INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO PROGRAM STUDI ILMU FILSAFAT JURNAL FILSAFAT LEDALOGOS https://journal.iftkledalero.ac.id/index.php/JLOG Dasein: Ada-Di-Dalam-Dunia Merekonstruksi “Eksistensi” dalam Being and Time Divisi I Adrianus Yosephus Kiko Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia (email: adrianusyosephuskikko@gmail.ugm,ac.id) ABSTRAK Tulisan ini mengkaji ulang secara kritis pemikiran Martin Article history: Received: 3 May 2025 Heidegger tentang Dasein, khususnya dalam relasinya dengan Revised: 16 June 2025 struktur eksistensial seperti keterlemparan, kejatuhan, dan Accepted: 16 June 2025 Available online: 01 July 2025 pemahaman. Dalam situasi dunia modern yang semakin terjebak pada kehidupan serba otomatis dan dangkal, Kata Kunci: pemikiran Heidegger menawarkan cara pandang yang Dasein; eksistensi; kejatuhan; keterlemparan mendalam terhadap eksistensi manusia yang seringkali terabaikan. Artikel ini menyoroti bagaimana kejatuhan Keywords: (Verfallen) bukan semata-mata kemerosotan eksistensial, Dasein; existence; fallenness; thrownness. tetapi justru merupakan momen ketersingkapan Dasein terhadap dirinya dan dunianya. Keunikan dari tulisan ini terletak pada penekanan bahwa Dasein selalu mengandung struktur eksistensial yang saling terkait dan tak terpisahkan, yaitu faktisitas, kejatuhan, dan proyeksi ke masa depan. Pendekatan ini membuka ruang baru dalam memahami eksistensi bukan sebagai sesuatu yang statis, melainkan sebagai dinamika keterlibatan total manusia di dunia. Dengan membingkai Dasein sebagai “yang peduli”, tulisan ini ingin menegaskan kembali urgensi pembacaan eksistensial dalam konteks dunia kontemporer yang kerap mengaburkan makna keautentikan. Pemahaman yang ditawarkan Heidegger melalui Dasein memberi sumbangan penting dalam filsafat keberadaan, sekaligus menjadi refleksi kritis terhadap cara manusia menjalani hidupnya hari ini. ARTICLE INFO ABSTRACT This article critically re-examines Martin Heidegger's concept of Dasein, particularly in relation to existential structures such as thrownness, fallenness, and understanding. In a modern world increasingly trapped in automated and superficial living, Heidegger’s thought offers a profound perspective on human existence, an aspect often neglected. This article highlights how fallenness (Verfallen) is not merely an existential decline, but rather a moment of disclosure in which Dasein becomes aware of itself and its world. The uniqueness of this article lies in its emphasis on the inseparability and interrelation of existential structures, facticity, fallenness, and projection into the future, that always constitute Dasein. This approach opens a new space for understanding existence not as something static, but as the dynamic, total involvement of the human being in the world. By framing Dasein as “the one who cares,” this article aims to reaffirm the urgency of an existential reading in a contemporary context that often obscures the meaning of authenticity. The understanding of Dasein that Heidegger offers makes a significant contribution to existential philosophy while also serving as a critical reflection on how human beings live out their lives today. 20 | Ledalogos Adrianus Yosephus Kiko PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital dalam dua dekade terakhir telah mengubah secara drastis cara manusia menjalani hidup, memahami dirinya, dan berelasi dengan dunia. Kehidupan sehari-hari kini berlangsung dalam jaringan sistem algoritma, ruang virtual, dan interaksi yang dimediasi oleh perangkat teknologi. Identitas pribadi direpresentasikan dalam profil media sosial; relasi manusia dikendalikan oleh mekanisme otomatis; bahkan pengalaman batin pun sering kali disesuaikan dengan logika visualisasi dan performa. Dalam situasi seperti ini, manusia perlu mengajukan kembali pertanyaan paling dasar dan eksistensial; apa artinya berada? Martin Heidegger, dalam bukunya Being and Time (Ada dan Waktu), menawarkan pemahaman mendalam tentang keberadaan manusia sebagai ada-didalam-dunia. Keberadaan manusia di dalam dunia selalu bersifat eksistensial yakni selalu tersituasikan pada dunia di mana ia terlempar. Heidegger menyebut manusia itu sebagai Dasein, sebuah terminologi ontologis sekaligus eksistensial. Dalam dunia modern yang dipenuhi oleh kecepatan dan efisiensi, pemahaman mendalam tentang Dasein justru menjadi sangat penting, terutama ketika manusia mulai terancam menjadi sekadar bagian dari sistem teknologis yang tak sepenuhnya ia pahami atau kendalikan. Tulisan ini bertujuan untuk merekonstruksi kembali konsep Dasein yang dibicarakan Heidegger dalam Divisi I karyanya Being and Time. Dengan membahas ulang makna eksistensi manusia yang ditemukan dalam keseluruhan analisis Dasein, penulis bermaksud melihat kembali posisi manusia di tengah kemajuan-kemajuan teknologi yang kian pesat sehingga muncul pemahaman baru tentang bagaimana manusia dapat tetap hidup secara autentik dan sadar. BIOGRAFI MARTIN HEIDEGGER Martin Heidegger lahir pada 26 September 1889 di Messkirch, bagian barat laut Jerman, kira-kira 20 mil dari danau Constance. Pada tahun 1903-1906 Heidegger masuk Gymnasium di Konstanz, hingga ia memutuskan untuk masuk novisiat Serikat Yesus (Jesuit) pada 30 September 1909 (ketika berusia 20 tahun) (Gorner, 2007: 1). Karena alasan kesehatan, ia mengundurkan diri sebagai calon imam pada Februari 1911. Heidegger kemudian melanjutkan kuliah filsafat. Artikel filsafat pertamanya diterbitkan pada tahun 1912 dengan judul The Problem of Reality in Modern Philosophy. Sejak di Gymnasium Heidegger sudah tertarik dengan Filsafat. Waktu itu ia sudah membaca karya Franz Brentano berjudul On the Manifold of Being according to Aristotle (Tentang banyak makna Ada menurut Aristoteles, 1862) dan sebuah buku karya Carl Braig yang berjudul On Being: Outline of Ontology (Tentang Ada: Ringkasan Ontologi, 1896). Dua karya ini membentuk pemikiran Heidegger dalam diskursus filsafat, sehingga persoalan tentang Ada menjadi pusat perhatiannya. Heidegger akhirnya berkenalan dengan fenomenologi Edmund Husserl yang waktu itu menjadi metode berfilsafat yang populer di Jerman. Ia pun dengan tekun membaca karya Husserl Logical Investigations (Penelitian-penelitian Logis) (Gorner, 2007: 1-2). Gelar doktor diperolehnya pada tahun 1913 dengan disertasi berjudul The Theory of Judgment in Psychologism (Ajaran tentang Putusan dalam Psikologisme). Habilitationsschrift (karya tulis untuk menjadi profesor di Jerman) ditulis Heidegger 21 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 pada tahun 1915 yang difokuskannya pada Filsafat Skolastik, dengan judul “Teori Duns Scotus tentang Kategori-kategori dan Makna” (Gorner, 2007: 1-2). Habilitationsschrift ini diselesaikan Heidegger di bawah bimbingan Heinrich Rickert, seorang penganut neo-kantianisme. Ia kemudian menjadi Privatdozent di Universitas Freiburg. Pada tahun 1916 Edmund Husserl pindah ke Freiburg sebagai pengganti Heinrich Rickert. Heidegger dipercayakan untuk menjadi asistennya. Kedatangan Husserl ini memberikan kontribusi besar bagi pemikiran Heidegger. Ia mengikuti kuliah-kuliah Husserl yang selalu dibawakan dalam bentuk latihan fenomenologis. Keaktifan mengikuti kuliah Husserl memperlihatkan betapa Heidegger tertarik pada fenomenologi (Hardiman, 2003). Pada tahun 1923 Heidegger memulai karier akademik sebagai profesor di Marburg, dengan tulisan berjudul The Basic Problems of Phenomenology. Di sini ia mulai menekuni dan menyelesaikan karya besarnya Being and Time yang kemudian diterbitkan pada tahun 1927. Karya ini memperlihatkan betapa Heidegger begitu terampil menggunakan fenomenologi dalam penelitiannya. Setelah mengajar di Marburg, Heidegger kemudian dipromosikan dan akhirnya menjadi profesor filsafat di Freiburg menggantikan Husserl. Pada Agustus 1933 Heidegger menjadi anggota Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (NSDAP), Partai Buruh Nasional-Sosialis Jerman dan menyatakan diri sebagai pendukung Hitler hingga partai itu berakhir pada tahun 1945. Tepat ketika Hitler merebut kekuasaan, Heidegger dipilih menjadi Rektor Universitas Freiburg pada 21 April 1933. Pidato rektoratnya yang terkenal berjudul “Penegasan diri Universitas Jerman”. Heidegger merupakan seorang rektor Nasional-Sosialis pertama di Freiburg. Kolaborasi antara Heidegger dan Nazi mendapat sorotan dari banyak pihak. Heidegger tidak sepenuhnya mendukung Nazi, karena banyak kebijakankebijakan Nazi dikritik melalui kuliah-kuliahnya hingga ia diberhentikan dari jabatan rektor setahun kemudian, tepatnya pada 23 April 1934 (Hardiman, 2003: 14). Heidegger meninggal pada 26 Mei 1976, lima bulan setelah kepergian kekasihnya Hannah Arendt. Jenazahnya dikuburkan di kota kelahirannya Messkirch. Kepergiannya serentak membenarkan apa yang dikatakannya sendiri, Dasein ist Sein Zum Tode (Dasein adalah Ada menuju kematian). REDUKSI METAFISIKA SEBAGAI TITIK TOLAK Filsafat Heidegger adalah usaha mendestruksi Filsafat Barat yang sejak Plato hingga Friedrich Nietzche diredusir pada “kelupaan Ada”. Bagi Heidegger, filsafat itu adalah metafisika. Istilah metafisika ini merujuk kepada 14 karya Aristoteles tak berjudul yang ditulisnya setelah karya-karya tentang fisika. Andronikos dari Rhodos menyebut karya-karya itu sebagai ta meta ta phisica (yang datang setelah fisika). Dalam 14 karya ini Aristoteles menyinggung hal-hal yang melampaui dunia fisik, sehingga disimpulkan bahwa ada hal-hal yang bersifat metafisik (Bagus, 1991:18). Jadi, metafisika secara sederhana dimengerti sebagai hal yang melampaui yang fisik. Aristoteles tidak pernah menyebut filsafatnya sebagai metafisika melainkan prote philosophia (filsafat pertama), di dalamnya ia membahas “ada sebagai yang ada” (being qua being). Ketertarikan Heidegger pada persoalan tentang Ada dimulai dari 22 | Ledalogos Adrianus Yosephus Kiko tokoh ini yang diperkenalkan oleh Franz Brentano dalam disertasinya, On the Manifold Meaning of Being according to Aristotle. Menurut Heidegger, filsafat Yunani bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti pertanyaan tentang Ada, pertanyaan tentang makna Ada, dan pertanyaan tentang kebenaran. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah tampak dalam diskursus filsafat sejak Herakleitus dan Parmenides. Dua pemikir ini memahami “Ada” dalam term-term seperti physis, alêtheia, dan logos. Dalam The End of Philosophy, Heidegger mengemukakan bahwa dalam tradisi filsafat Yunani, Ada itu dimengerti dalam artinya yang paling primordial, bahwa “Ada membuka dirinya sebagai physis dan alêtheia yakni sebuah formulasi kehadiran yang permanen. Metafisika yang tepat sebenarnya dimulai dan dibangun dalam konsep seperti ini” (Heidegger, 1973: 4). Konsekuensi dari pemahaman Ada sebagai physis dan alêtheia adalah Perwujudan Ada dalam kekonkretan dan bisa ditangkap secara empiris (beings). Ada hanya bisa dipertentangkan dengan ketiadaan. Dalam arti ini, Ada (Being) dapat dikatakan memiliki relasi dengan “yang ada” (beings). Sehingga melalui beings kita dapat mengetahui Being, atau dengan kata lain “beings memberikan informasi yang cukup mengenai Being” (Heidegger, 1973: 1). Pemahaman tentang Ada sebagai physis dan alêtheia mengalami reduksi dalam sejarah filsafat. Reduksi itu dimulai sejak Plato memaklumkan teori ide dan kemudian mencapai puncaknya pada filsafat Nietzsche. Dalam metafora gua (metaphor of the cave), Plato membuat “prioritas ontologis”. Ide ditempatkan lebih superior dari realitas inderawi. Menurut Heidegger dalam The End of Philosophy, kata “ide” dalam Plato menjadi nama yang dominan untuk ada (physis). Interpretasi ada sebagai ide merupakan hasil pengalaman dasar dari ada sebagai physis. Di sini Heidegger sebetulnya menegaskan kembali arti physis dan ide. Physis adalah kekuatan yang muncul, berdiri di sana-dalam-dirinya, stabilitas. Sedangkan ide merujuk pada penampakan sebagaimana yang dilihat, suatu determinasi dari penglihatan (Heidegger, 1973: 4). Jadi sebetulnya ide tidak dapat terlepas sepenuhnya dari physis. Namun ketika Plato menginterpretasikan “Ada” sebagai ide dan selanjutnya memberi penekanan pada ide, maka physis terlupakan. Dengan sendirinya “Ada” sebagai alêtheia juga terlupakan. Sejak ini penampakan mendapat pemaknaan baru. Penampakkan akhirnya dimengerti sebagai tampilnya yang tiruan. Bagi Plato, tempat aktual “Ada” adalah ide sehingga semua model penyingkapan Ada berpartisipasi dalam ide itu. “Kebenaran physis, alêtheia sebagai ketidaktersembunyian akhirnya menjadi mimesis” (Heidegger, 1959: 184-185). Mimesis berarti “kehadiran yang menuju kepada kemampuan sesuatu untuk menghadirkan, memproduksi, menampakkan dirinya dalam suatu bentuk citraan, kesan, atau impresi” (Al-Fayyadl, 2005: 97). Dengan mentransformasi physis kepada ide, Plato membuka suatu zaman yang disebut sebagai idealisme. Sejak Plato, interpretasi Ada sebagai ide mendominasi pemikiran Barat dalam sejarah transformasinya sehingga filsafat setelah Plato adalah sebentuk idealisme (Heidegger, 1959: 180). Reduksi metafisika seperti ini mencapai puncaknya dalam The Will to Power (Kehendak untuk Berkuasa) karya Nietzsche. Heidegger menemukan bahwa metafisika Barat memperlihatkan pola tertentu dalam memahami Ada. Ada dipandang sebagai prinsip tunggal dan universal yang 23 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 menyanggah semua hal-ihwal. Apakah itu ide, substansi, atau kehendak untuk berkuasa (Adian, 2002: 43). Heidegger menyebut periode itu sebagai periode “kelupaan Ada”. Periode ini diorientasikan pada usaha untuk menemukan “pengetahuan tentang fondasi” (science of grounds), yang secara sistematis menyelubungi “misteri” kehadiran dan fenomena primordial ketidaktersembunyian Ada, sehingga Ada dalam tradisi filsafat Barat dilihat sebagai sesuatu yang dapat dikontrol dan direpresentasikan (Villa, 1996: 166). Reduksi metafisika menjadi pusat perhatian Heidegger. Ia menerbitkan satu esai berjudul The End of Philosophy and The Task of Thinking. Judul ini sedikit problematis. Apakah yang dimaksudkan Heidegger dengan The End of Philosophy adalah tidak ada lagi filsafat? Mungkinkah seorang filsuf mengakhiri suatu filsafat tanpa ia sendiri berfilsafat? Jika akhir dari filsafat dimengerti dalam arti ini, maka tidak ada penyelesaian. Heidegger justru terperangkap dalam persoalan yang sama. Ataukah ia melihat filsafatnya lebih sempurna dari filsafat sebelumnya sehingga ia memaklumkan suatu “akhir dari filsafat”? Heidegger mengakui bahwa setiap zaman filsafat memiliki konteksnya tersendiri sehingga anggapan akan adanya satu filsafat yang lebih sempurna dari filsafat lainnya tidak mungkin. Bagi Heidegger, filsafat adalah suatu metafisika. Maka akhir filsafat yang dimaksudkan Heidegger sama artinya dengan akhir dari metafisika atau misinterpretasi atas metafisika. Heidegger menulis: ...The current misinterpretations of philosophy, all of which have some truth about them, are legion. Here we shall mention only two, which are important because of the light they throw on the present and future situation of philosophy. The first misinterpretation asks too much of philosophy. The second distorts its function (Heidegger, 1959: 9). Metafisika yang dimulai dari Plato merupakan suatu usaha untuk mencari dasar dari seluruh ’yang ada’ dan cara memahaminya dimulai dari apa yang hadir di depan kita dan kemudian kita merepresentasikannya. Konsekuensi dari model pemahaman seperti ini adalah Ada sebagai physis dan alêtheia dilupakan. Corak filsafat Barat seperti ini merupakan “nihilisme” sebagaimana istilah yang digunakan Nietzsche sebagai konsekuensi dari maklumat God is dead. Nihilisme bagi Heidegger mengacu kepada sejarah metafisika Barat yang didalamnya Ada sebagai physis dan alêtheia tidak ditemukan. Nihilisme inilah yang menjadi pusat perhatian Heidegger dan sekaligus titik tolak kemunculan Dasen dalam filsafatnya. BEING AND TIME DAN PEMBALIKAN ONTOLOGIS Being and Time adalah karya utama Heidegger yang diterbitkan di musim semi tahun 1927. Untuk memahami filsafat Heidegger orang harus berkenalan terlebih dahulu dengan karya ini, sama seperti membaca Phenomenology of Spirit untuk memahami filsafat Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Dalam Being and Time konsep tentang Dasein menjadi sangat sentral untuk seluruh pemahaman akan filsafat Heidegger. Magnum opus ini, setelah diterbitkan, menjadi fokus perdebatan, kontroversi, dan inspirasi baru bagi para filsuf. Being and Time memposisikan Heidegger ke dalam deretan filsuf besar abad-20. Emmanuel Levinas, dalam Ethics and 24 | Ledalogos Adrianus Yosephus Kiko Infinity, memberi kesaksian tentang kegemilangan buku ini. Dalam percakapan dengan Philippe Nemo, Levinas berujar: I discovered in fact Sein und Zeit, which people around me read. Very early I had a great admiration for this book. It is one of the finest books in the history of Philosophy – I say this after years of reflection. One of the finest among four or five others.... For example Plato’s Phaedrus, Kant’s Critique of Pure Reason, Hegel’s Phenomenology of Mind; also Bergson’s Time and Free Will (Levinas, 1985: 37-38). Tujuan utama Heidegger menerbitkan Being and Time adalah mendestruksi sejarah Ada. Untuk maksud ini Heidegger mengelompokkan pembahasannya ke dalam dua bagian. Pertama, ia membuat suatu interpretasi temporal atas Dasein dan menjelaskan waktu sebagai horizon transendental bagi pertanyaan tentang Ada. Kedua, destruksi fenomenologis sejarah ontologi dalam terang temporalitas. Sayangnya, dalam Being and Time divisi ketiga dari bagian pertama dan seluruh bagian kedua tidak dibahas karena perkembangan dalam pemikirannya (Heidegger, 2010: 37). Perkembangan pemikiran Heidegger adalah suatu pembalikan ontologis yang disebut kehre. Ia akhirnya memahami bahwa analisis Dasein dalam Being and Time tidak memadai lagi untuk meneliti Ada. Analisis atas Dasein, yakni suatu analisis eksistensial, hanya mungkin jika Ada dipahami sebagai ketidaktersembunyian (Aletheia), artinya Ada harus menampakan diri terlebih dahulu sebagai fenomena sehingga kita bisa menangkapnya secara empiris. Setelah Being and Time Heidegger tidak lagi memfokuskan pembahasannya pada Dasein yang bertolak pada analisis atas satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan mempertanyakan adanya (manusia), melainkan pada Ada itu sendiri. Kehre lantas membuat orang mengelompokkan pemikiran Heidegger ke dalam Heidegger I dan Heidegger II. Heidegger I meliputi Being and Time dan Heidegger II meliputi karya-karya yang ditulis Heidegger setelah Being and Time. Pada umumnya karya-karya yang termasuk dalam Heidegger II tidak ditulisnya secara sistematis sebagaimana dalam Being and Time. Walaupun terjadi pemisahan, pemikiran Heidegger sebetulnya saling berhubungan. Hanya melalui apa yang dipikirkan dalam Heidegger I orang dapat masuk pada pemikiran Heidegger II, dan pemikiran dalam Heidegger I hanya mungkin kalau terkandung dalam Heidegger II. The distinction you make between Heidegger I and II is justified only on the condition that this is kept constantly in mind: only by way of what [Heidegger] I has thought does one gain access to what is to-be-thought by [Heidegger] II. But the thought of [Heidegger] I becomes possible only if it is contained in [Heidegger] II (Richardon, 2003: 322). PERTANYAAN TENTANG MAKNA ADA Metafisika (Ontologi) mempertanyakan “apa itu Ada?”. Menurut Heidegger, pertanyaan ini problematis. Ia mula-mula membuat ontological difference (pembedaan ontologis) antara Ada (Being) dan ‘yang ada’ (beings). ‘Yang ada’ adalah suatu entitas, sesuatu yang konkret dan riil. Dalam kehidupan setiap hari ‘yang ada’ sangat familiar. Pertanyaannya, dari mana asal dari yang konkret itu? Atau apa yang 25 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 berada di balik keriilan ’yang ada’ (beings)? Apa yang mendeterminasi ‘yang ada’? Jawabannya adalah Ada (Being). Di sinilah perbedaan fundamental antara Ada/Being dan ’yang ada’/beings (Gorner, 2007: 16). Ontological difference menentukan pertanyaan tentang Ada. Artinya, tanpa mengetahui pembedaan ontologis antara Being dan beings orang akan keliru memformulasikan pertanyaan dan kemudian keliru memahami Ada. Kekeliruan ini sudah terkandung dalam sejarah filsafat yang disebut nihilisme. Hal ini dilukiskan Dennis J. Schmidt dalam pengantar Being and Time: Being and Time begins by referring to a doubled forgetfulness characterizing our historical present: We have not only forgotten the question of being (Sein) and how to ask it, but this forgetting itself is no longer noticed, it too has been forgotten (Heidegger, 2010: xvii). Persoalan fundamental yang dihadapi filsafat yang dimulai dari Plato dan mencapai puncaknya pada Nietzche adalah melupakan pertanyaan akan Ada dan bagaimana mempertanyakannya. Mereka hanya bergulat dengan ‘yang ada’ (beings) dan bukan Ada (Being). Lebih parah lagi, kelupaan itu juga telah dilupakan oleh filsafat Barat. Bertolak dari ini, Heidegger memulai langkah destruksinya dengan melukiskan kejelasan Ada yang berkorelasi dengan praksis keseharian manusia. Ia menunjukkan tiga prasangka tentang Ada yang dilukiskannya dalam bagian awal Being and Time. Pertama, Ada adalah konsep yang paling universal. Pemahaman kita tentang Ada selalu sudah ditemukan dalam ‘yang ada’/beings. Kedua, konsep tentang Ada tak dapat dilukiskan atau tidak dapat didefinisikan (indefinable). Hal ini berhubungan dengan universalitas Ada itu. Ketidakterdefinisian Ada tidak menghilangkan pertanyaan tentang maknanya tetapi mengharuskannya. Artinya, Ada tetap memiliki makna kendatipun tidak terdefinisi. Ketiga, Ada adalah konsep yang jelas dengan sendirinya (self-evident). Dalam keseharian sebetulnya kita telah mempunyai pemahaman tentang Ada. Misalnya, dalam pernyataan “I am happy” atau “the pen is black”. Penggunaan kopula (am, is) menggambarkan bahwa Ada jelas dengan sendirinya dalam setiap pengetahuan dan pemahaman kita tanpa suatu rintangan. Sebab Ada/Being itu memiliki relasi dengan ‘yang ada’/beings (Heidegger, 2010: 3). Karena Ada itu adalah konsep yang universal, indefinable, dan self-evident, maka formulasi pertanyaan metafisis perlu diubah dari pertanyaan tentang “apa itu Ada?” menjadi “apa makna Ada?” atau “apa artinya berada?”. Bagi Heidegger, pertanyaan tentang makna Ada itu harus diformulasikan, sebab setiap pertanyaan adalah pencarian (Heidegger, 2010: 3). Pertanyaan yang diajukan seseorang menunjukkan muatan pemahamannya. Heidegger adalah orang berikut dalam sejarah filsafat sejak Aristoteles yang secara serius merefleksikan pertanyaan tentang makna Ada dan menjadikannya sebagai persoalan fundamental filsafat (Kockelmans, 1990: 51). Perihal diajukannya kembali pertanyaan tentang makna Ada, Heidegger mengutip Sophist 244a (Plato), “For manifestly you have long been aware of what you mean when you use the expression “being” (seiend). We, however, who used to think we understood it, have now become perplexed.” Richard F. H. Polt memperlihatkan maksud Heidegger mengutip Sophist 244a ini: 26 | Ledalogos Adrianus Yosephus Kiko Heidegger’s choice of this passage tells us, first, that he intends to bring an ancient question back to life. Secondly, the problem of Being seems at first to be no problem at all-but when we actually try to articulate what we mean by “be”, we soon find ourselves at loss for words (Polt, 1999: 24) DASEIN Dari mana Heidegger memulai pencariannya atas “makna Ada?”. Heidegger memulai penelitiannya dengan suatu analisis eksistensial. Semua hal yang ada di dalam dunia ini: pohon, tumbuhan, hewan, semua benda yang ada di sekitar kita dikatakan berada. Namun ia tidak menjadikan semua yang berada sebagai titik pangkal penelitian, walaupun akhirnya seluruh entitas itu saling berkorelasi. Formulasi pertanyaan yang diajukan Heidegger tentang “apa makna Ada?” mengharuskannya untuk memulai penelitiannya dari suatu ada yang memiliki kemampuan untuk mempertanyakan, transparan dan mampu memaknai adanya. Ada ini adalah diri kita dengan seluruh yang khas milik kita dan yang mencakup kemungkinan ada kita. Secara terminologi Heidegger menyebutnya Dasein thus to work out the question of being means to make a being--one who questions--transparant in its being. Asking this question, as a mode of being of a being,is itself essentially determined by what is asked about in it-being. This being (seiende), which we ourselves in each case are and which includes inquiry among the possibilities of its being, we formulate terminologically as Dasein (Polt, 1999: 24). Dasein pertama-tama tidak bisa diartikan sebagai subjek yang sadar (conscious subject) sebagaimana yang lazim ditemukan dalam interpretasi para eksistensialis. Salah satu model interpretasi seperti ini ditemukan dalam Being and Nothingness karya Jean-Paul Sartre. Dasein adalah sebuah istilah Jerman (digunakan dalam keseharian) yang berarti eksistensi (existence). Namun, agar tidak melenceng jauh dari persoalan dasar filsafat Heidegger, maka kita perlu memberi fokus pada pengertian ontologis. Untuk menekankan muatan ontologisnya, Heidegger menerjemahkan kata itu secara etimologis. Dasein berasal dari kata Da/There yang berarti “di sana” dan Sein/Being yang berarti “Ada”. Maka Dasein diterjemahkan sebagai “Ada di sana”/being there (Meinhaim, 1959: ix). Leo Kleden menggambarkan Dasein sebagai berikut: Dasein adalah “Da”-nya “Sein” (“di sana”-nya “Ada”), “tempat” di mana Ada menyingkapkan dirinya sendiri. “Di sana” (Da) itu adalah semacam lingkup cahaya (Lichtung) di dalam dan melaluinya Ada dari segala entitas disingkapkan. “Di sana” (Da) itu identik dengan ketersingkapan (Erschlossenheit) (Kleden, 2008: 30). Dasein adalah suatu term ontologis sebagai penyingkapan Ada. Dasein adalah suatu Lichtung (istilah Jerman yang artinya cahaya) yakni penerangan Ada, suatu “pernyataan diri” Ada yang selalu berarti ada di sana. Namun, jika bertolak dari Being and Time, Heidegger berbicara tentang manusia ketika ia menggunakan term Dasein, walaupun secara tegas tidak dapat disamakan, karena “manusia” bukanlah term ontologis. 27 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 Tentang term “manusia” di mana Dasein dipahami, dapat dikatakan bahwa ini hanya mungkin karena cara berada manusia itu adalah cara berada yang sadar akan adanya. Langkah terbaik untuk memahami Dasein adalah membiarkan term itu tetap tidak diterjemahkan (Gorner, 2007: 23). Walaupun demikian, untuk memudahkan pemahaman akan maksud Heidegger itu term Dasein perlu diterjemahkan sebagai manusia (human being). “Manusia” (human being) adalah terjemahan yang terbaik untuk memahami apa yang dimaksudkan Heidegger dengan Dasein (Dreyfus, 1995: 13). ADA-DI-DALAM-DUNIA SEBAGAI KONSTITUSI FUNDAMENTAL DASEIN Dasein yang secara terminologis dimengerti sebagai Ada-di-sana, selalu merujuk kepada suatu dunia. Karena itu, determinasi Dasein harus dilihat dan dipahami secara a priori di dalam dasar konstitusi Ada yang disebut Heidegger adadi-dalam-dunia. Konstitusi ini bagi Heidegger menjadi titik tolak yang paling tepat untuk menganalisis Dasein (Heidegger, 2010, hlm. 53). Ada-di-dalam-dunia adalah konsep yang paling dasar dari struktur Dasein. Ada-di-dalam-dunia memiliki makna ontologis yang harus dipahami sebagai satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan menjadi komponen-komponen. Kesatuan dari konstitusi Dasein ini tidak identik dengan lenyapnya unsur-unsur pembentuknya. Dasein terbentuk dari faktor-faktor struktural tertentu; (1) Ada-di dalam/The “beingin as such” of being-in-the-world, (2) dunia/ the “world” of being-in-the-world, (3) siapa/ the “who” of being-in-the-world (Haugland, 2013: 92). Ada-di-Dalam (The “being-in as such” of being-in-the-world) Ada-di-dalam (being in) jangan dipahami dalam artian spasial yakni menyangkut ruang dan tempat. Ada-di-dalam juga jangan dipahami secara kategorial, yakni satu di dalam yang lain seperti kita memahami air di dalam gelas atau pakaian yang ada di dalam lemari. Air dan gelas, pakaian dan lemari, memiliki kedudukan yang sama, yakni sebagai benda yang secara objektif hadir. Benda-benda ini hadir di dalam dunia namun mereka tidak mendunia, hanya Dasein lah yang mendunia. Ada-di-dalam (being in) merujuk kepada ekspresi eksistensial dari Dasein yang memiliki konstitusi esensial sebagai ada-di-dalam-dunia (Heidegger, 2010: 55). Bagi Heidegger Ada-di-dalam memiliki struktur ontologis (merujuk kepada konstitusi Dasein) dan karena itu bersifat eksistensial (Heidegger, 2010: 54). Ada-didalam (being in) harus dipahami sebagai “tinggal” atau “mendiami suatu dunia”, atau “bermukim” dengan cara tertentu. Budi Hardiman menggunakan istilah “kerasan” untuk menggambarkan makna “di-dalam” (Hardiman, 2008: 53). Kata “kerasan” sepadan dengan betah atau tahan tinggal di suatu tempat. Dasein memahami keberadaanya sendiri dalam “kehadiran objektif faktual” tertentu. Faktualitas dari fakta Dasein ini, yakni dengan cara apa Dasein menjadi aktual, disebut sebagai faktisitas/facticity (Heidegger, 2010: 56). Faktisitas merujuk pada keterlemparan Dasein di dalam dunia dan ada sedemikian rupa secara niscaya di mana Dasein dapat memahami dirinya dalam relasi dan perjumpaan dengan entitasentitas lain dalam dunianya sendiri. Ada secara faktual berarti Dasein ada begitu saja 28 | Ledalogos Adrianus Yosephus Kiko tanpa suatu kompromi, sebuah fakta terberi. Heidegger jelas tidak berbicara tentang suatu Ada yang diciptakan sebagaimana dalam tradisi filsafat abad pertengahan. Dunia (the “world” of being-in-the-world) Jika faktisitas mengindikasikan bahwa Dasein itu selalu terlempar ke dalam dunia, maka dunia seperti apakah yang dimaksudkan Heidegger? Dunia yang dimaksudkan Heidegger bukanlah entitas atau totalitas dari entitas, bukan juga totalitas dari benda-benda (present at hand). Heidegger membedakan empat jenis dunia. Pertama, untuk memberikan suatu gambaran tentang dunia, Heidegger membuat pendekatan fenomenologis. Mendeskripsikan dunia secara fenomenologis berarti memperlihatkan dan menentukan secara konseptual dan kategoris Ada dari “yang ada”, yakni benda-benda/Beings within the world are things (Heidegger, 2010: 56). Membayangkan dunia secara fenomenologis berarti membayangkan semua benda-benda yang ada di dalam dunia. Sebab dunia itu tak terpisahkan dari entitas yang ada di dalam dunia. Ada dua alasan yang mendasari ketakterpisahan ini. Pertama, dunia mengacu kepada Ada Dasein, dan Dasein adalah entitas. Jadi jika tidak ada Dasein maka tidak ada dunia. Kedua, dunia tidak dapat dipisahkan dari entitas lain selain Dasein. Tidak mungkin ada dunia tanpa entitas lain di dalam dunia/within the world (Gorner, 2007: 41-45). Kita melihat fenomena pohon, rumah dan hewan. Objekobjek seperti ini mengidentifikasikan dunia. Dengan cara inilah kita membayangkan suatu dunia. Dunia di sini merupakan totalitas “yang ada” yang hadir secara objektif di dalam dunia. Pengertian seperti ini adalah pengertian ontis atas dunia. Kedua, dunia juga bisa dimengerti secara ontologis. Pengertian dunia secara ontologis berarti Ada dari dunia dianggap sebagai totalitas semua ‘yang ada’ yang dipahami dalam satu bagian tertentu atau kategori tertentu. Dalam pengertian ini “dunia” bisa merujuk kepada bagian yang mencakup keanekaragaman ”yang ada”. Misalnya “dunia” seorang matematikawan. Dunia di sini berarti “bagian” dari semua kemungkinan objek matematika itu (Heidegger, 2010: 64). Ketiga, kemungkinan lain dari pengertian dunia digambarkan Heidegger dari suatu pemahaman bahwa dunia itu bisa juga dipahami secara ontis bukan dalam arti ‘yang ada’ atau benda-benda yang berbeda dari Dasein dan dijumpai di dalam dunia (within the world), melainkan tempat Dasein berdiam secara faktis. Dalam konteks ini dunia bisa berarti dunia “publik” Dasein atau dunia pribadi yang bersifat privatdomestik. Pengertian dunia semacam ini disebut Heidegger sebagai pengertian ontiseksistensial (Heidegger, 2010: 65). Tiga pengertian dunia ini betul (correct) namun belum benar (true). Artinya, ia harus mencapai pengertian lain yang mencakupi tiga pengertian sebelumnya yang menyentuh aspek ontologis serentak eksistensial dari dunia. Keempat, Heidegger membuat pengertian dunia yang menunjuk pada struktur dari faktor konstitutif Dasein sebagai Ada-di-dalam-dunia. Ia menyebutnya keduniawian (worldliness). Keduniawian mengandung serentak di dalamnya aspek ontologis dan eksistensial. Dikatakan ontologis karena secara eksplisit terarah kepada keberadaan dunia, dan eksistensial sejauh dipahami sebagai elemen struktural Dasein, yakni Ada-di-dalam-dunia (Kockelmans, 1990: 114). Dalam konteks ini, kita akan 29 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 menemukan suatu dunia yang tidak tergeletak begitu saja melainkan dipengaruhi dan mempengaruhi Dasein, sehingga Dasein itu bukan sekadar ada di dalam dunia melainkan mendunia. Pengertian seperti ini disebut pengertian ontologis-eksistensial (Heidegger, 2010: 65). Heidegger memberi penekanan pada pengertian terakhir dan menurutnya pengertian inilah yang benar. Dunia harus dimengerti sebagai struktur faktor konstitusi Dasein sebagai Ada-di-dalam-dunia. Tanpa dunia Dasein kehilangan “kedisanaannya” dan tanpa kedisanaannya Dasein tidak ada lagi. Ini tentunya sangat problematis, namun poin yang mau dikatakan di sini adalah bahwa dunia harus dipahami dalam kerangka ketersingkapan Ada. Ada itu selalu merupakan ”Ada-disana” dan kedisanaanya itu merujuk kepada suatu dunia. Artinya dunia adalah fakta niscaya dengan cara mana Ada menyingkapkan diri. Dengan itu, dunia harus dimengerti dalam suatu kontak dengan Ada (ontologi) dan serentak penegasan dirinya sebagai ada yang konkret (eksistensi). Heidegger menyebutnya sebagai keduniawian (Worldliness). Aspek keduniawian Dasein berdiam dalam horizon keseharian Dasein (everyday Dasein). Menurut Heidegger, dunia yang paling dekat dengan keseharian Dasein adalah dunia sekitar kita/Surrounding world (Heidegger, 2010: 66). Siapa (the “who” of being-in-the-world) Dasein menemukan dirinya secara faktis terlempar ke dalam dunia, yakni dunia keseharian, dunia sekitar kita. Di dalam dunia Dasein tentu tidak sendirian, Dasein berjumpa dengan entitas lain. Seperti apakah entitas lain itu? Misalnya, ketika seseorang sedang mengikuti kuliah di dalam kelas. Benda-benda yang berkontak dengannya antara lain kursi, papan tulis, proyektor, dosen, teman kuliah, laptop, udara yang dihirup, pepohonan di luar ruangan yang bisa dilihat melalui jendela, dan masih ada benda lainnya. Semuanya ini adalah ‘yang ada’ (beings) yang ditemui dalam dunia. Dalam keseharian, Dasein berinteraksi dengan entitas-entitas lain. Heidegger menyebut relasi ini sebagai sorge, yakni suatu bentuk keprihatinan yang memanipulasi dan menggunakan entitas-entitas. Ada Dasein selalu merupakan ada dalam konteks ini. Kursi, papan tulis, proyektor, laptop, adalah ‘yang ada’ dan ditemui dalam suatu sistem sorge (care) dan Heidegger menyebutnya alat (useful things/Zeug). Di dalam dunia, kita menemukan alat-alat untuk olahraga, alat-alat untuk menulis, alat-alat untuk bekerja, alat-alat untuk melukis. Di sini Heidegger menekankan kegunaan (Utility) alat-alat itu. Tidak ada suatu alat yang tidak bermanfaat dalam suatu sistem totalitas. Alat-alat ini berstruktur “untuk” (in order to), yang mengacu kepada suatu sistem referensi (Verweisung) yakni satu untuk yang lain. Manfaat suatu alat selalu dimengerti dalam kerangka “kegunaan suatu alat untuk kegunaan alat-alat yang lain”. Misalnya, yang termasuk dalam kelompok alat-alat menulis: pensil, bolpoin, tinta, dan buku. Heidegger menyebut jenis ’yang ada’ ini, yakni alat-alat, sebagai Zuhandenes (Heidegger, 2010: 68-70). Penekanan pada kegunaan alat daripada entitas alat-alat begitu kuat dalam pemikiran Heidegger. Kegunaan dari alat lebih penting dari entitas alat tersebut. Kegunaan alat memperlihatkan aspek ketersingkapan yang lebih fundamental dan 30 | Ledalogos Adrianus Yosephus Kiko primordial daripada substansinya yang diperoleh melalui pengamatan berjarak (Dreyfus, 1995: 61). Artinya dunia yang kita temui dalam keseharian kita bukanlah sekedar objek deskriptif (present-at-hand) melainkan dunia objek-objek yang siap digunakan (ready-to-hand). Ketika seseorang berada di dalam ruangan kelas dan melihat bolpoin ia jelas pertama-tama tidak membuat suatu definisi atas bolpoin itu, melainkan langsung menangkap kegunaan dari bolpoin itu. Inilah yang dimaksudkan Heidegger bahwa kegunaan dari suatu alat lebih primordial dari pada entitas alat itu. Di dalam dunia Dasein berkontak dengan alat-alat. Ada tiga cara Dasein berkontak dengan alat-alat itu. Pertama, manipulasi. Setiap alat merujuk kepada fungsi-fungsi tertentu dan kita menggunakan alat berdasarkan fungsi-fungsinya. Ketika kita menggunakan suatu alat, perhatian kita terarah kepada fungsi-fungsi yang mengkonstitusi alat yang kita gunakan pada saat tertentu. Palu misalnya, semakin kita menggenggamnya erat-erat dalam suatu aktifitas memalu, semakin primordial hubungan kita dengan palu itu, dan serentak menegaskan adanya sebagai peralatan. Mode pemahaman seperti inilah yang disebut Heidegger dengan manipulasi (Dreyfus, 1995: 64). Kedua, transparansi alat (the transparency of equipment). Kegunaan dari alat begitu mendapat prioritas seolah-olah entitas dari alat itu menghilang, karena difokuskan pada tugas yang ingin dilakukan. Dalam suatu aktivitas manipulasi, seseorang segera kehilangan kesadaran akan adanya alat itu, dan hanya sadar akan aktivitas yang dilakukannya. Karakteristik dari suatu benda yang sedang dimanipulasi atau digunakan tidak disadari lagi. Entitas alat itu baru dirasakan keberadaannya ketika ada bagian yang rusak sehingga mengganggu pelaksanaan tugas-tugas itu. Ketika alat-alat itu rusak dan kehilangan fungsi serta manfaatnya, pada saat itulah kesadaran akan entitas ala-alat disadari. Ketika seseorang bermain bola ia tidak menyadari akan adanya bola itu. Ia tenggelam dalam “kegunaan” bola itu, yaitu untuk ditendang (dalam sebuah permainan sepak bola) dan ketika bola itu kempis barulah disadari entitasnya (Dreyfus, 1995: 65). Ketiga, transparansi Dasein (the transparency of dasein). Transparansi tidak terjadi hanya pada alat-alat melainkan juga pada setiap orang yang menggunakannya. Dalam hal ini Heidegger menggunakan istilah circumspection, yakni suatu sifat kehatihatian. Sifat kehati-hatian ini digambarkan sebagai semacam "pemandangan" yang tidak melibatkan kesadaran yang disengaja dan tematis (Dreyfus, 1995: 66). Misalnya ketika seseorang berada di dalam suatu ruangan, dan ketika ia ingin keluar melalui pintu, ia akan berusaha untuk menghindari kursi atau meja, atau benda-benda lainnya yang ada di depannya demi menggapai pintu tersebut. Selain Zuhandenes, ada juga benda-benda yang bukan alat. Benda-benda ini tersedia langsung dari alam, namun dimanfaatkan untuk sesuatu. Alam yang dimaksudkan di sini bukanlah suatu kekuatan natural melainkan sebagai sistem fungsi, misalnya hutan. Hutan pertama-tama dilihat sebagai sumber produksi kayu, gunung untuk penambangan batu, sungai untuk kincir air. Heidegger menyebut ini sebagai Vorhandenes (Heidegger, 2010: 70). Jenis “yang ada” yang lain adalah sesama manusia yang disebut Heidegger dengan Mitdasein. Pada bab IV divisi I Being and Time, Heidegger mengajukan suatu pertanyaan tentang siapakah Dasein (the Who of Dasein). Pertanyaan tentang “siapa” 31 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 mengarah kepada subjek dari suatu diri, yakni suatu aku (I). Sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa esensi dari Dasein berakar dalam eksistensinya. Dalam Being and Time, Heidegger mengatakan “Jika suatu aku (I) merupakan determinasi esensial dari Dasein, maka itu harus diinterpretasi secara eksistensial” (Heidegger, 2010: 114). Mitdasein tidak termasuk dalam Zuhandenes dan Vorhandenes, melainkan suatu ada yang memiliki kesadaran. Jika disederhanakan Mitdasein bisa juga diartikan dengan “sesama yang lain”. Dalam keseharian, Dasein akan berkontak dengan tiga kelompok ‘yang ada’ ini. Kemenduniaan dunia yang dihuni oleh Dasein disingkap melalui alat dan bagaimana Dasein menggunakannya. Pengelompokan yang dibuat menekankan perbedaan cara berada dari benda-benda, dan serentak pula menentukan cara berada Dasein. Artinya, perbedaan cara berada ketiga kelompok ‘yang ada’/saindes di atas turut menentukan bagaimana Dasein mengambil sikap dalam kontak dengan ‘yang ada’ itu. KEJATUHAN (VERFALLEN) DASEIN Dasein mula-mula secara faktis terlempar ke dalam dunia. Dalam keterlemparan itu Dasein tidak seorang diri melainkan “ada bersama” “yang lain” (mitdasein). Apa yang dimaksudkan Heidegger dengan “ada bersama”? Ada bersama tidak berangkat dari suatu pemahaman akan aku yang terisolir, sehingga menciptakan suatu distingsi antara aku dan realitas di luar diriku. Heidegger memberi suatu penjelasan tentang “yang lain” (the others) ini. “Yang lain” bukanlah orang lain atau diri yang lain, melainkan diriku, atau lebih tepat disebut adaku. “Yang lain” adalah mereka yang dari siapa aku mendapat penentuan diriku. Kata “dengan” (with) merupakan suatu karakter dari Dasein, sehingga tidak boleh diartikan secara kategorial melainkan secara eksistensial, yakni menyangkut Ada/Being (Heidegger, 2010: 115). Karena itu, “ada bersama” yang lain selalu menyangkut ’adaku’. Dalam keterlemparannya, Dasein memperlakukan mitdasein, alat-alat (zuhandenheit) dan benda bukan alat (vorhandenheit) secara berbeda. Dalam sebuah sistem sorge, amat tampak perbedaan cara memperlakukan masing-masing kelompok ini. Cara memperlakukan zuhandenes disebut Heidegger dengan istilah care (besorgen), yakni suatu kontak dengan cara merawat atau mengurus. Sedangkan cara memperlakukan Mitdasein disebut Heidegger dengan concern yakni cara kontak dengan memelihara (Heidegger, 2010: 115). Kontak Dasein dengan ‘yang ada’ ini tentu bukanlah suatu kebetulan, bukan juga pilihan, melainkan konsekuensi dari faktisitas Dasein sebagai yang terlempar ke suatu dunia yang dimukiminya. Kenyataan ini disebut Heidegger sebagai kejatuhan (verfallen). Kejatuhan membuat Dasein kehilangan kontaknya secara sadar dengan Adanya, sehingga Dasein menjadi tidak autentik lagi. Dalam ketidakautentikan itu terciptalah das Man. Das Man adalah suatu Ada yang menyehari, yakni berada dalam keadaan keterjatuhan. Sebagai das Man ia tenggelam dalam kontak dengan ‘yang ada’ lain. Ia terlibat dalam memanipulasi alat-alat (zuhandenes) dan dengan mitdasein. Ia tenggelam dalam aktivitas sebagaimana yang dilakukan orang lain. Sebagai das Man ia melebur ke dalam kebersamaan dengan yang lain (Heidegger, 2010: 123). Sampai di sini Heidegger membedakan dua modus eksistensi, yakni modus eksistensi autentik dan modus eksistensi inautentik. “Modus eksistensi autentik 32 | Ledalogos Adrianus Yosephus Kiko adalah kesadaran bahwa akulah yang harus menentukan pilihanku sendiri sementara modus eksistensi inautentik adalah hilangnya kesadaran akan aku yang autentik” (Adian, 2012: 35). Hal-hal ini tampaknya biasa-biasa saja dan tanpa harus dijelaskan semua orang akan mengerti. Tetapi maksud Heidegger ialah aspek-aspek keseharian Dasein seperti ini sebetulnya menegaskan kedisanaan Dasein, yakni suatu ketersingkapan Ada-di-dalam-dunia (In-der-Welt-sein). Kejatuhan (Verfallen) adalah suatu ketersingkapan Dasein sebagai “Ada-disamping-entitas-entitas-lain-yang-dijumpai-di-tengah-dunia”. Dalam kondisi kejatuhan, Dasein akan menjadi inautentik. Kejatuhan yang dialami Dasein bukanlah suatu kejatuhan dari kondisi yang lebih primordial. Kejatuhan yang dialami Dasein sebagai ada-di-dalam-dunia menurut Heidegger mengindikasikan bahwa Dasein itu sebetulnya sudah jatuh dari dirinya sendiri (Heidegger, 2010: 169). Kejatuhan adalah suatu fakta niscaya, karena itu merupakan suatu ketersingkapan. Dengan kata lain, sebagai suatu Ada di dalam dunia Dasein selalu menemukan dirinya sebagai yang sudah terjatuh (Kleden, 2008: 31). KONSTITUSI EKSISTENSIAL DARI KEDISANAAN Jika Dasein adalah ketersingkapannya yang ditandai melalui kedisanaannya, bagaimana Heidegger membuktikan kedisanaan Dasein? Ada dua mode fundamental ketersingkapan Dasein. Mode yang dimaksudkan Heidegger adalah keadaan mental (befindlichkeit) dan pemahaman (verstehen) (Gorner, 2007: 71). Keadaan mental (befindlichkeit) bukanlah istilah Jerman yang lumrah digunakan, tetapi merupakan gaya percakapan harian, “Wie befinden Sie sich?”, dalam bahasa Inggrisnya diterjemahkan sebagai “How do you find yourself?”, sehingga jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti “Bagaimana kamu menemukan dirimu?” Keadaan mental yang dimaksudkan Heidegger tidak boleh dipahami sebagaimana dalam konteks pemahaman keseharian kita (Deryfus, 1995: 71). “Keadaan mental adalah kondisi ontologis dari apa yang secara ontis disebut sebagai perasaan (stimmung)” (Kleden, 2008: 30). Dalam keseharian, Dasein menemukan dirinya berada dalam perasaan tertentu. Perasaan ini tidak tetap, melainkan selalu berubah dari suatu perasaan kepada perasaan lainnya, misalnya kecemasan, kegembiraan, kesedihan. Kenyataan bahwa suasana hati yang dialami dapat berubah, hanya berarti bahwa Dasein selalu dalam suasana hati tertentu (Heidegger, 2010: 131). Ada dua karakter ontologis dari suasana hati (stimmung). Pertama, suasana hati (stimmung) itu adalah suatu kenyataan primordial yang menentukan “kedisanaan” Ada. Suasana hati (stimmung) sudah selalu menyingkapkan ada-di-dalam-dunia secara keseluruhan dan memungkinkan pengarahan diri terhadap sesuatu”. Suasana hati (stimmung) adalah suatu keadaan yang membuat Dasein itu sungguh-sungguh menyadari dirinya sebagai yang terlempar ke dalam dunia. Dengan kata lain, melalui suasana hati (Stimmung) tertentu seseorang menyadari faktisitasnya sebagai yang terlempar ke dalam dunia, dan pada saat yang sama menyadari pula kejatuhannya. Kedua, mode eksistensial fundamental dari ketersingkapan primordial dunia (Heidegger, 2010: 133). Dalam konteks karakter ontologis esensial yang ke dua ini maksud Heidegger seperti yang dikatakan oleh F. B. Hardiman bahwa, “Di mana kita berada, di situlah suasana hati kita disituasikan, maka di sana jugalah cara mengada 33 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 kita ditala sesuai dengan situasi” (Hardiman, 2008: 69). Suasana hati (stimmung) menyingkapkan dunia kita. Pemahaman (verstehen) Dasein secara faktis terlempar ke dalam dunia. Di dalam dunia Dasein mengalami kejatuhan. Keterlemparan dan kejatuhan ini mengkonstitusi Dasein sebagai Ada-di-dalam-dunia. Ada-di-dalam-dunia tersingkapkan, selain melalui keadaan mental (befindlichkeit), sebagaimana telah digambarkan di atas, juga melalui apa yang disebut Heidegger for-the-sake-of-which (D. G. Adian menerjemahkannya secara bebas sebagai “demi kesuksesan cara berada”). Model ketersingkapan inilah yang disebut Heidegger sebagai pemahaman (verstehen) (Heidegger, 2010: 139). Pemahaman dalam filsafat Heidegger bukanlah suatu epistemologi melainkan ontologi, yakni menyangkut Ada. Karena Ada selalu merupakan Ada dari ‘yang ada’ maka pemahaman bagi Heidegger tentu juga berkarakter eksistensial yakni menyangkut cara berada Dasein dalam kesehariannya. Dalam hubungan dengan pemahaman sebagaimana yang dimaksudkan Heidegger sebaiknya kita kembali mengingat salah satu ciri Dasein, yakni kemenjadiannya. Dasein tidak pernah jadi, melainkan selalu menjadi, sehingga Dasein bergerak dalam kemungkinannya, sebuah proyeksi ke masa depan. Jika pemahaman merupakan potensialitas dan kemungkinan Dasein itu sendiri, bagaimana mungkin kita bisa memahami sesuatu yang masih merupakan suatu kemungkinan? Menurut Heidegger, dalam pemahaman terdapat struktur eksistensial yang disebut proyek (project/entwurf). Proyek merupakan konstitusi eksistensial dari faktisitas, sehingga sebagai yang terlempar Dasein serentak terlempar ke dalam mode Ada yang disebut proyeksi (Heidegger, 2010: 140-141). Proyeksi itu hanya mungkin terjadi dalam bingkai keterlemparan dan kejatuhan Dasein sendiri, tidak mungkin di luar itu, sebab jelas bahwa di luar keterlemparan dan kejatuhan kita sama sekali tidak bisa berbicara tentang Dasein. Dengan demikian, tidak ada pemahaman sebetulnya. Sebaliknya, keterlemparan dan kejatuhan adalah fakta niscaya dari Ada Dasein itu. Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa “pemahaman adalah proyeksi-yangterlempar-dan-terjatuh” (Kleden, 2008: 32). For-the-sake-of-which (demi kesuksesan cara berada) sebagaimana dilukiskan Heidegger untuk menjelaskan pemahaman tidak lain merupakan suatu proyeksi yangterlempar-dan-terjatuh itu dan ditujukan untuk perwujudan sesuatu (kesuksesan cara berada). Misalnya martil. Seorang ketika melihat martil langsung terbayang olehnya bahwa martil itu sering digunakan oleh seorang tukang bangunan untuk membangun rumah. Rumah itu digunakan untuk melindungi manusia dari panasnya sinar matahari dan hujan (demi kesuksesan cara berada Dasein). Berdasarkan contoh di atas tampak adanya suatu pra-struktur dalam memahami. Ada tiga struktur memahami, yaitu pra-pemahaman, pra-penglihatan, dan pra-konsepsi. Pertama, Pra-pemahaman. Dasein sudah mempunyai pemahaman akan sesuatu secara keseluruhan dan kita terlibat aktif menggunakan sesuatu (martil misalnya), namun bungkam, sebab Dasein tenggelam dalam proses memalu. Pemahaman itu justru tumbuh dalam proses itu. Kedua, pra-penglihatan. Dasein sudah mempunyai pengelihatan (Sicht), sesuatu yang bisa dicapai atau yang mungkin dihasilkan oleh martil. Misalnya, dengan melihat martil Dasein sudah mempunyai 34 | Ledalogos Adrianus Yosephus Kiko penglihatan tentang wujud sebuah rumah. Ketiga, prakonsepsi. “Memahami martil berarti Dasein mempunyai konsep bahwa dalam membangun rumah Dasein menentukan cara beradanya sendiri sebagai tukang bangunan dan rumah untuk keamanan dirinya dan orang lain (Adian, 2002: 37). Gambaran secara garis besar ini menunjukkan apa itu pemahaman menurut Heidegger. Pemahaman adalah for-the-sake-of-which (demi kesuksesan cara berada). Di sini ada semacam keterarahan kepada masa depan yaitu kemungkinankemungkinan Dasein itu sendiri. Kemungkinan-kemungkinan itu hanya dalam kemungkinan adanya, yakni dalam bingkai keterlemparan dan kejatuhan Dasein. Pemahaman bagi Heidegger adalah ketersingkapan Dasein sebagai Ada-di-dalamdunia. PENTINGNYA MEMAHAMI DASEIN DALAM KONTEKS DEWASA INI Dalam dunia yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan platform digital, mempelajari konsep Dasein dari Martin Heidegger menjadi penting untuk menjaga kesadaran eksistensial manusia. Dasein, yang berarti "keberadaan di dunia", merujuk pada manusia sebagai makhluk yang tidak hanya berada, tetapi juga sadar akan keberadaannya dan terbuka terhadap kemungkinan. Di tengah derasnya arus digitalisasi, manusia seringkali terjebak dalam pola pikir instan, kehilangan refleksi, dan sekadar menjalani hidup berdasarkan algoritma atau kebiasaan yang dibentuk oleh teknologi. Di sinilah urgensi memahami Dasein, yakni untuk mengingatkan kita agar tidak sekadar menjadi “pengguna”, tetapi tetap menjadi subjek yang sadar dan reflektif. Platform-platform digital saat ini tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi telah membentuk cara kita memahami diri, orang lain, dan dunia. Identitas digital, interaksi daring, dan budaya berbasis klik menciptakan ruang yang berpotensi menjauhkan manusia dari kedalaman eksistensialnya. Heidegger menyebut kondisi ini sebagai hidup dalam “ketidakautentikan”, yaitu ketika seseorang hidup menurut harapan atau pandangan umum, bukan dari kesadaran diri yang sejati. Dengan mempelajari Dasein, kita diajak untuk mempertanyakan kembali: Apakah kita hidup sesuai pilihan dan pemahaman sendiri, atau hanya mengikuti arus digital? Heidegger juga menekankan pentingnya keterlemparan dan kebertanggungjawaban. Kita tidak memilih lahir di era digital ini, tetapi kita bisa memilih bagaimana meresponsnya. Menyadari keberadaan kita di tengah teknologi berarti juga menyadari batas dan potensi kita sebagai manusia. Ini menciptakan ruang bagi sikap kritis terhadap bagaimana kita menggunakan teknologi, serta bagaimana teknologi memengaruhi relasi dan makna dalam hidup. Maka, mempelajari Dasein bukan sekadar wacana filosofis, melainkan sarana untuk membangun kesadaran yang lebih dalam di tengah kehidupan digital. Ia menjadi jalan untuk menjaga keautentikan, menemukan makna, dan mempertahankan eksistensi manusia yang utuh di tengah dunia yang terus berubah. 35 | Ledalogos Jurnal Filsafat Ledalogos Vol. 1, No. 1, Mei 2025 PENUTUP Dalam mengkaji konsep Dasein menurut Heidegger, kita diajak untuk merenungkan eksistensi manusia dalam hubungannya dengan dunia. Dasein, yang merujuk pada keberadaan manusia yang terbuka terhadap kemungkinan, bukan hanya sekadar ada, tetapi juga sadar akan keberadaannya dalam dunia. Konsep ini mengungkapkan bagaimana manusia, sebagai makhluk yang terlempar ke dalam dunia, selalu terlibat dalam hubungan dengan sesama dan dunia sekitarnya, namun seringkali terjatuh dalam rutinitas hidup yang tidak autentik. Seiring dengan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, penting bagi kita untuk kembali merenungkan konsep Dasein agar tidak terperangkap dalam kehidupan yang hanya mengikuti arus digital tanpa kesadaran diri. Dalam dunia yang semakin digital, Heidegger mengingatkan kita untuk selalu memperhatikan cara kita berada dalam dunia, agar kita tidak terjebak dalam “ketidakautentikan” yang hanya mengikuti pandangan umum dan kebiasaan yang terbentuk oleh teknologi. Memahami Dasein, dalam konteks zaman modern ini, membuka peluang bagi kita untuk lebih sadar akan eksistensi kita sebagai individu yang unik dan bertanggung jawab. Ini bukan hanya soal hidup, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk hidup dengan kesadaran penuh, memaknai setiap pilihan, dan tetap menjaga autentisitas di tengah perkembangan zaman. Dasein mengajarkan kita untuk tidak hanya ada, tetapi untuk benar-benar hidup dengan kesadaran akan dunia dan diri kita sendiri. DAFTAR PUSTAKA Adian, D. G. (2002). Martin Heidegger. Jakarta: Teraju. Adian, D. G. (2012). Senja Kala Metafisika Barat. Depok: Koekoesan. Al-Fayyadl, M. (2005). Derrida. Yogyakarta: Likis. Dreyfus, Hubert L. (1995). Being-in-the-World: A Comentary on Heidegger’s Being and Time Division I. London: MIT Press. Gorner, Paul. (2007). Heidegger’s Being and Time An Introduction. New York: Cambridge University Press. Hardiman, Fransiskus B. (2008). Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Haugeland, J. (2013). Dasein Disclosed. Cambridge: Harvard University Press. Heidegger, M. (1959). An Introduction to Metaphysics (Translated by Ralph Manheim). London: Yale University Press. Heidegger, M. (2010). Being and Time. Terj. Joan Stambaugh. New York: State University of New York Press. Heidegger, M. (1973). The End of Philosophy. (Translated by Joan Stambough). Chicago: University of Chicago Press. Joseph, J. K. (1990). Heidegger’s Being and Time: The Analitic of Dasein as Fundamental Ontology. Washington: University Press of America. 36 | Ledalogos Adrianus Yosephus Kiko Kleden, Leo. (2008). “Hermeneutika Modern dan Kontemporer”. Manuskrip Kuliah. Maumere: STFK Ledalero. Levinas, E. (1985). Ethics and Infinity (Translated by Richard A. Cohen). Pittsburgh: Duquesne University Press. Lim, F. (2008). Filsafat Teknologi: Don Idhe Tentang Dunia, Manusia, dan Alat. Yogyakarta: Kanisius. Polt, Rihard F. H. (1999). Heidegger An Introduction. New York: Cornell University Press. Richardson, William J. (2003). Heidegger: Through Phenomenology to Thought. New York: FordhamUniversity Press. Villa, Dana R. (1996). Arendt and Heidegger: The Fate of Political. London: Princeton University Press. 37 | Ledalogos