Vol. No. June 2026, pp. ISSN: 2964-6677 The Combination of Balance Exercises and Tandem Walking Exercises in Improving Body Balance in Elderly Patients with Hypertension Kombinasi Balance Exercise Dan Tandem Walking Exercise Dalam Meningkatkan Keseimbangan Tubuh Lansia Penderita Hipertensi Erri Fitriyani1. Adi Isworo2. Sunarko3. Nita Tri Septiana4. Hermani Triredjeki5. Suharsono6 1,2,3,4,5,6 Health Polytechnic of the Ministry of Health Semarang ABSTRACT Background: Hypertension is a common non-communicable disease among the elderly and can lead to various One of the frequent consequences is impaired body balance, which increases the risk of falls and reduces quality of life. Age-related physiological changes, such as decreased muscle strength and reduced vascular elasticity, contribute to balance instability. The combination of balance exercise and tandem walking exercise may be an effective intervention to improve balance in elderly individuals with hypertension. This study aimed to determine the effectiveness of a combination of balance exercise and tandem walking exercise in improving body balance among elderly patients with hypertension. This pre-experimental study used a one-group pre-test and posttest design and was conducted in the Bandongan Primary Health Care Center area. Magelang, from January to June 2025. The population consisted of 527 elderly individuals with hypertension aged Ou 60 years, and 45 participants were selected using purposive sampling. Body balance was assessed using the Timed Up and Go Test (TUGT) before and after the intervention. Data were analyzed using the ShapiroAeWilk normality test and the Wilcoxon test. The Wilcoxon test showed a p-value of 0. < 0. , indicating a significant improvement in body balance after the intervention. The combination of balance exercise and tandem walking exercise is effective in improving body balance among elderly patients with hypertension. Keywords: Balance exercise. Tandem walking exercise. Hypertension. Body balance. Elderly. ABSTRAK Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang umum terjadi pada lansia dan menyebabkan komplikasi. Salah satu dampak yang sering dialami oleh lansia hipertensi adalah ketidakstabilan keseimbangan tubuh, yang berisiko meningkatkan risiko jatuh dan menurunkan kualitas hidup. Perubahan fisiologis akibat proses penuaan, seperti penurunan kekuatan otot, dan elastisitas pembuluh darah dapat menyebabkan terjadinya ketidakstabilan keseimbangan tubuh. Kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise dapat menjadi alternatif intervensi yang bermanfaat untuk meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana efektivitas kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise dalam meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia penderita hipertensi. Jenis penelitian ini adalah pre-experimental dengan desain one group pre-test dan post-test. Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Bandongan Magelang pada bulan Januari sampai Juni 2025. Populasi sebanyak 527 lansia penderita hipertensi berumur Ou 60 tahun. Sampel sebanyak 45 lansia dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengukuran keseimbangan tubuh dilakukan menggunakan Timed Up and Go Test (TUGT) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji hipotesis Wilcoxon. Hasil uji Wilcoxon didapatkan nilai p value 0,000 . <0,. yang bermakna bahwa H0 ditolak dan H1 diterima atau terdapat pengaruh signifikan setelah dilakukan intervensi kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise pada lansia penderita hipertensi. Kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise terbukti efektif dalam meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia penderita hipertensi Kata Kunci: Balance exercise. Tandem Walking Exercise. Hipertensi. Keseimbangan Tubuh. Lansia. Corresponding Author: Sunarko. Poltekkes Kemenkes Semarang. Email: sunarko@poltekkes-smg. The Combination of Balance Exercises and Tandem Walking Exercisesin Improving Body Balance in Elderly Patients with Hypertension (Erri Fitriyani et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 PENDAHULUAN Peningkatan prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi permasalahan utama dalam kesehatan di masyarakat Indonesia, dengan kecenderungan peningkatan yang signifikan salah satunya pada penyakit hipertensi. Hipertensi adalah suatu kondisi peningkatan tekanan darah, yang ditandai dengan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik melebihi 90 mmHg (Kemenkes, 2. Hipertensi yang sering disebut sebagai silent killer, merupakan penyakit berbahaya dan mematikan tanpa menimbulkan gejala atau keluhan yang jelas (Fitriyatun, 2. Hipertensi yang tidak terkelola dengan baik dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, seperti kerusakan organ, perubahan fisiologis, serta dampaknya terhadap sistem kardiovaskular (Magfira, 2. Hipertensi menjadi masalah utama yang sering terjadi pada lansia, karena faktor penuaan yang menyebabkan pembuluh darah yang seharusnya lentur dan elastis berubah menjadi kaku, sehingga tekanan darah meningkat (Fitriyatun, 2. Hipertensi menjadi masalah kesehatan global dengan sekitar 1,28 miliar penderita berusia 30-79 tahun. Pada tahun 2019, prevalensi tertinggi tercatat di Asia Tenggara, mencapai 33,1% dan 32,4% menurut data dari World Health Organization (WHO) (WHO, 2. Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi sebesar 30,8%, dengan 57,8% di antara usia 60-74 tahun (Kemenkes, 2. Berdasarkan Profil Kesehatan Jawa Tengah tahun 2023, jumlah penderita hipertensi masih menempati proporsi terbesar dari seleruh PTM, yaitu mencapai 72%. Berdasarkan dengan persentase penderita hipertensi tertinggi adalah di Kota Magelang pada tahun 2023 mencapai 106,9% dan di Kabupaten Magelang dengan prevalensi mencapai 34,3% berdasarkan berusia Ou 15 tahun (Dinkes Jateng, 2. Data penderita hipertensi pada umur Ou 60 tahun diperoleh dari Puskesmas Bandongan. Kabupaten Magelang menunjukkan 847 kasus dari bulan Januari hingga Desember 2024 yang melakukan pemeriksaan. Sedangkan data lansia di Kecamatan Bandongan mencapai 8. 603 jiwa (BPS, 2. Hal ini menunjukkan 44,7% lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Bandongan Magelang yang menderita hipertensi. Tekanan darah yang semakin meningkat menyebabkan komplikasi kesehatan, terutama pada lansia, seperti gagal jantung, kerusakan ginjal, dan gangguan keseimbangan (Rudianto, 2. Ketidakstabilan keseimbangan tubuh berpotensi meningkatkan risiko jatuh dan cedera. Salah satu faktor utama hipertensi pada lansia adalah perubahan fisiologis yang terjadi seiring bertambahnya usia (Sari, 2. Gejala seperti pusing, mimisan, detak jantung yang tidak teratur, penglihatan kabur, telinga berdengung, dan ketidakstabilan keseimbangan dapat mengindikasikan hipertensi. Jika tidak ditangani dengan baik maka dapat berkembang menjadi masalah serius seperti nyeri dada, serangan jantung, stroke, kematian, serta penurunan kualitas hidup, dan meningkatkan risiko jatuh (Papalia, 2. Perubahan fisiologis yang terjadi pada lansia dengan hipertensi menyebabkan ketidakstabilan keseimbangan akibat beberapa faktor. Salah satunya adalah penurunan elastisitas pembuluh darah dan beban kerja jantung yang lebih tinggi dapat mengurangi aliran darah ke otak dan anggota tubuh. Faktor tersebut dapat meningkatkan risiko ketidakstabilan keseimbangan, diperburuk oleh efek samping obat antihipertensi, seperti pusing dan kebingungan (MarAoah Konitatillah, 2. Selain itu, keterbatasan aktivitas fisik pada lansia berkontribusi pada penurunan kekuatan otot dan fleksibilitas yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan (Budiono, 2. Manajemen ketidakstabilan keseimbangan tubuh dapat dilakukan melalui terapi nonfarmakologis, seperti latihan fisik balance exercise dan tandem walking exercise sudah terbukti efektif dalam meningkatkan keseimbangan tubuh dan kekuatan otot pada lansia. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa intervensi balance exercise yang dilakukan pada 30 lansia dengan gangguan keseimbangan di Desa Badran dan Desa Jungke. Kecamatan Gondang dan Karanganyar terbukti dapat meningkatkan keseimbangan pada lansia dengan intervensi yang dilakukan sebanyak 3 kali dalam seminggu selama 3 minggu (Muladi, 2. Hasil Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa intervensi tandem walking exercise pada 35 lansia dengan gangguan keseimbangan di Kedinding Kecamatan Kenjeran Surabaya terbukti dapat meningkatkan keseimbangan tubuh untuk mengurangi risiko jatuh pada lansia dengan intervensi yang dilakukan sebanyak 2 kali seminggu selama 4 minggu (Iswati, 2. Balance exercise merupakan serangkaian gerakan yang dirancang untuk meningkatkan keseimbangan dengan menggunakan teknik peregangan dan penguatan. Balance exercise adalah latihan khusus ditujukan untuk memperkuat otot-otot anggota gerak bawah dan mendukung vestibular yang bertanggung jawab atas keseimbangan Latihan keseimbangan mencakup macam- macam gerakan, seperti berjinjit dengan mengangkat tumit, menekuk lutut ke arah depan sejajar dengan paha, menekuk kaki ke arah belakang, menekuk lutut ke arah belakang, dan pengangkatan kaki ke samping (Ayatullah, 2. Tandem walking exercise adalah latihan sederhana untuk meningkatkan keseimbangan tubuh. Latihan ini berjalan di sepanjang garis lurus, dengan tumit satu kaki menyentuh jari kaki lainnya, yang berfungsi untuk mempersempit luas area tumpuan. Lansia penderita hipertensi harus berjalan sejauh 3 meter mengikuti garis tersebut. Latihan ini tidak hanya meningkatkan keseimbangan, tetapi untuk memperbaiki fungsi fisiologis otot, termasuk otot pergelangan kaki, otot perut, serta meningkatkan koordinasi otot Melalui latihan tandem walking exercise ini, kontrol postur tubuh dapat ditingkatkan, yang berpotensi mengurangi risiko jatuh dan membantu mengendalikan hipertensi pada lansia. 16 Balance exercise dan tandem walking exercise sangat sesuai untuk lansia dengan hipertensi, karena gerakannya sederhana dan mudah dipahami The Combination of Balance Exercises and Tandem Walking Exercisesin Improving Body Balance in Elderly Patients with Hypertension (Erri Fitriyani et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 serta dapat dilakukan di berbagai tempat. Oleh karena itu, kedua jenis latihan ini dapat dijadikan sebagai intervensi untuk mengatasi masalah keseimbangan tubuh. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Bandongan Magelang, ditemukan 4 dari 6 lansia penderita hipertensi mengalami ketidakstabilan keseimbangan dengan tingkat risiko jatuh ringan, sedang, dan tidak mengetahui cara mengatasi kondisi tersebut dengan terapi nonfarmakologis, seperti balance exercise dan tandem walking exercise yang berpotensi meningkatkan keseimbangan tubuh. Gangguan keseimbangan pada lansia dengan hipertensi dapat meningkatkan risiko jatuh, cedera, serta menurunkan kualitas METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan pendekatan kuantitatif menggunakan desain pre-experimental, dengan pendekatan one group pre-test dan post-test untuk mengetahui dampak kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise terhadap lansia penderita hipertensi yang memiliki masalah keseimbangan tubuh. Pre-experimental merupakan desain penelitian yang digunakan untuk menguji efek dari suatu perlakuan tanpa adanya kelompok kontrol (Sugiyono, 2. Pada penelitian ini, peneliti melakukan intervensi pada satu kelompok yaitu kelompok perlakuan atau eksperimen. Waktu untuk pelaksanaannya pada periode bulan Januari - Juni tahun 2025. Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Bandongan Magelang. Populasi merupakan sekelompok individu, objek atau subjek yang memiliki karakteristik dan kualitas tertentu, sehingga dapat dijadikan objek penelitian untuk dianalisis dan disimpulkan (Sugiyono, 2. Populasi target pada penelitian ini sebanyak 527 lansia penderita hipertensi berumur Ou 60 tahun. Populasi aktual merupakan kelompok populasi target yang dipilih sebagai sampel untuk penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan oleh peneliti (Sugiyono, 2. Populasi aktual pada penelitian ini sebanyak 45 lansia penderita hipertensi yang memiliki masalah kesimbangan tubuh di Puskesmas Bandongan Kabupaten Magelang. Sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki jumlah dan karakteristik tertentu (Syafitri, 2. Sampling adalah metode untuk memilih sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran yang diperlukan sebagai sumber data, dengan mempertimbangkan karakteristik dan distribusi populasi agar sampel yang diperoleh dapat mewakili (Hardani, 2. Metode pengambilan sampel yang digunakan penelitian ini adalah purposive sampling, sampel dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu. Berdasarkan perhitungan di atas, jumlah sampel yang digunakan adalah 45 responden selama penelitian. Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi faktor penyebab terjadinya perubahan pada variabel dependen. Penelitian ini, variabel independen yang digunakan adalah kombinasi balance exercice dengan tandem walking exercise. Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel independen atau menjadi hasil dari perubahan yang ditimbulkan. Penelitian ini, variabel dependen yang diamati adalah meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia dengan hipertensi yang mengalami gangguan keseimbangan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini merupakan instrumen murni dari penelitian terdahulu yaitu Timed Up and Go Test (TUGT). TUGT yang dikenalkan oleh Popsiadlo dan Richardson pada tahun 1991 merupakan alat ukur untuk menilai mobilitas serta keseimbangan statis maupun dinamis pada lansia untuk mengetahui waktu melakukan perpindahan pada jarak yang telah ditentukan dan perlu keseimbangan tubuh. Pelaksanaan TUGT dilakukan dengan meminta responden berjalan sesuai dengan kemampuannya sejauh 3 meter menuju penanda, kemudian berbalik tanpa menyentuh penanda, lalu kembali ke kursi dan duduk. Alat yang dibutuhkan lainnya berupa stopwatch sebagai pengukur waktu, lakban/selotip sebagai penanda jarak, rollmeter untuk mengukur jarak langkah dan kursi. Analisis univariat pada penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan karakteristik responden yaitu lansia penderita hipertensi yang melibatkan variabel seperti, usia lansia dan jenis kelamin. Data hasil Pre-test dan post-test disajikan dalam bentuk nilai rata-rata . , nilai tengah . , nilai yang paling sering muncul . , dan standar deviasi, untuk memberikan gambaran umum tentang kondisi responden sebelum dan sesudah intervensi diberikan. Pada penelitian ini sebelum dilakukan uji analisis data, dilakukan terlebih dahulu uji normalitas untuk menilai data terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan Shapiro-Wilk karena jumlah sampel O 50, berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal, sehingga analisis dilanjutkan menggunakan uji non parametrik yaitu wilcoxon yang sesuai untuk membandingkan data pretest dan pos-test pada data yang tidak terdistribusi normal. Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui efektivitas kombinasi balance exercise dan tandem walking exercise dalam meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Bandongan Magelang menggunakan analisis data pre test dan post test untuk responden dengan menggunakan uji statistik uji wilcoxon bila data tidak terdistribusi normal. Pada uji tersebut apabila hasil uji bivariat menunjukkan signitifikan p value < 0,05, maka penelitian ini satu arah yang berarti terdapat efektivitas yang signifikan pada kombinasi balance exercise dan tandem walking exercise dalam meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia penderita hipertensi. Sebaliknya, apabila hasil uji bivariat menunjukkan tidak signifikan p value > 0,05 maka penelitian ini berarti tidak ada pengaruh kombinasi balance exercise dan tandem walking exercise dan meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia penderita hipertensi. The Combination of Balance Exercises and Tandem Walking Exercisesin Improving Body Balance in Elderly Patients with Hypertension (Erri Fitriyani et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 HASIL PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Bandongan Magelang. Populasi pada penelitian ini difokuskan kepada lansia penderita hipertensi berusia Ou 60 tahun yang memiliki ketidakstabilan keseimbangan Kegiatan dilaksanakan di Puskesmas Bandongan Magelang, rumah kader setempat, serta mendatangi rumah Jumlah sampel, berdasarkan kriteria inklusi diperoleh 45 lansia yang bersedia mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Penelitian dilaksanakan setelah responden memberikan persetujuan secara tertulis melalui penandatanganan lembar informed consent. Kegiatan intervensi berlangsung selama 3 minggu, dengan frekuensi 3 kali per minggu, dan durasi setiap sesi intervensi sekitar 6 menit untuk masing-masing responden. Berdasarkan hasil penelitian mengenai efektivitas kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise dalam meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Bandongan Magelang, diperoleh hasil penelitian yang peneliti paparkan dalam bentuk tabel. Analisis univariat Analisis univariat merupakan analisis deskriptif yang digunakan untuk menggambarkan karakteristik setiap variabel dalam penelitian secara terperinci. Analisis ini mencakup deskripsi karakteristik responden seperti jenis kelamin, usia, dan kategori skor keseimbangan tubuh sebelum dan sesudah intervensi. Karakteristik responden Tabel 1: Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin dan Usia Jenis Kelamin Frekuensi . Persentase (%) Laki-Laki Perempuan Total Usia Frekuensi . Persentase (%) Elderly . tahun Old . tahun Total Tabel ini menunjukkan data responden pada penelitian ini berdasarkan jenis kelamin dibedakan menjadi dua kelompok yaitu laki- laki dan perempuan. Rata-rata responden yang memiliki ketidakstabilan keseimbangan tubuh pada lansia hipertensi berjenis kelamin laki-laki 6 . ,3%) dan 39 . ,7%) berjenis kelamin perempuan. frekuensi usia responden di kelompokan menjadi 2 komponen umur yaitu elderly dan old. Hasil responden paling banyak di kelompok elderly dengan 39 . ,7%) responden dan old dengan 6 . ,3%) responden. Tingkat keseimbangan tubuh Tabel 2: Distribusi Frekuensi Pre-test dan Post-test Skor Times Up and Go Test Pre-test Post-test Kategori TUGT Frekuensi . Persentase (%) Frekuensi . Persentase (%) Kemandirian Penuh (<. detik Risiko Jatuh Ringan . detik Risiko Jatuh Sedang . detik Total Tabel ini menunjukkan distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan hasil pre-test menggunakan times up and go test menunjukkan bahwa sebagian besar lansia penderita hipertensi yang memiliki ketidakstabilan keseimbangan tubuh pada kategori risiko jatuh ringan sebanyak 36 . %) responden, sedangkan risiko jatuh sedang sebanyak 9 . %) responden. Sementara itu, hasil dari pos-test menunjukkan peningkatan kondisi keseimbangan tubuh berdasarkan kategorinya yaitu kemandirian penuh sebanyak 34 . ,6%) responden, risiko jatuh ringan 9 . %) responden, kemudian risiko jatuh sedang dengan jumlah 2 . 4%) responden. Tabel 3: Distribusi Frekuensi Tendensi Sentral. Dispersi, dan Beda Mean dari Pre-test dan Post-test Skor Times Up and Go Test Variabel Penelitian Mean Median Modus Min Max Beda Mean Pre-test 15,30 14,19 10,00 10,01 28,92 4,53 5,32 Pos-test 9,98 9,00 9,00 6,42 20,11 3,12 Tabel ini Terdapat hasil dari intervensi kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise diperoleh nilai rata-rata pre- test 15,30 detik, dan post-test 9,98 detik, dengan selisih rata-rata . eda mea. 5,32 detik, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan keseimbangan tubuh pada lansia penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Bandongan Magelang setelah dilakukan intervensi kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise Analisis bivariat Uji normalitas pada analisis bivariat dilakukan sebelum melakukan uji statistik dengan tujuan untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk karena jumlah sampel < 50. The Combination of Balance Exercises and Tandem Walking Exercisesin Improving Body Balance in Elderly Patients with Hypertension (Erri Fitriyani et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 Tabel 4 : Uji Normalitas Shapiro-Wilk Pre-test dan Post-test Skor Times Up and Go Test Variabel Penelitian Statistik P-value Pre-test 0,893 0,001 Pos-test 0,720 0,000 Tabel ini menunjukkan uji normalitas dengan menggunakan uji shapiro- wilk menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal, dengan nilai p- value pre test sebesar 0,001 dan post test sebesar 0,000. Hasil dari uji normalitas skor times up and go test dalam mengukur keseimbangan tubuh tidak terdistribusi normal karena nilai p-value < 0,05, sehingga uji statistik yang digunakan yaitu uji non-parametrik yaitu uji wilcoxon. Uji statistik Tabel 5 : Uji Wilcoxon Pre-test dan Post-test Skor Times Up and Go Test Variabel Penelitian Z score P-value Pre-test -5,841 0,000 Pos-test Tabel ini menunjukkan berdasarkan uji wilcoxon diperoleh nilai Z = - 5,841 dan p-value = 0,000 . -value < 0,. , yang bermakna terdapat perbedaan signifikan antara skor keseimbangan tubuh sebelum dan sesudah Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise efektif dalam meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Bandongan Magelang. PEMBAHASAN Secara fisiologis, lansia perempuan cenderung lebih rentan mengalami gangguan keseimbangan tubuh akibat penurunan hormon estrogen pascamenopause, yang berdampak pada penurunan massa otot, kepadatan tulang, serta melemahnya sistem muskuloskeletal yang berperan penting dalam menjaga stabilitas tubuh (Lu, 2. Selain faktor hormonal dan muskuloskeletal, hipertensi sebagai penyakit turut berkontribusi terhadap gangguan keseimbangan tubuh pada lansia. Hipertensi dapat menyebabkan terganggunya perfusi darah ke otak serta kerusakan pada sistem saraf sensorik yang berperan dalam menjaga keseimbangan tubuh (Novianti, 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian lain yang menyebutkan bahwa perempuan lanjut usia lebih berisiko mengalami gangguan keseimbangan tubuh karena selain memiliki tekanan darah yang tinggi, cenderung memiliki tingkat aktivitas fisik lebih rendah dibandingkan lansia laki-laki (Akbar, 2. Kurangnya aktivitas fisik tidak hanya memperburuk tekanan darah, tetapi juga berdampak pada menurunnya kekuatan otot, yang selanjutnya mengganggu kemampuan tubuh dalam mempertahankan postur dan stabilitas (Gati, 2. Lansia usia . tahun umumnya masih cukup aktif secara fisik, sehingga aktivitas tersebut berpotensi menambah tantangan dalam menjaga keseimbangan tubuh (Murjito, 2. Pada kelompok usia ini terjadi berbagai perubahan fisiologis yang memengaruhi sistem muskuloskeletal, seperti penurunan kekuatan otot dan elastisitas otot, serta melambatnya kecepatan kontraksi otot. Perubahan fisiologis ini berdampak pada keseimbangan tubuh (Redha. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian lain yang mengatakan bahwa lansia usia . tahun rentan mengalami hipertensi. Akibatnya, arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, oleh karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk lewat pembuluh darah yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan darah (Nanga Bura, 2. Hipertensi dapat menyebabkan penurunan aktivasi korteks otak saat melakukan tugas keseimbangan yang berkaitan dengan keseimbangan. Hal ini menandakan adanya gangguan dalam sistem pengendalian postur yang tidak hanya berasal dari sistem perifer tetapi melibatkan pusat pengatur saraf otak, terutama pada lansia yang masih aktif secara fisik namun mengalami tekanan darah tinggi (Fan, 2. Lansia perempuan pada kelompok usia elderly memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan keseimbangan tubuh. Hal ini berkaitan dengan peroses degeneratif yang umum terjadi pada lansia, seperti penurunan fleksibilitas sendi, melambatnya respons motorik, serta berkurangnya massa otot, khususnya pada ekstremitas bawah (Ahmad, 2. Akibatnya, gerakan menjadi lambat, langkah lebih pendek, dan keseimbangan saat berdiri terganggu, sehingga keseimbangan tubuh tidak stabil dan meningkatkan risiko jatuh (Zuliawati, 2. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tua usia lansia, semakin tinggi risiko jatuh yang dialami, akibat menurunnya koordinasi otot, melemahnya sistem vestibular dan visual, serta gangguan penglihatan dan pendengaran (Rohima, jenis kelamin perempuan dan usia lansia merpakan faktor dominan dalam peningkatan risiko jatuh pada lansia penderita hipertensi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa sebelum dilakukan latihan keseimbangan tubuh sebagian besar lansia berada dalam kondisi mobilitas yang tidak stabil, sehingga lansia mengalami gangguan keseimbangan tubuh seperti penurunan kecepatan berjalan dan berada pada risiko jatuh yang pada akhirnya dapat menimbulkan cedera serius, membatasi mobilitas, dan mengurangi tingkat kemandirian lansia dalam menjalani aktivitas sehari-hari (Irliani, 2. Intervensi secara umum menunjukkan hasil yang positif, respons peningkatan keseimbangan tubuh pada kelompok usia yang lebih tua cenderung lebih lambat. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya efesiensi sistem pengendalian gerak tubuh secara menyeluruh, yang meliputi kemampuan persepsi posisi tubuh, pengaturan postur. The Combination of Balance Exercises and Tandem Walking Exercisesin Improving Body Balance in Elderly Patients with Hypertension (Erri Fitriyani et a. Jurnal Tropical Diseases and Health Science (JTDHS) ISSN: 2964-6677 dan refleks otomatis yang menopang kestabilan, yang secara alami mengalami penurunan seiring bertambahnya usia (Jehaman, 2. Hasil ini sejalan dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa latihan tandem walking exercise efektif dalam mengurangi risiko jatuh pada lansia (Zein, 2. Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa intervensi balance exercise dapat meningkatkan keseimbangan tubuh dan menurunkan risiko jatuh pada kelompok lansia (Azizah, 2. kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise dapat memberikan efek sinergis dalam meningkatkan keseimbangan tubuh. Kedua intervensi tersebut dapat menstimulasi sistem tubuh yang berperan dalam persepsi posisi tubuh, serta membantu menjaga kestabilan kepala, fungsi tersebut sangat penting dalam pengaturan postur dan menjaga keseimbangan saat melakukan aktivitas sehari- hari (Azizah, 2. Intervensi yang diberikan secara signifikan mampu meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia penderita Efektivitas kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise terbukti lebih optimal dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya yang umumnya hanya menggunakan satu jenis aktivitas fisik keseimbangan tubuh. Seperti, penelitian yang dilakukan oleh Muladi et al. hanya menggunkan balance exercise, sementara penelitian oleh Iswati menggunakan tandem walking exercise sebagai intervensi tunggal. Mesipun kedua intervensi tersebut menunjukkan peningkatan keseimbangan yang signifikan, namun stimulasi terhadap sistem pengatur keseimbangan tubuh masih terbatas pada aspek tertentu saja (Muladi, 2. (Iswati, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil dan analisis pembahasan pada penelitian ini intervensi kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise efektif signifikan dalam meningkatkan keseimbangan tubuh lansia penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Bandongan Magelang. Saran untuk untuk menerapkan intervensi kombinasi balance exercise dengan tandem walking exercise secara rutin sebagai upaya dalam meningkatkan kestabilan keseimbangan tubuh bagi lansia dengan hipertensi. Selain itu, anggota keluarga diharapkan dapat berperan aktif dalam mendukung dan memfasilitasi pelaksanaan intervensi, sehingga keseimbangan tubuh pada lansia penderita hipertensi dapat terjaga dan risiko jatuh dapat diminimalkan dalam kehidupan sehari-hari. ETIK PENELITIAN Artikel yang dipublikasikan merupakan artikel yang sudah mendapatkan Ethical Clearance (Ijin Eti. dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Poltekkes Kemenkes Semarang, ditetapkan di Semarang dan berlaku dalam kurun waktu 18 Maret 2025 Ae 18 Maret 2026, dengan nomor: 347/EA/F. XXi. 38/2025. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih diberikan kepada yang terhormat Direktur Poltekkes Kemenkes Semarang. Kajur Keperawatan Poltekkes Kemenkes Semarang. Kaprodi Keperawatan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang. Kepala Puskesmas Bandongan. Magelang. Masyarakat lansia di Wilayah Puskesmas Bandongan. dan kepada pihakpihak terkait yang telah mempermudah pelaksanaan penelitian, termasuk dalam penyediaan dana dan dukungan selama proses pelaksanaan penelitian. DAFTAR PUSTAKA