Volume 14 Nomor 1 . ISSN (P): 2087-4820 ISSN (E): 2579-8995 DOI: https://doi. org/10. 54180/elbanat. TRANSFORMASI PERAN PESANTREN SEBAGAI AGEN SOSIAL-RELIGIUS: Pertautan Tradisi dan Modernitas dalam Pemberdayaan Masyarakat di Madura Abdullah1, lailatul Mundiro Muawwaroh2 1 STAI YPBWI Surabaya, 2 UIN Sunan Ampel Surabaya ABSTRAK Penelitian ini mengkaji peran ganda pesantren sebagai lembaga keagamaan dan sosial dalam masyarakat. Untuk menjaga relevansinya, pesantren perlu mempertahankan tradisi yang berharga sambil mengintegrasikan metode, evaluasi, dan sumber daya yang modern. Penelitian kuaitatif ini membahas kerangka Pendidikan Sosial Keagamaan, dengan menekankan pentingnya membentuk individu yang memiliki kesadaran sosial yang kuat dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Melalui program pengembangan masyarakat pesantren. Pendidikan Sosial Keagamaan memberikan kontribusi signifikan terhadap pemberdayaan umat. Programprogram ini menggunakan pendekatan persuasif, edukatif, partisipatif, dan normatif dalam pengembangan Temuan penelitian menunjukkan bahwa inisiatif pengembangan masyarakat pesantren tidak mengikuti paradigma pertumbuhan ekonomi konvensional, melainkan lebih menekankan pendekatan partisipatif yang sejalan dengan nilai-nilai kemandirian. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan pemikiran pendidikan Islam, khususnya terkait peran pesantren dalam masyarakat, bangsa, dan negara. Kata Kunci: Pendidikan Sosial Keagamaan. Pesantren. Pengembangan Masyarakat. Madura. ABSTRACT This study examines the dual role of pesantren as a religious and social institution in society. To maintain their relevance, pesantren need to maintain valuable traditions while integrating modern methods, evaluations, and resources. This quantitative research discusses the framework of Socio-Religious Education, emphasizing the importance of forming individuals who have strong social awareness and behavior in accordance with Islamic teachings. Through the pesantren community development program. Socio-Religious Education makes a significant contribution to the empowerment of the people. These programs use persuasive, educative, participatory, and normative approaches in community development. The findings of the study show that the pesantren community development initiative does not follow the conventional economic growth paradigm, but rather emphasizes a participatory approach that is in line with the values of independence. This research is expected to contribute to the development of Islamic educational thought, especially related to the role of Islamic boarding schools in society, nation, and state. Keywords: Socio-Religious Education. Pesantren. Community Development. Madura. Pendahuluan Salah satu aspek penting dari pertumbuhan dan persiapan yang dapat diberikan mengembangkan berbagai dimensi dirinya sesuai dengan harapan masyarakat. Pendidikan juga berperan dalam mengenalkan individu kepada hak-hak yang Abdillahelrahman@gmail. Jl. Wedoro PP Blok PP No. Wedoro. Kec. Waru. Kabupaten Sidoarjo. Jawa Timur 61253 Abdullah. Mundiro Lailatul Muawwaroh dianugerahkan oleh Tuhan, yang menjadi bagian dari masyarakat. 1 Perkembangan dan perubahan adalah sunnatulah yang tidak bisa dihindari oleh makhluk di dunia, khususnya Perubahan itu bisa terjadi di semua aspek kehidupan, baik aspek sosial, budaya, politik, ekonomi maupun pendidikan. Segala perubahan itu menuntut manusia agar peka dan tanggap dalam menyikapinya. Penyikapan itu didasarkan pada pemahaman bahwa perubahan di segala sektor kehidupan itu sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan politik masyarakat setempat. Sehingga, dengan demikian, yang dibutuhkan adalah sikap kritis. Arus globalisasi telah tersebar di berbagai pelosok belahan bumi ini sehingga bisa dinikmati oleh hampir seluruh penduduknya. Akan tetapi, bersamaan dengan globalisasi keadaan yang lintas batas teretorial itu, manusia dihadapkan pada tantangan-tantangan berat yang menuntut persyaratan-persyaratan tertentu sebagai bekal untuk meresponnya. Dalam hal ini Mujamil Qomar mengatakan, bahwa masyarakat harus peka, mampu membaca situasi, berpikir kritis, berwawasan luas, berkemampuan manajerial, mampu menilai, menyaring, dan sebagainya. Tantangan itu tidak hanya dihadapkan pada manusia sebagai pemeran dalam kehidupan sosial, tetapi juga dihadapkan pada agama sebagai pedoman kehidupan sehari-hari. Persoalan menghadapi realita ini. Bahkan, sampai saat inipun, penyikapan yang AumanisAy terhadap agama baru menjadi komitmen etis, dan belum menjadi komitmen moral yang bisa menempatkannya sebagai inspirasi bagi pemikiran dan gerakan sosial yang terus menerus melahirkan wacana dan trend baru. 3 Dalam konteks ini, agama bukan hanya diartikan secara parsial, akan tetapi agama yang dibentangkan luas dengan berbagai macam sajian menu AukeagamaanAy. Sajian menu tadi berkisar pada sektor pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, dan semua aspek kehidupan. Dalam hal ini. Islam sebagai agamapun dianggap mampu menjawab berbagai persoalan yang terjadi dalam dinamika Berangkat dari sinilah, bermula dari adanya perkembangan keilmuan di segala aspek kehidupan, nampaknya ranah pendidikan, terutama pendidikan Islam, yang mempunyai kompetensi cukup urgen. Urgensi ini berangkat dari asumsi bahwa pendidikan menempati posisi yang cukup menentukan dalam proses pengembangan 1Hasan Langgulung. Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al Husna Baru, 2. , 30-31. Mujamil Qomar. NU Liberal. Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam, (Bandung: Mizan, 2. ,107 3 Sahal Mahfudh. Pendekatan Pendidikan Keagamaan untuk Membangun Masyarakat Madani, 1. El Banat Vol. 14 No. Transformasi Peran Pesantren Sebagai Agen Sosial-Religius 4 Upaya untuk mampu berkompetisi di tengah persaingan adalah pemberdayaan Dan pemberdayaan itulah yang merupakan wilayah garapan pendidikan. Kalau kita melihat konteks pendidikan Indonesia, tujuan pendidikan nasional adalah: Untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Aktualisasi tujuan pendidikan nasional di atas, diharapkan terimplementasi dalam berbagai model dan bentuk pendidikan di Indonesia. Salah satu bentuk yang harus dan tetap dipertahankan dan dilaksanakan adalah pendidikan agama. Hal ini disebabkan karena pendidikan agama (Isla. merupakan usaha yang lebih khusus ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagamaan dan sumber daya insani agar mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam,7 yang mengilhami tujuan pendidikan nasional di Indonesia. Salah satu bentuk dan model pendidikan Islam di Indonesia adalah Pesantren adalah fenomena sosio-kultural yang unik. Pada dataran historis, ia merupakan sistem pendidikan tertua khas Indonesia yang. 8Eksistensi pesantren semula banyak dijauhi oleh kalangan modernis. Hal ini disebabkan karena mereka larut dalam anggapan bahwa tradisionalisme diartikan statis dan tidak berkembang. Perkembangan selanjutnya justru terbalik, karena lembaga pesantren justru eksis dan dialektis dengan situasi dan kondisi bangsa, bahkan telah menjadi sub-kultur,9 Pesantren di Indonesia telah menjadi pusat pembelajaran dan dakwah. Ia telah memainkan peran penting karena merupakan system pembelajaran dan pendidikan tertua di Indonesia. 10 Secara sosial, pesantren telah memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Indonesia. Ia menjadi sebuah media sosialisasi formal di mana keyakinan-keyakinan, norma-norma, dan nilai-nilai Islam ditransmisikan dan ditanamkan melalui pengajaran. Ia merupakan 4Abd. Rachman Assegaf. Internasionalisasi Pendidikan. Sketsa Perbandingan Pendidikan di Negara-Negara Islam dan Barat, (Yogyakarta: Gama Media, 2. Umberto Sihombing. Menuju Pendidikan Bermakna Melalui Pendidikan Berbasis Masyarakat, (Jakarta: CV. Multiguna, 2. ,16 6 UU SISDIKNAS No 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3. 7Achmadi. Islam Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 1. , 20. 8 Ismail SM, dkk . Paradigma Pendidikan Islam,. 9Abdurrahman Wahid. Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren, (Yogyakarta: LKiS, 2. , 1. Ismail SM. Signifikansi Peran Pesantren dalam pengembangan Masyarakat Madani, dalam Ismail SM-Abdul Mukti . Pendidikan. Demokratisasi dan Masyarakat Madani, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo dan Pustaka Pelajar, 2. , 171. El Banat Vol. 14 No. Abdullah. Mundiro Lailatul Muawwaroh sarana bagi pengembangan ajaran-ajaran Islam dan pemeliharaan ortodoksi. Pesantren memang hanya salah satu dari contoh tradisi kesarjanaan dan pemikiran-pemikiran tradisional tertua di Indonesia sekarang. Kehidupan di pesantren merupakan miniatur kehidupan di masyarakat. Semua aspek kehidupan saling berinteraksi di tengah-tengah kehidupan di pesantren. Di sinilah para santri menjadi terdidik oleh lingkungan itu secara intensif dan pada gilirannya para santri mampu bermasyarakat dan bahkan mengintegrasikan dirinya pada perkembangan dinamika masyarakat secara mandiri. Perlu disadari, bahwa peran aktif pesantren di tengah-tengah masyarakat ternyata mempunyai ekses yang cukup signifikan dan lebih mampu mendekatkan diri dengan problem sosial yang kompleks ini. 12 Hal ini disebabkan karena pesantren mampu bersikap santun dan terlihat ikut merasakan lilitan masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Sikap itu terbukti secara natural dan tanpa rekayasa, karena ia tidak punya niat untuk dijadikan pahlawan dalam partisipasinya menjalankan fungsi kemasyarakatan. Semua dilakukan secara ikhlas dan tanpa pamrih. Pesantren memposisikan diri sebagai penyeimbang terhadap kebijakan publik yang dilakukan oleh negara dan lembaga-lembaga di luar dirinya. Dengan demikian, pesantren berfungsi sebagai control sosial dan ikut serta mengupayakan terciptanya civil society yang kritis dan independen tanpa kooptasi negara dan bentuk-bentuk konspirasional Sejarah telah mengakui bahwa pesantren selalu menjadi pusat tumpuan masyarakat dan telah menyumbangkan nilai-nilai yang tinggi, di mana masyarakat telah memberikan kepercayaan selama ratusan tahun terhadap nilai-nilai tersebut. Pesantren dengan kiyainya sebagai tokoh masyarakat, yang mempunyai kharisma, dipandang pula sebagai titik sentral bagi para santri dan masyarakat dalam berorganisasi, masalah diniyyah dan kehidupan, dan dengan pengaruhnya yang luas serta mengakar di masyarakat, mampu membawa pembaharuan dan perubahan di masyarakat serta mampu mendinamisir masyarakat untuk berkembang. Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan adalah juga sebagai lembaga sosial yang pada dasarnya dapat berperan aktif dan berpartisipasi nyata dalam pembangunan dan pengembangan 14 Oleh karenanya pesantren perlu mencoba menciptakan kegiatan-kegiatan ekstern di luar kompleks pesantren untuk mengabdi kepada masyarakat, walaupun tentu 11Endang Turmudi. Perselingkuhan Kiai dan Kekuasaan, (Yogyakarta: LKiS, 2. , 37 Amir Mahmud. Zaini tamim. AuTransformasi Pesantren (Studi terhadap Dialektika Kurikulum dan Kelembagaan Pondok Pesantren Rifaiyah PatiAy EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, 2019, 9. 13 Marwan JaAofar, dalam pengantar KH MA Sahal Mahfudh. Pesantren Mencari Makna,. 14Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. , 192. El Banat Vol. 14 No. Transformasi Peran Pesantren Sebagai Agen Sosial-Religius saja ada keterbatasan kemampuan akibat kurangnya tenaga, kemampuan manajemen dan metode pengembangan masyarakat serta sarana-sarana lain yang dibutuhkan. Metode Penelitian Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian lapangan . ield researc. Penelitian jenis ini mempelajari interaksi antar individu, masyarakat, lembaga, dan masyarakat secara menyeluruh melalui kondisi yang terjadi. 16 Pendekatan yang digunakan Audalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Ay Penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk memahami dan mnjabarkan fenomena sosial yang tengah terjadi dalam penelitian. baik secara perilaku, persepsi, motivasi dan tindakan lainnya. 17 Data yang dibutuhkan diperoleh dari santri Pesantren Nurul Kholil Bangkalan yang akan diinteraksi langsung oleh peneliti. Dengan demikian dapat diperoleh data yang akurat karena mereka berinteraksi secara langsung dengan Proses penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive, yakni teknik pengambilan data melalui informan atas dasar pertimbangan 18 Subjek penelitian ini adalah seseorang yang dianggap paham terkait masalah yang akan diteliti sehingga mampu untuk menjelaskan dan memaparkan informasi yang lengkap sesuai dengan kebutuhan penelitian. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitaif dengan model analisis interaktif melalui skema kondenasi data, penyajian data, dan penyimpulan. Hasil dan Pembahasan Pesantren sebagai Institusi Pendidikan Term AupesantrenAy Menurut C. C Berg berasal darinistilah shastri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agamanHindu. Terkadang juga dianggap sebagaingabungan kata saint . anusia bai. dengan suku kata tra . uka menolon. , sehingga katanpesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. 19Misalnya Istilah 15 Sahal Mahfudh. Peranan Pesantren Dalam Pengembangan Masyarakat, makalah tidak diterbitkan. Disampaikan pada Temu Wicara dan Loka Karya AuPengembangan Masyarakat Pesantren Jawa TengahAy di Pesantren Darus Salam. Saripan. Jepara, pada 23 Pebruari 1986, 1. 16 AuHusaini Usma Negeri. Dkk. Metodologi Penelitian, (Jakarta. Pt. Bumi Aksara, 2. , 5. Ay AuLexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Pt Rosdakarya, 2. , 6. Ay 18 Sugiyono. R&D. Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2. , 18. 19 H. Rohadi Abdul Fatah, dkk. ,Rekontruksi Pesantren Masa Depan (Jakarta Utara: Listafariska Putra, 2. , 11. El Banat Vol. 14 No. Abdullah. Mundiro Lailatul Muawwaroh funduq berasal dari bahasa Arab, yang artinya pesangrahannatau penginapan bagi orang yang berpergian. Pendapat serupa juga dapat dilihat dalam penelitian Karel A. Stenbrink. Pesantren secara terminologis dijelaskan bahwa pendidikan pesantren, di lihat dari bentuk dan sistemnya berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, sistem tersebut telah dipergunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu di Jawa. Setelah Islam masuk dan tersebar di Jawa, sistem tersebut di adopsi oleh Islam. AbunAhmadi memberikan pengertian pesantren sebagai suatu sekolah bersama untuk mempelajari Ilmu agama, kadang-kadang lembaga demikian ininmencakup ruang gerak yang luas sekali dan mata pelajaran yang dapat diberikan dan meliputi hadits, ilmu kalam, fiqih dan ilmu tasawuf. Ridlwan Nasir, mengatakan bahwanpondok pesantren adalah gabungan dari pondok dan pesantren. Istilah pondok, mungkin berasal dari kata funduk, dari bahasannArab yang berarti rumah penginapan atau hotel. Akan tetapi di dalam pesantren Indonesia, khususnyanpulau Jawa, lebih mirip denganmpemondokan dalammlingkungan padepokan, yaitu perumahan sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asramanbagi santri. Pesantren pada dasarnya berfungsi sebagai lembaga mencetak muslim agar memiliki dan menguasai ilmu-ilmu agama . afaqquh fi al di. secara mendalam serta menghayati dan mengamalkannya secara ikhlas semata-mata ditujukan untuk pengabdiannya kepada Allah SWT di dalam hidup dan kehidupannya. Dengan kata lain, tujuan pesantren adalah mencetak ulamaAo yang mengamalkan ilmunya serta menyebarkan dan mengajarkan ilmu-ilmunya itu kepada orang lain. Dengan demikian, pesantren mengfungsikan dirinya sebagai lembaga yang menghasilkan lulusan sebagaimana yang menjadi cita-cita utamanya melalui kegiatan pendidikan dan pengajaran. Pola pendidikan tradisional yang dikembangkan pesantren meliputi beberapa aspek kehidupan. pemberian pengajaran dengan struktur, metode dan literatur Pemberian pengajaran tradisional ini berupa pemberian pengajaran dengan sistem halaqah . dalam bentuk metode sorogan atau bandongan dan lainnya. Ciri utama dari pengajaran tradisional ini adalah cara pembelajarannya 20 Steenbrink. Pesantren Madrasah, 22. 21 Hamid. Sistem Pesantren Madrasah dan Pesantren di Sulawesi Selatan, 18. Abdullah, modal kiai dari spiritual, soasial hingga kepemimpinan, (Surabaya: global aksara pres, 2. ,114. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam DEPAG RI. Pola Pembelajaran di Pesantren, (Jakarta: Ditpekapontren Ditjen Kelembagaan Agama DEPAG RI, 2. , 20 23Tim El Banat Vol. 14 No. Transformasi Peran Pesantren Sebagai Agen Sosial-Religius yang menekankan pada penangkapan harfiyah atas suatu teks . Pendekatan yang digunakan adalah menyelesaikan pembacaan kitab untuk kemudian melanjutkan dengan membaca kitab lain. pemeliharaan tata nilai tertentu yang menekankan pada fungsi pengutamaan beribadah sebagai bentuk pengabdian dan memuliakan guru sebagai jalan untuk memperoleh ilmu agama yang hakiki. Selain menggunakan sistem seperti itu, terdapat juga di kalangan pesantren yang menggunakan sistem madrasah atau sekolah, yakni pola pembelajaran yang dilakukan secara klasikal dalam bentuk formal, di samping pola pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran asli milik pesantren. Kedua sistem tersebut pada suatu pesantren terkadang dipergunakan secara terpisah dan adakalanya yang memodifikasinya secara integral . yaitu menggabungkan sistem madrasah dengan sistem pengajian klasik. Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Sosial keagamaan. Pesantren sebagai sebuah wadah dan lembaga tentunya ikut andil pula dalam proses perkembangan dan perubahan sosial . Sesuai dengan perkembangan itu, maka proses modernisasi berjalan secara wajar seiring pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semuanya serba berkembang, sampai pada kebutuhan masyarakat pun makin meningkat dan beragam, yang pada gilirannya muncul, meskipun misalnya ada usaha menekannya sedemikian rupa agar tidak menimbulkan kerawanan sosial maupun politik. Selain itu tujuan pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin, sudah tentu meletakkan Aoulumuddiniyyah pada posisi sentral. Materi pokok di pesantren adalah Aoulumuddiniyyah dengan segala cabang dan ilmu alat dan ilmu pendukungnya. Selanjutnya, perubahan-perubahan dalam masyarakat pada gilirannya juga mempengaruhi adanya perubahan nilai pada aspek budaya, tumbuh akulturasi budaya yang mengakibatkan benturan pada nilai yang telah berlaku dan mengakar dengan konstelasi kultur yang ada. Kondisi nilai-nilai tersebut menghadapi desakan masuknya kultur baru, sehingga pelahan semakin luntur dari kehidupan. Fungsi dan posisi pesantren jika dihadapkan pada permasalahan di atas akan sangat erat kaitannya dengan keberadaan Islam sebagai sebuah sentral nilai dan pandangan sikap dalam pandangan umat. Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan adalah juga sebagai lembaga sosial yang pada dasarnya dapat berperan aktif dan berpartisipasi nyata 24 Ibid. , 22 El Banat Vol. 14 No. Abdullah. Mundiro Lailatul Muawwaroh dalam pembangunan dan pengembangan masyarakat. Oleh karenanya, pesantren perlu mencoba menciptakan kegiatan-kegiatan ekstern di luar kompleks untuk mengabdi pada masyarakat. Pesantren sebagai lembaga tradisional Islam di Indonesia, perlu adanya perubahan, pengembangan, baik dari segi paradigma maupun pengembangan tradisi akademik dengan tetap berpegang teguh pada tradisi yang luhur. 25 Azyumardi Azra menjelaskan, eksistensi pesantren sampai saat ini bukan hanya karena memiliki potensi sebagai lembaga yang identik dengan makna ke-Islam-an, tetapi juga karakter eksistensialnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengandung makna keaslian Indonesia . Dalam rangka menyikapi modernisasi dan globalisasi, ternyata kaum pesantren memilih dunia pendidikan sebagai alat yang paling utama untuk penegakan jihad damai. Dengan jihad damai di jalan Allah melalui sistem pendidikan pesantren, komunitas ini mencoba memenuhi tuntutan dan kebutuhan Indonesia modern dan globalisasi dengan tetap bersandar pada stabilitas dan identitas agama. 27 Praktik di lapangan juga membuktikan, bahwa pendidikan pesantren selama ini steril dari ideologi-ideologi radikal semacam Khawarij. Ikhwanul Muslimin, dan Laskar Jihad. Lebih lanjut. Abdurrahman MasAoud kehidupan ekonomi mereka. Pesantren di tengah pergulatan masyarakat informasional seperti sekarang ini. AudipaksaAy memasuki ruang kontestasi dengan institusi pendidikan lainnya, terlebih dengan sangat maraknya pendidikan berlabel luar negeri yang menambah semakin ketatnya persaingan mutu out-put . Kompetisi yang kian ketat ini, memposisikan institusi pesantren untuk mempertaruhkan kualitas out-put pendidikannya agar tetap unggul dan menjadi pilihan masyarakat, terutama umat Islam. Ini mengindikasikan, bahwa pesantren perlu banyak melakukan pembenahan internal dan inovasi baru agar tetap mampu meningkatkan mutu Secara garis besar paradigma ideal model pesantren masa depan serta peran yang hendak dimainkan, perlu mempertimbangkan beberapa aspek diantaranya: 25Affandi Mochtar. Membedah Diskursus Pendidikan Islam, (Jakarta: Karimah, 2. , 80-81. Azyumardi Azra. Pendidikan Islam. Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, (Jakarta: Logos, 1. ,108. 27 Abdurrahman MasAoud. Menuju Paradigma Islam Humanis, (Yogyakarta: Gama Media, 2. , 295. 28 Ibid. , 236. El Banat Vol. 14 No. Transformasi Peran Pesantren Sebagai Agen Sosial-Religius prototype, derajat, modernisasi dan infrastruktur pesantren berdasarkan asumsi asumsi dan validitas data, berdasarkan pengalaman yang telah dilaksanakan. Pesantren adalah lembaga social kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang dalam proses pembangunan sebagai agen perubahan sosial dan pembaharuan 29 Pesantren memiliki unsur terpenting untuk merefleksikan masa depan adalah peran kyai sebagai ulamaAo yang dianut masyarakatnya. UlamaAo dalam Islam artinya pengemban tradisi agama dan seorang yang faham akan syariAoat hokum suci. Dalam pengertian asli, yang dimaksud ulamaAo adalah para ilmuwan, di bidang agama, humaniora, sosial dan kealaman. Namun dalam perkembangannya, pengertian ini dipersempit yang hanya bermakna untuk ahli agama yang mengemban tugas sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di pesantren. Ini menunjukkan, bahwa kiai seharusnya adalah orang yang luas pemikirannya, serta bersifat inklusif. Menyikapi hal tersebut. Yusuf Qardhawi menambahkan bahwa, sangat keliru kalau dikatakan bahwa Islam Aepesantren- berdiri vis a vis sains, karena menurut ajaran Islam agama adalah ilmu, dan sebaliknya ilmu adalah agama. 30 Ajaran pokok dan sejarah Islam pun membenarkan dan membuktikan pernyatan ini. Menurut konsep Islam, agama adalah ilmu karena ilmu tidak hanya berpatokan pada perasaan, tetapi juga pada pemikiran dan penolakan taklid buta. Kedua, ruang rasio . ommon sens. belum diminati dalam dunia pesantren. Pengajaran yang melupakan aspek ini, jelas belum mampu melahirkan creativity dan curiosity, rasa ingin tahu. Menurut Rahman, untuk mengembangkan ruang rasio, kyai-kyai di pesantren perlu mengajarkan dan memperdalam pengajaran ushul fiqh. Ushul fiqh itu sendiri diartikan sebagai filsafat hukum Islam karena ia berhubungan dengan dasar dasar pemikiran fiqh, di mana filsafat telah diganjal perkembangannya oleh ulamaAo-ulamaAo zaman pertengahan . ulai abad 12 M) yang justru menjadi rujukan dunia santri. Dengan menghidupkan ushul fiqh, yang harus dibarengi dengan revitalisasi ilmu-ilmu humanites seperti sastra dan sejarah . sebagaimana yang dilakukan Imam SyafiAoi yang mendalami sejarah dunia lebih dari 15 tahun dan dikenal sebagai bapak ushul fiqh, adalah identic dengan humanisasi dunia pesantren. Ketiga, budaya tulis menulis yang selama ini menghilang dari dunia pesantren dan telah diwariskan tokoh-tokoh pesantren semacam AlBantani dan At-Tirmisi harus Dawam Rahardjo . Pesantren Dan Pembaharuan, (Jakarta: LP3ES, 1. ,75. 30 Yusuf Qardhawi. Tuhan Tak Terkuburkan. Sebuah Analisis Relevansi Agama di Era Sains, (Jakarta: Azan, 2. El Banat Vol. 14 No. Abdullah. Mundiro Lailatul Muawwaroh dihidupkan kembali secara konsisten. Melihat pemaparan yang disampaikan Rahman di atas. Abdullah Syukri Zarkasyi menambahkan, bahwa modernisasi suatu bangsa dapat ditempuh lewat pendidikan yang baik. Untuk pengembangan ilmu pengetahuan secara luas, pesantren menempati posisi yang sangat strategis dan berperan karena posisinya sebagai lembaga pendidikan yang langsung berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Namun, untuk menggariskan suatu konsep yang tepat terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang, pesantren masih harus mempertimbangkan beberapa alternatif dan kemungkinankemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan Peran Pesantren dalam Pengembangan Masyarakat di Madura. Fungsi utama pesantren terletak pada kedudukannya sebagai tafaqquh fi al-din. Untuk mencapai fungsi ini secara optimal, sejak semula pesantren memposisikan diri sebagai lembaga pendidikan, lembaga yang mentransfer . Perbedaan mendasarnya dengan lembagalembaga pendidikan lain, adalah target yang ditetapkan oleh pendidikan pesentren. Jika lembaga lain merasa cukup dengan memberikan pengetahuan, maka pesantren masih dianggap gagal jika transfer pengetahuan keagamaan itu tidak mampu menghasilkan perilaku sesuai tingkat pemahaman peserta didiknya. Ini berarti, lebih dari pada sekedar media transfer pengetahuan . ransfer of knowledg. , aktifitas pendidikan pesantren harus dipahami sebagai lembaga pembentukan mental dan karakter peserta didiknya dalam kehidupan beragama. Dalam konteks ini, maka peran pesantren dalam masa pembangunan atau pengembangan masyarakat adalah bagaimana ia mampu memberikan kontribusi agar bangsa ini dapat memahami dan menghayati seluruh aspek kehidupannya dalam kerangka yang konsekuen dan konsisten dengan semangat ( spiri. dan norma agama. Yang paling memprihatinkan dari fenomena pembangunan adalah terjadinya pertukaran kepedulian dan perubahan watak masyarakat. Masyarakat yang memiliki sejarah dan latar belakang religius, secara perlahan namun pasti telah menuju arah baru penyikapan hidup. Sehubungan yang terjadi belakangan bahkan menunjukkan 31 Abdullah Syukri Zarkasyi. Langkah Pengembangan Pesantren, dalam Abdul Munir Mulkhan dkk. Religiusitas Iptek. Rekonstruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerjasama dengan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, 1. , 225-226. El Banat Vol. 14 No. Transformasi Peran Pesantren Sebagai Agen Sosial-Religius agresifitas masyarakat untuk menuju gaya hidup era industri, meskipun kesiapan sikap hidup mereka menuju era industrial masih harus menerus dipertanyakan. Dalam skala global, seluruh umat manusia sedang berharap dengan tantangan untuk mengelola kehidupan secara bersama-sama. Sebagai akibat kemajuan teknologi yang menghilangkan pengaruh batas-batas formal teritorial. Kondisi yang popular disebut sebagai globalisasi ini mengharuskan umat manusia untuk saling bekerja sama sekaligus bersaing. Logika yang kemudian akan berlaku bagi semua umat manusia adalah, kelompok yang paling mampu melepaskan diri dari ketergantungan kepada pihak lain akan menjadi kelompok yang memiliki potensi terkuat untuk menjadi faktor yang paling menentukan dalam kehidupan bersama. Sisanya terpaksa harus tunduk kepada kelompok lain yang lebih kuat. Faktor penting untuk mampu terlepas dari ketergantungan adalah kemandirian sosial ekonomi. Berbagai peristiwa dalam skala global mengantarkan kita dalam pemahaman, bahwa suatu kelompok harus terlebih dahulu mandiri dalam bidang ekonomi sebelum menentukan langkahnya dalam kehidupan bersama. Kepedulian untuk membangun masyarakat ideal yang seimbang perilaku duniawi dan ukhrawi-nya . i al-dunya hasanah wa fil akhirati hasana. adalah peran primer yang diwariskan pesantren sepanjang sejarahnya dan terus menerus diupayakan pelestarian dan Jika pesantren kehilangan peran primer ini, dengan sendirinya ia telah kehilangan hak hidup, kecuali hanya sekedar lembaga pendidikan . Tantangan untuk memajukan kualitas kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dapat menjadi peluang bagi fungsi dan peran sekunder pesantren dewasa Ini berarti bahwa peantren harus segera dapat mempersiapkan diri untuk menempuh bidang garapan baru dan terjun langsung dalam upaya peningkatan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Pesantren sebagai motor penggerak pengembangan masyarakat, yang hal ini tentunya untuk mencapai tujuan hidup. Pesantren sebagai lembaga keagamaan juga sebagai lembaga sosial, yang tentunya mempunyai tanggungjawab terhadap masyarakat di sekitarnya. Dan tujuan lebih lanjut adalah akan menampilkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Sebagaimana yang dikemukakan KH Sahal, bahwa kesejahteraan masyarakat dengan pendekatan kebutuhan dan permasalahan masyarakat sebagai subyek atau obyek. Dalam teori pemenuhan kebutuhan dasar dijelaskan bahwa pada dasarnya manusia paling tidak dalam hidup harus terpenuhi El Banat Vol. 14 No. Abdullah. Mundiro Lailatul Muawwaroh kebutuhan dasarnya. Kebutuhan tersebut antara lain, makanan, air, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan dan partisipasi dalam pengambilan keputusan, bahkan 32 Untuk mewujudkan hal itu, tentu ada berbagai komponen yang harus saling terkait dan mendukung. Abdurrahman Wahid mengemukakan bahwa minimal ada dua komponen dalam pengembangan masyarakat, yaitu watak kehidupan dan penggunaan kekuasaan. Islam sebagai ajaran yang bersifat universal setidaknya memuat tiga prinsip utama yang terkait dengan prinsip sosial kemasyarakatan. Prinsip-prinsip itu adalah kesamaan . , keadilan (Aoadala. , dan musyawarah . Segala kegiatan pesantren sebagai upaya pemberdayaan masyarakat harus bersendikan dan berdasar pada tiga prinsip di atas. 33 Tentang penggunaan kekuasaan menjadi suatu yang penting dalam pemberdayaan masyarakat, karena hal ini menyangkut keseimbangan antara kepentingan individu dan masyarakat. Hal yang cukup urgen di sini menurut penulis adalah kesamaan dan keadilan. Kesamaan bukan berarti kepemilikan yang sama, sebagaimana paham sosialis. Sementara keadilan bukan berarti semuanya harus seragam, tetapi sesuai dengan proporsi masing-masing, atau dengan kata lain harus proporsional. Dalam hal ini. Asghar Ali Engineer, dalam buku Islam dan Teologi Pembebasan-nya menjelaskan, bahwa orang-orang yang memupuk kekayan sangat dicela oleh al QurAoan dan Hadits. Al QurAoan menjelaskan, bahwa orang yang berlebih atau yang telah mampu mencukupi kebutuhan pokoknya harus memberikan sebagian hartanya kepada orangorang yang membutuhkan. AuMereka menanyakan kepadamu, seberapa banyak harta yang harus diberikan kepada orang lain. Lebih lanjut Asghar Ali Engineer menjelaskan, bahwa al QurAoan sangat mencela riba . raktek yang eksploitatif dan menguntungkan sistem kapitalism. Dengan Islam quo serta mengentaskan kelompok yang tertindas dan dieksploitasi, mereka . ustadlAoafi. Masyarakat yang sebagian mengeksploitasi masyarakat lainnya yang lemah dan tertindas, tidak dapat disebut sebagai masyarakat Islam (Islamic societ. , meskipun mereka menjalankan ritualitas Islam. Nabi bahkan menyamakan kemiskinan dengan kufur, dan berdoAoa kepada Allah agar dilindungi dari keduanya. 32 Mansour Fakih. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 65. Abdurrahman Wahid. Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren, 146. 34 Ahmad Amir Aziz, ibid. 35 Asghar Ali Engineer. Islam dan Teologi Pembebasan,(Yoyakarta: Pustaka Pelajar, 1. , 6. El Banat Vol. 14 No. Transformasi Peran Pesantren Sebagai Agen Sosial-Religius Penghapusan Islam. Oleh karena itu, pengembangan masyarakat dan pemberdayaannya pada dasarnya dimaksudkan sebagai upaya kolektif untuk mencari keseimbangan antara kesejahteraan individu dan masyarakat, yaitu kesejahteraan kolektif yang tidak mengalahkan hak-hak masyarakat sebagaimana dalam masyarakat kapitalis murni. Upaya-upaya ini pada hakekatnya merupakan konseptualisasi dan aktualisasi dari konsep baldatun thoyyibatun warobbun ghofur. Hal inilah yang nampaknya jelas pengembangan masyarakat merupakan proses interaksi dari serangkaian kegiatan yang mengarah pada peningkatan kualitas masyarakat,37 baik kualitas keberagamaan maupun kualitas hidupnya. Sebagai proses, pengembangan masyarakat berarti mengubah dan mengembangkan sikap hidup, gaya hidup, pola pikir dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan makna hidup. Di sini keterlibatan pesantren adalah dalam kontektualisasi ajaran Islam dan nilai-nilai yang dimiliki oleh pesantren misalnya pembentukan karakteristik Islami, watak kemandirian, sikap lebih mengutamakan kepentingan orang banyak dari pada dirinya sendiri, etos kerja yang tinggi dan lain sebagainya, yang pada gilirannya pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh pesantren merupakan salah satu alternative karena mampu meletakkan keseimbangan antara kepentingan duniawi dan kepentingan ukhrawi. Maka pengembangan masyarakat dilihat dari sudut pandang teologis adalah upaya menyusun kerangka dasar teoritik yang menjembatani dua rukun tersebut yaitu iman dan Islam. Muslim Abdurrahman, aktivis P3M malah menegaskan bahwa kerangka kerja yang digunakan oleh P3M adalah kerangka teologi pembebasan. 21 Dan inilah yang nampaknya menjadi pemicu lahirnya konsep pengembangan masyarakat. Kecenderungan menonjol dan mendominasi kehidupan. Sikap ini bermuara pada timbulnya sikap Pada Islam. kompetitif yang tidak sehat dan ketegangan-ketegangan serta berbagai konflik. 36 Abdurrahman Wahid, ibid, 148. 37 Zainal Abidin dan Agus Ahmad SyafeAoi. Sosioshopologi. Sosiologi Islam Berbasis Hikmah, (Bandung: Pustaka Setia, 2. Dawam Rahardjo. Intelektual. Intelegensia, dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim, (Bandung: Mizan, 1. , 388. El Banat Vol. 14 No. Abdullah. Mundiro Lailatul Muawwaroh Lebih lanjut Dawam Rahardjo menjelaskan, bahwa Islam sebagai etos sosial memegang kunci di Asia Tenggara. Kemajuan atau kemunduran kawasan ini sangat ditentukan oleh kemampuan Islam untuk memberikan respon terhadap perubahanperubahan yang bersifat global, regional dan nasional. Dalam memainkan peranannya. Islam berada dalam pluralisme Asia Tenggara. Islam yang merupakan agama mayoritas di Indonesia dan Asia Tenggara, tentu memiliki ciri-ciri tersendiri, terutama dari segi akidah dan ibadahnya. Tapi dalam etos sosial, berbagai nilai yang terdapat dalam agama-agama lain, dapat dijumpai dalam Islam. Ini tidak berarti bahwa etos social Islam sama dengan etos agama-agama lain. Karena itu. Islam yang oleh pemeluknya disebut sebagai kriterium . l Furqa. bisa menjumpai-nilai-nilai yang sama pada agama-agama lain. Karena itu. Islam bisa melakukan dialog kebudayaan, sebagaimana di masa lalu. 39 Dalam al QurAoan terdapat ajaran-ajaran yang menimbulkan etos ilmu pengetahuan, baik yang rasional maupun yang empiris, misalnya ayat-ayat yang menyuruh manusia menyelidiki hukum-hukum alam semesta yang bersifat pasti. Pendekatan sosiokultural adalah mengembangkan kerangka kemasyarakatan yang mempergunakan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam. 40 Sedangkan lembaga yang lahir dari strategi ini, bukanlah institusi-institusi Islam yangt eksklusif, melainkan institusi biasa yang bisa diterima oleh semua pihak. Artinya, kelembagaan yang dikembangkan Islam sebenarnya sama dengan kelembagaan yang dikembangkan oleh pihak-pihak lain. Sebagai alternatif dari institusi politik, strategi ini berupaya membangun sebuah komunitas masyarakat yang berkeadaban, menjunjung tinggi hukum, bebas dari segala bentuk intimidasi, kerangka kenegaraan yang demokratis, pembagian kekayaan negara yang adil, dan lain-lain. Tujuan yang demikian ini tidak dapat dicapai dengan kendaraan politik, tetapi dengan kampanyekultural untuk membuat masyarakat sadar tentang kemampuan yang ada pada mereka untuk menentukan nasib dan masa depannya. Pendekatan sosiokultural menyangkut kemampuan kaum muslimin untuk memahami masalah-masalah dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bukan untuk memaksakan agendanya sendiri. Kecenderungan formalisasi ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat dan islamisasi dalam manifestasi politik sangat tidak Bryan S. Turner. Sosiologi Islam. Suatu Telaah Analitis Atas Tesa Sosiologi Weber, diterjemahkan oleh G. A Ticoalu dari buku aslinya Weber and Islam, (Jakarta: CV. Rajawali, 1. , hlm. 40 Abdurrahman Wahid, ibid. El Banat Vol. 14 No. Transformasi Peran Pesantren Sebagai Agen Sosial-Religius menguntungkan, karena akan berdampak pada kekeringan dan kegersangan nilai-nilai ajaran agama. Agama seakan kurang bermakna, berdaya guna bagi kehidupan Maka, pesantren dengan ulamaAonya sebagai figur sentralnya juga mengalami Perubahan ulamaAo bernegara sudah barang tentu berimplikasi pada perubahan cakrawala dunia Pesantren kewenangan dan otoritas kiai, atau bahkan sangat tergantung pada kiai secara Untuk menjawab persoalan ini, pesantren harus memprioritaskan beberapa agenda khusus. Yang paling utama adalah kembali pada pola dasar pendidikan semula yang bertumpu pada trilogy keluarga-sekolah-sosial kemasyarakatan. Trilogi inilah yang pada masa lalu telah mengantarkan pesantren pada eksistensi gemilang. samping itu, membangun kerja sama dengan pihak di luar pesantren adalah suatu hal yang urgen. Kerjasama bidang social kemasyarakatan ini dalam jangka pendek akan membantu efektifitas gerakan-gerakan sosial kedua belah pihak. Sedangkan dalam jangka waktu panjang ia akan berarti pembukaan wawasan baru yang memungkinkan pesantren mengejar ketertinggalannya selama ini dan menutup kemungkinan penyelesaian yang berkepanjangan. Dari khas yang program pengembangan masyarakat, masyarakat oleh pesantren. Arah program pengembangan masyarakat melalui pesantren misalnya, bukanlah pertumbuhan ekonomi, tetapi pengembangan swadaya masyarakat. Sementara secara politis, ini menunjukkan, bahwa apa yang dilakukan pesantren saat ini merupakan bukti nyata independensi pesantren. Pesantren tidak hanya larut dalam program pembangunan pemerintah tanpa melakukan seleksi, tetapi pesantren sebagai lembaga non pemerintah ternyata mampu menjadi solusi alternative pemberdayaan umat. Sementara lembaga-lembaga lain semacam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) hanya mampu menjadi tangan 41 Abdullah. Modal social kiai dalam mengemnnagkan pesantren El Banat Vol. 14 No. Abdullah. Mundiro Lailatul Muawwaroh panjang pemerintah dalam melaksanakan program pengembangan masyarakat. Pembangunan kapitalisme, ternyata tidak mampu dibendung oleh lembaga selain pesantren. Akan tetapi, pesantren dengan mengedepankan moralitas dan relegiusitas akhirnya mampu tampil sebagai lembaga yang eksis, independen, tidak terikat dengan lembaga lain, serta mampu menjaga tradisi luhur bangsa. Adapun dalam pelaksanaan pengembangan masyarakat, bias melakukan antara . Community Development, yang berorientasi untuk usaha pengembangan masyarakat dengan menjadikan . persuasif, yaitu pendekatan yang bersifat seruan dan ajakan dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan tanpa ada unsur paksaan maupun tekanan dari . pendekatan edukatif, yaitu dalam unsur-unsur program dan mendinamisasikan masyarakat untuk menuju kepada kemajuan yang dicitacitakan. pendekatan partisipatif, yaitu pendekatan yang berorientasi pada peningkatan peran serta masyarakat secara langsung di dalam proses dan aktivitas pembinaan. norma-norma, nilai-nilai, perundang-undangan yang berlaku, baik dari lembaga maupun pemerintah. Dengan demikian, bagi penulis, tidak berarti bahwa pesantren harus menjadi Aumesin ekonomiAy yang menyerap utuh watak ekonomi yang sedang berlaku dan justru menggiring masyarakat untuk terjebak dalam sikap hidup Kepedulian sosial-ekonomi sebagai peran sekunder dalam kerangka peningkatan kemandirian sosialekonomi Sudah kualitas kehidupan beragama masyarakat yang merupakan perwujudan paling mendasar dari fungsi dan misi tafaqquh fi al-dinAy. Dan di sinilah, nampak pengembangan masyarakat. El Banat Vol. 14 No. Transformasi Peran Pesantren Sebagai Agen Sosial-Religius Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pesantren berfungsi lebih dari sekadar lembaga Tafaqquh Fiddin. ia memiliki peran ganda sebagai lembaga keagamaan dan sosial dalam masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, pesantren fokus pada kegiatan intelektual yang mencakup akidah, syariAoah, akhlak, dan ijtimaiyah secara terpadu dan terarah, dengan memilih pendekatan yang sesuai dengan kondisi masingmasing pesantren. Sebagai lembaga sosial, pesantren berperan aktif dalam mendorong partisipasi swakarsa dan swadaya masyarakat, serta dalam pengabdian kepada Pendidikan Sosial Keagamaan menekankan pentingnya membentuk individu yang memiliki kesadaran sosial dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan pendekatan integralistik, humanistik, dan pragmatik, pendidikan ini bertujuan untuk mencapai tujuan akhir kehidupan, yaitu saodatud darain. Salah satu contoh nyata dari pendidikan sosial keagamaan dapat dilihat dalam program pengembangan masyarakat yang dilaksanakan oleh Pesantren Nurul Cholil Bangkalan, yang berhasil membina kelompok swakarsa dan swadaya, sehingga memunculkan berbagai kegiatan masyarakat. Program ini dilaksanakan melalui pendekatan Community Development yang persuasif, edukatif, partisipatif, dan normatif, menunjukkan komitmen pesantren dalam pemberdayaan masyarakat secara menyeluruh. Referensi