EFEKTIVITAS ACTIVE CYCLE OF BREATHING TECHNIQUE (ACBT) DALAM MENINGKATKAN BERSIHAN JALAN NAPAS PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) : STUDI KASUS Nanda Fitria Pransiska Dewi Papuani1. Henik Tri Rahayu2 1 Nursing professional student. Faculty of Health Sciences. Universitas Muhammadiyah Malang. Indonesia, 65144 2* Nursing Dapartenent. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang. Indonesia, 65144 Corresponding author: nandapapuani07@gmail. Info Artikel Sejarah artikel Diterima Disetujui Dipublikasi Abstrak : 17. : 25. : 30. Kata Kunci : Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT). BCSS. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan global yang semakin meningkat, ditandai dengan obstruksi saluran nafas, bronkiolitis obstruktif kronik dan emfisema. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas teknik Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) dalam meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien dengan Penyakit Paru Obstruk tif Kronik (PPOK): Penelitian ini menggunakan metode studi kasus pada satu pasien PPOK yang diberikan intervensi ACBT selama tiga hari berturut-turut. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen Breathlessness. Cough, and Sputum Scale (BCSS) untuk menilai gejala respirasi secara subjektif, serta pengukuran saturasi oksigen (SpOCC) secara objektif menggunakan pulse oximeter. Data dianalisis secara deskriptif untuk membandingkan nilai sebelum dan sesudah intervensi. Setelah pelaksanaan ACBT, terjadi penurunan skor sesak napas, batuk, dan gangguan akibat sputum pada instrumen BCSS. Selain itu, terjadi peningkatan saturasi oksigen secara bertahap dari 96% menjadi 99% selama tiga hari intervensi. Hasil ini menunjukkan adanya perbaikan gejala respirasi dan status oksigenasi Kesimpulan ACBT terbukti efektif dalam meningkatkan bersihan jalan napas dan saturasi oksigen pada pasien PPOK. Teknik ini dapat dijadikan sebagai intervensi non-farmakologis yang sederhana, aman, dan aplikatif untuk mendukung manajemen pernapasan pada pasien dengan gangguan paru kronis Effectiveness Of Active Cycle Of Breathing Technique (Acb. In Improving Airways Clearance In Chronic Obstructive Pulmonary Disease (Cop. Patients : A Case Study Abstrak Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is an increasing global health problem increased, characterized by airway obstruction, chronic obstructive bronchiolitis and emphysema. Objective: This study aimed to evaluate the effectiveness of the Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) in improving airway clearance in patients with Chr onic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Methods: This study used a case study method in one COPD patient who received ACBT intervention for three consecutive days. Evaluation was conducted using the Breathlessness. Cough, and Sputum Scale (BCSS) instrument to subjectively assess respiratory symptoms, and objectively measured oxygen saturation (SpOCC) using a pulse oximeter. Data were analyzed descriptively to compare pre- and post-intervention values. Results: After ACBT implementation, there was a decrease in shortness of breath, cough, and sputum-related disorders scores on the BCSS instrument. Furthermore, there was a gradual increase in oxygen saturation from 96% to 99% over the three days of intervention. These results indicate Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 improvements in respiratory symptoms and the patient's oxygenation status. Conclusion: ACBT has been shown to be effective in improving airway clearance and oxygen saturation in COPD patients. This technique can be used as a simple, safe, and applicable nonpharmacological intervention to support respiratory management in patients with chronic lung disorders Keyword : Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT). BCSS. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 Pendahuluan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah salah satu penyakit tidak menular yang hingga kini masih menjadi isu kesehatan global dengan angka prevelensi yang cukup tinggi (Yuniarti, 2. PPOK merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, namun gejalanya dapat dikendalikan dengan menghindari kebiasaan merokok, membatasi paparan terhadap polusi udara, serta mendapatkan vaksinasi untuk mencegah infeksi. PPOK dapat diobati dengan pemberian obat-obatan, terapi oksigen, dan program rehabilitasi paru (WHO, 2. Menurut data WHO. PPOK merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak di dunia dan menyebabkan 3,5 juta kematian pada tahun 2021, dimana angka tersebut merupakan 5% dari seluruh angka kematian global pada tahun tersebut (WHO. Hasil Riset kesehatan Dasar menunjukan bahwa prevelensi PPOK di Indonesia mencapai 3,7%, yang setara dengan sekitar 9,2 juta jiwa yang mangalami PPOK (Kemenkes RI, 2. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring meningkatnya jumlah perokok, memburuknya kualitas udara, dan rendahnya kesadaran terhadap deteksi dini dan pengolaan penyakit (PDPI, 2. Peningkatan produksi sputum dan frekuensi batuk pada pasien PPOK merupakan indikator terjadinya eksaserbasi atau perburukan kondisi paru (Maryadi, 2. Kejadian eksaserbasi ini tidak hanya memperberat gejala, tetapi juga berdampak negatif terhadap fungsi paru, menurunkan kapasitas fisik, memperburuk kualitas hidup, serta meningkatkan risiko mortalitas (Westerdahl et al. Salah satu faktor yang memperburuk kondisi pasien adalah akumulasi sekret yang tidak dapat dikeluarkan secara efektif. Produksi sekret yang meningkat berpotensi menyebabkan obstruksi jalan napas dan retensi sputum, sehingga mengganggu efektivitas bersihan jalan napas. Akibatnya, pasien mengalami gangguan jalan napas yang tidak efektif, yang ditandai dengan batuk tidak produktif, peningkatan kerja napas, dan penurunan saturasi oksigen (Arifin, 2. Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) adalah teknik terapi pernapasan yang dirancang untuk pasien dengan gangguan paru-paru. Teknik ini terdiri dari tiga komponen utama yaitu kontrol napas . reathing contro. , ekspansi dada . horacic expansio. , dan teknik ekspirasi paksa . orced expiratory techniqu. seperti meniup dan batuk efektif (Pratama et al. , 2. Tujuan dari ACBT adalah untuk mengurangi sesak napas, membantu mobilisasi dan pengeluaran sekret dari paru-paru, serta memaksimalkan aliran oksigen ke dalam paru-paru. Selain itu. ACBT juga berperan dalam mengembalikan fungsi dan kekuatan otototot pernapasan sehingga meningkatkan efisiensi ventilasi paru secara keseluruhan (Ningtias et al. Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengangkat judul dan melaporkan hasil terkait efektivitas active cycle of breathing technique (ACBT) dalam meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK. Bahan dan Metode Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) adalah teknik pernapasan aktif yang bertujuan membersihkan jalan napas pada individu dengan penyakit paru yang ditandai produksi sputum berlebih, guna mencegah retensi sekret dan obstruksi saluran napas yang dapat menjadi predisposisi infeksi serta peradangan (Pratama et al. Teknik ACBT terdiri dari 3 tahap, yaitu breathing control . asien bernafas menggunakan pernafasan diafragma tanpa adanya kontrol terhadap frekuensi dan volume pernafasa. Thoracic Expansion Exercise . ola pernafasan dengan inhalasi yang dalam dan lambat melalui hidung dengan jeda sekitar 3 detik pada akhir inspirasi diikuti dengan ekhalasi pasi. dan forced expiration technique . ombinasi satu atau dua ekspirasi paksa, yang keluar dalam vokalisasi AuhuffA. (Apriani et al. , 2. Pengukuran gejala pernapasan pada pasien dilakukan menggunakan instrumen Breathlessness. Cough, and Sputum Scale (BCSS), yaitu kuesioner yang terdiri dari tiga item utama untuk menilai tingkat keparahan sesak napas, batuk, dan sputum. Setiap item dinilai menggunakan skala Likert 0 hingga 4, di mana skor 0 menunjukkan tidak adanya gejala dan skor 4 menunjukkan gejala yang sangat berat (McCarroll et al. , 2. Pada aspek sesak napas, penilaian dimulai dari skor 0 . idak ada kesulitan bernapa. hingga skor 4 . esak napas sangat berat, bahkan saat istiraha. Untuk item batuk, penilaian dilakukan mulai dari skor 0 . idak batu. hingga skor 4 . atuk sangat sering atau hampir terus-meneru. Sementara itu, item sputum dinilai mulai dari skor 0 . idak merasa terganggu oleh sputu. hingga skor 4 . angguan sangat berat akibat sputum yang terus-meneru. Instrumen ini bersifat subjektif dan diisi langsung oleh pasien, digunakan untuk memantau perubahan gejala sebelum dan sesudah pelaksanaan intervensi Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) setiap hari selama tiga hari berturut-turut. Selain BCSS, pengukuran saturasi oksigen (SpOCC) dilakukan secara objektif menggunakan pulse oximeter untuk menilai status oksigenasi pasien. Nilai SpOCC dicatat sebelum dan setelah setiap sesi intervensi, untuk mengevaluasi pengaruh ACBT terhadap efisiensi pertukaran gas. Kombinasi kedua instrumen ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai perubahan kondisi pernapasan pasien selama pelaksanaan terapi (Zisi et al. , 2. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 Hasil Penelitian Tabel 1 Hasil Evaluasi BCSS dan Spo2 Evaluasi BCSS 25/6/25 26/6/25 27/6/25 Pertanyaan Post Pre Post Pre Post Pre Seberapa besar kesulitan bernapas? Bagaimana mana bantuk anda? Seberapa besar masalah sputum yang anda alami? SpO2 96% 98% Berdasarkan hasil evaluasi menggunakan instrumen BCSS selama tiga hari berturut-turut, terlihat adanya perbaikan gejala yang signifikan setelah dilakukan intervensi Active Cycle of Breathing Technique (ACBT). Pada hari pertama, skor kesulitan bernapas pasien adalah 2 . esak napas sedan. sebelum intervensi dan menurun menjadi 1 setelah intervensi. Frekuensi batuk juga menurun dari skor 3 . atuk serin. menjadi 2, serta masalah akibat sputum dari skor 2 menjadi 1, yang menunjukkan perbaikan terhadap gejala respirasi setelah ACBT. Selain itu, saturasi oksigen meningkat dari 96% menjadi 98%. Pada hari kedua, terjadi perbaikan lebih lanjut, dimana keluhan sesak napas menurun dari skor 1 menjadi 0, menandakan pasien sudah tidak mengalami kesulitan bernapa s. Frekuensi batuk dan keluhan sputum tetap berada di skor 1, menunjukkan gejala yang ringan dan cenderung stabil. Saturasi oksigen juga meningkat dari 97% menjadi Pada hari ketiga, skor kesulitan bernapas tetap berada pada angka 0 baik sebelum maupun sesudah intervensi, yang menunjukkan tidak ada keluhan sama sekali. Skor batuk dan sputum tetap stabil di angka 1, tanpa perburukan Sementara itu, saturasi oksigen tetap tinggi, yaitu meningkat dari 98% menjadi 99%. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) efektif dalam meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Selama tiga hari pelaksanaan terapi, skor BCSS menunjukkan penurunan gejala sesak napas, batuk, dan sputum, serta peningkatan saturasi oksigen (SpOCC), yang menandakan perbaikan status pernapasan pasien. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengukuran saturasi oksigen menggunakan alat pulse oximeter untuk mengetahui persentase oksigen dalam darah sebelum dan sesudah Hasil pengukuran menunjukkan adanya perbedaan nilai saturasi oksigen responden antara sebelum dan sesudah dilakukan terapi, yang mengindikasikan adanya peningkatan status oksigenasi sebagai respons terhadap intervensi Active Cycle of Breathing Technique (ACBT). Penelittian ini sejalan dengan temuan Nurliah . yang menyatakan bahwa teknik Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) mampu meningkatkan saturasi oksigen pada pasien. Peningkatan ini terjadi karena setelah diberikan terapi ACBT pasien mampu mengontrol pernapasan dengan lebih baik, sehingga menghasilkan pola napas yang lebih tenang dan ritmis dan teknik ACBT juga menyebabkan terjadinya ekspansi atau pelebaran rongga dada, yang berkontribusi dalam mengurangi sesak napas serta meningkatkan pertukaran oksigen dalam tubuh. Secara membantu menurunkan kerja napas dan memberikan waktu istirahat pada otot-otot meningkatkan ventilasi daerah paru yang sebelumnya mengalami kolaps, sementara forced expiration technique atau teknik AuhuffingAy mendorong sekret ke saluran napas bagian atas agar lebih mudah dikeluarkan melalui batuk efektif. Mekanisme ini menjadikan ACBT sangat relevan dalam penanganan pasien PPOK yang mengalami hambatan jalan napas akibat akumulasi lendir (Huriah et al. , 2. Menurut (Zisi et al. , 2. ACBT merupakan pendekatan yang aman dan efektif untuk meningkatkan bersihan jalan napas, mengurangi gejala respirasi, serta memperbaiki pertukaran gas pada pasien dengan penyakit pernapasan kronis. Terapi ACBT juga dapat mempercepat pemulihan dan menurunkan frekuensi eksaserbasi yang merupakan komplikasi umum pada PPOK (Dimitrova et al. , 2. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 52 Teknik ACBT berperan dalam meningkatkan kualitas hidup pasien PPOK melalui pengurangan gejala dan peningkatan kapasitas aktivitas harian. ACBT juga mudah diajarkan dan dapat diaplikasikan secara mandiri oleh pasien, sehingga menjadikannya sebagai terapi suportif yang sangat bermanfaat dalam pengelolaan jangka panjang PPOK (Apriani et al. , 2. Melalui teknik yang terstruktur dan tidak invasif. ACBT dapat dijadikan bagian integral dari program rehabilitasi paru. Terapi ketergantungan pada alat khusus, serta menekan (Rahmawati, 2. Hal ini sangat penting dalam pengelolaan penyakit kronis seperti PPOK yang memerlukan pendekatan holistik dan berkelanjutan (GOLD, 2. Dengan menguatkan bahwa ACBT merupakan strategi yang tepat dalam membantu meningkatkan bersihan jalan napas, mencegah komplikasi akibat retensi sekret, serta memperbaiki kondisi pernapasan pasien secara Penatalaksanaan non-farmakologis seperti ini perlu terus dikembangkan dan disosialisasikan dalam praktik keperawatan dan fisioterapi sebagai upaya promotif dan preventif dalam pengendalian gejala PPOK. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pemberian intervensi Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) selama tiga hari berturut-turut efektif dalam meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Teknik ini terbukti dapat menurunkan keluhan sesak napas, mengurangi frekuensi batuk, mengurangi gangguan akibat sputum, serta meningkatkan saturasi oksigen pasien. Dengan mekanisme kerja yang terstruktur dan mudah diaplikasikan. ACBT merupakan metode terapi non-farmakologis yang dapat diandalkan dalam mendukung pemulihan kondisi pernapasan pada pasien PPOK. Saran Kesimpulan penelitian tersebut, memberikan saran ACBT dapat direkomendasikan sebagai salah satu intervensi rutin dalam manajemen keperawatan atau fisioterapi pasien PPOK, baik di rumah sakit maupun pelayanan kesehatan primer. Perawat dan tenaga kesehatan lainnya diharapkan dapat memberikan edukasi serta pelatihan teknik ini kepada pasien dan keluarga sebagai bagian dari upaya pengelolaan mandiri di rumah. Ucapan Terima Kasih Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Puskesmas Jember Kidul atas dukungan dan partisipasi dalam penelitian ini. Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi Masyarakat serta menjadi bahan rujukan bagi peneliti berikutnya Referensi