Jurnal Agroteknologi. Vol. 5 No. Agustus 2014 : 25 - 28 PEMBERIAN MIKROORGANISME SELULOLITIK (MOS) PADA APLIKASI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT TERHADAP PERTUMBUHAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq. ) DI TBM-II (Giving of cellulolytic microorganisms application oil palm empty fruit bunch to the growth of oil palm (Eleis guineensis Jacq. ) in TBM-II) TONI KASMIR LUMBANTORUAN. GUSMAWARTATI. SAMPOERNO Jurusan Agroteknologi. Fakultas Pertanian Universitas Riau Jln. HR. Subrantas km 12. 5 Simpang Baru. Pekanbaru, 28293. E-mail: tony. luca65@yahoo. id/085271911262 ABSTRACT This research aimed to determine the effect of the interaction giving cellulolytic microorganisms and inorganic fertilizers or single factor to the growth of immature oil palm plantations. This research has been conducted in land PT. Tunggal Perkasa Plantation Air Molek. District Pasir Penyu. Indragiri HuluRiau. The research was carried out for 4 months, starting from July to October 2012. This study uses a Randomized Block Design factorial with 3 replications, the first factor is the treatment dose selulotik microorganisms composed of 4 levels . mL /plant, 10 mL /plant, 20 mL /plant, 30 mL /plan. and the second factor inorganic fertilizer treatment consists of 2 levels . alf the recommended dose and 3/4 the recommended dos. The results showed that the interaction of cellulolytic microorganisms and low doses of inorganic fertilizers have significant effect on the increase in the number of midrib and circumference of stem. Single factor cellulolytic microorganisms giving significant effect on plant height increment, while the single factor inorganic fertilizers giving significant effect on the increase the circumference of stem and number of leaflets. Keywords: Cellulolytic microorganisms and oil palm. PENDAHULUAN Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. merupakan salah satu komoditas non migas Indonesia dan diandalkan sebagai penghasil minyak makanan, bahan industri maupun minyak bakar nabati . yang sangat dibutuhkan dunia, sehingga komoditas ini dapat diandalkan sebagai sumber devisa negara dan pendapatan petani. Provinsi Riau merupakan daerah yang tanaman kelapa sawit. Pada tahun 2009 tercatat luas areal perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau mencapai 1. 341 ha dengan 308 ton dan tahun 2010 adalah 175 ha dengan produksi 6. 541 ton sedangkan pada tahun 2011 luasnya telah 538 ha dengan produksi CPO 572 ton (Badan Pusat Statistik Riau, 2. Luas areal perkebunan kelapa sawit akan semakin bertambah seiring dengan waktu, hal ini dikarenakan meningkatnya animo masyarakat, perusahaan dan pemerintah dalam pengembangan komoditas tanaman ini. Tanaman kelapa sawit yang belum menghasilkan (TBM) merupakan proses pertumbuhan awal tanaman di lapangan sebelum memasuki fase produksi atau tanaman menghasilkan (TM). Tanaman kelapa sawit sangat membutuhkan ketersediaan unsur hara makro seperti (N. P dan K) dan unsur hara mikro (Fe. Mn. Bo. Cu. Zn. Cl dan C. sebagai nutrisi pertumbuhan kelapa sawit. Untuk meningkatkan pertumbuhan kelapa sawit dapat dilakukan dengan memberikan pupuk anorganik maupun pupuk organik. Darmosarkoro dan Rahutomo . TKS meningkatkan ketersediaan hara. KTK dan pH tanah serta ketersediaan hara seperti N. K dan Mg. Tandan kosong mengandung 30-35% K2O dan 3-5% MgO. Darmosarkoro dan Winama . bahwa perombakan atau dekomposisi TKS cukup lama karena TKS mengandung lignoselulosa yang sangat sulit TKS mengandung 45. selulosa, 16. 49% hemiselulosa dan 22. Pemanfaatan mikroorganisme selulolitik dalam merombak bahan organik dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik . upuk kimi. Hasil penelitian Gusmawartati dan Wardati . bahwa pemberian MOS dengan beberapa kali penyiraman dapat memperbaiki kesuburan tanah gambut dan meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit di prenursery. Pemberian 30 ml MOS dengan penyiraman 2 kali sehari menurunkan nisbah Pemberian Mikroorganisme Selulolitik (Toni Kasmir Lumbantoruan, dk. C/N hingga 26% dan meningkatkan pH tanah 11. 5 satuan pH. BAHAN DAN METODE Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan perkebunan di Air Molek. Kecamatan Pasir Penyu. Kabupaten Indragiri Hulu- Riau. Penelitian ini telah dilaksanakan selama 4 bulan, dimulai dari bulan Oktober sampai Januari 2013 Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman kelapa sawit umur 21 bulan varietas Tenera hasil persilangan Dura Deli dengan Pisifera Ghana (Topaz . yang berasal dari Oil Palm Research Station (OPRS) Topaz-Riau, pupuk anorganik (Urea. Borat. Kieserit. MoP. NPK), isolat mikroorganisme selulotik, tandan kosong kelapa sawit (TKS), dan bahan-bahan kimia untuk analisis laboratorium. Alat-alat yang digunakan adalah kayu pancang, meteran, cangkul, parang, timbangan analitik, timbangan, ember, dodos kecil, pengait, gunting, plastik, seng plat, tali sling dan alat tulis. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari TBM I yang dilaksanakan secara eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri 4 perlakuan dan 5 ulangan. Adapun masing-masing perlakuan adalah : S0: Pemberian MOS 0 mL/tanaman S1: Pemberian MOS 10 mL/tanaman S2: Pemberian MOS 20 mL/tanaman S3: Pemberian MOS 30 mL/tanaman Pada penelitian ini terdiri dari 20 unit Setiap unit percobaan terdiri dari 3 tanaman dengan demikian jumlah tanaman kelapa sawit yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 60 tanaman. Setiap 1 mL MOS yang diberikan setara dengan 1010 sel viable . el yang hidu. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan sidik ragam atau ANOVA dilanjutkan dengan uji DuncanAos New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5%. Kondisi Umum Penelitian ini merupakan lanjutan dari TBM-I dimana umur tanaman kelapa sawit pada areal penelitian berumur 21 bulan. Tempat penelitian merupakan lahan peremajaan tanaman kelapa sawit. Pohon kelapa sawit yang telah ditumbang kemudian dicacah dan di rumpuk. Lahan yang sudah bersih selanjutnya dilakukan pemanjangan untuk membuat lubang tanam. Jarak tanam yang digunakan adalah pola segitiga sama sisi yaitu 9 m x 9 m x 9 m dengan jarak antar barisan 7. 79 m dan jarak dalam barisan 9 m, jumlah . tanaman/hekta. Lubang tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm, diantara jarak tanam ditanami kacangkacangan jenis Muccuna bracteata yang dilakukan satu bulan sebelum penananaman kelapa sawit. Lahan penelitian juga ada pemberian TKS dari perusahaan yang digunakan sebagai bahan pembenah tanah. HASIL DAN PEMBAHASAN Panjang Rachis . Tabel pemberian 20 mL MOS/tanaman menghasilkan panjang rachis tertinggi yaitu 384. 44 cm yang meningkat sebesar 25. 4% dibandingkan MOS, merupakan panjang rachis terendah. Hal ini menunjukkan bahwa penyediaan unsur hara dengan pemberian MOS 20 mL/tanaman sudah berperan dalam peningkatan panjang rachis melalui proses perombakan bahan organik oleh mikroorganisme selulotik. Menurut Hakim mikroorganisme adalah untuk merombak bahan organik menjadi bahan senyawa yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Handayanto dan Hariah . bahwa aktivitas mikroorganisme tanah melakukan proses dekomposisi bahan organik sebagai penyedia unsur hara yang mendukung pertumbuhan tanaman. Tabel 1. Rerata Panjang Rachis Kelapa Sawit dengan Pemberian MOS pada Pertumbuhan Kelapa Sawit di TBM-II Umur 21 Bulan. MOS l/tanama. Panjang Rachis . Hasil dekomposisi TKS oleh MOS terutama unsur N dan P yang mempengaruhi pertambahan panjang rachis kelapa sawit, dimana unsur N dan P membantu proses pembelahan dan pembesaran sel yang menyebabkan daun muda lebih cepat mencapai bentuk yang sempurna. Menurut Lakitan . , ketersediaan unsur N dan P akan dapat mempengaruhi daun dalam hal bentuk dan jumlah. Panjang Petiola . Tabel 2 menunjukkan bahwa pemberian 20 mL MOS/tanaman menghasilkan panjang petiola tertinggi yaitu 141. 875 cm yang meningkat Jurnal Agroteknologi. Vol. 5 No. Agustus 2014 : 25 - 28 02% dibandingkan dengan tanpa pemberian MOS, yang merupakan panjang rachis terendah. Pada tabel 2 menunjukkan adanya peningkatan panjang petiola, hal ini pemberian MOS pada TKS. Tabel 2. Rerata Panjang Petiola Kelapa Sawit dengan Pemberian MOS pada Pertumbuhan Kelapa Sawit di TBM-II Umur 21 Bulan. MOS Panjang Petiola . l/tanama. 750 ab 650 ab Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut UJD Ketersediaan MOS mL/tanaman dapat meningkatkan panjang mikroorganisme selulolitik. Proses dekomposisi membantu tersedianya unsur hara bagi Ketersedian unsur hara meningkat jika aktifitas mikroorganisme juga meningkat. Sesuai dengan yang dinyatakan Andriyetni . , mikroorganisme selulolitik berfungsi untuk menguraikan selulosa menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah dan dapat tersedia bagi tanaman. Pertambahan Lingkar Bonggol . Tabel 3. Rerata pertambahan lingkar bonggol kelapa sawit dengan pemberian MOS pada pertumbuhan kelapa sawit di TBM-II umr 21 bulan. Pertambahan Lingkar MOS . l/tanama. Bonggol . Tabel pemberian 20 mL MOS/tanaman menghasilkan pertambahan lingkar bonggol kelapa sawit tertinggi, yaitu 66. 00 cm yang meningkat pemberian MOS 30, 10 dan 0 mL/tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian MOS 20 mL/tanaman dapat memberikan pertambahan lingkar bonggol yang terbaik, hal ini diduga pemberian MOS 20 mL/tanaman adalah titik optimum penyerapan hara yang terbaik sehinga menghasilkan pertambahan lingkar bonggol tertinggi sedangkan pemberian MOS 30 mL/tanaman pertambahan lingkar bongkol lebih kecil dibandingkan pemberian MOS 20 mL/tanaman, hal ini diduga terjadi kompetisi sesama mikroorganisme di areal yang sempit sehingga pemberian MOS 30 mL/tanaman kurang optimum. Sarief . menyatakan bahwa ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman yang akan menambah perbesaran sel yang Tersedianya unsur hara dalam jumlah yang cukup menyebabkan kegiatan metabolisme kelapa sawit meningkat, sehingga terjadi pembesaran pada bagian bonggol kelapa sawit. Pertambahan Jumlah Pelepah . menunjukkan bahwa pemberian MOS hingga 30 mL/tanaman menghasilkan pertambahan jumlah pelepah daun tertinggi berpengaruh tidak nyata dengan yang tanpa pemberian MOS Tabel 4. Rerata pertambahan jumlah pelepah kelapa sawit dengan pemberian MOS pada pertumbuhan kelapa sawit di TBM II umur 21 bulan. Pertambahan Jumlah MOS . l/tanama. Pelepah . Data di atas menunjukkan rata-rata pertambahan jumlah pelepah yang hampir sama meskipun kondisi lingkungan telah dirubah, hal ini dikarenakan faktor genetik mempengaruhi pertambahan jumlah pelepah Tanaman menghasilkan 4-5 daun setiap bulannya. pertambahan jumlah pelepah yang dihasilkan hampir sama pada pemberian MOS dosis 30, 20, 10, 0. Hal ini diduga menjadi bawaan faktor Pangaribuan . menyatakan bahwa jumlah daun sudah merupakan sifat genetik dari tanaman kelapa sawit dan juga tergantung pada umur tanaman. Jumlah Anak Daun . Tabel 5 menunjukkan bahwa pemberian 20 mL MOS/tanaman menghasilkan jumlah anak daun tertinggi, yaitu 225. 25 helai. Hal ini menunjukkan bahwa penyediaan hara yang MOS mL/tanaman dapat meningkatkan jumlah anak daun kelapa sawit melalui proses perombakan bahan organik oleh mikroorganisme selulolitik. Pemberian Mikroorganisme Selulolitik (Toni Kasmir Lumbantoruan, dk. Tabel 5. Jumlah Anak Daun dengan Pemberian MOS pada Pertumbuhan Kelapa Sawit di TBM-II umur 21 bulan. MOS . l/tanama. Jumlah Anak Daun . Berdasarkan hasil analisis jaringan MOS/tanaman memberikan unsur hara N 31% tergolong tinggi. P 0. 19% tergolong optimum dan K 1. 99% tergolong tinggi dimana ketiga unsur hara ini sudah mencukupi dalam pertumbuhan kelapa sawit sedangkan hasil analisis tanah terlihat bahwa pemberian 20 mL MOS/tanaman nisbah C/N tergolong tinggi, hal ini dikarenakan aktivitas mikroorganisme dalam dekompoisi bahan organik kurang optimal sehingga hara dari bahan organik belum dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Panjang Pelepah . Tabel 6. Rerata panjang pelepah kelapa sawit dengan pemberian MOS pada pertumbuhan kelapa sawit di TBM-II umur 21 bulan. MOS . l/tanama. Panjang Pelepah . Tabel pemberian MOS 20 mL/tanaman menghasilkan panjang pelepah tertinggi, yaitu 309,15 cm. Hal MOS mL/tanaman meningkatkan panjang pelepah kelapa sawit, karena pada dosis MOS 20 mL/tanaman sudah dapat menyediakan unsur hara dari hasil dekomposisi TKS bagi tanaman kelapa sawit, terutama unsur N. Menurut pendapat Setyamidjaja . bahwa unsur hara N berperan dalam merangsang pertumbuhan vegetatif, yaitu pertambahan jumlah pelepah. Sutedjo . menyatakan bahwa nitrogen merupakan unsur hara utama dalam pertumbuhan tanaman untuk pembentukan bagian vegetatif tanaman seperti KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pemberian MOS 20 mL/tanaman pada tanaman kelapa sawit di TBM-II berpengaruh meningkatkan panjang rachis, panjang petiola, pertambahan lingkar bonggol, jumlah anak daun dan panjang Pemberian MOS 30 mL/tanaman pada tanaman kelapa sawit di TBM-II berpengaruh meningkatkan pertambahan jumlah pelepah. Saran Berdasarkan disarankan untuk mengetahui pengaruh MOS pada aplikasi TKS maka penelitian sebaiknya dilanjutkan sampai ke TBM-i. DAFTAR PUSTAKA