Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. Pengaruh Penambahan Abu Sekam Padi dan Fly Ash Terhadap Berat Jenis Tanah Puru Muhammad Farhan Sugiwangsa1,* 1Jurusan Teknik Sipil. Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Bangka Tengah. Kep. Bangka Belitung *penulis koresponden: tamaotamao3@gmail. Submit : 24/05/2025 Revisi : 26/05/2025 Diterima : 30/06/2025 Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan abu sekam padi (ASP) dan fly ash (FA) terhadap berat jenis tanah Puru yang berasal dari Kelurahan Tua Tunu. Bangka Belitung. Tanah Puru merupakan jenis tanah laterit yang memiliki daya dukung rendah akibat sifatnya yang mudah menyerap air. Pengujian dilakukan di laboratorium dengan metode analisis ukuran butir dan uji berat jenis menggunakan piknometer, dengan variasi campuran ASP dan FA sebesar 5%, 10%, dan 15%, serta kombinasi keduanya. Hasil analisa ukuran butir menunjukkan bahwa tanah tergolong pasir bergradasi baik, dengan kandungan pasir >98% dan nilai Cu > 6 serta Cc antara 1Ae3. Pada uji berat jenis, penambahan ASP secara bertahap menurunkan nilai berat jenis tanah dari 2,665 . anpa campura. menjadi 2,446 pada kadar 15%. Sebaliknya, fly ash meningkatkan nilai berat jenis hingga 2,652 pada kadar 15%. Namun, ketika kedua bahan dicampur (FA 15% ASP 5%), nilai berat jenis menurun menjadi 2,556. Hal ini menunjukkan bahwa ASP yang lebih ringan mampu menetralkan efek peningkatan berat jenis oleh FA. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komposisi material tambahan mempengaruhi nilai berat jenis tanah dan dapat digunakan untuk mengatur kepadatan tanah sesuai kebutuhan rekayasa. Kata kunci: berat jenis tanah. tanah puru. abu sekam padi. fly ash Abstract. This study aims to determine the effect of adding rice husk ash (RHA) and fly ash (FA) on the specific gravity of Puru soil from Tua Tunu Village. Bangka Belitung. Puru soil is a type of laterite with low bearing capacity due to its high water absorption. Laboratory testing was conducted using particle size analysis and specific gravity testing with a pycnometer, with variations of RHA and FA mixtures at 5%, 10%, and 15%, as well as combinations of both. Particle size analysis results classified the soil as well-graded sand, with sand content >98%. Cu >6, and Cc between 1Ae3. In the specific gravity test, incremental additions of RHA reduced the soilAos specific gravity from 2. 446 at 15% RHA. Conversely, fly ash increased the specific gravity to 2. 652 at 15% FA. However, when both materials were combined . % FA 5% RHA), the specific gravity decreased to 2. 556, indicating that the lighter RHA neutralized the specific gravityenhancing effect of FA. This study concludes that the composition of additives significantly influences soil specific gravity and can be utilized to adjust soil density for engineering Keywords: soil specific gravity. Puru soil. rice husk ash. fly ash Pendahuluan Tanah Puru di Bangka Belitung merupakan tanah laterit dengan daya dukung rendah saat Hal ini dikarenakan sifat tanah puru yang mudah menyerap air. Dengan menambahkan abu sekam padi (ASP) dan fly ash (FA) yang memiliki berat jenis lebih ringan maka diharapkan hal tersebut dapat menurunkan berat jenis tanah puru asli . Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kombinasi ASP dan FA meningkatkan nilai CBR tanah lempung hingga 60%, namun pengaruhnya terhadap berat jenis tanah Puru belum dieksplorasi . Berat jenis merupakan parameter kritis dalam analisis stabilitas tanah, terutama untuk konstruksi jalan. Dengan semakin menurunnya berat jenis suatu tanah maka beban yang ada pada tanah tersebut juga akan menurun. Penelitian ini Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. bertujuan menguji pengaruh ASP dan FA terhadap berat jenis tanah Puru serta menentukan komposisi optimal untuk meningkatkan karakteristik geotekniknya. Metode Analisa ukuran butir Analisa ukuran butir merupakan pengujian yang digunakan untuk menentukan keseragaman material dan klasifikasi dari suatu jenis tanah. Pengujian ini dilakukan untuk menentukan klasifikasi tanah puru yang digunakan pada penelitian ini. Pengujian dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan untuk memvalidasi konsistensi data yang Notasi D10 menunjukkan ukuran partikel di mana 10% dari total berat butiran memiliki diameter yang lebih kecil dari nilai tersebut. Notasi lain seperti D30 dan D60 juga ditentukan dengan prinsip serupa. Ukuran D10 ini kerap disebut sebagai diameter efektif . Karakteristik kurva distribusi butiran, baik dari segi bentuk maupun kemiringannya, dapat dianalisis menggunakan dua rumus koefisien. Dalam pengujian ini parameter yang didapatkan yaitu koefisien keseragaman (C. dan koefisien gradasi (C. Untuk menentukan nilai Cu dan Cc digunakan persamaan berikut: ya yayc = ya60 yayca = . a30 )2 ya60 . Keterangan: D10 = 10% dari total berat butiran memiliki diameter D30 = 30% dari total berat butiran memiliki diameter D60 = 60% dari total berat butiran memiliki diameter = Koefisien keseragaman = Koefisien gradasi Tanah dapat dikategorikan memiliki gradasi yang baik apabila memenuhi syarat berikut: Nilai Cc berada di antara 1 dan 3 Nilai Cu lebih dari 4 untuk jenis kerikil A Nilai Cu melebihi 6 untuk jenis pasir Selain itu, tanah dengan nilai Cu di atas 15 umumnya dianggap memiliki gradasi yang sangat baik. Berat jenis Berat spesifik atau berat jenis tanah (G. merupakan perbandingan antara berat tanah (W. dengan berat tanah (W. ditambah berat piknometer dan air pada suhu 20 oC (W. Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. dikurangi dengan berat piknometer dan air pada suhu 20 oC dengan tanah. Untuk menentukan nilai berat jenis tanah dapat dilihat pada persamaan berikut: yayc = ycOyc ycO5 Oe ycO3 Keterangan: = Berat jenis = Berat tanah = Berat Piknometer = Berat Piknometer tanah = Berat Piknometer Air Tanah pada Temperatur 20 OC = Berat Piknometer Air pada Temperatur 20 OC = Wt W4 Nilai Gs tidak memiliki satuan. Untuk berbagai jenis tanah, berat jenis umumnya berada dalam kisaran 2,65 hingga 2,75. Tanah non-kohesif biasanya memiliki berat jenis sekitar 2,67. Sementara itu, tanah kohesif non-organik memiliki berat jenis antara 2,68 hingga 2,72 . Informasi lebih lanjut mengenai berat jenis berbagai jenis tanah dapat pada Tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Klasifikasi tanah menurut berat jenis . Macam Tanah Berat Jenis (G. Kerikil 2,65 - 2,68 Pasir 2,65 - 2,68 Lanau anorganik 2,62 Ae 2,68 Lanau organik 2,58 Ae 2,65 Lempung anorganik 2,68 Ae 2,75 Humus 1,37 Gambut 1,25 Ae 1,80 Penelitian dilakukan di laboratorium Dinas PUPRPRKP Bangka Belitung. Sampel tanah Puru diambil dari Kelurahan Tua Tunu dengan metode disturbed sampling. ASP diperoleh dari pembakaran sekam padi Desa Namang, sedangkan FA diambil dari PLTU Air Anyir. Variasi campuran meliputi ASP . %, 10%, 15%) dan FA . %, 10%, 15%) dari berat tanah Pengujian berat jenis menggunakan piknometer sesuai . Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel Hasil dan Pembahasan Analisa ukuran butir Pengujian analisis ukuran butir dilakukan sesuai dengan . Pengujian ini dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan untuk memastikan validitas hasilnya. Data hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 2 dan Gambar 2 berikut ini. Gambar 2. Grafik hasil pengujian analisa ukuran butir Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. Tabel 2. Hasil pengujian analisa ukuran butir Kategori Sampel Tanah Sampel Pengujian Kerikil Pasir Lanau Lempung D10 D30 D60 Tanah Ke(%) (%) (%) (%) . 0,18 98,52 1,31 0,42 1,80 3,50 8,33 2,20 0,13 98,00 1,87 0,36 1,70 3,55 9,86 2,26 0,13 98,45 1,42 0,47 1,68 3,44 7,32 1,75 Berdasarkan grafik distribusi butiran tanah dan tabel data yang diberikan, ketiga sampel tanah didominasi oleh fraksi pasir dengan persentase lebih dari 98%, sedangkan kandungan kerikil, lanau, dan lempung sangat rendah atau bahkan tidak ada. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga sampel termasuk dalam kategori tanah berpasir. Sampel Tanah 1 mengandung 98,52% pasir, diikuti Sampel Tanah 3 dengan 98,45%, dan Sampel Tanah 2 sebesar 98,00%. Kandungan lanau pada semua sampel berada di kisaran 1Ae2%, sedangkan lempung tidak terdeteksi sama sekali. Dari data ukuran butiran (D10. D30. , ketiga sampel memiliki nilai yang relatif mendekati satu sama lain. Nilai D10 berkisar antara 0,36 mm hingga 0,47 mm. D30 antara 1,68 mm hingga 1,80 mm, dan D60 antara 3,44 mm hingga 3,55 mm. Berdasarkan perhitungan koefisien uniformitas (C. dan koefisien gradiasi (C. , seluruh sampel memiliki nilai Cu > 6 dan Cc berada di kisaran 1Ae3. Nilai ini menunjukkan bahwa ketiga sampel tergolong sebagai tanah bergradasi baik . ell grade. , terutama pada Sampel Tanah 2 yang memiliki Cu tertinggi sebesar 9,86 dan Cc sebesar 2,26. Gradasi yang baik mengindikasikan variasi ukuran partikel yang cukup beragam, yang dapat berpengaruh terhadap stabilitas dan kepadatan tanah. Secara keseluruhan, baik grafik maupun tabel menunjukkan bahwa sampel tanah yang diuji merupakan pasir bergradasi baik dengan sedikit kandungan lanau dan hampir tanpa kandungan lempung, sehingga tanah ini memiliki potensi yang baik untuk digunakan dalam pekerjaan teknik sipil seperti timbunan atau lapisan dasar konstruksi jalan. Berat jenis Pengujian berat jenis dilakukan sesuai dengan . , dengan menguji tanah puru tanpa campuran abu sekam padi dan fly ash, serta setelah penambahan campuran ASP dan fly ash pada kadar tertentu, dan juga setelah keduanya dikombinasikan. Hasil pengujian berat jenis dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 3 berikut ini. Tabel 3. Hasil pengujian berat jenis Nama Sampel Tanah Puru lolos saringan No. No. Sampel 2,662 2,653 Rata-Rata 2,665 Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 Tanah Puru lolos saringan No. Abu Sekam Padi 5% Tanah Puru lolos saringan No. Abu Sekam Padi 10% Tanah Puru lolos saringan No. Abu Sekam Padi 15% Tanah Puru lolos saringan No. 4 Fly ash 5% Tanah Puru lolos saringan No. 4 Fly ash 10% Tanah Puru lolos saringan No. 4 Fly ash 15% Tanah Puru lolos saringan No. 4 Fly ash 15% Abu Sekam Padi 5% DOI: http://doi. 35438/aspal. 2,679 2,547 2,549 2,508 2,472 2,414 2,485 2,426 2,487 2,424 2,566 2,586 2,563 2,662 2,661 2,623 2,684 2,613 2,658 2,588 2,554 2,526 2,535 2,457 2,446 2,572 2,649 2,652 2,556 Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. Gambar 2. Grafik hasil pengujian berat jenis tanah Berdasarkan grafik dan tabel yang disajikan, terlihat bahwa nilai berat jenis tanah (Specific Gravity. bervariasi tergantung pada jenis bahan tambahan yang Tanah murni yang lolos saringan No. 4 memiliki nilai berat jenis rata-rata sebesar 2,665, yang mencerminkan nilai Gs tipikal untuk tanah berpasir. Penambahan abu sekam padi (ASP) sebesar 5%, 10%, dan 15% menyebabkan penurunan nilai berat jenis secara bertahap, masing-masing menjadi 2,535. 2,457. dan 2,446. Penurunan ini disebabkan oleh sifat ringan dari abu sekam padi yang memiliki massa jenis lebih rendah dibandingkan butiran tanah, sehingga menurunkan rata-rata berat jenis campuran. Sebaliknya, penambahan fly ash ke dalam tanah justru memberikan efek yang berbeda. Fly ash sebanyak 5%, 10%, dan 15% meningkatkan nilai Gs menjadi 2,572. 2,649. 2,652 secara berturut-turut. Ini menunjukkan bahwa fly ash memiliki karakteristik yang lebih berat dan padat, sehingga dapat menaikkan berat jenis tanah jika digunakan dalam proporsi yang sesuai. Campuran tanah dengan fly ash 15% menghasilkan nilai Gs tertinggi di antara seluruh variasi, menunjukkan potensi fly ash dalam memperbaiki sifat kepadatan tanah. Sementara itu, pada campuran tanah dengan kombinasi fly ash 15% dan abu sekam padi 5%, nilai berat jenis kembali menurun menjadi 2,556. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun fly ash meningkatkan Gs, kehadiran abu sekam padi yang ringan tetap memberikan efek penurunan. Secara keseluruhan, data ini mengindikasikan bahwa kombinasi bahan tambahan memiliki pengaruh langsung terhadap berat jenis tanah dan dapat dimanfaatkan untuk mengatur kepadatan tanah sesuai kebutuhan dalam aplikasi teknik sipil dan konstruksi. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan abu sekam padi dan fly ash mempengaruhi nilai berat jenis tanah Puru secara signifikan. Abu sekam padi, yang memiliki massa jenis lebih ringan, menyebabkan penurunan nilai berat jenis tanah seiring peningkatan kadar campuran. Sebaliknya, fly ash cenderung meningkatkan nilai berat Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. jenis tanah karena sifat partikelnya yang lebih padat. Campuran optimal untuk meningkatkan atau menurunkan berat jenis tanah tergantung pada proporsi bahan tambahan yang digunakan. Tanah murni memiliki berat jenis sebesar 2,665, sedangkan campuran dengan fly ash 15% menghasilkan nilai tertinggi yaitu 2,652. Kombinasi fly ash 15% dan ASP 5% menunjukkan efek saling menetralkan, menghasilkan berat jenis 2,556. Hasil ini menegaskan bahwa pemanfaatan bahan limbah seperti ASP dan FA dapat menjadi alternatif dalam rekayasa tanah untuk keperluan konstruksi jalan atau stabilisasi Daftar Pustaka