ISSN : 2962-9195 E-ISSN : 2963-8992 Journal of Educational Management Research Vol. 01 No. : 82-94 Available online at https://serambi. org/index. php/jemr Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama di Sekolah: Perspektif Manajemen Pendidikan Islam Abdul Wahid*1. Rusdi Naemuddin2. Suhermanto3. Ali Wafa4 Universitas Nurul Jadid. Probolinggo. East Java. Indonesia Institut Agama Islam Negeri Ternate. Indonesia 1,3,4 Email: wahid124@gmail. ABSTRACT Keywords: Character. Commitment Internalization. Religious Values *Corresponding Author This paper aims to analyze the process of internalizing the values of religious education at Baddridduja Probolinggo Middle School Full Day School. This study uses a qualitative approach to the type of case study. The informants consisted of school principals, teachers, parents, and The research results show that. The process of internalizing religious values at Badridduja Fullday School is carried out through. People, namely building commitment, deepening the teacher's understanding of learning tools, broadening the teacher's religious insights, and integrating religious values in subjects, . Environment, namely familiarizing students with good deeds such as dhuha prayers in congregation, fardlu prayers, tadarus and habituation of noble morals such as charity, 4S culture (Smiles. Greetings. Greetings. Courtes. , and Tomato Culture (Please. Sorry and Thank Yo. , . Behavior, namely students can apply good deeds and noble character habits outside of school. The implication is. The formation of a religious character, . The lack of radical thoughts and attitudes from students. Article History: Received: 6 August 2022. Recieved in Revised Form 14 September 2022. Accepted: 21 November 2022. Available online: 27 December 2022 Please cite this article in APA style as: Wahid. Naemuddin. Suhermanto. , & Wafa. Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama di Sekolah: Perspektif Manajemen Pendidikan Islam. Journal of Educational Management Research, 1. , 82-94. PENDAHULUAN Internalisasi nilai-nilai pendidikan Agama bentuk dari upaya kearah pertumbuhan batiniah atau rohaniah peserta didik. Pertumbuhan itu terjadi ketika siswa menyadari suatu nilai yang terkandung dalam pengajaran agama dan kemudian nilai-nilai itu dijadikan suatu sistem nilai diri sehingga menuntut segenap pernyataan sikap, tingkah laku, dan perbuatan moralnya dalam menjalani kehidupan ini (Aziz, 2. Dalam rangka menyelamatkan dan memerkokoh aqidah Islamiyyah anak, pendidikan anak harus dilengkapi dengan pendidikan anak yang memadai (Ulwan, 2. Berdasarkan data Podes periode tahun 2011-2019 jumlah desa/kelurahan yang menjadi ajang kenakalan remaja khususnya siswa cenderung meningkat, dari sekitar 2. 500 desa pada tahun 2011 menjadi sekitar 800 desa/kelurahan pada tahun 2014, dan kembali meningkat menjadi sekitar Journal of Educational Management Research This journal is an open-access article under a CC BY-NC-SA 4. 0 license. A 2022, the author. 100 desa/kelurahan pada tahun 2019. Dari data di atas menunjukkan dari tahun ke tahun jumlah kenakalan siswa semakin meningkat. Melihat data di atas betapa banyak para siswa yang sekarang ini terlibat dalam tawuran pelajar, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pergaulan dan seks bebas, serta tindakan kriminal lain yang cukup berat seperti pencurian dan Fenomena semacam ini tidak bisa dilihat semata-mata dari sudut pandang keberagamaan dan moralitas, sebab terkait dengan beragam faktor yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Salah satu faktor yang cukup determinan pengaruhnya adalah arus perkembangan teknologi Di sinilah makna penting memaknai kembali pendidikan. Selama ini praktek pendidikan cenderung melupakan dimensi yang sangat mendasar dari pendidikan, yaitu memaksimalkan potensi manusia, membantu manusia untuk berkembang mencapai tingkat kesempurnaan setinggi-tingginya (Ngainun Naim, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru PAI di SMP Fullday School Badridduja Kraksaan Probolinggo tersebut di peroleh informasi bahwa perlunya ditanamkan nilai-nilai agama pada SMP tersebut guna mendidik siswa agar menjadi generasi Rabani yang berakidah, mantap dan berakhlak mulia (Busairi, 2. Persoalan atau tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan agama sebagai suatu mata pelajaran di sekolah ini adalah bagaimana agar dapat mengarahkan peserta didik untuk menjadi manusia yang benar-benar mempunyai kualitas keberagamaan yang kuat. Dengan demikian, materi pendidikan agama tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi dapat membentuk sikap dan kepribadian peserta didik sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertakwa dalam arti sesungguhnya, apalagi pada saat-saat seperti sekarang yang muncul gejala terjadinya pergeseran nilai-nilai yang ada sebagai akibat majunya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam prakteknya SMP Fullday School Badridduja Kraksaan Probolinggo terlihat sangat antusias dalam memaknai nilai-nilai agama atau melaksanakan pembiasaan amal sholeh dan akhlak mulia, hal seperti ini tampak dari ajaran tentang ketauhidan kepada siswa, ajaran shalat dhuha dan shalat wajib dengan membiasakannya berjamaAoah, serta kegiatan tadarus dan shodaqoh, pembiasaan 4S (Senyum, salam, sapa, santu. dan Tomat (Tolong. Maaf. Terima kasi. Dan bahkan kegiatan pembelajaran di SMP Fullday School Badridduja Kraksaan Probolinggo menerapkan sistem pendidikan sepanjang hari atau biasa disebut bahasa Inggris dengan Full-day School yaitu dimulai 00 hingga pukul 15. 30 (Akiduddin, 2. Dengan program ini seluruh aktivitas siswa mulai dari belajar, bermain, makan dan beribadah dikemas dalam suatu sistem pendidikan. Dengan adanya full-day school siswa memiliki banyak pengetahuan. Tersedianya waktu yang relatif lama di lingkungan sekolah. Memungkinkan terkontaminasi dengan lingkungan luar sekolah. Jelaslah bahwa perbedaan Journal of Educational Management Research Vol. 01 No. : 82-94 Available online at https://serambi. org/index. php/jemr pendidikan model full-day school dengan pendidikan pada umumnya yaitu ketika jam pelajaran telah selesai mereka menghabiskan waktunya di rumah. Hal tersebut kemudian menjadi hal baru yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang telah ada. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah pendekatan kualitatif dan jenis studi kasus. Sumber data dalam kasus penelitian ini bisa berupa susunan kata dan berupa tindakan yang diperoleh dari pihak informan yang memiliki kaitan erat dengan penelitian, selanjutnya data yang berupa dokumen atausumberyang tertulis lainnya ialah bagian dari data tambahan. Adapun yang menjadi sumber data atau informan dalam penelitian ini adalah: . Kepala sekolah SMP Full Day School Baddridduja Kraksaan Probolinggo, . Guru SMP Full Day School Baddridduja Kraksaan Probolinggo, . Wali murid SMP Full Day School Baddridduja Kraksaan Probolinggo, . Siswa SMP Full Day School Baddridduja Kraksaan Probolinggo. HASIL DAN PEMBAHASAN Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama di Full Day School Baddridduja Konsep internalisasi nilai-nilai Agama dalam penelitian ini mengadopsi pemikiran Albert Bandura, dimana dalam teorinya disebutkan terdapat tiga aspek yang berperan dalam penanaman nilai-nilai, diantaranya ialah people, environtment, behaviour. Ketiga aspek tersebut memiliki peran masing-masing yang saling terintegrasi, saling terkait sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan lagi. Adapun pelaksanaannya di lapangan yakni SMP Fullday School Badridduja Kraksaan Probolinggo ialah sebagai People People adalah seseorang yang berfungsi sebagai model acuan untuk menanamkan nilai. Dalam pembelajaran sosok ini bisa diwakili guru, teman sebaya, maupun tenaga pendidik lainnya. dimana guru bentindak sebagai panutan peserta didik mengenai pelaksanaan nilai-nilai yang ditanamkan. Proses ini bisa dilakukan dalam pembelajaran didalam kelas, dimana guru mendesain pembelajaran yang mengacu pada tujuan pembelajaran, dan dikuatkan oleh perilaku guru sebagai panutan. Membangun Komitmen Guru bagian dari organisasi sekolah oleh sebab itu, diharapkan memiliki komitmen terhadap organisasi sekolah. Komitmen organisasi tersebut ditampilkan ketika seorang guru melakukan tugas-tugas keguruannya dan juga tugasnya sebagai bagian organisasi sekolah. Seorang guru dikatakan profesional harus memiliki komitmen organisasi yang tinggi, dalam hal ini ditandai dengan keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi, menerima tujuan organisasi, dan berusaha keras untuk memajukan organisasi. Pentingnya seorang guru untuk memiliki komitmen Journal of Educational Management Research Vol. 01 No. : 82-94 Available online at https://serambi. org/index. php/jemr terhadap pekerjaannya. Komitmen terhadap tugas ditunjukkan seseorang melalui kecenderungan dan kesediaan untuk terlibat aktif dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dengan tanggungjawab yang tinggi (Naro, 2. Seorang guru yang memiliki komitmen tugas yang baik, akan berusaha melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik sampai Sebagai wujud komitmen tugas yang dimilikinya, seorang guru selalu terlibat dalam aktivitas-aktivitas di sekolah. Apabila komitmen guru rendah, maka proses pencapaian hasil pembelajaran peserta didik akan terganggu (Khairani, 2. Pembangunan komitmen dengan tenaga pengajar dan orang tua itu dilaksanakan dalam bentuk pertemuan-pertemuan guru dengan orang tua, hal ini sebagaimana disampaikan oleh Bapak Mohammad Akiduddin selaku Kepala Sekolah di SMP Full Day School Badridduja Kraksaan Probolinggo, sebagai berikut : AuKami sebagai penyelenggara pendidikan dan juga segenap guru harus memiliki komitmen yang tinggi untuk bisa menginternalisasi nilai-nilai Agama pada siswa selain itu juga akan berguna dalam membekali input disaat proses belajar mengajar agar menghasilkan lulusan yang berintelektual dan yang mampu mengembangkan diri. Komitmen yang dibangun di SMP Full Day School Badridduja Kraksaan Probolinggo ialah pertama melakukan pembangunan komitmen dengan para tenaga pengajar, kemudian baru kami membangun komitmen dengan orang tua. Komitmen yang kami bangun itu tidak lain tujuannya ialah agar kami mamu bertanggung jawab dalam melakukan tugas dan berupaya dengan sungguhsungguh memberikan pembelajaran guna internalisasi nilai-nilai Agama pada siswaAy(Akiduddin, 2. Memperdalam Pemahaman Perangkat Pembelajaran Perangkat pembelajaran yang diperlukan dalam mengelola proses belajar mengajar dapat berupa: silabus. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Lembar Kegiatan Siswa (LKS), modul. Kurangnya bimbingan dan pembinaan terhadap guru dapat menyebabkan guru melakukan kesalahankesalahan di dalam pembuatan perangkat pembelajaran. Hal ini juga dapat diartikan bahwa kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh guru pada saat pembuatan perangkat pembelajaran disebabkan oleh kurang adanya pembinaan dan minimnya pelatihan (Yurnalis, 2. Proses selanjutnya yang dilakukan ialah memberi kesempatan kepada tenaga pengajar di SMP Full Day School Badridduja untuk melakukan pendalaman komponen pembelajaran, seperti metode dan model pembelajaran yang inovatif dan lain sebagainya. Hal tersebut dilaksanakan dengan mengadakan workshop guru. Adapun materi yang disajikan dalam workshop tersebut diantaranya ialah tentang metode, model dan strategi Pemahaman tentang hal ini akan memberikan tuntutan kepada guru untuk dapat memilah, memilih, dan menetapkan dengan tepat metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran. Perlu Journal of Educational Management Research Vol. 01 No. : 82-94 Available online at https://serambi. org/index. php/jemr dipahami bahwa setiap pendekatan pembelajaran memiliki pandangan yang berbeda tentang konsepsi dan makna pembelajaran, pandangan tentang guru, dan pandangan tentang siswa, perbedaan inilah kemudian mengakibatkan strategi dan model pembelajaran yang dikembangkan menjadi berbeda juga, sehingga proses pembelajaran akan berbeda walaupun strategi pembelajaran sama. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah : AuEmm iya upaya selanjutnya dalam proses internalisasi nilai-nilai Agama di SMP Full Day School Badridduja ialah mengajak tenaga pengajar untuk memiliki pengetahuan tentang metode dan inovasi dalam memberikan pembelajaran melalui workshop yang diadakan dan mendatangkan pembicara yang sudah ahli dalam bidangnya, seperti itu. Hal tersebut tentu tujuannya ialah agar keberhasilan guru dalam memberikan materi pelajaran bisa berjalan dengan Karena begini, sekolah kami kan modelnya full day school jadi harus pandai-pandai mencari dan menggunakan jenis metode pembelajaran yang menyenangkan dan sekiranya anak-anak bisa mengikuti pembelajaran dengan senang dalam waktu yang cukup lamaAy(Akiduddin, 2. Disamping agar pembelajaran lebih menyenangkan adapun tujuan lain dari pemberian pemahaman lebih dalam kepada guru atau tenaga pengajar terkait komponen pembelajaran ialah supaya pembelajaran terkesan lebih inovatif. Hal ini sebagaimana di sampaikan oleh Bapak Ahmad Busairi dalam wawancaranya : AuIya betul pak, upaya sekolah agar penanaman nilai-nilai Agama lebih optimal itu mengadakan workshop sebagai penunjang agar proses pembelajaran di SMP Full Day Badridduja ini lebih inovatif dan update begitu. Jadi kan kalau sudah inovatif nih bisa membuat pembelajaran berlangsung lama dan juga anak-anak tidak bosan disituasi ituAy(Busairi, 2. Memperluas Wawasan Keagamaan Dalam posisi sebagai pentransfer ilmu, maka seyogyanya guru harus memiliki ilmu yang baik, harus menguasai ilmu sesuai dengan bidangnya. Untuk bisa menguasai ilmu sebagaimana bidangnya maka guru harus memperkaya ilmunya dengan banyak membaca buku, atau mengikuti perkembangan, baik melalui media-media cetak, seperti koran, maupun media elektronik. Dengan memperbanyak bacaan akan memperluas wacana, memperkaya pengetahuan mencerdaskan pikiran dan tentu pantas dan pas bagi seorang guru, yang dituntut memiliki kompetensi profesional, sebagaimana diuraikan dalam Undang-undang Guru dalam Undangundang tentang sistem pendidikan. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinnya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yangm ditetapkan. Dengan begitu tuntutan terhadap guru agar memaksimalkan penunaian tugasnya di sekolah melalui kegiatan pendidikan agama di satu sisi dan pada sisi lain diimbangi dengan Journal of Educational Management Research Vol. 01 No. : 82-94 Available online at https://serambi. org/index. php/jemr peningkatas pengetahuan dan wawasan mereka secara proporsional (Ely Manizar HM, 2. Adapun upaya yang dilakukan di SMP Full Day School Badridduja Kraksaan ialah dengan memperdalam wawasan keagamaan dengan meningkatkan membaca beragam literasi seperti majalah keagamaan seperti bulletin milik sidogiri atau liat tausiyah-tausiyah di youtube. Hal itu disampaikan oleh Bapak Tohari, dalam wawancaranya : AuSelaku tenaga pengajar, kami disini khususnya diri saya pribadi ya, selalu berusaha menambah wawasan baru baik tentang ilmu umum terlebih itu ilmu agama. Karena apa ? untuk dapat memberikan pemahaman kemudian menanamkan nilai-nilai Agama itu kepada siswa kita selaku tenaga pendidiknya terlebih dahulu sudah memiliki pengetahuan, pemahaman yang mendalam, nah sehingga kemudian agar lebih mudah prosesnya, kita contohkan, begini loh prakteknya begitu pakAy( Tohari, 2. Mengenai upaya memperluas wawasan keagamaan juga disampaikan oleh Bapak Ahmad Busairi, dalam wawancaranya ialah : AuIya pak betul kami disini juga dituntut untuk memiliki wawasan keagamaan yang cukup memadai guna menunjang proses penanaman nilai nilai keagamaan itu. Kalo saya pribadi baca-baca buku biasanya seperti majalah keagamaan seperti bulletin milik sidogiri atau liat tausiyah-tausiyah di youtube, gitu pakAy. Integrasi Nilai Agama dalam Mata Pelajaran Pembelajaran Integrasi sebagai suatu konsep merupakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. Bermakna artinya dalam pembelajaran terpadu siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep-konsep lain yang mereka pahami (Busairi, 2. Pembelajaran integrasi secara efektif akan membantu menciptakan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk melihat dan membangun konsep-konsep yang saling berkaitan. Pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain yang dilakukan secara spontan atau direncanakan, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar peserta didik maka pembelajaran menjadi lebih bermakna. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, anak akan memahami konsep yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami anak melalui kesempatannya mempelajari apa yang berhubungan pembelajaran terpadu, anak akan memahami konsep yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami anak melalui kesempatannya mempelajari apa yang berhubungan dengan tema atau peristiwa otentik . Dalam pembelajaran semacam itu, anak diharapkan selalu mendapatkan kesempatan untuk terlibat secara aktif Journal of Educational Management Research Vol. 01 No. : 82-94 Available online at https://serambi. org/index. php/jemr sesuai dengan aspirasi dan minatnya, dimana dalam pembelajaran terpadu sangat menghargai keragaman. Melalui pembelajaran terintegrasi diharapkan para siswa memperoleh pengetahuan secara menyeluruh dengan cara mengaitkan satu pelajaran dengan pelajaran yang lain (E. Sumantri, 1. Pelaksanaan pendidikan agama Islam di SMP FullDay School Badridduja Kraksaan tidak hanya disampaikan secara formal dalam suatu proses pembelajaran oleh guru agama, namun juga dilakukan di luar proses pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Guru bisa memberikan pendidikan agama ketika menghadapi sikap atau perilaku peserta didik. Pendidikan agama merupakan tugas dan tanggung jawab bersama semua Artinya bukan hanya tugas dan tanggung jawab guru agama saja melainkan juga guru-guru bidang studi lainnya. Guru-guru bidang studi itu bisa menyisipkan pendidikan agama ketika memberikan pelajaran bidang Dari hasil pendidikan agama yang dilakukan secara bersama-sama ini, dapat membentuk pengetahuan, sikap, perilaku, dan pengalaman keagamaan yang baik dan benar. Peserta didik akan mempunyai akhlak mulia, perilaku jujur, disiplin, dan semangat keagamaan sehingga menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas dirinya. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Bapak Ahmad Busairi dalam wawancaranya : AuIntegrasi nilai-nilai agama dalam setiap mata pelajaran umum mungkin sudah bukan hal yang tabu lagi kan ya pak, karena hal ini merupakan ee implementasi dari kurikulum k-13. Dan mungkin juga hampir seluruh lembaga pendidikan atau sekolah itu Hal itu juga merupakan bagian dari upaya kami disini dalam menginternalisasi nilai-nilai agama. Misalkan dalam pelajaran IPA disebuah materi akan dikaitkan dengan agama, hal ini kami anggap efektif dalam proses internalisasi nilai-nilai agama. Dengan begitu para siswa akan semakin mudah mengingat nilai-nilai agama karena kan disetiap mata pelajaran selalu berkaitan dengan itu gitu pakAy. Environtmen Environment adalah lingkungan belajar. Lingkungan belajar dimana dalam ruang itu siswa mampu menangkap pengetahuan dan merubahnya menjadi sebagai pengalaman dalam bertingkah laku. Guna mengoptimalkan peran lingkungan maka haruslah didesain mampu mendukung proses belajar peserta didik, dengan lingkungan yang sinergi dengan tujuan pembelajaran, maka akan mendukung proses internalisasi nilai yang berlangsung. Pembiasaan Amal Sholeh Pembiasaan amal merupakan salah satu wujud dari teori yang telah diberikan sebelumnya kepada siswa SMP Badridduja. Sehingga kemudian siswa tidak hanya sekedar memahami akan tetapi juga mengalami. Amal sholeh adalah perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi sesama, yang dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah dan contoh Rasul-Nya. Journal of Educational Management Research Vol. 01 No. : 82-94 Available online at https://serambi. org/index. php/jemr Adapun pembiasaan dalam hal ini ada pembiasaan sholat dhuha dan sholat fardlu berjamaAoah. Tujuan dari pemiasaan tersebut tidak lain ialah juga berkaitan dengan internalisasi nilai-nilai agama di SMP FulDay Badridduja Kraksaan. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Bapak Mohammad Akiduddin dalam wawancaranya sebagai berikut : AuOh iya untuk pembiasaan pengamalan dari teorinya dalam hal ini teori agama ya, diimplementasikan ke pembiasaan sholat dhuha dan sholat berjamaAoah dzuhur dan ashar. Tujuannya ya mengarah pada internalisasi nilai-nilai agama juga. Mengapa demikian ? iya agar siswa itu memahami nilai-nilai apa saja yang dapat dipelajari dalam pembiasaan sholat dhuha dan berjama'ah. Misalkan mereka mau berkorban, berbagi, dan taat pada tuntunan agama, selalu menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakannya, dengan cara selalu beramal saleh dan berlomba-lomba untuk kebenaran serta kesabaran, seperti itu pakAy. Sholat Dluha Dunia pendidikan Islam mempunyai banyak tujuan yang hendak dicapai, termasuk dalam menumbuhkan perilaku akhlak mulia pada peserta didik. Dengan itu, saat ini di sekolah banyak sudah diterapkan pembiasaan shalat dhuha bagi para peserta didik yang biasanya dilakukan sebelum pembelajaran dimulai. Dan dengan pembiasaan shalat dhuha ini seharusnya peserta didik mampu memahami makna dari shalat dhuha tersebut, salah satunya dalam pembinaan akhlak yang mulia pada diri peserta didik masing-masing. Shalat dhuha takkan terasa manfaatnya jika tidak dilaksanakan secara rutin dan ikhlas. Kegiatan shalat dhuha sebaiknya dilaksanakan sedini mungkin agar seseorang tidak terjerumus pada arus globalisasi yang semakin hari semakin mempengaruhi generasi muda saat ini. penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran siswa akan pentingnya shalat dhuha sudah banyak yang menyadari walaupun pada awalnya mereka melaksanakan shalat dhuha karena terpaksa namun lama-lama mereka terbiasa melakukan kegiatan ini. Pengamalan nilai-nilai yang ditargetkan juga dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari siswa baik dalam keseharian di kelas, dalam berorganisasi maupun dirumah (Indah Suci Sapitri, 2. Selain proses internalisasi nilai-nilai agama didalamnya terdapat juga proses pengembangan karakter religius dan disiplin salah satunya dilakukan melalui kegiatan pembiasaan shalat dhuha berjamaah yang dilaksanakan pada waktu sebelum istirahat pertama setiap hari senin s/d sabtu yang dilaksanakan oleh kelas satu s/d tiga di aula SMP FullDay Scholl Badridduja Kraksaan, tepatnya di mulai sekitar pada 00 WIB. Sholat Fardlu BerjamaAoah Pendidikan agama islam snantiasa mengingatkan agar anak-anak segera dibiasakan dengan sesuatu yang diharapkan menjadi kebiasaan Journal of Educational Management Research Vol. 01 No. : 82-94 Available online at https://serambi. org/index. php/jemr yang baik sebelum terlanjur mempunyai kebiasaan lain yang berlawanan Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaankebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positf dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu . Selain itu arti tepat dan positif di atas ialah selaras dengan norma dan tat nilai moral yang berlaku baik yang bersifat religious maupun tradisional dan kultural (Aisyahnur Nasution, 2. Pembiasaan sholat fardlu dzuhur dan ashar di SMP FullDay School Badridduja biasanya di pimpin oleh kepala sekolah dan jika berhalangan akan digantikan dengan guru-guru yang lain. Adapun harapan yang diinginkan dari pembiasaan ini ialah agar siswa mampu membiasakan diri berjamaah ketika tidak sedang disekolah. Kegiatan yang paling ditekankan oleh pihak sekolah adalah shalat berjamaah mengapa demikian hal ini dijelaskan dengan teori behaviorisme, yaitu sebelum melangkah dalam penjelasan teori behaviorisme akan lebihgbaiknya kita memahami apa ituyang dimaksud teori behaviorisme. Teori ini dapat dijelaskan secara singkat dalam hal pendidikan yaitu segala tingkah laku manusia menjadi suatu perilaku yang didalamnya adanya stimulus dan respon dan dilakukan secara terus menerus dan menjadi suatu kebiasaan (Siti Nuraeni and Aceng Jaelani, 2. Menurut teori behaviorisme apa yang terjadi diantara stimulus dan respon itu tidak penting dan yang terpenting adalah stimulus san responnya oleh karena itu adanya aturan sekolah yang mewajibkan hal tersebut dan himbauan dari giuruguruuntuk melaksanakan kegiatan tersebut dalam hal ini dikategrikan sebagai stimulus dan adanya realisasi peserrta didik mengikuti atau melaksanakan kegiatan tesebutr secara bersama-sama dikategorikan sebagai respon dalam hal ini yang perlu diamati adalah aturan, himbauan dan pelaksanaan kegiatan shalat berjamaah karena inilah yang terpenting dari teori behaviorisme (Satriani, 2. Tadarus Proses pembelajaran di SMP FullDay School Badridduja menggunakan pembiasaan positif. Dengan demikian, peserta didik nyaman dalam belajar karena materi disampaikan dengan cara menyenangkan dan tidak membuat peserta didik bosan belajar. Peserta didik juga selalu dibiasakan dengan melakukan hal-hal yang positif mulai dari awal masuk sampai jam pelajaran berakhir, hal ini dilakukan secara terus menerus setiap hari sehingga menjadikebiasaan bagi peserta didik yang diharapkan akan terus melekat dalam jiwa dan dibawa sepanjang Pilihan kegiatan pada tadarus tersebut bukan karena kegiatan yang lain tidak penting dan kurang mendukung terhadap pembentukan Journal of Educational Management Research Vol. 01 No. : 82-94 Available online at https://serambi. org/index. php/jemr akhlak. Akan tetapi, lebih didasarkan pada kedudukan al-Qur`an sebagai pedoman uma Islam dalam segala hal baik untuk dunia maupun untuk Al-Qur`an mempunyai tujuan membentuk manusia yang berakhlak luhur, yang bersih perasaannya dan baik perilakunya. AlQur`an datang tidak lain mambawa suatu manhaj akhlak yang sempurna yang mencangkup segala sesuatu yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan (Zuhri, 2. Pembiasaan tadarus di SMP FullDay School Badridduja merupakan kebijakan dari sekolah. Sebuah kebijakan organisasi akan dapat efektif harus didukung oleh semua guru dan siswa atau warga sekolah. Guru SMP FullDay School Badridduja sebagaimana dijelaskan di atas delapan puluh persen berperan aktif, artinya guru lain yang tidak berperan aktif bukan berarti tidak mendukung. Keaktifan guru-guru tersebut dibuktikan dengan peran aktif mereka dalam menjalankan program tersebut. Guru bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pembimbing, artinya bagaimana siswa kelak menjadi anak yang mempunyai akhlak yang mulya . khlakul al karima. sudah dianggap sebagai tugas dan fungsi sebagai pendidik. Kesadaran sebagai pendidik inilah yang mendorong mereka untuk berperan aktif dan mendukung bahkan melaksanakan pembiasaan tadarus setiap pagi di SMP FullDay School Badridduja, baik sebagai pengawas, pendamping dan pembimbing. Dalam konteks ini, guru sudah memerankan sebagai suri teladan bagi siswa dalam praktek Sebagaimana dipahami bahwa pada dasarnya, kebutuhan manusia akan figur teladan bersumber dari kecenderungan meniru yang sudah menjadi karakter manusia. Peniruan bersumber dari kondisi mental seseorang yang senantiasa merasa bahwa dirinya berada dalam perasaan yang sama dengan kelompok lain . sehingga dalam peniruan ini, anak-anak lebih cenderung meniru orang dewasa, yang lemah cenderung meniru yang kuat, yang bodoh cenderung meniru yang pandai. Adapun pelaksanaan pembiasaan tadarus Al-Quran yang dilaksanakan oleh siswa SMP FullDay School Badridduja Kraksaan yang didampingi oleh wali kelas masing-masing. Dilaksanakan setelah shalat duhur sampai jam 14. 00 WIB dan untuk hari pelaksanaan dimulai dari hari senin sampai hari kamis. Teknis pelaksanaan pertama, seluruh peserta didik membaca secara bersama-sama kemudian dilanjutkan dengan mengetes satu persatu dari siswa dengan lama waktu dua sampai tiga menit adapun tujuannya untuk mengetahui kemampuan siswa yang kemudian secara langsung dibenarkan ketika terjadi kesalahan. Bapak Mohammad Akiduddin dalam wawancaranya mengatakan bahwa dalam upaya internalisasi nilai-nilai keagamaan pada siswanya, salah satunya yaitu melalui kegiatan pembiasaan tadarus Al-Quran. Pembiasaan Akhlak Mulia Akhlak yang mulia mengandung konotasi pengaturan hubungan yang baik antara hamba dengan Allah, dengan sesamanya. dan dengan Journal of Educational Management Research Vol. 01 No. : 82-94 Available online at https://serambi. org/index. php/jemr makhluk lainnya. Menurut Al-Darraz pembiasaan dalam akhlak mulia dilakukan melalui cara memberi materi pendidikan akhlak berupa : pensucian jiwa, kejujuran dan benar, menguasai hawa nafsu, sifat lemah lembut dan rendah hati, berhati-hati dalam mengambil keputusan, menjauhi buruk sangka, mantap dan sabar, menjadi teladan yang baik, beramal saleh dan berlomba-lomba berbuat baik, menjaga diri . , ikhlas, hidup sederhana, pintar mendengar dan kemudian mengikutinya . ang bai. (Devi Arisanti, 2. Pembiasaan Akhlak Mulia itu hal yang dilakukan oleh pendidik di setiap lembaga pendidikan baik rumah tangga, sekolah, dan masyarakat yang secara rutin dan berkelanjutan dalam membangun karakter . haracter buildin. keagamaan dan akhlak mulia peserta didik, sebagai proses internalisasi nilai-nilai keagamaan agar peserta didik terbiasa berbicara, bersikap, dan berperilaku terpuji dalam kehidupan keseharian. Melalui kegiatan pembiasaan, diharapkan peserta didik memiliki karakter dan prilaku terpuji baik dalam komunitas kehidupan di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat. Berbagai kegiatan pembiasaan akhlak mulia yang dapat dilakukan di lingkungan anak dimana berada, baik di sekolah, rumah tangga, dan di dalam masyarakat, seyogyanya semuanya seharusnya menciptakan budaya agamis, mulai dari penampilan profil fisik sampai kepada situasi kehidupan antar sesama orang tua, sesama guru, sesama murid, guru dengan murid, dengan pengasuh, pegawai, juga dengan lingkungan, dan seterusnya (Rosniati Hakim, 2. Adapun akhlak mulia yang dibiasakan di SMP Fullday School Badridduja Kraksaan diantaranya ialah shodaqoh, 4S (Senyum. Salam. Sapa. Santu. Tomat (Tolong, maaf, dan Behavior Behaviour adalah hasil dari proses internalisasi, behaviour dimaknai secara luas bisa bermakna perilaku, maupun cara pandang. Tentunya perilaku dan cara pandang ini bergantung dari hasil pembelajaran dan pembiasan dilingkungan belajar. Dalam hal ini dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan baik tentu orang tua dan para pendidik berharap dapat selalu diterapkan dalam kehidupannya baik saat berada di sekolah, maupun saat berada diluar lingkungan sekolah. SMP Full Day School Badridduja Kraksaan dalam menanamkan nilai-nilai Agama salah satunya ialah dapat dilihat dari pembiasaan atau tingkah laku ketika siswa berada dirumah. Mampu menerapkan pembiasaan di luar sekolah Keadaan manusia bergantung pada jawaban asalnya terhadap naluri tertentu, sehingga terbentuk kemauan yang melahirkan tindakan. Akal dapat mendesak naluri, sehingga keinginan hanya merupakan riak saja. Akal dapat mengendalikan naluri sehingga terwujudnya perbuatan yang diputuskan oleh akal. Hubungan naluri dan akal memberikan kemauan, kemauan melahirkan tingkah laku perbuatan menentukan nasib seseorang. Journal of Educational Management Research Vol. 01 No. : 82-94 Available online at https://serambi. org/index. php/jemr Naluri yang ada pada diri seseorang adalah takdir tuhan (Jalaluddin Said Usman. Begitu yang diperoleh dari proses melalui pembiasaan-pembiasaan di sekolah, sehingga siswa SMP Full Day School Badrridduja Kraksaan sedikit banyak bias mengimplementasikannya di rumah atau di luar sekolah. Hal ini dikarenakan dilakukan secara berulang-ulang sehingga ada kemauan atau dorongan yang mengendalikan akalnya untuk tetap bersikap demikian. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Bapak Ahmad Busairi dalam wawancaranya sebagai berikut : AuSetelah beberapa proses itu dilakukan selama disekolah, kita dapat melihat program itu berhasil atau tidak dalam menanamkan nilai-nilai Agama kepada siswa ketika siswa berada di rumah. Ketika sudah berada dirumah tentunya dia akan merasa sudah tidak ada yang mengawasi seperti di sekolah. Pihak sekolah kemudian bekerjasama dengan pihak orang tua dirumah untuk mengontrol kegiatan siswa selama dirumah, hal tersebut kemudian dilaporkan melalui blanko atau table kepada wali kelas masing-masingAy. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai internalisasi nilai-nilai pendidikan Agama pada lembaga pendidikan model full day school SMP Baddridduja Kraksaan Probolinggo, maka dapat disimpulkan bahwasannya proses penginternalisasiannya melalui 3 fase, yaitu : pertama. People, yang berfungsi sebagai model acuan untuk menanamkan nilai. Adapun pelasksanaannya di SMP FullDay School Baddridduja Kraksaan Probolinggo ialah dengan membangun Komitmen, memperdalam pemahaman guru mengenai perangkat pembelajaran, memperluas wawasan keagamaan guru, dan integrasi nilai-nilai Agama dalam mata pelajaran. Kedua. Environment adalah lingkungan belajar dimana dalam ruang itu siswa mampu menangkap pengetahuan dan merubahnya menjadi sebagai pengalaman dalam bertingkah Adapun pelasksanaannya di SMP Full Day School Baddridduja Kraksaan Probolinggo ialah dengan membiasakan siswa dengan amal sholeh seperti sholat dhuha berjamaah dan akhlak mulia seperti shodaqoh dan lain lain. Ketiga. Behaviour adalah hasil dari proses internalisasi, behaviour dimaknai secara luas bisa bermakna perilaku, maupun cara pandang. Adapun yang ada di SMP FullDay School Baddridduja Kraksaan Probolinggo. ialah siswa bias menerapkan pembiasaan-pembiasaan tersebut di luar sekolah artinya hal itu sudah bias menjadi habit dalam diri siswa SMP Fullday School Baddridduja Kraksaan Probolinggo Journal of Educational Management Research Vol. 01 No. : 82-94 Available online at https://serambi. org/index. php/jemr DAFTAR PUSTAKA