Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 DAMPAK MEROKOK PADA RHEUMATOID ARTHRITIS: TINJAUAN LITERATUR THE IMPACT OF SMOKING ON RHEUMATOID ARTHRITIS: A LITERATURE REVIEW Eka Priana*. Marita Kaniawati Program Studi Magister Ilmu Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Bhakti Kencana Bandung Jl. Soekarno-Hatta No. Cipadung Kidul. Kec. Panyileukan. Kota Bandung. Jawa Barat 40614 *e-mail korespondensi: ekapriana51@yahoo. ABSTRAK Rheumatoid arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan adanya peradangan kronis pada sendi. Meskipun etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti, penelitian sebelumnya telah menunjukkan adanya kontribusi faktor genetik dan lingkungan dalam patologi RA. Merokok merupakan faktor lingkungan yang paling berpengaruh secara signifikan dalam perkembangan dan keparahan penyakit ini. Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai pengaruh merokok terhadap RA. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa intensitas maupun durasi merokok memiliki hubungan langsung dengan peningkatan risiko perkembangan RA. Selain itu, terdapat peningkatan kadar antibodi rheumatoid factor dan anticitrullinated peptide antibodies pada pasien RA yang memiliki kebiasaan merokok, dimana antibodi tersebut berhubungan dengan penghancuran sendi. Namun sebaliknya beberapa penelitian melaporkan adanya penurunan frekuensi RA pada pasien merokok. Hal tersebut disebabkan oleh kandungan nikotin pada rokok yang mempunyai efek inhibitori salah satunya dengan cara memodulasi respons imun, menekan produksi sitokin pro-inflamasi Tumor Necrosis Factor alfa (TNF-A) yang banyak ditemukan pada pasien RA, telah dibuktikan secara in vivo dan in vitro. Pengaruh asap rokok dan nikotin pada perkembangan RA perlu diteliti lebih lanjut untuk memberikan gambaran patogenesis dan pemahaman yang lebih baik Kata Kunci: rheumatoid arthritis (RA). anticitullinated peptide antibodies (ACPA). factor rheumatoid (RF) ABSTRACT Rheumatoid arthritis (RA) is an autoimmune disease characterized by chronic inflammation of the Although the etiology of this disease is not known with certainty, previous studies have shown the contribution of genetic and environmental factors in RA pathology. Smoking is the environmental factor that has the most significant influence on the development and severity of this disease. This review aims to examine the impact of smoking on the development and progression of rheumatoid arthritis (RA). Several studies show that the intensity and duration of smoking have a direct relationship with an increased risk of developing RA. In addition, there are increased levels of rheumatoid factor antibodies and anticitrullinated peptide antibodies in RA patients who have a smoking habit, where these antibodies are associated with joint destruction. However, on the contrary, several studies have reported a decrease in the frequency of RA in smoking patients. This is caused by the nicotine content in cigarettes which has an inhibitory effect, one of which is by modulating the immune response, suppressing the production of the pro-inflammatory cytokine Tumor Necrosis Factor alpha (TNF-A) which is often found in RA patients and has been proven in vivo and in vitro. The influence of cigarette Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 smoke and nicotine on the development of RA needs to be studied further to provide a better picture of the pathogenesis and understanding. Keywords: rheumatoid arthritis (RA). anticitullinated peptide antibodies (ACPA). factor rheumatoid (RF) Diterima: 5 Februari 2025 Direview: 6 Februari 2025 Diterbitkan: 28 Februari 2025 PENDAHULUAN / INTRODUCTION Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan kronis pada membran sinovial yang menyebabkan kerusakan pada sendi. (Heluany C. et al. , 2022. Ishikawa & Terao, 2020. Romyo & Fonseca, 2. Menurut data Riskesdas tahun 2018, prevalensi penderita RA di Indonesia cukup tinggi yaitu sekitar 7,3%. (Balitbangkes Kemenkes RI, 2. RA merupakan penyakit multifaktorial yang dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup. Banyak faktor lingkungan yang dikaitkan dengan peningkatan risiko berkembangnya RA seperti merokok, pola makan yang tidak sehat, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan stres psikologis. Merokok merupakan faktor resiko yang paling signifikan terhadap perkembangan dan keparahan penyakit ini. (Romyo & Fonseca, 2. Merokok mempengaruhi sistem imun tubuh dengan memicu berbagai perubahan morfologis, fisiologi, biokimiawi, dan enzimatik yang mengarah pada gangguan pertahanan antibakteri, aktivitas regulasi seluler, dan respons inflamasi. (Chang et al. , 2. Paparan asap rokok telah dikaitkan dengan peningkatan insiden RA dan penurunan respon terhadap terapinya. Merokok dapat meningkatkan stres oksidatif dalam tubuh karena sistem antioksidan yang terganggu akibat radikal bebas yang terkandung pada tar dan uap asap rokok, dan berperan dalam etiologi RA. (Chang et al. , 2014. Roh, 2. Selain itu, merokok juga dapat meningkatkan ekspresi matrix metalloproteinase (MMP), dan kadar sitokin proinflamasi diantanya Tumor Necrosis Factor alfa (TNF-A) dan Interleukin (IL), yang berkontribusi terhadap penghancuran sendi yang progresif pada penderita RA. (Chang et al. , 2014. Heluany C. , 2. Beberapa studi melaporkan hubungan antara merokok dan RA, risiko berkembangnya RA pada perokok hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan non-perokok. (Sugiyama et al. , 2. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perokok aktif dan mantan perokok dengan RA mengalami gejala yang lebih parah, kerusakan sendi yang lebih besar, dan respons terapi yang lebih buruk dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok. (BedekoviN et al. , 2. Pada penelitian kohort yang dilakukan oleh (Roelsgaard et al. , 2. , menunjukkan bahwa pasien yang berhenti merokok mengalami perbaikan dalam aktivitas penyakit RA, hal tersebut mengindikasikan adanya pengaruh merokok terhadap patogenesis penyakit. Meskipun telah banyak penelitian yang melaporkan pengaruh merokok terhadap perkembangan RA, namun ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa adanya peranan nikotin pada rokok yang dapat mengurangi peradangan pada model tikus. (Wu et al. , 2. Pada penelitian yang dilakukan Lindblad et al. terhadap tikus yang diberi kolagen yang dapat menginduksi arthritis menunjukkan hasil bahwa pada kelompok tikus yang diberi paparan asap rokok mengalami perkembangan arthritis yang lebih lambat dibandingkan dengan kelompok kontrol. (Lindblad et al. Zat utama dalam asap rokok, nikotin, mungkin memainkan peran penting dalam meredakan respons inflamasi dengan mengurangi pelepasan Interleukin-6 (IL-. dan Interleukin-8 (IL-. yang diinduksi oleh Tumor Necrosis Factor alfa (TNF-) pada fibroblas sinoviosit dari pasien RA. (Gibbons & Hyrich, 2. Beberapa penelitian di atas menunjukkan hasil yang berbeda mengenai kaitan merokok dengan RA karena adanya faktor perancu seperti faktor genetik, penggunaan obat-obatan, prevalensi kebiasaan merokok, tingkat keparahan penyakit, faktor lingkungan, usia dan jenis kelamin, serta status kesehatan mental. Adanya pro dan kontra mengenai efek merokok terhadap perkembangan RA telah banyak dibahas, namun belum ada mekanisme yang jelas mengenai efek merokok terhadap patogenesis RA. Oleh karena itu, perlu dilakukan literature review dari beberapa jurnal penelitian untuk memberikan gambaran pengaruh merokok terhadap perkembangan RA. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 METODE PENELITIAN Pencarian literatur yang komprehensif dilakukan dengan memasukan beberapa kata kunci seperti Ausmoking and Rheumatoid arthritis. Aunicotine and Rheumatoid arthritisAy pada basis data artikel Google Scholar dan PubMed. Artikel yang digunakan merupakan artikel yang dipublikasi pada rentang tahun 2009-2024. Artikel yang menjadi kriteria inklusi yaitu original article berupa penelitian cohort, case-control dan experimental mengenai faktor risiko merokok terhadap perkembangan RA khususnya pengaruh asap rokok dan nikotin. Adapun kriteria eksklusi yaitu artikel yang berupa literature review, dipublikasikan sebelum tahun 2009, dan artikel yang tidak berhubungan dengan merokok dan RA. Data dikumpulkan sesuai dengan kata kunci yang dimasukan, kemudian diidentifikasi sesuai dengan kriteria inklusi yang sudah ditentukan. Ekstraksi data dilakukan dengan mengambil informasi yang relevan dari setiap artikel terpilih yang sesuai dengan tujuan review. Dalam review ini dilakukan analisis komparatif dari setiap artikel yang didapatkan dengan membandingkan beberapa hasil penelitian mengenai pengaruh asap rokok dan nikotin terhadap perkembangan RA. HASIL DAN PEMBAHASAN / RESULTS AND DISCUSSION RA ditandai dengan peradangan kronis dan proliferasi jaringan sinovial yang mengarah pada penghancuran kartilago dan tulang. RA adalah penyakit multifaktorial yang melibatkan interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Di antara faktor lingkungan, merokok menunjukkan pengaruh yang kuat dengan RA pada Sebagian pasien. Berbagai penelitian sebelumnya telah melaporkan efek merokok terhadap perkembangan RA, dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil penelitian efek merokok terhadap perkembangan rheumatoid arthritis Referensi Metode Lindblad et Randomized control trial 70 ekor tikus Paparan asap rokok Suplementasi arthritis yang kolagen (CIA) Asap rokok: 25 Nikotin: 10 Kontrol : 35 Paparan asap rokok Perkembangan dan Suplementasi nikotin tingkat keparahan Jenis makanan dan RA pada tikus yang akses air terpapar asap rokok Usia kalamin tikus Kondisi lingkungan dan perawatan Frekuensi RA pada Imunisasi tikus yang diberi nikotin lebih rendah Adanya keterlambatan onset pada tikus yang diberi nikotin. Penurunan kadar IL-6 kelompok nikotin. Van Maanen et al. , . Randomized control trial 32 tikus jantan . sia 8-10 Variabilitas individu 1. Artritis diperburuk oleh vagotomy dan Usia diperbaiki dengan kelamin tikus pemberian nikotin Rute pemberian nikotin Nikotin Faktor lingkungan Sampel Perlakuan Kelompok 1: Vagotomi Kelompok 2: Operasi Kelompok 3: Nikotin secara intraperitoneal Faktor Perancu Hasil Penelitian Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 Referensi Metode Sampel Perlakuan Faktor Perancu Hasil Penelitian Kelompok 4: air Desain penelitian minum biasa . Metode pengukuran Nizri et al. Yu et al. Penelitian al in vivo Randomized control trial TNF- Vaitabilitas genetik Nikotin mengurangi Lingkungan keparahan penyakit EAE dibandingkan Metode pengukutan dengan kontrol. Rute Efek Nikotin dalam pemberian nikotin EAE Waktu pengamatan Komorbiditas 7nAChR. Tingkat stres 57 tikus betina C57Bl/6 . sia 8 mingg. yang diinduksi Experimental Autoimmune Enchephalomy elitis (EAE) Kelompok perlakuan dengan nikotin = 17 ekor Kelompok kontrol = 17 ekor Kelompok Knockout alpha 7 . nAChR) = 11 ekor . , 12 ekor . ild-typ. Tikus dengan arthritis yang adjuvant (AIA) Diberikan nikotin dengan dosis . ,625, 1,25, atau 2,5 mg/kg/hari, 200 AAl/tiku. secara Variablitias genetik Pretreatment Dosis dan waktu pemberian nikotin Lingkungan arthritis, sementara Status nikotin mengurangi Pengaruh lingkungan 2. Modulasi AIA yang diinduksi nikotin Ketersediaan nutrisi perubahan spesifik pada respons imun seluler dan humoral dalam AIA. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 Referensi Metode Sampel Perlakuan Nikotin dengan konsentrasi . ,1Ae 104 AAM) Faktor Perancu Hasil Penelitian Zhou et al. Penelitian al in vitro Fibroblast-like (FLS) diisolasi dari jaringan pasien RA Yahya et al. Case-control 056 pasien didiagnosa RA sia 18-70 tahun dari 9 Semenanjung Malaysi. 416 kontrol Usia Tingkat pendidikan Indeks Massa Tubuh (BMI) Etnisitas Perokok risiko lebih tinggi untuk mengembangkan RA ACPA dibandingkan dengan bukan perokok. Jiang et al. Case-control 907 pasien didiagnosa RA 770 kontrol Tidak ada pengaruh yang signifikan antara paparan snuff basah terhadap RA. Wu et al. Randomized control trial 40 ekor tikus usia 6 minggu Kelompok kontrol: (VGX PBS) Kelompok model: (VGX PBS CIA) Kelompok Vagotomi: (VGX PBS CIA) Kelompok nikotin: (VGX Nic CIA) Variablitas biologis Konsentrasi rendah Konsentrasi . ,1Ae100 AAM) Lingkungan kultur viabilitas FLS. Nikotin Penggunaan TNF-c konsentrasi 0,1Ae10 Interaksi dengan obat AAM ekspresi protein dan Metode pengukutan mRNA IL-6 dan IL8 Nikotin translokasi Nuclear (NF)-B . dari sitoplasma ke inti. Merokok Konsumsi alkohol Faktor genetik Intensitas dan durasi penggunaan snuff Bias ingatan Variabel demografis Variasi dalam respon Dosis nikotin Waktu pemberian Pengaruh lingkungan Metodologi Pengaruh lainnya Perkembangan RA nikotin lebih rendah dengan lainnya Tingkat infiltrasi sel hiperplasia sinovial, kelompok nikotin. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 Referensi Metode Ishikawa et Prospective cohort study 239 warga Jepang yang didiagnosa RA. Komponen genetik Merokok pada saat Status autoantibodi Durasi dan intensitas Rheumatod Factor Faktor lingkungan (RF). Pasien yang telah berhenti merokok sebelum onset RA menunjukkan tren penurunan risiko peptide antibodies (ACPA) atau RF yang tinggi. Roelsgaard et al. Cohort study 311 pasien diagnosa RA, terbagi dalam: 012 orang 887 perokok 412 tidak Usia Perokok memiliki aktivitas Tingkat pendidikan penyakit RA yang Indeks Massa Tubuh (BMI) Etnisitas perokok atau yang tidak merokok. Mantan dan yang tidak merokok memiliki Cardiovascular Diseae (CVD) yang BedekoviN et Prospective, cohort study 210 pasien yang dipilih dari Pusat Reumatologi Rumah Sakit Universitas Osijek RA: 124 pasien . Osteoarthritis (OA): 77 . Data yang didapat Selfreporting Kematian dan data yang susah diakses Ukuran sampel kecil Variasi Faktor Sampel Perlakuan Faktor Perancu Hasil Penelitian Prevalensi pada pasien RA lebih dengan pasien OA Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 BedekoviN et al. melakukan penelitian kohort prospektif terhadap 210 pasien yang dipilih dari Pusat Reumatologi Rumah Sakit Universitas Osijek untuk melihat prevalensi merokok pada pasien RA, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa prevalensi merokok pada pasien RA lebih tinggi dibandingkan dengan pasien Osteoarthritis (OA). Sejalan dengan (Roelsgaard et al. , 2. melakukan penelitian kohort pada 3. 311 pasien yang didagnosa RA dan dibagi menjadi 3 kategori . idak merokok, perokok aktif, dan mantan peroko. , perkembangan penyakit RA lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan mantan perokok atau yang tidak merokok. Merokok diketahui mempengaruhi pembentukan Rheumatod Factor (RF) dan anticitrullinated peptide antibodies (ACPA) yang merupakan antibodi khas yang ditemukan pada pasien dengan RA. Kadar RF dan ACPA berhubungan dengan penghancuran sendi dan kehilangan tulang sistemik. Hal tersebut sejalan dengan penelitian (Yahya et al. , 2. , perokok memiliki risiko yang lebih tinggi untuk meningkatkan kadar ACPA positif dibandingkan dengan bukan perokok. Selain itu (Ishikawa et al. , melakukan penelitian pada 6. 239 kasus RA yang merupakan studi terbesar tentang RA di Asia, hasil penelitiannya menyatakan bahwa merokok pada saat onset RA dapat meningkatkan RF, sebaliknya pasien yang berhenti merokok sebelum onset RA dapat menurunkan risiko peningkatan kadar RF dan ACPA. Intensitas maupun durasi merokok memiliki hubungan langsung dengan peningkatan risiko perkembangan RA, bahkan setelah penghentian merokok karena kadar ACPA dan RF bertahan hingga 20 tahun. (Ishikawa et al. , 2. Merokok mempengaruhi respon imun bawaan maupun adaptif, yang mengarah pada perubahan kekebalan seluler dan humoral yang menyebabkan peradangan sistemik. Asap rokok menginduksi pelepasan TNF-, reseptor TNF-. IL-1. IL-6. IL-8, dan faktor koloni stimulasi granulocyte-makrofag (GM-CSF). Di sisi lain, merokok juga dikaitkan dengan penurunan produksi IL-6 melalui reseptor Tolike (TLR)-2 dan 9, penurunan produksi IL-10 melalui aktivasi TLR-2, serta penurunan produksi IL1. IL-2. TNF-, dan Interferon (IFN-) oleh sel mononuclear. Efek inhibitori dari merokok telah dikaitkan dengan nikotin, hidrokuinon, dan karbon monoksida dalam asap rokok. Nikotin memiliki efek supresif terhadap kadar sitokin inflamasi IL-6. IL-8, dan IL-10. Beberapa efek inhibitori nikotin telah dikaitkan dengan pengaruhnya pada reseptor nikotin a7 asetilkolin yang ditemukan pada makrofag, sel T, dan sel B. Aktivasi reseptor ini telah terbukti mengurangi produksi sitokin pro-inflamasi TNF-. IL1. IL-6 dan menekan reaksi sel T helper-1 (Th. dan sel T helper-17 (Th. (Lindblad et al. , 2009. Nizri et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Lindblad et al. menyatakan pada tikus yang diberi paparan asap rokok dan suplementasi nikotin terlihat bahwa frekuensi RA lebih rendah dan adanya keterlambatan onset pada tikus yang diberi nikotin. Selain itu, pada penelitian tersebut juga dilakukan uji in vitro yang menggunakan sel limpa tikus yang distimulasi oleh lipopolysaccharide (LPS) dan diamati bahwa nikotin menyebabkan penurunan kadar IL-6 yang signifikan. Hal tersebut sejalan dengan penelitian in vitro yang dilakukan (Zhou et al. , 2. Nikotin pada konsentrasi 0,1Ae10 AAM mengurangi ekspresi protein dan mRNA IL-6 dan IL-8. Selain itu (Van Maanen et al. , 2. , pada peneliitian eksperimentalnya terhadap tikus juga menyatakan bahwa nikotin dapat menghambat degradasi tulang dan mengurangi ekspresi TNF- pada jaringan sinovial. (Wu et al. , 2. , menunjukkan bahwa perkembangan RA pada kelompok nikotin lebih rendah. Tingkat infiltrasi sel inflamasi, hiperplasia sinovial, dan kerusakan tulang secara signifikan berkurang pada kelompok nikotin. Pada penelitian tersebut, diketahui bahwa nikotin menghambat respons sel Th17, dimana sel Th17 dapat menginduksi fibroblas sinovial pada pasien RA dini untuk mengeluarkan sejumlah besar IL-6. IL-8, matriks metalloproteinase-1 (MMP-. , dan matriks metalloproteinase-3 (MMP-. , sehingga berkontribusi pada sinovitis dan kerusakan tulang. Sel Th17 juga dapat mempromosikan ekspresi reseptor aktivator ligan NF-B (RANKL) pada osteoklas yang terlibat dalam degradasi tulang. (Nizri et al. , 2009. Van Maanen et al. , 2009. Wu et al. , 2. KESIMPULAN / CONCLUSION Merokok merupakan faktor risiko yang paling berperan terhadap perkembangan RA, dengan cara mempengaruhi respon imun bawaan maupun adaptif, yang mengarah pada perubahan kekebalan seluler dan humoral yang menyebabkan peradangan sistemik. Namun di sisi lain, nikotin yang terkandung dalam rokok mempunyai efek inhibitori yang dapat menekan mediator inflamasi yang berperan pada perkembangan RA. Efek asap rokok dan nikotin dalam patogenesis RA masih harus dievaluasi dengan adanya penelitian yang lebih lanjut. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 DAFTAR PUSTAKA