JURNAL SATYA WIDYA - VOL. 41 NO. 2 (DESEMBER, 2. Available online at: https://ejournal. edu/satyawidya PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA TEKS CERITA FANTASI MELALUI DISCOVERY LEARNING DAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI BERBASIS YOUTUBE Lisa Ariyani1. Sintowati Rini Utami2. Lita Lestari3 State University of Jakarta. Indonesia. E-mail: lisariyani993@gmail. State University of Jakarta. Indonesia. E-mail: sintowati189@gmail. Labschool Jakarta Middle School. Indonesia. E-mail: litalestari69@gmail. INFORMASI ARTIKEL A B S T R A C T Submitted Review Accepted Published Indonesian language learning has a strategy to improve literacy in students, especially in the aspects of reading and writing text types, one of which is through fantasy story texts. However, the results of initial observations showed that seventh grade students of SMP Labschool Jakarta still had difficulty in understanding the structure and linguistic characteristics of fantasy story texts, with an average initial score of only 53 and a completion rate of 15%. This study aims to improve learning outcomes in fantasy story texts through the application of the discovery learning model in a differentiated learning approach assisted by YouTube media. This study used the Classroom Action Research (CAR) method which was implemented in three cycles, with the stages of planning, implementation, observation, and The results showed a significant increase in student learning outcomes, with the average score increasing from 53 in the pre-cycle to 78 in cycle II, and reaching 91 in cycle i, and learning completion increasing from 15% to 79%. These findings indicate that the application of discovery learning through differentiated learning based on YouTube media is effective in improving student learning outcomes, activeness, and motivation in fantasy story text material. This model is also able to facilitate the diversity of students' learning readiness, creating an inclusive, adaptive, and student-centered learning process. : 2025-08-16 : 2025-10-23 : 2025-11-10 : 2025-12-30 KEYWORDS Discovery Learning. Differentiated Learning. Youtube Media. Fantasy Story Texts. Learning Outcomes Discovery Learning. Pembelajaran Berdiferensiasi. Media Youtube. Teks Cerita Fantasi. Hasil Belajar KORESPONDENSI Phone: 628972512937 E-mail: lisariyani993@gmail. Pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki strategi dalam meningkatkan literasi pada siswa, khususnya pada aspek membaca dan menulis jenis teks, salah satunya melalui teks cerita fantasi. Namun, hasil observasi awal menunjukkan bahwa siswa kelas VII SMP Labschool Jakarta masih mengalami kesulitan dalam memahami struktur dan ciri kebahasaan teks cerita fantasi, dengan rata-rata nilai awal hanya mencapai 53 dan tingkat ketuntasan sebesar 15%. Satya Widya | 169 Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Teks Cerita Fantasi A Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar teks cerita fantasi melalui penerapan model discovery learning dalam pendekatan pembelajaran berdiferensiasi berbantuan media YouTube. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam tiga siklus, dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa, dengan rata-rata nilai meningkat dari 53 pada prasiklus menjadi 78 pada siklus II, dan mencapai 91 pada siklus i, serta ketuntasan belajar meningkat dari 15% menjadi 79%. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan discovery learning melalui pembelajaran berdiferensiasi berbasis media YouTube efektif dalam meningkatkan hasil belajar, keaktifan, serta motivasi siswa pada materi teks cerita fantasi. Model ini juga mampu memfasilitasi keberagaman kesiapan belajar siswa, menciptakan proses pembelajaran yang inklusi, adaptif, dan berpusat pada peserta didik. PENDAHULUAN Pembelajaran Bahasa Indonesia memegang peran penting dalam meningkatkan kecakapan literasi para siswa, terutama dalam hal membaca dan menulis berbagai jenis teks, termasuk teks cerita fantasi. Cerita fantasi sebagai teks naratif imajinatif menuntut kemampuan berpikir kreatif dalam membangun alur, tokoh, latar, dan konflik yang melampaui batas realitas, sehingga kualitasnya sangat bergantung pada imajinasi penulis (Gusnita. , 2. Oleh karena itu, penguasaan teks cerita fantasi menjadi bagian strategis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia karena mampu mengintegrasikan aspek kebahasaan, sastra, serta pengembangan karakter kreatif siswa. Namun, dalam praktiknya banyak siswa masih kesulitan memahami struktur, ciri kebahasaan, serta menyusun teks cerita fantasi secara runtut dan menarik, yang berdampak pada rendahnya hasil belajar. Kondisi ini diperparah oleh kurangnya variasi metode dan media pembelajaran, di mana metode yang tidak tepat dan minimnya media yang merangsang minat menjadi faktor penghambat (Sugilestari, 2. Padahal, media pembelajaran berperan penting sebagai perangkat lunak maupun keras yang berfungsi menyalurkan pesan, konsep, serta rangsangan untuk meningkatkan minat siswa selama proses pembelajaran (Khairunnissah et al. , 2. Berdasarkan hasil pengamatan awal di kelas VII SMP Labschool Jakarta, dapat diamati sebagian besar siswa masih menunjukkan kinerja belajar yang belum mencapai tingkat optimal dalam menulis teks cerita fantasi. Faktor penyebabnya antara lain metode pembelajaran yang cenderung monoton, kurangnya pemanfaatan media pembelajaran yang kontekstual dan menarik, serta terbatasnya ruang untuk mengeksplorasi ide dan Maka dari itu, dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang sangat variatif serta adaptif, salah satunya melalui implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi memberi peluang bagi segenap siswa untuk mendalami materi selaras dengan tingkat kemampuan, minat, serta cara belajar yang mereka miliki. Strategi ini terbukti efektif dalam memenuhi keberagaman karakteristik siswa serta menciptakan pengalaman belajar yang sesuai dan bermakna (Almujab, 2. 170 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 41 No. 2 (Desember, 2. 169 Ae 182 Dalam pembelajaran teks cerita fantasi, diferensiasi dapat diterapkan pada aspek konten, proses, maupun produk sehingga siswa dengan kemampuan rendah, sedang, maupun tinggi dapat berkembang secara optimal. Pada penerapan pembelajaran berdiferensiasi untuk mendukungnya agar lebih aktif dan bermakna, digunakan model discovery learning yang menekankan proses penemuan, eksplorasi, dan investigasi. Setiap model pembelajaran memiliki sistem dan pengelolaan yang berbeda bagi siswa (Amaliyah et al. , 2. , dan dalam hal ini discovery learning mendorong keterlibatan langsung siswa dalam mengonstruksi pengetahuan melalui pengalaman belajar mereka sendiri (Andayani, 2022. Linda, n. Dalam konteks pembelajaran teks cerita fantasi, model ini memberi ruang bagi siswa untuk menganalisis struktur, unsur, serta kaidah kebahasaan secara lebih mendalam guna meningkatkan hasil Selain penerapan model pembelajaran yang sesuai, pemanfaatan media yang menarik juga merupakan elemen krusial dalam membantu perkembangan pembelajaran Media pembelajaran berfungsi untuk membuat kegiatan belajar lebih variatif, tidak membosankan, dan tidak hanya terfokus pada guru, sehingga mampu meningkatkan partisipasi sekaligus hasil belajar siswa (Nurmasari et al. , 2. Sebagian sarana yang bisa dimanfaatkan adalah YouTube sebagai media berbasis audio-visual yang memberikan stimulus imajinatif dan inspiratif. Melalui video Aucerita sebelum tidurAy, membantu mereka memahami struktur naratif, karakter tokoh, dan suasana cerita fantasi secara lebih konkret serta menyenangkan. Tayangan visual dapat membantu siswa memahami struktur naratif seperti orientasi, komplikasi, dan resolusi dengan lebih mudah. Melalui dukungan elemen suara, gambar, dan ekspresi visual, siswa juga dapat menangkap penggambaran karakter tokoh, latar, serta konflik dan penyelesaiannya secara lebih jelas. Dengan demikian, tayangan visual tidak hanya meningkatkan daya imajinasi siswa, tetapi juga memperkaya kosakata dan ekspresi bahasa yang mendukung peningkatan hasil belajar mereka. Dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi, model discovery learning, dan media YouTube, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, kontekstual, sekaligus mampu mengakomodasi keragaman siswa secara inklusif. Strategi ini mendorong keterlibatan proaktif siswa dalam setiap tahap pembelajaran melalui pengalaman belajar yang bermakna. Selain itu, penerapannya juga dapat memenuhi berbagai kebutuhan belajar siswa dengan pendekatan yang lebih adaptif dan menyeluruh. Pembelajaran berdiferensiasi memberikan kesempatan bagi siswa dengan berbagai tingkat kemampuan, gaya belajar, dan minat untuk berkembang sesuai karakteristik masing-masing. Di sisi lain, model discovery learning mendorong mereka secara aktif membangun pengetahuan melalui eksplorasi, pengamatan, dan penemuan konsep penting dalam materi pelajaran. Pemanfaatan media YouTube yang bersifat audio-visual semakin memperkuat proses tersebut dengan menghadirkan konten naratif yang menarik, inspiratif, dan dekat dengan dunia siswa, seperti cerita fantasi dalam bentuk animasi atau dongeng modern. Maka dari itu, penelitian ini bermaksud guna menganalisis sebatas mana metode pembelajaran yang digunakan berhasil meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Labschool Jakarta saat mempelajari teks cerita fantasi. Penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan bukti konkret tentang seberapa efektif metode yang diterapkan, tetapi juga menyumbangkan kontribusi teoritis sekaligus aplikatif dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan demikian, pembelajaran dapat lebih inovatif. Satya Widya | 171 Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Teks Cerita Fantasi A adaptif terhadap kebutuhan siswa, serta berorientasi pada peningkatan literasi generatif dan kemampuan berpikir kritis. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan maksud untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran discovery learning dalam pendekatan pengajaran berbasis berdiferensiasi yang didukung oleh media YouTube. PTK dipilih karena relevan dalam memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung di kelas serta memberikan ruang bagi guru untuk melakukan refleksi dan peningkatan kualitas pembelajaran secara sistematis. Sehingga, penelitian ini selain berfokus terhadap hasil, namun juga pada proses perbaikan berkelanjutan dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini direalisasikan di kelas VII C SMP Labschool Jakarta dengan jumlah 34 siswa yang memiliki berbagai karakteristik dan gaya belajar berbeda, meliputi siswa dengan kesiapan belajar tinggi, sedang, dan rendah. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga siklus, dan setiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu . perencanaan, . pelaksanaan tindakan, . observasi, dan . Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi Tes hasil belajar . retest dan posttes. untuk mengukur peningkatan kemampuan menulis dan menganalisis teks cerita fantasi. Lembar observasi keaktifan siswa untuk menilai keterlibatan siswa selama Catatan lapangan . ield note. untuk mendokumentasikan respon dan dinamika pembelajaran. Dokumentasi hasil kerja siswa serta video pembelajaran sebagai bukti pendukung. Selain itu, kriteria keberhasilan penelitian ditetapkan dimana Individu dinyatakan tuntas apabila memperoleh nilai minimal 70 sesuai KKTP. Klasikal dianggap berhasil apabila Ou75% siswa mencapai ketuntasan belajar. Keberhasilan juga dilihat dari peningkatan keaktifan dan partisipasi siswa pada setiap siklus. Analisis data dalam penelitian ini diwujudkan dengan pendekatan kuantitatif dan Data kuantitatif ditelaah memanfaatkan uji Normalized Gain (N-Gai. untuk mendeteksi efektivitas peningkatan hasil belajar siswa dengan kriteria: tinggi . Ou 0,. , sedang . ,3 O g < 0,. , serta rendah . < 0,. Sementara itu, data kualitatif diperoleh melalui hasil observasi dan refleksi tiap siklus yang dianalisis secara deskriptif guna menggambarkan perkembangan keaktifan dan keikutsertaan siswa dalam pembelajaran: Tabel 1. Nilai Kriteria N-Gain Nilai Normalitas Gain 0,70 O n O 1,00 0,30 O n < 0,70 0,00 O n < 0,30 Kriteria Tinggi Sedang Rendah Data kualitatif tersebut dianalisis dalam tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Proses untuk mempertahankan keabsahan data, dilakukan validasi dengan triangulasi yang melibatkan observasi, dokumentasi, dan hasil Adapun skor hasil belajar siswa dikategorikan ke dalam empat golongan, yaitu: C Sangat Baik . Ae. C Baik . Ae. 172 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 41 No. 2 (Desember, 2. 169 Ae 182 C Cukup . Ae. C Kurang (<. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan hasil belajar siswa tidak hanya tercermin dari perolehan nilai yang meningkat, tetapi juga dari perubahan perilaku belajar, kreativitas menulis, dan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Penerapan model discovery learning dalam pendekatan pembelajaran berdiferensiasi terbukti efektif karena menempatkan siswa sebagai subjek aktif yang membangun pengetahuan melalui eksplorasi dan pengalaman Dalam penelitian ini, media YouTube berperan penting sebagai sumber belajar multimodal yang menampilkan contoh teks cerita fantasi dalam bentuk video animasi, dongeng digital, dan narasi visual. Tayangan YouTube digunakan untuk menstimulasi imajinasi siswa, membantu mereka memahami struktur teks . rientasi, komplikasi, resolus. , serta memperkuat kemampuan mereka dalam menciptakan karakter dan konflik yang menarik. Selain itu. YouTube juga berfungsi sebagai alat diferensiasi konten, karena video yang ditampilkan disesuaikan dengan tingkat kesiapan belajar siswa: siswa berkemampuan rendah memperoleh video dengan alur sederhana dan visual kuat, siswa berkemampuan sedang menonton video dengan struktur cerita yang lebih kompleks, sedangkan siswa berkemampuan tinggi diarahkan menganalisis video yang menampilkan gaya bahasa dan simbolisme. Namun, selama implementasi strategi ini terdapat beberapa tantangan yang dihadapi: . perbedaan kecepatan belajar siswa, di mana sebagian siswa dengan kesiapan rendah membutuhkan waktu lebih lama dalam memahami materi. keterbatasan waktu pembelajaran di kelas, terutama saat melakukan refleksi kelompok dan menonton tayangan video penuh. koneksi internet yang tidak stabil, menyebabkan keterlambatan pemutaran video pada beberapa pertemuan. keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran berdiferensiasi, terutama dalam menyiapkan variasi tugas yang sesuai dengan tingkat kesiapan siswa. Meskipun terdapat kendala tersebut, hasil keseluruhan menunjukkan bahwa kombinasi antara discovery learning, pembelajaran berdiferensiasi, dan media YouTube secara nyata meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. Nilai rata-rata meningkat dari 53 . ra-siklu. menjadi 91 . dengan N-Gain 0,71 . ategori tingg. Selain itu, tingkat keaktifan siswa naik dari 40% menjadi 93%, dan kreativitas menulis meningkat dari kategori cukup menjadi sangat baik. Penelitian ini dijalankan dalam tiga siklus bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa dalam memahami teks cerita fantasi yang dilatih pada kelas VII C SMP Labschool Jakarta dengan menerapkan model discovery learning dalam pembelajaran berdiferensiasi yang didukung media YouTube. Setiap siklus diadakan dengan empat tahapan utama, terdiri perencanaan, pelaksanaan, observasi, serta refleksi. Melalui alur ini, proses pembelajaran dapat terus diperbaiki secara berkesinambungan hingga mencapai hasil yang optimal. Siklus I: Penerapan Awal Discovery Learning Sebelum intervensi dilakukan, peneliti mengadakan pretest untuk melihat kemampuan awal siswa dalam menganalisis dan memahami teks cerita fantasi. Satya Widya | 173 Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Teks Cerita Fantasi A Tabel 2. Hasil Nilai Pretest Nilai Tertinggi Nilai Terendah Mean Hasil pretest menandakan bahwa mean nilai siswa hanya mencapai 53 dengan rentang nilai tertinggi 64 dan terendah 40. Mayoritas siswa masih menghadapi kesulitan dalam memahami struktur cerita serta mengenali unsur intrinsik yang terdapat pada teks Unsur-unsur tersebut meliputi tokoh, latar, dan konflik yang belum mampu diidentifikasi secara jelas oleh siswa. Selain itu, pemahaman siswa terhadap unsur-unsur intrinsik cerita masih terbatas, ditunjukkan dengan ketidakmampuan siswa kelas VII C SMP Labschool Jakarta mengidentifikasi serta menggambarkan tokoh secara jelas, baik dari sisi karakteristik maupun perannya dalam perkembangan cerita. Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi pembelajaran yang lebih tepat agar siswa mampu memahami struktur dan unsur intrinsik cerita fantasi secara mendalam. Dengan demikian, pembelajaran yang diterapkan diharapkan juga dapat mengembangkan kreativitas siswa dalam menganalisis cerita secara utuh. Pada fase pelaksanaan, model discovery learning diterapkan melalui pemberian stimulus berupa tayangan video cerita fantasi dari YouTube, dilanjutkan dengan identifikasi unsur cerita, diskusi kelompok kecil, serta refleksi individu. Tayangan tersebut berfungsi sebagai jembatan awal untuk membantu siswa memahami bentuk dan struktur cerita secara lebih konkret melalui media audio-visual. Selain itu, pembelajaran berdiferensiasi dilakukan dengan membagi siswa ke dalam kelompok berdasarkan tingkat kesiapan belajar, yakni tinggi, sedang, dan rendah. Siswa dengan tingkat kesiapan tinggi diberikan tugas menganalisis cerita fantasi secara lebih mendalam, termasuk penggunaan variasi gaya bahasa. Siswa dengan kesiapan sedang difokuskan pada latihan memahami struktur serta unsur-unsur teks cerita Selain itu, siswa dengan kesiapan rendah dibimbing secara intensif untuk memahami konsep dasar serta menganalisis tokoh dan latar cerita. Tabel 3. Kategori Nilai Posttest Siswa Siklus I Kategori Sangat Baik Rentang Nilai Jumlah Siswa Persentase Baik Cukup Kurang < 55 Total Permasalahan yang muncul pada siklus I terkait kesulitan dalam mengidentifikasi struktur teks cerita fantasi dan sebagai hal yang menjadi evaluasi dan refleksi pada penerapan di siklus II supaya lebih efektif, yaitu siswa dengan kesiapan rendah masih kebingungan dalam menganalisis alur cerita secara logis, rendahnya partisipasi siswa dalam diskusi kelompok, dan instruksi yang masih terlalu umum untuk dipahami siswa dengan gaya belajar visual atau kinestetik. Oleh karena itu, pada siklus II diperlukan strategi yang lebih intensif dan terarah, terutama dalam memberikan pendampingan kepada siswa yang masih mengalami Pendampingan ini tidak hanya berupa pengawasan saat kegiatan berlangsung, tetapi juga melalui bimbingan individual maupun kelompok kecil agar siswa lebih mudah 174 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 41 No. 2 (Desember, 2. 169 Ae 182 memahami isi cerita serta mampu menganalisis struktur dan unsur di dalamnya. Selain itu, instruksi tugas disampaikan dengan kalimat yang lebih sederhana dan langkahlangkahnya divisualisasikan melalui media gambar atau demonstrasi langsung, sehingga dengan bantuan visual dan penjelasan sistematis siswa diharapkan dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih baik, memahami setiap tahapan, serta menunjukkan peningkatan hasil belajar. Siklus II: Pendalaman Materi dan Penyesuaian Pendekatan Berdiferensiasi Pada siklus II direncanakan pada pendalaman analisis unsur intrinsik dan disertakan dengan bukti yang mampu untuk memperkuat hasil analisis yang ditemukan pada teks cerita fantasi. Perencanaan ini dilaksanakan dengan cara siswa menganalisis secara mendalam terkait struktur dan unsur intrinsic teks cerita fantasi dengan menunjukkan bukti konkret dan menyajikan hasil analisis secara logis. Tabel 4. Kategori Nilai Posttest Siswa Siklus II Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Rentang Nilai < 55 Total Jumlah Siswa Persentase Hasil penilaian pada siklus II menandakan terjadinya kemajuan yang mencolok daripada siklus I. Mean nilai siswa mendapat kenaikan, dan dalam posttest siklus II terdapat 6 siswa . %) yang berhasil meraih kategori sangat baik, sementara pada siklus I tidak ada siswa yang meraih kategori tersebut. Selain itu, jumlah siswa dengan kategori baik juga meningkat menjadi 20 siswa . %), naik cukup jauh dari sebelumnya hanya 6 siswa . %). Tabel 5. Ketuntasan Siklus II Jumlah siswa tuntas Jumlah siswa Persentase ketuntasan 41% Jumlah siswa yang tuntas pada siklus II melonjak menjadi 14 siswa atau sekitar 41%, dibandingkan dengan hanya 5 siswa pada siklus I. Siswa juga menunjukkan perkembangan dalam kemampuan memahami dan menganalisis unsur cerita, seperti tokoh, alur, latar, dan amanat. Selain itu, antusiasme mereka dalam berdiskusi semakin terlihat setelah memperoleh stimulus melalui video YouTube yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman masing-masing. Peningkatan hasil capaian pada siklus II menunjukkan perkembangan nyata dalam pemahaman siswa terhadap teks cerita fantasi, khususnya kemampuan menganalisis unsur intrinsik yang membangun cerita. Siswa mulai mampu mengenali dan menjelaskan elemen penting seperti tokoh, latar, alur, konflik, dan amanat dengan lebih tepat serta Pemahaman mereka juga tidak lagi terbatas pada aspek permukaan, melainkan berkembang menuju analisis yang lebih mendalam terkait fungsi dan peran setiap unsur dalam membentuk makna keseluruhan cerita. Selain itu, siswa menunjukkan keterampilan yang lebih proaktif dalam menjelajahi konten pembelajaran, tidak lagi sekadar menerima informasi secara pasif. Mereka mampu memanfaatkan berbagai sumber belajar yang disediakan, khususnya media audio-visual Satya Widya | 175 Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Teks Cerita Fantasi A seperti YouTube yang mendukung gaya belajar beragam. Siswa visual dan auditori terbantu melalui tayangan yang dapat dilihat dan didengar langsung, sedangkan siswa kinestetik dapat merespons dengan membuat catatan, menggambar alur, atau terlibat aktif dalam diskusi. Siswa dengan kesiapan belajar tinggi mampu berpikir kritis serta menganalisis unsur cerita secara lebih kompleks berdasarkan bukti yang terdapat dalam teks cerita Sementara itu, siswa dengan kesiapan belajar rendah juga menunjukkan kemajuan, meskipun pada awalnya . iklus I) mereka mengalami kesulitan dalam menganalisis unsur intrinsik serta cenderung kehilangan fokus saat menyimak cerita fantasi yang ditampilkan melalui media YouTube. Meskipun demikian, agar seluruh siswa dapat mengalami peningkatan hasil belajar yang optimal, diperlukan penyesuaian dalam proses pembelajaran. Bagi siswa dengan kesiapan belajar rendah, pendampingan yang suportif dan terarah sangat dibutuhkan, misalnya melalui pemberian ringkasan materi secara berkala dalam bentuk visual dan verbal, baik menggunakan papan tulis, lembar ringkasan, maupun tayangan singkat yang menekankan kembali informasi utama. Sementara itu, siswa dengan kesiapan belajar tinggi perlu diberikan tantangan lanjutan pada siklus berikutnya. Dengan demikian, tercipta suasana belajar yang aman, suportif, dan bebas dari sikap menghakimi, di mana siswa terdorong untuk lebih aktif, berani mengambil risiko dalam belajar, serta mampu memperbaiki kesalahan tanpa rasa takut. Siklus i: Optimalisasi Kompetensi dan Refleksi Pada siklus i pembelajaran lebih menekankan pada hasil analisis kaidah kebahasaan dan refleksi hasil pembelajaran. Instruksi penugasan disederhanakan dan divisualisasikan melalui media gambar serta langkah-langkah yang ditayangkan dalam bentuk presentasi video. Tabel 6. Ketuntasan Siklus i Jumlah siswa tuntas Jumlah siswa Persentase ketuntasan Pada hasil pembelajaran siklus i, terlihat adanya kemajuan yang sangat signifikan pada capaian siswa. Total siswa yang meraih nilai dengan kelompok sangat baik meningkat drastis dari 6 siswa . %) pada siklus II menjadi 27 siswa . %) pada siklus i. Selain itu, terdapat 7 siswa . %) yang memperoleh nilai dalam kategori baik. Menariknya, pada siklus i ini tidak ditemukan lagi siswa yang mendapatkan nilai dengan kategori cukup maupun kurang, yang menunjukkan bahwa hampir seluruh siswa telah mencapai hasil belajar sesuai dengan target yang dihendaki. Hal ini menandakan bahwa siswa telah berhasil memperoleh peningkatan hasil belajar yang optimal, baik dalam memahami teks cerita fantasi, struktur, unsur, maupun kaidah kebahasaannya. Pada peningkatan ini, siswa memperlihatkan pemahaman yang lebih baik terhadap unsur-unsur intrinsik cerita seperti tokoh, latar, konflik, dan amanat. Mereka tidak hanya mampu mengidentifikasi karakter tokoh secara lebih rinci dan menggambarkan latar secara kontekstual, tetapi juga memahami makna konflik serta penyelesaiannya yang berkontribusi pada nilai-nilai yang dapat dipetik dari cerita. Kemampuan tersebut mencerminkan adanya perkembangan keterampilan berpikir analitis dan kreatif yang sangat penting dalam meningkatkan hasil belajar sekaligus memperdalam pemahaman terhadap teks naratif. 176 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 41 No. 2 (Desember, 2. 169 Ae 182 Pengaplikasian pembelajaran berdiferensiasi dengan model discovery learning menggunakan media YouTube memperlihatkan pencapaian yang signifikan, yakni adanya peningkatan hasil belajar siswa sesuai dengan tingkat kesiapan belajar yang mereka miliki. Keberhasilan ini tampak dari meningkatnya partisipasi aktif siswa dalam kegiatan belajar, bertambahnya rasa percaya diri dalam mengemukakan pendapat maupun menganalisis materi, serta tercapainya tujuan pembelajaran secara menyeluruh. Keberhasilan ini tampak jelas melalui beberapa aspek yang saling melengkapi. Pertama, terdapat kemajuan signifikan dalam pencapaian belajar siswa, menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan mampu menyesuaikan isi maupun metode pengajaran dengan kesiapan belajar masing-masing individu. Kedua, keterlibatan aktif siswa meningkat, ditunjukkan dengan antusiasme mereka dalam mengikuti diskusi kelompok, mengeksplorasi materi melalui tayangan video, serta mengerjakan tugas individu seperti menganalisis teks cerita fantasi. Ketiga, rasa percaya diri siswa juga berkembang, terlihat dari keberanian mereka dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, serta mengekspresikan gagasan baik secara lisan maupun tulisan. Keempat, tujuan pembelajaran dapat tercapai secara menyeluruh, yang menegaskan bahwa kombinasi antara pembelajaran berdiferensiasi, model discovery learning, dan pemanfaatan media digital yang tepat menjadi strategi efektif dalam menciptakan proses belajar yang personal, bermakna, serta berorientasi pada hasil. Peningkatan hasil belajar siswa tampak pada semua kategori tingkat kesiapan, yang membuktikan bahwa penerapan model discovery learning melalui pembelajaran berdiferensiasi mampu memfasilitasi kebutuhan beragam siswa sekaligus memotivasi mereka mencapai hasil optimal. Keberhasilan ini semakin nyata dengan dukungan media YouTube, yang tidak hanya berperan dalam meningkatkan pencapaian akademik, tetapi juga mendorong siswa untuk lebih proaktif serta berani ikut serta dalam proses Data menunjukkan bahwa 79% siswa sukses meraih nilai dengan kategori sangat baik, sebuah capaian yang menegaskan efektivitas strategi ini dalam membentuk pengalaman belajar yang bermakna dan memberdayakan. Tabel 7. Kategori Nilai Posttest Siswa Siklus i Kategori Rentang Nilai Jumlah Siswa Persentase Sangat Baik Baik Cukup Kurang < 55 Total Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh siswa berhasil meraih Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) sebagai indikator capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. Pencapaian ini merupakan bukti konkret bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan berjalan optimal serta mampu mengakomodasi keragaman kebutuhan, kemampuan, dan gaya belajar siswa. Keberhasilan ini tidak hanya menandakan efektivitas metode pembelajaran yang digunakan, tetapi juga menunjukkan bahwa pendekatan yang dipilih telah tepat sasaran dalam memenuhi tujuan pembelajaran. Pencapaian KKTP oleh seluruh siswa memperlihatkan bahwa pembelajaran yang dirancang tidak hanya efektif untuk meningkatkan pemahaman materi, namun juga berhasil dalam menciptakan suasana belajar yang lebih adaptif dan inklusif. Lingkungan Satya Widya | 177 Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Teks Cerita Fantasi A belajar yang terbentuk memberikan kesempatan yang setara bagi setiap siswa untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing, tanpa ada yang tertinggal atau merasa terpinggirkan dalam proses pembelajaran. Hal ini menjadi indikator penting bahwa pembelajaran yang berdiferensiasi mampu menjembatani kesenjangan kemampuan antar siswa dan menciptakan kesempatan belajar yang adil bagi semua. Analisis hasil implementasi model discovery learning melalui pendekatan pembelajaran berdiferensiasi dengan media YouTube menegaskan adanya kemajuan signifikan dalam pencapaian belajar siswa kelas VII SMP Labschool Jakarta. Kemajuan ini terlihat dari berbagai aspek, mulai dari peningkatan pemahaman konseptual, kemampuan analisis struktur teks, hingga keterampilan dalam mengaplikasikan pengetahuan yang telah dipelajari. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa integrasi antara model pembelajaran, pendekatan diferensiasi, dan pemanfaatan teknologi digital dapat menciptakan sinergi yang kuat dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Discovery Learning Penggunaan model discovery learning dalam penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan hasil belajar sekaligus mendorong semangat siswa untuk ikut serta secara aktif dalam proses pembelajaran. Model ini memberikan ruang bagi siswa untuk menemukan konsep dan pengetahuan secara mandiri melalui serangkaian aktivitas pembelajaran yang terstruktur namun tetap memberikan kebebasan eksplorasi. Proses penemuan yang dialami siswa tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi, tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri. Hal ini serarah dengan penelitian yang dilaksanakan oleh Rahayu et al. , 2023 berjudul AuPengaruh Model Pembelajaran Discovery Learning Berbantu Educandy terhadap Hasil Belajar SiswaAy, yang menunjukkan bahwa siswa yang diajarkan melalui penerapan discovery learning memiliki pemahaman lebih mendalam serta mampu berpartisipasi aktif daripada siswa yang menggunakan metode pembelajaran Temuan penelitian tersebut memperkuat argumentasi bahwa discovery learning bukan hanya meningkatkan aspek kognitif siswa, tetapi juga dimensi afektif dan psikomotorik mereka dalam pembelajaran. Penerapan model discovery learning dalam konteks penelitian ini terbukti bukan sekadar mengembangkan hasil belajar siswa, namun juga mengasah kemampuan analisis dan berpikir kritis mereka terhadap teks cerita fantasi yang dipelajari. Siswa dilatih untuk tidak hanya menerima informasi secara pasif, melainkan aktif mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi berbagai elemen dalam teks cerita fantasi, seperti struktur teks, unsur intrinsik dan ekstrinsik, serta kaidah kebahasaan yang digunakan. Proses analisis yang mendalam ini membantu siswa mengembangkan pemahaman yang komprehensif tentang karakteristik dan keunikan teks cerita fantasi. Model ini menjadikan siswa sebagai subjek aktif yang menjelajahi pengetahuan secara mandiri, bukan hanya menerima informasi dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar. Dengan demikian, pemahaman mereka terhadap materi menjadi lebih dalam dan bermakna karena dikonstruksi melalui pengalaman langsung dalam proses pembelajaran. Keterlibatan aktif siswa dalam menemukan konsep dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah mereka miliki sebelumnya menciptakan pembelajaran yang lebih autentik dan Hal ini selaras dengan temuan Sari & Ahmadi, 2025 yang menjelaskan bahwa discovery learning tidak hanya memberi kesempatan siswa untuk mengeksplorasi struktur teks cerita fantasi, tetapi juga menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dalam 178 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 41 No. 2 (Desember, 2. 169 Ae 182 menciptakan dan memahami karya. Penelitian tersebut menekankan bahwa melalui discovery learning, siswa tidak hanya menjadi konsumen teks yang pasif, tetapi juga produsen teks yang aktif dan kreatif. Mereka mampu menganalisis teks dengan kritis sekaligus mengaplikasikan pemahaman tersebut dalam menciptakan karya mereka Dengan demikian, penerapan discovery learning tidak hanya efektif dalam meningkatkan capaian kognitif siswa, tetapi juga dalam membentuk keterampilan berpikir tingkat tinggi serta karakter belajar yang aktif dan mandiri. Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dikembangkan meliputi kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta, yang merupakan level tertinggi dalam taksonomi Bloom. Karakter belajar mandiri yang terbentuk juga menjadi bekal penting bagi siswa untuk terus belajar sepanjang hayat, tidak hanya bergantung pada pembelajaran formal di kelas. Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi terhadap Hasil Belajar Penerapan pembelajaran berdiferensiasi terbukti mampu memfasilitasi kebutuhan belajar siswa sesuai tingkat kemampuan, gaya belajar, minat, serta kesiapan akademik Strategi ini dirancang dengan mempertimbangkan perbedaan individu dalam kelas sehingga proses pembelajaran dapat lebih adaptif dan tepat sasaran. Hal ini juga berpengaruh pada kenaikan hasil belajar siswa, sebab materi serta metode yang dipakai sesuai dengan kebutuhan mereka. Temuan ini searah dengan penelitian Laia, 2022 yang menyatakan bahwa strategi pembelajaran berdiferensiasi yang menyesuaikan keberagaman kebutuhan peserta didik mampu mengatasi permasalahan hasil belajar secara efektif. Melalui pengaplikasian pembelajaran berdiferensiasi, hasil belajar siswa dapat meningkat secara optimal, khususnya pada pembelajaran teks cerita fantasi. Hal ini searah dengan temuan Kado et al. , 2021 yang menunjukkan yakni rencana pembelajaran berdiferensiasi mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik dan aktivitas pembelajaran dengan cara mendiferensiasi tugas sesuai tingkat kemampuan atau kognitif Dengan demikian, penerapan pembelajaran berdiferensiasi terbukti efektif karena dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kebutuhan belajar masing-masing individu, sehingga memberikan efek nyata terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Implikasi Temuan terhadap Hasil Belajar di Kelas Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting dan praktis terhadap hasil belajar teks cerita fantasi siswa di kelas. Implikasi ini tidak hanya terbatas pada konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga dapat diadaptasi untuk pembelajaran mata pelajaran lain dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing bidang studi. Keberhasilan yang dicapai dalam penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa inovasi pembelajaran dapat menghasilkan dampak yang signifikan terhadap kualitas Penerapan discovery learning teruji efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa menganalisis struktur, unsur, dan kaidah kebahasaan teks cerita fantasi. Siswa menjadi lebih terampil dalam mengidentifikasi orientasi, komplikasi, dan resolusi dalam struktur teks, memahami unsur-unsur seperti tokoh, alur, latar, dan tema, serta mengenali penggunaan kaidah kebahasaan yang khas dalam teks cerita fantasi. Kemampuan analisis yang berkembang ini tidak hanya membantu siswa dalam memahami teks yang mereka baca, tetapi juga dalam menghasilkan karya tulis mereka sendiri dengan struktur dan kaidah yang tepat. Dalam hal ini, pembelajaran berdiferensiasi memberikan manfaat bagi seluruh siswa dengan berbagai tingkat kesiapan belajar, sehingga peningkatan hasil belajar dapat Satya Widya | 179 Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Teks Cerita Fantasi A dirasakan secara merata pada setiap kelompok. Tidak ada siswa yang tertinggal atau tidak mengalami kemajuan dalam pembelajaran. Siswa dengan kemampuan awal yang rendah menunjukkan peningkatan yang signifikan, siswa dengan kemampuan sedang mengalami perkembangan yang konsisten, dan siswa dengan kemampuan tinggi terus mengasah keterampilan mereka ke level yang lebih advanced. Evaluasi yang dilakukan di setiap siklus juga membantu guru dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih relevan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan Melalui evaluasi formatif yang berkelanjutan, guru dapat mengidentifikasi areaarea yang masih memerlukan penguatan, menyesuaikan diferensiasi yang diberikan, dan memberikan umpan balik yang konstruktif kepada siswa. Proses evaluasi dan refleksi yang sistematis ini memastikan bahwa pembelajaran terus berkembang dan merespons dinamika yang terjadi di kelas. Dengan demikian, pembelajaran berdiferensiasi yang dilaksanakan secara konsisten dan disertai evaluasi berkelanjutan mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal, bermakna, serta mendorong kemajuan akademik siswa secara Pengalaman belajar yang personal membuat siswa merasa dihargai dan dipahami keunikan mereka, sementara pembelajaran yang bermakna membantu siswa melihat relevansi materi dengan kehidupan mereka. Kombinasi dari kedua hal ini menciptakan motivasi intrinsik yang kuat untuk terus belajar dan berkembang. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam tiga siklus, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran discovery learning melalui pendekatan pembelajaran berdiferensiasi berbantuan media YouTube terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi teks cerita fantasi di kelas VII SMP Labschool Jakarta. Media YouTube berperan signifikan dalam meningkatkan imajinasi, pemahaman struktur teks, serta motivasi siswa, karena konten visual dan naratifnya mampu menjembatani konsep abstrak menjadi konkret. Strategi pembelajaran berdiferensiasi memberikan ruang bagi semua siswa untuk belajar sesuai kemampuan dan minatnya, sehingga tercipta proses belajar yang inklusi, adaptif, dan berpusat pada peserta Meskipun demikian, implementasi strategi ini memerlukan persiapan matang, terutama dalam memilih video yang relevan, mengelola waktu pembelajaran, dan memberikan pendampingan kepada siswa dengan kesiapan rendah. Implikasi praktis bagi guru meliputi beberapa hal penting. Pertama, guru disarankan untuk mengintegrasikan media YouTube secara terarah dengan memilih konten edukatif yang relevan dan mendukung tujuan pembelajaran. Selain itu, guru perlu melakukan perencanaan berdiferensiasi agar setiap siswa memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan minatnya. Strategi pembelajaran ini juga dapat diadaptasi untuk berbagai jenis teks lain dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, seperti teks naratif, prosedur, maupun deskripsi, guna meningkatkan literasi siswa secara Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi praktis bagi guru dalam mengembangkan model pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan relevan dengan karakteristik peserta didik abad ke-21. 180 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 41 No. 2 (Desember, 2. 169 Ae 182 DAFTAR PUSTAKA