JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia https://journals. iai-alzaytun. id/index. php/jis E-ISSN: 2988-0947 Vol. 3 No. : 65-74 DOI: https://doi. org/10. 61341/jis/v3i1. Makna dalam Konteks: Integrasi Teori Referensial. Struktural, dan Kognitif untuk Pragmatik pada ungkapan dalam kehidupan sehari-hari Rizka Al-Fajr1A. Maulida Diana 2. Martunis3 Pendidikan Bahasa Arab. Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia E-mail: rizkaalfajr0908@gmail. com1A , maulidadiana69@gmail. com2, melon291ok@gmail. 1,2,3 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji integrasi teori makna referensial, struktural, dan kognitif dalam kerangka pragmatik pada komunikasi sehari-hari. Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana ketiga teori tersebut saling melengkapi dalam menjelaskan pembentukan dan pemahaman makna ujaran dalam interaksi lisan. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan analisis isi kualitatif, di mana data diperoleh dari jurnal ilmiah, buku, dan dokumen akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna dalam komunikasi bahasa Arab tidak hanya bersifat referensial, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh struktur bahasa, proses kognitif, serta konteks pragmatik. Ketiga aspek tersebut saling berinteraksi sehingga makna yang dipahami dalam percakapan sering kali melebihi arti literal kata-kata yang digunakan. Dengan demikian, pemahaman makna dalam komunikasi sehari-hari merupakan hasil integrasi antara makna referensial, struktural, dan kognitif yang berjalan dalam kerangka pragmatik, sehingga makna dapat dipahami secara utuh dan kontekstual. Kata Kunci: makna referensial, makna struktural, makna kognitif, pragmatik, komunikasi sehari-hari Abstract This study aims to examine the integration of referential, structural, and cognitive meaning theories within the framework of pragmatics in everyday communication. The issue raised is how the three theories complement each other in explaining the formation and understanding of the meaning of utterances in oral This research uses a literature study method with qualitative content analysis, where data is obtained from scientific journals, books, and relevant academic documents. The results show that meaning in Arabic communication is not only referential, but also strongly influenced by language structure, cognitive process, and pragmatic context. The three aspects interact with each other so that the meaning understood in conversation often exceeds the literal meaning of the words used. Thus, the understanding of meaning in everyday communication is the result of integration between referential, structural, and cognitive meanings that run within the framework of pragmatics, so that meaning can be understood fully and contextually. Keywords: eferential meaning, structural meaning, cognitive meaning, pragmatics, daily communication 65 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Rizka Al-Fajr. Maulida Diana. Martunis Vol. No. : 65-74 PENDAHULUAN Bahasa terus berkembang seiring kreativitas manusia yang memungkinkan penciptaan serta pembaharuan makna dalam setiap kosakata. Secara fundamental, bahasa terdiri dari bunyi . ikaji fonolog. dan makna . ipelajari semanti. yang dinamis. Semantik, atau Ilm Dalalah, telah melewati evolusi panjang dari makna kata hingga menjadi subdisiplin ilmu yang relevan dan menarik banyak peneliti untuk mengkaji setiap makna dalam ujaran manusia (Mivtakh & Hum, 2. Dalam memahami suatu makna, dibutuhkan teori sebagai pendekatan dalam menjelaskan sebuah makna teks. Persoalan akan semakin rumit ketika dihadapkan pada pedoman dasar Literasi Islam yaitu Al-QurAoan dan Hadits (Zulkiflih & Fitria, 2. Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan, yang memberikan pandangan sistematis mengenai fenomena tertentu. Teori menjelaskan hubungan antar variabel dengan tujuan untuk memahami dan menjelaskan fenomena alamiah (Tauhid, 2. Teori berfungsi sebagai panduan yang membantu kita dalam memahami dan mengeksplorasi suatu ilmu. Teori merupakan fondasi utama bagi perkembangan suatu ilmu Dengan adanya teori, sutu ilmu dapat terus berlanjut dan berkembang dalam siklus yang berkesinambungan. Teori mampu mengangkat pertanyaan atau masalah tentang realitas yang kita hadapi. Dari pertanyaan ini, berbagai penelitian atau pengamatan dilakukan untuk menemukan jawaban atas masalah yang muncul (Kustiawan dkk. , 2. Beberapa teori dalam Ilm Dalalah . , seperti teori referensial, struktural, dan kognitif, memiliki fungsi penting dalam ilmu semantik karena masing-masing memiliki fungsinya sendiri dalam membantu kita memahami bagaimana makna terbentuk, dijelaskan, dan digunakan. Namun, pemahaman tentang bagaimana makna ini benar-benar berfungsi dalam interaksi lisan dan tatap muka yang kita sebut percakapan sering kali membutuhkan lebih dari sekadar teori semantik murni atau pertukaran informasi. Pasalnya, percakapan melibatkan proses langsung dan tidak langsung, di mana maksud tersirat sering kali menuntut pemahaman mendalam tentang pragmatik, terutama bagaimana konteks dan implikatur bekerja dalam bahasa Arab, agar kesalahpahaman komunikasi dapat dihindari (Fauzi dkk. , 2. Berangkat dari latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara konseptual bagaimana integrasi teori referensial, struktural, dan kognitif dapat memperluas pemahaman makna dalam kajian pragmatik, disertasi dengan contoh ungkapan dalam komunikasi sehari-hari. Ketiga teori tersebut, yang masing-masing menyoroti aspek berbeda dalam pembentukan makna, akan dianalisis keterkaitannya agar dapat memberikan gambaran yang lebih utuh tentang bagaimana makna sebenarnya dipahami dan digunakan dalam interaksi nyata. Dengan mengaitkan teori-teori tersebut dalam kerangka pragmatik, artikel ini diharapkan mampu menunjukkan bahwa pemahaman makna tidak hanya 66 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Rizka Al-Fajr. Maulida Diana. Martunis Vol. No. : 65-74 bergantung pada kata dan struktur, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh konteks, tujuan, pemahaman, dan pengalaman komunikator dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kajian semantik (Ilm Dalala. , pemahaman tentang pembentukan dan penggunaan makna sangat bergantung pada landasan teoritisnya. Bidang ini memiliki beberapa teori utama yang diakui, termasuk teori referensial, struktural, dan kognitif. Setiap teori ini berkontribusi dalam menjelaskan bagaimana makna diciptakan, diinterpretasikan, dan digunakan dalam komunikasi. Teori pertama adalah teori refrensial. Al-Nazhaariyyah al-Isyariyyah, disebut juga dengan al-nazhariyyah al-ismiyyah bi al-makna . heory of meanings namin. merupakan teori yang menjelaskan bahwa makna sebuah kata atau ungkapan didasarkan pada hubungan langsungnya dengan benda, peristiwa, atau konsep nyata di dunia. Dengan kata lain, makna terbentuk dari keterkaitan antara kata itu sendiri dan objek atau fenomena yang diwakilinya (Ariffianti & Wakhida, 2. Makna referensial adalah jenis makna yang secara langsung terhubung dengan apa yang dirujuk oleh sebuah kata atau ungkapan, seperti "gunung" yang merujuk pada bukit Pemahaman makna referensial sangat bergantung pada kemampuan individu mengenali dan mengidentifikasi ciri-ciri dari objek atau konsep yang dirujuk oleh suatu (J. Sutomo, 2. Teori referensial menyatakan bahwa makna kata-kata erat kaitannya dengan pengalaman manusia terhadap dunia nyata. kata memperoleh makna lewat penamaan objek konkret atau yang terbayangkan. Ogden dan Richards menjelaskan ini melalui "segitiga makna" yang menghubungkan simbol . , referensi . , dan referen . bjek nyat. (Matsna, 2. Teori kedua adalah teori structural. Teori struktural semantik berfokus pada hubungan makna antar kata atau kelompok kata dalam sistem bahasa itu sendiri. Berbeda dengan teori referensial, pendekatan ini tidak melihat makna dari kacamata dunia nyata, melainkan dari bagaimana kata-kata saling terkait dan membentuk makna melalui hubungan seperti sinonim, antonim, atau hierarki. Jadi, makna suatu kata dipahami berdasarkan posisinya dalam jaringan kata-kata lain, bukan hubungannya dengan objek (Ginting & Ginting, 2. Teori ketiga adalah teori kognitif. Ilmu untuk mempelajari konsep atau makna yang berhubungan dengan kognisi disebut semantik kognitif. Dalam semantic kognitif membahas mengenai bentuk-bentuk metafora (Zakiyah & Nur, 2. Menurut pendapat Kridalaksana 2008 dikutip dari Haula . Dalam teori semantik kognitif, makna dianggap sebagai hasil pemikiran atau konsep di dalam pikiran. Jadi, arti sebuah kata atau ungkapan adalah konsep yang muncul di benak pembicara atau pendengar. Dengan kata lain, makna adalah hubungan antara kata-kata dan pikiran, bukan dengan hal-hal nyata di luar bahasa. Mac Cormac . dalam (Zakiyah & Nur, 2. menjelaskan bahwa Metafora ialah proses kognitif yang dapat menghasilkan pemahaman baru dengan cara mengubah bahasa. Pemahaman baru tersebut muncul berdasarkan pada sejauh mana pembaca atau mitra tutur memahami maksud dari konstruksi frasa, klausa, atau kalimat yang diciptakan. 67 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Rizka Al-Fajr. Maulida Diana. Martunis Vol. No. : 65-74 Pragmatik, sebagaimana dijelaskan oleh Aziz et al. dalam (Zamzamy & Aziz, 2. , adalah studi linguistik tentang bagaimana konteks memengaruhi cara kita mengartikan bahasa dalam interaksi. Kajian ini mencakup bagaimana latar belakang komunikasi, hubungan antarindividu yang terlibat, dan maksud tersembunyi di balik ujaran turut membentuk pemahaman kita terhadap pesan yang disampaikan. Sedangkan Yule . dalam (Suryawin dkk. , 2. mendefinisikan pragmatik sebagai studi tentang makna yang dikomunikasikan dan diinterpretasikan. Dalam percakapan sehari-hari, terutama dalam kajian pragmatik, seringkali kita menemukan ketidaksesuaian antara struktur bahasa formal dengan maksud sebenarnya. Meskipun demikian, pembicara dan lawan bicara umumnya tetap saling memahami, terutama untuk topik-topik yang dianggap sensitif atau "tabu" (Wahyuni & Setiyawan. Ketidaksesuaian pemahaman antara pembicara dan pendengar dapat menghalangi tersampainya pesan. Pragmatik berusaha mengurai permasalahan ini dengan meneliti bagaimana konteks memengaruhi makna bahasa. Menurut Yule . , konteks adalah situasi di mana bahasa digunakan, sementara Leech . menambahkan bahwa konteks adalah latar belakang pengetahuan yang sama antara pembicara dan lawan bicara, yang membantu dalam menafsirkan maksud ujaran (Suryawin dkk. , 2. Menurut Ramadhan . dalam (Zamzamy & Aziz, 2. Memahami tindak tutur seperti cara meminta atau menawarkan membantu siswa berkomunikasi lebih alami dan sesuai norma sosial. Ini menunjukkan bahwa komunikasi efektif bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan juga menyesuaikan ucapan dengan tujuan dan situasi. Dalam pragmatik bahasa Arab, ini sejalan dengan konsep muqtada al-hal ( AICOA A)EEA, atau "tuntutan situasi". Prinsip ini menekankan pentingnya kesesuaian ucapan dengan konteks situasional, di mana pemilihan kata, struktur kalimat, dan gaya bahasa sangat dipengaruhi oleh situasi agar pesan tersampaikan secara tepat. METODE Penelitian ini menggunakan metode studi literatur . ibrary researc. dengan pendekatan analisis isi kualitatif. untuk mengintegrasikan teori makna referensial, struktural, dan kognitif dengan kajian pragmatik. Kajian literatur adalah metode penelitian yang dilakukan dengan menelaah dan menganalisis berbagai sumber tertulis yang relevan, seperti jurnal, buku, dan dokumen akademik, guna memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap teori dan temuan yang berkaitan dengan topik penelitian (Habsy. Sumber-sumber tersebut dipilih melalui pencarian pada basis data terkemuka, seperti Google Scholar dan Scopus, dengan kriteria inklusi yang ketat untuk memastikan validitas dan kredibilitas data. Peneliti berperan sebagai instrumen utama dalam proses pengumpulan dan analisis data, yang didukung oleh perangkat lunak manajemen referensi untuk mengorganisasi 68 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Rizka Al-Fajr. Maulida Diana. Martunis Vol. No. : 65-74 sumber pustaka. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan teknik analisis isi, yaitu mengidentifikasi tema-tema utama, membandingkan, serta mensintesis temuan-temuan yang relevan untuk membangun argumen integratif. Validitas data dijaga melalui seleksi sumber yang bereputasi, sedangkan reliabilitas analisis dipertahankan dengan mengikuti prosedur yang terstruktur dan konsisten. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menemukan bahwa makna dalam komunikasi bahasa Arab tidak hanya bersifat referensial, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh konteks pragmatik, struktur bahasa, serta proses kognitif penutur dan pendengar. Ketiga aspek ini saling berinteraksi sehingga makna yang dipahami dalam percakapan sering kali melebihi arti literal kata-kata yang Referensi adalah hubungan antara sebuah kata atau ungkapan dalam bahasa dengan sesuatu yang nyata di dunia. Hal ini bisa berupa benda, peristiwa, atau gagasan yang dirujuk oleh kata tersebut. Dengan kata lain, referensi adalah apa yang ditunjuk atau dimaksud oleh sebuah kata. Misalnya, kata "gunung" menunjuk pada bukit besar yang kita kenal dengan ciri-ciri tertentu (J. Sutomo, 2. Makna referensial muncul ketika kata atau frasa secara langsung menunjuk pada objek atau konsep nyata di dunia. Namun dalam praktiknya, pemaknaan tersebut sering kali berubah atau berkembang sesuai dengan situasi komunikasi. Dalam komunikasi, makna sebuah kata atau frasa sering kali tidak hanya bergantung pada arti dasarnya . , tapi juga diperluas atau bahkan diubah oleh konteks pragmatik ujaran tersebut, terutama dalam tindak tutur dan implikatur. Jadi, meskipun makna referensial adalah dasar pemahaman kata-kata, makna pragmatis yang muncul melalui tindak tutur dan implikatur inilah yang sebenarnya menentukan bagaimana pesan dipahami dalam interaksi nyata. Terkadang, makna yang muncul dari hubungan antar unsur dalam bahasa . eperti kata dalam frasa atau klaus. serta melalui proses morfologis . eperti penambahan imbuha. adalah makna gramatikal atau sering disebut dengan nama lain seperti, makna fungsional, makna internal, atau makna struktural. Jadi, makna ini bukan berasal dari kata secara individu, tetapi dari cara kata-kata tersebut dirangkai atau digunakan bersama dalam struktur bahasa yang lebih besar (Nina dkk. , 2. Hal ini sangat sejalan dengan teori struktural dalam semantik, yang menekankan bahwa makna berasal dari hubungan antar elemen dalam sistem bahasa itu sendiri. Dalam konteks makna gramatikal, makna sebuah kata atau frasa dapat dipahami melalui posisi dan hubungannya dengan unsur-unsur lain dalam struktur bahasa. Dalam komunikasi, pilihan struktur gramatikal tertentu dalam sebuah kalimat . spek struktura. tidak hanya memengaruhi arti literalnya, tetapi juga dapat memberikan petunjuk penting bagi pendengar untuk membuat inferensi pragmatis atau memahami makna tersirat. Selain itu, hasil analisis memperlihatkan bahwa struktur bahasa, seperti pilihan antara kalimat aktif dan pasif, turut membentuk makna yang ingin disampaikan, 69 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Rizka Al-Fajr. Maulida Diana. Martunis Vol. No. : 65-74 terutama dalam situasi tertentu di mana penutur ingin menonjolkan atau menyamarkan Aspek kognitif merupakan salah satu aspek psikologis yang sangat perlu dipahami. Sistem kognitif itu sendiri adalah perangkat pengolah yang kompleks pada manusia yang mampu memperoleh, melestarikan, memproses dan mentransmisikan informasi (Basri. Manusia memaknai segala sesuatu yang ada di dunia ini dengan kognisinya. Kognisi tersebut berfungsi untuk memberikan konsep agar mudah dimengerti. Konsep tersebut didapatkan dari hasil pengalaman sendiri maupun dari hasil pengalaman orang lain (Haula. Karena itu, maka setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda karena dipengaruhi oleh kognitif yang berbeda pula. Proses pengolahan pikiran atau proses kognitif tersebut dapat menghasilkan sebuah metafora (Zakiyah & Nur, 2. Dalam komunikasi, konstruksi kognitif memainkan peran sentral dalam bagaimana kita memahami makna, terutama makna yang implisit dan niat komunikatif di balik ujaran. Ini merujuk pada bagaimana skema . erangka pengetahuan terorganisi. dan model mental . epresentasi situasi atau peristiwa dalam pikiran kit. memungkinkan penutur dan pendengar memproses dan menafsirkan informasi. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan adanya fenomena pragmatik yang menonjol dalam komunikasi bahasa Arab sehari-hari. Ditemukan bahwa banyak ujaran yang secara literal bermakna permintaan informasi atau pernyataan biasa, namun dalam konteks tertentu dipahami sebagai permintaan, sindiran, atau bahkan perintah tidak Misalnya, ungkapan tanya sederhana seperti "Apakah kamu punya waktu?" dalam situasi tertentu dipahami sebagai permintaan bantuan, bukan sekadar pertanyaan. Temuan lain juga memperlihatkan bahwa pemilihan kata, struktur kalimat, dan gaya bahasa penutur sangat dipengaruhi oleh muqtada al-hal . untutan situas. , sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami secara tepat oleh lawan bicara. Hal ini membuktikan bahwa aspek pragmatik sangat berperan dalam membentuk makna akhir dari sebuah ujaran, di samping makna referensial, struktural, dan kognitif. Dari hasil kajian yang telah dibahas sebelumnya, terlihat bahwa menggabungkan teori makna referensial, struktural, dan kognitif membantu kita memahami bagaimana makna terbentuk dan dipahami dalam komunikasi sehari-hari secara lebih menyeluruh. Selanjutnya, bagian ini akan membahas secara mendalam hasil kajian mengenai integrasi teori makna referensial, struktural, dan kognitif dalam kerangka pragmatik. Melalui pembahasan ini, penulis akan menyoroti bagaimana ketiga teori tersebut saling melengkapi dalam menjelaskan proses pembentukan dan pemahaman makna ujaran dalam komunikasi sehari-hari. Teori referensial menegaskan bahwa makna kata atau ungkapan sangat bergantung pada hubungan langsung antara bahasa dan referennya di dunia nyata. Namun, dalam praktik komunikasi, makna kata sering kali tidak hanya ditentukan oleh referennya, melainkan juga oleh konteks penggunaan dan tujuan komunikasi. Sebagai contoh, secara referensial, sebuah ungkapan seperti "Bolehkah saya mendapatkan garam?" . tau dalam bahasa Inggris: "Can I pass the salt?") secara harfiah 70 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Rizka Al-Fajr. Maulida Diana. Martunis Vol. No. : 65-74 mengacu pada pertanyaan tentang kemampuan atau izin seseorang untuk melakukan Jika dipahami secara literal, kalimat ini dapat diartikan sebagai "Apakah saya memiliki fisik yang mampu untuk mengambil garam itu?" atau "Apakah saya diizinkan untuk mengambilnya?" Namun, dalam konteks pragmatik sebuah percakapan, makna kalimat tersebut jauh Kita secara otomatis menginterpretasikannya sebagai sebuah permintaan atau Pendengar tidak akan berpikir si penutur benar-benar meragukan kemampuannya untuk meraih garam, melainkan memahami bahwa penutur ingin garam itu diberikan kepadanya. Implikatur dalam kalimat ini yaitu Pendengar memahami bahwa pertanyaan tentang kemampuan ini mengimplikasikan adanya permintaan. Ini adalah makna tersirat yang timbul dari cara ujaran itu disampaikan dan bagaimana ujaran itu bekerja dalam interaksi sosial. Atau dalam contoh lain pada ungkapan AA U eA( aN eE eI a aE aOCAHal Aoindaka waqtun?) berarti AuApakah kamu punya waktu?Ay Jika dipahami secara literal, pertanyaan ini hanya menanyakan apakah lawan bicara memiliki waktu luang atau tidak. Artinya, makna dasarnya hanya sebatas pada kepemilikan waktu oleh seseorang. Dalam praktik komunikasi sehari-hari, makna ungkapan ini sering kali lebih dari sekadar pertanyaan tentang waktu. Dalam konteks percakapan, penutur biasanya tidak benar-benar ingin mengetahui apakah lawan bicara memiliki waktu, tetapi ingin menyampaikan permintaan secara halus, misalnya ingin berbicara, meminta bantuan, atau mengajak melakukan sesuatu. Sebagai contoh, seorang mahasiswa datang ke dosennya dan berkata: AA U eAaN eE eI a aE OCA (Hal Aoindaka waqtun?). Secara literal, dosen bisa saja menjawab AuYa, saya punya waktuAy atau AuTidak, saya sedang sibuk. Ay Namun, dalam konteks sosial, dosen biasanya langsung memahami bahwa mahasiswa tersebut ingin meminta waktu untuk berdiskusi, konsultasi, atau menyampaikan sesuatu yang penting. Dengan demikian, makna pragmatik dari ungkapan ini adalah permintaan tersirat agar lawan bicara meluangkan waktu untuk penutur, bukan sekadar pertanyaan tentang kepemilikan waktu. Implikatur yang muncul hanya dapat dipahami jika pendengar memperhatikan situasi, hubungan antara penutur dan pendengar, serta kebiasaan dalam budaya komunikasi. Makna ujaran tidak selalu berhenti pada makna literal atau referensial, kita perlu melihat bagaimana struktur bahasa juga berperan dalam membentuk makna. Di sinilah teori struktural menjadi penting, karena makna suatu ujaran tidak hanya ditentukan oleh katakata yang digunakan, tetapi juga oleh bagaimana kata-kata tersebut diatur dan saling berhubungan dalam satuan yang lebih besar, seperti frasa atau kalimat. Melalui pendekatan struktural, kita dapat memahami bahwa hubungan antar unsur dalam bahasa turut memengaruhi makna yang dihasilkan dalam komunikasi. Teori struktural menyoroti bahwa makna terbentuk melalui hubungan antar unsur dalam sistem bahasa. Pilihan struktur gramatikal, seperti penggunaan kalimat pasif atau 71 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Rizka Al-Fajr. Maulida Diana. Martunis Vol. No. : 65-74 aktif, dapat mengubah fokus makna dan memberikan petunjuk pragmatis bagi pendengar. Makna struktural ini memperlihatkan bahwa pemaknaan tidak hanya bergantung pada satu kata, melainkan pada relasi antar kata dalam satuan yang lebih besar. Mari kita lihat contoh kalimat pasif dalam bahasa Indonesia. Secara struktural, kalimat pasif . isalnya, "Bola itu ditendang") berbeda dari kalimat aktif ("Ali menendang bola itu"). Perbedaan ini bukan hanya soal tata bahasa. ia membawa implikasi makna yang lebih dalam. Adapun contoh lain pada ungkapan A aOe U a aI aA a (Zaid memukul Uma. dan A a aI aA a a a A aA (Umar dipuku. kedua kalimat di atas menggunakan kata kerja yang sama (AumemukulA. , tetapi susunan atau struktur kalimatnya berbeda. Pada kalimat aktif (A aOe U a aI aA a ), subjek a a (Zai. jelas sebagai pelaku tindakan. Sedangkan pada kalimat pasif (A a aI aA a ), fokusnya a A aA beralih ke objek (Uma. yang menjadi korban tindakan, tanpa menyebut siapa pelakunya. Dari kedua contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa perbedaan struktur ini tidak hanya soal tata bahasa tetapi juga membawa implikasi makna yang lebih dalam. Dalam kerangka pragmatik, struktur kalimat menjadi alat untuk menyampaikan makna implisit, seperti menghindari menyalahkan seseorang secara langsung atau ingin menyembunyikan pelaku, menekankan pada korban, menghindari menyalahkan seseorang secara langsung atau menyoroti aspek tertentu dari suatu peristiwa. Dengan demikian, struktur kalimat menjadi alat penting dalam menyampaikan makna di luar arti literal kata-kata, sesuai dengan teori struktural dalam semantik. Menurut Mulyana . dalam (Suryawin dkk. , 2. , mengungkapkan bahwa implikatur adalah makna yang terkandung atau menjadi inti dari sebuah pembicaraan. Setiap topik yang dibicarakan memiliki implikatur sebagai bagian dari pragmatik, implikatur adalah makna tersembunyi di balik penggunaan bahasa yang sebenarnya dan selalu terikat pada konteks, baik situasi komunikasi . artisipan, waktu, tempat, media, tujua. maupun konteks budaya . orma sosia. Sedangkan, dari perspektif Grice dalam (Fauzi dkk. , 2. tentang implikatur percakapan, tidak semua yang kita ucapkan dalam percakapan mengandung makna tersirat. Implikatur secara sengaja digunakan oleh penutur ketika mereka memiliki tujuan spesifik Ciri utama implikatur ketidaksesuaian antara makna literal dan maksud sebenarnya, serta adanya pelanggaran terhadap prinsip-prinsip percakapan yang umum. Selanjutnya yaitu Teori kognitif yang menambahkan dimensi psikologis dalam pemahaman makna. Makna dipandang sebagai hasil konstruksi mental yang dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan, dan skema kognitif individu. Ketika seseorang mendengar ungkapan atau metafora dalam bahasa Arab. Contoh ungkapan yang menggambarkan teori kognitif pada ungkapan Aaea aIaE UaA au( !Ea eE aKamu datang lebih awal seperti biasa!A. pada situasi dimana seseorang datang ke kelas terlambat dan guru yang mengucapkan kalimat ini dengan nada tertentu sebenarnya sedang menyindir bukan memuji. Secara harfiah, ungkapan tersebut tampak seperti pujian, 72 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Rizka Al-Fajr. Maulida Diana. Martunis Vol. No. : 65-74 namun dalam konteks nyata ketika semua orang tahu bahwa siswa itu sering terlambat pendengar memahami bahwa maksud guru adalah menegur secara halus. Pemahaman makna sindiran ini tidak berasal dari arti literal kata Aulebih awalAy . atau frasa Auseperti biasaAy . al-AoAda. , melainkan dari pengetahuan bersama . kema kogniti. tentang kebiasaan siswa tersebut. Dengan mengaktifkan pengalaman, norma, dan model mental situasi sekolah, pendengar dapat menyimpulkan niat komunikatif penutur yang sebenarnya. Tanpa aktivasi skema dan model mental ini, makna sindiran atau humor dalam komunikasi bisa saja tidak tertangkap dan berpotensi disalahpahami sebagai pujian Hal ini menunjukkan betapa pentingnya konstruksi kognitif dalam menafsirkan makna implisit, menangkap maksud penutur, dan memahami konteks sosial yang lebih luas dalam sebuah interaksi. Sejalan dengan itu. Saehudin 2003 mengungkapkan, secara garis besar pragmatik memang mengkaji bagaimana bahasa digunakan dalam situasi komunikasi yang sesungguhnya, baik dalam bentuk tulisan maupun ucapan. Dengan demikian, interpretasi bahasa sangat bergantung pada pemahaman konteks secara menyeluruh, termasuk latar belakang situasi, hubungan antarpartisipan, dan tujuan komunikasi (Saehudin, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman makna dalam komunikasi sehari-hari tidak dapat dilepaskan dari integrasi teori referensial, struktural, dan kognitif dalam kerangka pragmatik. Makna kata atau ungkapan tidak hanya ditentukan oleh hubungan langsung dengan objek nyata . , tetapi juga sangat dipengaruhi oleh struktur bahasa yang digunakan serta proses kognitif penutur dan pendengar. Dalam praktik komunikasi sehari-hari, makna yang dipahami sering kali melebihi arti literal katakata karena adanya konteks, tujuan, pengalaman, dan pengetahuan bersama Temuan ini menunjukkan bahwa pemaknaan ujaran dalam interaksi nyata merupakan hasil interaksi dinamis antara makna referensial, struktural, dan kognitif yang berjalan dalam kerangka pragmatik, sehingga pemahaman makna menjadi lebih utuh dan DAFTAR RUJUKAN Ariffianti. , & Wakhida. Semantik (Makna Referensial dan Makna Nonreferensia. CV. Pilar Nusantara. Basri. Kemampuan Kognitif dalam Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Ilmu Sosial bagi Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan, 1Ae9. Fauzi. Al-Muhammady. , & Maki. Kajian Bahasa Sastra Dan Budaya Arab Fenomena Implikatur Percakapan Dalam Film Animasi Salahuddin Al Ayyubi Perspektif Grice (Kajian Pragmati. Semnasbama IV UM Jilid 1, 392Ae403. Ginting. , & Ginting. Beberapa Teori dan Pendekatan Semantik. , 71Ae78. 73 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Rizka Al-Fajr. Maulida Diana. Martunis Vol. No. : 65-74 Habsy. Seni Memehami Penelitian Kuliatatif Dalam Bimbingan Dan Konseling: Studi Literatur. Jurnal Konseling Andi Matappa, 1. , 90Ae100. Haula. Metafora Konseptual dala Judul Berita Kontan. Co. Id: Kajian Semantik Kognitif. SUAR ByOTANG, 15, 15Ai23. Sutomo. Konteks. Referensi, dan Makna: Kajian Semantik. 26Ae34. Kustiawan. Siregar. Nabila. Harahap. Aini. Pulungan. , & Faidah. Teori-Teori dalam Komunikasi Massa. Jutkel: Jurnal Telekomunikasi. Kendali dan Listrik, 3. , 41Ae45. Matsna. Moh. Kajian Semantik Arab Klasik dan Kontemporer. Prenada Media. Mivtakh. , & Hum. Sejarah Perkembangan Ilmu Dalalah dan Para TokohAiTokohnya. Tatsqifiy: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, 1. , 87Ae99. Nina. Fakhrunnisa. Akbar. , & Nurjaman4, chsan. Nilai Moral pada Lirik Lagu Runtah Karya Doel Sumbang Pendekatan Struktural Semantik. urnal Ilmiah Hospitality, 11. , 1261Ae1268. Saehudin. Pragmatik Dalam Pengajaran Bahasa Arab: Survei Terhadap Proses Belajar Mengajar Bahasa Arab Di UIN SYARIF HIDAYATULLAH. Lembaga penelitian UIN Jakarta. http://repository. id/dspace/handle/123456789/35372 Suryawin. Wijaya. , & Isnaini. Tindak Tutur (Speech Ac. dan Implikatur dalam Penggunaan Bahasa. Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan, 1. , 34Ae411. Tauhid. Dasar-Dasar Teori Pembelajaran. Jurnal PENDAS: Pendidikan Dasar, 1. , 32Ae38. Wahyuni. , & Setiyawan. Implikatur Percakapan Bahasa Arab antar Tokoh dalam Film Arab Maklum: Kajian Pragmatis. Kalamuna: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban, 4. , 221Ae233. https://doi. org/10. 52593/klm. Zakiyah. , & Nur. Ungkapan Metaforis Teks Terjemahan Al-QurAoan Bahasa Sunda Surat Al-Baqarah: Analisis Semantik Kognitif. LITERASI. Jurnal Ilmiah Pend. Bahasa. Sastra Indonesia dan Daerah, 11. , 18Ae29. Zamzamy. , & Aziz. Analisis Pragmatik Bahasa Arab: Implikasi untuk Pengajaran dan Komunikasi. JAMBURA ELEMENTARY EDUCATION JOURNAL, , 21Ae29. Zulkiflih, & Fitria. Studi Makna Teks Bahasa Arab dalam Teori Kontekstual/Study of the Meaning of Arabic Texts in Contextual Theory. Loghat Arabi: Jurnal Bahasa Arab dan Pendidikan Bahasa Arab, 4. , 111Ae124. https://doi. org/10. 36915/la. 74 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S