JAMU: Jurnal Abdi Masyarakat UMUS Vol. No. Februari 2022, pp. Upaya Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran pada Program Sekolah Penggerak di Nganjuk Efforts to Improve the Competence of Principals as Learning Leaders in Driving School Programs in Nganjuk Suesthi Rahayuningsih1. Achmad Rijanto2 Program Studi Pendidikan Matematika. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan . Universitas Islam Majapahit. Indonesia Program Studi Teknik Mesin. Fakultas Teknik. Universitas Islam Majapahit. Indonesia e-mail: 1esthiachmad@gmail. com, 2rijanto1970@gmail. Abstrak Sejak tahun 2021 di kabupaten Nganjuk sudah banyak sekolah yang telah berpredikat sebagai sekolah penggerak. Permasalahan yang dihadapi oleh Kepala Sekolah PSP adalah masih kurangnya pengetahuan Kepala Sekolah tentang model kompetensi kepemimpinan pada sekolah Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan kompetensi Kepala Sekolah program sekolah penggerak sebagai pemimpin pembelajaran dalam upaya untuk meningkatkan mutu sekolah. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah dalam bentuk lokakarya. Hasil yang dicapai setelah kegiatan ini adalah adanya pemahaman peningkatan pengetahuan Kepala Sekolah tentang model kompetensi sekolah yang terdiri dari empat kategori yaitu . pengembangan diri dan orang lain, . kepemimpinan pembelajaran, . kepemimpinan manajemen sekolah dan . kepemimpinan pengembangan sekolah. Dari keempat kategori model tersebut Kepala sekolah diberikan pendalaman materi peningkatan kompetensi sekolah, khususnya Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Kategori kepemimpinan ini mempunyai 4 kompetensi yaitu . memimpin upaya pengembangan lingkungan belajar yang berpusat pada murid, . memimpin perencanaan dan pelaksanaan proses belajar yang berpusat pada murid, . memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses belajar yang berpusat pada murid, dan . melibatkan orang tua/wali murid sebagai pendamping dan sumber belajar di sekolah. Kata kunciAikompetensi, kepala sekolah, pemimpin pembelajaran, program sekolah penggerak Abstract Since 2021 in Nganjuk district, there have been many schools that have been predicated as driving schools. The problem faced by the PSP Principal was that the Principal still lacks knowledge about the leadership competency model in the driving school. The purpose of this community service activity was to improve the competence of the principal of the driving school program as a learning leader in an effort to improve school quality. The method used in this activity was in the form of a workshop. The result achieved after this activity was an understanding of increasing the knowledge of the Principal about the school competency model which consists of four categories, namely . self and other people development, . learning leadership, . school management leadership and . school development leadership. Of the four categories of the model, the principal is given a deepening of the material for improving school competence, especially the principal as a learning leader in the school. This leadership category has 4 competencies, namely . leading efforts to develop student-centered learning environments, . leading the planning and implementation of student-centered learning processes, . leading reflection and improvement of the quality of student-centered learning processes, and . involving parents/guardians of students as companions and learning resources at school. KeywordsAi competence, principal, learning leader, driving school program Submitted: Januari 2022. Accepted: Januari 2022. Published: Februari 2022 ISSN 2746-6345 . edia onlin. ISSN 2746-6345 . edia onlin. PENDAHULUAN Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 1177/M/2020, tahun 2020 (Mendikbud, 2. , tentang Program Sekolah Penggerak, mengatur tentang pedoman penyelenggaraan program sekolah penggerak. Sedangkan Program Sekolah Penggerak (PSP) sebagai model satuan pendidikan bermutu merupakan program Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi, diperbarui disesuaikan kebutuhan pembaruan pembelajaran berdasarkan surat keputusan (SK) Menteri nomor 162/M/2021 (Mendikbudristek, 2. (Mendikbudristek, 2. Kepmendikbudristek nomor 162/M/2021, sebagai pengganti Kepmendikbud nomor 1177/M/2020. PSP adalah merupakan program Kemendikbudristek yang bertujuan untuk mewujudkan sekolah penggerak, yaitu sekolah yang mampu fokus mengembangkan hasil belajar siswa secara holistik untuk mewujudkan profil pelajar pancasila yang mencakup peningkatan kompetensi dan karakter yang diawali dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dari Kepala Sekolah dan guru. Program ini merupakan kolaborasi antara Kemendikbudristek dengan pemerintah daerah diikuti oleh PAUD. SD. SMP. SMA dan SLB, baik negeri maupun swasta. Untuk mencapai tujuan yang telah dicanangkan dalam PSP, maka perlu adanya program untuk meningkatkan mutu sekolah sasaran PSP. Kepala Sekolah sebagai seorang guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin sekolah, mempunyai tugas dan tanggungjawab yang besar untuk meningkatkan kualitas sekolah. Disamping sebagai pemimpin tertinggi di sekolah, dia juga melakukan tugas sebagai guru, yaitu melakukan kegiatan proses pembelajaran. Berdasarkan permendikbud nomor 6 tahun 2018 (Mendikbud, 2. , bahwa beban kerja Kepala Sekolah meliputi melaksanakan tugas pokok manajerial, pengembangan kewirausahaan dan melakukan supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan dalam upaya untuk meningkatan mutu sekolah. Salah satu upaya Kepala sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah adalah mengikuti Program Sekolah Penggerak (PSP) yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi (Kemendikbudriste. Berdasarkan hasil analisis situasi, bahwa di kabupaten Nganjuk sejak tahun 2021, sudah ada beberapa sekolah pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), jenjang pendidikan dasar dan menengah, baik negeri maupun swasta yang telah memenuhi predikat sebagai sekolah penggerak, sesuai Keputusan Direktur jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan No. 2237/B. B2/KP. 00/2021 Kemendikbudristek (Dirjen GTK, 2. , tentang Penetapan Kepala Sekolah Pelaksana Program Sekolah Penggerak. Untuk kabupaten Nganjuk jenjang PAUD antara lain TK Pertiwi 2 Ngadipiro. TK Pertiwi Gemenggeng. TK Al Fatah Margopatut. TK Dharma Wanita Ngrami. TK Mutiara hati Ploso dan lain-lai. Untuk jenjang pendidikan dasar antara lain SDN 1 Plosoharjo. SDN 2 Gemenggeng. SDN1 Banaranwetan. SDIT Al Haromain. SDIT Baitul Izzah dan lain-lain. Sedangkan untuk pendidikan menengah antara lain SMAN 1 Sukomoro. SMAN 1 Patianrowo. SMAN 3 Nganjuk. SMPN 1 Prambon. SMP Islam Batul Izzah Nganjuk dan lain-lain. Dari analisis situasi yang telah dilakukan PAUD dan sekolah penggerak tersebut, permasalahan yang dihadapi masih kurangnya pengetahuan Kepala Sekolah penggerak tentang model kompetensi kepemimpinan sekolah penggerak, sehingga untuk pencapaian tujuan dari sekolah penggerak akan sulit dicapai manakala Kepala Sekolah tidak memiliki pengetahuan Berdasarkan permasalahan tersebut perlu adanya upaya untuk meningkatkan pengetahuan Kepala Sekolah Penggerak tentang model kompetensi kepemimpinan sekolah Kegiatan PSP diawali dengan peningkatan mutu sumber daya manusia di sekolah yaitu Kepala Sekolah dan guru. Peningkatan mutu SDM dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan yang belum dimiliki oleh SDM tersebut, melalui pendidikan maupun pendidikan dan pelatihan. Berdasarkan Peraturan Direktur jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan No. 6565/B/GT/2020 Kemendikbudristek (Dirjen GTK, 2. , tentang Model Kompetensi dalam Pengembangan Profesi Guru menyatakan, bahwa guru harus mengembangkan keprofesionalannya paling sedikit melalui pendidikan dan/ atau pendidikan dan pelatihan. Pendidikan merupakan pendidikan profesi, sedangkan pendidikan dan pelatihan merupakan pengembangan kompetensi dalam Upaya Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran pada Program Sekolah Penggerak di Nganjuk (Suesthi Rahayuningsih1. Achmad Rijanto. ISSN 2746-6345 . edia onlin. melaksanakan tugas. Pendidikan profesi maupun pendidikan dan pelatihan harus menggunakan model kompetensi. Berdasarkan kegiatan pengabdian masyarakat sebelumnya menurut (Suparno, 2. , bahwa kegiatan lokakarya Kepala sekolah dan staff Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia (ASJI) tentang pengembangan Paradigma Pedagogi Ignation (PPI) dapat meningkatkan pemahaman peserta mengenai isi pokok dan semangat serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran khas PP. Sedangkan menurut (Nursyifa & Nurzaman, 2. , pembinaan Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan dalam bentuk workshop, dapat meningkatkan pemahaman Kepala Sekolah tentang fungsi dan tugas pokoknya dalam mengelola sekolah. Menurut (Rijanto & Rahayuningsih, 2. , bahwa upaya peningkatan SDM melalui pelatihan dan pendampingan yang telah dilakukan pada pengusaha mikro kerupuk samiler di Kabupaten Mojokerto, menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebesar 40 % dan peningkatan ketrampilan sebesar 55 % untuk perawatan mesin parut berbahan bakar gas. Selain itu, kegiatan bagi siswa terkait dengan pelatihan menulis deskripsi dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan pemahaman peserta didik dalam meningkatkan karakter religius, jujur, disiplin, demokratis, rasa ingin tahu, komunikatif, peduli sosial dan tanggunng jawab (Prasetyo Yuli Kurniawan, 2. Berdasarkan pengabdian yang lain menurut (Permana & Muhtadi, 2. , bahwa pendampingan kepada Kepala Sekolah dalam rekrutmen guru dapat memperoleh guru yang lebih berkualitas, karena mulai dari perencanaan, proses pelaksanaan sampai dengan penetapan guru yang diterima mendapat pendampingan. Gaya kepemimpinan sekolah dapat mewarnai keberlangsungan sekolah, terutama dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Menurut (Minsih et al. , 2. , bahwa peran kepemimpinan Kepala Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Program Khusus Kartasura, dilaksanakan secara demokratis-monarki, keputusan diambil secara bersamasama dan kepemimpinan kepala sekolah sebagai pendidik, manajer, administrator, supervisor, pemimpin, innovator serta motivator dapat sebagai contoh dalam menjalankan tugas di sekolah. Menurut (Nasution & Ichsan, 2. , bahwa gaya kepemimpinan Kepala Sekolah berpengaruh positif dan signikan terhadap kinerja guru pada SMP Yayasan Perguruan Letjen S. Parman Medan. Hal ini ditunjukkan dengan hasil pengujian koefisien diterminasi sebesar 0,569, yang berarti 56,9 % gaya kepemimpinan mempengaruhi kinerja guru. Sedangkan menurut (Ideswal et , 2. , gaya kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap kinerja guru SDN di kota Payakumbuh hanya sebesar 8,6 %. Upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kompetensi Kepala Sekolah adalah mengadakan lokakarya Kepala Sekolah PSP sebagai bekal Kepala Sekolah, khususnya tentang kepemimpinan sekolah penggerak. Peserta kegiatan lokarya tersebut antara lain yaitu SDN 1 Mojoagung. SDN 1 Plosoharjo. SDN 2 Gemenggeng. SMPN 1 Prambon. SMP Islam Baitul Izzah Nganjuk. SMPN 2 Lengkong. SMAN 1 Prambon. SMAN Kertosono. SMAN 3 Nganjuk dan lain-lain. Di samping Kepala Sekolah, hadir pula beberapa pengawas dari Dinas Pendidikan kabupaten Nganjuk. METODE DAN PELAKSANAAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Nganjuk pada bulan November Metode yang digunakan adalah dalam bentuk lokakarya. Kegiatan ini diikuti oleh peserta sebanyak 18 orang, terdiri dari unsur Kepala SD. SMP dan SMA, baik negeri maupun swasta serta unsur pengawas dari Dinas Pendidikan kabupaten Nganjuk. Peserta dari jenjang SD diikuti sebanyak 3 SD, yaitu SDN 1 Mojoagung. SDN 1 Plosoharjo dan SDN 2 Gemenggeng. Peserta dari jenjang SMP diikuti sebanyak 4 SMP, yaitu SMPN 1 Patianrowo. SMPN 1 Prambon. SMP Islam Batul Izzah Nganjuk dan SMPN 2 Lengkon. Sedangkan dari jenjang SMA dikuti sebanyak 5 SMA, yaitu SMAN 1 Sukomoro. SMAN 1 Patianrowo. SMAN 3 Nganjuk. SMAN 1 Prambon dan SMAN 1 Kertosono. Dan selebihnya sebanyak 6 orang unsur pengawas dari Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk. JAMU: Jurnal Abdi Masyarakat UMUS: 120 Ae 126 ISSN 2746-6345 . edia onlin. Kegiatan lokakarya ini dilaksanakan di hotel Istana Nganjuk. Pada kegiatan lokakarya ini sebagai nara sumber utama adalah Pelatih Ahli (PA). Suesthi Rahayuningsih. Si. Pd dari Universitas Islam Majapahit. Materi yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah model kompetensi kepemimpinan sekolah meliputi eksplorasi konsep, ruang kolaborasi, refleksi terbimbing, demonstrasi kontekstual dan elaborasi pemahaman. Pelaksanaan lokakarya ini dilaksanakan dalam bentuk metode ceramah, diskusi dan simulasi praktik. Dengan harapan para peserta dapat lebih mudah untuk menerima materi yang telah disampaikan sekaligus mempraktikkannya dalam bentuk simulasi. Diagram alur pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Diagram alur pengabdian HASIL DAN PEMBAHASAN Model kompetensi kepemimpinan sekolah merupakan representasi dari kepemimpinan pendidikan yang terintegrasi. Model kepemimpinan ini perlu ada di sekolah, karena sebagai dasar dari sistem pengelolaan sekolah dan sebagai acuan bagi sejumlah strategi transformasi pendidikan. Model kompetensi kepemimpinan sekolah terdiri dari empat kategori, yaitu kategori yaitu . pengembangan diri dan orang lain . kepemimpinan pembelajaran . kepemimpinan manajemen sekolah dan . kepemimpinan pengembangan sekolah. Model kompetensi kepemimpinan sekolah dikhususkan pada kategori kepemimpinan Kategori kepemimpinan ini mempunyai 4 kompetensi yaitu . memimpin upaya pengembangan lingkungan belajar yang berpusat pada murid, . memimpin perencanaan dan pelaksanaan proses belajar yang berpusat pada murid, . memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses belajar yang berpusat pada murid, dan . melibatkan orang tua/wali murid sebagai pendamping dan sumber belajar di sekolah. Untuk mencapai kompetensi yang pertama, memimpin upaya pengembangan lingkungan belajar yang berpusat pada murid ada empat indikator yang harus dipenuhi yaitu . mengembangkan dan merawat lingkungan sekolah yang nyaman dan aman bagi warga sekolah, . mengembangkan komunikasi dan interaksi warga sekolah yang saling percaya dan peduli, . memfasilitasi masukan dan aspirasi murid dalam penyusunan kebijakan pegembangan Upaya Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran pada Program Sekolah Penggerak di Nganjuk (Suesthi Rahayuningsih1. Achmad Rijanto. ISSN 2746-6345 . edia onlin. lingkungan belajar dan pelaksanaan praktik belajar, dan . memastikan guru melibatkan murid dalam membangun lingkungan belajar yang kondusif. Pada Gambar 2 menunjukkan narasumber lokakarya sedang menyampaikan materi kepada peserta lokakarya, yaitu Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah dari Dinas Pendidikan di Kabupaten Nganjuk. Gambar 2. Narasumber menyampaikan materi kepada peserta Untuk mencapai kompetensi yang kedua, memimpin perencanaan dan pelaksanaan proses belajar yang berpusat pada murid, ada empat indikator yang harus diraih yaitu . memimpin pertemuan guru untuk merencanakan proses belajar yang berpusat pada murid, . memberi umpan balik terhadap perencanaan dan pelaksanaan proses belajar sebagai dasar bagi guru melakukan perbaikan, . menunjukkan praktik pembelajaran yang berpusat pada murid sebagai teladan bagi guru, dan . menyediakan dukungan agar guru fokus dalam melaksanakan proses belajar yang berpusat pada murid. Peserta lokakarya melakukan diskusi tentang materi yang telah disampaikan oleh nara sumber dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Peserta berdiskusi tentang materi lokakarya Untuk mencapai kompetensi yang ketiga, memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses belajar yang berpusat pada murid, ada empat indikator yang harus diraih yaitu . mengoordinasi pengumpulan dan pengolahan data terkait proses dan hasil belajar murid, . mengoordinasi evaluasi praktik pembelajaran berdasarkan data terkait proses dan hasil belajar murid, . memimpin pertemuan refleksi secara berkala untuk perbaikan kualitas proses belajar. JAMU: Jurnal Abdi Masyarakat UMUS: 120 Ae 126 ISSN 2746-6345 . edia onlin. membimbing guru untuk melakukan perbaikan kualitas proses belajar berdasarkan hasil dari refleksi. Untuk mencapai kompetensi yang keempat, melibatkan orang tua/wali murid sebagai pendamping dan sumber belajar di sekolah, ada enam indikator yang harus diraih yaitu . mendukung guru untuk memahami kebutuhan dan karakteristik orang tua/wali murid, . menginisiasi komunikasi dan interaksi dengan orang tua/wali murid, . menyediakan dukungan kepada guru agar dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang tua/wali murid, . menyediakan kesempatan terbuka bagi orang tua/wali murid untuk menyampaikan pendapat, . menyediakan kesempatan bagi orang tua/wali murid untuk berperan sebagai pendamping dan sumber belajar dan . mendorong orang tua/wali murid untuk menggunakan kesempatan sebagai pendamping dan sumber belajar. Jenjang kompetensi kepemimpinan dilihat dari dua unsur yaitu praktik kepemimpinan: derajat jangkauan kepemimpinan dan orientasi kepemimpinan: derajat dampak praktik Kelompok jenjang kompetensi kepemimpinan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Jenjang kompetensi kepemimpinan Berkembang Praktik kepemimpina n pada lingkup tim/ Layak Melakukan praktik kepemimpinan sekolah melalui manajemen yang baik dan berorientasi pada murid. Orientasi operasional kegiatan: memastikan kegiatan berjalan Orientasi operasional sekolah: memastikan kegiatan dan operasional harian sekolah berjalan efektif. Cakap Melakukan praktik kepemimpinan dengan memfasilitasi guru untuk tumbuh, berkembang, dan berbagi praktik baik yang berorientasi pada Orientasi relasional strategis: merawat relasi dan memantau kemajuan untuk pencapaian sasaran strategis sekolah. Mahir Membangun budaya kepemimpinan di kalangan guru melalui manajemen yang baik dan berorientasi pada Orientasi sistem dan membangun kolaborasi dan program melibatkan komunitas yang membuat sekolah berdampak luas. Peserta lokakarya dan narasumber setelah acara selesai melakukan foto bersama, dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Peserta dan narasumber lokakarya KESIMPULAN Setelah mengikuti kegiatan ini Kepala Sekolah PSP di kabupaten Nganjuk telah memahami tentang model kompetensi sekolah yang terdiri dari empat kategori yaitu . pengembangan diri dan orang lain . kepemimpinan pembelajaran . kepemimpinan Upaya Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran pada Program Sekolah Penggerak di Nganjuk (Suesthi Rahayuningsih1. Achmad Rijanto. ISSN 2746-6345 . edia onlin. manajemen sekolah dan . kepemimpinan pengembangan sekolah. Dari keempat kategori model tersebut Kepala Sekolah diberikan pendalaman materi peningkatan kompetensi sekolah, khususnya Kepala Sekolah sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah, sehingga Kepala Sekolah mengetahui lebih mendalam tentang empat kompetensi kategori kepemimpinan ini, yaitu . memimpin upaya pengembangan lingkungan belajar yang berpusat pada murid, . memimpin perencanaan dan pelaksanaan proses belajar yang berpusat pada murid, . memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses belajar yang berpusat pada murid, dan . melibatkan orang tua/wali murid sebagai pendamping dan sumber belajar di sekolah. Saran yang dapat disampaikan adalah bahwa untuk lebih meningkatkan pengetahuan kepala sekolah tentang peningkatan kompetensi Kepala Sekolah sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah lebih maksimal, maka perlu adanya penambahan waktu pelaksanaan yang cukup, agar dapat dilaksanakan refleksi yang lebih baik kepada peserta lokakarya. DAFTAR PUSTAKA