Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan (JKPPK) Vol.2, No.2 April 2024 e-ISSN: 2964-0342; p-ISSN: 2964-0377, Hal 01-12 DOI: https://doi.org/10.59031/jkppk.v2i2.314 Analisis Metode Penerapan Strategi Bercerita Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Pemahaman Konsep Pembelajaran Lutfil Amin1, Mathori2, Moch.Fauzi3, Nasiruddin Nasiruddin4, Miftahus Surur5, Ahmad Hafas Rasyidi6 STKIP PGRI Situbondo Alamat:Jl.Argopuro, Mimbaan Tengah, Mimbaan, Kec.Panji, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur 68323 Korespondensi penulis: Surur.miftah99@email.com* Abstract.The background of this research is the low literacy culture of students, this can be seen from the reading interest of Indonesian children which is still relatively low. According to a UNESCO survey, Indonesian children only read 27 pages a year and the dominant reading time of around 0-2 hours per day is 63%, while reading longer than 6 hours per day is only 2%. The purpose of this study was to find out the application of the storytelling method in increasing children's literacy in Indonesian language subjects. This study used descriptive qualitative research, while data collection techniques were carried out through interviews and observation. The results of this study indicate that literacy has a broad scope, not only talking about reading and writing letters, but the ability to capture information with logical and critical thinking, which is ultimately able to use it effectively to achieve certain goals. One method of increasing literacy in children is the storytelling method. The conclusion of this study is that there is a change in verbal ability, creativity and critical thinking in contributing ideas and imagination in the classroom. Keywords: motivacy, Storytelling Method, Creativity, Students. Abstrak.Penelitian ini dilatarbelakangi masih rendahnya budaya literasi para pelajar, hal ini terlihat dari minat baca anak Indonesia saja masih tergolong rendah. Menurut survey UNESCO, anak Indonesia hanya membaca 27 halaman dalam setahun dan dominan lama baca sekitar 0-2 jam per hari nya adalah sebanyak 63%, sementara lama baca lebih dari 6 jam per hari nya hanya sebanyak 2%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan metode bercerita dalam meningkatkan literasi anak terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa literasi mempunyai cakupan yang luas, tidak hanya berbicara tentang membaca dan menulis huruf, melainkan kemampuan menangkap informasi dengan pemikiran logis dan kritis, yang akhirnya mampu memanfaatkannya secara efektif mencapai tujuan tertentu. Salah satu metode peningkatan literasi pada anak-anak adalah metode bercerita. Simpulan penelitian ini adalah adanya perubahan dalam kemampuan verbal, kreativitas dan pemikiran kritis dalam mengkontribusikan ide-ide serta imajinasi dalam kelas. Kata kunci:Motivasi, Metode Bercerita, Kreativitas, Siswa LATAR BELAKANG Pada dasarnya proses belajar berhubungan erat dengan motifasi belajar siswa . Motivasi bersifat tidak tetap, adakalanya motivasi itu meningkikat dan adakalnya Menurun .oleh Karena itu, dalam pelaksanaanya bimbingan konseling di sekolah harus mampu memotivasi belajar siswa melalui berbagai upaya, fasilitas, dan Teknik belajar. Received Desember 31, 2023; Accepted Januari 20,2024; Published April 30, 2024 * Miftahus Surur,: Surur.miftah99@email.com ANALISIS METODE PENERAPAN STRATEGI BERCERITA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PEMAHAMAN KONSEP PEMBELAJARAN Motivasi dalam Diri manusia dibagi menjadi 2 yaitu motifasi intrinsik dan ektrinsik. Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsi tanpa perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (S. Bahri, 2011). Sedangkan motifasi ektinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar (S. Bahri, 2011).Munurut (Yoon, 2014) dalam penelitiannya menjelaskan motivasi berprestasi sebagai bagian dari mootivasi intrinsik yang memberikan pengaruh kuat terhadap pencapayan hasil pelajaran .harapan keinginan dan usaha siswa yangb timbul dari dalam siswa sebagai energi pendorong segala kegiatan untuk belajar.adanya energi tersebut siswa akan mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikan tugas-tugas belajarnya dengan baik, sehingga diperoleh hasil belajar yang optimal. Namun, jangankan kemampuan Pemahaman , minat baca anak Indonesia saja masih tergolong rendah. Menurut survey UNESCO tahun 2014 dalam (Permatasari et al., 2017), anak Indonesia hanya membaca 27 halaman dalam setahun dan dominan lama baca sekitar 0-2 jam per hari nya adalah sebanyak 63%, sementara lama baca lebih dari 6 jam per hari nya hanya sebanyak 2%. Sementara itu, (Tahmidaten, 2020) menyebutkan hasil asesmen yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Pendidikan (Puspendik) Kementerian Pendidikan & Kebudayaan mengungkap data bahwa rata-rata nasional distribusi literasi pada kemampuan membaca pelajar di Indonesia adalah 46,83% berada pada kategori Kurang, hanya 6,06% berada pada kategori Baik, dan 47,11 berada pada kategori Cukup. Sementara itu,(Statistik, 2017) mencatat sekitar 71,48% siswa berusia 5-24 tahun menggunakan telepon seluler. Kemudahan teknologi untuk mengakses informasi, sosial media, dan hiburan, secara praktis menyebabkan tingginya persentase penggunaan telepon seluler tsb. Menurut (Ak et al., 2021) bahwa anak-anak yang memiliki minat baca yang rendah dapat dengan mudah mengakses informasi adalah hal yang cukup mengkhawatirkan karena kemampuan untuk memilah mana informasi yang positif atau negative, serta kemampuan untuk menelusuri keakuratan informasi nya diperkirakan lemah. Di satu sisi, kemudahan ini memperluas peluang, koneksi dan potensi yang lebih besar kepada individu yang cakap dan kompeten dalam meresponi informasi untuk beradu atau bersaing secara global. Namun, di sisi lain, kemudahan ini malah menjadi ancaman bagi individu yang tidak cakap dan kompeten untuk bersaing dan pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan hidupnya. Menurut KBBI menyebutkan bahwa literasi adalah (1) kemampuan menulis dan membaca, (2) pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu, (3) kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Ini artinya bahwa motivasi mempunya cakupan yang luas, tidak hanya 2 Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan –Vol. 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 2964-0342; p-ISSN: 2964-0377, Hal 01-12 berbicara tentang membaca dan menulis huruf, melainkan kemampuan menangkap informasi dengan pemikiran logis dan kritis dan akhirnya mampu memanfaatkannya secara efektif mencapai tujuan tertentu. Metode berasal dari bahasa Yunani yaitu: “Meta dan Hodos”. Meta berarti melalui dan Hodos berarti jalan atau cara, berdasarkan hal ini bahwa metode mengandungpengertian suatu jalan atau cara yang dilalui untuk suatu tujuan (Hafidzoh Rahman et al., 2021) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagaimana dikutip (Arifudin, 2020), metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Menurut Langgulung dalam (Mayasari et al., 2021) bahwa metode adalah cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan Hamiyah dan Jauhar dalam (Arifudin et al., 2021), mengartikan metode sebagai cara untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut (Sulaeman et al., 2022) bahwa metode pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk menyampaikan materi saja, melainkan mempunyai tugas untuk mengelola kegiatanpembelajaran sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran secara tepat.4 Metode pembelajaran merupakan langkah oprasional dari strategi pembelajaran yang dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dari beberapa pendapat di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode pembelajaran adalah suatu cara atau tekhnik tertentu yang tepat dan sesuai untuk menyampaikan bahan pelajaran kepada peserta didik untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. Penentuan atau pemilihan metode mengajar dalam pembelajaran harus mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhi pembelajaran. Menurut Anitah sebagaimana dikutip (Tanjung et al., 2022) bahwa faktor-faktor tersebut adalah : (1) Tujuan pembelajaran atau kompetensi siswa, (2) Karakteristik bahan pelajaran atau materi pelajaran, (3) Waktu yang digunakan, (4) Factor siswa dan fasilitas, media, dan sumber belajar. Menurut Miller dan Pennycuff dalam (Fuadi et al., 2021) bahwa salah satu cara untuk meningkatkan Motivasi anak adalah metode bercerita (storytelling). Selain dapat menumbuhkembangkan minat baca anak, metode bercerita ini juga dapat meningkatkan kecakapan berbahasa secara verbal, pemahaman bacaan secara komprehensif dan juga kemampuan menulis pada anak. Korelasi peningkatan kemampuan membaca dan menulis pada akhirnya akan berhilir pada peningkatan kompetensi anak-anak pada berbagai area dalam kehidupan mereka masing-masing. ANALISIS METODE PENERAPAN STRATEGI BERCERITA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PEMAHAMAN KONSEP PEMBELAJARAN Ada beberapa penelitian yang mengkaji tentang dampak metode bercerita pada peningkatan kreatifitas anak dan juga peningkatan pengetahuan serta mendorong motivasi anak. Pada hasil penelitian (Permatasari et al., 2017) menyatakan pentingnya peran aktif guru menyiasati teknik penyajian agar cerita yang disampaikan dapat mencapai target yang diharapkan. Hasil penelitian-penelitian terdahulu yang dirangkum dalam (Melatih et al., 2022) menyebutkan bahwa Comprehension, critical listening, and thinking skills are also developed by combining storytelling with questioning, imagery, inferencing, and retelling, yaitu untuk mengembangkan pemahaman menyeluruh, mendengar kritis dan keterampilan berpikir anak adalah dengan mengkombinasikan metode bercerita dengan bertanya, penggambaran, penarikan kesimpulan dan menceritakan ulang. Menurut Kardi dan nur bahwa model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang membedakan dengan strategi, metode atau prosedur (Shell, 2019). Ciri-ciri tersebut antara lain: 1) Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya, 2) Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai), serta 3) Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dibahas bagaimana metode bercerita yang dikombinasikan dengan pertanyaan, penggambaran, menarik kesimpulan dan menceritakan ulang dapat meningkatkanMotivasi anak MTS. SARJI AR-RASYID. Berdasarkan latar belakang di atas, bahwa sangat penting melakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan penerapan metode bercerita dalam meningkatkan Motivasi anak terhadap Pembelajaran Guna untuk menghasilkan data dan hasil yangvalid berkaitan dengan masalah yang diteliti. METODE PENELITIAN Penelitian ini berusaha untuk menganalisis dan mendeskripsikan penerapan metode bercerita dalam meningkatkan Motivasi anak terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pendekatan kualitatif penulis gunakan untuk menganalisis kajian terhadap penerapan metode bercerita dalam meningkatkan literasi anak terhadap mata pelajaran. Metode yang digunakan dalam kajian ini menggunakan metode atau pendekatan deskriptif, menurut Zed dalam (Iverson & Dervan, n.d.) bahwa penelitian deskriptif kualitatif 4 Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan –Vol. 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 2964-0342; p-ISSN: 2964-0377, Hal 01-12 dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan menganalisis kejadian, fenomena, atau keadaan secara sosial. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Menurut Ibnu dalam (Nasem et al., 2018) penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang datanya dinyatakan dalam bentuk verbal dan dianalisis tanpa menggunakan teknik statistik. Berdasarkan beberapa definisi penelitian kualitatif di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang datanya dinyatakan dalam bentuk verbal, tidak menggunakan angka dan analisisnya tanpa menggunakan teknik statistik. Dalam penelitian ini objek penelitian terdiri dari 2 (dua), yaitu objek formal dan objek material (Arifudin, 2019). Objek formal dalam penelitian ini berupa data yaitu data yang berhubungan dengan tinjauan kritis kajian terhadap penerapan metode bercerita dalam meningkatkan literasi anak terhadap mata Pelajaran. Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi, observasi dan wawancara. Teknik pengumpulan data menurut (S. A. Bahri et al., 2021) mengemukakan bahwa merupakan langkah yang paling strategis pada penelitian karena tujuan untama dari penelitian adalah mendapatkan data. terdapat beberapa cara atau teknik dalam mengumpulkan data, antara lain adalah observasi, dokumentasi serta wawancara. sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini meliputi data utama dan sekunder. Dari (Plutzer, 2021) bahwa data primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari individu-individu yang diselidiki atau data tangan pertama. Sedangkan data sekunder adalah data yg ada pada pustakapustaka. Data primer dalam penelitian ini adalah buku-buku terkait tinjauan kritis kajian terhadap penerapan metode bercerita dalam meningkatkan literasi anak terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia, dan data sekunder didapatkan dari jurnal-jurnal baik nasional maupun internasional. Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara sebagai alat buat pengumpul data sebab penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. dengan kata lain, dari (Ulfah & Arifudin, 2020) bahwa teknik ini digunakan buat menghimpun data-data dari sumber utama maupun sekunder. Analisis data tidak saja dilakukan setelah data terkumpul, namun semenjak tahap pengumpulan data proses analisis telah dilakukan. dari (Apiyani et al., 2022) bahwa penggunaan strategi analisis “kualitatif”, dimaksudkan bahwa analisis bertolak dari data-data serta bermuara pada kesimpulan-kesimpulan umum. berdasarkan pada strategi analisis data ini, dalam rangka membentuk kesimpulan-kesimpulan umum analisis dapat dilakukan menggunakan kerangka pikir “induktif”. ANALISIS METODE PENERAPAN STRATEGI BERCERITA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PEMAHAMAN KONSEP PEMBELAJARAN Data pada penelitian ini dicatat, dipilih dan kemudian diklasifikasikan sesuai dengan kategori yang ada. Pendekatan yang digunakan merupakan pendekatan deskriptif analitis. Berdasarkan (Nasser et al., 2021) bahwa deskriptif analitis (descriptive of analyze research), yaitu pencarian berupa berita, yang akan terjadi berasal pandangan baru pemikiran seorang melalui cara mencari, menganalisis, menghasilkan interpretasi dan melakukan generalisasi terhadap yang akan terjadi penelitian yg dilakukan. mekanisme penelitian ini menurut (Ulfah & Arifudin, 2019) adalah buat membuat data deskriptif yg berupa data tertulis setelah melakukan analisis pemikiran (content analyze) berasal suatu teks. sehabis penulis mengumpulkan bahanbahan yang bekerjasama dengan persoalan yang akan pada bahas dalam penelitian ini, lalu penulis menganalisis dan menarasikan buat diambil kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di kelas 2 MTS.SARJI AR-RASYID Peneliti menerapkan penggunaan media Buku cerita dalam pembelajaran Fiqih Dan Aqidah Akhlak yang mana diharapkan dapat meningkatkan daya ingat ,pemahaman siswa dalam membaca buku Penelitian ini dilaksanakan terhadap siswa MTS.SARJI AR-RASYID Kelas 2 berjumlah 35 siswa, 20 orang laki-laki dan 15 orang perempuan. Durasi kegiatan ini adalah selama masa penelitian yaitu selama 60 hari bulan September tahun 2023. Masa penugasan secara langsung atau tatap muka. Tugas dan tanggung jawab selama masa penugasan kegiatan penelitian ini adalah membantu sekolah mengajarkan Fikih Dan Aqidah Akhlak , dalam meningkatkan Motivasi terhadap anak MTS.SARJI AR-RASYID Kelas 2 : 1) Rangkaian Kegiatan Motivasi Isi materi yang diajarkan adalah Fikih Dan Aqidah Akhlak tentang Pentingnya sholat , dan salIah satu materi Aqidah Akhlak dengan tema Saling Menghormati Terhadap Mahluk Ciptaan Allah , yang diajarkan adalah berupa menceritakan kisah Nabi nuh yang menyelamatkan semua Binatang mahluk ciptaan Allah dari banjir besar. Kegiatan literasi ini dilaksanakan sesuai konsep yang telah dirumuskan, yaitu mengkombinasikan metode bercerita dengan bertanya (questioning), penggambaran (imagery), penarikan kesimpulan (inferencing), dan menceritakan ulang (retelling), serta 2) Teknik Penyampaian Untuk membuat cerita lebih mengkoneksikan atau mengkaitkan dengan kehidupan pribadi para siswa, maka metode bercerita ini agar siswa ada ketertarikan untuk selalu membaca buku , karena siswa cenderung lebih tertarik dengan buku yang lebih banyak gambar serta warna daripada tulisan dengan serangkaian kegiatan ini diberikan, dengan tujuan mengsingkronkan isi pertanyaan yang akan diajukan oleh pembawa cerita terhadap siswa. 6 Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan –Vol. 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 2964-0342; p-ISSN: 2964-0377, Hal 01-12 Guru menugaskan setiap siswa untuk membawa satu buku cerita maupun buku lain yang relevan untuk dibaca dan dikumpulkan di sekolah. Buku disusun rapi dalam sebuah rak dan di atur sedemikian rupa sehingga terbentuk sebuah sudut baca. Sudut baca merupakan sudut yang ada di kelas dan dilengkapi dengan koleksi buku untuk menarik dan menumbuhkan minat membaca siswa (Yunita et al., 2017). Sudut baca ini dimaksudkan agar menjadi tempat yang mampu menarik siswa sebagai tempat berkumpul dan saling bertukar buku bacaan yang dibawa oleh masing-masing siswa. Dengan demikian diharapkan minat membaca siswa dapat meningkat. Menurut(Hanafiah et al., 2022) bahwa peran guru sangatlah penting dalam meningkatkan minat membaca siswa. Guru menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan siswanya dalam meningkatkan minat baca. Sedangkan menurut (Arifudin, 2022) bahwa guru harus bisa menyesuaikan diri menjadi berbagai macam karakter yang mampu mendorong siswa untuk lebih semangat dalam proses meningkatkan minat baca. Dalam pelaksanaannya, pembiasaan Motivasi Belajar dilaksanakan setiap hari sebelum pembelajaran dimulai. Perpustakaan dengan kondisi yang bersih, rapi dan berisi bukubuku menarik juga mampu meningkatkan minat membaca siswa. Selain kegiatan tersebut, perpustakaan juga menjadi alternatif lain dalam melaksanakan kegiatan pembiasaan literasi di sekolah. Adapun dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran, menurut Anita sebagaimana dikutip (Mayasari et al., 2021) bahwa terdapat beberapa prinsip yang berkaitan dengan faktor perkembangan kemampuan siswa, diantaranya: a) Metode mengajar harus memungkinkan dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa lebih jauh terhadap materi pembelajaran (curiosity), b) Metode mengajar harus memungkinkan dapat memberikan peluang untuk berekspresi yang kreatif dalam aspek seni, c) Metode mengajar harus memungkinkan siswa belajar melalui pemecahan masalah, d) Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk selalu ingin menguji kebenaran sesuatu, e) Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk melakukan penemuan (inkuiri) terhadap suatu topic permasalahan, f) Metode mengajar harus memungkinkan siswa mampu menyimak, g) Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri (independent study) dan bekerjasama (cooperative learning), serta h) Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk lebih termotivasi dalam belajarnya. Guru sudah menggunakan berbagai strategi pembelajaran dalam mendukung proses pembelajaran dalam meningkatkan literasi anak terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini sejalan dengan Romiszowski sebagaimana dikutip oleh (Tanjung et al., 2020) dinyatakan sebagai “instructional strategies are the general viewpoints and of action are adopts in order ANALISIS METODE PENERAPAN STRATEGI BERCERITA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PEMAHAMAN KONSEP PEMBELAJARAN to choose the instructional methods. Thus a strategy which advocates active learner participation in the lesson”. Dari pernyataan tersebut strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanan kegiatan yang harus dilakukan oleh guru dan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi yang digunakan dalam pendekatan yang berpusat pada peserta didik contohnya adalah strategi pembelajaran discovery dan strategi pembelajaran inquiry. Sedangkan strategi yang digunakan dalam pendekatan yang berpusat pada guru contohnya adalah strategi pembelajaran langsung Strategi pembelajaran juga menentukan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran. Evaluasi dapat mendorong peserta didik untuk lebih giat belajar secara terus menerus dan juga mendorong guru untuk lebih meningkatkan kualitas proses pembelajaran (Hamzah B, 2019). Namun Guru kurang menguasai teknik bercerita dalam mengembangkan nilai-nilai moral dan agama, anak kurang diberi kesempatan untuk bercerita kembali setelah mendengarkan cerita tentang nilai-nilai moral dan agama (Artikel, 2017). Penyampaian cerita merupakan salah satu aspek penting dari penggunaan strategi bercerita dalam pembelajaran materi sejarah kebudayaan Islam di MTS SARJI AR-RASYID Dawuhan Situbondo. Ini adalah tahap di mana guru atau pendidik harus memainkan peran kunci dalam membuat cerita hidup, menarik, dan bermakna bagi siswa. Penguatan dan penanaman motivasi belajar berada di tangan para guru. Karena selain siswa, unsur terpenting yang ada dalam kegiatan pembelajaran adalah guru (Jainiyah et al., 2023). Cerita-cerita ini bertujuan untuk membawa siswa kembali ke masa lalu, menggambarkan peristiwa-peristiwa bersejarah, dan membantu mereka memahami konsep- konsep yang kompleks. Oleh karena itu, penyampaian cerita harus dijalankan dengan penuh semangat dan ekspresi. Kunci Aspek dalam Penyampaian Cerita: A.Semangat: Saat menyampaikan cerita, guru atau pendidik harus memancarkan semangat dan antusiasme. Ini akan memengaruhi tingkat keterlibatan siswa dalam cerita dan memicu minat mereka dalam materi pembelajaran. Ketika guru terlihat semangat dalam melaksanakan proses pembelajaran, maka hal tersebut diyakini mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Karena siswa akan lebih merasa tertarik untuk mengikuti pembelajaran ketika ia melihat gurunyabersemangat dalam melakukan transformasi ilmu kepada mereka (Susmaini, 2019). B.Ekspresi Suara: Beragam suara, intonasi yang tepat, dan penggunaan suara yang sesuai dengan karakter dalam cerita dapat membuat cerita lebih hidup dan menarik. Misalnya, mengubah suara saat menceritakan dialog karakter dapat membedakan karakter tersebut. 8 Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan –Vol. 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 2964-0342; p-ISSN: 2964-0377, Hal 01-12 C.Mimik Wajah: Metode bercerita digunakan dalam menyampaikan pelajaran dengan memulai cerita yang menyenangkan dan menarik. Hal ini dikarenakan saat guru membawakan cerita, guru berhasil membuat anak mulai tertarik untuk mendengarkan cerita yang disampaikan. Ketertarikan tersebut dapat terjadi dikarenakan guru dapat memperagakan sesuai keadaan cerita dan memberikan ekspresi dan mimik wajah yang sesuai (Jazilurrahman et al., 2022). Menggunakan mimik wajah yang relevan dengan situasi dalam cerita dapat membantu siswa untuk lebih merasakan emosi yang terkandung dalam cerita. Ini juga membantu dalam memvisualisasikan peristiwa-peristiwa dalam cerita. D.Gerakan Tubuh: Salah satu komunikasi nonverbal ialah gerakan tubuh atau perilaku kinetic, kelompok ini meliputi isyarat dan gerakan serta mimik. Bahasa tubuh dapat memberi tekanan atau berlawanan dengan apa yang sedang kita ucapkan)(Eka et al., 2019). Gerakan tubuh yang sesuai dengan cerita dapat membantu memperkaya pengalaman siswa. E.Partisipasi Siswa dalam Cerita Sebagai tambahan, penting untuk memastikan bahwa siswa terlibat secara aktif dalam cerita. Ini dapat dicapai dengan meminta mereka untuk berpartisipasi dalam peran-peran tertentu dalam cerita. Aktifitas siswa merupakan salah satu unsure keberhasilan pembelajaran di kelas, aktifitas tersebut meliputi aktifitas secara pribadi maupun aktifitas dalam satu kelompok (Wibowo, 2016). Misalnya, siswa dapat diminta untuk memainkan peran karakter tertentu dalam cerita atau berpartisipasi dalam adegan yang sedang diceritakan. Ini tidak hanya membuat cerita lebih interaktif, tetapi juga membantu siswa untuk lebih mendalam memahami konteks dan konsep dalam cerita. Penting untuk memastikan bahwa guru atau pendidik yang terlibat dalam penelitian memahami peran penting penyampaian cerita dengan semangat dan ekspresi. Ini akan menjadi faktor penting dalam mengevaluasi dampak strategi bercerita terhadap pemahaman siswa terhadap materi sejarah kebudayaan Islam. juga dapat mengukur tingkat keterlibatan siswa dalam cerita dan sejauh mana interaksi siswa dengan cerita tersebut dapat meningkatkan pemahaman dan minat mereka dalam materi pembelajaran. Oleh karena itu, penyampaian cerita yang penuh semangat dan partisipasi siswa yang aktif dalam cerita adalah elemenelemen yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini untuk memastikan keberhasilan strategi bercerita dalam konteks pembelajaran. ANALISIS METODE PENERAPAN STRATEGI BERCERITA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PEMAHAMAN KONSEP PEMBELAJARAN KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian di atas maka dapat disimpulkan bahwa meskipun kegiatan literasi ini dilaksanakan secara singkat. Kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan antusias siswapun malah termasuk tinggi, di luar dugaan. Namun yang menjadi issue adalah bagaimana keberlanjutan kegiatan ini. Adalah pemikiran yang salah bila kegiatan literasi ini hanya bisa dilaksanakan di sekolah MTS. SARJI AR-RASYIDkarena sebenarnya kegiatan literasi harus dimulai dari dalam keluarga. Dari hasil survei PISA tahun 2012 diketahui bahwa anak-anak yang sering membahas hal-hal yang berhubungan dengan sosial atau budaya lebih sering dengan orang tuanya menunjukkan kemampuan literasi lebih tinggi dibanding yang tidak. Artinya, bila orang tua mengalami kesulitan dalam membacakan atau menceritakan sebuah cerita, orang tua dapat mengatasinya dengan mengupayakan untuk menciptakan komunikasi atau interaksi dengan mengangkat topik tentang sosial budaya dan menjadikannya kebiasaan yang bermula dari rumah sendiri. Namun, metode seperti yang telah dibahas dalam penelitian ini juga lah tidak terlalu sulit. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyarankan beberapa hal yakni orang tua perlu memperhatikan media yang dipakai agar menarik dan metode bercerita serta menyiapkan beberapa butir pertanyaan untuk mengasah berpikir kritis dan logis anakanak. Penelitian ini diselenggarakan dalam waktu yang singkat sehingga masih belum dikatakan telah mencapai target yang maksimal. Pelaksanaan kegiatan literasi yang dilakukan dari keluarga sendiri dalam waktu lebih lama mungkin akan membuahkan hasil yang lebih maksimal, yang sangat perlu untuk dipertimbangkan bagi peneliti-peneliti selanjutnya DAFTAR REFERENSI Ak, M. F., Darmayani, S., Nendissa, S. J., Arifudin, O., Anggaraeni, F. D., Hidana, R., Marantika, N., Arisah, N., Ahmad, N., & Febriani, R. (2021). Pembelajaran Digital. Penerbit Widina. Apiyani, A., Supriani, Y., Kuswandi, S., & Arifudin, O. (2022). Implementasi Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ( PKB ) Guru Madrasah dalam Meningkatkan Keprofesian. 5, 499–504. Arifudin. (2020). 314866-Psikologi-Pendidikan-Tinjauan-Teori-Dan-D3E9F192.Pdf. Arifudin, O. (2019). Manajemen Sistem Penjaminan Mutu Internal (Spmi) Sebagai Upaya Meningkatkan Mutu Perguruan Tinggi. Jurnal Ilmiah MEA, 3(1), 161–169. https://doi.org/10.31955/mea.vol3.iss1.pp161-169 Arifudin, O. (2022). Perkembangan Peserta Didik (Tinjauan Teori-Teori dan Praktis). In Widina Bhakti Persada. 10 Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan –Vol. 2 No. 2 April 2024 e-ISSN: 2964-0342; p-ISSN: 2964-0377, Hal 01-12 Arifudin, O., Setiawati, E., Chasanah, D. N., Jalal, N. M., Ma’arif, M., Suwenti, R., Yenni, Y., Puspitasari, D., Aprina, A., & Rahmawati, H. K. (2021). Media Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini. Artikel, I. (2017). Penggunaan Metode Cerita untuk Mengembangkan Nilai Moral Anak TK/SD INFORMASI ARTIKEL. 3(1). Bahri, S. (2011). Psikologi belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Bahri, S. A., Badawi, B., Hasan, M., Arifudin, O., Fitriana, I. P. A. D., Arfah, A., Rambe, P., Saputri, A. N. C., Lestariningrum, A. I. P., Larasati, R. A., Panma, Y., Clara, H., & Irwanto, I. (2021). Pengantar Penelitian Pendidikan Sebuah Tinjauan Teori dan Praktis. In Pertambangan (Vol. 1). Eka, P., Ayu, S., Language, B., & Childhood, E. (2019). PENTINGNYA PEMAHAMAN BAHASA TUBUH BAGI PARA GURU. 3(2), 29–36. Fuadi, D. S., Akhyadi, A. S., & Saripah, I. (2021). Systematic Review: Strategi Pemberdayaan Pelaku UMKM Menuju Ekonomi Digital Melalui Aksi Sosial. Diklus: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, 5(1), 1–13. https://doi.org/10.21831/diklus.v5i1.37122 Hafidzoh Rahman, N., Mayasari, A., Arifudin, O., & Wahyu Ningsih, I. (2021). Pengaruh Media Flashcard Dalam Meningkatkan Daya Ingat Siswa Pada Materi Mufrodat Bahasa Arab. Jurnal Tahsinia, 2(2), 99–106. https://doi.org/10.57171/jt.v2i2.296 Hamzah B, N. M. (2019). EVALUASI DALAM PROSES PEMBELAJARAN Idrus L 1. Evaluasi Dalam Proses Pembelajaran, 2, 344. Hanafiah, Tentrem Mawati, A., & Arifudin, O. (2022). Implementation Of Character Strengthening In Boarding School Students. International Journal of Education and Digital Learning , 1(2), 49–54. https://ij.lafadzpublishing.com/index.php/IJEPD/index Iverson, B. L., & Dervan, P. B. (n.d.). No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title. 7823–7830. Jainiyah, J., Fahrudin, F., Ismiasih, I., & Ulfah, M. (2023). Peranan Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Jurnal Multidisiplin Indonesia, 2(6), 1304–1309. https://doi.org/10.58344/jmi.v2i6.284 Jazilurrahman, J., Widat, F., Widat, F., Tohet, M., Tohet, M., Murniati, M., Murniati, M., Nafi’ah, T., & Nafi’ah, T. (2022). Implementasi Metode Bercerita dalam Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(4), 3291–3299. https://doi.org/10.31004/obsesi.v6i4.2095 Mayasari, A., Pujasari, W., Ulfah, U., & Arifudin, O. (2021). Pengaruh Media Visual Pada Materi Pembelajaran Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik. Jurnal Tahsinia, 2(2), 173–179. https://doi.org/10.57171/jt.v2i2.303 Melatih, U., Berbicara, K., & Usia, A. (2022). Pembelajaran bercerita kelompok A TKIT AlIrsyad Al-Islamiyyah Karawang yang meniti beratkan pada peletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik tinggi supaya anak bisa mamiliki kecerdasan yang baik . dengan tujuan anak mampu membawakan cerita . 3(1), 37–44. ANALISIS METODE PENERAPAN STRATEGI BERCERITA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PEMAHAMAN KONSEP PEMBELAJARAN Nasem, Arifudin, O., Cecep, & Taryanan, T. (2018). Pengaruh Pelatihan Dan Motivasi Terhadap Produktivitas Kerja Tenaga Kependidikan Stit Rakeyan Santang Karawang. Jurnal Ilmia MEA (Manajemen & Akuntansi), 2(3), 209–218. Nasser, A. A., Arifudin, O., Barlian, U. C., & Sauri, S. (2021). Sistem Penerimaan Siswa Baru Berbasis Web Dalam Meningkatkan Mutu Siswa Di Era Pandemi. Biormatika : Jurnal Ilmiah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, 7(1), 100–109. https://doi.org/10.35569/biormatika.v7i1.965 Permatasari, A. N., Inten, D. N., Mulyani, D., & Rahminawati, N. (2017). Literasi dini dengan teknik bercerita. FamilyEdu: Jurnal Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, 3(1). Plutzer, M. B. B. and E. (2021). No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康 関連指標に関する共分散構造分析Title. 5, 6. Shell, A. (2019). Urgensi Dan Ruang Lingkup Perkembangan Peserta Didik. Statistik, I. B. P. (2017). Potret Pendidikan Indonesia: Statistik Pendidikan 2016. (No Title). Sulaeman, D., Yusuf, R. N., Damayanti, W. K., & Arifudin, O. (2022). Implementasi Media Peraga dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 6(1), 71–77. Susmaini, S. (2019). SEMANGAT KERJA GURU DAN DAMPAKNYA PADAHASIL BELAJAR SISWA. Hijri, 8(2), 122–135. Tanjung, R., Arifudin, O., Sofyan, Y., & Hendar. (2020). Pengaruh Penilaian Diri dan Efikasi Diri terhadap Kepuasan Kerja Serta Implikasinya terhadap Kinerja Guru. Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi Dan Akuntansi, 4(1), 380–391. Tanjung, R., Supriani, Y., Mayasari, A., & Arifudin, O. (2022). Manajemen Mutu Dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Jurnal Pendidikan Glasser, 6(1), 29. https://doi.org/10.32529/glasser.v6i1.1481 Ulfah, U., & Arifudin, O. (2019). Peran Konselor Dalam Mengembangkan Potensi Peserta Didik. Jurnal Tahsinia, 1(1), 92–100. https://doi.org/10.57171/jt.v1i1.45 Ulfah, U., & Arifudin, O. (2020). Implementasi Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dalam Kurikulum 2013. Jurnal Tahsinia, 1(2), 138–146. https://doi.org/10.57171/jt.v1i2.189 Wibowo, N. (2016). Upaya Peningkatan Keaktifan Siswa Melalui Pembelajaran Berdasarkan Gaya Belajar Di Smk Negeri 1 Saptosari. Elinvo (Electronics, Informatics, and Vocational Education), 1(2), 128–139. https://doi.org/10.21831/elinvo.v1i2.10621 Yoon, C. (2014). 済無No Title No Title No Title. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents. Yunita, Y., Fitri, F., & Zulfahita, Z. (2017). Peningkatan Keterampilan Membaca Ekstensif Menggunakan Model Pembelajaran Reciprocal Teaching pada Siswa Kelas VIII D MTs Negeri Singkawang Tahun Ajaran 2016/2017. JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia), 2(1), 12. https://doi.org/10.26737/jp-bsi.v2i1.231 12 Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan –Vol. 2 No. 2 April 2024