AL-KAINAH JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Penerbit: P3M Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Huda Subang Jl. Raya Rancasari Dalam No.B33, Rancasari, Kec. Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41254 E-ISSN: 2985-542X P-ISSN: 2985-5438 https://ejournal.stai-mifda.ac.id/index.php/alkainah Strategi Penanaman Nilai PAI dalam Memebentuk Karakter Religius Di Era Globalisasi Nurazizah1, Inten Syakiroh2, Nurhalipah3 Pascasarjana PAI STAI Miftahul Huda Subang Email: Nurazizah631995@gmail.com,1 intensyakiroh17@gmail.com,2 nhalipah45@gmail.com3 Abstrak Penelitian ini, bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Pemebelajaran Agama Islam Penelitian ini fokus pada peran nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter religius peserta didik di era globalisasi. Hasil penelitian menunjukkan langkah-langkah untuk menciptakan siswa berkarakter melibatkan pengenalan nilai, pendidikan nilai, pengembangan kecerdasan berpikir, dan contoh perilaku baik. Penulis meliputi analisis dari sumber literatur relevan, jurnal, buku, dan artikel yang terkait. Metode Literatur Review ini, sangat membantu penulis dalam menganalisis dan memhami teori penelitian serta menambah wawasan mengenai pembelajaran sebelumnya. Sumber data penelitian ini terdiri dari bahan kepustakaan yang membutuhkan pemrosesan secara filosofis dan teoritis, tanpa memerlukan uji empiris. Data yang dipresentasikan merupakan rangkuman kata-kata yang perlu diolah agar lebih singkat dan terstruktur. Proses pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan mencari jurnal-jurnal terkait pendidikan agama Islam sebagai pembentuk karakter di era globalisasi. Bagaimana kontribusi nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam shaping karakter religius peserta didik di era globalisasi menjadi pertanyaan penting. Untuk mencapai tujuan tersebut, langkah-langkah praktis perlu diterapkan agar siswa dapat mengembangkan karakter yang kuat dengan menekankan aspek Pendidikan Agama Islam. Dalam era globalisasi, pendidikan karakter menjadi krusial dalam membimbing anak remaja menghadapi perubahan mental dan pola pikir. Pendidikan karakter memegang peran sentral dalam mengatasi krisis moral dan membentuk generasi muda yang berkarakter Kata kunci: Penanaman nilai PAI, Membentuk karakter regilius PENDAHULUAN Pembelajaran pada dasarnya adalah upaya untuk mengarahkan siswa melalui proses belajar sehingga mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Dalam dunia pendidikan, peran guru sangat vital sebagai pendidik dan pengajar yang memiliki keahlian profesional. Pentingnya materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa, penerapan metode pengajaran yang tepat untuk mencapai tujuan, evaluasi sebagai alat pengukur kemampuan, serta ketersediaan fasilitas dan infrastruktur 79 Strategi Penanaman Nilai PAI Dalam Memebentuk Karakter Regilius Di Era Globalisasi pendukung pembelajaran juga menjadi faktor yang sangat signifikan. (Sari & Nurjati, 2021). Pendidikan Islam saat ini menghadapi berbagai perkembangan yang menuntut adanya perubahan dan peningkatan agar dapat menyesuaikan diri dengan dinamika tersebut. Tantangan utama muncul dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), terutama dalam menghadapi era globalisasi yang telah menyederhanakan keterbatasan jarak dan waktu antar negara dalam pertukaran informasi dan pengetahuan, terutama di bidang pendidikan Islam (Halimurosid, 2022). Pendidikan, sesuai dengan UU SISDIKNAS, merupakan usaha yang sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran. Tujuannya adalah agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi diri, termasuk kekuatan spiritual keagamaan, kecerdasan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan untuk kontribusi kepada diri sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara (Kholis, 2021). Pendidikan karakter adalah suatu sistem dalam pendidikan yang berfokus pada penanaman nilai-nilai yang sesuai dengan budaya bangsa. Hal ini mencakup aspek pengetahuan, sikap perasaan, dan perilaku yang baik, tidak hanya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga untuk individu, masyarakat, dan bangsa secara keseluruhan. Pendidikan karakter memiliki tujuan untuk mengembangkan nilainilai yang dapat membentuk karakter bangsa agar sejalan dengan prinsip-prinsip Pancasila. Dengan pendidikan karakter, tujuannya adalah membentuk masyarakat yang kuat, bersaing secara kompetitif, bersatu dalam semangat gotong royong, memiliki patriotisme, dinamis, berakhlak mulia, bermoral, toleran, berfokus pada ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dipandu oleh iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Handitya, 2019). Pendidikan karakter bangsa mencakup sejumlah nilai, antara lain aspek keagamaan, kejujuran, toleransi, kedisiplinan, kerja keras, kreativitas, kemandirian, demokrasi, kepedulian terhadap lingkungan, dan tanggung jawab (Rahmadani, 2023). Menurut Azka Salma dan rekannya, pembangunan dan pembinaan pendidikan karakter perlu dimulai sejak dini, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk dan meningkatkan kualitas pribadi peserta didik dalam proses penanaman pendidikan karakter tersebut (Rahmadani, 2023). 80 Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 Ayat 1 menjelaskan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha yang direncanakan untuk membentuk suasana dan proses belajar mengajar. Tujuannya adalah agar peserta didik dapat aktif mengembangkan potensi, termasuk kekuatan spiritualitas, kontrol diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan kemampuan yang bermanfaat bagi diri, lingkungan, bangsa, serta negara. Pasal 3 UU yang sama menguraikan fungsi pendidikan nasional, yakni untuk menumbuhkan keahlian, menciptakan budi pekerti, dan budaya bangsa yang berkualitas. Semua ini dilakukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kemampuan anak didik sebagai individu yang taat kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, sehat, pandai, cakap, produktif, mandiri, serta mampu berperan sebagai warga masyarakat demokratis dan bertanggung jawab. Dengan demikian, usaha mencapai tujuan pendidikan Indonesia yang dijelaskan dalam Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 dilaksanakan melalui sistem sekolah (W. T. Dewi et al., 2022). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menciptakan berbagai jenis media yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pendidikan Islam. Jika pada masa klasik, pendidikan Islam hanya dapat menjangkau masyarakat lokal dengan kualitas yang relatif rendah, penggunaan multimedia, terutama internet, memungkinkan pendidikan Islam dapat dilakukan secara lebih luas, cepat, dan dengan kualitas yang lebih baikPara ahli pendidikan Islam diharapkan memanfaatkan dan mengembangkan media pendidikan terkini guna menjadikan pendidikan Islam sejajar dengan kemajuan signifikan yang terjadi dalam pendidikan umum belakangan ini. Keberhasilan tersebut hanya dapat terwujud apabila para pemimpin dan pendidik di lembaga-lembaga pendidikan Islam bersedia meningkatkan kualitas dan kinerja mereka secara aktif. Jika tidak, harapan untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam hanya akan menjadi sekadar impian (Halimurosid, 2022). Sikap keagamaan seseorang dapat terbentuk melalui pemahaman agama yang tercermin dalam pelaksanaan ibadah dan penerapan nilai-nilai agama tersebut. Pendidikan agama Islam di sekolah memiliki tujuan untuk menciptakan individu yang bertakwa. Oleh karena itu, pendidikan tersebut merupakan upaya untuk mendidik, memahami, serta menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada peserta didik. Inti dari pendidikan Islam adalah membina dan mengakar kehidupan peserta didik dengan nilai-nilai agama, sambil memberikan pengetahuan tentang ilmu agama Islam Strategi Penanaman Nilai PAI Dalam Memebentuk Karakter Regilius Di Era Globalisasi (Astuti, 2022). Dalam pandangan Dian Popi Oktari dan Aceng Kosasih, istilah "Religius" menggambarkan kepercayaan pada kekuatan alam yang berada di atas kemampuan manusia (Dian Popi Oktari1, 2019). Religiusitas dalam Islam melibatkan tindakan dan perilaku yang sesuai dengan ajaran yang diajarkan dalam pendidikan. Karakter religius ini dianggap sebagai unsur yang penting untuk ditanamkan dalam diri peserta didik, dengan tujuan mengembangkan sikap yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam yang didasarkan pada Al-Qur'an dan hadis (Ahsanulkhaq, 2019). Dalam era globalisasi yang sedang berlangsung, pengaruhnya terhadap berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi, sosial, IPTEK, dan moral, sangat terasa. Anak remaja, sebagai bagian dari masyarakat, mengalami perubahan, terutama dalam mental dan pola pikir. Mereka seringkali memiliki kecenderungan mental yang labil dan belum memiliki kematangan pikiran untuk membuat keputusan dengan baik. Akibatnya, banyak remaja yang tertarik untuk mencoba hal-hal baru tanpa memahami sepenuhnya konsekuensi baik dan buruk dari tindakan yang mereka ambil. Dalam konteks globalisasi ini, pendidikan karakter memegang peran yang sangat penting sebagai norma panduan bagi peserta didik dalam menjalani kehidupan mereka (Rahmadani, 2023). Dalam menghadapi perhatian yang semakin besar terhadap isu-isu di era modern, penting untuk menekankan bahwa pendidikan karakter harus menjadi fokus utama dalam upaya memperbaiki karakter bangsa Indonesia yang sedang mengalami penurunan. Pendidikan karakter juga telah menjadi topik penting dalam dunia pendidikan, terutama dalam mengatasi krisis moral dan karakter generasi muda sejalan dengan kemajuan zaman. Thomas Lickona (1991) menggambarkan pendidikan karakter sebagai usaha untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pembelajaran nilai-nilai moral, yang nantinya akan tercermin dalam tindakan nyata seperti perilaku baik, kejujuran, tanggung jawab, penghargaan terhadap sesama manusia, dan kerja keras (Muh Idris, 2019). Pendidikan karakter memegang peranan sentral dalam kehidupan suatu bangsa dan negara, karena kemajuan suatu negara tidak hanya tergantung pada tingkat kecerdasan kognitifnya, melainkan juga pada tingkat kecerdasan afektif masyarakat. Ini berarti bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual semata, tetapi juga dipengaruhi oleh kecerdasan sikap spiritual dan sosial masyarakat. Dalam Islam, kepribadian dikenal sebagai akhlak, yang mencakup tiga elemen utama: pengetahuan, sikap, dan perilaku. Pendidikan karakter atau akhlak anak merupakan 82 kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan semua aspek kepribadian atau akhlak sepanjang hidupnya, tidak hanya terbatas pada ruang kelas, melainkan dapat dilakukan di berbagai tempat dan waktu. Pendidikan Agama Islam diharapkan menjadi sarana untuk membimbing anak dalam membentuk sikap dan kepribadian yang lebih baik. Hal ini dikarenakan pendidikan karakter perlu memiliki dasar-dasar karakter manusia yang berasal dari nilai moral universal (absolut), yang bersumber dari ajaran agama wahyu (Syouqina et al., 2022). Penelitian ini dilaksanakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai peran nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter religius pada peserta didik di era globalisasi, dan pentingnya hal ini di tengah modernisasi yang sedang berlangsung. Tujuan penelitian ini mencakup memperoleh informasi tentang sejauh mana penerapan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dapat membentuk karakter bangsa, khususnya dalam konteks modernisasi dan krisis moralitas. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi pedoman bagi berbagai lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat dalam membina karakter anak secara kokoh sebelum mereka dihadapkan pada perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang semakin maju. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat menjadi acuan yang bermanfaat. METODE Penulis meliputi analisis dari sumber literatur relevan, jurnal, buku, dan artikel yang terkait. Metode Literatur Review ini, sangat membantu penulis dalam menganalisis dan memhami teori penelitian serta menambah wawasan mengenai pembelajaran sebelumnya. Dengan penelitian ini maka Penanaman Nilai Pai Dalam Memebentuk Karakter menjadi prioritas utama untuk mengetahui hasil dari Penelitian sebelumnya, menggunakan penerapan strategi yang sukses dan berbagai tantangan dan kendala. Pada penelitian kepustakaan, metode pengumpulan data melibatkan seleksi, pencarian, presentasi, dan analisis data dari sumber-sumber kepustakaan. Sumber data penelitian ini terdiri dari bahan kepustakaan yang membutuhkan pemrosesan secara filosofis dan teoritis, tanpa memerlukan uji empiris. Data yang dipresentasikan merupakan rangkuman kata-kata yang perlu diolah agar lebih singkat dan terstruktur. Proses pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan mencari jurnal-jurnal terkait pendidikan agama Islam sebagai pembentuk karakter di era globalisasi. Selanjutnya, data tersebut dianalisis Strategi Penanaman Nilai PAI Dalam Memebentuk Karakter Regilius Di Era Globalisasi menggunakan teknik analisis isi atau content analysis untuk disajikan dengan cara yang lebih ringkas. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pemebentukan Karakter di Era Globalisasi Langkah-langkah untuk menciptakan siswa yang berkarakter termasuk: a) Mengenalkan siswa pada nilai-nilai yang menjadi ciri khas bangsanya melalui pendidikan kewarganegaraan. b) Pendidikan nilai dapat dimulai dari lingkungan terdekat siswa, terutama keluarga, dengan menerapkan metode belajar sambil bekerja. c) Mendorong perkembangan kecerdasan berpikir siswa secara komprehensif. d) Menanamkan kepribadian yang sejalan dengan nilai-nilai Indonesia pada siswa, sehingga mereka menjadi pribadi yang dinamis, percaya diri, berani, bertanggung jawab, dan mandiri. e) Memberikan pembelajaran tidak hanya terbatas pada jam pelajaran di sekolah, tetapi juga dapat dilakukan setiap saat di luar waktu belajar. f) Mencontohkan perilaku baik sebagai pendekatan yang lebih efektif dalam membentuk karakter yang positif. Pencapaian keseimbangan antara kemampuan kognitif dan karakter menjadi tujuan utama dalam pendidikan era sekarang. Menurut Iswan dan Herwina, dibutuhkan persiapan dari seluruh pihak untuk memberikan pemahaman, menjadi contoh teladan, dan melakukan evaluasi terkait dengan pembiasaan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari (Halimurosid, 2022). Sebagaimana yang di mukakan oleh Mansur, seperti yang dikutip oleh Haudi, menjelaskan bahwa terdapat empat konsep dasar dalam pembelajaran. Pertama, mencoba mengenali dan menetapkan perilaku peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Kedua, memilih sistem belajar mengajar yang sesuai untuk mencapai tujuan yang spesifik. Ketiga, merancang langkah-langkah pembelajaran, desain, dan proses belajar mengajar yang tepat sebagai panduan bagi guru dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Keempat, membuat kriteria keberhasilan sebagai pegangan bagi guru dalam menilai hasil transfer ilmu dan memberikan umpan balik (Rohimah, 2021) Dalam keseharian, guru pendidikan agama Islam memiliki Program Harian yang dijalankan sebagai kegiatan rutin sehari-hari (Wandi, 2020) Program Integratif, yang dijalankan dengan lebih mendalam, adalah suatu program pembiasaan di mana nilai-nilai religiusitas disisipkan secara maksimal dalam materi atau penjelasan yang diberikan oleh guru kepada peserta didik. Dengan demikian, diharapkan peserta didik dapat memahami 84 dan mengerti nilai-nilai religiusitas yang diperkenalkan. Sementara itu, Program Ekstrakurikuler merupakan sebuah inisiatif dengan tujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik, termasuk potensi keagamaan dan aspek-aspek lainnya (Khosiah, n.d.). a) Penanaman nilai religius di sekolah didasarkan pada prinsip yang kokoh, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta Nilai-Nilai Pancasila, terutama sila pertama yang menekankan adanya Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UndangUndang Dasar 1945. b) Dalam usaha menanamkan nilai-nilai religius kepada peserta didik, tantangannya tidaklah sederhana, melainkan melibatkan beberapa hambatan seperti keterbatasan sarana dan prasarana, serta kurangnya dukungan dari orang tua. Sebagian orang tua di lingkungan rumah kurang aktif dalam menanamkan nilai-nilai religius kepada anak-anak mereka, meskipun sebenarnya sebagai orang tua, mereka memiliki tanggung jawab sebagai pemelihara, pelindung, dan pendidik bagi anak-anak mereka (Nur Afni, 2020). Ini sejalan dengan temuan penelitian Mespiroh, yang menyarankan bahwa salah satu langkah untuk memperbaiki karakter anak adalah melalui dukungan ekstrakurikuler. Lebih lanjut, penelitian tersebut juga menyarankan kerja sama antara sekolah, orang tua, atau masyarakat sebagai pendekatan yang efektif dalam mencapai tujuan tersebut (Solecha, 2018). Implementasi muatan keagamaan tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi juga dapat terjadi di masyarakat dan dalam lingkup keluarga. Pembiasaan merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan secara berkelanjutan dan berulang-ulang untuk membiasakan individu dalam berperilaku, bersikap, dan berpikir dengan benar (Khairunisa et al., 2023). Penerapan kebiasaan ini bertujuan untuk membiasakan peserta didik agar memiliki sikap disiplin dan keberagamaan. Salah satu kegiatan pembiasaan yang diterapkan kepada peserta didik adalah pelaksanaan sholat dhuha setiap hari yang diawasi oleh guru, dengan melibatkan partisipasi peserta didik dalam pelaksanaannya secara bergantian. Tindakan ini dilakukan karena penyesuaian dengan lahan yang dimiliki oleh sekolah tersebut. Dalam ajaran Islam, sholat dhuha dianggap sebagai sholat yang dijanjikan oleh Allah untuk membuka pintu rezeki. Rasulullah SAW pernah menyampaikan pesan yang artinya, "Wahai anak Adam, janganlah engkau lewatkan empat rakaat di awal harimu, karena Aku akan mencukupkan rezeki untukmu sepanjang hari itu." (HR. Ahmad). Strategi Penanaman Nilai PAI Dalam Memebentuk Karakter Regilius Di Era Globalisasi Praktik membaca surat-surat pendek dalam Al-Quran diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran, terutama di awal setiap pelajaran. Guru memberikan petunjuk dan mendampingi peserta didik dalam membaca beberapa surat pendek sebelum memulai materi pelajaran. Al-Quran, sebagai kitab suci, memiliki nilai ibadah dan mendatangkan pahala ketika dibacanya (W. T. Dewi et al., 2022). Pembahasan Strategi Penanaman Menanamkan Nilai-Nilai Religius Strategi merupakan suatu metode atau rencana umum dalam bertindak yang bertujuan untuk mencapai sasaran tertentu. Ini mencakup pola kegiatan yang diterapkan oleh guru dan peserta didik untuk mewujudkan pembelajaran sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah ditetapkan (Sanjaya, 2018). Setiap lembaga atau instansi memiliki strategi untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Khususnya di lingkungan sekolah yang berinteraksi dengan peserta didik, pasti terdapat strategi dan pendekatan tersendiri dalam mencapai serta mewujudkan tujuan yang diinginkan. Sinergi antara guru dan warga sekolah lainnya menjadi krusial dalam perencanaan strategi, mengingat peran mereka memiliki dampak yang besar dalam mencapai berbagai tujuan, termasuk tujuan sekolah, tujuan orang tua, dan tujuan bangsa dalam membentuk masyarakat yang berbudaya dan sejahteraGuru atau pendidik telah memiliki peran istimewa dalam masyarakat sejak zaman dahulu. Perilaku sehari-hari mereka menjadi sorotan dan teladan bagi peserta didik serta masyarakat secara umum, baik di masa lalu, masa sekarang, maupun masa yang akan datang. Terutama, ketika guru tersebut adalah seorang Guru Agama atau guru Ngaji, mereka menjadi unsur yang memberikan warna pada kehidupan berkomunitas. Setiap aspek, mulai dari tingkah laku, gaya hidup, hingga pola pikir guru, memiliki potensi untuk memberikan dampak yang besar bagi peserta didik, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya (Khosiah, n.d.). Renada berpendapat bahwa dalam proses pendidikan, terdapat interaksi antara guru dan murid saat memberikan pengajaran yang mengandung nilai-nilai positif, dengan tujuan membentuk karakter peserta didik (R. C. Dewi, 2020). Richad Eyre dan Linda memberikan definisi bahwa nilai sejati yang dapat dimengerti oleh masyarakat umum adalah nilai yang mampu menghasilkan perilaku positif, baik untuk individu yang mengamalkannya maupun untuk masyarakat secara umum. Salah satu nilai yang memiliki signifikansi penting bagi peserta didik adalah nilai 86 keagamaan (Hayatun Nupus, 2023). Nilai-nilai religius dalam Islam memiliki peran sentral, karena melalui nilai-nilai tersebut, individu dapat diarahkan menuju ketaatan kepada Tuhan dan mencapai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa nilai religius yang perlu diperkuat pada peserta didik mencakup: 1) Amanah, yakni kemampuan peserta didik untuk memegang teguh amanat dari orang tua dan guru tanpa mengabaikan pesannya. 2) Amal shaleh, di mana peserta didik menunjukkan perilaku baik terhadap sesama, orang tua, dan guru, serta mentaati ajaran agama melalui pelaksanaan ibadah. 3) Beriman dan bertaqwa, dengan melaksanakan perintah agama, menghormati orang tua, dan guru. 4) Bersyukur, di mana peserta didik senantiasa berdoa dan bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala anugerah-Nya. 5) Ikhlas, jujur, dan sabar. 6) Teguh hati, yaitu keyakinan peserta didik untuk melakukan kebaikan sesuai dengan perkataan dan bertindak dengan kesadaran serta istiqomah. 7) Mawas diri, dengan melakukan introspeksi diri tanpa menyalahkan orang lain. 8) Rendah hati. Nilai-nilai tersebut merupakan landasan ajaran agama Islam yang dapat membentuk karakter peserta didik (Aly et al., 2019) Berdasarkan perkembangan tahapannya, banyak ahli sepakat bahwa peserta didik sebaiknya mulai menerima pendidikan pada rentang usia pubertas, yakni sekitar 10-14 tahun (Djiwandon, 2020). Pada usia tersebut, peserta didik mengalami fluktuasi emosional dan terpapar pada pengaruh negatif dari luar lingkungan mereka. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan nilai-nilai religius pada peserta didik sebagai perlindungan untuk menghindari dampak buruk yang mungkin timbul akibat pengaruh Era Globalisasi. KESIMPULAN Peran guru dalam membentuk karakter peserta didik tidak hanya terbatas sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai teladan yang memberikan contoh perilaku positif. Pendidikan agama Islam bertujuan membentuk individu yang bertakwa dan memiliki nilai-nilai religius, menjadi landasan untuk membentuk karakter religius pada peserta didik. Pembangunan karakter perlu dimulai sejak dini melalui pendidikan formal dan informal, dengan guru memiliki tanggung jawab meningkatkan kualitas pribadi peserta didik melalui pendidikan karakter. Dalam era globalisasi, pendidikan karakter menjadi Strategi Penanaman Nilai PAI Dalam Memebentuk Karakter Regilius Di Era Globalisasi norma panduan penting bagi peserta didik menghadapi perubahan dan tantangan modern, membantu mereka menjalani kehidupan dengan nilai-nilai yang baik. Implementasi pendidikan karakter melibatkan pengenalan nilai-nilai lokal, edukasi nilai dari lingkungan terdekat, pengembangan kecerdasan berpikir, penanaman kepribadian sesuai nilai-nilai bangsa, pembelajaran di luar jam pelajaran, dan contoh perilaku baik dari guru. Kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dianggap efektif mencapai tujuan pendidikan karakter. Dukungan ekstrakurikuler menjadi langkah untuk memperbaiki karakter anak. Nilai-nilai religius dalam Islam, seperti amanah, amal shaleh, beriman dan bertaqwa, bersyukur, ikhlas, dianggap sebagai landasan ajaran agama yang membentuk karakter peserta didik. Pembiasaan nilai religius, seperti sholat dhuha, membaca surat-surat pendek AlQuran, dan kegiatan pembelajaran mendalam, merupakan strategi untuk membentuk karakter peserta didik. Pendidikan karakter menjadi fokus utama dalam memperbaiki karakter bangsa Indonesia di era modern yang tengah mengalami penurunan. 88 DAFTAR PUSTAKA Ahsanulkhaq, M. (2019). Membentuk Karakter Religius Peserta Didik Melalui Metode Pembiasaan. 2(1). Aly, A., Aziz, S., & Mubarok, A. (2019). Metode Keteladanan dalam Pendidikan Islam terhadap Anak di Pondok Pesantren Pendidikan Islam pada dasarnya merupakan upaya pembinaan dan pengembangan potensi manusia , agar tujuan kehadirannya di dunia ini sebagai hamba Allah dan sekaligus tugas khalifah Allah tercapai sebaik mungkin .. 12(2), 306–321. Astuti, H. K. (2022). Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan NilaiNilai Ibadah d i Madrasah Ibtidaiyah Ma ’ arif Polorejo Babadan Ponorogo. 3, 187–200. https://doi.org/10.31538/nzh.v3i1.491.3 Dewi, R. C. (2020). MELALUI PROGRAM EKSTRAKURIKULER SKRIPSI Oleh : FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN SEPTEMBER 2020. September. Dewi, W. T., Maryati, M., & Permana, H. (2022). Strategi Penanaman Nilai-Nilai Religius Peserta Didik Pada Era Revolusi Industri 4 . 0 di SMP N 1 Sukakarya Kabupaten Bekasi. 14(2), 351–363. https://doi.org/10.30596/10597 Dian Popi Oktari1, A. K. (2019). Pendidikan Karakter Religius dan Mandiri di Pesantren. 28, 42–52. Djiwandon, S. E. W. (2020). Psikologi Pendidikan (Rev-2) (Vol. 2). Halimurosid, A. (2022). Jurnal Pendidikan dan Konseling. 4, 3642–3650. Handitya, B. (2019). Menyemai Nilai Pancasila Pada Generasi Muda Cendekia. 2, 13– 23. HAYATUN NUPUS. (2023). INTERNALISASI NILAI TRADISI DZIKIR ZAMAN SEBAGAI MEDIA DAKWAH DI DESA MESANGGOK KECAMATAN GERUNG KABUPATEN LOMBOK BARAT. Khairunisa, L. S., Al, H., & Firdaus, M. A. (2023). AL-AFKAR : Journal for Islamic Studies Penguatan Pendidikan Karakter Religius Siswa Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler ROHIS Di SMKN 10 Bandung. 6(3), 642–652. https://doi.org/10.31943/afkarjournal.v6i3.660.Strengthening Kholis, N. (2021). PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM DALAM UNDANG-UNDANG SISDIKNAS 2003. II(1), 71–85. Strategi Penanaman Nilai PAI Dalam Memebentuk Karakter Regilius Di Era Globalisasi Khosiah, N. (n.d.). Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan NilaiNilai Religius Peserta Didik di Sekolah Dasar. 3, 84–96. Muh Idris. (2019). PENDIDIKAN KARAKTER : PERSPEKTIF ISLAM DAN THOMAS LICKONA. VII(September 2018). Nur Afni, J. (2020). PERANAN ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR ANAK Nur Afni, Jumahir. 108–139. Rahmadani, B. (2023). STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MEMBANGUN KARAKTER DISIPLIN DAN RELIGIUS SISWA. 5(4), 586–596. https://doi.org/10.19109/pairf.v5i4 ROHIMAH, S. (2021). PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM MENURUT TUAN GURU MANSUR. Sanjaya, P. (2018). PENTINGNYA SINERGITAS KELUARGA DENGAN SEKOLAH. 2(2). Sari, A. D., & Nurjati, I. S. (2021). Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Pada Peserta Didik. 7(1), 12–18. https://doi.org/10.31949/educatio.v7i1.693 SOLECHA, S. (2018). INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 PROBOLINGGO. November. Syouqina, R. D., Indonesia, U. P., & Barat, J. (2022). FUNGSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK. 10(2), 225–232. Wandi, A. (2020). Implementasi Program Keagamaan dalam Membentuk Karakter Disiplin Peserta Didik di SDIT Istiqomah Lembang. 05(01), 104–114. 90