Volume 7 Nomor 1 Februari 2025 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review LATAR BELAKANG PENDIDIKAN SEBAGAI PREDIKTOR MOTIVASI: ANALISIS MAHASISWA DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN KELUARGA TITANIA DWI MESYA1. ELIDA1*. WIWIK GUSNITA1. CICI ANDRIANI1 Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga. Fakultas Pariwisata dan Perhotelan. Universitas Negeri Padang 11111961@fpp. Abstract: Differences in educational backgrounds affect students' motivation to choose higher education study programs. This study aims to analyze the differences in student motivation between senior high school (SMA) and vocational high school (SMK) when choosing a study program. This study aims to describe and analyze the differences in motivation of students with high school and vocational education backgrounds in choosing a study program at the Department of Family Welfare Sciences. This comparative descriptive quantitative research involved 68 students, consisting of 34 students from high school backgrounds and 34 from vocational schools. Data collection was carried out through a Likert scale questionnaire with 53 questions. Data analysis used the Mann-Whitney U Test, a non-parametric statistical test, to test the difference in motivation significance. The study results show that the motivation of students from both educational backgrounds is in the medium However, there is a significant difference in motivation for choosing a study program. High school students tend to be more motivated by academic factors and knowledge development, while vocational school students are more concerned about practical skills and career opportunities. Statistical analysis produced a significance value of 0. < 0. , confirming a significant motivation difference between high school and vocational school students. This study provides important insights into how educational background affects motivation for choosing study programs, which can be a consideration for curriculum development and student admission strategies in higher Keywords: Student Motivation. High School. Vocational School. Study Program Selection. Abstrak: Perbedaan latar belakang pendidikan mempengaruhi motivasi mahasiswa dalam memilih program studi di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan motivasi mahasiswa dari Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam memilih program studi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis perbedaan motivasi mahasiswa yang berlatar belakang pendidikan SMA dan SMK dalam memilih program studi di Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga. Penelitian kuantitatif deskriptif komparatif ini melibatkan 70 mahasiswa yang terdiri dari 34 mahasiswa berlatar belakang SMA dan 36 mahasiswa dari SMK. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berskala Likert dengan 53 butir Analisis data menggunakan uji statistik non-parametrik Mann-Whitney U Test untuk menguji perbedaan signifikansi motivasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi mahasiswa dari kedua latar belakang pendidikan berada pada kategori sedang. Namun, terdapat perbedaan signifikan dalam motivasi memilih program studi. Mahasiswa SMA cenderung lebih termotivasi oleh faktor akademik dan pengembangan pengetahuan, sedangkan mahasiswa SMK lebih mempertimbangkan aspek keterampilan praktis dan peluang karir. Analisis statistik menghasilkan nilai signifikansi 0,031 . < 0,. , yang mengonfirmasi adanya perbedaan bermakna dalam motivasi antara mahasiswa SMA dan SMK. Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana latar belakang pendidikan memengaruhi motivasi pemilihan program studi, yang dapat menjadi pertimbangan bagi pengembangan kurikulum dan strategi penerimaan mahasiswa di perguruan Kata kunci: Motivasi Mahasiswa. SMA. SMK. Pemilihan Program Studi. Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Volume 7 Nomor 1 Februari 2025 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review Pendahuluan Perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan lanjutan yang menawarkan beragam pilihan program studi bagi lulusan sekolah menengah (Wagino dkk. , 2. Setiap mahasiswa memiliki latar belakang dan motivasi unik dalam memilih program studi yang akan ditempuhnya (Amry, 2. Lulusnya seseorang dari Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat memengaruhi pandangan dan dorongannya saat menentukan jalur pendidikan masa depannya (Rusman dan Elida, 2. Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga (IKK) di Universitas Negeri Padang menjadi fokus penelitian ini, mengingat departemen tersebut menawarkan program studi yang menarik bagi lulusan SMA dan SMK. Dengan adanya program studi seperti Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Pendidikan Vokasional Seni Kuliner, dan Pendidikan Vokasional Desain Fashion, departemen ini menarik perhatian mahasiswa dari berbagai latar belakang pendidikan. Motivasi merupakan konsep fundamental dalam memahami perilaku individu, khususnya dalam konteks pendidikan. Motivator intrinsik dan ekstrinsik seseorang adalah yang benar-benar mendorong mereka bergerak ke arah tujuan mereka. Dalam hal memilih program studi, motivasi intrinsik adalah faktor terpenting dalam memutuskan untuk melanjutkan pendidikan (Ariyanto dan Sulistyorini, 2020. Tarumasely dkk. , 2. Teori motivasi membagi dorongan individu ke dalam dua kategori utama: motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik berasal dari dalam diri individu, mencakup keinginan pribadi, tujuan individual, dan kebutuhan personal. Motivasi ini terkait erat dengan minat, bakat, dan aspirasi pribadi mahasiswa dalam memilih program studi. Di sisi lain, motivasi ekstrinsik berasal dari faktor eksternal, meliputi pengaruh lingkungan keluarga, tekanan sosial, sarana dan prasarana pendidikan, serta prospek karier (Chang dkk. Legault, 2020. Van den Broeck dkk. , 2. Latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki karakteristik kurikulum yang berbeda signifikan. SMA berfokus pada pendidikan akademis umum dengan kurikulum berorientasi pada pengetahuan teoritis, mempersiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan memberikan dasar pengetahuan yang luas di berbagai bidang. Sebaliknya. SMK menitikberatkan pada pendidikan keterampilan praktis dengan kurikulum yang berorientasi pada kompetensi kerja, mempersiapkan siswa untuk langsung memasuki dunia kerja dan menekankan keterampilan spesifik sesuai bidang keahlian (Asngari dan Hidayah, 2022. Jufriadi dkk. , 2. Pemilihan program studi merupakan proses kompleks yang dipengaruhi oleh interaksi rumit antara motivasi internal mahasiswa, latar belakang pendidikan, faktor eksternal, serta peluang akademik dan karier. Perbedaan latar belakang pendidikan SMA dan SMK berpotensi menciptakan variasi motivasi yang signifikan dalam memilih program Hal ini disebabkan oleh perbedaan pengalaman belajar, orientasi pendidikan, dan ekspektasi masa depan yang berbeda (Harahap dkk. , 2023. Sari dan Fitria, 2018. Sugiarto , 2. Perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan lanjutan yang menawarkan beragam pilihan program studi bagi lulusan sekolah menengah. Setiap mahasiswa memiliki latar belakang dan motivasi unik dalam memilih jalur pendidikannya. Perbedaan asal sekolah, baik dari Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dapat memengaruhi cara pandang dan motivasi mereka dalam menentukan program studi yang akan ditempuh. Motivasi menjadi konsep fundamental dalam memahami perilaku individu, khususnya dalam konteks pendidikan. Secara konseptual, motivasi didefinisikan sebagai P-ISSN 2567-0319 E-ISSN 2657-0300 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Volume 7 Nomor 1 Februari 2025 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review dorongan internal dan eksternal yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan guna mencapai tujuan tertentu. Teori motivasi membagi dorongan individu ke dalam dua kategori utama: motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik berasal dari dalam diri individu, mencakup keinginan pribadi, tujuan individual, dan kebutuhan personal. Motivasi ini terkait erat dengan minat, bakat, dan aspirasi pribadi mahasiswa. Sementara itu, motivasi ekstrinsik berasal dari faktor eksternal, meliputi pengaruh lingkungan keluarga, tekanan sosial, sarana dan prasarana pendidikan, serta prospek karier (Hosnawati, 2. Memahami perbedaan motivasi antarkelompok mahasiswa menjadi sangat penting untuk merancang kurikulum yang lebih responsif, mengembangkan strategi rekrutmen mahasiswa, memberikan layanan akademik yang sesuai, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi (Muhlisin, 2. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi secara mendalam bagaimana latar belakang pendidikan memengaruhi motivasi mahasiswa dalam memilih program studi, khususnya di bidang Ilmu Kesejahteraan Keluarga. Perbedaan kurikulum antara SMA dan SMK memunculkan keragaman motivasi dalam memilih program studi. SMA dengan kurikulum akademis umumnya lebih berorientasi pada pengetahuan teoritis, sementara SMK fokus pada keterampilan praktis dan kesiapan kerja (Yudha & Mandasari, 2. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan menarik: Bagaimana motivasi mahasiswa dari kedua latar belakang pendidikan tersebut dalam memilih program studi di Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga? Penelitian ini bertujuan mengungkap perbedaan motivasi intrinsik dan ekstrinsik mahasiswa berlatar belakang SMA dan SMK. Hal-hal seperti keinginan, kebutuhan, dan aspirasi seseorang merupakan contoh motivasi intrinsik, sedangkan faktor-faktor seperti keluarga, teman, dan masyarakat, serta sumber daya dan infrastruktur yang dimilikinya merupakan contoh motivasi ekstrinsik. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih lengkap tentang bagaimana latar belakang pendidikan siswa memengaruhi pilihan studi mereka, penting untuk memahami perbedaan motivasi ini. Temuan penelitian ini diharapkan dapat membantu perguruan tinggi dan lembaga membuat kurikulum yang lebih mencerminkan latar belakang siswa yang beragam. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif komparatif di Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga. Universitas Negeri Padang (Sugiyono, 2. Sampel penelitian berjumlah 68 mahasiswa, terdiri dari 34 mahasiswa SMA dan 34 mahasiswa SMK, yang dipilih menggunakan teknik Proporsional Random Sampling (Tanzeh & Arikunto, 2. Fokus penelitian mencakup program studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Pendidikan Vokasional Seni Kuliner, dan Pendidikan Vokasional Desain Fashion. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berskala Likert dengan 53 pertanyaan, dirancang untuk mengukur motivasi intrinsik . einginan, tujuan, kebutuha. dan motivasi ekstrinsik . engaruh lingkungan keluarga, sosial, dan sarana prasaran. Instrumen penelitian diuji validitas menggunakan metode Pearson Product Moment dan reliabilitas dengan teknik Alpha Cronbach. Perhitungan statistik seperti mean, median, modus, dan simpangan baku merupakan bagian dari analisis deskriptif, yang digunakan untuk menjelaskan fitur-fitur data yang memotivasi. Uji homogenitas varians dan normalitas Kolmogorov-Smirnov diperlukan. Penelitian ini menggunakan Uji U Mann-Whitney nonparametrik untuk menentukan signifikansi variasi motivasi, karena data tidak mengikuti distribusi normal. Perbedaan dianggap signifikan jika nilai-p kurang dari 0,05, dan kriteria Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia P-ISSN 2622-9110 E-ISSN 2654-8399 Volume 7 Nomor 1 Februari 2025 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review pengujian hipotesis ditetapkan pada tingkat signifikansi = 0,05. Memastikan anonimitas responden, mendorong keterlibatan sukarela, dan menjaga netralitas dalam pemrosesan data merupakan semua aspek etika penelitian yang dipertimbangkan secara cermat di seluruh proses (Hamzah, 2. Hasil dan Pembahasan Hasil Tabel 1 menunjukkan distribusi motivasi mahasiswa berlatar belakang SMA dalam memilih program studi di Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga. Tabel 1. Deskripsi Data Motivasi Mahasiswa SMA Kategori Interval Frekuensi Persentase Sangat Tinggi X > 202 Tinggi 175 187 Tinggi 162 t tabel Terdapat perbedaan signifikan Perbedaan signifikan diidentifikasi antara kelompok SMA dan SMK berdasarkan temuan analisis uji-T. Secara khusus, pada tingkat signifikansi 5%, nilai t-hitung sebesar 1,82 melebihi nilai t-tabel sebesar 1,66, yang menunjukkan hal ini. Dengan rata-rata 161,50 untuk kelompok SMA dan 150,12 untuk kelompok SMK, terdapat perbedaan sebesar 11,38 antara kedua kelompok tersebut. Menurut simpangan baku kedua kelompok tersebut, distribusi data kelompok SMA agak lebih bervariasi daripada kelompok SMK . 040 vs. Hubungan yang lemah dan terbalik antara kedua kelompok tersebut ditunjukkan oleh nilai negatif -0,146 untuk koefisien korelasi di antara keduanya. Nilai kedua koefisien korelasi, yaitu -0,292, semakin mendukung hal ini. Keragaman data antara kedua kelompok tersebut berbeda secara signifikan, sebagaimana dibuktikan oleh varians kedua kelompok yang diwakili oleh VAR 1/n1 . dan VAR 2/n2 . Pada tingkat keyakinan 95%, kita dapat mengatakan bahwa kedua kelompok tersebut berbeda secara signifikan satu sama lain karena t-hitung . lebih tinggi daripada t-tabel . Temuan ini memberikan bukti lebih lanjut bahwa penyakit atau perawatan yang membedakan kelompok SMA dan SMK, pada kenyataannya, memengaruhi karakteristik yang dinilai. Penemuan ini dapat menjadi dasar untuk pengambilan keputusan tentang berbagai kebijakan atau intervensi antara SMA dan SMK, dan memiliki implikasi yang signifikan terhadap sekolah. Pembahasan Motivasi Mahasiswa SMA dalam Memilih Program Studi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa SMA memiliki motivasi dalam kategori sedang . %) ketika memilih program studi di Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga. Temuan ini sejalan dengan penelitian Ulfah . yang mengungkapkan bahwa motivasi mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor intrinsik dan ekstrinsik, seperti tidak diterima di jurusan yang diinginkan, nasihat keluarga, dan prospek pekerjaan. Penelitian Muhlisin . tentang motivasi memilih program studi IPA menunjukkan pola serupa, di mana motivasi intrinsik mencakup keinginan untuk menjadi guru dan mendalami ilmu pengetahuan. Dalam konteks ini, mahasiswa SMA dalam penelitian kami menunjukkan motivasi yang kompleks, dengan sebagian kecil . %) berada pada kategori sangat tinggi dan hanya 3% pada kategori sangat rendah. Motivasi Mahasiswa SMK dalam Memilih Program Studi. Berbeda dengan mahasiswa SMA, mahasiswa SMK menunjukkan distribusi motivasi yang lebih merata antara kategori sedang . %) dan rendah . %). Hal ini sejalan dengan penelitian Rozi dkk. yang menyatakan bahwa mahasiswa SMK lebih mahir dalam kemampuan praktik, namun mungkin menghadapi tantangan dalam memilih program studi akademik. Penelitian P-ISSN 2567-0319 E-ISSN 2657-0300 Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia Volume 7 Nomor 1 Februari 2025 http://jurnal. Ensiklopedia Social Review sebelumnya oleh Wahyuni dan Elida . menjelaskan bahwa SMK merupakan pendidikan yang menyiapkan peserta didik menjadi manusia produktif yang dapat langsung bekerja di bidangnya. Ini mungkin menjelaskan mengapa mahasiswa SMK memiliki motivasi yang berbeda dalam memilih program studi di perguruan tinggi. Perbedaan Signifikan Motivasi SMA dan SMK. Analisis statistik mengungkapkan perbedaan signifikan dalam motivasi antara mahasiswa SMA dan SMK, dengan nilai signifikansi 0,031. Temuan ini mendukung argumentasi bahwa latar belakang pendidikan mempengaruhi motivasi dalam memilih program studi. Perbedaan ini dapat dikaitkan dengan perbedaan kurikulum dan orientasi pendidikan. Permendikbudristek nomor 5 tahun 2022 menegaskan bahwa SMA lebih fokus pada persiapan melanjutkan pendidikan tinggi, sementara SMK lebih berorientasi pada keterampilan kerja. Hal ini tercermin dalam variasi motivasi yang ditemukan dalam penelitian. Implikasi Teoritis dan Praktis. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami bagaimana latar belakang pendidikan memengaruhi motivasi mahasiswa. Temuan menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan, kedua kelompok memiliki potensi untuk berhasil dalam program studi yang sama. Bagi institusi pendidikan, hasil penelitian ini menyarankan perlunya pendekatan yang lebih fleksibel dalam kurikulum dan strategi pembelajaran, yang dapat mengakomodasi keberagaman latar belakang mahasiswa. Perlu adanya support system yang memperhatikan perbedaan motivasi dan latar belakang Keterbatasan dan Saran Penelitian Lanjutan. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam ruang lingkup yang terbatas pada satu departemen dan jumlah sampel yang relatif Penelitian mendatang dapat memperluas cakupan, menyelidiki faktor-faktor lain yang memengaruhi motivasi, seperti faktor ekonomi, pengalaman kerja, dan aspirasi pribadi. Penutup Penelitian ini mengungkapkan perbedaan signifikan motivasi mahasiswa berlatar belakang SMA dan SMK dalam memilih program studi di Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga. Mayoritas mahasiswa SMA berada pada kategori motivasi sedang . %) dengan rata-rata motivasi 161,50, sementara mahasiswa SMK tersebar antara kategori sedang . %) dan rendah . %) dengan rata-rata motivasi 150,12. Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney U menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai 0,031, yang mengindikasikan bahwa latar belakang pendidikan mempengaruhi motivasi mahasiswa dalam memilih program studi. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan agar pihak akademik dan program studi mengembangkan kurikulum yang lebih responsif terhadap keberagaman latar belakang mahasiswa. Mahasiswa SMA perlu didorong untuk mengeksplorasi potensi vokasional, sementara mahasiswa SMK perlu diberi dukungan untuk meningkatkan motivasi akademik. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji faktorfaktor lain yang memengaruhi motivasi, seperti kondisi ekonomi, tren industri, dan pengalaman pribadi, guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika pemilihan program studi. Daftar Pustaka