Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Model Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan Kelas Akselerasi MTs Negeri Ponorog. Asfahani Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo Abstract Aqidah Akhlak is a very important and useful subject both in inculcate also form the moral of learners into a virtuous generation. In MTsN Ponorogo, the learning method and teaching materials of Aqidah Akhlak are different between regular class and acceleration class. Curriculum, syllabus of existing competency standard and basic competence in acceleration class not in accordance with the standard of content that has been determined from government or education curriculum applicable for learning only taken two years. In this study, researcher used a qualitative approach to the type of case study research. Data collection techniques with interview techniques, observations, and documentation that we do in MTsN Ponorogo. While data analysis techniques used are data reduction, data display, and conclusion. The results showed that, model development of teaching materials of Aqidah Akhlak in MTsN Ponorogo by using module AuAqidah AkhlakAy. The module is compiled and developed by teachers by following the training, teaching materials development workshop. MGMP, make a summary and hand out the material of Aqidah Akhlak itself especially in acceleration class. Second. MTsN Ponorogo teachers are already creative with various methods and techniques of delivering teaching materials and hand out . material to students. With the support of facilities that are quite adequate because it is based on technology in the delivery of materials in the classroom, especially in the acceleration class in which students have above average intelligence so that it becomes its own demands for teachers. Keywords: Aqidah Akhlak. Teaching Materials. Development Models Teaching Materials. Pendahuluan Mata pelajaran Aqidah Akhlak merupakan mata pelajaran yang sangat penting dan berguna baik dalam menanamkan juga membentuk moral peserta Asfahani | Model Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan . didik menjadi generasi yang berbudi luhur. Mata pelajaran Aqidah Akhlak merupakan salah satu mata pelajaran dalam lingkup pendidikan agama Islam. Pendidikan agama Islam itu sendiri merupakan upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubunganya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. Mata pelajaran Aqidah Akhlak dalam pendidikan Islam juga merupakan usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak yang sesuai dengan ajaran Islam, memikirkan, memutuskan dan berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam serta bertanggung jawab sesuai dengan nilainilai Islam. Dalam lampiran Permendiknas No. 22 Th 2006 tentang Standar Isi, disebutkan bahwa tujuan dari pembelajaran Aqidah Akhlak yaitu bertujuan untuk menumbuhkembangkan Aqidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang Aqidah Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah Swt. Selain itu juga mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilainilai Aqidah Islam. Dengan demikian, pembelajaran Aqidah Akhlak adalah proses atau cara yang bisa membantu anak didik untuk belajar dengan menekankan pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan tentang keyakinan atau kepercayaan . dalam Islam yang menetap dan melekat dalam hati yang berfungsi sebagai pandangan hidup untuk diwujudkan dan memancarkan dalam sikap hidup, perkataan, dan amal perbuatan siswa dalam segala aspek kehidupannya sehari-hari. Ditinjau dari pihak guru, materi pembelajaran itu harus diajarkan atau disampaikan dalam kegiatan pembelajaran. Ditinjau dari pihak siswa bahan ajar itu harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian belajar. Tanpa bahan pelajaran, proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, guru 1 Abdul Majid. Dian Andayani. PAI Berbasis Kompetensi (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2. , 2 Zuhairi. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Dirjen lembaga Islam. Depag, t. , hal. 3 Basuki, dkk. Cara Mudah Mengembangkan Silabus (Yogyakarta: Pustaka Felicha, 2. , hal. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikan pada anak didik. 4 Bahan ajar bisa berupa bahan tertulis maupun bahan yang tidak tertulis. Berdasarkan penjajagan awal di kelas reguler dan kelas akselerasi MTsN Ponorogo, ditemukan perbedaan cara pembelajaran dan bahan ajar Aqidah Akhlak yang disampaikan berbeda antara kelas reguler dan kelas Ada juga perbedaan yang lain seperti cara mengajar dengan metode-metode tertentu, dan cara belajar siswa yang berbeda pula. Berdasarkan informasi dari rekan kami di MTsN Ponorogo, dari pernyataan itu kami temukan ada media dan strategi khusus dalam pembelajaran di kelas akselerasi yang berbeda dengan kelas reguler. 6 Oleh karena itu, kurikulum, silabus yang ada standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam kelas akselerasi tidak sesuai dengan standar isi yang sudah ditentukan dari pemerintah atau kurikulum pendidikan yang berlaku. Hal-hal tersebut dapat dikatakan sebagai masalah yang unik untuk diteliti karena terjadi kesenjangan antara harapan dan fakta. Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa yang terjadi di lapangan sering kali bertolak belakang dengan teori-teori di atas. Alasan peneliti dalam memilih tema ini karena MTsN Ponorogo merupakan salah satu dari sekian banyak MTs yang ada di Ponorogo ini, baik yang sudah negeri atau yang masih swasta yang memiliki kelas akselerasi. Yang membuat menarik untuk dilakukan penelitian ini yaitu adanya kelas akselerasi di samping kelas reguler di MTsN Ponorogo ini, sehingga dimungkinkan nanti akan ditemukan pola-pola atau konsep baru tentang kelas akselerasi dan reguler yang lebih baik lagi untuk digunakan sebagai acuan dalam pengembangan MTsN Ponorogo ini agar lebih maju ke depannya. Dari penjajagan awal di lapangan diketahui guru PAI MTsN Ponorogo telah melakukan pengembangan-pengembangan bahan ajar mata pelajaran Aqidah Akhlak pada kelas reguler dan kelas akselerasi MTsN Ponorogo. Melalui workshop dan pelatihan pengembangan bahan ajar baik tingkat lokal maupun nasional mereka mengembangkan bahan ajar. Berangkat dari penjajagan awal di atas, peneliti tertarik dan bermaksud mengadakan penelitian yang akan peneliti dengan judul: AuModel Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan Kelas Akselerasi MTsN Ponorog. Ay dengan rumusan masalah sebagai berikut: 4 Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1. , hal. Asfahani | Model Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan . Bagaimana model pengembangan bahan ajar Aqidah Akhlak di kelas reguler dan kelas akselerasi MTsN Ponorogo? Bagaimana kreativitas guru PAI dalam mengembangkan bahan ajar Aqidah Akhlak di kelas reguler dan kelas akselerasi MTsN Ponorogo? Metode Penelitian Dalam penelitian ini digunakan metodologi penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif,7 dengan karakteristik-karakteristik . penelitian kualitatif menggunakan latar alami . atural settin. sebagai sumber data langsung dan peneliti sendiri merupakan instrumen kunci. Sedangkan instrumen lain sebagai instrumen penunjang, . penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Data yang dikumpulkan disajikan dalam bentuk kata-kata dan gambar-gambar. Laporan penelitian memuat kutipan-kutipan data sebagai ilustrasi dan dukungan fakta pada penyajian. Data ini mencakup transkrip wawancara, catatan lapangan, foto, dokumen, dan bukti lain yang semua akan menunjang penelitian di MTsN Ponorogo ini. Dan dalam memahami fenomena, peneliti berusaha melakukan analisis sekaya mungkin mendekati bentuk data yang telah direkam, . dalam penelitian kualitatif proses lebih dipentingkan dari pada hasil. Sesuai dengan latar yang bersifat alami, penelitian kualitatif lebih memperhatikan aktifitas-aktifitas nyata sehari-hari, prosedur-prosedur dan interaksi yang terjadi, . analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa induktif, . makna merupakan hal yang esensial dalam penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, yaitu suatu deskriptif intensif dan analisis fenomena tertentu atau satuan sosial seperti individu, kelompok, institusi atau masyarakat. Studi kasus dapat digunakan secara tepat dalam banyak bidang. Di samping itu merupakan penyelidikan secara rinci satu setting, satu subjek tunggal, satu kumpulan dokumen atau satu kejadian tertentu. Pengertian Bahan Ajar Bahan ajar terdiri dari dua kata yaitu kata AubahanAy dan AuajarAy. Bahan adalah segala sesuatu yang dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan 7 Pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa katakata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat dialami. Lihat Lexy Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2. , hal. 8 Bogdan dan Biklen. Qualitative Research for Education, an Introduction to Theory and Methods (Boston: Allyn and Bacon, 1. , hal. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 tertentu, misalnya untuk pedoman atau pegangan untuk mengajar. 9 Bahan atau materi pelajaran . earning material. merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses pembelajaran, bahkan . ubject-centered teachin. , materi pelajaran merupakan inti dari kegiatan pembelajaran. Menurut subject-centered teaching keberhasilan suatu proses pembelajaran ditentukan oleh seberapa banyak siswa dapat menguasai materi kurikulum. Sedangkan ajar adalah petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui dan 10 Jadi, bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan ajar/materi ajar adalah segala bentuk materi yang digunakan untuk membantu guru/ instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar Materi yang dimaksud bisa berupa materi tertulis, maupun materi tidak tertulis. Bahan ajar atau materi pembelajaran . nstructional material. adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan . akta, konsep, prinsip, prosedu. , keterampilan, dan sikap atau nilai. Bahan ajar adalah materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Materi pembelajaran . nstructional material. adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus diajarkan oleh guru dan harus dipelajari oleh siswa untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Secara garis besar bahan ajar adalah pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang harus diajarkan oleh guru dan dipelajari siswa sebagai sarana untuk mencapai indikatorindikator yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian hasil belajar, setiap jenis bahan ajar memerlukan media, metode, dan tehnik evaluasi yang berbeda-beda. Dari berbagai pengertian tentang bahan ajar, dapat diambil satu pengertian secara menyeluruh bahwa bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak tertulis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk Sedangkan pengembangan bahan ajar merupakan upaya penyusunan bahan ajar baik yang berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis oleh guru untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di kelas. 9 Tim Penyusun Kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga (Jakarta: PT. Balai Pustaka, 2. , hal. 10 Wina Sanjaya. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Kencana Prenada Media Group: Jakarta, 2. , hal. 11 Zumrotul Mukaffa dan Eni Purwati. Micro Teaching (Surabaya: Kopertais IV press, 2. , hal. Asfahani | Model Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan . Macam-macam bahan ajar Macam-macam bentuk bahan ajar di antaranya sebagai berikut: Bahan ajar cetak . hand out, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto atau gambar, model atau market. Bahan ajar dengar (Audi. seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio, dan PH. Bahan ajar audio visual seperti. video/film,VCD Bahan ajar interaktif . nteraktif teaching materia. CD interaktif, computer Based. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak (National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Trainin. Pengelompokan bahan ajar menurut Faculte de Psychologie et des Sciences de 1AoEducation Universite de geneve dalam website adalah sebagai berikut: Integrated media-written, audiovisual, electronic, and interactive-appears in all their programs under the name of Medienverbund or Mediamix (Feren Universitaet and Open University Media tulis, audio visual, elektronik, dan interaktif terintegrasi yang kemudian disebut sebagai medienverbund . ahasa jerman yang berarti media terintegras. atau mediamix. Sedangkan Bernd Weidenmann, 1994 dalam buku Lernen mit Bildmedien mengelompokkan menjadi tiga besar, pertama auditiv yang menyangkut radio (Rundfun. , kaset (Tonkassett. , piringan hitam (Schallplatt. Kedua yaitu visual . yang menyangkut Flipchart, gambar (Wandbil. , film bisu (Stummfil. , video bisu (Stummvide. , program komputer (Computer-Lernprogram. , bahan tertulis dengan dan tanpa gambar (Lerntext, mit und ohne Abbildun. Ketiga yaitu audio visual . yang menyangkut berbicara dengan gambar (Rede mit Bil. , pertunjukan suara dan gambar (Tonbildscha. , dan film/video. Prinsip-prinsip penyusunan dan pengembangan bahan ajar Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam penyususnan materi pelajaran atau bahan ajar, yaitu: Susun materi sesuai dengan urutan tujuan atau kompetensi yang akan 12 Abdul Majid. Perencanaan Pembelajaran. , hal. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Harus memenuhi prinsip kontunyuitas. Ada hubungan fungsional antara materi satu dengan materi yang lainnya. Sistematis, artinya disusun menurut suatu alur tertentu. Pola susunan materi bisa mengikuti: Dari yang mudah menuju yang susah . Dari yang sederhana menuju yang kompleks atau rumit . Dari khusus menuju yang umum . Dari yang umum menuju yang khusus . Harus bisa dijelaskan dengan jelas, sehingga bisa diproyeksi untuk mencapai tujuan. Sedangkan prinsip pengembangan bahan ajar sebagai berikut di bawah . Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang . Pengulangan . Umpan balik positif akan memberikan penguatan pemahaman siswa. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar. Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong peserta didik untuk terus mencapai tujuan. Prinsip relevansi atau keterkaitan atau berhubungan erat, maksudnya adalah materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan oleh menghafalkan fakta, materi yang disajikan adalah fakta. Kalau kompetensi dasar meminta kemampuan melakukan sesuatu, materi pelajarannya adalah prosedur atau cara melakukan sesuatu. Prinsip konsistensi adalah ketaatazasan dalam penyusunan bahan ajar. Misalnya kompetensi dasar meminta kemampuan siswa untuk menguasai tiga macam konsep, materi yang disajikan juga tiga macam. Umpamanya kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa adalah menyusun paragraf deduktif, materinya sekurang-kurangnya pengertian paragraf deduktif, cara 13 Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik. , hal. Asfahani | Model Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan . menyusun paragraf deduktif, dan cara merevisi paragraf deduktif. Artinya, apa yang diminta itulah yang diberikan. Prinsip kecukupan, artinya materi yang disajikan hendaknya cukup memadai untuk mencapai kompetensi dasar. Materi tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak. Jika materi terlalu sedikit, kemungkinan siswa tidak akan dapat mencapai kompetensi dasar dengan memanfaatkan materi tersebut, begitu juga sebaliknya. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat dari Zumrotul Mukaffa bahwa ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengembangan bahan ajar, yaitu: prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Prinsip relevansi artinya Bahan pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi Beberapa Prosedur dalam Penyusunan Bahan Ajar Prosedur itu meliputi: . memahami standar isi dan standar kompetensi lulusan, silabus, program semeter, dan rencana pelaksanaan . mengidentifikasi jenis materi pembelajaran berdasarkan pemahaman terhadap poin/1. melakuan pemetaan materi. menetapkan bentuk penyajian. menyusun struktur . membaca buku sumber. bahan ajar. bahan ajar. mengujicobakan bahan ajar. merevisi dan menulis akhir . Bahan belajar dapat disusun dengan beberapa patokan sebagai berikut:15 . Bahan belajar disusun sedemikian rupa, dimulai dari bahan belajar yang sederhana kemudian meningkat kepada bahan belajar yang lebih beragam . Bahan belajar dirumuskan berdasarkan pengalaman belajar yang telah dimiliki oleh peserta didik. Dengan kata lain, bahan belajar itu berangkat dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang telah dimiliki peserta didik. Bahan belajar disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan peserta didik dapat mempelajarinya dimulai dari keseluruhan, kemudian sampai pada bagian-bagiannya. 14 Zumrotul Mukaffa. Micro Teaching (Surabaya: Kopertais IV, 2. , hal. 15 Sudjana S. dan Djudju. Strategi Pembelajaran (Bandung: Falah Production, 2. , hal. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 . Bahan belajar disusun secara berurutan yang memungkinkan peserta didik dapat melakukan kegiatan belajar melalui langkah-langkah yang berupa yang berurutan pula. Menurut John Dewey dalam bukunya Nana Syaodih Sukmadinata. AuPengembangan Kurikulum Teori dan PraktekAy disebutkan bahwa dalam penyusunan bahan ajar hendaknya memperhatikan syarat-syarat sebagai . Bahan ajar hendaknya konkret, dipilih yang betul-betul berguna dan dibutuhkan, dipersiapkan secara sistematis dan mendetail. Pengetahuan yang telah diperoleh sebagai hasil dari belajar, hendaknya ditempatkan dalam kedudukan yang berarti, yang memungkinkan dilaksanakannya kegiatan baru, dan kegiatan yang lebih menyeluruh. Bahan ajar harus dirancang dan disusun sedemikian rupa dengan memperhatikan jenis, ruang lingkup, urutan dan perlakuannya, dan harus diajarkan juga dipelajari siswa sebagai sarana mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian hasil belajar. Alur analisis penyusunan bahan ajar sebagai berikut:17 Standar Kompetensi BAHAN AJAR Kompetensi Dasar Indikator Pengalaman Belajar Materi Pokok Langkah-langkah pengembangan bahan ajar Kegiatan belajar mengajar perlu diciptakan yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan potensi secara optimal. Kegiatan pembelajaran untuk siswa berkemampuan sedang tentu berbeda dengan siswa yang berkemampuan pandai. Untuk itu penggunaan bahan ajar yang mudah dipahami dan didukung variasi strategi pembelajaran sangat ditekankan agar perbedaan kecenderungan yang ada pada siswa dapat diakomodasi. Selain itu kegiatan pembelajaran mestinya dirancang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, namun yang dapat dilakukan di luar kelas. Sebab 16 Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum. , hal. 17 Abdul Madjid dan Dian Andayani. Pendidikan Agama Islam berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2. (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2. , hal. Asfahani | Model Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan . kegiatan belajar yang hanya di kelas boleh jadi hanya dapat mengoptimalkan potensi siswa tertentu dan tidak bagi siswa yang lain. Bagi siswa yang berkemampuan tinggi misalnya, tidak cukup hanya menerima materi pelajaran di kelas. Untuk itu mereka perlu diberi kesempatan mengembangkan materi melalui penugasan atau modul untuk memperkaya bahan ajar yang selalu berkembang. Sebaliknya bagi siswa yang berkemampuan di bawah rata-rata perlu ada perlakuan khusus agar tidak ketinggalan siswa yang lain. Karena itu perlu ada kegiatan remediasi yang memungkinkan mereka mengejar ketertingalan dari siswa yang lain. Proses kegiatan belajar mengajar harus menekankan pada pengembangan kompetensi setiap individu, guru mempunyai wewenang dalam meningkatkan proses pembelajaran jadi sebelum melaksanakan proses pembelajaran maka guru berkewajiban membuat, menyusun, dan menyediakan materi pembelajaran . nstructional material. , materi atau bahan ajar merupakan salah satu komponen dalam sistem pembelajaran yang memegang peranan penting dalam membantu siswa untuk mencapai indikator-indikator yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar. Bahan pengajaran merupakan bagian yang penting dalam proses belajar mengajar, yang menempati kedudukan yang menentukan keberhasilan belajar mengajar, yang berkaitan ketercapaian tujuan pengajaran, serta menentukan kegiatan-kegiatan belajar mengajar. Karena itu, perencanaan bahan pengajaran perlu mendapat pertimbangan secara cermat. Bahan pengajaran bukan semata-mata berarti semua uraian yang tertera dalam buku sumber atau sumber tercetak lainnya, melainkan memiliki klasifikasi tertentu. Berdasarkan klasifikasi itulah, kemudian guru memilih bahan yang mana yang akan disajikan dalam perencanaan untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah dirumuskan sebelumnya. Sebagai kerangka acuan, bahan pengajaran umumnya diklasifikasikan dalam tiga bidang, yakni: pengetahuan, ketrampilan, dan afektif. Hal ini sesuai dengan tujuan-tujuan yang hendak Sebelum melaksanakan pemilihan bahan ajar, terlebih dahulu perlu diketahui kriteria pemilihan bahan ajar. Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini berarti bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh 18 Sutrisno. Revolusi Pendidikan di Indonesia (Membedah Metode & Teknik Pendidikan berbasis Kompetens. (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , hal. 19 Mimin Haryati. Model dan Tehnik Penilaian pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Jakarta: Gaung Persada Press, 2. , hal. 20 Oemar Hamalik. Perencanaan Pengajaran berdasarkan Pendekatan Sistem (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , hal. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 guru disatu pihak dan harus dipelajari siswa dilain pihak hendaknya berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan kata lain, pemilihan bahan ajar haruslah mengacu atau merujuk pada standar kompetensi. Menurut S. Nasution bahwa bahan ajar atau materi pelajaran yang harus diajarkan merupakan suatu masalah yang makin lama makin bertambah sulit. Sebabnya pertama, bahan pelajaran cepat bertambah luas karena ekplosi ilmu pengetahuan, tak ada lagi manusia yang menguasai seluruh ilmu pengetahuan, maka dari itu perlu diadakan pemilihan tentang apa yang perlu diajarkan. Kedua, belum ada kriteria yang pasti tentang bahan apa yang perlu diajarkan juga belum ada cara tentang mengorganisasi kurikulum yang dapat diterima oleh semua. Ketiga, mata pelajaran tradisional tidak lagi memadai. Timbul pula tujuan-tujuan yang baru dianggap perlu dimasukkan dalam kurikulum sehingga memberatkan beban belajar siswa. Setelah diketahui kriteria pemilihan bahan ajar, sampailah kita pada langkah-langkah pemilihan bahan ajar. Secara garis besar langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi pertama-tama mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan ajar. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar. Langkah ketiga memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah teridentifikasi tadi. Terakhir adalah memilih sumber bahan Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi apakah termasuk jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan lebih daripada satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan diajarkan, maka guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya. Setelah jenis materi pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memilih jenis materi tersebut yang sesuai dengan standar kompetensi atau kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Identifikasi jenis materi pembelajaran juga penting untuk keperluan mengajarkannya. Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan sistem evaluasi/penilaian yang berbeda-beda. Misalnya metode mengajarkan materi fakta atau hafalan adalah dengan menggunakan Aujembatan keledaiAy. Aujembatan ingatanAy . , sedangkan metode untuk mengajarkan prosedur adalah AudemonstrasiAy. Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang akan diajarkan adalah dengan jalan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Dengan mengacu pada 21 S. Nasution. Asas-Asas Kurikulum (Jakarta: Bumi Aksara, 1. , hal. Asfahani | Model Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan . kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus kita ajarkan berupa fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau Materi pelajaran . ubject matte. harus dibedakan dari isi . dalam tujuan instruksional khusus. Materi pelajaran adalah sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan instruksional. bersama dengan prosedur didaktis dan media pengajaran, materi pelajaran membawa siswa ke tujuan instruksional, yang mempunyai aspek jenis perilaku dan aspek isi. Materi pelajaran dapat berupa macam-macam bahan, seperti suatu naskah, persoalan, gambar, isi audiocassette, isi videocassette, peparat , topik perundingan dengan para siswa, jawaban dari siswa dan lain sebagainya. Materi pelajaran adalah bahan yang digunakan untuk belajar dan yang membantu untuk mencapai tujuan instruksional, di mana siswa harus melakukan sesuatu menurut jenis perilaku tertentu. Jadi materi pelajaran bersifat lebih luas dari pada aspek isi dalam tujuan instruksional khusus. Karena materi pelajaran mengilustrasikan, menggariskan situasi dan kondisi, menyajikan contoh-contoh dan lain Selain itu materi pelajaran dapat membangkitkan motivasi belajar siswa dan mengaktifkan siswa, lebih-lebih bila para siswa mengerjakan suatu tugas yang menyangkut materi pelajaran itu. Apa yang perlu diajarkan/bahan pelajaran, apakah yang dapat mendukung siswa dapat mencapainya? Pengalaman belajar siswa harus mengandung isi bahan pelajaran. Isi bahan pelajaran seharusnya erat berkaitan dengan tujuan belajar untuk mencapai kebutuhan siswa. Apa makna isi bahan pelajaran rencana instruksional? Isi bahan ialah selektif dan organisasi pengetahuan tertentu . eperti fakta dan informas. , keterampilan tertentu, . eperti prosedur selangkah demi selangka. , kondisi dan persyarata. dan faktor sikap setiap pokok bahasan. 23 Supaya anak menjadi dewasa ditetapkan isi/materi pendidikan yang relevan. Isi pendidikan adalah segala yang diberikan kepada peserta didik untuk keperluan pertumbuhan isi pendidikan berbeda dengan isi pengajaran. Isi pendidikan berupa . nilai, . pengetahuan, . Sedangkan isi pengajaran adalah . pengetahuan, . Hal ini berkaitan dengan mendidik, yakni transfer nilai, pengetahuan, dan ketrampilan kepada peserta didik, dan jika mengajar berarti transfer pengetahuan dan 22 WS. Winkel SJ. Psikologi Pengajaran (Yogyakarta: Media Abadi, 2. , hal. 23 Tresna Sastrawijaya. Pengembangan Program Pengajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 1. , hal. 24 Dwi Siswoyo, dkk. Ilmu Pendidikan (Yogyakarta: UNY Press, 2. , hal. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Sumber Bahan Ajar Sumber bahan ajar merupakan tempat di mana bahan ajar dapat Dalam mencari sumber bahan ajar, siswa dapat dilibatkan untuk Misalnya, siswa ditugasi untuk mencari koran, majalah, hasil penelitian, dsb. Hal ini sesuai dengan prinsip pembelajaran siswa aktif (CBSA). Berbagai sumber dapat kita gunakan untuk mendapatkan pembelajaran dari setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sumbersumber yang dimaksud dapat disebutkan di bawah ini: Buku teks Buku teks yang diterbitkan oleh berbagai penerbit dapat dipilih untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Buku teks yang digunakan sebagai sumber bahan ajar untuk suatu jenis matapelajaran tidak harus hanya satu jenis, apa lagi hanya berasal dari satu pengarang atau penerbit. Gunakan sebanyak mungkin buku teks agar dapat diperoleh wawasan yang luas. Laporan hasil penelitian Laporan hasil penelitian yang diterbitkan oleh lembaga penelitian atau oleh para peneliti sangat berguna untuk mendapatkan sumber bahan ajar yang atual atau mutakhir. Jurnal . enerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmia. Penerbitan berkala yang berisikan hasil penelitian atau hasil pemikiran sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Jurnal-jurnal tersebut berisikan berbagai hasil penelitian dan pendapat dari para ahli di bidangnya masing-masing yang telah dikaji kebenarannya. Pakar bidang studi Pakar atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber bahan ajar. Pakar tadi dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran materi atau bahan ajar, ruang lingkup, kedalaman, urutan, dsb. Profesional Kalangan professional adalah orang-orang yang bekerja pada bidang tertentu. Kalangan perbankan misalnya tentu ahli di bidang ekonomi dan keuangan. Sehubungan dengan itu bahan ajar yang berkenaan dengan eknomi dan keuangan dapat ditanyakan pada orang-orang yang bekerja di perbankan. Buku kurikulum Buku kurikulum penting untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Karena berdasar kurikulum itulah standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi bahan dapat ditemukan. Hanya saja materi yang tercantum dalam kurikulum Asfahani | Model Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan . hanya berisikan pokok-pokok materi. Gurulah yang harus menjabarkan materi pokok menjadi bahan ajar yang terperinci. Penerbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan. Penerbitan berkala seperti koran banyak berisikan informasi yang berkenaan dengan bahan ajar suatu mata pelajaran. Penyajian dalam koran-koran harian atau mingguan menggunakan bahasa popular yang mudah dipahami. Karena itu baik sekali apabila penerbitan tersebut digunakan sebagai sumber bahan Internet Bahan ajar dapat pula diperoleh melalui jaringan internet. Diinternet kita dapat memperoleh segala macam sumber bahan ajar. Bahkan satuan pelajaran harian untuk berbagai mata pelajaran dapat kita peroleh melalui Bahan tersebut dapat dicetak atau dicopi. Media audiovisual (TV. Video. VCD, kaset audi. Berbagai jenis media audiovisual berisikan pula bahan ajar untuk berbagai jenis mata pelajaran. Kita dapat mempelajari gunung berapi, kehidupan di laut, di hutan belantara melalui siaran televisi. Lingkungan . lam, sosial, seni budaya, teknik, industri, ekonom. Berbagai lingkungan seperti lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan seni budaya, teknik, industri, dan lingkungan ekonomi dapat digunakan sebagai sumber bahan ajar. Untuk mempelajari abrasi atau penggerusan pantai, jenis pasir, gelombang pasang misalnya kita dapat menggunakan lingkungan alam berupa pantai sebagai sumber. Perlu diingat, dalam menyusun rencana pembelajaran berbasis kompetensi, buku-buku atau terbitan tersebut hanya merupakan bahan Artinya, tidaklah tepat jika hanya menggantungkan pada buku teks sebagai satu-satunya sumber bahan ajar. Tidak tepat pula tindakan mengganti buku pelajaran pada setiap pergantian semester atau pergantian tahun. Bukubuku pelajaran atau buku teks yang ada perlu dipelajari untuk dipilih dan digunakan sebagai sumber yang relevan dengan materi yang telah dipilih untuk diajarkan. Mengajar bukanlah menyelesaikan satu buku, tetapi membantu siswa mencapai kompetensi. Karena itu, hendaknya guru menggunakan banyak sumber materi. Bagi guru, sumber utama untuk mendapatkan materi pembelajaran adalah buku teks dan buku penunjang yang lain. 25 Direktorat Sekolah Menengah Pertama Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar (Jakarta, tp, 2. , hal. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Secara etimologis. Aqidah berarti kepercayaan atau keyakinan yang benar-benar menetap dan melekat di hati manusia. 26 Sedangkan secara terminologis berarti keyakinan hidup dalam arti khas, yakni pengikraran yang bertolak dari hati. 27 Dengan demikian. Aqidah berarti urusan yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, menenteramkan jiwa, dan menjadi keyakinan yang tidak bercampur dengan keraguan. Adapun pengertian Akhlak secara bahasa berarti budi pekerti, perangai, dan tingkah laku atau tabiat. 28 Sedangkan untuk pengertian Akhlak secara istilah, para ulama telah banyak mendefinisikannya, di antaranya: Menurut Ibn Maskawaih. Akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan. Selanjutnya, menurut Imam al-Ghazali. Akhlak adalah gambaran tingkah laku dalam jiwa yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dari beberapa pengertian di atas, dapat dipahami bahwa Akhlak adalah tabiat atau sifat seseorang, yakni keadaan jiwa yang terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan tanpa diangan-angan lagi. Sedangkan Aqidah Akhlak merupakan keyakinan hati seseorang yang melekat erat sehingga mantab dalam melakukan sesuatu dengan mudah tanpa pemikiran dulu. Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah adalah salah satu mata pelajaran PAI yang merupakan peningkatan dari Aqidah Akhlak yang telah dipelajari oleh peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar. Peningkatan tersebut dilakukan dengan cara mempelajari tentang rukun iman mulai dari iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasulrasul-Nya, hari akhir, sampai iman kepada qadaAo dan qodar yang dibuktikan dengan dalil-dalil naqli dan aqli, serta pemahaman dan penghayatan terhadap al-asma al-husna dengan menunjukkan ciri-ciri/tanda-tanda perilaku seseorang dalam realitas kehidupan individu dan sosial serta pengamalan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Secara substansial mata pelajaran Aqidah Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempelajari dan 26 Muhaimin. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Surabaya: Pustaka Pelajar, 2. , hal. 27 Muhammad Alim. Pendidikan Agama Islam: Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian Muslim (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , hal. 28 Musytofa. Akhlak Tasawuf (Bandung: Pustaka Setia, 1. , hal. 29 Muhammad Alim. Pendidikan Agama Islam:. , hal. 30 Departemen Agama. Kurikulum berbasis Kompetensi: Kurikulum dan Hasil Belajar Akidah Akhlak Madrasah Aliyah (Jakarta: tp, 2. , hal. Asfahani | Model Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan . mempraktikkan aqidahnya dalam bentuk pembiasaan untuk melakukan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Al-akhlak al-karimah ini sangat penting untuk dipraktikkan dan dibiasakan oleh peserta didik dalam kehidupan individu, bermasyarakat, dan berbangsa, terutama dalam rangka mengantisipasi dampak negative dari era globalisasi dan krisis multidimensional yang melanda bangsa dan negara Indonesia. Mata pelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah bertujuan . Menumbuhkembangkan Aqidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengamalan peserta didik tentang Aqidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimananan dan ketakwaannya kepada Allah Swt. Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan individu maupun social, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai Aqidah Islam. Ruang lingkup Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah meliputi: Aspek aqidah terdiri atas dasar dan tujuan Aqidah Islam, sifat-sifat Allah, rasul-rasul Allah, hari akhir serta qadaAo dan qodar Allah. Aspek akhlak terpuji yang terdiri atas ber-tauhid, ikhlas, taAoat, khanf, taubat, tawakkal, ikhtiyar, sabar, jujur, qonaAoah, tawadhuAo, husnudhon, tasamuh, dan taAoawun, berilmu, kreatif, produktif, dan pergaulan remaja. Aspek akhlak tercela meliputi kufur, syirik, riya, nifaq, ananiyah, putus asa, ghadlab, tamak, takabur, hasad, dendam, ghibah, dan namimah. Model pengembangan yang diterapkan oleh MTsN Ponorogo ini berupa modul tiap mata pelajaran. Modul bahan ajar Aqidah Akhlak juga terkandung rencana pelaksanaan pembelajaran(RPP), power point/slide, dan praktek, serta tugas. Tahapan penyusunan bahan ajarnya melalui workshop pengembangan bahan ajar dengan merumuskan kurikulum yang dinamakan kurikulum differensiasi. Dari kurikulum differensiasi materi dipilih-pilih lagi menjadi kurikulum ekstalasi kemudian baru membuat RPP, kemudian workshop lagi yakni workshop modul dengan lima sampai enam kali workshop, setelah itu membuat modul bahan ajar. Hal ini seperti yang 31 Direktorat Pendidikan Madrasah. Peraturan Menteri Agama RI Nomor 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah (Surabaya: 2. , hal 75. 32 Ibid,. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 disampaikan oleh Bapak Imron Rosyidi. MA selaku Waka kurikulum. Sedangkan sumber dana dalam penyelenggaraan modul bahan ajar ini yaitu dari Kanwil Kemenag Pusat karena dalam penyusunan ini dilaksanakan secara team seluruh Jawa Timur. Model pengembangan materi bahan ajar Aqidah Akhlak di kelas akselerasi MTsN Ponorogo juga diperhatikan oleh pihak sekolah. Hal ini terbukti dengan pembentukan team guru penyusun dan pengembang bahan ajar, membuat hand out materi secara subyektif guru. Sebagaimana yang diungkapkan oleh bapak Tafakur Rahman, selaku salah satu guru Aqidah Akhlak: Pengembangan bahan ajar Aqidah Akhlak bagi kelas akselerasi dengan membentuk team penyusun dan pengembang bahan ajar Aqidah Akhlak, kami juga membuat hand out materi dalam penyampaian materi agar lebih mudah dipelajari dan dipahami anak, namun dalam penyusunannya terkadang berasal dari pemikiran subyektif guru vak yang disertai dengan contohcontoh dan penerapannya. Dengan adanya pembentukan team penyusun dan pengembang bahan ajar Aqidah Akhlak pihak sekolah bisa terbantu dalam penyampaian materi agar lebih cepat dipahami peserta didik. Terutama para pengajar, mereka akan merasakan lebih mudah dalam penyampaian materinya juga peserta didik akan menerima materi yang disampaikan dengan cepat menangkapnya. Bahan ajar yang dibuat juga berdasarkan rujukan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditentukan. MTsN Ponorogo juga selalu mengikuti perkembangan bahan ajar dengan mengikuti berbagai pelatihan, diklat, workshop, dan lain sebagainya baik yang diadakan oleh kabupaten, departemen agama, universitas, maupun lembaga instansi lainnya. Hal ini diperkuat oleh pernyataan beliau bapak Masyhudi,S. Ag sebagai berikut: Kami terus mengikuti perkembangan materi dalam penyusunan bahan ajar Aqidah Akhlak, pernah juga mengikuti workshop perwakilan Depag seperti workshop LATIBAN yang di situ kami mengulas dan membahas tuntas kurikulum, kami juga bekerja sama dengan beberapa universitas seperti UMM. STAIN dan Universitas lainnya. 33 Wawancara dengan Bapak Imron Rosyidi. MA selaku Waka kurikulum MTsN Ponorogo. Wawancara dengan bapak Tafakur Rahman, selaku salah satu guru Aqidah Akhlak MTsN Ponorogo. 35 Ibid. 36 Wawancara dengan bapak Masyhudi,S. Ag. selaku salah satu guru Aqidah Akhlak MTsN Ponorogo. Asfahani | Model Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan . MTsN Ponorogo juga bekerjasama dengan beberapa universitas untuk meningkatkan kemajuan sekolah dan menjalin silaturahim yang baik supaya mendapat dukungan lebih kuat lagi. Hal ini terlihat pada waktu seleksi penerimaan siswa baru, untuk mengetahui otak anak di atas rata-rata, maka harus menggunakan tes psikologi yang ditangani langsung dari pihak kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Setiap kali kampus UMM mengadakan suatu diklat/pelatihan guru, mereka juga mengundang para guru MTsN Ponorogo untuk datang dan ikut berpartisipasi dalam pelatihan guru Sehingga tercipta satu kerjasama yang cukup bagus di antara kedua lembaga itu. Tanpa usaha dan kreatifitas guru, maka guru akan terlihat kurang profesional sebagai tenaga pendidik yang membawa peserta didik dari yang tidak tahu sesuatu menjadi tahu sesuatu. Dalam pembelajarannya para guru di sini membuat suatu modul yang berisi ringkasan materi secara luas, yang dijabarkan secara detail dan praktis dalam satu modul pembelajaran. Modul yang dibuat di MTsN Ponorogo ini mengacu pada modul yang dibuat di Mojokerto, dengan penekanan pada pembiasaan dan penerapan praktek dalam kehidupan sehari-hari. sebagaimana disampaikan oleh Bapak Tafakur Rahman,S. Ag selaku guru Aqidah Akhlak juga, beliau mengemukakan sebagai Pengembangan bahan ajar Aqidah Akhlak di MTsN Ponorogo lebih kami tonjolkan dan kami tekankan pada penerapan dalam kegiatan seharihari di sekolah dan di rumah, pemberian tugas di rumah. Kami juga menyusun modul pembelajaran dalam penyampaian materi bagi kelas Modul kami merujuk pada pembentukan modul di Mojokerto pada saat itu, program pembiasaan lebih ditekankan. Para guru MTsN Ponorogo juga memiliki kreatifitas sendiri dalam mengembangkan bahan ajar dengan jalan mengajak peserta didik untuk mencari ilmu, pengalaman, dan hikmah dibalik sebuah kegiatan, jadi anak merasakan sendiri pengalaman itu di lapangan nyata, misalnya dalam memperingati PHBI yang selalu dilaksanakan secara rutin. Dalam penyampaian materi juga dengan pemanfaatan teknologi agar lebih efisen, sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Masyhudi sendiri, yakni: Kami guru Aqidah Akhlak MTsN Ponorogo mengambil fakta di lapangan kemudian mengolahnya dan mengambil langkah baru setelahnya. Kami juga menggunakan strategi integrated, jadi anak diajak terjun di lapangan mengambil pelajaran dari pengalaman misalnya, kegiatan Anak-anak diajak untuk mencari hikmah dibalik kegiatan 37 Wawancara dengan bapak Tafakur Rahman. Ag. selaku salah satu guru Aqidah Akhlak MTsN Ponorogo. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Selain itu juga dalam penyampaian hand out materi, kami juga memanfaatkan teknologi yaitu menggunakan media visualisasi/audio visual dan power point yang berupa slide sehingga diharapkan lebih cepat dipahami, efektif, juga efisien waktu. Kegiatan pembelajaran tidak harus di dalam kelas saja namun juga bagus diajak langsung belajar dari praktek sendiri di lapangan. Selain anak tidak mudah bosan juga anak akan lebih berkesan dan memiliki pengalaman sendiri di alam nyata. Sebagai contoh nyata pada waktu madrasah mengadakan suatu kegiatan keagamaan misalnya pada hari raya Idul Adha, maka peserta didik langsung praktek menyembelih hewan qurban, menguliti, membagi, dan mengambil kulit juga dagingnya. Semua itu dilakukan sendiri oleh peserta didik tentunya dengan bimbingan guru. Dari kegiatan-kegiatan seperti itu peserta didik disuruh menulis mengambil hikmah pelajaran dan pengalaman berharga yang nantinya kelak bisa digunakan dimasyarakat. Kegiatan ini rutin dilakukan oleh beberapa peserta didik . atu/dua kela. dari sebagian besar peserta didik di MTsN Ponorogo. Secara umum, model pengembangan bahan ajar Aqidah Akhlak di MTsN Ponorogo sebenarnya masih kurang tersentuh, namun para guru PAI kelas akselerasi tetap berusaha mengembangkannya dengan mengikuti diklat, workshop pengembangan bahan ajar. MGMP, membuat ringkasan dan hand out materi Aqidah Akhlak sendiri. 39 Hal ini memang dari aspek penekanan mata pelajarannya itu, lebih ditekankan agar peserta didik menerapkan isi materi Aqidah Akhlak itu dalam kehidupan sehari-hari. Para remaja setingkat SLTP ini rentan dengan perubahan gejolak jiwa dan pengaruh-pengaruh negatif dalam proses pencarian jati diri. Model pengembangan bahan ajar itu dengan melihat secara luas dari segi bahan acuannya, ada prosedur pemilihan materi, pengidentifikasian jenis-jenis materi, memilih materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar, berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai. Ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengembangan bahan ajar, yaitu: rinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Prinsip relevansi artinya Bahan pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi 40 Prinsip-prinsip itu akan dijadikan pedoman dalam pembuatan bahan ajar agar terarah dan sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dicapai bersama. Wawancara dengan bapak Masyhudi. Ag. selaku salah satu guru Aqidah Akhlak MTsN Ponorogo. 39 Wawancara dengan bapak Tafakur Rahman. Ag. selaku salah satu guru Aqidah Akhlak MTsN Ponorogo. 40 Zumrotul Mukaffa. Micro Teaching (Surabaya: Kopertais IV, 2. , hal. Asfahani | Model Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan . Bahan ajar harus dirancang dan disusun sedemikian rupa dengan memperhatikan jenis, ruang lingkup, urutan dan perlakuannya, dan harus diajarkan juga dipelajari siswa sebagai sarana mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian hasil belajar. Kalau kita menengok pendapatnya Zumrotul Mukaffa, dalam bukunya AuMicro TeachingAy menyebutkan bahwasanya pengembangan bahan ajar merupakan upaya penyusunan bahan ajar baik yang berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis oleh guru untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di kelas. 41 Berarti dalam pengembangan bahan ajar seorang guru harus menyusun bahan ajar baik secara tertulis maupun tidak tertulis. Para guru Aqidah Akhlak di MTsN Ponorogo juga membuat slide/power point untuk mempermudah penyampaian presentasi materi yang diajarkan. Para guru juga memberikan tugas kepada siswa untuk membuat drama sesuai topic pembahasan materi pada hari itu. Selain memberikan penugasan di rumah setiap kali pertemuan, para guru juga memberikan tugas individu dengan mencarinya di internet. Ada beberapa alur penyusunan bahan ajar yaitu menentukan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi pokok, dan pengalaman 42 Para guru sebelum menyusun bahan ajar terlebih dahulu untuk menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar sebagai batu pijakan dalam menyusun bahan ajar. Karena materi pembelajaran . nstructional material. merupakan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Jadi dalam pengembangan bahan ajar di kelas akselerasi MTsN Ponorogo para guru di sini mengembangkannya dengan mengikuti diklat, workshop pengembangan bahan ajar. MGMP, membuat ringkasan dan hand out materi Aqidah Akhlak sendiri yang dinamakan dengan modul. Selain itu juga para guru memiliki modul rujukan pembuatan bahan ajar yang pada waktu itu mengikut pada modul dari Mojokerto. Sehingga diharapkan dengan mengikuti berbagai pelatihan bahan ajar akan memperkaya guru untuk lebih kreatif dalam mengembangkan bahan ajar menjadi lebih baik lagi dengan berbagai variasi. Guru sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar, memiliki posisi yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru adalah merancang, mengelola, melaksanakan. Untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman siswa terhadap 41 Zumrotul Mukaffa dan Eni Purwati. Micro Teaching, (Surabaya: Kopertais IV press, 2. , hal. 42 Abdul Madjid dan Dian Andayani. Pendidikan Agama Islam berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2. (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2. , hal. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 suatu materi maka sebagai seorang guru yang profesional mengadakan evaluasi sebagai tolak ukur. Untuk itu seorang guru harus banyak memiliki kreatifitas dalam mengembangkan bahan ajar Aqidah Akhlak agar pelajaran itu bisa lebih mudah dicerna dan mudah ditangkap juga dipahami anak dalam proses kegiatan belajar mengajar. Kegiatan pembelajaran akan lebih aktif juga didukung oleh materi yang disampaikan guru itu jelas dan mudah dipahami anak didik. Dengan pembuatan hand out materi yang dibuat sendiri sangat diharapkan materi akan semakin bermakna dan berbobot tinggi yang akan sangat membantu dalam penyampaian materi secara lebih efektif juga efisien. Tanpa bahan pelajaran, proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikan pada anak didik. 43 Hand out materi akan mempermudah guru dalam menyampaikan materi yang banyak sehingga teringkas dalam hand out tersebut secara menyeluruh. Materi yang padat itu akan lebih baik jika seorang guru memiliki bahan ajar yang berupa hand out materi yang berasal dari pemikiran dan rangkuman guru Aqidah Akhlak itu Terkadang banyak guru yang belum sampai tuntas materinya tetapi waktunya tidak cukup sampai semester tiba, akhirnya tidak selesai karena alokasi waktu yang diberikan memang sedikit. Sebagaimana para guru terutama yang mengajar mata pelajaran pendidikan agama Islam, alokasi waktu yang diberikan oleh sekolah/madrasah sangat sedikit. Oleh sebab itu penting seorang guru tahu, kreatif membuat hand out materi/modul, dan faham dengan bahan ajar Aqidah Akhlak yang akan Sebagaimana kita tahu dari data di lapangan bahwasanya para guru PAI kelas akselerasi MTsN Ponorogo juga berusaha untuk kreatif membuat hand out materi/modul pembelajaran baik dari ringkasannya sendiri, membuat slide/power point, yang bisa ditampilkan melalui OHP karena sebagaian kelasnya juga sudah ada LCD proyektor,44 sehingga mempermudah dan mendukung guru untuk selalu kreatif dalam penyampaian Jadi bisa kita ambil kesimpulan bahwasanya di MTsN Ponorogo ini para gurunya sudah tergolong kreatif dengan berbagai teknik menyampaikan materi ajar kepada peserta didik. Dengan dukungan fasilitas yang cukup memadai karena sudah berbasis teknologi dalam penyampaian materi di Para guru di sini juga dituntut untuk belajar dan kreatif lagi dalam penyampaian materi ajar Aqidah Akhlak karena memang siswa-siswi kelas 43 Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1. , hal. 44 Wawancara dengan bapak Masyhudi. Ag. selaku salah satu guru Aqidah Akhlak MTsN Ponorogo. Asfahani | Model Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Akhlak (Studi Kasus di Kelas Reguler dan . akselerasi MTsN Ponorogo memiliki kecerdasan otak di atas rata-rata. Mereka yang memiliki otak di atas rata-rata, sangat kritis, antusias, dan aktif di kelas khusus sehingga seorang guru yang akan mengajar di kelas khusus itu, ada tuntutan untuk lebih kreatif dan memiliki wawasan yang lebih tinggi dari pada peserta didiknya. Penutup Secara umum, model pengembangan bahan ajar Aqidah Akhlak di MTsN Ponorogo sebenarnya masih kurang tersentuh. Hal ini memang dari aspek penekanan mata pelajarannya itu, lebih ditekankan agar peserta didik menerapkan isi materi Aqidah Akhlak itu dalam kehidupan sehari-hari. Model pengembangan bahan ajar Aqidah Akhlak di kelas akselerasi MTsN Ponorogo dengan menggunakan modul Aqidah Akhlak. Modul itu disusun dan dikembangkan para guru dengan mengikuti diklat, workshop pengembangan bahan ajar. MGMP, membuat ringkasan dan hand out materi Aqidah Akhlak sendiri khususnya bagi kelas akselerasi. Para guru MTsN Ponorogo sudah tergolong kreatif dengan berbagai metode dan teknik menyampaikan materi ajar dan hand out . materi kepada peserta didik. Dengan dukungan fasilitas yang cukup memadai karena sudah berbasis teknologi dalam penyampaian materi di kelas khususnya pada kelas akselerasi yang mana siswa siswinya memiliki kecerdasan diatas ratarata sehingga menjadi tuntutan sendiri bagi guru-gurunya. Daftar Pustaka