bahwa iman merupakan relasi yang dinamis antara manusia dan Allah. Abraham meninggalkan, menanti, berharap, gagal, bangkit kembali, diuji, dan akhirnya diteguhkan. Kasih Allah tampak dalam kesabaran dan kesetiaan-Nya menuntun Abraham dalam proses pertumbuhan iman yang panjang. Narasi ini juga mengungkap karakter Allah yang memanggil, menyertai, berdialog, dan menyediakan pertolongan, bahkan dalam situasi yang tampaknya mustahil. Peran Sarah menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan berperan sebagai mitra aktif dalam sejarah Dengan demikian, kisah Abraham menggarisbawahi prinsip bahwa iman sejati berakar pada kepercayaan total kepada Allah yang setia (Woran, et al. , 2. Kisah Abraham memberikan model iman yang bertahap, dinamis, dan terus Dalam konteks dunia kontemporer yang diwarnai ketidakpastian global: meliputi perubahan sosial, krisis ekologis, dan dinamika politik, komunitas beriman diundang untuk meneladani Abraham dalam mengandalkan kasih Allah, sekalipun arah masa depan belum sepenuhnya jelas. Iman tidak meniadakan pergumulan, tetapi memampukan manusia untuk bertumbuh melalui dialog, ketaatan, dan kesetiaan. Figur Abraham dengan demikian menjadi inspirasi universal bahwa perjalanan iman merupakan panggilan untuk terus berjalan bersama Allah yang penuh kasih dan setia (Ruy & Hendi, 2. Sarah: Teladan Iman dalam Keterbatasan Sarah muncul sebagai figur penting lainnya dalam narasi Alkitab. Dia bukan sekadar sebagai istri Abraham, melainkan sebagai tokoh yang berinteraksi secara langsung dengan janji Allah. Kitab Kejadian menggambarkan Sarah sebagai perempuan yang menghadapi keterbatasan biologis, mandul hingga usia lanjut. namun ia tetap menjadi bagian integral dari https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Yanto Sandy Tjang | Kasih Allah dalam Pergumulan Iman penggenapan janji keturunan yang Allah sampaikan kepada Abraham (Kej. 11:30. 17:15Ae Kisahnya mencerminkan pergumulan antara realitas manusiawi dan janji ilahi, menegaskan bahwa kasih Allah tidak dibatasi oleh kondisi manusia (Pardosi, 2. Perjalanan iman Sarah ditandai oleh dinamika yang kompleks, bukan kepasifan. Keraguannya terhadap janji Allah terlihat ketika ia tertawa mendengar kabar kelahiran seorang anak pada usia lanjut (Kej. 18:12Ae. Sarah juga mengambil langkah inisiatif dengan memberikan Hagar kepada Abraham untuk memperoleh keturunan (Kej. 16:1Ae. , yang kemudian menimbulkan konflik tambahan. St Andrews Encyclopaedia of Theology menekankan bahwa para matriark, termasuk Sarah, merupakan agen aktif dalam sejarah keselamatan, berkontribusi terhadap pembentukan identitas umat Allah, bukan sekadar tokoh pendamping pasif (Adelman, 2. Kelahiran Ishak menjadi bukti konkret penggenapan janji Allah sekaligus titik transformasi iman Sarah. Surat Ibrani 11:11 menegaskan bahwa iman Sarah dimurnikan melalui proses panjang yang mencakup pergumulan, keraguan, dan pengharapan. Ndishua . menyoroti bahwa figur Sarah memperluas pemahaman tentang iman sebagai proses pembelajaran yang terus berkembang, bukan sikap yang sempurna sejak awal. Kisah Sarah menyingkap dimensi kasih Allah yang sabar, penuh pengertian, dan kreatif. Allah tidak menolak keraguannya, melainkan menjadikan keraguan itu bagian dari proses penggenapan janji. Hal ini menunjukkan bahwa kasih Allah bersifat transformatif: Ia menguatkan yang lemah, memulihkan yang putus asa, dan menjadikan keterbatasan manusia sebagai sarana pewahyuan kuasa-Nya. Kisah Sarah juga menegaskan bahwa iman bukan kondisi yang sempurna sejak awal, melainkan suatu proses pertumbuhan yang melibatkan pergumulan, ketidakpastian, dan penyerahan diri (Pardosi, 2. Sarah menjadi teladan bagi individu yang berupaya menggabungkan janji Allah dengan realitas kehidupan sehari-hari. Figur ini relevan bagi umat kontemporer yang menghadapi keterbatasan biologis, sosial, maupun politik. Kisahnya menginspirasi untuk tetap percaya, bersabar, dan mengandalkan kasih Allah yang transformatif, meskipun situasi tampak Sarah menegaskan bahwa iman adalah perjalanan aktif, di mana manusia terlibat secara penuh dalam proses pertumbuhan bersama Allah yang setia (Allen, 2. Ishak: Anak Janji dan Pewaris Perjanjian Ishak menempati posisi unik dalam narasi leluhur Israel. Ia bukan sekadar anak Abraham, melainkan Aoanak janjiAo yang kelahirannya menjadi bukti kuasa dan kesetiaan Allah (Halawa & Putrawan, 2. Kejadian 21:1Ae7 menegaskan bahwa kelahiran Ishak terjadi sesuai firman Allah, meskipun secara manusiawi tampak mustahil. Kisah ini menekankan bahwa kasih dan janji Allah tidak bergantung pada kemampuan manusia, melainkan pada inisiatif dan kesetiaan-Nya (Ndishua, 2. Ishak berperan sebagai penghubung antara panggilan Abraham dan kelanjutan umat Janji keturunan yang diterima Abraham diteruskan melalui Ishak, sebagaimana Allah memperbarui janji tersebut kepadanya (Kej. 26:2Ae. , menunjukkan konsistensi https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Yanto Sandy Tjang | Kasih Allah dalam Pergumulan Iman kesetiaan Allah antar generasi (Ndishua, 2. Berbeda dengan Abraham yang bersifat migratif. Ishak menonjolkan ketaatan dan kesederhanaan. Ia menetap di tanah Kanaan, menggali kembali sumur-sumur Abraham, dan menghindari konflik dengan orang Filistin melalui strategi perpindahan sumur demi sumur (Kej. 26:18Ae. St Andrews Encyclopaedia of Theology menekankan bahwa Ishak merepresentasikan iman yang memelihara . urturing fait. : menjaga, mempertahankan, dan menghidupi janji yang telah ada (Adelman, 2. Peristiwa paling dramatis adalah ketika Ishak nyaris dijadikan kurban oleh Abraham (Kej. Meskipun reaksi verbalnya tidak dicatat, kehadirannya menandakan kepasrahan dan kepercayaan pada Allah, yang kemudian menyediakan kurban pengganti. Narasi ini dibaca ulang dalam tradisi pasca-pembuangan sebagai simbol kesetiaan umat di tengah penderitaan dan harapan akan pemeliharaan Allah (Lombaard, 2. Dalam pernikahannya dengan Ribka (Kej. , terlihat dimensi doa dan penyertaan Allah yang berkelanjutan. Ribka menempuh perjalanan iman yang paralel dengan Abraham, sehingga pernikahan ini menegaskan keberlanjutan iman lintas generasi. Peran Ribka penting dalam menentukan arah janji Allah melalui anak-anaknya. Esau dan Yakub (Rantung, 2. Ishak mengajarkan iman yang bertahan dan memelihara. Ia tidak bersifat spektakuler seperti Abraham maupun dramatis seperti Yakub, tetapi imannya meneguhkan dan meneruskan janji Allah di tengah kehidupan sehari-hari. Figur Ishak menekankan bahwa janji Allah bersifat lintas generasi dan bahwa pewarisan iman memerlukan kesetiaan yang Kehadirannya juga menunjukkan bahwa iman melibatkan ketekunan, kepasrahan, dan tanggung jawab untuk memelihara warisan spiritual yang telah diberikan Allah (Bar. Dalam konteks spiritual kontemporer. Ishak relevan bagi mereka yang menghidupi iman secara konsisten dalam rutinitas dan kehidupan sehari-hari. Kisahnya mengajarkan bahwa keberlangsungan iman: menjaga, meneguhkan, dan meneruskan janji Allah, sama pentingnya dengan pengalaman panggilan besar atau peristiwa dramatis. Figur Ishak menginspirasi umat untuk memahami iman sebagai kesetiaan yang terwujud dalam tindakan sehari-hari dan pewarisan nilai-nilai rohani kepada generasi berikutnya (Bar, 2. Ribka: Keberanian Iman dan Peran Matriark Ribka muncul dalam Kitab Kejadian sebagai figur matriark yang memainkan peran sentral dalam melanjutkan janji Allah kepada Abraham melalui Ishak. Pertemuan Ribka dengan hamba Abraham di sumur (Kej. 24:10Ae. menekankan bahwa pemilihan pasangan hidup Ishak bukan semata-mata keputusan keluarga, tetapi juga hasil campur tangan Allah yang nyata. Kesiapannya meninggalkan rumah keluarganya untuk mengikuti panggilan Allah menunjukkan keberanian iman yang luar biasa, terutama dalam konteks budaya patriarkal (Adelman, 2. Ribka berperan strategis dalam menentukan arah janji Allah di tengah dinamika Ketika Esau dan Yakub lahir, nubuat Allah menyatakan bahwa Auyang tua akan menjadi hamba bagi yang mudaAy (Kej. , dan Ribka mengambil langkah aktif untuk https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Yanto Sandy Tjang | Kasih Allah dalam Pergumulan Iman memastikan berkat Ishak jatuh kepada Yakub, anak yang lebih muda (Kej. 27:1Ae. Tindakan ini, meskipun kontroversial dan problematis secara moral, mencerminkan keberanian strategis seorang matriark dalam menafsirkan kehendak Allah di tengah struktur sosial yang secara tradisional mengutamakan laki-laki (Ndishua, 2. Selain itu. Ribka menjaga kesinambungan janji Allah dengan menyarankan Yakub untuk melarikan diri dari kemarahan Esau (Kej. 27:41Ae. Lombaard . menekankan bahwa kisah Ribka menunjukkan bahwa pemeliharaan Allah sering berlangsung melalui tindakan manusiawi yang kompleks dan tidak sempurna, namun tetap mengarah pada penggenapan janji Ilahi. Ribka menegaskan bahwa iman menuntut keberanian untuk mengambil risiko dan membuat keputusan sulit. Ia memperlihatkan bahwa kasih Allah bekerja melalui individu yang bertindak aktif, bahkan dalam konteks sosial yang membatasi peran mereka. Figur Ribka menekankan prinsip bahwa iman bukan sekadar kepasifan, melainkan keterlibatan nyata dalam penggenapan janji Allah melalui keberanian, strategi, dan tanggung jawab (Tsymbalyuk & Melnik, 2. Ribka relevan bagi umat kontemporer sebagai teladan keberanian iman yang aktif, responsif terhadap tuntunan Allah, dan peduli terhadap kesinambungan iman lintas generasi. Kisahnya menginspirasi umat untuk berani bertindak, mengambil keputusan sulit, dan menjaga pewarisan iman dalam situasi yang menantang. Figur ini menegaskan bahwa iman yang hidup memerlukan keterlibatan nyata dalam konteks sosial dan keluarga, serta komitmen untuk mewujudkan kehendak Allah melalui tindakan manusiawi yang bertanggung jawab (Tsymbalyuk & Melnik, 2. Yakub: Pergumulan dan Transformasi Iman Yakub merupakan salah satu figur paling kompleks dalam narasi leluhur Israel. Sejak lahir, ia digambarkan sebagai Aupemegang tumitAy Esau (Kej. , simbol karakter kompetitif yang mewarnai kehidupannya. Ia memperoleh hak kesulungan dan berkat melalui strategi yang dibantu oleh ibunya. Ribka (Kej. 27:1Ae. Kisah Yakub menyoroti perjalanan hidup yang penuh konflik, transformasi, dan interaksi dengan janji Allah, menegaskan bahwa keberlanjutan perjanjian Allah tidak bergantung pada kesempurnaan moral penerimanya (Ndishua, 2. Masa pengasingan Yakub di rumah Laban (Kej. 29Ae. menjadi tahap pembelajaran penting: sang penipu kini mengalami ditipu, dan sang pemanipulasi kini dimanipulasi. sini ia membangun keluarga besar melalui Lea dan Rahel, yang masing-masing berperan penting dalam lahirnya dua belas suku Israel. St Andrews Encyclopaedia of Theology menekankan bahwa keterlibatan para matriark dalam kisah Yakub menunjukkan bahwa pembentukan identitas umat Allah terjadi melalui dinamika relasi keluarga yang kompleks, bukan melalui ruang bebas konflik (Adelman, 2. Puncak transformasi Yakub terjadi ketika ia bergumul dengan seorang Aomanusia,Ao yang ternyata utusan Allah (Kej. 32:24Ae. Peristiwa ini memberinya nama baru. AoIsrael,Ao yang berarti Aobergumul dengan Allah,Ao menandai perubahan identitas dari penipu menjadi pribadi https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Yanto Sandy Tjang | Kasih Allah dalam Pergumulan Iman yang diberkati dan siap berdamai dengan Esau (Sinaga et al. , 2. Lombaard . menekankan bahwa narasi pergumulan ini dibaca dalam tradisi pasca-pembuangan sebagai metafora pengalaman kolektif Israel, yang bergumul dengan Allah dalam krisis nasional namun tetap memegang janji-Nya. Selain itu. Allah menampakkan diri dalam mimpi di Betel (Kej. 28:10Ae. , menegaskan janji yang sama seperti yang diberikan kepada Abraham dan Ishak, menandai kesinambungan perjanjian Allah meskipun penerimanya tidak sempurna secara moral. Yakub menunjukkan bahwa iman sering bukan proses yang mulus, melainkan pergumulan panjang dengan diri sendiri, sesama, dan Allah. Kasih Allah hadir bukan hanya melalui berkat yang diberikan, tetapi juga melalui kesediaan-Nya untuk bergumul bersama manusia hingga identitas mereka diperbarui. Transformasi Yakub dari penipu menjadi Israel menegaskan prinsip bahwa Allah mampu membawa pertumbuhan rohani melalui pengalaman konflik, kesalahan, dan pembelajaran (Manurung & Rakim, 2. Yakub menjadi teladan bagi umat kontemporer yang menghadapi kelemahan, konflik, atau krisis. Kisahnya mengajarkan bahwa iman yang sejati membutuhkan keberanian untuk bergumul, kesabaran untuk menunggu transformasi, dan keyakinan bahwa Allah hadir dalam setiap proses pertumbuhan. Figur Yakub menginspirasi agar manusia tetap berharap pada kasih Allah yang setia dan mampu mentransformasi hidup, bahkan melalui pergumulan yang sulit dan panjang (Sinaga et al. , 2. Lea: Kasih Allah yang terabaikan Lea, istri pertama Yakub, digambarkan dalam Kitab Kejadian sebagai figur yang Aukurang dicintaiAy dibanding adiknya. Rahel (Kej. 29:30Ae. Statusnya yang terpinggirkan menyoroti perhatian Allah kepada mereka yang tersisih, menegaskan sifat inklusif dan adil dari kasih-Nya. Kejadian 29:31 menyatakan: AuKetika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannyaAy. Ini menunjukkan bahwa Allah hadir untuk memberkati mereka yang berada dalam situasi ketidakadilan atau marginalisasi (Ndishua. Lea memiliki peran strategis dalam sejarah keselamatan: ia melahirkan enam anak Yakub: Ruben. Simeon. Lewi. Yehuda. Isakhar, dan Zebulon, serta seorang anak perempuan. Dina. Garis keturunannya melahirkan suku Lewi, yang menjadi imam, dan suku Yehuda, yang kelak menjadi dinasti Daud serta jalur mesianis dalam perspektif Kristiani (Ndishua. Kehidupan rumah tangga Lea memperlihatkan dinamika emosional manusiawi: ia berupaya memperoleh cinta Yakub melalui kelahiran anak demi anak dan menamai anakanaknya sesuai harapan atau pengakuan imannya (Kej. 29:32Ae. Nama Yehuda diberikan dengan ucapan syukur. AuSekarang aku akan bersyukur kepada TUHANAy (Kej. (Kristiana & Sriwahyuni, 2. St Andrews Encyclopaedia of Theology menekankan bahwa Lea adalah agen aktif yang menghidupi iman melalui pengalaman ketidakadilan, sekaligus berkontribusi pada pembentukan identitas rohani umat (Adelman, 2. Dalam konteks pasca-pembuangan. Lombaard . mencatat bahwa kisah Lea dibacakan kembali https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Yanto Sandy Tjang | Kasih Allah dalam Pergumulan Iman untuk memperkuat identitas komunitas yang secara politik kurang diperhitungkan, tetapi tetap menjadi penerus janji Allah. Lea mengajarkan bahwa nilai dan identitas sejati tidak ditentukan oleh pengakuan manusia, melainkan oleh kasih Allah yang memandang, memberkati, dan menggunakan individu yang terpinggirkan untuk menggenapi rencana-Nya. Kasih Allah bekerja melalui mereka yang tampaknya kurang menonjol atau diabaikan, dan melalui mereka, berkat serta warisan rohani dapat diteruskan (Parengkuan, 2. Kisah Lea relevan bagi umat kontemporer yang merasa tersisih, kurang dihargai, atau diabaikan dalam komunitas mereka. Figur Lea menunjukkan bahwa iman sederhana, tekun, dan setia dapat mengubah keterpinggiran menjadi saluran berkat, menegaskan bahwa Allah memperhatikan dan memberkati mereka yang rendah hati atau kurang diperhitungkan. menjadi paradigma spiritual tentang bagaimana kasih Allah bekerja melalui individu yang sering dianggap kurang penting, tetapi memiliki peran vital dalam sejarah keselamatan (Parengkuan, 2. Rahel: Teladan Kerinduan dan Kesetiaan Iman Rahel, istri kedua Yakub, dikenal sebagai figur yang sangat dicintai oleh suaminya (Kej. Ia menghadapi tantangan mendalam berupa kemandulan bertahun-tahun, yang menimbulkan kerinduan dan pergumulan batin yang intens. Kejadian 30:1Ae2 mencatat keluhannya: AuBerilah aku anak, kalau tidak, aku mati. Ay Ini mencerminkan pergumulan iman Rahel melalui kesakitan dan kerinduan yang nyata (Ndishua, 2. Kemandulan Rahel menempatkannya dalam dinamika emosional kompleks, khususnya terkait dengan Lea, saudarinya yang lebih dahulu melahirkan. Namun. Allah tidak Ia membuka rahim Rahel dan memberinya seorang anak. Yusuf, yang kemudian menjadi tokoh kunci dalam sejarah keselamatan Israel (Kej. 30:22Ae. Kelahiran Yusuf menegaskan bahwa kasih Allah bekerja melalui kesetiaan dan doa yang tekun, bukan terbatas pada kondisi manusia (Widjaja, 2022. Ndishua, 2. Rahel juga berperan dalam dinamika keluarga yang menentukan arah sejarah umat Allah. Melalui Yusuf. Allah menyelamatkan keluarga Yakub dari kelaparan di Mesir (Kej. , menegaskan bahwa berkat Allah dapat mengalir melalui generasi yang lahir dari kesetiaan dan doa seorang St Andrews Encyclopaedia of Theology menekankan bahwa Rahel menjadi simbol iman yang sabar dan kesetiaan perempuan dalam pembentukan sejarah keselamatan (Adelman, 2. Kisah Rahel menegaskan tema kasih Allah yang transformatif: kesulitan dan keterbatasan bukanlah hambatan, melainkan sarana bagi Allah untuk meneguhkan janji dan menggenapkan rencana-Nya. Iman yang hidup melibatkan kerinduan, kesabaran, doa, dan ketekunan, bahkan di tengah ketidakpastian. Figur Rahel memperlihatkan bahwa kasih Allah selalu hadir, bekerja melalui pergumulan pribadi untuk menghasilkan buah yang menyelamatkan dan memberkati banyak orang (Billman & Migliore, 2. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Yanto Sandy Tjang | Kasih Allah dalam Pergumulan Iman Rahel relevan bagi umat kontemporer yang menghadapi tantangan, kekecewaan, atau keterbatasan dalam pergumulan iman. Kisahnya mengajarkan bahwa doa yang konsisten, kesetiaan, dan kesabaran dalam iman dapat menghasilkan buah yang luas, menunjukkan bahwa Allah setia menanggapi kesetiaan manusia melalui proses panjang dan penuh Ia menjadi teladan iman yang sabar, tekun, dan transformatif (Billman & Migliore, 2. Yusuf: Pemeliharaan Allah dalam Penderitaan Yusuf menutup rangkaian kisah para leluhur Israel sebagai figur yang paling dramatis dalam narasi Kitab Kejadian. Ia dikenal sebagai anak yang sangat dicintai Yakub, sehingga menjadi sasaran iri hati saudara-saudaranya (Kej. 37:3Ae. Kisahnya menyoroti pengalaman penderitaan, pengkhianatan, dan ketidakadilan, namun tetap menegaskan bahwa kasih dan penyertaan Allah hadir dalam setiap tahap kehidupan Yusuf (Ndishua, 2. Yusuf dijual sebagai budak ke Mesir dan dipenjara akibat tuduhan palsu (Kej. 37:28. 39:20Ae. Meski menghadapi kesulitan berat. Allah tetap menyertainya dan meneguhkan Kemampuan Yusuf menafsirkan mimpi, termasuk mimpi Firaun tentang kelaparan (Kej. 41:25Ae. , menjadikannya sarana keselamatan bagi keluarganya dan bangsa Mesir (Purwanto, 2020. Ede, 2. Narasi Yusuf menekankan tema pengampunan dan Ketika saudara-saudaranya datang ke Mesir untuk mencari makanan. Yusuf merespons tanpa dendam, menyadari pemeliharaan ilahi: AuKamu memang berniat jahat terhadap aku, tetapi Allah bermaksud baik untuk melakukan apa yang terjadi iniAy (Kej. St Andrews Encyclopaedia of Theology menyoroti bahwa Yusuf menjadi simbol kesetiaan individu yang konsisten, di mana Allah memelihara umat-Nya melalui peristiwa yang penuh tantangan dan pengorbanan (Adelman, 2. Selain itu. Yusuf menegaskan pentingnya kesetiaan spiritual di tengah pergumulan sosial dan politik. Ia tetap teguh dalam moralitas dan kepercayaannya di Mesir meski berada dalam lingkungan yang penuh godaan dan ketidakadilan (Kej. 39:7Ae. Lombaard . menekankan bahwa kisah Yusuf menjadi model teologis tentang bagaimana Allah memelihara umat-Nya melalui situasi yang tampak tidak menguntungkan, sekaligus menegaskan keadilan dan penyertaan-Nya. Kisah Yusuf mengajarkan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari kasih Allah, melainkan kesempatan untuk mengalami penyertaan ilahi, penggenapan janji, dan transformasi situasi sulit menjadi berkat. Iman yang teguh, kesetiaan, dan kemampuan mengampuni menjadi sarana bagi Allah untuk menyalurkan berkat bagi keluarga dan komunitas yang lebih luas. Yusuf menunjukkan bahwa Allah bekerja melalui peristiwa manusiawi, termasuk yang tampak mustahil atau penuh ketidakadilan (Efrain, 2. Yusuf relevan bagi umat kontemporer yang menghadapi pengkhianatan, ketidakadilan, atau kesulitan hidup. Kisahnya menegaskan bahwa Allah hadir, bekerja, dan memelihara umat-Nya melalui iman yang konsisten, kesetiaan, dan pengampunan. Figur Yusuf menjadi teladan bagaimana penderitaan dapat diubah menjadi sarana berkat, sekaligus menguatkan https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Yanto Sandy Tjang | Kasih Allah dalam Pergumulan Iman keyakinan bahwa kasih Allah senantiasa aktif dan transformatif dalam kehidupan sehari-hari (Efrain, 2. Simpulan Penelitian ini menegaskan bahwa kisah para leluhur IsraelAiAbraham. Sarah. Ishak. Ribka. Yakub. Lea. Rahel, dan YusufAimenggambarkan pola kasih Allah yang aktif, setia, dan transformatif dalam perjalanan iman manusia. Melalui panggilan, janji, pengujian, pemeliharaan, dan penggenapan. Allah bekerja secara konsisten, meskipun melalui keterbatasan, konflik, maupun penderitaan manusia. Abraham dan Sarah menjadi teladan keberanian dan kepercayaan dalam menghadapi ketidakpastian, sementara Ishak menunjukkan kesetiaan dan peran dalam memelihara janji lintas generasi. Figur matriark Ribka. Lea, dan Rahel menegaskan peran aktif perempuan dalam penggenapan rencana Allah, sedangkan Yakub menampilkan transformasi iman melalui pergumulan personal dan Yusuf menegaskan penyertaan Allah dalam penderitaan serta kemampuan untuk mengubah kesulitan menjadi sarana berkat. Secara keseluruhan, narasi ini relevan bagi konteks kontemporer, mengajarkan bahwa iman sejati melibatkan keberanian, kesetiaan, pengampunan, dan partisipasi aktif dalam rencana Allah yang transformatif serta penuh Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan masukan sehingga artikel ini bisa diselesaikan. Referensi