Equilibrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya P-ISSN: 2303-1565 Tersedia online di http://e-journal. id/index. php/equilibrium/index E-ISSN: 2502-1575 Pertambangan dan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara: estimasi dampak pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor Sapriyadi Universitas Sembilanbelas November Kolaka. Kolaka. Indonesia, ansar@gmail. Abstrak Berbagai upaya telah dilakukan, namun kemiskinan masih menjadi isu di beberapa daerah, termasuk Provinsi Sulawesi Tenggara. Selama kurang lebih satu dasawarsa terakhir, penurunan angka kemiskinan di provinsi ini tergolong sangat kecil pada beberapa indikatornya. Bahkan, tingkat kemiskinan di Sulawesi Tenggara masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi dampak langsung pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan terhadap tingkat kemiskinan di Sulawesi Tenggara. Dengan menggunakan data sekunder time series selama 15 tahun terakhir . , penelitian ini menggunakan tingkat kemiskinan sebagai variabel dependen, dengan pertumbuhan sektor pertambangan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan sebagai variabel independen. Data-data tersebut kemudian dianalisis menggunakan pendekatan ekonometrika, yaitu analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan temuan bahwa pertumbuhan sektor pertambangan memiliki dampak positif signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Ini berarti, peningkatan pada sektor pertambangan justru berkorelasi dengan peningkatan tingkat kemiskinan. Di sisi lain, penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan tidak berdampak signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Temuan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam perumusan kebijakan pengurangan kemiskinan yang lebih bertarget. Misalnya, diperlukan optimalisasi yang lebih baik dari pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja di sektor pertambangan agar benar-benar dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengurangan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kata kunci:Pertumbuhan Sektor Pertambangan. Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Pertambangan. Tingkat Kemiskinan Diterima. 3-12-2025 Accepted 15-01-2026. Diterbitkan 28-01-2026 Mining and poverty in Southeast Sulawesi Province: estimating the impact of growth and absorption of mining sector labor Abstract Various efforts have been made, but poverty is still an issue in several regions, including Southeast Sulawesi Province. Over the past decade or so, the reduction in poverty in the province has been very small in several indicators. In fact, the poverty rate in Southeast Sulawesi is still higher than the national average. This study aims to estimate the direct impact of the growth and absorption of the mining sector workforce on the poverty rate in Southeast Sulawesi. Using secondary time series data for the last 15 years . , this study uses poverty level as a dependent variable, with the growth of the mining sector and the absorption of labor in the mining sector as independent variables. The data were then analyzed using an econometric approach, namely multiple linear regression analysis. The results of the study show that the growth of the mining sector has a significant positive impact on the poverty rate. This means that the increase in the mining sector is actually correlated with an increase in the poverty rate. On the other hand, the absorption of labor in the mining sector does not have a significant impact on the poverty rate. These findings are expected to contribute to the formulation of more targeted poverty reduction For example, better optimization of the growth and absorption of labor in the mining DOI: 10. 25273/equilibrium. Copyright A 2026 Universitas PGRI Madiun Some rights reserved. Pertambangan dan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara: estimasi dampak pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan (Sapriyad. sector is needed in order to really make a real contribution to poverty reduction in Southeast Sulawesi Province. Keywords:Growth of the Mining Sector. Absorption of Mining Sector Workforce. Poverty Rate Received . 3-12-2025 Accepted 15-01-2026. Published 28-01-2026 PENDAHULUAN Tujuan pertama dan utama dalam pembangunan berkelanjutan (SDG. yang ingin dicapai olehnegara adalah menghilangkan kemiskinan, seperti yang seringkali digaungkan oleh pemerintah saat ini. Faktanya kemiskinan dibeberapa daerah masih sering dijumpai. Di Provinsi Sulawesi Tenggara misalnya, selama kurang lebih satu dasawarsa terakhir, kemiskinan berkurang sangat kecil di beberapa indikatornya. Data yang diambil dari Badan Pusat Statistik memperlihatkan persentase kemiskinan hanya mengalami penurunan sebesar 1,69%, indeks kedalaman kemiskinan mengalami penurunan sekitar 0,56, dan indeks keparahan kemiskinan mengalami penurunan sebesar 0,23. Angka-angka tersebut mengindikasikan jumlah penduduk yang berhasil keluar dari garis kemiskinan masih sangat sedikit. Jika dicermati lebih jauh, kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara lebih tinggi dibandingkan dengan kemiskinan secara nasional. Kemiskinan di Sulawesi Tenggara masih menyentuh angka dua digit, disaat angka kemiskinan nasional sudah turun mencapai satu digit. Gambar 1 Persentase Kemiskinan di Indonesia dan Sulawesi Tenggara Sumber: Badan Pusat Statistik . Gambar 1 menujukkan bahwa, meskipun terlihat kemiskinan mengalami penurunan namun penurunannya masih relatif kecil dan lambat. Tingkat kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara secara konsisten terus berada di atas nasional. Hal ini mengindikasikan. Sulawesi Tenggara justru hanya menjadi beban di tingkat nasional dalam hal menyumbang angka kemiskinan. Dengan kekayaan dan potensi sumber daya alam yang melimpah. Provinsi Sulawesi Tenggara dapat lebih memaksimalkan pengelolaan potensi sumber daya yang dimiliki sehingga berkontribusi nyata terhadap pengurangan kemiskinan. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 14 no 01 Hal 1-11 Pertambangan dan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara: estimasi dampak pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan (Sapriyad. Beberapa studi telah mengkaji korelasi antara pengelolaan sumber daya alam dan pengurangan kemiskinan. Studi dari (Chien et al. , 2. menemukan bahwa pemanfaatan sumber daya alam dan industrialisasi mampu menurunkan kemiskinan. Pengelolaan sumberdaya alam yang dimaksud haruslah berbasis pada masyarakat, sehingga mampu memberikan skala ekonomi dalam sistem produksi bersama dan pada gilirannya bisa mengurangi kedalaman kemiskinan dan ketimpangan pendapatan (Khan et al. , 2. Pengelolaan sumber daya yang lebih adil dapat menjadi komponen krusial dalam mengatasi kemiskinan dan kelaparan (Tiba, 2. Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan sumber daya alam di sektor pertambangan, hal ini terlihat dari besarnya kontribusi sektor pertambangan dalam pembentukan PDRB Sulawesi Tenggara. Berdasarkan data publikasi Badan Pusat Statistik pada tahun 2024, nilai PDRB sektor pertambangan mencapai Rp 21. 617,43 miliar menempati urutan tertinggi kedua setelah sektor pertanian. Adapun komoditas pertambangan terbesar di Provinsi Sulawesi Tenggara adalah Nikel dengan produksi mencapai 22,5 juta ton kemudian diikuti Aspal dengan produksi mencapai 91 ribu ton. Selain itu, pertumbuhan sektor pertambangan pada tahun 2024 mencapai 6,24% salah satu yang tertinggi jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Sektor pertambangan memiliki potensi untuk menurunkan kemiskinan, secara langsung ataupun tidak langsung. Kegiatan pertambangan secara langsung dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, secara tidak langsung, pertambangan juga dapat memicu masalah seperti dampak lingkungan dan sosial, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemiskinan. Beberapa studi telah mengkaji dampak sektor pertambangan terhadap kemiskinan, bukti pertama datang dari (Grigoryan, 2. yang mengkaji dampak sektor pertambangan terhadap pertumbuhan, ketimpangan, dan kemiskinan di Armenia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambangan meningkatkan pertumbuhan tetapi tidak berhasil mengurangi ketimpangan dan kemiskinan. Industri pertambangan lebih sering dikaitkan dengan eksaserbasi kemiskinan, tingkat kemiskinan yang lebih rendah justru seringkali dijumpai didaerah-daerah dengan kegiatan sektor ekstraktif yang rendah (Gamu et al. Hasil penelitian lainnya datang dari (Prieto et al. , 2. yang mengkaji hubungan antara pertambangan dan kemiskinan pedesaan di Kolombia. Pertambangan di Kolombia menghadapi beberapa tantangan seperti aktivitas tambang yang ilegal, aktivitas yang menggunakan teknologi rendah, dan dampak lingkungan yang negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan yang tersertifikasi tidak berkorelasi dengan tingkat kemiskinan. Namun, aktivitas pertambangan tanpa sertifikat cenderung meningkatkan kemiskinan di pedesaan. Penelitian (Assan et al. , 2. yang mengkaji dampak pertambangan terhadap pertanian dan implikasinya terhadap pengurangan kemiskinan dan kesejahteraan rumah tangga di Ghana. Hasil penelitian menemukan bahwa rumah tangga yang tinggal di lokasi pertambangan terlibat lebih sedikit dalam kegiatan pertanian karena lahan pertanian yang Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 14 no 01 Hal 1-11 Pertambangan dan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara: estimasi dampak pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan (Sapriyad. luas telah hilang akibat operasi pertambangan. Dengan demikian, rumah tangga di masyarakat pertambangan lebih mungkin menjadi miskin dibandingkan dengan rumah tangga di masyarakat non pertambangan. Lebih lanjut, hasil produksi pertanian bisa menurun seiring dengan intensitas penggunaan lahan pertambangan. Hal ini menunjukkan bahwa perluasan pertambangan akan berkontribusi terhadap terancamnya pasokan dan memperburuk kemiskinan di wilayah pertambangan (OUOBA, 2. Sektor pertambangan sejatinyavmemiliki potensi besar dalam menurunkan kemiskinan hanya jika berbagai prasyarat terpenuhi, diantaranya penciptaan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, transfer pengetahuan dan keterampilan, peningkatan kapasistas pendidikan dan layanan kesehatan, serta peningkatan infrastruktur dan peluang usaha kecil dan menengah (Xongo, 2. Dampak positif ini bisa terwujud jika pengelolaan pertambangan dilakukan dengan baik dan berkelanjutan, serta memperhatikan aspek lingkungan dan sosial. Seperti yang ditemukan dari beberapa studi Penelitian (Yamarak & Parton, 2. yang mengkaji dampak proyek pertambangan di Papua Nugini terhadap mata pencaharian dan kemiskinan di masyarakat adat Hasil penelitian menemukan bahwa proyek pertambangan terbukti mampu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat di kawasan pertambangan. Kegiatan pertambangan termasuk tambang skala kecil berkontribusi terhadap ekonomi dan membantu mempertahankan mata pencaharian masyarakat (Omotehinse & Ogunlade, 2. Temuan lainnya dari (Deaton & Niman, 2. yang menyelidiki korelasi antara lapangan kerja pertambangan dan kemiskinan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pangsa lapangan kerja sektor pertambangan secara langsung mengurangi tingkat kemiskinan. Tabel 1 Jumlah Perusahaan dan Jenis Bahan Tambang di Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2022 Jumlah Jenis Bahan Kabupaten/Kota Perusahaan Tambang Tambang Bombana Nikel dan Emas Buton Tengah Nikel Kolaka Nikel Kolaka Utara Nikel dan Kromit Konawe Nikel Konawe Kepulauan Nikel Bau-Bau Nikel Sumber: Badan Pusat Statistik Sulawesi Tenggara . Tabel 1 menunjukkan kegiatan ekstraksi pertambangan di Provinsi Sulawesi Tenggara tersebar di tujuh kabupaten/kota. Jumlah perusahaan terbesar ada di Kabupaten Kolaka Utara. Bombana, dan Konawe. Jenis bahan tambang yang banyak dieksplorasi adalah Nikel. Banyaknya perusahaan tambang yang beroperasi seharusnya memberikan dampak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja lokal dan pengurangan Namun, jika kita cermati lebih lanjut, jumlah penduduk miskin terbesar Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 14 no 01 Hal 1-11 Pertambangan dan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara: estimasi dampak pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan (Sapriyad. justru datang dari beberapa daerah dengan perusahaan tambang terbanyak. Kabupaten Konawe misalnya, pada tahun 2024 jumlah penduduk miskin mencapai 33,99 ribu orang, menempati urutan kedua tertinggi dalam jumlah penduduk miskin dari 17 kabupaten/kota. Kabupaten Kolaka menempati urutan ketiga dengan jumlah penduduk miskin 33,2 ribu orang. Kabupaten Bombana menempati urutan kelima dengan jumlah penduduk miskin 20,56 ribu orang, dan Kolaka Utara menempati urutan ketujuh dengan jumlah penduduk miskin 22,07 ribu orang. Data-data tersebut mengontraskan bukti-bukti empiris yang disajikan sebelumnya, bahwa adanya proyek pertambangan di suatu daerah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan pertambangan, bahwa adanya kegiatan pertambangan akan membuka pangsa lapangan kerja dan pada gilirannya mengurangi kemiskinan. Datadata tersebut juga mengindikasikan tentang sebuah paradoks dari teori Aukutukan sumber dayaAy yang menimbulkan pertanyaan besar, apakah ledakan proyek pertambangan yang masif menguntungkan penduduk lokal yang tinggal didekat sumber daya mineral di daerah tersebut? Atau justru ledakan pertambangan selalu dikaitkan dengan peningkatan kekerasan atau kriminalitas, inflasi lokal, peningkatan ketimpangan, dan peningkatan Beberapa penelitian sebelumnya menyajikan bukti empiris yang beragam bahkan saling mengontraskan antara satu dengan yang lain. Sebagian bukti menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan berkorelasi dengan pengurangan kemiskinan dengan beberapa cara utama, seperti penciptaan lapangan kerja. Proyek pertambangan membutuhkan tenaga kerja mulai dari tahap eksplorasi, konstruksi, hingga operasi. Selain itu, keberadaannya juga menyediakan kesempatan kerja yang lain seperti peluang bagi UMKM lokal untuk berkembang, kesemuanya ini akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan pada gilirannya akan mengurangi kemiskinan, (Chavez, 2023. Coulibaly et al. , 2024. Dikgwatlhe & Mulenga, 2023. Hilson & Maconachie, 2. Sementara bukti empiris lainnya menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan dapat meningkatkan kemiskinan jika penciptaan lapangan kerja yang dihasilkan terbatas dan bersifat inklusif. Seringkali ditemukan proyek pertambangan tidak berhasil menyerap tenaga kerja lokal terutama yang membutuhkan keterampilan tinggi. Kebanyakan posisi tersebut diisi oleh pekerja dari luar daerah bahkan tenaga kerja asing (TKA) karena minimnya kualifikasi tenaga kerja lokal. Kesenjangan keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat lokal dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh sektor pertambangan modern memicu lonjakan pengangguran dan pada gilirannya meningkatkan kemiskinan, (Assan et al. , 2018. OUOBA, 2018. Prieto et al. , 2. Penelitian ini memiliki urgensi yang tinggi untuk dilakukan karena dapat berkontribusi terhadap pengetahuan mengenai dampak secara langsung aktivitas pertambangan terhadap tingkat kemiskinan, sekaligus menjawab pertanyaanparadoks tentang teori kutukan sumber daya. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 14 no 01 Hal 1-11 Pertambangan dan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara: estimasi dampak pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan (Sapriyad. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan ekonometrika untuk menyelidiki dampak sektor pertambangan terhadap kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Dengan menganalisis data deret waktu sekunder dari tahun 2010 hingga 2024 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik Sulawesi Tenggara, penelitian ini akan mengestimasi bagaimana pertumbuhan sektor pertambangan dan penyerapan tenaga kerjanya memengaruhi persentase kemiskinan (P. Data tersebut akan dianalisis menggunakan model regresi linier berganda, dengan model persamaan sebagai berikut: Dimana. Poverty adalah tingkat kemiskinan. Growth adalah pertumbuhan sektor pertambangan, dan Employment adalah penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan. Adapun 0, 1, dan 2 dihitung dengan menggunakna bantuan aplikasi statistik. Sebelum melangkah ke analisis regresi linier berganda, studi ini akan melakukan serangkaian pengujian, ini mencakup uji asumsi klasik diantaranya uji multikolinearitas, autokorelasi, normalitas, linearitas, dan heteroskedastisitas. Selanjutnya, akan dilakukan uji kelayakan model dengan uji simultan . ji F) dan uji koefisien determinasi (R-square. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Klasik Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengestimasi dampak pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan terhadap kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Berikut disajikan hasil pengujian asumsi klasik, uji kelayakan model, dan analisis regresi linier berganda dengan bantuan aplikasi statistik Eviews 12. Tabel 2 Hasil Pengujian Asumsi Klasik Multikolinieritas Sumber: Hasil Pengolahan Data Sekunder . Analisis regresi linear berganda dapat dilakukan jika memenuhi beberapa syarat, salah satunya adalah terbebas dari masalah multikolinearitas. Berdasarkan hasil pengujian asumsi klasik multikolinearitas pada tabel 2, nilai VIF (Variance Inflation Facto. untuk variabel pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan masing-masing adalah 1,017. Karena nilai VIF dari kedua variabel tersebut kurang dari 10, dapat disimpulkan bahwa kedua variabel independen ini bebas dari multikolinearitas. Dengan demikian, asumsi klasik yang pertama ini telah terpenuhi, dan model layak untuk melanjutkan ke tahapan pengujian berikutnya. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 14 no 01 Hal 1-11 Pertambangan dan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara: estimasi dampak pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan (Sapriyad. Tabel 3 Hasil Pengujian Asumsi Klasik Autokorelasi Sumber: Hasil Pengolahan Data Sekunder . Karena penelitian ini menggunakan data time series, pengujian autokorelasi menjadi penting untuk memastikan model regresi linear berganda yang digunakan bebas dari masalah ini. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah Breusch-Godfrey atau LM (Lagrange Multiplie. Test. Seperti yang terlihat pada tabel 3, nilai Prob. F-statistik (F . adalah 0,5693, yang mana lebih besar dari tingkat signifikansi . 0,05. Ini berarti model regresi linear berganda yang digunakan memenuhi asumsi bebas autokorelasi. Gambar 2 Hasil Pengujian Asumsi Klasik Normalitas Sumber: Hasil Pengolahan Data Sekunder . Pendekatan Ordinary Least Square (OLS) dalam analisis regresi linear berganda mensyaratkan uji normalitas untuk memastikan bahwa data atau residual yang terbentuk terdistribusi secara normal. Dalam penelitian ini, pengujian asumsi normalitas data dilakukan menggunakan Jarque-Bera Test. Berdasarkan gambar 2, nilai probabilitas JarqueBera adalah 0,4896, yang mana lebih besar dari tingkat signifikansi . 0,05. Ini mengindikasikan bahwa data atau residual dalam penelitian ini terdistribusi normal, sehingga asumsi klasik normalitas data terpenuhi. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 14 no 01 Hal 1-11 Pertambangan dan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara: estimasi dampak pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan (Sapriyad. Tabel 4 Hasil Pengujian Asumsi Linieritas Sumber: Hasil Pengolahan Data Sekunder . Pengujian linearitas merupakan asumsi penting yang harus terpenuhi dalam analisis regresi linear berganda. Dalam penelitian ini, digunakan Ramsey Reset Test untuk menguji asumsi tersebut. Berdasarkan tabel 4, nilai Prob. F-statistik . ,3. lebih besar dari tingkat signifikansi . 0,05. Ini menunjukkan bahwa model regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini memenuhi asumsi linearitas, sehingga hubungan antar variabel dapat dijelaskan secara linear. Tabel 5 Hasil Pengujian Asumsi Klasik Heteroskedastisitas Sumber: Hasil Pengolahan Data Sekunder . Pengujian asumsi heteroskedastisitas dalam penelitian ini dilakukan menggunakan uji Glejser. Berdasarkan tabel 5, terlihat bahwa nilai Prob. F-statistik . ,6. lebih besar dari tingkat signifikansi . 0,05. Ini mengindikasikan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas dalam model regresi linear berganda yang digunakan. Dengan kata lain, varians dari residual adalah konstan, sehingga asumsi homoskedastisitas terpenuhi. Uji Kelayakan Model Setelah berhasil membangun model regresi linier yang memenuhi asumsi klasik, langkah krusial selanjutnya adalah menguji kelayakan model. Pengujian ini bertujuan untuk memastikan apakah model regresi estimasi kita layak digunakan dalam menjelaskan bagaimana variabel independen memengaruhi variabel dependen. Dalam penelitian ini, digunakan dua metode utama untuk menguji kelayakan model, yaitu uji koefisien determinasi (R-square. dan uji simultan . ji F). Hasil dari pengujian kelayakan model tersebut disajikan sebagai berikut. Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 14 no 01 Hal 1-11 Pertambangan dan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara: estimasi dampak pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan (Sapriyad. Tabel 6 Hasil Estimasi Regresi Linier Berganda Sumber: Hasil Pengolahan Data Sekunder . Berdasarkan tabel 6, terlihat bahwa nilai R squared sebesar 0,408. Angka ini mengindikasikan hubungan antara pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara berada pada kategori cukup. Angka 0,408 berarti bahwa sebesar 40,8% perubahan kemiskinan baik peningkatan atau penurunannya dapat dijelaskan oleh pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan. Kemudian selebihnya sebesar 59,2% dijelaskan oleh faktor lain di luar model yang digunakan. Hasil uji F pada tabel 6 memperlihatkan nilai prob. F-statistic sebesar 0,042 lebih kecil dari tingkat alpha . Dengan demikian dapat dikatakan bahwa model regresi yang diestimasi layak digunakan untuk menjelaskan dampak pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan terhadap tingkat kemiskinan. Uji Koefisien Regresi . Uji koefisien regresi dalam analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan terhadap tingkat kemiskinan. Parameter yang digunakan adalah nilai konstanta dan koefisien regresi masing-masing variabel independen. Berdasarkan tabel 6, terlihat bahwa nilai konstanta sebesar 12,423, yang berarti bahwa pada saat pertumbuhan dan penyerapana tenaga kerja sektor pertambangan tidak mengalami perubahan maka tingkat kemiskinan di provinsi Sulawesi tenggara sebesar 12,423%. Nilai koefisien regresi variabel pertumbuhan sektor pertambangan sebesar 0,082 dengan nilai prob. sebesar 0,013 lebih kecil dari tingkat alpha . Dengan demikian variabel pertumbuhan sektor pertambangan berdampak siginifikan terhadap tingkat Pertumbuhan sektor pertambangan yang meningkat sebesar 1% akan berdampak pada peningkatan kemiskinan sebesar 0,082%. Nilai koefisien regresi variabel penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan sebesar -0,220 dengan nilai prob. sebesar 0,657. Dengan demikian variabel penyerapan tenaga Jurnal Equilbrium: Jurnal Ekonomi dan Pembelajarannya Vol 14 no 01 Hal 1-11 Pertambangan dan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara: estimasi dampak pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan (Sapriyad. kerja sektor pertambangan tidak berdampak signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Peningkatan atau penurunan penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan tidak berdampak terhadap peningkatan atau penurunan kemiskinan. Dampak Pertumbuhan Sektor Pertambangan Terhadap Tingkat Kemiskinan Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pertambangan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ini mengindikasikan bahwa peningkatan pada sektor pertambangan, justru berkontribusi pada peningkatan tingkat kemiskinan di wilayah Temuan ini mengafirmasi beberapa hasil studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan dapat meningkatkan kemiskinan jika penciptaan lapangan kerja yang dihasilkan terbatas dan bersifat inklusif. Seringkali ditemukan proyek pertambangan tidak berhasil menyerap tenaga kerja lokal terutama yang membutuhkan keterampilan tinggi. Kebanyakan posisi tersebut diisi oleh pekerja dari luar daerah bahkan tenaga kerja asing (TKA) karena minimnya kualifikasi tenaga kerja lokal. Kesenjangan keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat lokal dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh sektor pertambangan modern memicu lonjakan pengangguran dan pada gilirannya meningkatkan kemiskinan, (Assan et al. , 2018. OUOBA, 2018. Prieto et al. , 2. SIMPULAN Sektor pertambangan yang disinyalir sebagai sektor yang potensial belum mampu berkontribusi dalam pengurangan kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda yang dilakukan menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pertambangan justru meningkatkan kemiskinan, sementara penyerapan tenaga kerja tidak berdampak terhadap kemiskinan. Keterbatasan penelitian ini masih menggunakan data sekunder provinsi yang bersifat makro, sehingga untuk penelitian selanjutnya bisa menggunakan data mikro di level rumah tangga untuk melihat dampak langsung keberadaan tambang terhadap kesejahteraan masyarakat rumah tangga di sekitar lingkar tambang. Diharapkan kepada pemerintah agar dapat merancang kebijakan pengurangan kemiskinan yang lebih bertarget, misalnya dengan melakukan optimalisasi pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja lokal di sektor pertambangan sehingga dapat berkontribusi nyata terhadap pengurangan kemiskinan. DAFTAR PUSTAKA