71 PERILAKU DALAM MEMANFAATKAN FASILITAS PUBLIK (STUDI KASUS KAMPUNG BAHARI TAMBAK LOROK) (Behavior in Utilizing Public Facilities (Case Study of Kampung Bahari Tambak Loro. ) Herlambang Putra Perdana Lelana1. Maria Damiana Nestri Kiswari2 1,2 Program Studi Arsitektur. Fakultas Arsitektur dan Desain. Universitas Katolik Soegijapranata. Semarang Jl. Pawiyatan Luhur IV No. 1 Bendan Duwur Semarang. Indonesia 20a10040@student. Abstract Tambak Lorok is one of the coastal residential areas in Semarang Cit. Tambak Lorok is known for its marine catches and the condition of the area is considered slum. So, in 2015 the Semarang City Government launched the rejuvenation of the Tambak Lorok area into the Kampung Bahari Tambak Lorok area, one of the efforts of which was the construction of a park along Jalan Tambak Rejo. The construction of the park along Jalan Tambak Rejo is intended as a means of socialization and recreation for the community, however, due to the condition of the area and the availability of open land, there are many types of activities that occur in the park, such as interaction activities, playing, waiting for somebody, or just relaxing such as sleeping or taking The analysis of this research will focus on observing various types of activities that occur, intensity of use, utilization, and identification of space users. The observation method uses a descriptive qualitative method with a behavior mapping approach. The results show that the types of activities that occur are dominated by the Tambak Lorok community with varying activity and behaviour characteristics from morning to evening, but activity rarely occurs at night. The activities that took place ranged from buying and selling activities from hawkers, football playing activities from teenagers, and leisure activities by local people. Keywords: settlement. Tambak Lorok, public open space, behavior, behavior mapping Abstrak Tambak Lorok merupakan salah satu kawasan permukiman pesisir di Kota Semarang yang dikenal dengan tangkapan laut serta kondisi kawasan yang termasuk kumuh. Sehingga, pada tahun 2015 Pemerintah Kota Semarang mencanangkan peremajaan Kawasan Tambak Lorok menjadi Kawasan Kampung Bahari Tambak Lorok yang salah satu upayanya berbentuk pembangunan taman di sepanjang Jalan Tambak Rejo. Pembangunan taman di sepanjang Jalan Tambak Rejo dimaksudkan sebagai salah satu sarana sosialisasi dan rekreasi bagi masyarakat, namun dikarenakan kondisi wilayah dan ketersediaan lahan terbuka membuat banyak sekali jenis aktivitas yang terjadi pada taman tersebut seperti terjadinya aktivitas interaksi, bermain, menunggu seseorang, atau hanya sekedar bersantai seperti tidur atau berteduh. Analisis penelitian ini akan difokuskan pada pengamatan berbagai jenis aktivitas yang terjadi, intensitas penggunaan, pemanfaatan, serta identifikasi pengguna ruang. Metode pengamatan menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan behaviour mapping. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa jenis kegiatan yang terjadi didominasi oleh masyarakat Tambak Lorok dengan aktivitas dan perilaku penggunaan yang variatif saat pagi sampai sore hari, namun jarang terjadi aktivitas pada malam hari. Kegiatan yang terjadi mulai dari kegiatan jual Ae beli dari pedagang asongan, kegiatan bermain bola dari remaja, dan kegiatan bersantai oleh masyarakat Kata kunci: permukiman. Tambak Lorok, ruang terbuka pubik, perilaku, pemetaan perilaku TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 Pendahuluan Metode Kawasan Tambak Lorok merupakan sebuah kawasan yang terletak di sebelah utara Kota Semarang, yang termasuk kedalam wilayah administrasi Kelurahan Tanjung Mas yang mana wilayah ini tergolong ke dalam wilayah kumuh dengan rata - rata kondisi ekonomi masyarakat merupakan masyarakat kelas menengah kebawah - miskin (Natalia & Alie, 2. Sehingga, dilaksanakanlah sebuah program dari Pemerintah Kota Semarang mencanangkan bahwa Kawasan Tambak Lorok akan dirombak menjadi AuKampung Bahari Tambak LorokAy. Pelaksanaan program dimulai dengan upaya peninggian jalan, pembuatan tanggul yang mengitari Kawasan Tambak Lorok, peremajaan fasilitas umum seperti WC umum dan pasar, serta penambahan fasilitas ruang terbuka publik yang berbentuk taman di sepanjang Jalan Tambak Rejo (DPMPTSP Kota Semarang, 2. Seiring Kawasan Tambak Lorok dari tahun ke tahun serta pertumbuhan penduduk pada kawasan yang tergolong sangat cepat membuat banyaknya lahan terbuka yang digunakan oleh masyarakat sebagai hunian, industri kecil atau sebagai area personal mereka. Pada kasus ini adalah Taman di sepanjang Jalan Tambak Rejo yang dibangun pada tahun 2015 oleh Pemerintah Kota Semarang yang bersosialisasi, berinteraksi dan penghijauan. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mengidentifikasi perilaku masyarakat Kampung Bahari Tambak Lorok dalam memanfaatkan ruang publik berupa Taman di sepanjang Jalan Tambak Rejo. Kawasan Tambak Lorok. Kota Semarang serta melihat sejauh mana dampak dari mengecilnya ruang terbuka pada Kawasan Tambak Lorok pemanfaatan masyarakat pada area taman Tambak Rejo. Hasil penelitian diharapkan juga dapat menjadi dasar dari penelitian selanjutnya, terutama penelitian yang berkaitan dengan perilaku masyarakat Kampung Bahari Tambak Lorok atau masyarakat komunal dalam memanfaatkan ruang publik di sebuah kawasan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui pendekatan deskriptif untuk mengamati perilaku masyarakat mengenai perilaku dalam pemanfaatan di kawasan Tambak Lorok. Temuan diarahkan pada pengambilan data dari hasil pengamatan serta analisis perilaku masyarakat Tambak Lorok dalam memanfaatkan ruang terbuka Pengamatan dilakukan selama 2 minggu yang dilakukan mulai dari hari senin sampai hari minggu. Metode analisis data menggunakan teknik Behaviour Mapping dengan fokus Place Centered Mapping. Hasil dari pengamatan, pemetaan aktivitas serta klasifikasi terhadap berbagai aktivitas dan perilaku yang terjadi pada ruang terbuka publik tersebut menjadi sebuah acuan untuk menarik sebuah kesimpulan berkaitan Tambak Lorok memanfaatkan ruang terbuka publik di Kawasan Tambak Lorok. Dalam penelitian ini, taman dibagi menjadi 3 sekuen, yaitu Sekuen 1 (Patung Ikan Terbang - TPQ Tarbiyatul Athfa. Sekuen 2 (SDI Taqwiyatul Wathon - Pasar Kongs. dan Sekuen 3 (Lapangan Ditpolair - Mushola Nurul Hikma. Kajian Teori Ruang Terbuka Publik Pengertian Ruang Terbuka Publik Ruang terbuka publik menurut Ching dikutip dalam dalam (Darmawan & Utami, 2. terdiri dari dua kata dasar yaitu Ruang dan Publik. Publik merupakan kumpulan dari sekelompok atau lebih orang yang tidak Sedangkan Ruang adalah sebuah tempat yang mencakup aspek tiga dimensional yang tercipta baik secara sengaja . maupun tidak. Sedangkan dalam pengertiannya secara umum ruang terbuka publik seringkali diasosiasikan dalam sebuah ruang publik yang tidak dibatasi oleh dinding atau atap yang dapat digunakan oleh siapa saja. Bentuk dari ruang terbuka publik bisa berupa taman kota, jalan dan trotoar, atau lapangan. TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 Fungsi Ruang Terbuka Publik Terdapat 2 fungsi utama dalam sebuah ruang terbuka publik, fungsi tersebut merupakan hasil dari kumpulan aktivitas masyarakat yang terjadi pada ruang Aktivitas masyarakat tersebut merupakan salah satu fungsi inti dari ruang terbuka yaitu sebagai tempat bersosialisasi antar individu dan rekreasi. Selain fungsi sosial, terdapat juga fungsi ekologis yang dimiliki oleh ruang terbuka. Menurut (Yuniarman, 2. , berikut ini adalah beberapa peran ruang terbuka publik yakni: Fungsi Umum - Sebagai beristirahat, olahraga, melakukan sosialisasi yang dilakukan secara individu maupun kelompok, tempat duduk - duduk untuk menunggu suatu acara atau persona, dan sebagai tempat transit. - Sebagai area untuk mencari udara segar atau suasana baru bagi masyarakat di kawasan perkotaan. sebagai area transit barang atau orang di area rural. - Sebagai ruang jeda antar bangunan masyarakat antar wilayah yang tertutup oleh bangunan. Fungsi Ekologis - Sebagai penghijauan kawasan, penyedia udara segar, pencegahan banjir, area resapan, dan pemurnian - Sebagai kawasan atau landmark hijau bagi - Sebagai pelindung pertama bagi ekosistem flora dan fauna kawasan. Elemen yang Mempengaruhi Aktivitas Ruang Terbuka Dikatakan dalam (Yuniarman, 2. bahwa pola pemanfaatan ruang oleh masyarakat mempunyai dampak yang besar menentukan jenis aktivitas dan pola pemanfaatan ruang untuk kegiatan, antara lain seperti: Bangunan landmark atau bangunan dengan fungsi khusus. Area bekerja dan berkegiatan. Kios dan toko untuk kebutuhan rendah menengah. Penghijauan. Area - area publik utama Infrastruktur ruang terbuka serta akomodasi yang disediakan. Aksesibilitas ruang terbuka. Elemen penyusun dari ruang terbuka publik merupakan kumpulan dari lokasi dan koneksi yang mudah diakses oleh setiap individu (Lang, 1. Pihak pengelola diharuskan menyediakan elemen - elemen pendukung aktivitas yang terjadi di ruang terbuka seperti area duduk, penghijauan, kebersihan area, dan kualitas dari ruang terbuka publik tersebut. Selain faktor dari dalam sebuah ruang publik, terdapat faktor dari luar yang dapat mempengaruhi elemen penyusun ruang terbuka publik yang patut dipertimbangkan seperti faktor sosio ekonomi masyarakat, kegiatan komersial, dan kondisi kawasan di sekitar ruang (Yuniarman, 2. Aktivitas Yang Terjadi di Ruang Terbuka Publik Menurut (Carmona, 2. Terdapat tiga jenis kegiatan utama pada ruang publik, yaitu seperti : Aktivitas wajib . ekolah dan bekerj. Aktivitas gotong - royong (Relaksasi, olahraga, berbelanja, dan . ersosialisasi, mengadakan pertemuan dengan individu lain baik secara aktif maupun pasi. Senada dengan itu, (Zhang & Lawson, 2. serta (Gehl, 2. mengklasifikasikan kegiatan di luar ruangan menjadi tiga kategori, yang Aktivitas Esensial. Bahwa setiap individu memiliki rutinitas harian yang wajib diselesaikan dalam keadaan apapun, seperti bekerja, belanja, bersekolah, serta aktivitas yang termasuk kedalam bagian dari aksesibilitas. Aktivitas pendamping. Bahwa aktivitas urgensitas yang tinggi namun dibawah aktivitas esensial. Aktivitas Sosial. Aktivitas ini tergolong kedalam aktivitas yang bersifat organik dan elastis, karena interaksi terjadi secara spontan dengan mencakup interaksi baik secara fisik atau pasif. TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 Perilaku Pengertian Perilaku Perilaku merupakan sebuah tanggapan atau reaksi seseorang terhadap sebuah perasaan atau lingkungan (KBBI). Kata perilaku menunjukkan manusia dalam kegiatannya, berkaitan dengan semua aktivitas manusia secara fisik, berupa interaksi antara individu dengan individu lain maupun secara non fisik yaitu dengan lingkungan disekitarnya (Maze, 2. Perilaku Pada Ruang Terbuka Publik Manusia merupakan makhluk sosial sejak dahulu yang membutuhkan kehadiran sesamanya untuk dapat hidup sehari - hari. Tidak dipungkiri juga bahwa dalam kegiatan tersebut termediasi dalam bentuk interaksi atau komunikasi antara dua atau lebih Kegiatan ini seolah menjadi ciri khas manusia yang telah terjadi bahkan sejak awal peradabannya (Ghifari & Firdausan. Setiap individu memiliki perilaku yang berbeda - beda dalam konsep spatial, namun terdapat beberapa faktor lain yang sangat mempengaruhi perilaku manusia itu, seperti faktor: usia, latar belakang, jenis kelamin, dan sebagainya. Walaupun begitu, secara pengelompokan terdapat jarak - jarak tertentu yang justru dapat dimanfaatkan pada jenis - jenis hubungan tertentu (Ghifari & Firdausan, 2. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Manusia Pada Ruang Terbuka Publik Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Hantono & Pramitasari, 2. menyatakan bahwa pola perilaku manusia dalam memanfaatkan sebuah ruang terbuka publik memiliki tiga komponen utama, yaitu: Fisik . erkaitan dengan desain terbangu. Sosial . erkaitan dengan penggunaan dan aktivitas pada desain tersebu. dan Budaya. Terdapat juga salah satu konsep perilaku manusia dalam memanfaatkan sebuah ruang publik, yaitu Konsep Teritorialitas. Konsep teritorialitas sangat sering ditemui pada Pedagang Kaki Lima (PKL) di seluruh kota atau kawasan Indonesia. Hal ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Kurniadi , 2. yang menyatakan bahwa sikap teritorialitas tersebut muncul dikarenakan oleh pokok kebutuhan dari PKL tersebut yang menginginkan untuk dapat berjualan di lokasi yang strategis pada ruang publik yang ditandai dengan cara membangun sebuah lapak atau kios. Behavior Mapping Pengertian behaviour mapping dalam buku AuApplication of Geographic Information SystemsAy yang diterbitkan oleh (Alam, 2012, . adalah sebuah produk dari observasi dan alat untuk menganalisis sebuah lokasi dan desain disaat yang Penyusunan dari behaviour mapping sendiri memerlukan beberapa menjadwalkan pengamatan pada waktu yang spesifik dan berulang, perekaman keadaan, koding, penghitungan dan Namun sebelum melakukan sebuah pengamatan, diperlukan adanya sebuah peta yang berskala untuk memperjelas aktivitas serta perilaku pengguna yang terjadi pada area tersebut. Dalam tujuan serta maksud dari dikatakan oleh Bechtel dalam (Alam, 2012, . menekankan bahwa Autujuannya adalah untuk menemukan perilaku pada peta itu sendiri, untuk mengidentifikasi jenis dan frekuensi perilaku, dan untuk menunjukkan hubungannya dengan lokasi Dengan mengasosiasikan suatu perilaku dengan lingkungan tertentu maka pertanyaan dan menarik kesimpulan tentang perilaku tersebut dan hubungannya dengan suatu tempat. Ay Terdapat beberapa cara yang bisa digunakan dalam menganalisis data dan menyusun sebuah peta berdasarkan perilaku atau behaviour mapping tersebut, diantaranya seperti: Menggunakan behavioural mapping matrix atau tabel. Menggunakan aplikasi GIS dan GPS. Menggunakan Hasil Penelitian dan Pembahasan Pola Perilaku Pemanfaatan Taman Tambak Lorok Berdasarkan pengamatan serta tabel yang dihasilkan dari proses analisis data TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 pada jenis aktivitas dan perilaku masyarakat pada Taman Tambak Lorok selama beberapa waktu, terdapat temuan bahwa ada beberapa kegiatan yang dilakukan secara berulang dan sama yang terjadi hampir setiap hari. Aktivitas seperti anak anak yang bermain, ibu - ibu yang berkumpul dengan para tetangga, pedagang asongan yang memasarkan dagangannya di pinggir taman, dan bapak - bapak yang berkumpul dengan bapak - bapak lainnya, ditunjukkan dalam Gambar 1. Beberapa aktivitas yang disebutkan di atas biasanya terjadi di sore hari dan beberapa di siang hari seperti kegiatan jual beli pedagang. saat malam hari, tidak terjadi aktivitas yang Lonjakan aktivitas sangat terasa saat sore hari mulai jam 15:00 - 17:00 dengan 8 jenis aktivitas yang terjadi dalam satu waktu. sekitar taman saat sore hari dan terkadang di siang hari, terdapat anak - anak dengan umur 4 - 7 tahun dan jumlah kurang lebih 8 orang bermain permainan seperti petak umpet, engklek dan beberapa permainan fisik lain. Pola perilaku di sekuen 1 ditunjukkan dalam Gambar 2. Tabel 1 menunjukkan korelasi antara waktu dan kegiatan yang dilakukan masyarakat di lokasi sekuen 1. Gambar 2: Pola Perilaku Penggunaan Ruang Terbuka Publik Pada Sekuen 1 (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Tabel 1: Pola Perilaku Penggunaan Ruang Terbuka Publik Pada Sekuen 1 Waktu Pagi :00 10:. Hari Senin Minggu Kegiatan Gambar 1: Pola Perilaku Penggunaan Taman Tambak Lorok (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Sekuen 1 (Patung Ikan Terbang - TPQ Tarbiyatul Athfa. Pada sekuen 1 Taman Tambak Lorok (Patung Ikan Terbang - TPQ Tarbiyatul Athfa. , terdapat beberapa aktivitas yang terjadi, diantaranya seperti bapak - bapak yang sedang berinteraksi dengan cara duduk bersama, sekumpulan remaja yang sedang berbincang dengan duduk bersama, serta anak - anak sekitar umur 4 - 7 tahun yang sedang bermain di sekitar area taman. Beberapa kegiatan di atas dilakukan secara intens di saat sore hari dengan pengecualian seperti bapak - bapak yang sedang berkumpul yang teramati juga dilakukan saat pagi hari. Intensitas yang terjadi di dalam sekuen 1 Taman Tambak Lorok dapat dikategorikan sebagai sepi, karena jumlah yang pengguna yang tidak terlalu banyak . ata - rata 3 - 5 oran. Sedangkan di area Pada pagi hari, tidak terdapat aktivitas yang signifikan di sekuen 1, hanya terlihat beberapa ibu - ibu dan anak - anak yang lalu lalang dengan sesekali mereka bermain di area bermain anak. Siang :00 Senin Minggu Saat siang hari, terdapat aktivitas berupa bapak bapak dan remaja yang berkumpul dengan pola perilaku berupa duduk TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 Waktu Sore :00 Hari Malam :00 21:. Kegiatan berinteraksi di seating area di dalam taman. Senin Minggu Senin Minggu Pada sore hari, terdapat anak - anak yang bermain di sekitaran taman dan terkadang di area antara seating area 1 dan seating area 2. Permainan yang biasa dimainkan adalah kejar kejaran dan engklek. Tidak terdapat kegiatan pada saat malam hari. (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Gambar 3: Jenis Kegiatan dan Kebiasaan Di Dalam Sekuen 1 Taman Tambak Lorok (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Gambar 4: Jenis Kegiatan dan Kebiasaan Di Sekitar Sekuen 1 Taman Tambak Lorok (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Gambar 5: Perubahan Fungsi DIkarenakan Perilaku Di Sekuen 1 (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Berdasarkan hasil dari pengamatan serta pemetaan pada sekuen 1 Taman Tambak Lorok, dapat diklasifikasikan beberapa temuan perilaku masyarakat di dalam taman berdasarkan teori Place Centered Mapping, yaitu kegiatan interaksi yang dilakukan oleh bapak - bapak dan remaja dilakukan di seating area yang berada di tengah taman dengan kebiasaan seperti duduk - duduk dan merokok. Intensitas penggunaan berkisar antara 2 - 3 jam dengan waktu penggunaan antara pagi dan sore hari. Sedangkan kegiatan bermain anak - anak bersifat dinamis . erubah - ubah setiap saa. dengan alur aktivitas berawal dari trotoar taman dengan durasi 30 menit 1 jam yang kemudian berganti menuju ke arah dalam taman dengan durasi berkisar 1 jam dan kemudian kembali ke arah trotoar taman sebelum berpindah lagi menuju lokasi lain di luar area taman. Waktu penggunaan yang dilakukan oleh anak - anak didominasi saat sore hari karena cuaca yang tidak panas, waktu anak - anak bangun tidur siang dan beberapa memilih bermain setelah pulang mengaji di TPQ. Gambar 3, 4, dan 5 menunjukkan suasan dan macam jenis kegiatan di sekuen 1 Taman Tambak Lorok. Sekuen 2 (SDI Taqwiyatul Wathon - Pasar Kongs. Pada sekuen 2 Taman Tambak Lorok (SDI Taqwiyatul Wathon - Pasar Kongs. terdapat beberapa jenis aktivitas dan perilaku yang terjadi dengan intensitas penggunaan yang bervariasi. Namun terdapat beberapa kesamaan aktivitas yang terjadi hampir setiap hari di sekuen 2 Taman Tambak Lorok. Aktivitas dan perilaku di sekuen 2 tambak lorok didominasi oleh anak - anak sekolah yang bermain sepak bola dan smartphone, mengingat lokasinya yang berseberangan dengan SDI Taqwiyatul Wathon, dan beberapa titik digunakan oleh TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 masyarakat umum yang sedang berjalan jalan, dan pedagang yang sedang menjual dagangannya kepada anak - anak. Kegiatan - kegiatan tersebut seolah terkonsentrasi di area taman yang terletak berseberangan dengan Pasar Kongsi. Pola perilaku penggunaan ruang terbuka publik di sekuen 2 ditunjukkan dalam Gambar 6. Waktu penggunaan fasilitas taman di area ini tersebar mulai dari pagi, siang dan sore namun intensitas kegiatan sangat terasa di pagi hari karena terdapat beberapa pedagang yang sedang melakukan jual beli dan pengunjung yang menunggu seseorang di sekitar area taman yang terletak berseberangan dengan Pasar Kongsi. Tabel 2 menyajikan hubungan antara waktu dan hari, dengan kegiatan yang dilakukan di Waktu Siang :00 Hari Senin Minggu Saat siang hari, terdapat aktivitas berupa anak anak yang berteduh di seating area, terutama dengan SDI Taqwiyatul Wathon. Kebiasaan game di smartphone Sore :00 Senin Minggu Pada sore hari, terdapat anak - anak yang seating area 3 dan seating area 4 dengan memainkan permainan karena sering berpindah. Selain anak - anak, terkadang terlihat bapak - bapak atau ibu - ibu yang menunggu anak mereka pulang sekolah. Gambar 6: Pola Perilaku Penggunaan Ruang Terbuka Publik Pada Sekuen 2 (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Tabel 2: Pola Perilaku Penggunaan Ruang Terbuka Publik Pada Sekuen 2 Waktu Pagi :00 10:. Hari Senin Minggu Kegiatan Pada pagi hari, terdapat aktivitas yang cukup ramai di area sekuen 2, berseberangan dengan SDI Taqwiyatul Wathon Pasar Kongsi. Kegiatan yang sering terjadi adalah mengantar sekolah menggunakan kendaraan mereka dan Kegiatan kegiatan berbicara atau Malam :00 21:. Senin Minggu Kegiatan pada malam hari terpusat di area antara seating area 2 dan seating area 3 yang terdapat 2 gerai makanan dengan kebiasaan yang terjadi TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 Waktu Hari Kegiatan (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Gambar 7: Jenis Kegiatan dan Kebiasaan Di Dalam Sekuen 2 Taman Tambak Lorok (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Gambar 8: Jenis Kegiatan dan Kebiasaan Di Sekitar Sekuen 2 Taman Tambak Lorok (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Gambar 9: Perubahan Fungsi DIkarenakan Perilaku Di Sekuen 2 (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Dari hasil pengamatan serta pemetaan pada sekuen 2 Taman Tambak Lorok, dapat dikategorikan sekuen ini termasuk kedalam sekuen yang ramai. Gambar 7 dan 8 menunjukkan jenis kegiatan dan kebiasaan yang dilakukan masyarakat di sekuen 2. Sedangkan Gambar perubahan fungsi akibat dari perilaku Berdasarkan temuan - temuan perilaku yang kemudian diolah dengan Place Centered Mapping, ditemukan bahwa terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan secara berulang di sebuah titik dan terdapat temuan berupa adanya konsep teritorialitas yang dilakukan oleh para pedagang yang dilakukan di titik sekitar taman di dekat Pasar Kongsi dan Madrasah. Para pedagang tersebut memiliki aktivitas berupa berdiri sambil menjaga Sekuen 3 (Lapangan Ditpolair - Mushola Nurul Hikma. Pada sekuen 3 Taman Tambak Lorok (Lapangan Ditpolair - Mushola Nurul Hikma. terlihat beberapa kegiatan yang Pada sekuen 3 terdapat jenis aktivitas seperti berkebun, duduk - duduk, bermain dan bersosialisasi. Hal ini ditunjukkan dalam Gambar 10. Aktivitas berkebun dilakukan oleh ibu - ibu sebanyak 1 orang, yang dilakukan dengan cara menyiram menggunakan selang dari kran air dan memotong daun tanaman. Aktivitas duduk - duduk dilakukan oleh anak - anak dengan jumlah pengguna sebanyak 4 orang. Saat duduk - duduk tersebut, terdapat kegiatan berupa bermain game di Sedangkan aktivitas bermain juga dilakukan oleh anak - anak dengan jumlah kurang lebih 25 anak. Kegiatan bermain tersebut berbentuk bermain sepak bola, bersepeda, dan kejar - kejaran. Kegiatan bermain sepak bola dan kejar kejaran oleh anak - anak mayoritas dilakukan di jalan antara sekuen 2 dan Aktivitas bersosialisasi dilakukan oleh ibu - ibu dengan jumlah partisipan sebanyak 2 orang. Aktivitas tersebut dilakukan di pinggiran taman dan dilakukan dengan cara duduk bersebelahan dan dilakukan dengan cara berbicara tatap Gambar 10: Pola Perilaku Penggunaan Ruang Terbuka Publik Pada Sekuen 3 (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 Tabel 3: Pola Perilaku Penggunaan Ruang Terbuka Publik Pada Sekuen 3 Waktu Pagi :00 10:. Hari Senin Minggu Kegiatan Hari Kegiatan (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Jenis aktivitas yang terjadi pada pagi hari didominasi di area taman botani dengan adanya taman oleh bapak bapak menumpuk bata ringan dan membuat adukan semen dengan sesekali Selain itu, kendaraan milik bapak bapak diparkirkan di pinggir taman. Siang :00 Waktu . :00 21:. Gambar 11: Jenis Kegiatan dan Kebiasaan Di Dalam Sekuen 3 Taman Tambak Lorok (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Senin Minggu Gambar 12: Jenis Kegiatan dan Kebiasaan Di Sekitar Sekuen 3 Taman Tambak Lorok (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Saat siang hari, terdapat aktivitas berupa kegiatan bersantai oleh bapak bapak yang terkadang ditemani oleh beberapa anak yang dilakukan smartphone di seating Sore :00 Malam Gambar 13: Perubahan Fungsi dikarenakan Perilaku Di Sekuen 3 (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2. Senin Minggu Senin Minggu Pada sore hari, terjadi kegiatan intens namun terjadi di sekitar taman, lebih tepatnya terjadi di depan tugu RT 15 dengan jenis kegiatan berupa anak - anak bermain bola dengan interaksi bapak - bapak di sekitar area ini. Tidak terdapat kegiatan pada saat malam hari. Berdasarkan hasil pengamatan serta pemetaan pada sekuen 3 Taman Tambak Lorok, sekuen 3 termasuk sekuen yang padat aktivitas, namun kepadatan tersebut hanya terjadi di beberapa titik saja. Gambar 11, dan 12 menunjukkan jenis kegiatan dan kebiasan yang dilakukan oleh masyarakat. Sedangkan gambar 13 menunjukkan perubahan fungsi karena perilaku masyrakat di area sekuen 3. Berdasarkan data menggunakan teknik Place Centered Mapping, terdapat temuan satu titik keramaian yang berulang dalam satu waktu dengan jenis aktivitas yang beragam. Titik TERAKREDITASI : 36/E/KPT/2019 Tesa Arsitektur Volume 22 | Nomor 2 | 2024 ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367 tersebut merupakan jalan diantara sekuen 2 menuju ke sekuen 3. Pada titik ini, terdapat kegiatan seperti anak - anak bermain sepak bola dan kejar - kejaran, bapak - bapak yang bersosialisasi dengan cara berbincang bincang ringan sembari berdiri, dan pedagang asongan yang sedang berdiri memasak dagangannya. Selain itu, pada titik ini juga terdapat perubahan fungsi sebuah area yaitu terjadinya kegiatan penitipan barang berupa tabung oksigen milik salah satu bengkel las di sekitar jalan antara sekuen 2 dan 3. Tabel 3 menyajikan hubungan antara waktu kegiatan dengan kegiatan yang dilakukan masyarakat beserta titik tempatnya. Penutup Kesimpulan Berdasarkan temuan dari sekuen 1 dan 3, terdapat beberapa titik yang menurut peneliti menjadi titik keramaian ternyata kegiatan yang terjadi tidak terlalu intens, seperti di area taman bermain dan patung ikan terbang sekuen 1, serta area terbuka perkerasan di ujung Perilaku yang terjadi di seluruh sekuen di Taman Tambak Lorok sangat terikat partisipan dan umur partisipan yang terlibat, yang terlihat dari jumlah perilaku yang terjadi pada sosialisasi bapak - bapak dan remaja di sekuen 1 dan anak - anak bermain pada sekuen Selain di area dalam taman, pada area pinggiran taman juga digunakan oleh masyarakat sebagai area parkir, terutama di jam pagi . :00 - 10:. di sekuen 2 yang dikarenakan terdapat kegiatan perekonomian di dekat Pasar Kongsi. Kegiatan parkir ini intensitasnya tidak lama, hanya berkisar antara 30 menit - 2 jam. Saran Ruang terbuka publik menjadi tempat berkumpul anak-anak untuk bermain. Ruang terbuka publik ini berada di lokasi yang ramai sirkulasi kendaraan. Sehingga perlu kajian lebih lanjut keterkaitan perilaku masyarkat dengan sirkulasi kendaraan yang ada di sekitar Ruang terbuka publik di lingkungan menjadi taman lingkungan. Taman lingkungan dilengkapi dengan vegetasi Kualitas lingkungan permukiman dapat dikaji lebih lanjut dari keberadaan vegetasi taman lingkungan. Daftar Pustaka