PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Moderasi Beragama dalam Bernegara dan Fenomena Ragam Keyakinan dalam Keluarga Samsul MaAoarif Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu m@mail. Abstract: Diversity is an inevitability and a phenomenon that cannot be ignored. Diversity creates its own challenges, including diversity and differences in beliefs. Religion is a very sensitive belief and often touches the emotional dimension of individuals. When these differences are not managed wisely, they will easily trigger conflict, becoming the root of divisions including state and family relations. This research was carried out using a qualitative literature study method which aims to describe and analyze how moderate attitudes are needed in national life and the phenomenon of various beliefs in a family. As a result of research, a moderate attitude in responding to diversity is needed. And when a multi-religious family is able to prove that diverse beliefs are not the root of division, then that family deserves to be an The right role model for families that are already "colored", not an example and example for young people who are just planning their home life Keywords: Phenomenon. Religious moderation. Variety of beliefs. Abstrak: Keragaman merupakan sebuah keniscayaan dan fenomena yang tidak dapat diabaikan. Keragaman menciptakan tantangan tersendiri, termasuk keragaman dan perbedaan dalam berkeyakinan. Agama merupakan keyakinan yang sangat sensitif dan seringkali menyentuh dimensi emosional individu. Ketika perbedaan ini tidak dikelola dengan bijak maka akan mudah memicu konflik, menjadi akar perpecahan termasuk hubungan bernegara dan berkeluarga. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif studi pustaka yang bertujuan mendiskripsikan dan menganalisis bagaimana sikap moderat diperlukan dalam kehidupan bernegara dan bagaimana fenomena ragam keyakinan dalam sebuah Sebagai hasil penelitian sikap moderat dalam menyikapi keragaman sangat dibutuhkan. Dan ketika satu keluarga multi agama mampu membuktikan bahwa ragam keyakinan tidaklah menjadi akar perpecahan maka keluarga itu layak menjadi teladan. Teladan yang tepat untuk keluarga-keluarga yang terlanjur AuberwarnaAy, bukan contoh dan teladan untuk pemuda pemudi yang baru merencanakan kehidupan rumah tangga. Kata kunci: Fenomena. Moderasi beragama. Ragam keyakinan. Pendahuluan Keragaman Tuhan menghendaki demikian dan oleh karena itu manusia diperintahkan untuk saling mengenal, li taAoaarafu . upaya kalian saling mengena. Keragaman dapat menjadi integrating force yang mengikat kemasyarakatan namun dapat juga menjadi penyebab benturan antar budaya, antar ras, etnik, agama dan antar nilai-nilai Keragaman dalam konteks Indonesia adalah sebuah fenomena yang tidak dapat Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki lebih 000 pulau dan dihuni oleh lebih dari 1Afroh Nailil Hikmah and Ibnu Chudzaifah. AuModerasi Beragama: Urgensi Dan Kondisi Keberagamaan Di Indonesia,Ay Al-Fikr: Jurnal Pendidikan Islam 8, no. : 49Ae56, https://doi. org/10. 32489/alfikr. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 270 juta penduduk yang berasal dari berbagai latar belakang. Keragaman ini mencakup beragam etnis, bahasa, budaya, dan agama, yang masing-masing memiliki karakteristik unik. Di satu sisi, keragaman ini menjadi perekat dan kekuatan besar bagi keutuhan bangsa Indonesia, menciptakan mozaik budaya yang kaya dan berwarna. Namun, di sisi lain, jika tidak dikelola dengan baik, keragaman ini dapat menjadi penyebab konflik dan perpecahan yang Salah satu aspek keragaman yang paling mencolok adalah keragaman agama. Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, namun juga memiliki penganut agama Kristen. Hindu. Buddha, dan sejumlah agama tradisional lainnya. Keragaman agama ini menciptakan tantangan tersendiri dalam Agama merupakan hal yang sangat sensitif dan seringkali menyentuh Ketika perbedaan ini tidak dihormati atau dipahami, maka potensi konflik sangat mudah muncul, seperti yang terjadi dalam beberapa insiden kekerasan berbasis agama di berbagai daerah di Indonesia. Contoh nyata dari potensi konflik ini dapat dilihat pada peristiwa yang terjadi di Ambon pada akhir 1990-an, di mana ketegangan antara umat Muslim dan Kristen menjadi kekerasan Konflik ini tidak hanya merusak kehidupan sosial, tetapi juga mencederai citra Indonesia di mata dunia Dalam situasi seperti ini, mengembangkan sikap toleransi dan saling menghormati antar pemeluk agama. Keragaman di Indonesia adalah sebuah kekuatan yang harus dikelola dengan bijak agar tidak menjadi sumber konflik. Penting bagi setiap individu untuk memahami dan menghargai perbedaan yang ada, baik dalam konteks agama, budaya, maupun aspek kehidupan lainnya. Melalui edukasi, dialog antaragama, dan kebijakan yang adil. Indonesia dapat terus maju sebagai bangsa yang bersatu dalam Dengan demikian, keragaman bukan hanya menjadi identitas bangsa, tetapi juga menjadi modal sosial yang memperkuat keutuhan dan kemajuan Indonesia di kancah global. Keutuhan dan ketentraman hidup bernegara dan beragama merupakan aspek yang sangat krusial dalam kehidupan Dalam konteks ini, perlu dicatat bahwa kedua elemen tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Negara yang kuat dan stabil akan mendukung kehidupan beragama yang harmonis, sementara masyarakat yang religius dan saling menghormati akan memperkuat keutuhan Oleh karena itu, perhatian dari berbagai pihak, baik pemerintah, tokoh agama, maupun masyarakat sipil, sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan Jika hal ini terabaikan, maka dampaknya akan sangat luas dan merugikan, tidak hanya bagi individu tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pemahaman agama yang seimbang dan adil dapat berkontribusi pada ketentraman hidup Misalnya, dalam konteks Indonesia yang kaya akan keragaman agama dan budaya, penting bagi setiap pemeluk agama untuk memiliki pemahaman yang mendalam tentang ajaran agamanya, sehingga dapat saling menghormati dan memahami perbedaan. Dalam hal ini, pendidikan agama yang inklusif dan komprehensif menjadi sangat penting. Melalui pendidikan yang baik, generasi muda dapat diajarkan untuk menghargai lingkungan yang kondusif bagi kerukunan antar umat beragama. Akhirnya, ketentraman hidup bernegara dan beragama bukanlah tujuan yang dapat dicapai dalam waktu singkat. Ini adalah proses yang PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 memerlukan komitmen dan kerja keras dari semua pihak. Melalui dialog yang terbuka, pendidikan yang inklusif, dan penegakan Dalam keutuhan dan ketentraman hidup bernegara dan beragama adalah investasi jangka panjang untuk masa depan yang lebih baik. Dengan memahami dan menghargai keadilan, kita dapat memastikan bahwa kehidupan bernegara dan beragama tidak hanya berjalan dengan baik, tetapi juga memberikan manfaat bagi semua pihak dalam masyarakat. Setiap warga negara harus memiliki kesadaran bahwa kebutuhan ini bukanlah kepentingan individual ataupun kelompok tertentu, melainkan kepentingan bersama. Warga negara perlu menjadi subjek sekaligus objek moderasi beragama tanpa Pesannya harus tersampaikan meratai semua lapisan masyarakat. Warga negara perlu menjadi agen moderasi beragama kapan dan dimanapun. masyarakat, komunitas, sekolah, kampus dan keluarga. Fenomena menarik terjadi disini. Pemandangan AumenentramkanAy . tau Satu keluarga hidup damai, saling memahami, meskipun kenyataannya diwarnai ragam keyakinan. Perbedaan Agama Alih-alih terjadi konflik, justru mereka berhasil melukis pelangi indah perbedaan dalam bingkai ragam keyakinan. Ini merupakan fenomena yang menarik untuk dipahami lebih lanjut. Hal demikian sangat relevan untuk menjaga ketertiban, dan bahkan menjadi percontohan dalam moderasi beragama. Tapi rasanya menurut penulis, fenomena ini masih menyisakan ruang AumenggelisahkanAy. Ruang ini perlu mendapat perhatian cukup dan perlu dimasuki dengan bijak. Agama adalah hal yang vital, primer, sensitife dan melibatkan keyakinan. Oleh karena itu, perbedaan agama juga menjadi Artinya, perbedaan agama ini . ibanding ketika dialami orang lai. tentu meniscayakan tanggung jawab lebih jika melibatkan dua individu yang terhubung dengan ikatan suami-istri atau orang tua-anak. Gambaran AuindahAy keluarga dengan ragam keyakinan ini, sangat patut menjadi percontohan, tetapi tahapan-tahapan Supaya kesepakatan atau AudukunganAy yang kita berikan tidak keluar dari jalur ketaqwaan dan tidak terbayangi AuOrang-orang yang saling mengasihi, dihari itu, sebagian adalah musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwaAy. (QS. Al Zukhruf :. Rumusan Masalah Bagaimana Moderasi Beragam dalam Bernegara dan Fenomena Ragam Keyakinan dalam Keluarga? Tujuan Penelitian Untuk mendeskripsikan Moderasi Beragam dalam Bernegara dan Fenomena Ragam Keyakinan dalam Keluarga. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan studi pustaka . ibrary researc. menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptifanalitis . nalytical descriptive metho. , dengan mendeskripsikan, mengkaji dan menganalisis data penelitian. Bogdan dan Taylor menyebutkan bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa katakata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. 2 Adapun Teknik pengumpulan data dalam penelitian 2 Zuchri Abdussamad. Metode Penelitian Kualitatif. Sustainability (Switzerlan. I, vol. (CV. Syakir Media Press, 2. ,http://scioteca. com/bitstream/handle /123456789/1091/RED2017-Eng8ene. pdf?sequence=12&isAllowed=yhttp:// PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 ini adalah dengan mencari sumber dan data mengenai hal-hal yang berupa, jurnal, buku, dan sebagainya yang berkaitan dengan tema Pembahasan Moderasi Beragama dan Kehidupan Bernegara Moderasi diserap dari bahasa latin moderatio yang bermakna kesedangan . idak lebih dan tidak kuran. , pengendalian diri dari sikap berlebih-lebihan dan 3 Dalam bahasa arab, moderasi dikenal dengan istilah wasath atau wasathiyah, yang mempunyai persamaan makna dengan kata tawassuth . , tawazun . dan iAotidal . Kata wasathan mendapat rujukan dalam QS. Baqarah ayat 143. Tentang maknanya. Ibnu Asyur mendefinisikannya dengan dua arti. Secara etimologis, kata wasath berarti sesuatu yang di tengah atau sesuatu yang memiliki dua ujung yang ukurannya Sedangkan dalam terminologis, makna wasath adalah nilai-nilai Islam yang dibangun atas dasar pola pikir lurus dan tengahan, jangan berlebihan dalam hal 5 Umat yang mengamalkan nilainilai ini disebut dengan ummatan Quraish Shihab menafsirkna ummatan wasatan dengan kata moderat dalam tiga hal, pertama, moderat dalam melaksnakan duniawi dan ukhrawi, kedua, moderat dalam menyikapi perbedaan, ketiga, berada di tengah agar dapat berlaku Pada intinya, berbagai makna yang ditemukan dari istilah moderasi atau wasath mengarah kepada sikap berimbang sebagai penengah, tidak berpihak dan ekstrem. Orang yang memiliki karakter ini disebut orang yang moderat, layaknya seorang moderator ataupun wasit yang mampu menjadi pemandu, penengah dan pengawal dalam sebuah dialog maupun pertandingan. Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap dan perilaku beragama yang selalu mengambil posisi tengah-tengah, bertindak adil, dan tidak ekstrim. Dalam konsepsi moderasi beragama ini. Agama tidak menjadi sasaran moderasi melainkan yang menjadi garapan moderasi adalah cara bagaimana pemeluk agama memahami dan menjalankan ajaran agama yang dipahami. Prinsip-prinsip moderasi dalam terminologi moderasi beragama terdapat dalam setiap ajaran agama. Sejatinya ajaran agama selalu menghendaki perdamaian, keadilan, dan menjaga nilainilai kemanusiaan. Pemahaman yang tidak tepat dan ekstrim terkait ajaran agama dapat menimbulkan sikap beragama yang tidak hanya keliru tetapi juga berpotensi Dalam konteks ini, perlu org/10. 1016/j. https://w. net/publication/ 305320484_SISTEM_PEMBETUNGAN_TERP USAT_STRATEGI_MELESTARI. Rohimudin. Urgensi Paradigma Moderasi Beragama dalam Penerjemahan Ayat-Ayat Qital, ed. Abd Muid N (Jakarta: PTIQ Press, 2. 4 Umi Sumbulah. Suaib H. Muhammad, and Juwari. AuModerasi Beragama Perspektif AlQurAoan dan Hadits dan Implementasinya di Lembaga Pendidikan Islam,Ay Jurnal Darussalam . 487Ae504, https://ejournal. id/index. php/darussala m/article/view/1479. 5 Abdul Aziz. AuModerasi Beragama dalam Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tafsir Kontekstual di Indonesi. ,Ay Al Burhan : Kajian Ilmu Dan Pengembangan Budaya AlqurAoan 21 . 218Ae31, https://doi. org/10. 61169/elfata. 6 Sumbulah. Muhammad, and Juwari. AuModerasi Beragama Perspektif Al-QurAoan dan Hadits dan Implementasinya di Lembaga Pendidikan Islam. Ay 7 Amri Khairul. AuModerasi Beragama Perspektif Agama-Agama di Indonesia,Ay Living Islam: Journal of Islamic Discourses 4, no. : 179Ae96. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 dicermati bahwa agama, sebagai salah satu pilar utama dalam kehidupan sosial masyarakat, sering kali menjadi sumber inspirasi sekaligus konflik. Ketika ajaran agama dipahami secara sempit dan ekstrem, hal ini dapat menciptakan sikap intoleran terhadap paham atau keyakinan lain. Misalnya, kelompok-kelompok tertentu mungkin merasa bahwa mereka memiliki kebenaran mutlak, yang pada gilirannya dapat memicu tindakan diskriminatif atau bahkan kekerasan terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Kasus-kasus seperti penyerangan terhadap tempat ibadah atau pengusiran komunitas agama minoritas adalah contoh nyata dari dampak negatif pemahaman agama yang salah. Konflik yang berlatar belakang agama bersinggungan langsung dengan dimensi emosional manusia. Agama sering kali bukan hanya tentang keyakinan, tetapi juga identitas, tradisi, dan nilai-nilai yang dianut oleh sekelompok orang. Ketika identitas ini terancam, reaksi emosional bisa menjadi sangat kuat. Hal ini menegaskan pentingnya kesadaran akan potensi konflik yang ada dan ketegangan sebelum situasi menjadi lebih Oleh karena itu, cara pandang beragama di negara ini harus mendapat perhatian serius dari semua elemen masyarakat. Mengabaikan masalah ini berarti membuka pintu bagi konflik yang sensitif, yang dapat mengancam kehidupan berbangsa dan Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keragaman agama dan budaya, penting untuk menciptakan ruang dialog yang konstruktif antar pemeluk agama. Misalnya, forum-forum lintas agama dapat diadakan untuk membahas isu-isu yang sensitif dan mencari solusi bersama, sehingga tercipta saling pengertian dan Ketika Kementerian Agama, penguatan moderasi beragama sebagai upaya strategis dalam menjaga keutuhan bangsa, maka langkah ini sangat tepat dan harus didukung oleh semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. Moderasi beragama bukan hanya tentang menahan diri dari ekstremisme, tetapi juga tentang mengedepankan nilai-nilai toleransi, saling menghargai, dan dialog antaragama. Keberadaan agama di Indonesia tidak bisa lepas dari kehidupan berbangsa dan Cara pemisahan antara agama dan negara. Melainkan menjaga keutuhan negara dan kesejahteraan warganya tidak lain adalah bagian dari ajaran Agama. Gus Dur melalui penegakan substansi nilai Islam yang mengacu pada nilai kerahmatan telah mengkonsepsikan moderasi kenegaraan Islam. Baginya, term rahmat dimaknai tidak hanya sebagai kasih sayang, tetapi kesejahteraan. Kesejahteraan bersifat praksis material dan sosial. Kerahmatan Tuhan inilah yang menjadi substansi Islam yang harus ditegakkan oleh negara, apapun bentuk formal negara tersebut. Keutuhan, kerukunan dan ketentraman hidup bernegara merupakan hal penting. Manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya merupakan makhluk religius. Kebutuhannya tidak hanya bersosial dengan dunia tetapi juga spiritual. Selain kebutuhan materi juga butuh ketentraman batin, keimanan dan bentuk praktekpraktek keagaamaan, karena keimanan perlu Manusia membutuhkan 8 Hikmah and Chudzaifah. AuModerasi Beragama: Urgensi dan Kondisi Keberagamaan di Indonesia. Ay 9 Syaiful Arif. AuModerasi Beragama dalam Diskursus Negara Islam: Pemikiran KH Abdurrahman Wahid,Ay Jurnal Bimas Islam 13, . 73Ae104, https://doi. org/10. 37302/jbi. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 ruang dan waktu yang kondusif dalam memenuhi kebutuhan. Tanpa ruang dan waktu yang mendukung, susah bagi manusia dapat dengan nyaman memenuhi kebutuhan baik materi maupun spiritual. Dengan demikian, mewujudkan dan menjaga ruang dan waktu untuk senantiasa tentram kondusif, tidak lain adalah kebutuhan kompleks bukan hanya kebutuhan materi tetapi juga kebutuhan spiritual. Jika sepakat bahwa ruang waktu itu juga termasuk tanah air, maka tepat sekali ungkapan Aubbul waan minal-mAnAy 10 Cinta tanah air merupakan bagian dari Iman. Dengan pemahaman agama terkait ajaran-ajaranya menentramkan dalam konsepsi moderasi beragama merupakan upaya dengan urgensi nyata dalam membentuk, menjaga dan mengawal keutuhan hidup manusia dalam beragama dan juga bernegara. Ragam Keyakinan Agama dalam Keluarga Moderasi beragama bukan hanya kebutuhan individu maupun kelompok, melainkan kebutuhan bersama. Semua warga negara perlu memiliki kesadaran untuk menjadi agen moderasi beragama, kapan dan dimanapun berada dengan berbagai perannya. warga negara, teman, saudara, pendidik, pelajar, anak maupun sebagai orang tua. Keyakinan tidak bisa dipaksakan. Perbedaan keyakinan agama terjadi dan terkadang melibatkan beberapa orang dalam Suami istri berbeda agama, anak berbeda agama dengan orang tuanya, dengan saudara dan lain-lain. Keluarga dalam bahasa arab disebut ahlun. Menurut pendapat lain kata ahlun adalah sekelompok orang yang disatukan oleh hubunganhubungan tertentu seperti hubungan darah, agama, pekerjaan, rumah atau negara. Dalam islam keluarga memiliki peran penting, karena keluarga kecil adalah madrasah pertama bagi anak-anak yang merupakan calon generasi penerus bangsa yang cinta kedamaian dan keharmonisan untuk mewujudkan Islam rahmatan lilAoalamin. Perbedaan agama dalam keluarga terkadang sensitif untuk dibicarakan. Seringkali ketika salah satu anggota keluarga memilih untuk memeluk agama yang berbeda maka konflik mulai terjadi. 13 Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menyaksikan situasi di mana hubungan dalam keluarga menjadi renggang atau bahkan terputus sepenuhnya. Fenomena ini sering kali terjadi akibat adanya perbedaan keyakinan yang mendalam antara anggota Ketika dipertahankan dengan keras, konflik dapat muncul, menciptakan ketegangan yang merusak hubungan yang seharusnya Banyak kasus hubungan keluarga terputus, menjadi tidak baik, konflik, karena Pemandangan lain terjadi, perbedaan keyakinan agama tidak menjadi masalah 10 Muhammad Izzul Islam An Najmi. AuGagasan Hubb Al-Watan Min Al-Iman Kiai Abdul WaHab Hasbullah Sebagai Pondasi Pluralitas dan Persatuan Nasional,Ay Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin 7, no. : 167Ae82, https://doi. org/10. 15408/ushuluna. 11 Wirda Wiranti Ritonga. AuPeran Dan Fungsi Keluarga Dalam Islam,Ay Islam & Contemporary Issues 1, no. : 47Ae53, https://doi. org/10. 57251/ici. 12 Badrun Hasani. AuPeran Keluarga Dalam Penguatan Moderasi Beragama Untuk Pemantapan Empat Pilar Kebangsaan,Ay Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Riset Sosial Humaniora (KAGANGA) 6, no. : 1Ae23, https://journal. id/index. php/KAGA NGA/article/view/5593. 13 Al Mukarromah. AuPerbedaan Agama di Ranah Keluarga dalam Perspektif Al-QurAoan dan Komunikasi Dakwah,Ay NidaAo Al-QurAoan 20, no. : 51Ae62. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 besar dalam suatu keluarga. Mereka mampu menjalani hidup dengan rukun, damai, saling memahami meskipun memiliki keyakinan agama yang berbeda. Mereka mampu mengatasi perbedaan keyakinan dan mampu menjalani hidup dengan rukun, damai, dan saling memahami meskipun memiliki keyakinan agama yang berbeda. Bagi mereka, perbedaan keyakinan agama tidak menjadi masalah besar dalam suatu Sebaliknya, perbedaan ini sering kali dipandang sebagai kesempatan untuk saling belajar dan memahami. Mereka mampu mengatasi perbedaan keyakinan itu dengan cara yang konstruktif. Ada semboyan berbeda tapi sama yang sering dijadikan pegangan dalam keluarga-keluarga tersebut. Semboyan ini mencerminkan filosofi bahwa meskipun ada perbedaan dalam keyakinan, nilai-nilai kemanusiaan seperti cinta, kasih sayang, dan saling menghormati tetap menjadi kesamaan yang mengikat. Dalam dunia yang sering kali dipenuhi dengan konflik yang berakar pada perbedaan keyakinan, termasuk keyakinan agama, keluarga-keluarga yang mampu hidup rukun meskipun memiliki perbedaan-perbedaan itu, tidak bisa dipungkiri, bisa menjadi inspirasi dan merupakan contoh nyata dari nilai-nilai moderasi beragama. Mereka menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi sumber konflik, melainkan dapat menjadi sumber kekuatan dan kebersamaan. Keluarga-keluarga dianggap layak menjadi teladan dan percontohan bagi banyak orang dalam menjalani hidup yang berlandaskan pada saling pengertian dan penghormatan terhadap perbedaan. Disini rasanya perlu sebentar menunduk mawas diri. Perbedaan keyakinan agama yang melibatkan beberapa anggota keluarga bukan lagi fenomena asing. Mungkin seiring waktu akan semakin banyak. Terkait kemungkinan perbedaan keyakinan agama dalam keluarga. orang tua dan anak. Qs. Luqman: 15 memberikan gambaran dan panduan yang harus dipedomani. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau taati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman: . Ipah Saripah. AuKewajiban Anak terhadap Orang Tua menurut Hadits Bukhari Wildan,Ay Gunung Djati Conference Series 24, no. 375Ae91, https://conferences. 15 Hofifah Astuti. AuBerbakti Kepada Orang Tua Dalam Ungkapan Hadis,Ay Jurnal Riset Agama . 45Ae58, https://doi. org/10. 15575/jra. Kedua orang tua memiliki derajat tinggi. Dalam AlqurAoan dan Hadis seorang anak diwajibkan untuk memberikan hak dan kewajiban kepada keduanya. 14 Bahkan perintah berbakti kepada orangtua di dalam Al-QurAoan sejajar dengan perintah beriman dan beribadah kepada Allah SWT. 15 Anak dituntut Ihsan . memberikan yang terbaik kepada keduanya. Berbakti dan mematuhi perintah keduanya adalah wajib. Sama wajibnya dengan bersyukur kepada Allah SWT. Perintah berbakti kepada kedua orang tua ini Allah SWT sertakan tepat setelah kepada-Nya. Isykurli (Qs. Luqman :. Akan tetapi betapapun tinggi derajat kedua orang tua dalam ikatan keluarga, kepatuhan terhadap keduanya tidak lagi wajib bagi anak, bahkan dilarang patuh jika menjerumuskan dalam syirik kepada Allah SWT. Dan meskipun begitu, keduanya tetap harus dipergauli dengan maAoruf . di Wa shohib huma fiddunya maAoruufa (Qs. Luqman :. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Qs. Luqman ayat 15 ini, paling tidak memberikan dua catatan penting terkait bagaimana sikap yang harus ditempuh ketika terjadi perselisihan antar individu yang terikat tanggung jawab keluarga . anakorang tua. Pertama. keyakinan tauhid. Kedua. cara bersikap di dunia. Dalam hal ini, perbedaan agama berarti perbedaan mendasar tentang ketauhidan. Esaan Tuhan yang berseberangan dengan Wilayah keyakinan berarti harus diyakini dan tidak bisa ditawar. Berbeda berarti salah fatal. Keyakinan kita hanya Islam jalan keselamatan. Inna diina Aoinda Allah Islam. Maka jika potensi perbedaan itu terjadi diantara orang-orang dekat, maka tidak seharusnya tanpa beban dengan sadar membiarkan orang tua, anak atau anggota keluarga terjeremus dalam kesesatan dan kebinasaan. Dalam konteks ini, perlu sikap bijak, jika mungkin disampaikan dengan cara terbaik sebagai bentuk tanggung jawab, jika tidak mungkin disampaikan maka harus dibatinkan. Jika yang terjadi kemudian adalah tetap perbedaan atau kesepahaman dalam perbedaan maka panduan Aucara bersikap di duniaAy harus dilaksanakan. Perlu upaya untuk membentuk pergaulan yang maAoruf . Berkawan dengan baik. Menciptakan kerukunan, kemaslahatan dan kebaikan dalam ragam perbedaan itu. Pada level kedua ini, perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk menampilkan keindahan hidup berdampingan dibawah La ikrooha fiddin . idak ada paksaan dalam Agama. ,). Lakum diinukum waliyaddiin (Bagimu agamamu, bagiku Disini kita dituntut untuk menerapkan prinsip toleransi. Toleransi dalam Islam adalah otentik. Ia eksis sejak Islam itu ada, dan dalam Islam hanyalah persoalan implementasi dan komitmen 16 Toleransi beragama dalam Islam mencampurkan keyakinan satu sama lain. Ini juga bukan tentang pertukaran kepercayaan antara berbagai kelompok Toleransi di sini lebih kepada muAoamalah atau interaksi sosial. Oleh karena itu, terdapat batasan-batasan yang harus dihormati oleh semua pihak. Inti dari toleransi adalah kemampuan setiap individu untuk menahan diri dan memberikan ruang bagi orang lain untuk menghargai keunikan masing-masing, tanpa merasa terancam oleh keyakinan atau hak yang dimiliki. Toleransi dalam Islam ini tidak sekedar dipraktikkan secara historis oleh Rasulullah SAW dan oleh kaum muslimin dari generasi ke generasi, baik dalam tataran kehidupan sosial sehari-hari. Fenomena keluarga dengan ragam agama ini, bagaimanapun indahnya, seringkali menyimpan kompleksitas yang lebih dalam daripada yang terlihat di Keberagaman dalam konteks keluarga, di mana anggota keluarga memiliki latar belakang agama yang berbeda, memang bisa menciptakan suasana yang kaya akan pengalaman dan perspektif. Namun, jika kita menelaah lebih jauh, ada nuansa yang menunjukkan bahwa kebaikan yang dihasilkan dari keberagaman ini mungkin tidak selalu berlanjut hingga ke kehidupan setelah mati. Dengan kata lain, kebaikan yang terjalin dalam interaksi sehari-hari di dunia ini bisa jadi tidak mencerminkan nilainilai yang lebih mendalam yang seharusnya Misalnya, dalam sebuah keluarga di mana satu anggota memeluk agama Islam Aslati. AuToleransi Antar Umat Beragama dalam Perspektif Islam (Suatu Tinjauan Histori. Abstrak,Ay 2020, 1Ae9. 17 Suryan Suryan. AuToleransi Antarumat Beragama: Perspektif Islam,Ay Jurnal Ushuluddin . https://doi. org/10. 24014/jush. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 sementara yang lain beragama Kristen, interaksi mereka mungkin terlihat harmonis di luar. Mereka merayakan hari-hari besar keagamaan masing-masing dengan saling menghormati, dan anak-anak mereka diajarkan untuk menghargai perbedaan. Namun, ketika kita menggali lebih dalam, ketegangan yang tidak terucapkan, seperti perbedaan dalam nilai-nilai dasar yang dipegang oleh masing-masing agama. Hal ini bisa menjadi sumber konflik yang tidak terlihat, yang jika tidak ditangani dengan keharmonisan keluarga tersebut. Penting untuk menyadari bahwa mengakui adanya ketidaksesuaian dalam keluarga yang beragam secara agama bukanlah hal yang negatif. Sebaliknya, ini adalah langkah awal menuju pemahaman yang lebih baik dan pencarian solusi yang Ketika kita menyadari bahwa ada yang kurang pas dalam dinamika keluarga demikian, kita dapat mulai memikirkan cara untuk menjadikannya percontohan yang lebih relevan. Misalnya, keluarga yang sudah terlanjur AuberwarnaAy ini bisa menjadi contoh bagi orang lain tentang berkompromi dalam perbedaan. Namun, berhati-hati menyampaikan bahwa percontohan ini tidak selalu cocok untuk pemuda-pemudi yang baru memulai kehidupan rumah tangga Bagi mereka yang masih dalam tahap merintis kehidupan berumah tangga, membangun sebuah keluarga dengan fondasi yang kuat dan serupa dalam nilainilai agama bisa jadi lebih menguntungkan dalam jangka panjang. Dalam keluarga dengan ragam agama memang memiliki keindahan tersendiri, namun juga membawa tantangan yang tidak bisa Kebaikan yang terlihat dalam interaksi sehari-hari mungkin hanya hubungan tersebut, dan tidak selalu menjamin keberlanjutan nilai-nilai yang lebih mendalam. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa meskipun keluarga beragam dapat menjadi contoh bagi orang lain, mereka harus dipahami dalam konteks yang lebih luas. Bagi pemuda-pemudi yang baru memulai kehidupan rumah tangga, membangun fondasi yang serupa dalam nilai-nilai agama mungkin menjadi pilihan yang lebih bijaksana. Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan keluarga yang tidak hanya harmonis di dunia ini, tetapi juga dapat membawa kebaikan yang abadi ke kehidupan setelah mati. Ibarat keluarga itu adalah sebuah rumah, maka ditempat itu sudah ada beberapa rumah. Terasa ada yang salah dengan rumah itu. Kesalahan yang Tetapi tidak mungkin rumah itu di robohkan. Resikonya besar. Akhirnya langkah tepat yang diambil adalah menjaganya dan merawatnya supaya lebih Cukup memperbaiki yang sudah ada. Tidak kemudian dengan sadar penuh justru mendorong dan memberikan fasilitas penuh untuk membangun . enciptakan dari tidak ad. rumah-rumah yang baru. Kesimpulan Moderasi beragama merupakan cara pandang beragama yang luwes tidak kaku dan ekstrim. Agama merupakan hal yang sensitif, sedikit gesekan sudah cukup menyulut konflik yang siap membesar, oleh karena itu cara pandang beragama di negara ini harus mendapat perhatian serius. Merumuskan pemahaman agama dengan seimbang dan adil, merupakan keharusan untuk membentuk dan mengawal keutuhan hidup beragama dan juga bernegara. Perbedaan keyakinan sering kali menjadi akar konflik, meretakkan hubungan, termasuk hubungan keluarga. Ketika satu keluarga multi agama mampu membuktikan bahwa ragam keyakinan tidaklah menjadi akar perpecahan dan permusuhan maka PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 keluarga itu layak menjadi contoh dan Akan tetapi perlu berhati-hati dalam menyampaikan percontohan ini. Nyatanya kondisi ini tidak selalu cocok dan bijak untuk semua situasi dan kondisi, melainkan teladan yang tepat bagi keluarga-keluarga yang terlanjur AuberwarnaAy, bukan contoh dan teladan untuk pemuda pemudi yang baru mulai atau merencanakan kehidupan rumah tangga. Daftar Pustaka