AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Peningkatan Produksi Susu di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang Jawa Timur Rahmah Farahdita Soeyatno1. Sucayono2 Universitas Pamulang. Indonesia dosen01418@unpam. id1, dosen02782@unpam. Submitted: 05th June 2025 | Edited: 26th August 2025 | Issued: 01st September 2025 Cited on: Soeyatno. , & Sucayono. Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Peningkatan Produksi Susu di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang Jawa Timur. AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis, 5. , 16651680. ABSTRACT The national dairy cattle industry from 2005 to 2011 experienced low productivity and fluctuating production. Over 90% of the business is dominated by small-scale, traditional farms, which are generally inefficient. Farmers face significant limitations in production capacity, management, and technological maintenance. These challenges directly impact their income, which is influenced by resource costs and business operations. Pujon Subdistrict in East Java, a major dairy production center, has the potential to improve farmersAo welfare through enhanced dairy income. This study aims to analyze the factors influencing milk production among dairy farmers. A quantitative approach was used, employing multiple linear regression analysis based on the Cobb-Douglas production Research was conducted in Pandesari Village. Pujon Sub-district. Malang, from September 2012 to January 2013. A total of 36 farmers and 103 dairy cows were surveyed using purposive sampling. Data collection methods included interviews, observations, questionnaires, and literature reviews. Variables analyzed were feed, lactation, artificial insemination, labor, and training. The results showed that farm management was generally effective. The model estimated an RA value of 86. 5%, indicating that feed concentrate, forage, labor, and cassava waste significantly influenced milk production, under constant returns to scale. The SAE Pujon Cooperative is encouraged to enhance farmer training to improve milk quality. Keywords: Dairy Productivity. Small-Scale Farming. Cobb-Douglas. Milk Production. Farmer Training PENDAHULUAN Menurut Kementerian Pertanian . , sub sektor peternakan menyumbangkan 4,23 persen dari jumlah total Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian secara PDB sektor peternakan jauh lebih unggul dibandingkan dengan sektor lain seperti perkebun yang masih tergolong sektor yang memiliki rata-rata yang kecil (Pertanian, 2. Kontribusi sektor peternakan mengalami tren yang terus meningkat pada periode tahun 2009 sampai 2011. Hal ini diperkirakan akan terus meningkat karena pentingnya peranan sektor peternakan bagi masyarakat, seperti dalam pemenuhan AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 kebutuhan protein hewani (Pertanian, 2. Salah satu dari sub sektor peternakan yang memiliki kontribusi besar dan berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia adalah hasil peternakan sapi perah berupa susu sapi. Usaha pengembangan peternakan Provinsi Jawa Timur masih bertahan baik di Indonesia karena memiliki populasi cukup besar. Pada tahun 2012 Provinsi Jawa Timur telah memberikan kontribusi sebesar 56 persen terhadap produksi susu nasional dengan komposisi usaha sapi perah rakyat berjumlah 49,80 persen (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian 2. Jika ditinjau dari konsumsi susu di Kabupaten Malang pada tahun 2007 adalah 4,89 kg per kapita per tahun dan tahun 2011 adalah 6,00 kg per kapita per tahun,dimana mengalami kenaikan rata-rata per tahun 80 persen. Sedangkan peningkatan produksi susu yang hanya mencapai 44,80 persen, karena sebagian besar atau lebih dari 90 persen merupakan peternakan rakyat dengan skala kecil dengan pemeliharaan secara tradisional, dan diduga belum efisien, sehingga produksi dan produktivitas rendah (Ditjen Peternakan Kabupaten Malang 2. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa tingkat kenaikan produksi sapi perah lebih kecil dari pada tingkat kenaikan konsumsi susu. Kondisi ini menggambarkan bahwa peternak dihadapkan pada keterbatasan faktor produksi, manajemen, dan teknologi pemeliharaan yang sederhana. Keterbatasan faktor produksi seperti skala kepemilikan sapi perah yang produktif akan memengaruhi jumlah produksi susu uang dihasilkan (Pertanian, 2. Kecamatan Pujon merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Malang yang memiliki potensi ketersediaan dan tingkat konsumsi produk susu terbesar. Hal ini disebabkan jumlah peternak dan kepemilikan ternak sapi perah yang dimiliki oleh petani peternak di Kecamatan Pujon cukup tinggi (Tahunan, 2. Tahun Tabel 1. Populasi dan produksi susu sapi perah di Kecamatan Pujon Populasi Sapi Perah (Eko. Produksi Susu (Lite. Sumber: Laporan Tahunan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang, 2012 Pada tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah populasi sapi perah di Kecamatan Pujon mengalami peningkatan setiap tahun, namun pada tahun 2011 populasi dan produksi susu sapi perah yang dihasilkan terjadi penurunan yaitu menjadi sebesar 25. 325 ekor dan AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 000 liter (Hewan, 2. Hal ini diduga karena masa laktasi sapi yang pelihara oleh peternak kurang produktif yakni hanya tujuh bulan, sehingga nanti akan berpengaruh terhadap tingkat produktivitas sapi dan keberhasilan akan pengembangan usaha ternak Sapi perah di wilayah tropis umumnya memiliki performa produksi yang lebih rendah dibandingkan sapi di wilayah beriklim sedang, terutama akibat stres panas dan manajemen pakan yang kurang optimal (Barret MA, 1. Field et al. menyatakan bahwa sapi FH mempunyai masa laktasi yang lebih panjang dari rata-rata . akan mempunyai produksi susu yang lebih baik dan mencapai puncak produksi (Field TG, 2. Peternak yang menerapkan kombinasi ras sapi perah tropis dengan ras unggul seperti Holstein-Friesian mampu meningkatkan produksi susu harian hingga 40Ae 60% lebih tinggi dibandingkan sapi lokal murni (Barret MA, 1. Melalui hasil penelitian ini dapat diketahui apakah usaha peternakan sapi perah yang dilakukan di Kecamatan Pujon efisien atau tidak untuk dijalankan. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dibuat suatu rumusan tujuan penelitian, yaitu: menganalisis faktor-faktor apa saja yang memengaruhi produksi susu di Kecamatan Pujon. LANDASAN TEORI Produktivitas susu sapi perah sangat dipengaruhi oleh manajemen pakan dan kualitas nutrisi yang diberikan kepada ternak. Pakan yang seimbang antara konsentrat dan hijauan menjadi faktor utama dalam meningkatkan produksi susu. Penelitian di Boyolali menunjukkan bahwa biaya pakan, baik hijauan maupun konsentrat, secara signifikan memengaruhi produktivitas susu meskipun hanya menjelaskan sebagian kecil dari variasi total, karena faktor lain seperti manajemen kesehatan dan lingkungan juga berperan (Khayati et al. , 2. Di samping itu, pemanfaatan limbah pertanian seperti onggok singkong atau high-quality feed block secara tepat telah terbukti meningkatkan produksi dan kualitas susu pada peternakan skala kecil (Sutawi et al. , 2. Iklim tropis seperti di Indonesia menimbulkan tantangan tersendiri, terutama terkait stres panas yang berdampak negatif terhadap performa laktasi sapi perah jenis FH (Friesian Holstei. Sapi yang terpapar suhu dan kelembapan tinggi mengalami penurunan konsumsi pakan dan efisiensi metabolisme, yang berujung pada menurunnya produksi susu. Sebuah studi menyebutkan bahwa suhu wet-bulb di atas 26AC dapat menurunkan produksi susu harian sebesar 0,5% dan dampaknya dapat bertahan hingga AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 10 hari (Palandri et al. , 2. Penyesuaian lingkungan kandang dan strategi manajemen mikroklimat menjadi penting untuk mengurangi efek stres panas. Selain itu, pendidikan dan pelatihan kepada peternak memiliki pengaruh yang besar dalam meningkatkan hasil produksi. Rendahnya pemahaman peternak terhadap kualitas susu, seperti parameter jumlah bakteri total (TPC) dan somatic cell count (SCC), menyebabkan lemahnya penerapan praktik kebersihan dan manajemen kesehatan ternak. Program penyuluhan dan pendampingan yang dilakukan oleh koperasi peternak terbukti mampu meningkatkan kesadaran serta keterampilan peternak dalam menghasilkan susu berkualitas tinggi (Mosalagae et al. , 2. Pelatihan ini secara tidak langsung berdampak positif terhadap produktivitas karena peternak lebih memahami aspek teknis dalam beternak sapi perah. Faktor sosial-ekonomi dan kelembagaan juga memainkan peran penting dalam mendorong peningkatan produktivitas. Tingkat pendidikan peternak, pengalaman, serta partisipasi dalam kegiatan koperasi menjadi penentu produktivitas tenaga kerja dalam usaha ternak sapi perah. Penelitian di Kediri menunjukkan bahwa produktivitas meningkat jika peternak memiliki latar belakang pendidikan yang lebih tinggi dan terlibat aktif dalam agribisnis, sedangkan pekerjaan di luar sektor peternakan cenderung mengurangi efisiensi tenaga kerja (Nugroho et al. , 2. Sementara itu, di Jawa Tengah ditemukan bahwa faktor teknis, sosial, ekonomi, dan kelembagaan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produksi dan pendapatan peternak (Mukson et al. , 2. Dengan demikian, peningkatan produksi susu tidak hanya bergantung pada aspek teknis semata, tetapi juga pada dukungan kelembagaan dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Desa Pandesari Kecamatan Pujon. Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Waktu penelitian dilaksanakan selama bulan September 2012Januari 2013. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh langsung dari para peternak yang mengusahakan ternak sapi perah dengan pengamatan langsung di lapangan, wawancara, dan pengisian kuisioner. Data sekunder diperoleh dari studi literatur. Direktorat Jendral Peternakan. Badan Pusat Statistik (BPS), informasi dari dinas peternakan terkait (Timur, 2. Proses pengambilan sampel AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 responden dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu dengan pertimbangan dari ketua kelompok ternak bahwa responden dianggap sesuai karena tidak semua peternak dalam kelompok memiliki pengalaman atau pengetahuan yang sama, serta untuk memastikan bahwa informasi yang dikumpulkan bersifat mendalam dan sesuai kebutuhan Peneliti membutuhkan informan yang memahami kondisi teknis dan manajerial peternakan, seperti penggunaan pakan, penanganan kesehatan ternak, serta aspek produksi dan pemasaran susu. Jumlah peternak sebanyak 36 orang dengan jumlah kepemilikan sapi sebesar 103 ekor (Peternakan, 2. Ukuran sampel ini dianggap memadai untuk menggambarkan kondisi kelompok ternak secara kualitatif dan untuk mendukung analisis deskriptif yang diperlukan dalam studi ini. Menurut Sugiyono . , analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode Metode analisis data yang digunakan adalah analisis pendapatan dengan menggunakan software excel 2010 dan analisis fungsi produksi dengan Cobb Douglas SPSS 16. Cobb Douglas digunakan untuk menghitung besarnya pengaruh secara kuantitatif dari suatu perubahan kejadian variabel X terhadap kejadian lainnya . ariabel Y). Selain itu, digunakan juga pengujian hipotesis yang terdiri atas analisis koefisien determinasi, uji F, dan uji t statistik. Semua pengolahan data input-output produksi akan diolah dengan alat program SPSS 16 (Sugiyono, 2. Menurut Beattie et al. , faktor produksi dianalisis dengan model pendekatan teknik ekonometri menggunakan analisis regresi linier berganda model fungsi produksi Cobb Dauglass . ower functio. (Beattie BR, 1. Model fungsi produksi terdapat dua variabel, yaitu variabel dependen dan variabel independen. Variabel dependen adalah produksi susu, sedangkan variabel independen terdiri jumlah pakan kosentrat, jumlah pakan hijauan, masa laktasi sapi, periode inseminasi buatan, tenaga kerja (HOK), periode inseminasi buatan, gamblong, selang beranak, dan pelatihan yang diikuti. Model persamaannya adalah sebagai berikut : Ln Y = bo b1 ln X1 b2 lnX2 b3 lnX3 b4 lnX4 b5 lnX5 E Keterangan : : Jumlah produksi susu segar . iter/masa laktasi/eko. : Konstanta : Jumlah pakan kosentrat . g/masa laktasi/eko. : Jumlah pakan hijauan . g/masa laktasi/eko. : Jumlah tenaga kerja (HOK/masa laktasi/eko. AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 b1, b2, b3, b4 E-ISSN 2774-8863 : Jumlah gamblong . g/masa laktasi/eko. : Koefisien regresi parsial X1. X2. X3. X4 : Standard Errors HASIL PENELITIAN Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Produksi Susu Jumlah penggunaan faktor produksi variabel tergantung pada tingkat produksinya. Semakin besar tingkat produksi, maka semakin banyak faktor input produksi variabel yang digunakan. Skala hasil adalah derajat sejauh mana output berubah akibat perubahan tertentu dalam kuantitas semua input yang dipakai dalam produksi (D, 2. dan menghasilkan skala hasil konstan . onstant return to scal. Skala hasil konstan merupakan skala yang digunakan dalam fungsi Cobb Douglas yaitu berupa pelipatgandaan faktor produksi menambah output sebanyak dua kali lipat juga, fungsi produksi memiliki karakter skala hasil konstan. Jika semua faktor produksi dinaikkan dengan proporsi tertentu, maka output yang dihasilkan akan meningkat dengan proporsi hampir sama. Produksi susu ditentukan oleh penggunaan input-input faktor produksi baik pakan utama, pakan tambahan, dan tenaga kerja. Analisis fungsi produksi menggambarkan hubungan output produksi dengan inputinputnya. Metode OLS (Ordinary Least Squar. dilakukan terlebih dahulu untuk menguji apakah terdapat pelanggaran asumsi atau tidak . ormalitas, multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskeastisita. Jika dalam variabel ditemukan nilai koefisien yang negatif sebaiknya dihindari dan supaya relevan dengan analisis ekonomi, maka nilai koefisien fungsi produksi harus positif. Hal ini berlaku asumsi bahwa penggunaan fungsi Cobb Douglas adalah dalam keadaan The Law of Diminishing Return. Tabel 2. Hasil Analisis Regresi Variabel Koefisien Regresi T- Hitung *** Konstanta 3,93 5,33 Kosentrat 0,30*** 3,71 *** Hijauan 0,10 0,89 Tenaga kerja 0,05 1,81 *** Gamblong 0,46 6,01 R Square 0,86 F Ratio 156,42 Sumber: Hasil olah data SPSS, 2024 P-Value 0,00 0,00 0,01 0,17 0,00 ,00a Berdasarkan Tabel 2 hasil pendugaan fungsi tersebut menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi R2 sebesar 0,865. Nilai tersebut memiliki arti bahwa 86,50 persen AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 keragaman dari variabel tak bebas atau dependent yaitu produksi susu sapi dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh variabelAevariabel bebas atau independent yaitu jumlah konsentrat, hijauan, tenaga kerja, dan gamblong yang digunakan dalam model, sedangkan sisanya sebesar 13,50 persen dijelaskan oleh faktorAefaktor lain di luar model. Berdasarkan Uji-F menunjukkan nilai F hitung . lebih besar daripada F Tabel 0,05 . Hal ini menjelaskan variabel yaitu pakan konsentrat, pakan hijauan, tenga kerja, dan pakan gamblong secara bersama-sama berpengaruh secara nyata terhadap produksi susu, yaitu dengan taraf signifikan 0,00 dan taraf kepercayaan 95 persen. Analisis ini dilakukan dengan memperhitungkan faktorAefaktor yang memengaruhi peningkatan produksi susu sapi perah. Hubungan teknis antara produksi yang dihasilkan per satuan waktu . anjang masa laktasi per ekor sap. Faktor-faktor produksi digunakan tanpa memperhatikan harga-harga baik harga faktor produksi maupun produksi disebut fungsi produksi. Hubungan antara produksi susu sapi dengan input produksi dan sarana penunjangnya disebut sebagai suatu fungsi produksi. Informasi yang diperoleh dari faktor input dapat dipakai untuk menganalisis nilai elastisitas, agar setiap penambahan input dapat menghasilkan tambahan output yang lebih besar. Variabel independen faktor-faktor produksi yang digunakan dalam usaha ternak sapi perah terdiri dari pakan konsentrat, pakan hijauan, tenaga kerja dan pakan gamblong. Hasil dari pengolahan data dengan menggunakan software SPSS 16 memberikan output sebagai berikut: Ln = ln 1,37 0,30 ln X1 0,10 ln X2 0,05 ln X3 0,46 ln X4 Model regresi linier berganda Cobb Dauglass pada fungsi produksi dapat disebut sebagai model yang baik jika model tersebut memenuhi kriteria Best Linier Unbiased Estimator (BLUE). BLUE dapat dicapai bila memenuhi uji asumsi klasik. Terdapat empat macam uji asumsi klasik, yaitu uji normalitas, uji heterokedastisitas, uji autokorelasi dan uji multikolinier. Model fungsi produksi susu di Desa Pandesari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang yang dapat dilihat pada Tabel 2 dianggap telah fit karena memenuhi asumsi Cobb Douglas. Parameter setiap variabel adalah lebih dari nol, tidak terjadi pelanggaran asumsi terutama tidak terjadi multikolinearitas (VIF<. , nilai R2 yang besar . ,50 perse. , dan return to scale yang dihasilkan mendekati satu . Dari bentuk transformasi fungsi produksi Cobb Douglas di atas, dapat diubah kembali ke dalam bentuk asli fungsi produksi Cobb Douglas, sehingga persamaan menjadi : Y = 3,93 X1 0,30 X2 0,10 X3 0,05 X4 0,46 AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 Dari hasil persamaan fungsi produksi analisis adalah elastisitas dari masing-masing variabel independen dapat dilihat dari besarnya koefisien pangkat pada setiap variabel Elastisitas pakan konsentrat sebesar 0,30, elastisitas pakan hijauan sebesar 0,10, elastisitas tenaga kerja sebesar 0,05 dan elastisitas pakan gamblong sebesar 0,46. Besar return to scale dapat dihitung dengan cara menjumlahkan koefisien pangkat masing-masing variabel independen yaitu senilai 0,91 yang menunjukkan produksi susu berada pada kondisi constant return to scale, yang memenuhi asumsi Cobb Douglas. Model fungsi faktorAefaktor yang memengaruhi peningkatan produksi susu sapi ini dapat digunakan dalam menduga hubungan antara variabel independent terhadap variabel dependent dalam produksi susu. Nilai konstanta . sebesar 3,93 yang berarti bahwa jika variabel bebas sama tidak dengan nol, maka nilai produksi susu (Y) akan terjadi kenaikan sebesar 3,93 persen pertahun. Pada umumnya produksi susu setiap hari Jumlah produksi yang fluktuatif diakibatkan oleh produktivitas sapi yang Hal ini dapat disebabkan oleh faktor yang tidak dapat dikontrol. Barret et al. mengatakan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi produksi susu yang tidak dapat dikontrol adalah masa birahi sapi, kebuntingan sapi, umur dan kesehatan ternak (Barret MA, 1. Selain itu, cuaca merupakan faktor yang tidak dapat dikontrol dan dapat memengaruhi jumlah produksi susu. Kemampuan rata-rata produksi sapi di Pujon hanya mencapai 12,26 liter/ ekor/ hari, yakni di bawah standar rata-rata produktivitas Hal ini karena perkembangan produksi susu yang lambat dipengaruhi oleh banyak faktor, tingkat konsumsi susu yang rendah serta pemasaran susu karena tingginya persaingan susu impor (Baga, 2. Berdasarkan ujiAet, maka pengaruh dari masingAe masing variabel independen terhadap produksi susu sapi dapat diuraikan sebagai berikut: Pengaruh Kosentrat terhadap Produksi Susu Menurut Siregar dan Kusnadi . pakan sapi perah yang sedang berproduksi susu terdiri dari konsentrat dan hijauan. Bahan pakan konsentrat berupa hasil ikutan dari pertanian seperti dedak padi dan polar, pabrik seperti bungkil kelapa dan ampas tahu serta bahan-bahan lain yang berkualitas tinggi . erserat kasar rendah, berprotein, dan berenergi tingg. (Siregar. , 2. Nilai signifikasi 0,00 (P O 0,. pada variabel pakan konsentrat (X. menunjukkan pengaruh yang positif dan nyata, maka H0 ditolak dan H1 diterima artinya secara parsial jumlah pakan konsentrat (X. berpengaruh signifikan terhadap produksi susu (Y). Nilai elastisitas konsentrat sebesar 0,30 menjelaskan bahwa AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 setiap penambahan konsentrat sebesar 1 persen . 439,31 kg menjadi 1. 453,70 k. akan mengakibatkan penambahan produksi sebesar 0,30 persen . 878,51 liter menjadi 887,17 lite. dengan asumsi bahwa variabel lain dianggap nol atau konstan. Hasil ini menjelaskan bahwa peningkatan penggunaan konsentrat yang digunakan akan searah dengan produksi susu. Jumlah elastisitas fungsi produksi menggambarkan fase pergerakan usaha . eturn to scal. Jika ditinjau dari elastisitasnya kurang dari satu, namun lebih dari nol . 70%), yang membuatnya mudah basi dan sulit disimpan dalam jangka panjang tanpa perlakuan pengawetan . Perumusan ransum yang optimal dan uji coba secara periodik AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 diperlukan agar penggunaan gamblong tetap memberikan manfaat maksimal terhadap produksi susu. Penggunaan gamblong tidak dapat dijadikan sumber utama pakan, tetapi lebih tepat digunakan sebagai bahan pengisi energi . nergy fille. dalam porsi tertentu, dalam kombinasi dengan konsentrat dan hijauan berkualitas tinggi. Strategi ini dapat menekan biaya pakan tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi sapi perah. Selain formulasi ransum yang tepat, perlakuan teknologi pakan, seperti fermentasi, penambahan enzim, atau pencampuran dengan bahan kaya protein seperti bungkil kedelai atau dedak halus, sangat disarankan untuk meningkatkan kualitas nutrien gamblong KESIMPULAN Faktor input pakan konsentrat, pakan hijauan, tenaga kerja (HOK), dan pakan gamblong berpengaruh secara bersama-sama terhadap produksi susu sapi perah di Desa Pandesari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Dengan nilai R2 sebesar 0,865, artinya bahwa 86,50 persen variasi naik turunnya produksi susu sapi perah dipengaruhi oleh variasi input tersebut. Kemudian, sisanya sebesar 13,50 persen dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan dalam variabel penelitian. Salah satu faktor input pakan yang sangat berpengaruh signifikan terhadap peningkatan jumlah produksi susu adalah gamblong, karena memiliki nilai elastisitas tertinggi sebesar 0,46. Dari sisi manajemen dan produksi. Koperasi SAE Pujon diharapkan mampu meningkatkan kinerja pembinaan kepada peternak dalam hal teknis pemeliharaan sapi perah yang efektif, yaitu berupa penyuluhan-penyuluhan atau pelatihan berkala, sehingga produksi susu yang dihasilkan menjadi lebih berkualitas dan memiliki kadar susu yang lebih tinggi dari sebelumnya. Pengelolaan yang diberikan secara langsung berpengaruh terhadap produktivitas ternak sapi dan berkaitan dengan produksi susu serta kualitas susu yang dihasilkan. Selain itu, peternak perlu menjaga ketepatan waktu pemberian pakan dan jumlah komposisi pakan ternak sapi karena pakan konsentrat, pakan hijauan, dan pakan gamblong merupakan faktor input produksi yang signifikan berpengaruh terhadap peningkatan jumlah produksi susu. Dengan demikian, strategi peningkatan produksi susu tidak hanya perlu berfokus pada efisiensi teknis, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan inklusi sosial, terutama bagi peternak kecil. Kajian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi pendekatan yang adaptif terhadap perubahan iklim serta penerapan AKADEMIK Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. No. September 2025 E-ISSN 2774-8863 teknologi rendah karbon dalam sistem peternakan sapi perah global maupun di negara berkembang seperti Indonesia. DAFTAR PUSTAKA