ABADIMAS ADI BUANA VOL. NO. JULI 2018 e-ISSN : 2622 Ae 5719. P Ae ISSN : 2622 - 5700 KARAKTERISTIK DAN KEBUTUHAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Khairun Nisa, . Sambira Mambela dan . Lutfi Isni Badiah Mahasiswa . Dosen Pogram Studi Pendidikan Khusus FKIP Universitas PGRI Adi Buana Surabaya Email: . Khairunnisa@gmail. com, . Sam. Mambela@gmail. com , . Lutfiisnibadiah@gmail. ABSTRAK Anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak-anak yang tumbuh dan berkembang dengan berbagai perbedaan dengan anak-anak pada umumnya. Istilah anak-anak dengan kebutuhan khusus tidak mengacu pada sebutan untuk anak-anak penyandang cacat, tetapi mengacu pada layanan khusus yang dibutuhkan anak-anak dengan kebutuhan khusus. Ada berbagai jenis kategori dalam lingkup jangka waktu anak-anak dengan kebutuhan khusus. Dalam konteks pendidikan khusus di Indonesia, anak-anak dengan kebutuhan khusus dikategorikan dalam hal anak-anak tunanetra, anak-anak tuna rungu, anak-anak dengan kecacatan intelektual, anak-anak penyandang cacat motorik, anak-anak dengan gangguan emosi sosial, dan anak-anak dengan bakat cerdas dan Setiap anak dengan kebutuhan khusus memiliki karakteristik berbeda dari satu ke yang Selain itu, setiap anak dengan kebutuhan khusus juga membutuhkan layanan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik mereka. Penting untuk melaksanakan kegiatan identifikasi dan penilaian untuk mengidentifikasi karakteristik dan kebutuhan mereka. Hal ini dianggap penting untuk mendapatkan layanan yang tepat sesuai dengan karakteristik, kebutuhan dan kemampuannya. Kata kunci: Karakteristik. Kebutuhan. Anak Berkebutuhan Khusus ABSTRACT Children with special needs (ABK) are children who grow and develop with various differences with children in general. The term of children with special needs does not refer to the designation for children with disabilities, but refers to the special services that children with special needs There are various types of categories within the scope of the term of children with special In the context of special education in Indonesia, children with special needs are categorized in terms of children with visual impairment, deaf children, children with intelectual disability, children with motoric disabilities, children with social emotional disorder, and children with intelligent and special talents. Each child with special needs has different characteristics from one to another. Moreover, each child with special needs also needs special services tailored to their abilities and characteristics. It is necessary to carry out identification and assessment activities to identify their characteristics and needs. It is considered important to get the right service according to the characteristics, needs and abilities. Keyword: Characteristic. Needs. Children with Special Needs pemenuhan hak untuk ABK saat ini pun telah tertuang dalam UU No. 8 Tahun 2016. Bahkan, pemerintah saat ini sedang gencar menggalakkan pendidikan dan lingkungan yang ramah bagi ABK. Hal tersebut diwujudkan oleh pemerintah dalam bentuk pendidikan inklusif serta mulai diperketatnya bangunan-bangunan dan fasilitas umum yang PENDAHULUAN Anak berkebutuhan khusus (ABK) menjadi sorotan masyarakat maupun pemerintah selama hampir satu dekade Baik dari segi layanan pendidikan, layanan terapi, aksesibilitas umum, dan berbagai hal terkait dengan pemenuhan hak bagi ABK. Terbaru, berbagai layanan dan ABADIMAS ADI BUANA VOL. NO. JULI 2018 e-ISSN : 2622 Ae 5719. P Ae ISSN : 2622 - 5700 harus memenuhi standar aksesibilitas bagi ABK. Secara sederhana, anak berkebutuhan khusus dapat diartikan sebagai anak yang memerlukan layanan khusus untuk dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik. Hal tersebut mencakup anak-anak yang mengalami permasalahan maupun yang memiliki kelebihan terkait tumbuh kembang yang kaitannya dengan intelegensi, inderawi, dan anggota gerak. Seperti yang diungkapkan oleh Efendi . bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan suatu kondisi yang berbeda dari rata-rata anak pada umumnya. Perbedaan dapat berupa kelebihan maupun Dari adanya perbedaan ini, akan Heward menyatakan bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik (Rejeki & Hermawan, 2. Namun daripada itu, kondisi masyarakat saat ini masih banyak yang belum terbuka dengan ABK. Permaslahan ini menunjukkan budaya masyarakat Indonesia yang masih belum tumbuh menjadi budaya yang inklusif yang ramah dengan ABK. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada pembaca tentang karakteristik setiap jenis ABK dan bagaimana pemenuhan kebutuhan layanan yang disesuaikan dengan setiap karakteristik pendengaran, intelegensi, motorik, pervasif. Pemberian materi disampaikan oleh Drs. Sambira Mambela. Pd dan Lutfi Isni Badiah. Pd. ,M. Pd pada tanggal 23 Maret Kegiatan dilaksanakan menyampaikan paparan materi kemudian dilakukan tanya jawab dan diskusi dengan orang tua anak berkebutuhan khusus. akhir kegiatan dilakukan pengambilan kesimpulan dari paparan materi tersebut oleh pemateri dan juga oleh peserta. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik dan Kebutuhan ABK Tunanetra Istilah anak tunanetra secara mendasar dapat diartikan sebagai anak-anak gangguan pada fungsi penglihatan. Kita ketunanetraan berdasarkan fungsi atau kemampuan penglihatan yang Hal ini bertujuan untuk membantu mempermudah dalam penyediaan layanan baik dalam bentuk akademik maupun layanan tambahan sebagai keterampilan Dengan mendefinisikan ketunanetraan sesuai dengan tingkatan fungsi penglihatan, maka kita tidak akan mengartikan secara mendasar bahwa anak mengalami kebutaan. Beberapa ahli seperti Djaja Rahardja dan Sujarwanto . Gargiulo menjadi 3 kategori yaitu buta buta, buta fungsional dan low vision. Seseorang kemampuan penglihatannya berkisar 20/200 atau dibawahnya, atau lantang pandangannya tidak lebih dari 20 derajat. Pada pengertian ini, seorang anak di tes dengan menggunakan snellen chart . artu snelle. dimana anak harus dapat METODE PELAKSANAAN Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di PK-PLK Cinta Ananda Kabupaten Sumenep dilaksanakan dengan memberikan materi tentang: Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus, dijelaskan klasifikasi anak berkebutuhan khusus terdiri dari Anak dengan gangguan penglihatan, pendengaran, intelegensi, fisik dan motorik, pervasif. Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus, dijelaskan tentang masingmasing karateristik khusus dari Anak dengan gangguan penglihatan. ABADIMAS ADI BUANA VOL. NO. JULI 2018 e-ISSN : 2622 Ae 5719. P Ae ISSN : 2622 - 5700 mengidentifikasi huruf pada jarak 20 kaki atau 6 meter. Dengan pengertian lain anak-anak dikatakan buta secara legal jika mengalami permasalahan pada sudut pandang yaitu kemampuan menggerakkan mata agar dapat melihat ke sisi samping kiri dan Seorang mengalami kebutaan apabila mereka hanya memiliki sedikit persepsi tentang rangsangan cahaya yang diterima atau mungkin tidak mempu mengidentifikasi apapun dengan kemampuan penglihatannya dengan kata lain disebut dengan buta total. Anak-anak pada kategori ini memanfaatkan indera pendegaran dan perabanya sebagai alat utama tentang keadaan disekitar. Seorang mengalami buta fungsional apabila mereka memiliki sisa penglihatan Anak-anak pada kategori ini masih mampu mengidentifikasi stimulus cahaya di lingkungan Beberapa dari mereka masih mampu mengidentifikasi pantulan cahaya dari benda-benda disekitar, sehingga dengan adanya sisa penglihatan ini dapat memudahkan mereka untuk belajar orientasi Sedangkan anak dikatakan low vision apabila mereka masih memiliki sisa penglihatan untuk berorientasi dengan lingkungan Bahkan, anak-anak low mengidentifikasi huruf dan angka dengan kata lain dapat digunakan Pada kategori ini, anak yang mengalami low vision masih mampu mengidentifikasi wajah seseorang dengan kemampuan penglihatannya meskipun pada jarak yang sangat dekat. Berdasarkan tersebut dapat kita simpulkan bahwa anak-anak tunanetra adalah anak yang mengalami permasalahan pada fungsi penglihatannya, sehingga mereka mengalami permasalahan Tentunya anak yang mengalami ketunanetraan akan menglami permasalahan dalam proses belajarnya, berbeda dengan anak normal yang dapat menerima Maka dalam hal ini layanan khusus dalam proses Secara umum, anak tunanetra harus belajar dengan menggunakan tulisan braille, yaitu perabanya untuk mengidentifikasi tulisan braille. Meskipun demikian, anak-anak tunanetra juga dilatihkan memanfaatkan sisa penglihatannya lingkungan sekitar, misalnya yang mengalami buta fungsional, mereka harus mampu memanfaatkan sisa penglihatannya untuk membantu mereka dalam proses belajar orientasi mobilitas. Sedangkan anak low vision juga harus dikenalkan dengan tulisan awas sehingga tidak terbatas belajar dengan tulisan Selain membutuhkan tulisan braille untuk dapat belajar, anakanak dengan ketunanetraan juga berbeda pada proses belajarnya. Guru perlu menggunakan media pembelajaran yang mirip dengan . iruan,replik. , sehingga anak tunanetra dapat memanfaatkan indera perabanya untuk membantu mendapatkan informasi dalam kegiatan ABADIMAS ADI BUANA VOL. NO. JULI 2018 e-ISSN : 2622 Ae 5719. P Ae ISSN : 2622 - 5700 Namun demikian, anak tunanetra juga perlu pengalaman pengetahuan dan mempermudah proses belajar seperti halnya anakanak pada umumnya. Lebih daripada itu, dalam lingkungan masyarakat anak-anak perlu bantuan aksesibilitas untuk dapat memanfaatkan fasilitas umum yang tersedia. Sebagai contoh trotoar atau lantai yang dilengkapi dengan bidang timbul yang dapat mengidenfi arah mereka berjalan. Selain itu diperlukan pula, tulisantulisan braile yang terpasang pada ruang umum untuk memudahkan mereka dalam menemukan fasilitas yang mereka perlukan. Tunarungu Tunarungu dapat diartikan sebagai gangguan pendengaran, dimana anak yang mengalami ketunarunguan adalah menglami permasalahan pada hilangnya atau Andreas Dwijosumarto . alam Soemantri, 2. menyatakan bahwa anak yang dapat dikatakan tunarungu jika mereka tidak mampu atau kurang mampu mendengar. Menurutnya, tunarungu dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu tuli dan kurang Tuli merupakan suatu kondisi dimana seseorang benarbenar tidak dapat mendengar dengar pada telinganya. Sedangkan kurang dengar merupakan kondisi dimana seseorang yang mengalami pendengarannya tetapi masih dapat meskipun dengan atau tanpa alat bantu dengar. Sedangkan Boothroyd . alam Winarsih, 2. memiliki padangan berbeda tentang kasifikasi anak Terdapat 4 klasifikasi anak tunarungu yaitu tunarungu ringan . -30 d. , tunarungu sedang . -60 d. , tunarungu berat . -90 d. , dan tunarungu sangat berat . 20 d. Dampak hilangnya fungsi dengar pada seseorang dapat mempengaruhi proses komunikasi dengan orang Telinga atau indera pendengar merupakan organ yang berperan sentral dalam proses penerimaan informasi berupa suara, yang kemudian diproses oleh otak sehingga menghasilkan persepsi Setiap manusia dapat berkomunikasi dan berbicara secara verbal dikarenakan otak dapat merekam setiap informasi yang diterima oleh telinga sejak usia dini. Dengan demikian, hilangnya fungsi pendengaran sejak usia dini sama saja seorang anak akan mengalami terhambatnya proses masuknya informasi berupa suara melalui telinga (Soemantri, 2. Berdasarkan tersebut dapat kita simpulkan bahwa pada dasarnya anak tunarungu tidak aspek-aspek lain, selain yang berkaitan dengan pendengaran dan Oleh karena itu, dalam segi pelayanan pendidikan anak tunarungu memiliki kemampuan yang tidak berbeda dengan anakanak pada umumnya. Namun daripada itu, guru memerlukan menyampaikan materi pelajaran kepada anak tunarungu. Guru harus mampu berbicara dengan mimik mulut yang jelas, meskipun tanpa mendengar anak tunarungu dapat mencerna informasi yang disampaikan. Lebih daripada itu, guru juga harus mampu ABADIMAS ADI BUANA VOL. NO. JULI 2018 e-ISSN : 2622 Ae 5719. P Ae ISSN : 2622 - 5700 menggunakan bahasa isyarat atau bahasa tubuh untuk membantu proses penyampaian informasi. Metode pembelajaran seperti ini dapat disebut dengan pendekatan Komtal (Komunikasi Tota. (Suparno, 1. Tunagrahita Tunagrahita istilah yang disematkan bagi anakanak berkebutuhan khusus yang mengalami permasalahan seputar Di Indonesia pengelompokan dari beberapa anak berkebutuhan khusus, namun dalam bidang pendidikan mereka memiliki hambatan yang sama dikarenakan permasalahan intelegensi. Dalam bahasa asing, anak yang mengalami permasalahan intelegensi memiliki beberapa istilah penyebutan antara (IQ Sedangkan klasifikasi lain dapat didasarkan pada kemampuan yang dimiliki yaitu Ringan (Mampu didi. Sedang (Mampu lati. Berat (Mampu rawa. Berdasarkan teori-teori tersebut maka kita dapat mengetahui Dalam berbeda dengan anak-anak pada umumnya karena kecepatan proses penerimaan pengetahuan tentu lebih Hal tersebut tentu hanya berlaku bagi anak tunagrahita yang pelajaran, dengan kata lain adalah anak tunagrahita mampu didik. Akan tetapi bagi anak tunagrahita yang mampu latih, maka perlunya mereka mendapat latihan-latihan bina diri untuk dapat membantu dirinya lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Sedangkan bagi anak tunagrahita lain mental retardasi, mental defectif, mental defisiensi, dan lainlain (Somantri, 2. Berbagai digunakan untuk menyebut anak tunagrahita pada dasarnya memiliki arti yang sama, yaitu menjelaskan tentang anak yang memiliki keterbatasan intelegensi di bawah rata-rata sehingga berdampak pada kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari (Somantri, 2. Anak tunagrahita dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkatan intelegensi dengan dasar intelegensi normal manusia dengan Skala Binet berkisar antara 90-110. Adapun intelegensi adalah Ringan (IQ 6. Sedang (IQ 50-. Berat (IQ 35-. Sangat yang memiliki tingkat berat atau sangat berat, mereka memiliki karkateristik lebih khusus dimana mereka akan kesulitan untuk menjalani aktivitas sosial seharihari. Anak-anak pada kategori tersebut membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat mengurus dirinya sendiri. Tunadaksa Dalam konteks pendidikan khusus di Indonesia, tunadaksa dapat diartikan sebagai gangguan Pada konteks lain dapat kita temui penggunaan istilah lain dalam menyebut anak tunadaksa misalnya anak dengan hambatan Utamanya, anak tunadaksa adalah anak yang mengalami gangguan fungsi gerak yang disebabkan oleh permasalahan pada organ gerak pada tubuh. Somantri . tunadaksa merupakan suatu keaadan disebabkan karena bentuk abnormal atau organ tulang, otot, dan sendi tidak dapat berfungsi dengan baik. ABADIMAS ADI BUANA VOL. NO. JULI 2018 e-ISSN : 2622 Ae 5719. P Ae ISSN : 2622 - 5700 Pada tunadaksa memiliki berbagai jenis klasifikasi tergantung pada bagian mengalami permasalahan. Adapun beberapa jenis tunadaksa adalah Club-foot . aku ka. Club-hand . aku tanga. Polydactylism . ari lebih banya. Syndactylism . ari berselapu. Torticolis . angguan Spina Bifida . bnormalitas belakan. , dll. Pendidikan khusus di Indonesia menggolongkan anak cerebral palsy pada kumpulan anak berkebutuhan khusus tunadaksa. Meskipun termasuk jenis disabilitas Brain Injury, anak cerebral palsy digolongkan dalam anak tunadaksa karena mengalami gangguan pada fungsi gerak terutama pada otot (Somantri, 2. Anak tundaksa mengalami gangguan pada anggota gerak, namun pada umumnya anak-anak Secara umum, anak perkembangan normal seperti anakanak pada umumnya. Namun, lebih daripada itu kita perlu lebih memberikan perhatian pada anak tunadaksa dalam segi perkembangan sosial emosional. Anak tunadaksa tumbuh dengan kondisi tubuh yang bermasalah, tentu hal tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi perkembangan sosial emosional. Anak tunadaksa rawan akan perilaku minder, menutup diri, dan bahkan rawan bullying. Dalam proses pembelajaran, anak tunadaksa memerlukan metodemetode khusus yang disesuaikan dengan kondisi tubuh. Tidak setiap anak tunadaksa dapat menulis dengan baik dikarenakan kondisi Selain pembelajaran berbasis akademik, anak tunadaksa juga memerlukan pembelajaran-pembelajaran khusus untuk melatih Soft Skill agar dapat memanfaatkan sisa kemampuan atau Pelayanan-pelayanan tersebut sangat diperlukan anak-anak tunadaksa agar dapat membantu kualitas hidupnya lebih baik dan mandiri. Tunalaras Anak tunalaras merupakan konteks dengan batasan-batasan yang sangat rumit tentang anak-anak yang mengalami masalah tignkah Istilah tunalaras itu sendiri belum dapat diterima secara umum karena batasan-batasan penyebutan anak tunalaras yang kurang saklek. Pada intinya sebutan anak tunalaras merupakan gangguan perilaku yang menunjukan suatu masyarakat, merusak diri sendiri, serta gagal dalam proses belajar di sekolah (Somantri, 2. Somantri menambahkan, sebutan lain anak tunalaras yaitu anak tunasosial melakukan penentangan terhadap norma dan aturan sosial di mengganggu ketertiban, melukai orang lain, dll. Kauffman . alam Somantri, 2. menyatakan tentang batasan-batasan anak dapat disebut tunalaras jika secara nyata dan menahun merespon lingkungan yang menyimpang tanpa ada kepuasan pribadi namun masih diajarkan perilaku baik. Dalam konteks pendidikan khusus di Indonesia menyebut anak tunalaras mengalami permasalahan pada perilaku, sosial, dan emosional. Berdasar tersebut, anak tunalaras dapat mengalami dampak yang sangat besar jika tidak mendapatkan ABADIMAS ADI BUANA VOL. NO. JULI 2018 e-ISSN : 2622 Ae 5719. P Ae ISSN : 2622 - 5700 layanan secara khusus. anak-anak konseling dan rehabilitasi untuk menerapkan latihan-latihan secara khusus agar dapat berperilaku sesuai dengan norma dan aturan sosial dalam bermasyarakat. Anak cerdas dan bakat istimewa Anak kecerdasan istimewa sesuai undang undang termasuk anak yang memerlukan layanan khusus, hal tersebut tertuang pada UU Sisdiknas No. Menurut Somantri . anak berbakat dan cerdas istimewa memiliki kebutuhan dan karakteristik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. anak berbakat memiliki kesamaan dengan istilah-istilah asing, yang mana dapat diartikan bahwa anak berbakat merupakan anak yang memiliki kemampuan atau talenta di atas rata-rata anak pada umumnya. Serupa dengan anak dengan kecerdasan istimewa yang memiliki kecerdasan di atas IQ rata-rata anak pada umumnya. Namun, terdapat pendapat lain tentang istilah anak berbakat dan cerdas istimewa, yaitu mereka yang memiliki kemampuan atau IQ di atas rata-rata serta dapat berprestasi karena kemampuan Pada umumnya, tumbuh kembang anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa sama seperti anak-anak normal. Namun, lebih ditekankan pada pada aspek tertentu dimana mereka mengalami perkembangan yang lebih cepat dibanding anak-anak Hal tersebut dapat berlaku pada aspek apapun, baik pengetahuan, kinestetik, seni, dll. Oleh karena itu, anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa memerlukan layanan khusus untuk menunjang pesatnya perkembangan pada aspek-aspek tertentu. Anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa memang mengalami perkembangan yang cepat pada aspek tertentu, tapi bukan berarti hal tersebut tidak membawa ancaman negatif terhadap aspek sosial emosional mereka. Anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa akan mendapat prestasi lebih banyak dan tingkat keberhasilan lebih tinggi dibanding anak lain. Namun tentu dapat berakibat fatal jika mereka mengalami kegagalan, hal yang dapat terjadi adalah menutup diri, stress tinggi, sampai dengan bunuh diri dapat terjadi pada anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa yang mengalami kegagalan. Oleh karena itu, selain layanan untuk menunjang kecerdasan dan bakat mereka memerlukan layanan konseling serta pendampingan untuk memperkuat sisi sosial emosional mereka. KESIMPULAN Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang tumbuh dan berkembang dengan berbagai perbedaan dengan anak-anak pada Sebutan anak berkebutuhan khusus tidak selalu merujuk pada kecacatan yang dialami, namun merujuk pada layanan khusus yang dibutuhkan karena mengalami suatu hambatan atau kemampuan diatas ratarata. Meskipun jenis anak berkebutuhan khusus sangat beragam, namun dalam konteks pendidikan khusus di Indonesia anak berkebutuhan khusus di kategorikan dalam istilah anak tunanetra, anak tunarungu, anak tunagrahita, anak tunadaksa, anak tunalaras, dan anak cerdas dan bakat istimewa. Setiap anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Layanan untuk anak berkebutuhan khusus tidak dapat disamakan antara satu dengan yang lain, akan tetapi perlu diberikan sesuai dengan karakteristik kebutuhan dan kemampuan Untuk mendapatkan layanan yang sesuai dengan karakteristik kebutuhan dan ABADIMAS ADI BUANA VOL. NO. JULI 2018 e-ISSN : 2622 Ae 5719. P Ae ISSN : 2622 - 5700 kemampuannya, perlu dilakukan identifikasi dan asesmen terhadap anak berkebutuhan Berbagai bentuk layanan perlu diberikan untuk menunjang kebutuhan mereka, tidak hanya pada bidang pendidikan namun layanan non akademik juga sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka menjadi lebih baik dan ofAbnormal Child Psychology, 35, pp. REFERENSI