Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 PENDETEKSI UNSUR HARA NPK PADA PUPUK PADAT SINTETIS DAN ALAMI BERBASIS INTERNET OF THINGS (IOT) DETECTION OF NPK NUTRIENTS IN SYNTHETIC AND NATURAL SOLID FERTILIZERS BASED ON THE INTERNET OF THINGS (IOT) Angga Adriana Imansyah1. Prihatina Kurniawati2. Siti Yiyis Rahmah3. Riza Trihaditia4 1, 2, 3, 4 Universitas Suryakancana 1 anggasains@unsur. id, 2 prihatinacs@gmail. com, 3 yiyis@unsur. id, 4 rizatrihaditia@unsur. Masuk: 06 Mei 2025 Penerimaan: 24 Juni 2025 Publikasi: 27 Juni 2025 ABSTRAK Pada penelitian rancang bangun berbasis Internet of Things (IoT) ini merupakan salah satu teknologi untuk untuk mendeteksi dan menguji pupuk padat sintetis Phonska 30 gram dan 60 gram. NPK 15-10-12 30 gram dan 60 gram, pupuk padat alami kiambang 200 gram dan 300 gram, dan kontrol. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui alat pendeteksi NPK Internet of Things (IoT) dapat mendeteksi dan menguji kandungan unsur hara NPK. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2023 Ae Mei 2024 bertempat di Kp. Cisalak Kidul RT. 004 RW. 004 Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian ini dilakukan secara kualitatif deskriptif dan melakukan perancangan perangkat keras, perancangan perangkat lunak, pengujian sistem alat Internet of Things (IoT) dan analog dan pengujian delay pengiriman data. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa alat pendeteksi Internet of Things (IoT) dapat mendeteksi dan menguji perlakuan tanpa tanaman dan dengan tanaman pada pupuk padat sintetis Phonska 30 gram dan 60 gram. NPK 15-10-12 30 gram dan 60 gram, padat alami kiambang 200 gram dan 300 gram, dan kontrol terhadap kandungan unsur hara NPK. Kata Kunci: Rancang bangun. Pupuk padat sintetis. Pupuk padat alami. Internet of Things (IoT). ABSTRACT This Internet of Things (IoT)-based design research is one of the technologies used to detect and test synthetic solid fertilizers Phonska 30 grams and 60 grams. NPK 15-10-12 30 grams and 60 grams, natural solid fertilizers kiambang 200 grams and 300 grams, and controls. The objective of this study is to determine whether the IoT NPK detector can detect and test the NPK nutrient content. The study was conducted from January 2023 to May 2024 in Kp. Cisalak Kidul RT. 004 RW. Cibeber District. Cianjur Regency. West Java Province. The research method used was qualitative descriptive, involving hardware design, software design, testing of the IoT device system and analog system, and testing of data transmission delay. The research findings indicate that the IoT detection device can detect and test treatments with and without plants using synthetic solid fertilizer Phonska at 30 grams and 60 grams. NPK 15-10-12 at 30 grams and 60 grams, natural solid fertilizer kiambang at 200 grams and 300 grams, and control treatments for NPK nutrient content. Keywords: Design. Synthetic solid fertilizer. Natural solid fertilizer. Internet of Things (IoT). Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 PENDAHULUAN Dalam era pertanian modern yang semakin berkembang, ketersediaan dan kualitas tanaman tidak hanya ditentukan oleh faktor alamiah, tetapi pemahaman mendalam mengenai unsur hara makro sebagai proses pembentukan klorofil yang sangat dibutuhkan untuk diserap dalam jumlah Unsur hara makro adalah unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar yaitu 0,1% - 5% (Munawar, 2. Unsur hara makro tersebut, diantaranya Nitrogen (N). Fosfor (P). Kalium (K). Magnesium (M. Kalsium (C. dan Belerang (S) (Aidah, 2. Dalam pupuk alami padat terdapat tiga unsur hara makro yang memiliki fungsi yaitu N berfungsi sebagai bahan sintesis, perangsangan pertumbuhan tunas, batang dan proses pembentukan zat hijau daun untuk proses fotosintesis, unsur hara K berfungsi sebagai pertumbuhan benih, akar, meningkatkannya kekebalan tanaman terhadap hama dan penyakit dan daun, bunga serta buah pada tanaman agar kuat sehingga tidak mudah gugur dan unsur hara F berfungsi sebagai penyusun banyaknya protein, koenzim, fosfolipida dan substrat (Nisa, 2. Seiring dengan kebutuhan unsur hara untuk kesuburan tanah dan menghasilkan tanaman optimal maka dibutuhkan pemupukan yang secara efisien, teratur dan tepat yaitu menggunakan pupuk sintetis tanpa terus menerus dan berlebihan. Selain daripada itu, menggunakan pupuk alami padat yang berfungsi untuk meningkatkan ketersedian unsur hara, meningkatkan kesuburan tanah baik secara biologi, kimia, fisika serta memperbaiki struktur tanah (Syahputra, 2. Pupuk majemuk memiliki kandungan unsur hara makro yang seimbang yaitu NPK Phonska terdiri dari 15% Nitrogen (N), 15% P2O5 (P) dan 15% K2O (K), sedangkan NPK 15-10-12 terdiri dari 15% Nitrogen (N), 10% P2O5 (P) dan 12% K2O (K). Dalam pupuk alami padat kiambang kering memiliki kandungan unsur hara sebesar 3-15% Nitrogen (N), 05-09% Fospat (P) dan 24,5% Kalium (K) (Sinaga, 2. Unsur hara NPK sangat diperlukan oleh tanaman sehingga kadar NPK yang terkandung dalam pupuk atau tanah harus diketahui dengan cara menganalisis di Namun, analisis laboratorium sangat membutuhkan biaya yang relatif mahal, waktu relatif lama dan akses petani pun yang sulit pada laboratorium (Amri dan Sumiharto, 2. Dengan adanya kemajuan teknologi dibidang pertanian tersebut, salah satunya sistem pertanian berbasis Internet of Things (IoT) yang menjadi solusi untuk mempermudah mengakses kadar unsur hara secara cepat. Internet of Things (IoT) adalah suatu konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet dengan tersambung secara terus menerus. Konsep Internet of Things (IoT) memiliki tiga elemen dengan cara kerja yang cukup sederhana yaitu barang fisik yang dilengkapi oleh modul Internet of Things (IoT), perangkat koneksi ke internet seperti modem dan Router Wireless Speedy dan Cloud Data Center tempat untuk menyimpan aplikasi beserta data base (Efendi, 2. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Ada pun penelitian yang mengembangkan alat pendeteksi kadar NPK pada pupuk kompos menggunakan Arduino Mega 2560 dan sensor NPK JXCT, yang mampu menampilkan data secara langsung melalui layar Liquid Crystal Display (LCD) TFT untuk memudahkan analisis (Rustan et al. Selain daripada itu. Aplikasi Internet of Things (IoT) menggunakan Arduino Mega dan ESP8266 untuk monitoring kondisi tanah dengan sensor NPK, suhu dan kelembaban. Sistem ini mengirimkan notifikasi langsung kepada pengguna melalui platform Blynk jika terdeteksi kondisi tanah yang kering atau ketidaksesuaian kadar pupuk (Rahman et al. , 2. Berdasarkan pemaparan di atas maka, penulis melakukan perlu adanya penelitian dengan rancang alat pendeteksi kadar unsur hara NPK pada pupuk padat sintetis dan alami menggunakan sensor NPK digital berbasis Internet of Things (IoT). Sensor NPK digunakan untuk pembacaan unsur hara NPK dan data yang ditampilkan akan menjadi kumpulan data. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Waktu penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2023 Ae Mei 2024. Sedangkan tempat penelitian tersebut dilaksanakan di Kp. Cisalak Kidul RT. 004 RR. 004 Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Perangkat Keras : Sensor NPK JXCT. WEMOS D1 R2. Liquid Crystal Display (LCD). Jumper Wire dan Powerbank. Perangkat Lunak : Arduino IDE dan Blynk. Pembuatan pupuk padat sintetis dan alami : Ember, golok, talenan, ayakan, timbangan, toples 1 liter 2 liter dan 1 liter, botol bekas, selang, lakban, gunting, label, alat tulis dan kamera. Bahan yang digunakan untuk penelitian ini diantaranya kiambang 1 kg. Trichoderma sp, 5 gram, air aquades 100 ml, gula merah 50 gram, dedak 100 gram dan tanah 700 gram/media . ,9 kg tanah untuk 7 perlakua. (Damanik, 2. Bahan pupuk padat sintetis yaitu NPK Phonska dan NPK 15-10-12. Pengujian Sistem Dalam uji kinerja alat pendeteksi unsur hara NPK pupuk padat sintetis Phonska dan NPK 1510-12 30 gram/700 gram tanah dan 60 gram/700 gram tanah (Rahman et al. , 2. dan pupuk padat Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 organik kiambang 200/700 gram tanah dan 300 gram/700 gram tanah yang dibandingkan berbasis Internet of Things (IoT) dengan sistem analog adalah sebagai berikut : Tabel 1. Sistem Berbasis Internet of Things (IoT). Level Low Medium High Sumber : Madhumathi et al. , 2020. 0 - 155. 5 ppm 155 - 250 ppm > 250 ppm Range 0 - 6. 1 ppm 2 ppm > 12. 2 ppm 0 - 65. 5 ppm 5 - 155. 5 ppm > 155. 5 ppm 50 ppm 50 - 200 ppm 200 ppm Range 4 ppm 4 - 14 ppm 14 ppm 50 ppm 50 - 200 ppm 200 ppm Tabel 2. Sistem Berbasis Alat analog. Level Too Little Ideal Too Much Sumber : Asri, 2021. Pengujian Delay Pengiriman Data Pengujian delay pada aplikasi Blynk akan dilakukan untuk mengetahui delay data dalam waktu 8 jam/1 hari yang terkirim dari mikrokontroler ESP8266 ke Blynk cloud pada aplikasi. Rancangan Sistem Gambaran Umum Sistem Gambaran umum digunakan untuk memperlihatkan gambaran secara umum dari sistem yang dibuat dan disajikan pada gambar adalah sebagai berikut : Gambar 1. Alir Gambaran Umum Sistem. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Gambaran umum sistem dari penelitian yang dilakukan yaitu pengguna dapat menggunakan alat pendeteksi kadar unsur hara NPK untuk mengetahui tingkat NPK pada pupuk padat sintetis NPK Phonska. NPK 15-10-12, pupuk padat alami kiambang dan tanah steril . anpa pupuk padat sintetis dan alam. Perancangan Perangkat Keras (Hardwar. Gambar 2. Perancangan Perangkat Keras (Hardwar. Pada rangkaian ini input sensor NPK terhubung ke WEMOS D1 R2, yaitu sebagai data untuk membaca sensor yang masuk ke mikrokontroler akan diproses. Sensor NPK bekerja dengan cara mendeteksi konsentrasi NPK dalam tanah. Perancangan Perangkat Lunak (Softwar. Pada proses perancangan perangkat lunak . menggunakan sebuah perangkat lunak Arduino IDE untuk membaca dan mengendalikan komponen terhubung kepada mikrokontroler untuk membaca sensor NPK. Proses sistem kerja perangkat lunak yang dirancang untuk menjalankan perangkat ini adalah sebagai berikut : Gambar 3. Perancangan Perangkat Lunak (Softwar. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Delay Pengiriman Data Pengujian delay pada aplikasi Blynk yang telah dilakukan selama 36 hari dengan terdapat 12 data yaitu tanpa tanaman 6 data dan menggunakan tanaman 6 data. Pengujian tersebut dilakukan 3 hari setelah pupuk dimasukkan ke dalam wadah dengan rentang waktu untuk mengetahui waktu delay data yang terkirim dari mikrokontroler ESP8266 ke Blynk cloud pada aplikasi yaitu waktu 8 jam/1 hari yang dimulai setiap pagi pukul 08. 00 WIB. Berdasarkan data hasil pengujian waktu delay pada aplikasi Blynk adalah sebagai berikut : Tabel 3. Pengujian Waktu Delay. Phonska 30 gram 8,57 Hari ke18 Pengujian ke2 Tanpa Tanaman (Deti. Dengan Tanaman (Deti. 5,96 9,48 8,84 8,13 7,74 8,82 8,02 11,8 11,4 16,8 Phonska 60 gram 8,07 9,17 8,35 8,58 8,91 9,07 NPK 30 gram NPK 60 gram Kiambang 200 gram Kiambang 300 gram Kontrol 7,86 8,57 8,11 8,83 7,48 8,43 9,96 8,58 9,94 9,46 9,02 8,44 7,49 8,99 9,95 7,47 7,03 7,08 Perlakuan Pada hasil penelitian waktu delay yang telah dilakukan dari hari ke-3 sampai ke-36 berdasarkan tabel di atas pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 dan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terhadap pupuk padat sintetis Phonska 30 gram dan 60 gr. NPK 15-10-12 30 gram dan 60 gram, padat alami kiambang 200 gram dan 300 gram, dan kontrol memiliki hasil waktu delay yang berbeda yaitu naik turun atau tidak konsisten karena terjadinya ketidakstabilan kecepatan jaringan WiFi yang disediakan oleh Provider. Oleh karena itu, kualitas jaringan pada smartphone sangat berpengaruh terhadap kecepatan pengujian delay terkecil dan terbesar agar alat tersebut dapat melakukan pengujian dengan baik (Asri, 2. Waktu delay pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap pupuk padat sintetis Phonska 30 gram hasil waktu delay terkecil 05,96 detik dan terbesar 09,48 detik, sedangkan pada perlakuan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terhadap Phonska 30 gram hasil waktu delay terkecil 08,02 detik dan terbesar 22,81 detik. Pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap pupuk padat sintetis Phonska 60 gram hasil waktu delay terkecil 08,07 detik dan terbesar 10,35 detik, sedangkan pada perlakuan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terhadap Phonska 60 gram hasil waktu delay terkecil 09,07 detik dan terbesar 19,01 detik. Waktu delay pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap pupuk padat sintetis sintetis NPK 15-10-12 30 gram hasil waktu delay terkecil 07,48 detik dan terbesar 09,60 Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 detik, sedangkan pada perlakuan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terhadap NPK 1510-12 30 gram hasil waktu delay terkecil 07,03 detik dan terbesar 22,90 detik. Pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap pupuk padat sintetis NPK 15-10-12 60 gram hasil waktu delay terkecil 07,30 detik dan terbesar 10,04 detik, sedangkan pada perlakuan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terhadap NPK 15-10-12 60 gram hasil waktu delay terkecil 07,08 detik dan terbesar 15,43 detik. Berdasarkan pengujian waktu delay yang telah dilakukan berdasarkan tabel di atas pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 dan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terhadap pupuk padat sintetis Phonska 30 gram dan 60 gram, dan NPK 15-10-12 30 gram dan 60 gram, pada saat alat sensor NPK berbasis Internet of Things (IoT) ditancapkan ke dalam tanah sangat mudah mendeteksi sehingga respon waktu delay tersebut sangat cepat. Hal ini karena, pupuk padat sintetis yang digunakan adalah pupuk makro majemuk yang memiliki kandungan unsur hara lebih dari satu yaitu NPK yang sudah seimbang berdasarkan peraturan pemerintah tanpa adanya unsur hara lain (Aliyah et al. , 2022. Purba et al. , 2. Waktu delay pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap pupuk padat alami kiambang 200 gram hasil waktu delay terkecil 09,96 detik dan terbesar 17,48 detik, sedangkan pada perlakuan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terhadap kiambang 200 gram hasil waktu delay terkecil 12,92 detik dan terbesar 24,40 detik. Pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap pupuk padat alami kiambang 300 gram hasil waktu delay terkecil 08,11 detik dan terbesar 17,51 detik, pada perlakuan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terhadap kiambang 300 gr hasil waktu delay terkecil 09,95 detik dan terbesar 26,65 detik. Berdasarkan pengujian waktu delay yang telah dilakukan berdasarkan tabel di atas pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 dan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terhadap pupuk padat alami kiambang 200 gram dan 300 gram, pada saat alat sensor NPK berbasis Internet of Things (IoT) ditancapkan ke dalam tanah sangat sulit untuk mendeteksi sehingga respon waktu delay tersebut sangat lama. Hal ini dikarena, pupuk padat organik kiambang adalah pupuk hayati yang distarter oleh cendawan Trichoderma sp. sehingga di dalam tanah terdapat mikoorganisme yang dapat menyuburkan tanah dan terdapat hormon (Kumar et al. , 2. Bahan organik yang telah diuraikan oleh cendawan Trichoderma sp. pada senyawa kompleks maka dapat melepaskan unsur hara yang terikat menjadi unsur hara yang tersedia terutama NPK (Intifadha et al. , 2. Selain daripada itu, diduga bahwa pada Pack Internet or Inter-Network Gropher (PING) test pada jaringan berubah karena Protokol PING standarnya Internet Control Message Protocol (ICMP) namun berubah menjadi Encapsulating Security Payload (ESP) sehingga data di dalamnya tersembunyikan walaupun IP tersebut ada yang masih sama (Alviendra et al. , 2. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Waktu delay pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap kontrol hasil waktu delay terkecil 07,49 detik dan terbesar 12,70 detik, sedangkan pada perlakuan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terhadap kontrol hasil waktu delay terkecil 07,47 detik dan terbesar 22,01 detik. Berdasarkan pengujian waktu delay yang telah dilakukan berdasarkan tabel di atas pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 dan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terhadap kontrol, pada saat alat sensor NPK berbasis Internet of Things (IoT) ditancapkan ke dalam tanah sangat mudah untuk mendeteksi sehingga respon waktu delay tersebut sangat cepat. Hal ini dikarenakan, perlakuan kontrol tidak adanya pemberian pupuk padat sintetis dan alami terutama pada pengujian yang ke-12 dengan tanaman karena unsur hara sudah diserap oleh tanaman tersebut. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Pengujian Alat Tabel 4. Pengujian Alat (Perlakuan Media Tana. Pengujian Ke1 Hari Ke- Berbasis IoT Berbasis Alat Berbasis IoT Berbasis Alat Tanpa Tanaman . Status Medium Medium Medium Medium Medium Medium Status Too Little Too Little Too Little Ideal Ideal Ideal NPK Phonska 30 gram Dengan Tanaman . Medium Medium Medium Medium Medium Medium Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Too Little NPK Phonska 60 gram Status Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Status Too Little Too Little Too Little Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Too Little NPK 15-10-12 30 gram Berbasis IoT Status Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Berbasis Alat Status Too Little Too Little Too Little Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Too Little NPK 15-10-12 60 gram Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 Berbasis IoT Berbasis Alat ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Status Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Status Too Little Too Little Too Little Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Too Little Too Little Kiambang 200 gram Berbasis IoT Berbasis Alat Status Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Status Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Too Little Kiambang 300 gram Berbasis IoT Berbasis Alat Status Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Status Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Tanah Kontrol (Tanpa Pupuk Padat sintetis dan alam. Berbasis IoT Status Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Medium Berbasis Alat Status Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Ideal Too Little Too Little Too Little Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Pengujian perlakuan terhadap pupuk padat sintetis NPK Phonska 30 gram pada aplikasi Blynk yang telah dilakukan dengan menggunakan alat sensor NPK berbasis Internet of Things (IoT) dan alat analog selama 36 hari dengan terdapat 12 data yaitu tanpa tanaman 6 data dan menggunakan tanaman 6 data. Pada hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan tabel di atas pengujian berbasis Internet of Things (IoT), bahwa pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 memiliki nilai unsur hara NPK yang sama yaitu 207 ppm dengan status medium. Namun pada hasil tersebut, bahwa tanpa tanaman tidak adanya proses penyerapan unsur hara NPK melalui akar yang melibatkan beberapa mekanisme perpindahan unsur hara NPK dari dalam tanah ke permukaan akar yang diserap ke dalam akar (Purba, 2. Selain daripada itu, diduga bahwa mikroorgansmie di dalam media tanah mati karena terjadinya plasmolisis sehingga dapat meningkatkan kadar garam pada larutan media tanah tersebut (Karolinoerita dan Annisa, 2. Pada perlakuan tanpa tanaman berbasis alat alat analog pengujian ke-1 sampai ke-3 berstatus Too Little, diduga bahwa pupuk sintetis Phonska 30 gram unsur hara tersebut belum terbentuk menjadi ion yang terlarut dalam tanah dengan baik sehingga masih berstatus Too Little (Mursyid et al. , 2. Sedangkan pengujian ke-4 sampai ke-6 berstatus ideal. Hal ini karena, diduga bahwa pupuk sintetis Phonska 30 gram tanah sudah terlarut dengan baik karena larutan molekul yang encer terlarut menjadi pekat sehingga dapat mencapai status ideal (Purba et al. Pengujian berbasis Internet of Things (IoT), bahwa pada perlakuan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-8 memiliki nilai unsur hara NPK yang sama yaitu 207 ppm dengan status medium. Namun pada hasil tersebut, bahwa tanah yang sudah larut namun tanaman padi belum menyerap unsur harcha NPK karena kondisi tanaman padi masih penyesuaian terhadap struktur tanah dan pH tanah yang terjadi baik secara sifat fisik tanah ataupun kimia tanah yang diserap oleh akar (Mursyid et al. , 2. Perlakuan dengan tanaman pada pengujian ke-9 sampai ke-12 unsur hara NPK pada pupuk padat sintetis mengalami penurunan yaitu pengujian ke-9 N 198 ppm. P 106 ppm dan K 197 ppm dengan status medium, pengujian ke-10 N 172 ppm. P 94 ppm dan K 167 ppm dengan status medium, pengujian ke-11 N 159 ppm. P 54 dan K 156 ppm dengan status medium dan pengujian ke-12 N 134 ppm. P 42 ppm dan 145 ppm dengan status medium. Hal ini karena, diduga bahwa tanaman padi telah beradaptasi dan unsur hara NPK bersifat higroskopis atau mudah larut sehingga akar tanaman padi langsung menyerap dengan cepat dan meningkatkan pertumbuhan tanaman (Effendi, 2. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Proses penyerapan unsur hara NPK tersebut ditranslokasikan ke dalam jaringan tanaman dengan terjadinya perpindahan unsur hara NPK dari dalam tanah dan tanah yang terlarut menuju ke permukaan akar melalui mekanisme intersepsi akar yang disebabkan terjadinya pertumbuhan akar tanaman dan terbentuknya bulu akar serta proses aliran massa pada unsur hara NPK di dalam media tanah yang menuju ke permukaan akar tersebut bersama dengan massa air dan terjadi difusi karena konsentrasi unsur hara NPK pada permukaan akar tanaman lebih rendah daripada konsentrasi unsurhara NPK pada larutan tanah (Purba et al. , 2. Pada perlakuan dengan tanaman berbasis alat analog pengujian ke-7 sampai ke-11 berstatus ideal. Sedangkan pengujian ke-12 berstatus Too Little diduga pupuk sintetis Phonska 30 gram dari ideal ke Too Little karena unsur hara sintetis mudah terurai dalam tanah sehingga sangat diserap oleh tanaman (Sari et al. , 2. Pengujian perlakuan terhadap pupuk padat sintetis NPK Phonska 60 gram pada aplikasi Blynk yang telah dilakukan dengan menggunakan alat sensor NPK berbasis Internet of Things (IoT) dan alat analog selama 36 hari dengan terdapat 12 data yaitu tanpa tanaman 6 data dan menggunakan tanaman 6 data. Pada hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan tabel di atas pengujian berbasis Internet of Things (IoT), bahwa pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 memiliki nilai unsur hara NPK yang sama yaitu 207 ppm dengan status medium. Namun pada hasil tersebut, bahwa tanpa tanaman tidak adanya penyerapan unsur hara karena akar tanaman yang diserap memiliki dua cara yaitu melalui proses aktif dengan melakukan penyerapan unsur hara secara energi aktif dan proses selektif yang dilakukan secara selektif dengan ditentukan oleh membran sel (Purba et al. , 2. Pada perlakuan tanpa tanaman berbasis alat analog pengujian ke-1 sampai ke-3 berstatus Too Little, diduga bahwa tanah dengan pupuk sintetis Phonska 60 gram belum terlarut dengan baik sehingga unsur hara tersebut belum terbentuk menjadi kation dan anion dari larutan tanah sehingga menghasilkan status Too Little (Roni, 2. Sedangkan pengujian ke-4 sampai ke-6 berstatus ideal. Hal ini karena, diduga bahwa pupuk sintetis Phonska 60 gram tanah sudah terlarut dengan baik karena larutan molekul yang encer terlarut menjadi pekat sehingga dapat mencapai status ideal, (Purba et al. , 2. Selain daripada itu, pupuk Phonska yang bersifat higroskopis atau mudah larut memiliki volatilitas tinggi sehingga dapat mengalami penguapan unsur hara, terutama tanaman yang menyerap N dari Phonska dapat mengkonversi ammonium menjadi amonia atas terjadinya proses hidrolisis (Azmi, 2. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Pada perlakuan dengan tanaman berbasis alat analog pengujian ke-7 sampai ke-11 berstatus ideal. Sedangkan pengujian ke-12 berstatus Too Little diduga pupuk sintetis Phonska 60 gram dari ideal ke Too Little karena unsur hara sintetis lebih diserap oleh akar tanaman. Pengujian ke-9 sampai ke-12 unsur hara NPK mengalami penurunan yaitu pengujian ke-9 N 171 ppm. P 205 ppm dan K 167 ppm dengan status medium, pengujian ke-10 N 168 ppm. P 94 ppm dan K 162 ppm dengan status medium, pengujian ke-11 N 139 ppm. P 49 dan K 146 ppm dengan status medium dan pengujian ke-12 N 122 ppm. P 41 ppm dan 123 ppm dengan status Too Little. Hal ini karena, diduga bahwa tanaman padi sudah beradaptasi dan akar melakukan penyerapan unsur hara karena konsentrasi hara lebih rendah sehingga dapat memicu pergerakan hara menuju akar, yang sebelumnya tidak bersinggungan dengan akar. Kemudian akar dapat menyerap hara tersebut (Wiraatmaja, 2. Pengujian perlakuan terhadap pupuk padat sintetis NPK 15-10-13 30 gram pada aplikasi Blynk yang telah dilakukan dengan menggunakan alat sensor NPK berbasis Internet of Things (IoT) dan alat analog selama 36 hari dengan terdapat 12 data yaitu tanpa tanaman 6 data dan menggunakan tanaman 6 data. Pada hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan tabel di atas pengujian berbasis Internet of Things (IoT), bahwa pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 memiliki nilai unsur hara NPK yang sama yaitu 207 ppm dengan status medium. Namun pada hasil tersebut, bahwa pupuk pupuk padat sintetis NPK 15-10-12 tidak memiliki karakteristik seperti pupuk alami yang dapat memperbaiki sifat biologi, kimia dan fisika tanah sehingga nilai kadar unsur hara pada pupuk sintetis tidak adanya penambahan. Pada perlakuan tanpa tanaman berbasis alat analog pengujian ke-1 sampai ke-3 berstatus Too Little, diduga bahwa tanah dengan pupuk sintetis NPK 15-10-12 30gr belum terlarut dengan baik sehingga belum berubah menjadi ion yang terlarut di dalam tanah sehingga memiliki nilai Too Little (Roni, 2. dan pengujian ke-4 sampai ke-6 berstatus ideal. Hal ini dikarenakan, diduga bahwa tanah dengan pupuk sintetis Phonska 60 gram sudah terlarut dengan baik karena larutan molekul sudah terlarut menjadi pekat sehingga dapat mencapai status ideal (Roni, 2. Pengujian berbasis Internet of Things (IoT), bahwa pada perlakuan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-8 memiliki nilai unsur hara NPK yang sama yaitu 207 ppm dengan status medium. Namun pada hasil tersebut, bahwa tanah yang sudah larut namun tanaman padi belum menyerap unsur hara NPK. Hal ini karena, diduga bahwa kondisi tanaman padi masih penyesuain terhadap tanah, sehingga berdasarkan selisih hara yang datang ke permukaan akar . dengan banyaknya hara kemudian masuk ke akar. selain daripada itu, dapat terjadinya Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 zone penimbunan atau accumulation zone atau tertimbunnya hara di permukaan akar tersebut sehingga belum terjadi penyerapan unsur hara (Wiraatmaja, 2. Pengujian ke-9 sampai ke-12 unsur hara NPK mengalami penurunan yaitu pengujian ke9 N 198 ppm. P 106 ppm dan K 196 ppm dengan status medium, pengujian ke-10 N 176 ppm. P 94 ppm dan K 162 ppm dengan status medium, pengujian ke-11 N 159 ppm. P 52 dan K 167 ppm dengan status medium dan pengujian ke-12 N 108 ppm. P 30 ppm dan 155 ppm dengan status Too Little. Hal ini diduga bahwa sensor NPK sudah menggunakan prinsipnya yaitu membaca membran elektrolit yang sensitif terhadap ion nitrogen, fosfor dan kalium. Pada saat larutan melewati membran, ion-ion spesifik akan bereaksi dengan membran ini. Penurunan membran akibat penyerapan unsur hara terbaca oleh sensor NPK sehingga nilai data semakin kecil (Widiasmadi, 2. Pengujian perlakuan terhadap pupuk padat sintetis NPK 15-10-13 60 gram pada aplikasi Blynk yang telah dilakukan dengan menggunakan alat sensor NPK berbasis Internet of Things (IoT) dan alat analog selama 36 hari dengan terdapat 12 data yaitu tanpa tanaman 6 data dan menggunakan tanaman 6 data. Pada hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan tabel di atas pengujian berbasis Internet of Things (IoT), bahwa pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 memiliki nilai unsur hara NPK yang sama yaitu 207 ppm dengan status medium. Namun pada hasil tersebut, bahwa sensor NPK dapat mendeteksi kandungan unsur hara menggunakan prinsip elektrokonduktivitas terhadap pupuk padat sintetis NPK 15-10-13 60 gram (Widiasmadi, 2. Pada perlakuan tanpa tanaman berbasis alat analog pengujian ke-1 sampai ke-3 berstatus Too Little, diduga bahwa tanah dengan pupuk sintetis NPK 15-10-12 60 gram belum terlarut dengan baik sehingga belum berubah menjadi ion yang terlarut di dalam tanah sehingga memiliki nilai Too Little (Roni, 2. dan pengujian ke-4 sampai ke-6 berstatus ideal. Hal ini dikarenakan, diduga bahwa tanah dengan pupuk sintetis Phonska 60 gram sudah terlarut dengan baik karena larutan molekul sudah terlarut menjadi pekat sehingga dapat mencapai status ideal (Roni, 2. Pengujian berbasis Internet of Things (IoT), bahwa pada perlakuan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-8 memiliki nilai unsur hara NPK yang sama yaitu 207 ppm dengan status medium. Namun pada hasil tersebut, bahwa tanah yang sudah larut namun tanaman padi belum menyerap unsur hara NPK karena kondisi tanaman padi masih penyesuain terhadap tanah sehingga berdasarkan selisih hara yang datang ke permukaan akar . dengan banyaknya hara yang masuk ke akar, dapat terjadi zone penimbunan atau accumulation zone Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 . ertimbunnya hara di permukaan aka. sehingga belum terjadi penyerapan unsur hara (Wiraatmaja, 2. Pengujian ke-9 sampai ke-12 unsur hara NPK mengalami penurunan yaitu pengujian ke9 N 198 ppm. P 106 ppm dan K 196 ppm dengan status medium, pengujian ke-10 N 176 ppm. P 94 ppm dan K 162 ppm dengan status medium, pengujian ke-11 N 159 ppm. P 52 dan K 167 ppm dengan status medium dan pengujian ke-12 N 108 ppm. P 30 ppm dan 155 ppm dengan status Too Little. Hal ini karena, diduga bahwa tanaman padi sudah beradaptasi dan akar melakukan penyerapan unsur hara karena adanya proses serapan hara melalui akar, pergerakan hara dari dalam tanah diawali dengan ketersediaan hara dalam bentuk ion yang terlarut dalam air tanah dan tersedia bagi tanaman (Widiasmadi, 2. Pada hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan tabel di atas pengujian berbasis Internet of Things (IoT), pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-2 terhadap pupuk padat alami kiambang 200 gram bahwa nilai unsur hara NPK mengalami kenaikan yaitu nilai pengujian ke-1 N 159 ppm. P 162 ppm dan K 165 ppm dengan status medium. Ke-2 N 226 ppm. P 190 ppm dan K 231 ppm dengan status medium, pada pengujian ke-3 mengalami penurunan yaitu ke-3 N 209 ppm. P 182 ppm dan K 212 ppm dengan status medium. Hal ini diduga karena. Trichoderma sp. masih berada pada fase lag (Lag phas. yang pertumbuhanya masih lambat dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan atau tanah tersebut (AAoyun, 2. Perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-4 sampai ke-6 merupakan fase mengalami kenaikan yaitu nilai unsur hara NPK pengujian ke-4 N 250 ppm. P 164 ppm dan K 250 ppm dengan status medium, pengujian ke-5 N 250 ppm. K 165 ppm dan P 252 ppm dengan status medium dan pengujian ke-6 N 247 ppm. P 164 ppm dan K 247 ppm dengan status medium. Hasil pengujian pada unsur hara N mengalami naik, stabil dan turun, sedangkan unsur hara K mengalami naik dan turun serta unsur hara P di pengujian ke-4 masih mengalami penurunan dan pengujian ke-5 mengalami kenaikan dan turun kembali. Hal ini karena, diduga Trichoderma sudah berada di fase eksponensial (Exponential phas. yang telah berkembang konstan atau mendapatkan nutrisi yang cukup dengan lingkungannya (AAoyun, 2. Pada perlakuan tanpa tanaman berbasis alat analog terhadap pupuk padat alami pengujian ke-1 sampai ke-6 berstatus ideal, diduga bahwa di dalam pupuk padat alami kiambang terdapat Trichoderma sp. sebagai starter atau pengurai bahan alami kiambang agar dapat terdekomposisi dengan cepat dan berperan penting dalam kesuburan tanah untuk mengatur Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 daur hara agar membantu proses penyerapan air dan unsur hara yang akan diproses metabolisme pada tubuh tanaman (Charisma, et al. , 2. Pengujian berbasis Internet of Things (IoT), bahwa pada perlakuan dengan tanaman terhadap pupuk padat alami pada pengujian ke-7 sampai ke-12 nilai unsur hara NPK yaitu pengujian ke-7 N 218 ppm. P 151 ppm dan K 216 ppm dengan status medium, pengujian ke-8 N 199 ppm. P 179 ppm. K 203 ppm dengan status medium, pengujian ke-9 N 174 ppm. P 58 ppm dan K 181 ppm dengan status medium, pengujian ke-10 N 163 ppm. P 53 ppm dan K 169 ppm dengan status medium, pengujian ke-11 N 133 ppm. P 40 ppm dan K 140 ppm dengan status medium, dan pengujian ke-12 N 132 ppm. P 40 ppm dan K 139 ppm dengan status medium. Hasil pengujian pada unsur hara P pada pengujian ke-7 sampai ke-8 mengalami kenaikan sedangkan pengujian ke-9 sampai 12 mengalami penurunan. Hal ini karena, diduga bahwa Trichoderma sp. yang telah tumbuh dengan maksimal mengalami fase stasioner (Stationary phas. dengan laju pertumbuhan nol atau tidak adanya peningkatan jumlah sel dan tetap masih aktif dalam melakukan metabolisme serta proses biosintesis di dalam sel tersebut (AAoyun, 2. Selain daripada itu. Trichoderma sp. sebagai starter bahan organik sehingga kandungan unsur hara NPK menjadi lebih baik dan meningkatkan kesuburan tanah baik secara biologi, kimia dan fisika (Atman, 2. Pada perlakuan tanpa tanaman berbasis alat analog terhadap pupuk padat alami pengujian ke-7 sampai ke-11 berstatus ideal, sedangkan pengujian ke-12 berstatus Too Little mengalami penurunan unsur hara diduga bahwa unsur hara NPK tersebut sudah diserap oleh akar tanaman padiyang tumbuh dengan baik telah mengalami penurunan laju pertumbuhan sehingga dari berstatus ideal menjadi Too Little (AAoyun, 2. Pada hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan tabel di atas pengujian berbasis Internet of Things (IoT), pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-3 terhadap pupuk padat alami kiambang 300 gram bahwa nilai unsur hara NPK mengalami kenaikan yaitu pengujian ke-1 N 203 ppm. P 181 dan K 209 dengan status medium, pengujian ke-2 N 224 ppm. P 152 ppm dan K 226 ppm dengan status medium, dan pengujian ke-3 N 224 ppm. P 153 ppm dan K 226 ppm dengan status medium. Pada pengujian ke-4 sampai 5 mengalami penurunan yaitu pengujian ke-4 N 229 ppm. P 157 ppm dan K 233 ppm dengan status medium, pengujian ke-5 N 220 ppm. P 153 ppm dan K 223 ppm dengan status medium. Sedangkan pengujian ke6 mengalami kenaikan yaitu N 227 ppm. P 154 ppm dan K 227 ppm dengan status medium. Hal ini diduga Hal ini diduga karena Trichoderma sp. masih berada pada fase lag, di mana Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 pertumbuhannya masih lambat dan memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan atau tanah tersebut (AAoyun, 2. Pada perlakuan tanpa tanaman berbasis alat analog terhadap pupuk padat alami kiambang 300 gr pengujian ke-1 sampai ke-6 berstatus ideal, diduga bahwa pupuk padat alami kiambang Trichoderma sp. memiliki enzim selulase dan xilem sehingga bahan alami dapat terdekomposer dengan baik. Oleh karena itu, bahan alami akan menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman padi (Suharti et al. , 2. Pengujian berbasis Internet of Things (IoT), bahwa pada perlakuan dengan tanaman terhadap pupuk padat alami kiambang 300 gram pada pengujian ke-7 sampai ke-12 mengalami penurunan yaitu pengujian ke-7 N 217 ppm. P 151 ppm dan K 220 ppm dengan status medium dan pengujian ke-8 N 198 ppm. P 178 ppm dan K 203 ppm dengan status medium, pengujian ke-9 N 183 ppm . P 62 ppm dengan status medium dan K 190 ppm dengan status medium, pengujian ke-10 N 170 ppm. P 56 ppm dan K 177 ppm dengan status medium, pengujian ke11 N 147 ppm. P 46 ppm dan K 154 ppm dengan status medium, dan pengujian ke-12 N 126 ppm. P 44 ppm dan K 149 ppm dengan status medium hal ini diduga bahwa unsur hara NPK diserap oleh akar tanaman karena pupuk padat alami kiambang dapat meningkatkan kandungan unsur hara NPK yang distarter oleh Trichoderma sp. terjadi laju pertumbuhan dengan adanya peningkatan jumlah sel dan tetap aktif melakukan metabolisme dan biosintesis di dalam sel tersebut sehingga proses fermentasi bahan organik semakin cepat serta meningkatkan kesuburan tanah (AAoyun, 2022. Aliyah et al. , 2. Hasil pengujian pada unsur hara P pada pengujian ke-7 sampai ke-8 mengalami kenaikan karena diduga bahwa adanya aktivitas tinggi terhadap Trichoderma sp. sehingga unsur hara ikut tinggi (AAoyun, 2. Pada perlakuan dengan tanaman berbasis alat analog terhadap pupuk padat alami pengujian ke-7 sampai ke-12 berstatus ideal, hal ini diduga bahwa Trichoderma sp. pengurai dan berperan dalam memberikan sinyal auksin untuk merangsang pertumbuhan tanaman padi. Pada pembukaan stomata yang dipengaruhi oleh adanya ketersediaan air dan unsur hara yang diberikan Trichoderma sp. dalam membuka dan menutupnya sel penjaga terhadap masuknya air ke sel melalui osmosis dan melakukan proses fotosintesis (Rokhminarsi et al. , 2. Pada hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan tabel di atas pengujian berbasis Internet of Things (IoT), pada perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-3 terhadap kontrol . anpa pupuk padat sintetis dan alam. pengujian ke-1 sampai ke-3 mengalami kenaikan yaitu nilai unsur hara NPK pengujian ke-1 N 184 ppm. P 62 ppm dan K 191 ppm dengan status Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 medium, pengujian ke-2 N 184 ppm. P 62 ppm dan K 190 ppm dengan status medium, pengujian ke-3 N 189 ppm. P 64 ppm dan K 195 ppm dengan status medium. Hal ini diduga bahwa, tanah kontrol terdapat populasi bakteri bawaan diantaranya bakteri penambat nitrogen (Rhizobium dan Azotobacte. , bakteri pelarut fosfat (Bacillus dan Pseudomona. dan bakteri pelarut Bakteri Rhizobium dan Azotobacter adalah bakteri yang dapat menyediakan unsur nitrogen (N) dan menyediakan unsur fosfat (P) bagi tanaman serta memproduksi hormon auksin IAA (Indole Asam Aseta. (Widawati dan Muharam, 2. Kelimpahan bakteri penambat nitrogen (N), pelarut fosfat (P) dan kalium (K) di dalam tanah dapat mempengaruhi kesuburan tanah, pertumbuhan tanaman. Kesehatan lingkungan dan keseimbangan ekosistem (Wardani et al. Pada pengujian ke-4 sampai 6 mengalami turun naik dan turun lagi yaitu pengujian ke-4 N 169 ppm. P 56 ppm dan K 176 ppm dengan status medium, pengujian ke-5-mengalami kenaikan yaitu N 178 ppm. P 60 ppm dan K 184 dengan status medium, dan pengujian ke-6 N 170 ppm. P 56 ppm dan K 177 ppm dengan status medium. Hal ini diduga bakteri mengalami fluktuasi aktivitas di dalam tanah sehingga bahan mineral atau bahan dalam tanah yang bereaksi langsung dan kadar kelembaban dapat mempengaruhi populasi mikroorganisme sehingga jumlah mikroorganisme di tanah tersebut dipengaruhi oleh kelembaban, temperature, sumber energi dan kerapatan vegetasi (Mansyur et al. , 2. Hasil pengujian pada unsur hara K pada pengujian ke-5 mengalami kenaikan dan pengujian ke-6 mengalami penurunan. Hasil data tersebut diduga karena unsur hara NPK diserap oleh akar tanaman sehingga diduga bahwa tanah tanpa perlakuan adanya ketersediaan unsur hara. Unsur hara tersebut salah satunya aktivitas mikroorganisme seperti bakteri pengikat nitrogen seperti Rhizobium sp (Siswanto, 2. Oleh karena itu, mikroorganisme tersebut masih berada di fase lag (Lag phas. atau beradaptasi dengan lingkungan atau tanah tersebut (AAoyun. Pada perlakuan tanpa tanaman berbasis alat analog pada perlakuan dengan tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap kontrol berstatus ideal, diduga bahwa adanya ketersediaan unsur hara tersebut berasal dari berbagai sumber diantaranya pelapukan batuan, dekomposisi bahan alami, dan aktivitas mikroorganisme seperti bakteri pengikat nitrogen seperti Rhizobium sp (Siswanto, 2. Pengujian berbasis Internet of Things (IoT), bahwa pada perlakuan dengan tanaman terhadap kontrol . anpa pupuk padat sintetis dan alam. pengujian ke-7 sampai ke-12 mengalami penurunan yaitu pengujian ke-7 N 187 ppm. P 63 ppm dan K 193 ppm dengan status medium. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 pengujian ke-8 N 122 ppm. P 35 ppm dan K 128 ppm dengan status medium, pengujian ke-9 N 97 ppm. P 25 ppm dan K 103 ppm dengan status medium, pengujian ke-10 N 66 ppm. P 12 ppm dan K 73 ppm dengan status low, pengujian ke-11 N 49 ppm. P 4 ppm dan K 57 ppm dengan status low, dan pengujian ke-12 N 20 ppm. P 0 ppm dan K 28 ppm dengan status low. Hasil pengujian pada unsur hara P pada pengujian ke-12 mengalami penurunan dengan Hal ini bahwa tanaman padi telah menyerap banyak nutrisi dari tanah, dan kondisi ini memerlukan intervensi berupa penambahan pupuk sintetis dan alami untuk mempertahankan kesuburan tanah dan memastikan pertumbuhan optimal tanaman (Purba et , 2021. AAoyun et al. , 2. Pada perlakuan dengan tanaman berbasis alat analog terhadap kontrol . anpa pupuk padat sintetis dan alam. pengujian ke-7 sampai ke-10 berstatus ideal dan pada pengujian ke-11 sampai ke-12 berstatus Too Little. Hal ini diduga, bahwa tanah tidak lagi dapat menyediakan nutrisi yang memadai untuk tanaman. Intervensi berupa penambahan pupuk dan pemantauan yang berkelanjutan sangat penting untuk menjaga kesuburan tanah dan memastikan pertumbuhan tanaman yang optimal (Siswanto, 2018. AAoyun et al. , 2. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada AuPendeteksi Unsur Hara NPK pada Pupuk Padat Sintetis dan Alami Berbasis Internet of Things (IoT)Ay bahwa pendeteksian dan pengujian tersebut adalah sebagai berikut: Alat pendeteksi NPK Internet of Things (IoT) dapat mendeteksi kandungan NPK dengan adanya pengujian waktu delay: Perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap pupuk padat sintetis waktu delay terkecil 5,96 detik (Phonska 30 gra. dan terbesar 10,4 (Phonska 60 gra. Sedangkan perlakuan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 waktu delay terkecil 7,03 (NPK 15-10-12 30 gra. detik dan terbesar 22,90 detik (NPK 15-10-12 30 gra. Perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap pupuk padat alami waktu delay terkecil 8,11 detik (Kiambang 300 gra. dan terbesar 17,5 detik (Kiambang 200 gram dan 300 gra. Sedangkan perlakuan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 waktu delay terkecil 9,95 detik . iambang 300 gra. dan terbesar 26,7 detik . iambang 300 gra. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap kontrol waktu delay terkecil 7,49 detik dan terbesar 12,7. Sedangkan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 waktu delay terkecil 7,47 detik dan terbesar 22 detik. Alat pendeteksi NPK Internet of Things (IoT) dapat menguji kandungan NPK dengan nilai Perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap pupuk padat sintetis 207 ppm (Phonska 30 gram dan 60 gram, dan NPK 15-10-12 30 gram dan 60 gra. Sedangkan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terkecil 30 ppm (NPK 15-1012 30 gra. dan terbesar 207 ppm (Phonska 30 gram dan 60 gram, dan NPK 15-10-12 30 gram dan 60 gra. Perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap pupuk padat alami 153 ppm (Kiambang 300 gra. dan terbesar 252 ppm (Kiambang 200 gram dan 300 gra. Sedangkan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-12 terkecil 40 ppm (Kiambang 200 gra. dan terbesar 220 ppm ((Kiambang 300 gra. Perlakuan tanpa tanaman pengujian ke-1 sampai ke-6 terhadap kontrol 62 ppm dan terbesar 195 ppm. Sedangkan dengan tanaman pengujian ke-7 sampai ke-120 ppm dan terbesar 167 ppm. DAFTAR PUSTAKA