Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini ISSN . : 2715-7032. ISSN (Prin. : 2715-7024 Vol. No. 1, (Mei, 2. , pp. http://ejournal. id/index. php/Juraliansi PERSEPSI GURU TERHADAP PEMBELAJARAN SOSIO-KULTURAL UNTUK ANAK USIA DINI DI TK PUSAT PAUD HARAPAN BANGSA PARANG LOE. GOWA-SULAWESI SELATAN Hafisah1*. Mutiara2 ,Carmelita Patrisia Due 3,Hajerah4,Muhammad Akil Musi5 Pascasarjana. Universitas Negeri Makassar. Indonesia ficaoctober@gmail. com, t43845805@gmail. Patrisiaduei@gmail. com, hajerah@unm. id, akrimna@yahoo. Article Info ABSTRACT Article History Accepted : Abstract: The implementation of socio-cultural learning in early childhood education has not been fully optimal due to the influence of differences in children's social characteristics, the lack of local culture-based learning media, limited learning time, and the lack of teacher training on socio-cultural approaches. The purpose of this research was to describe teachers' perceptions of socio-cultural learning at Harapan Bangsa Kindergarten. PAUD Pusat. This research used qualitative techniques with a descriptive approach to gain an understanding of teachers' perceptions, learning implementation, children's social interactions, and supporting and inhibiting factors for learning. The subjects of the study were two class teachers directly involved in early childhood learning activities. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation. The results showed that teachers had a positive perception of socio-cultural learning because it was able to support children's social development through habits of cooperation, sharing, the use of polite language, and the integration of local culture into daily learning. The implementation of learning was carried out through group play, role-playing, storytelling, singing, and cooperation. This learning had a positive influence on communication skills, social interactions, empathy, self-confidence, and an attitude of respect for children's socio-cultural context. Thus, socio-cultural learning is an effective way that can help social development and character formation from an early age in a contextual, collaborative, and sustainable manner. Abstrak: Implementasi pembelajaran sosio-kultural pada pendidikan anak usia dini belum sepenuhnya optimal karena dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik sosial anak, kurangnya media pembelajaran berbasis budaya lokal, keterbatasan waktu belajar, dan kurangnya pelatihan guru tentang pendekatan sosio-kultural. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan persepsi guru tentang pembelajaran sosio-kultural di TK Pusat PAUD Harapan Bangsa. Penelitian ini menggunakan teknik kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memperoleh pemahaman mengenai persepsi guru, implementasi pembelajaran, interaksi sosial anak, serta faktor pendukung dan penghambat pembelajaran. Subjek penelitian adalah dua guru kelas yang terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran anak usia dini. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki persepsi positif tentang pembelajaran sosio-kultural karena mampu membantu perkembangan sosial anak melalui kebiasaan kerja sama, berbagi, penggunaan bahasa yang sopan, dan integrasi budaya lokal ke dalam pembelajaran sehari-hari. Implementasi pembelajaran dilakukan melalui bermain kelompok, bermain peran, bercerita, bernyanyi, dan bekerja sama. Pembelajaran ini memiliki pengaruh yang baik terhadap keterampilan komunikasi, interaksi sosial, empati, kepercayaan diri, dan sikap menghormati konteks sosio-kultural anak. Dengan demikian, pembelajaran sosio-kultural merupakan cara efektif yang dapat membantu perkembangan sosial dan pembentukan karakter sejak usia dini secara kontekstual, kolaboratif, dan berkelanjutan. 23 Mei 2026 Approved : 30 Mei 2026 Keywords: Persepsi guru. Pembelajaran sosiokultur. Anak usia dini Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 227 Copyright . 2026 Hafisah, . PENDAHULUAN Pendidikan anak usia dini merupakan landasan utama untuk membentuk perkembangan kognitif, sosial, emosional, bahasa, moral, dan karakter anak. Anak usia dini berada pada masa keemasan . olden ag. yang membutuhkan stimulasi yang tepat melalui lingkungan belajar yang mendorong optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pendidikan anak usia dini tidak hanya bertujuan pada potensi akademik, tetapi juga pada pembentukan keterampilan sosial, sikap, dan nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi dasar perilaku anak di masa depan. Pengalaman sosial yang positif dalam lingkungan pendidikan akan membantu anak mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi, bekerja sama, dan menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari (Putri & Suryana, 2. Selain itu, strategi pendidikan yang memperhatikan latar belakang sosial dan budaya anak di anggap lebih efektif dalam membantu anak memahami realitas lingkungan sebelum memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Hal tersebut, sejalan dengan teori konstruktivisme sosial memandang perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan budaya di lingkungan sekitarnya. Menurut teori belajar Vygotsky, menjelaskan bahwa bentuk kemampuan anak dalam belajar melalui komunikasi, kolaborasi, imitasi, dan interaksi sosial dengan orang dewasa dan teman sebaya. Hal tersebut, memberikan makna bahwa pembelajaran sosio-kultural merupakan pendekatan yang membentuk pengalaman sosial dan budaya dan membangun norma sosial, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai budaya lokal, toleransi, empati, dan kerja sama pada situasi lingkungan belajarnya. Implementasi pembelajaran sosio-kultural dapat dilakukan melalui bermain kelompok, bermain peran, kegiatan kolaboratif, pembiasaan sosial, dan pengintegrasian budaya lokal anak usia dini. Kegiatan ini memungkinkan anak untuk belajar memahami lingkungan sosial secara langsung dan berbasis pengalaman nyata yang relevan dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Pembelajaran yang berbasis pengalaman sosial di yakini dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, kepercayaan diri, dan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya (Wahyuni & Sari, 2022. Kusumawati et al. , 2. Keberhasilan implementasi pembelajaran sosio-kultural sangat bergantung pada peran guru sebagai fasilitator dalam proses pengembangan pendidikan anak usia dini. Persepsi guru diharapkan dapat menyediakan suasana belajar yang kondusif, mendorong interaksi sosial yang sehat, dan mengintegrasikan nilai-nilai sosial dan budaya ke dalam kegiatan pembelajaran, akan memengaruhi cara mengajar guru pada aspek kemampuan pemahaman, perencanaan, dan implementasi pembelajaran di kelas (Anggreni et al. , 2022 . Awaliah, 2. Pembelajaran sosio-kultural menawarkan banyak manfaat, namun masih terdapat beberapa kendala dalam penerapannya seperti karakteristik anak, keterbatasan akses terhadap materi, pelatihan yang tidak memadai dalam metode sosial-budaya, dan keterbatasan waktu di kelas. Implementasi pembelajaran sosio-kultural di setiap lembaga PAUD berbeda-beda dan bergantung pada kesiapan guru maupun dukungan lingkungan sekolah yang Kompetensi guru memiliki pengaruh yang besar terhadap keberhasilan dalam mendorong lingkungan belajar di sekolah anak yang sesuai kebutuhan perkembangan anak (Dewi et al. , 2. Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 228 Copyright . 2026 Hafisah, . Guru adalah aktor utama yang secara langsung menentukan efektivitas pelaksanaan pembelajaran di kelas, sehingga penting untuk melakukan penelitian tentang persepsi guru terhadap pembelajaran sosio-kultural. Perspektif guru dapat memberikan wawasan tentang pemahaman, pengalaman, hambatan, dan strategi yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran sosio-kultural bagi anak usia dini. Dalam penelitian sebelumnya lebih berfokus pada pelaksanaan pembelajaran sosial secara umum dan pengembangan keterampilan sosial pada anak. Namun, penelitian tentang persepsi guru terhadap pembelajaran sosio-kultural dalam konteks lembaga pendidikan anak usia dini masih relatif terbatas. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam agar dapat mengeksplorasi bagaimana guru memahami dan menerapkan pembelajaran sosio-kultural dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di lembaga pendidikan anak usia dini. TK Pusat PAUD Harapan Bangsa merupakan lembaga pendidikan anak usia dini yang menerapkan kegiatan pembelajaran yang berfokus pada interaksi sosial melalui bermain kelompok, pembiasaan sosial, dan pengenalan budaya secara sederhana kepada anak. Berdasarkan hasil observasi awal, guru telah berupaya mengintegrasikan nilai-nilai sosial dan budaya dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Anak-anak terbiasa berkolaborasi, berbagi, berbicara sopan, dan bekerja kelompok. Namun, ditemukan beberapa kendala yang meliputi kurangnya kepercayaan diri, kesenjangan kemampuan sosial di antara anak, dan interaksi sosial yang kurang memadai dari beberapa anak. Dengan demikian, implementasi pembelajaran sosiokultural masih perlu ditingkatkan baik dari aspek pendekatan pembelajaran maupun persiapan guru dalam menangani aktivitas sosial anak di kelas. Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini penting dilakukan untuk mendeksripsikan persepsi guru tentang pembelajaran sosio-kultural di TK Pusat PAUD Harapan Bangsa sebagai lembaga pendidikan anak usia dini. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pemahaman guru, implementasi pembelajaran sosial budaya, manfaat bagi perkembangan sosial anak, serta berbagai kesulitan selama proses pembelajaran. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi dalam merancang pembelajaran sosiokultural yang lebih kontekstual dan relevan dengan karakteristik anak usia dini dalam lingkungan pendidikan anak usia dini. METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam pendekatan kualitatif-deskriptif untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang persepsi guru mengenai pembelajaran sosio-kultural di TK Pusat PAUD Harapan Bangsa. Pendekatan kualitatif di pilih karena penelitian ini berfokus pada pengungkapan makna, pengalaman, pemahaman, dan sudut pandang subjek penelitian tentang fenomena pembelajaran yang terjadi secara spontan di lingkungan pendidikan anak usia Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggambarkan secara mendalam proses implementasi pembelajaran sosio-kultural, interaksi sosial yang terjadi di kelas, dan beberapa faktor yang mempengaruhi implementasi pembelajaran sosio-kultural di lingkungan nyata anak usia dini. Peneliti dapat mengumpulkan data yang lebih rinci dan kontekstual terkait dengan fenomena sosial yang diteliti sehingga hasil penelitian menggambarkan kondisi nyata di lapangan Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 229 Copyright . 2026 Hafisah, . (Creswell & Creswell, 2. Selain itu, penelitian kualitatif juga digunakan oleh peneliti untuk memahami fenomena sosial dari perspektif partisipan secara langsung di lingkungan secara alami maupun natural. Penelitian ini dilakukan di TK Pusat PAUD Harapan Bangsa yang terletak di Kasimburang Belapunranga Parangloe. Kecamatan Parang Loe. Kabupaten Gowa. Sulawesi Selatan. Subjek penelitian adalah dua guru kelas yang secara langsung berpartisipasi dalam proses pembelajaran anak usia dini, yaitu seorang guru kelas A dan seorang guru kelas B. Subjek di pilih dengan pendekatan purposive sampling, yaitu proses pemilihan informan berdasarkan pertimbangan tertentu yang penting bagi tujuan penelitian. Kedua guru dipilih karena memiliki pengalaman dalam implementasi kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan interaksi sosial, penanaman nilai-nilai budaya, dan kegiatan kolaboratif bagi perkembangan anak usia dini. Purposive sampling digunakan oleh peneliti untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan secara detail sesuai dengan tujuan penelitian mengenai penerapan pembelajaran sosio-kultural dalam konteks PAUD (Moleong, 2. Oleh karena itu, pemilihan subjek penelitian secara purposif didasarkan pada keterlibatan langsung guru dalam kegiatan pembelajaran yang menjadi objek penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi langsung dilakukan selama proses pembelajaran di kelas untuk mengamati interaksi sosial anak, strategi pembelajaran guru, dan penerapan nilai-nilai sosial dan budaya dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Temuan ini membantu akademisi untuk mendapatkan gambaran konkret tentang implementasi pembelajaran sosio-kultural di lingkungan Wawancara terstruktur dilakukan dengan dua guru kelas untuk mendapatkan informasi rinci mengenai persepsi guru, pengalaman mengajar, manfaat pembelajaran sosiokultural, dan tantangan yang dihadapi selama proses pembelajaran. Untuk memperkuat data penelitian, dokumentasi dilakukan untuk mengumpukan data melalui foto kegiatan anak yang berkaitan dengan pembelajaran sosio-kultural. Penggunaan beragam strategi pengumpulan data ini bertujuan untuk mengumpulkan data yang lebih lengkap dan mendalam sehingga kualitas hasil penelitian menjadi lebih baik (Fadilla & Wulandari, 2. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis Miles dan Huberman . alam Sugiyono, 2. yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyusunan kesimpulan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi selama proses penelitian berlangsung. Setelah mengumpulkan data, peneliti melakukan reduksi data dengan memilih, memfokuskan, dan mengkategorikan data yang relevan dengan subjek penelitian. Penyajian data berupa deskripsi naratif untuk mempermudah peneliti dalam memahami hubungan antar data dan menemukan beberapa pola dari hasil penelitian. Tahap terakhir adalah penyusunan kesimpulan. Hal ini dilakukan secara bertahap untuk memverifikasi data yang berkelanjutan hingga diperoleh temuan yang stabil dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, analisis data Miles dan Huberman dipilih karena dapat membantu peneliti mengorganisir data secara sistematis dan mendalam, serta proses interpretasi data kualitatif menjadi lebih relevan. Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 230 Copyright . 2026 Hafisah, . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian terkait persepsi guru terhadap pembelajaran sosio-kultural menunjukkan bahwa guru di TK Pusat PAUD Harapan Bangsa memiliki persepsi yang positif tentang pembelajaran sosio-kultural dalam pendidikan anak usia dini. Berdasarkan hasil wawancara, guru memahami pembelajaran sosio-kultural sebagai proses pembelajaran yang menekankan pada interaksi sosial, membangun sikap kooperatif, pembiasaan perilaku positif, dan integrasi budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari anak. AuPembelajaran sosial budaya tidak hanya dilakukan dalam kegiatan pembelajaran inti, tetapi juga melalui kegiatan sederhana seperti menyapa teman, berbaris sebelum masuk kelas, berbagi peralatan bermain, dan bekerja sama saat menyelesaikan tugas kelompok,Ay kata guru kelas A. Di sisi lain, guru kelas B mengatakan bahwa AuPembelajaran sosial budaya membantu anak untuk belajar memahami lingkungan sosial mereka melalui pengalaman langsung yang dekat dengan kehidupan sehari-harinyaAy. Temuan ini menunjukkan bahwa guru melihat pembelajaran sosio-kultural sebagai aspek kegiatan dalam proses pembentukan karakter sosial anak secara bertahap. Pemahaman guru tersebut relavan dengan teori konstruktivisme sosial yang menyatakan bahwa perkembangan anak dibangun melalui interaksi sosial dan pengalaman budaya yang terjadi di lingkungan belajar anak (Putri & Suryana, 2. Guru secara aktif mengintegrasikan nilai-nilai sosial dan budaya ke dalam pembelajaran di kelas. Guru tidak hanya mengajarkan materi akademik, tetapi juga membantu anak membentuk ikatan sosial yang baik dengan teman sebaya. Guru juga menggunakan bahasa yang sopan dan menunjukkan perilaku sosial yang positif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa perspektif positif guru tentang pembelajaran sosial budaya memengaruhi pengelolaan kegiatan pembelajaran di Oleh karena itu, guru yang memiliki pemahaman kuat tentang pembelajaran sosial lebih mampu membangun lingkungan pembelajaran kolaboratif yang bermanfaat bagi perkembangan sosial anak usia dini (Anggreni et al. , 2. Hasil wawancara, guru juga memandang bahwa pembelajaran sosio-kultural sangat penting untuk membantu anak beradaptasi dengan lingkungan sosial mereka. Menurut guru kelas B. AuAnak yang sering terlibat dalam kegiatan kelompok cenderung lebih aktif berbicara, berinteraksi dengan mudah, dan lebih percaya diri daripada anak yang memiliki kesempatan interaksi sosial yang lebih sedikitAy. Guru menyadari bahwa kemampuan sosial anak tidak berkembang secara otomatis, tetapi dapat dirangsang dan dibiasakan secara terus menerus melalui kegiatan pembelajaran, termasuk interaksi sosial. Pernyataan ini didukung oleh hasil observasi yang menunjukkan sebagian besar anak usia dini tampak lebih aktif dan antusias ketika bekerja dalam kelompok daripada belajar secara individu. Bentuk pembelajaran berbasis sosial merupakan pembelajaran yang lebih relevan bagi anak usia dini karena diperoleh melalui kegiatan kehidupan nyata yang memerlukan komunikasi dan kolaborasi dengan teman sebaya (Wahyuni & Sari, 2. Selain itu, guru percaya bahwa pembelajaran sosio-kultural dapat digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai budaya lokal. Hasil observasi menemukan bahwa guru menggunakan musik daerah, cerita rakyat sederhana, dan tata krama sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran di kelas. Upaya memperkenalkan budaya lokal sejak dini dapat mempermudah anak untuk mengidentifikasi identitas budaya dan mampu menikmati lingkungan sosialnya. Praktik pembelajaran, guru Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 231 Copyright . 2026 Hafisah, . menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari anak, sehingga mudah memahami makna setiap tindakan tersebut. Pembelajaran berbasis budaya lokal ini di anggap mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan lebih dekat dengan kehidupan anak usia dini. Guru menjelaskan bahwa AuTidak semua anak memiliki keterampilan sosial yang sama, maka proses pembelajaran memerlukan pendekatan yang berbeda untuk setiap anak. Ay Beberapa anak secara alami energik dan mudah bergaul, sementara yang lain lebih pasif dan membutuhkan pelatihan yang lebih ekstensif. Keterbatasan materi pembelajaran berbasis budaya dan kurangnya pelatihan melalui pendekatan sosio-kultural juga menjadi kendala dalam pengembangan pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif oleh guru. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengalaman mengajar berpengaruh pada penilaian guru terhadap pembelajaran sosiokultural. Guru yang lebih berpengalaman lebih fleksibel dalam menangani interaksi sosial anak dan mampu menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan kebutuhan kehidupan anak usia dini. Guru menyadari bahwa AuSetiap anak memiliki kualitas individual, sehingga strategi pembelajaran yang bersifat sederhana tidak dapat diterapkanAy. Guru berupaya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi anak agar dapat berpartisipasi secara optimal dalam kegiatan sosial. Selain itu, pemahaman ini mendeskripsikan bahwa kompetensi guru penting dalam melaksanakan pembelajaran yang tepat dan relevan dengan perkembangan sosial anak. Persepsi guru terhadap pembelajaran sosio-kultural di TK Pusat PAUD Harapan Bangsa tidak hanya berorientasi pada metode pembelajaran, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter sosial anak usia dini. Guru menyatakan bahwa AuAktivitas seperti berbagi, bekerja sama, menunjukkan rasa hormat kepada teman sebaya, dan menggunakan bahasa yang sopan merupakan ciri utama pendidikan anak usia dini. Guru juga berpendapat bahwa AuPembelajaran sosio-kultural membantu menyediakan lingkungan belajar yang lebih dinamis, menyenangkan, dan berorientasi pada perkembangan anakAy. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran sosio-kultural memiliki fungsi penting dalam menumbuhkan perkembangan karakter dan keterampilan sosial pada anak usia dini (Aminah et al. , 2. Adapun hasil dokumentasi tentang pembelajaran sosio-kultural anak usia dini,dilihat pada gambar 4. 1, sebagai berikut : Anak Bermain Kelompok dalam Kegiatan Belajar Anak Bermain Peran dalam Kegiatan Belajar Anak Menyelesaikan Tugas Bersama-sama dalam Kegiatan Belajar Gambar 4. 1 Implementasi Pembelajaran Sosio-Kultural di Kelas Hasil observasi pada gambar 4. 1, menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran sosiokultural di TK Pusat PAUD Harapan Bangsa dilakukan melalui berbagai kegiatan sesuai dengan Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 232 Copyright . 2026 Hafisah, . karakteristik anak usia dini. Guru membantu pembelajaran melalui kegiatan bermain kelompok, bermain peran, bernyanyi bersama, bercerita, dan percakapan sederhana dengan interaksi sosial antar anak. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada anak tentang bagaimana berkolaborasi, berbagi, menghormati teman, dan menyelesaikan kesulitan sosial bersifat sederhana. AuKami membuat kegiatan pembelajaran menyenangkan, sehingga anak dapat berinteraksi dan belajar lebih mudah dengan teman-temannya,Ay kata guru. Pembelajaran dilakukan secara fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi kelas guna mendorong partisipasi aktif anak dalam proses pembelajaran. Selain itu, kegiatan pembelajaran berbasis sosial sangat baik dalam membantu anak mengembangkan keterampilan komunikasi, kerja sama, dan empati terhadap lingkungan sekitar (Sulistiyani et al. , 2. Guru kelas A menerapkan lebih banyak strategi pembiasaan sosial berdasarkan hasil observasi, guru membiasakan anak berbaris sebelum mencuci tangan, berbagi peralatan bermain dengan teman, dan bekerja sama saat menyelesaikan tugas Guru juga memberikan umpan balik positif kepada anak yang mencerminkan perilaku sosial dan diterima seperti membantu teman sebaya ataupun menggunakan bahasa yang sopan. AuPembiasaan sosial dilakukan setiap hari agar anak terbiasa menerapkan kesopanan, kerja sama, dan tanggung jawab dalam kegiatan sederhana di sekolah,Ay kata guru kelas A. Pendekatan pembiasaan ini diulang agar anak terbiasa mempraktikkan perilaku sosial positif dengan cara efektif untuk memberikan pemahaman tentang nilai-nilai sosial anak melalui strategi pembiasaan yang diterapkan secara terus-menerus. Sementara itu, guru kelas B menekankan penerapan pembelajaran melalui permainan AuGuru menggunakan permainan peran untuk membuat anak memahami situasi sosial sederhana seperti saling membantu, meminta maaf, berbagi, dan menghormati sudut pandang teman,Ay diperkuat dengan hasil wawancara melalui sikap antusias anak dalam berpartisipasi pada permainan bermain peran karena mereka memiliki kesempatan untuk mengekspresikan diri dari pengalaman yang menyenangkan. Guru kelas B mengatakan bahwa AuMetode permainan peran membantu anak memahami perilaku sosial dengan lebih mudah dan keterlibat langsung dalam situasi yang dimainkan bersama teman-temannyaAy. Guru juga mengatakan bahwa AuAnak biasanya lebih aktif dan percaya diri ketika belajar melalui bermain daripada hanya mendengarkan penjelasan guruAy. kegiatan permainan peran tersebut diyakini dapat mengoptimalkan interaksi sosial, empati, dan kemampuan komunikasi sejak dini daripada pembelajaran satu arah (Kusumawati et al. , 2. Selain itu, guru juga mengintegrasikan budaya lokal ke dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari berdasarkan hasil observasi, guru memasukkan musik daerah, cerita rakyat, dan permainan tradisional sederhana sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran pada anak di kelas guru berupaya menanamkan nilai-nilai budaya lokal anak usia dini. AuAnak harus dikenalkan dengan budaya lokal sejak usia dini agar mengenal lingkungan dan identitas budaya ,Ay kata guru tersebut. Penggunaan budaya lokal dalam pembelajaran membantu anak menjadi akrab dengan lingkungan sosial dan budaya anak usia dini. Dalam hal ini, konteks budaya lokal berkaitan dengan pembelajaran untuk membuat pengalaman belajar lebih relevan karena anak belajar dari lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-harinya (Purnamasari & Wahyudi, 2. Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 233 Copyright . 2026 Hafisah, . Implementasi pembelajaran, guru berperan sebagai fasilitator dan panutan sosial bagi anak. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru memberikan contoh perilaku sosial yang baik melalui komunikasi, kerja sama, dan penyelesaian masalah kecil di kelas. Ketika terjadi konflik antar anak, guru tidak langsung menghukum tetapi membantu mengatasi masalah tersebut dengan berbicara dan saling memahami. Guru juga mengajarkan anak untuk mengucapkan 'maaf' dan 'terima kasih' dalam berbagai konteks pembelajaran. Guru mengatakan. AuAnak lebih cenderung meniru perilaku yang secara langsung dicontohkan oleh guru daripada hanya menerima nasihat. Ay Peran guru sebagai panutan merupakan bagian penting dalam pembelajaran sosial budaya lebih mengarah pada berusaha meniru perilaku orang dewasa di sekitar (Afifah & RofiAoah, 2. Berdasarkan hasil wawancara membantu guru menyadari bahwa implementasi pembelajaran sosio-kultural membutuhkan pendekatan adaptif terhadap kebutuhan dan karakteristik anak. AuTidak semua anak dapat langsung aktif dalam kegiatan sosial, sehingga beberapa anak perlu didampingi secara bertahap,Ay ujar guru. Anak yang memiliki karakteristik pasif di beri lebih banyak kesempatan untuk berbicara dan ditempatkan dalam kelompok kecil agar merasa lebih nyaman berinteraksi dengan teman sebayanya. Guru juga berusaha menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan agar anak tidak takut untuk mengekspresikan diri dalam kemampuan perkembangan sosial dan emosional anak usia dini (Rosidah et al. , 2. Implementasi pembelajaran sosio-kultural TK Pusat PAUD Harapan Bangsa dilakukan secara terus-menerus dalam semua kegiatan sekolah. Nilai-nilai sosial tidak hanya digunakan dalam kegiatan pembelajaran inti, bentuk kegiatan rutin seperti berdoa bersama, bermain di luar kelas, makan bersama, dan membersihkan peralatan bermain setelah digunakan. Kegiatan-kegiatan tersebut digunakan oleh guru untuk mengajarkan kualitas kerja sama, tanggung jawab, dan saling Guru menyatakan bahwa AuKegiatan sekolah sehari-hari digunakan sebagai sarana pembelajaran sosial agar anak terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hariAy. Sehingga pembelajaran sosio-kultural tidak dipandang sebagai kegiatan yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari budaya belajar sehari-hari anak di sekolah. Perilaku sosial yang positif dapat dikembangkan secara bertahap oleh anak melalui pengalaman nyata anak yang dilakukan secara berulang dan konsisten (Nursarofah, 2. Hasil penelitian tentang dampak sosiokultur, menunjukkan bahwa pembelajaran sosiokultural berpengaruh positif terhadap perkembangan interaksi sosial anak usia dini di TK Pusat PAUD Harapan Bangsa, berdasarkan hasil observasi sebagian besar anak tampak lebih aktif berbicara, lebih mudah bekerja sama, dan lebih percaya diri ketika berpartisipasi dalam kegiatan Anak yang awalnya pendiam, mulai berani berbicara dan berinteraksi dengan temanteman setelah sering mengikuti kegiatan pembelajaran sosial. Guru menjelaskan bahwa AuKegiatan kelompok membantu anak belajar berkomunikasi, menunggu giliran, dan menghargai pendapat teman ketika bermain dan belajar bersamaAy. Kegiatan sosial yang dilakukan berulang dapat membantu anak mengembangkan kemampuan interpersonal anak secara bertahap (Ridwan et al. Kegiatan bermain kelompok, anak tampak mengembangkan interaksi sosial yang lebih kuat daripada sebelumnya. Berdasarkan hasil observasi, anak mengembangkan kebiasaan bekerja sama dengan menyusun balok, menggambar bersama, dan memainkan aktivitas kelompok sederhana. Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 234 Copyright . 2026 Hafisah, . Guru membantu anak untuk saling mendukung ketika seorang teman mengalami kesulitan dengan tugas tersebut. Guru kelas A menyatakan. AuAnak semakin terbiasa berbagi peralatan bermain dan saling membantu ketika bermain dengan teman-teman. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis sosial dapat bermanfaat bagi anak untuk memahami pentingnya kolaborasi dan kebersamaan dalam lingkungan sosial. Selain itu, anak tidak hanya di latih untuk belajar melakukan aktivitas, tetapi belajar mengembangkan interaksi sosial yang positif dengan teman sebaya (Wahyuni & Sari, 2. Pembelajaran sosio-kultural juga membantu meningkatkan kemampuan komunikasi anak usia dini dan dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi. Berdasarkan hasil wawancara menunjukkan bahwa guru mengatakan bahwa AuAnak memperoleh lebih banyak kepercayaan diri untuk mengungkapkan pendapat setelah berpartisipasi dalam kegiatan bermain peran dan diskusi sederhanaAy. Anak yang awalnya ragu untuk berbicara mulai mencoba mengungkapkan ide dan menanggapi pertanyaan guru di depan teman-temannya. Guru juga memberi kesempatan kepada anak untuk menceritakan pengalaman secara alami melalui lingkungannya. AuKetika anak mendapat kesempatan untuk berbicara, kepercayaan diri mereka mulai berkembang perlahan,Ay ujar guru kelas B. Kesempatan tersebut memungkinkan anak untuk mengembangkan kepercayaan diri dalam berinteraksi sosial dalam pembelajaran memberikan pengalaman komunikasi anak secara alami (Kusumawati et al. , 2. Namun demikian, temuan penelitian menunjukkan bahwa setiap anak mengembangkan perkembangan sosial dengan cara yang berbeda. Masih ada anak yang memerlukan bantuan ekstra dalam bertransisi ke lingkungan sosial di kelas. Berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa beberapa anak cenderung bermain sendirian dan kurang aktif berinteraksi dengan teman sebaya. Guru mengatakan AuAnak yang pemalu biasanya membutuhkan pendekatan yang lebih lambat agar merasa nyaman bergabung dalam kelompokAy. Sehingga, guru berupaya untuk memberikan perhatian lebih besar. Strategi yang dipersonalisasi tersebut diperlukan untuk memastikan kesempatan yang sama bagi semua anak agar berkembang sesuai dengan kemampuannya. Hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran sosio-kultural berperan dalam mengembangkan empati dan kepedulian anak terhadap teman sebaya. Anak terbiasa membantu teman yang kesulitan mengambil mainan, menghibur teman yang menangis, berbagi makanan saat istirahat, dan dorongan guru untuk saling menghormati dan tidak mengejek teman dalam melakukan kesalahan. Guru menyampaikan bahwa AuAnak mulai menunjukkan kepedulian terhadap teman sebaya seperti membantu teman yang kesulitan atau menghibur teman yang menangisAy. Kebiasaan ini terus dikembangkan agar anak dapat memahami nilai-nilai sosial melalui pengalaman nyata di lingkungan sekolah. Dalam mengembangkan empati sejak usia dini sebagai awal dari pengembangan karakter sosial dan kemampuan anak untuk membangun hubungan positif dengan lingkungan sosialnya (Rosidah et al. , 2. Aktivitas tersebut dilakukan melalui guru mengelompokkan anak untuk bekerja sama dan berdiskusi secara berkelompok. Guru menggunakan aktivitas pembelajaran yang membutuhkan kerja kelompok sehingga anak belajar bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Guru menjelaskan. AuPengaturan tempat duduk dan aktivitas kelompok membantu anak berinteraksi dengan teman sebaya dengan lebih mudah. Ay Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 235 Copyright . 2026 Hafisah, . Pendekatan ini mendukung rasa kebersamaan anak dan mendorong keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Lingkungan belajar yang mendorong interaksi sosial memiliki pengaruh yang mendalam terhadap perkembangan kemampuan sosial dan emosional anak usia dini (Irhamna & Purnama, 2. Interaksi sosial anak di TK Pusat PAUD Harapan Bangsa meningkat ketika guru memberikan penguatan positif terhadap sifat-sifat sosial yang ditunjukkan oleh anak. AuAnak lebih bahagia dan lebih termotivasi ketika mereka dipuji atas perilaku baik,Ay kata guru. Penguatan positif membuat anak merasa dihargai. Sehingga, akan lebih termotivasi untuk mengulangi perilaku sosial secara baik. Guru juga tidak menegur secara langsung dan mencoba membimbing melalui komunikasi yang baik. Pendekatan ini dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman dan memfasilitasi perkembangan sosial anak secara optimal (Afifah & RofiAoah, 2. Hasil penelitian faktor pendukung dan penghambat pembelajaran sosio-kultural, menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran sosio-kultural melalui aspek kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran di kelas, dan membangun suasana belajar yang berpusat interaksi sosial. Hasil observasi, guru mengembangkan komunikasi yang konstruktif dalam aktivitas mengajar guru dalam membimbing anak melalui masalah kecil di kelas. Guru mengatakan bahwa AuLingkungan belajar yang nyaman memudahkan anak untuk berinteraksi dan lebih percaya diri dalam berpartisipasiAy. Sehingga keterampilan manajemen pembelajaran guru dalam keberhasilan penerapan pembelajaran sosiokultural dalam konteks PAUD (Anggreni et al. , 2. Dukungan lingkungan sekolah juga merupakan faktor penting dalam pelaksanaan pembelajaran sosio-kultural. Hasil wawancara menemukan bahwa sekolah memberikan kebebasan dalam menyelesaikan kegiatan belajar anak. Sekolah juga membantu mengajarkan perilaku sosial melalui norma-norma sederhana seperti mengantri, memberi salam, dan menjaga kebersihan lingkungan. Lingkungan sekolah menyediakan pembelajaran sosial dengan berbagai kebiasaan yang diterapkan setiap harinya,Ay kata Lingkungan sekolah yang kondusif mendukung pelaksanaan pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan sosial anak. Selain itu, dukungan lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan keberhasilan pembelajaran sosial anak usia dini (Irhamna & Purnama, 2. Faktor pendukung lain adalah partisipasi dalam permainan kelompok dan aktivitas kolaboratif anak. Keterlibatan anak dalam aktivitas bermain, anak menunjukkan antusiasme yang tinggi melalui pengalaman bermain, aktivitas ini membantu anak belajar bekerja sama, berbagi, dan menciptakan komunikasi secara spontan. AuAnak lebih mudah memahami nilai-nilai sosial ketika belajar melalui aktivitas bermain yang menyenangkan,Ay kata guru. Pembelajaran berbasis bermain menawarkan kesempatan belajar secara aktif dan membangun keterampilan sosial melalui keterlibatan langsung dengan lingkungan sekitar (Ridwan et al. , 2. Penelitian ini juga menemukan beberapa hambatan dalam menerapkan pembelajaran sosio-kultural meliputi menganalisis variasi karakteristik anak saat mengikuti pembelajaran. Tidak semua anak memiliki kemampuan sosial yang baik, sehingga guru membutuhkan berbagai cara dalam membimbing setiap anak. Berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa ada anak yang antusias dan mudah diajak berinteraksi, serta ada anak yang pemalu, kesulitan berkonsentrasi, dan membutuhkan lebih Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 236 Copyright . 2026 Hafisah, . banyak waktu untuk terbiasa dengan suasana sosial di kelas. AuKemampuan sosial setiap anak berbeda sehingga guru harus menyesuaikan cara mengajar dengan keadaan individu setiap anak,Ay kata guru. Kondisi tersebut mengharuskan guru untuk memberikan perhatian khusus kepada beberapa anak agar dapat terlibat secara optimal dalam kegiatan sosial. Faktor pendukung, terdapat pula hambatan dalam implementasi pembelajaran sosiokultural berupa keterbatasan waktu belajar. Guru menyatakan bahwa Auketerbatasan waktu belajar, beberapa aktivitas sosial tidak dapat dilakukan setiap hari secara optimalAy. Beberapa aktivitas membutuhkan waktu lebih lama untuk setiap anak dalam memahami aturan bermain dan berkolaborasi dengan teman sebaya, serta anak memiliki tingkat konsentrasi yang beragam. Kegiatan pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi anak di kelas. Selain itu, keterbatasan waktu menjadi masalah bagi guru untuk mendorong pembelajaran sosial yang lebih mendalam dan berkelanjutan (Afifah & RofiAoah, 2. Hambatan kedua adalah kurangnya ketersediaan sumber belajar berbasis budaya lokal. Berdasarkan hasil wawancara menunjukkan bahwa guru masih menghadapi tantangan dalam menemukan media dan sumber belajar yang relevan. Permainan edukatif berbasis budaya masih sedikit, sehingga guru umumnya menggunakan metode sederhana seperti cerita rakyat dan lagu. Guru menyatakan bahwa AuMedia pembelajaran berbasis budaya lokal masih terbatas, untuk itu guru harus lebih kreatif dalam memperkenalkan budaya kepada anakAy. Kondisi tersebut mengindikasikan pembuatan media pembelajaran berbasis budaya perlu ditingkatkan agar pembelajaran sosio-kultural dapat lebih kreatif dan menarik bagi anak usia dini (Purnamasari & Wahyudi, 2. Hambatan lain adalah media yang terbatas, kurangnya pelatihan tentang pendekatan sosiokultural juga menghambat implementasi pembelajaran. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pelatihan tentang pembelajaran berbasis sosial dan budaya belum dilakukan secara rutin. Masih dibutuhkan pelatihan dalam pembelajaran sosio-kultural agar guru memiliki strategi dan ide tambahan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa kompetensi guru perlu ditingkatkan melalui pelatihan dan pendampingan untuk memfasilitasi keberhasilan pembelajaran sosio-kultural di lingkungan pendidikan anak usia dini. Upaya peningkatan kualitas pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan sosial anak usia dini merupakan faktor kunci dalam pengembangan profesional guru. Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, pembelajaran sosio-kultural telah berjalan sangat efektif dan memberikan dampak positif pada perkembangan sosial anak usia dini. Guru memiliki kesadaran yang kuat akan pentingnya interaksi sosial dalam proses pembelajaran dan berusaha untuk mengintegrasikan unsur sosial dan budaya ke dalam berbagai kegiatan kelas. Pembelajaran sosio-kultural membantu anak menjadi lebih aktif dan percaya diri serta berkolaborasi dengan teman-teman dalam berbagai Temuan-temuan penelitian tersebut sejalan dengan teori Vygotsky bahwa perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya tempat anak usia dini belajar. Dengan demikian, tujuan pembelajaran melalui keterlibatan sosial aktif mampu membantu anak dalam mengembangkan keterampilan komunikasi, kerja sama, empati, dan kepercayaan diri terhadap pengalaman nyata. Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 237 Copyright . 2026 Hafisah, . SIMPULAN DAN SARAN Pembelajaran sosio-kultural di TK Pusat PAUD Harapan Bangsa menunjukkan bahwa persepsi positif guru terhadap pembelajaran berbasis sosial dan budaya memiliki pengaruh besar dalam menciptakan lingkungan belajar serta mendukung perkembangan sosial anak usia dini. Guru tidak memandang pembelajaran sebagai proses penyampaian materi, tetapi sebagai proses membangun karakter sosial melalui kebiasaan kerja sama, saling menghormati, penggunaan bahasa yang sopan, dan pengintegrasian budaya lokal dalam kegiatan sehari-hari. Implementasi pembelajaran seperti bermain kelompok, bermain peran, bercerita, dan kegiatan kolaboratif dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual bagi anak usia dini. Sehingga anak menjadi lebih terlibat dalam berinteraksi, lebih percaya diri, dan lebih mudah memahami nilainilai sosial dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran sosio-kultural memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan keterampilan komunikasi, empati, kepedulian, dan kemampuan kerja sama pada masa usia dini. Interaksi sosial berkembang melalui kegiatan pembelajaran yang memungkinkan anak belajar menghargai teman sebaya, menyelesaikan masalah sosial kecil, dan menanamkan rasa tanggung jawab di lingkungan sekolah secara bertahap. Namun, implementasi pembelajaran sosio-kultural masih menghadapi beberapa kendala, antara lain perbedaan karakteristik sosial anak, keterbatasan waktu belajar, kurangnya media berbasis budaya lokal, dan kurangnya pelatihan guru yang berkaitan dengan pendekatan sosio-kultural. Faktor tersebut merupakan keberhasilan pembelajaran sosio-kultural yang tidak hanya ditentukan oleh kompetensi guru, melainkan dipengaruhi oleh dukungan lingkungan sekolah dan ketersediaan fasilitas pembelajaran yang memadai. DAFTAR RUJUKAN Afifah. , & RofiAoah. Peran Guru dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini: Studi Kasus di SPS Kamboja 47 Sukowono. Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah Jember. Joeces: Journal of Early Childhood Education Studies, 5. , pp: 310Ae321. (Onlin. https://journal. stai-ypbwi. id/index. php/JOECES /article/view/597 Alfansyur. , & Mariyani. Seni Mengelola Data : Penerapan Triangulasi Teknik . Sumber Dan Waktu pada Penelitian Pendidikan Sosial. Historis, 5. , pp:146Ae150. (Onlin. https://journal. id/index. php/historis/article/view/3432 Aminah. Hairida. , & Hartoyo. Penguatan Pendidikan Karakter Peserta Didik melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual di Sekolah Dasar. Universitas Tanjungpura. Jurnal Basicedu, 6. , pp: 8349Ae8358. (Onlin. https://jbasic. org/index php/basicedu/article/view/3791 Anggreni. Sumantri. Dhieni. , & Karnadi. Kompetensi Guru dalam Penerapan Budaya pada Lembaga PAUD di Indonesia. Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6. , pp: 3160Ae3168. (Onlin. https://obsesi. id/index. php/obsesi/article/view/1585 Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 238 Copyright . 2026 Hafisah, . Ardiansyah. Risnita, & Jailani. Teknik Pengumpulan Data Dan Instrumen Penelitian Ilmiah Pendidikan Pada Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Jurnal IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam, 1. , pp: 1Ae9. (Onlin. https://ejournal. id/index. php/ihsan/article/view/57 Awaliah. Peningkatan Partisipasi Aktif Peserta Didik Melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning. Universitas Negeri Makassar. Pinisi Journal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 3. , 963Ae970. (Onlin. https://ojs. id/pjp/article/view/51984 Creswell. , & Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches. New York : Sage Publications. Dewi. Hidayati. Purwoko. Nurhayati. , & Anggrella. Kesiapan Guru PAUD dalam Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6. , pp: 7204Ae7213. (Onlin. https://obsesi. /index. php/obsesi/article/view/2166 Fadilla. , & Wulandari. Literature Review Analisis Data Kualitatif: Tahap Pengumpulan Data. Mitita Jurnal Penelitian, 1(No . , pp : 34Ae46. Irhamna. , & Purnama. Peran Lingkungan Sekolah dalam Pembentukan Karakter Anak Usia Dini di PAUD Nurul Ikhlas. Jurnal Pendidikan Anak, 11. , pp: 68Ae77. https://journal. id/index. php/jpa/article/view/46688 Kusumawati. Metode Bermain Peran Sebagai Upaya Pengembangan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini. Univeristas Pendidikan Indonesia Bandung. Ihsan : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini , 3. , pp : 46Ae54. (Onlin. https://ejournal. id/index. php/alihsan/article/view/1143 Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya. Nursarofah. Meningkatkan Kualitas Pendidikan Anak Usia Dini melalui Pembelajaran Kontekstual dengan Pendekatan Merdeka Belajar. Universitas Pendidikan Indonesia. Journal Ashil: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 2. , pp : 38Ae51. (Onlin. https://ejournal. uit-lirboyo. id/index. php/piaud/article/view/2492 Purnamasari. , & Wahyudi. Pembelajaran Berbasis Budaya Cirebon di Satuan PAUD: Implementasi dan Tantangan. UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. AWLADY: Jurnal Pendidikan Anak, 11. , pp: 81Ae91. https://w. id/jurnal /index. php/awlady/article/view/19782 Putri. , & Suryana. Teori-Teori Belajar Anak Usia Dini. Universitas Negeri Padang. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6. , pp: 12486Ae12494. (Onlin. https://jptam. org/index. php/jptam/article/view/3747 Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 239 Copyright . 2026 Hafisah, . Ridwan. , dkk. , . Pengembangan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini Melalui Aktivitas Bermain Kelompok di Paud At-Takhiriyah Desa Buniwangi. Jumat Keagamaan: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 6. , pp: 286Ae291. (Onlin. https://doi. org/10. /abdimasagama . Rosidah. Mulyana. , & Aprily. Peran Guru dalam Mengoptimalkan Interaksi Sosial Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. JECIE: Journal of Early Childhood and Inclusive Education, 8. , pp:24Ae32. (Onlin. https://jurnal. id /index. php/JECIE/article/view/1329 Sugiyono. Metode Penelitian Kauntitatif. Kualitatif, dan R&D. ALFABETA. Sulistiyani. Herawati, & Sudarti. Peningkatan Kemampuan Interaksi Sosial Anak Melalui Metode Bermain Peran. Universitas Muhammadiyah Pontianak. JoECCE: Journal of Early Childhood and Character Education, 3. , pp: 1Ae14. (Onlin. https://journal. id/index. php/joecce/article/view/17530 Wahyuni. , & Sari. Peningkatan Keterampilan Sosial melalui Metode Bermain Kooperatif Tipe Make A Match pada Anak Usia Dini. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6. , pp: 6961Ae6969. (Onlin. https://obsesi. id/index. php/obsesi/article/view/2300 Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 240