Volume 5 Nomor 1 . Juni GENITRI: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN ISSN: 2964-7010 Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak Melalui Penyuluhan MP-ASI Sesuai Tahapan Usia di Posyandu Ceria Puskesmas Betungan Herlinda. Juanda Syafitasari. Ade Elvina. Resya Aprillia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti. Bengkulu Jl. Mahakam Raya No. Lingkar Barat Gading Cempaka. Bengkulu. Indonesia Corresponding author: Herlinda Email: herlindafh14@gmail. ABSTRAK Tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) yang tepat dari sisi waktu, frekuensi, kualitas, dan kuantitas nutrisi. Data SSGI 2021 menunjukkan prevalensi balita stunting di Provinsi Bengkulu sebesar 22,1% dan di Kota Bengkulu 22,2%. Pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu atau pengasuh tentang pemberian MP-ASI sesuai tahapan usia Metode yang digunakan adalah edukasi dengan desain pre dan post test melalui penyampaian materi menggunakan lembar bolak-balik. Pre test dilakukan sebelum edukasi, sedangkan post test diberikan setelah penyuluhan dalam bentuk kuesioner pilihan ganda dan benar-salah berdasarkan materi yang disampaikan. Kegiatan pengabdian ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu, yang ditunjukkan oleh hasil pre-test sebesar 60% dan meningkat menjadi 90% pada post-test setelah diberikan penyuluhan. Temuan ini menunjukkan bahwa penyuluhan MP-ASI efektif meningkatkan pemahaman peserta. Kesimpulannya, penyuluhan MP-ASI yang disesuaikan dengan tahapan usia anak terbukti membantu mengoptimalkan tumbuh kembang, baik dari status gizi maupun perkembangan kognitif dan psikomotorik. Intervensi sebaiknya mempertimbangkan usia anak, disertai praktik langsung, serta melibatkan orang tua atau pengasuh. Program penyuluhan MP-ASI disarankan diperluas dan rutin dilaksanakan di puskesmas agar setiap anak memperoleh MP-ASI yang tepat sesuai usianya. Kata Kunci: Optimalisasi Tumbuh Kembang. Penyuluhan MP-ASI. Tahapan Usia Anak ABSTRACT Child growth and development are significantly influenced by the provision of appropriate complementary foods (MP-ASI) in terms of timing, frequency, quality, and quantity of nutrients. The 2021 SSGI data shows the prevalence of stunting in toddlers in Bengkulu Province is 22. 1% and in Bengkulu City This community service program aims to improve mothers' or caregivers' knowledge about providing MP-ASI according to their child's age. The method used is education with a pre- and post-test design through material delivery using double-sided sheets. The pre-test was conducted before the education, while the post-test was given after the counseling in the form of a multiple-choice and true-false questionnaire based on the material presented. This community service activity resulted in an increase in mothers' knowledge in the pre-test by 60% after the counseling and in the post-test by 90%. These findings indicate that MP-ASI counseling is effective in increasing participants' understanding. In conclusion. MP-ASI counseling tailored to children's age stages has been proven to help optimize growth and development, both in terms of nutritional status and cognitive and psychomotor development. Interventions should consider the child's age, be accompanied by hands-on practice, and involve parents or caregivers. It is recommended that the MP-ASI counseling program be expanded and routinely implemented in community health centers so that every child receives the appropriate MP-ASI according to their age. Keyword : Optimizing Growth and Development. MP-ASI Counseling. Child Age Stages Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm PENDAHULUAN Seiring bayi tumbuh, kebutuhan nutrisinya berubah secara signifikan. Pada usia sekitar enam bulan. ASI sendirian tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan energi, protein, zat besi, dan seng bayi. Oleh karena itu MP-ASI mulai Pengenalan MP-ASI harus dilakukan tepat waktu, yaitu saat bayi menunjukkan tanda kesiapan fisik dan oromotorik, seperti: mampu menjaga posisi kepala tetap tegak, refleks ekstrusi lidah mulai berkurang, dan muncul ketertarikan terhadap makanan yang dikonsumsi orang dewasa. Selain diberikan tepat waktu. MP-ASI harus adekuat, artinya kebutuhan gizi yang tidak lagi ditutup oleh ASI saja mulai usia 6 bulan terpenuhi (Cherysa. Laili Ramadani, 2. MP-ASI yang dianjurkan perlu bervariasi, mencakup karbohidrat, protein hewani dan nabati, lemak sehat, vitamin, dan mineral agar tumbuh kembang bayi tetap optimal. Prinsip lain adalah aman dan higienis: bahan dan alat yang bersih, penyimpanan yang tepat, serta penyiapan dan pengolahan makanan sesuai standar keamanan pangan. Selain itu, pemberiannya harus responsif memperhatikan sinyal lapar dan kenyang bayi, menciptakan suasana yang menyenangkan, dan tanpa paksaan (Khasanah et al. , 2. Pemberian makan yang tidak sesuai waktu dan cara dapat menyebabkan banyak anak mengalami gangguan pertumbuhan dan kekurangan gizi (Wahyuni et al. , 2. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013, prevalensi balita dengan beratAakurang secara nasional mencapai 19,6 %, yang terdiri dari 5,7 % gizi buruk dan 13,9 % gizi kurang. Masalah gizi dianggap sebagai isu kesehatan masyarakat yang serius apabila prevalensi gizi burukAa kurang berada di kisaran 20,0-29,9 %, dan sangat tinggi bila mencapai Ou 30,0 % (Kemenkes RI, 2. Pengetahuan ibu merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap ketepatan pemberian Makanan MP-ASI. Secara teori, pengetahuan yang baik akan membentuk sikap dan perilaku positif ibu dalam memenuhi kebutuhan gizi anak, termasuk menentukan waktu yang tepat, jenis makanan, frekuensi pemberian, serta variasi menu MP-ASI yang sesuai dengan usia dan kebutuhan bayi. Sebaliknya, keterbatasan pengetahuan dapat menyebabkan praktik pemberian MP-ASI yang tidak tepat, seperti pemberian MP-ASI terlalu dini, terlambat, atau tidak memenuhi prinsip gizi seimbang (Prabandari & Veftisia, 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Purnamasari dan Astuti . menunjukkan bahwa pengetahuan ibu merupakan faktor utama yang memengaruhi ketepatan pemberian MP-ASI. Ibu dengan tingkat pengetahuan yang rendah cenderung memiliki praktik pemberian MP-ASI yang kurang sesuai dengan rekomendasi. Selain itu, dengan alasan kepraktisan, sebagian ibu lebih memilih memberikan bubur bayi instan dari berbagai merek yang tersedia di pasaran. Padahal, penggunaan makanan instan secara berlebihan perlu diperhatikan karena dapat mengurangi variasi bahan pangan alami yang seharusnya diberikan kepada bayi. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemberian MP-ASI yang tepat sangat penting (Purnamasari & Astuti, 2. Efektivitas pemberian MP-ASI di Indonesia masih belum optimal. Berbagai praktik yang kurang tepat masih sering ditemukan, seperti pemberian MP-ASI yang terlalu dini atau terlambat, serta kurangnya variasi dan keseimbangan gizi dalam menu yang diberikan kepada anak (Khasanah et al. Padahal, periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase yang sangat menentukan pertumbuhan, perkembangan, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Oleh karena itu, penguatan praktik pemberian MP-ASI selama periode tersebut menjadi sangat penting untuk mencegah malnutrisi serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal (Nurlaila, 2. Pemberian MP-ASI yang sesuai usia didasarkan pada kondisi bahwa setelah bayi mencapai usia enam bulan. ASI saja tidak lagi mampu memenuhi seluruh kebutuhan nutrisinya (Marista Fiana, et all, 2. MPASI yang bergizi, diberikan tepat waktu, aman, dan memiliki tekstur yang sesuai dengan tahap perkembangan anak berperan penting dalam mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, serta kesehatan anak dalam jangka Selain itu, pengetahuan dan kesadaran ibu, serta dukungan tenaga kesehatan dan sistem pelayanan kesehatan, menjadi faktor Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm penting dalam memastikan pemberian MP-ASI dilakukan secara tepat dan efektif. (Maria Fatima Bara, et all, 2. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian MP-ASI adalah usia pemberian MP-ASI, jenis MP-ASI, frekuensi dalam pemberian MP-ASI, porsi pemberian MP-ASI, dan cara pemberian MP-ASI pada tahap awal (Rahmuniyati, 2. Pemberian MP-ASI yang tepat tidak hanya memenuhi kebutuhan asupan gizi anak, tetapi juga merangsang keterampilan makan dan rasa percaya diri pada anak. Pemberian MP-ASI harus bervariasi, dimulai dari bentuk bubur cair kebentuk bubur kental, sari buah, buah segar, makanan lumat, makanan lembek dan pada akhirnya makanan padat (Syahrin et al. , 2. Pemberian MP-ASI harus bervariasi, dimulai dari bentuk bubur cair ke bentuk bubur kental, sari buah, buah segar, makanan lumat, makanan lembek, dan pada akhirnya makanan padat, sehingga bayi dapat beradaptasi secara bertahap dengan tekstur dan rasa yang berbeda sekaligus melatih kemampuan oromotoriknya perkembangan yang optimal (Nurlaila, 2. Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) yang tidak tepat baik dari segi menyebabkan anak menderita kekurangan gizi. Anak yang menderita kekurangan gizi, akan menimbulkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangannya, jika tidak diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa (Yulia Arifin. Gina Muthia, 2. Optimalisasi tumbuh kembang anak melalui penyuluhan MP-ASI sesuai tahapan usia merupakan upaya untuk mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, kognitif, sosial, dan emosional anak secara menyeluruh dengan memberikan edukasi kepada orang tua atau pengasuh mengenai pentingnya pemberian MP-ASI yang tepat waktu, tepat jenis, dan tepat jumlah. Pada usia enam bulan ke atas, kebutuhan gizi bayi meningkat sehingga pemberian ASI saja tidak lagi mencukupi (Syahrin et al. , 2. Penyuluhan tentang MP-ASI diberikan untuk memastikan orang tua memahami bahwa setiap tahap usia anak memiliki kebutuhan gizi dan tekstur makanan yang berbeda sesuai Pengetahuan yang baik mengenai MP-ASI memungkinkan orang tua memberikan makanan yang bervariasi, bergizi seimbang, dan sesuai dengan usia anak sehingga kebutuhan zat gizi makro dan mikro yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal dapat terpenuhi. Selain itu, penyuluhan juga bertujuan membentuk perilaku positif dalam memperhatikan kebersihan makanan, responsif terhadap sinyal lapar dan kenyang anak, serta menghindari pemberian makanan yang tidak sesuai usia yang dapat mengganggu pertumbuhan atau menimbulkan risiko Melalui edukasi yang terarah dan berkelanjutan, diharapkan angka gangguan pertumbuhan seperti stunting dapat dicegah, serta anak dapat tumbuh sehat, aktif, dan mencapai potensi perkembangan maksimalnya sesuai tahap usia (Indah Budiastutik & Muhammad Zen Rahfiludin. Memberikan makanan pendamping pada usia dini . i bawah 6 bula. dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada bayi. Standar emas yang direkomendasikan adalah ASI eksklusif hingga usia 6 bulan, diikuti dengan makanan pendamping yang tepat. Pemberian makanan pendamping terlalu dini dapat menyebabkan risiko diare, gangguan usus, obesitas, alergi, dan kerdil. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami kapan waktu yang tepat untuk memperkenalkan makanan pendamping kepada bayi mereka (Rezah Andriani. Inge Anggi Anggarini. Salah satu strategi pemberdayaan masyarakat adalah cara yang efektif untuk memecahkan masalah rendahnya pengetahuan Perempuan khususnya ibu dalam panduan pemberian MP ASI (Dewi et al. , 2. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah menganalisis lebih luas dan mendalam pemberdayaan kaum perempuan dengan memberikan Pendidikan edukasi berupa penyuluhan tentang Optimalisasi Pertumbuhan Anak melalui Pendidikan Modul Pola Pemberian MP-ASI (Septiani et al. , 2. Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm METODE Pelaksanaan masyarakat ini dilakukan di Pustu Kenangan Wilayah Kerja Puskesmas Betungan Kota Bengkulu dengan jumlah responden sebanyak 13 orang ibu yang memiliki bayi dan balita, kegiatan ini dilakukan selama 1 hari pada tanggal 02 September 2025. Metode edukasi yang akan digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat "Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak melalui Penyuluhan MP-ASI Sesuai Tahapan Usia" adalah dengan cara pemaparan materi MP- ASI melalui lembar bolak balik dan leaflet yang diberikan pada setiap peserta, berisi tentang informasi yang disesuaikan dengan usia bayi balita, mencakup jenis makanan, tekstur, frekuensi pemberian serta cara penyajian, kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif untuk memperjelas dan memastikan pemahaman peserta terhadap tiap tahap yang disajikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penyuluhan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu mengenai pemberian MP-ASI yang ditunjukkan oleh peningkatan skor pengetahuan setelah Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh metode penyuluhan yang digunakan, yaitu penyampaian materi secara langsung disertai media edukasi berupa lembar bolak balik dan leaflet yang memudahkan peserta dalam memahami informasi yang diberikan. Metode ceramah yang dipadukan dengan sesi tanya jawab memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah sehingga peserta dapat memperoleh penjelasan yang lebih mendalam terkait materi yang belum dipahami. Peserta yang mengikuti penyuluhan secara aktif cenderung lebih memahami kebutuhan gizi anak pada setiap tahapan usia, mulai dari tekstur, frekuensi, hingga variasi bahan makanan yang sesuai, sehingga risiko terjadinya keterlambatan tumbuh kembang maupun masalah gizi dapat Kegiatan penyuluhan diawali dengan sesi pengetahuan dan praktik pemberian MP-ASI yang telah diterapkan oleh ibu. Hasil diskusi menunjukkan bahwa seluruh peserta telah memberikan MP-ASI setelah bayi berusia 6 bulan, namun sebagian besar belum memahami prinsip pemberian MP-ASI yang sesuai dengan tahapan usia anak. Ketidaktepatan tersebut terlihat dari pemilihan jenis makanan, komposisi zat gizi, serta pola pemberian makan yang belum sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak. Temuan selama kegiatan menunjukkan bahwa sebagian ibu belum memahami pentingnya pemenuhan protein hewani, lemak, serta mikronutrien dalam menu MP-ASI. Makanan yang diberikan umumnya hanya berupa bubur atau nasi dengan kuah sayur tanpa tambahan sumber protein dan lemak yang memadai. Padahal, protein dan lemak merupakan zat gizi penting yang berperan perkembangan otak, serta pembentukan sistem imun anak. Kekurangan asupan zat gizi tersebut dalam jangka panjang dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan risiko terjadinya masalah gizi pada anak. Penyuluhan yang diberikan berfokus pada pemberian MP-ASI sesuai tahapan usia, meliputi waktu pemberian, tekstur makanan, frekuensi makan, porsi, serta pemilihan bahan makanan yang bergizi seimbang. Materi juga menekankan pentingnya penggunaan sumber protein hewani dan lemak yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar, seperti telur, ikan, ayam, daging, minyak, dan santan. Pemahaman mengenai pemanfaatan bahan pangan lokal diharapkan dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan gizi anak tanpa terkendala faktor ekonomi. Selain aspek komposisi makanan, kegiatan penyuluhan juga membahas praktik pemberian makan yang responsif. Hasil diskusi menunjukkan bahwa beberapa ibu masih memaksa anak untuk makan ketika anak menolak makanan, belum menerapkan jadwal makan yang teratur, serta memberikan makan sambil menggendong atau disertai distraksi. Praktik tersebut dapat mengganggu proses belajar makan dan menghambat pembentukan perilaku makan yang sehat. Melalui penyuluhan, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya responsive feeding, yaitu memberikan makanan sesuai kebutuhan dan kesiapan anak, menciptakan suasana makan Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm yang nyaman, serta membiasakan anak makan sesuai jadwal. Peningkatan pengetahuan yang diperoleh melalui penyuluhan diharapkan dapat mendukung penerapan praktik pemberian MPASI yang sesuai dengan tahapan usia anak. Praktik pemberian makan yang tepat akan membantu memenuhi kebutuhan zat gizi secara optimal sehingga dapat mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kesehatan anak secara menyeluruh. Dengan demikian, penyuluhan MP-ASI menjadi salah satu upaya promotif yang penting dalam optimalisasi tumbuh kembang anak dan pencegahan masalah gizi sejak dini. Kegiatan pendidikan kesehatan tentang MPASI diawali dengan pre test untuk mengetahui pengetahuan ibu balita sebelum diberikan penyuluhan dilanjutkan dengan pemaparan materi MPASI pada ibu balita dengan media lembar balik dan leaflet serta diskusi, setelah itu dilaksanakan post test untuk mengetahui peningkatan pengetahuan ibu balita setelah diberikan pemaparan materi MPASI Penyampaian materi dilakukan dengan teknik diskusi secara kelompok dalam satu ruangan, dimana metode ini melibatkan peserta secara aktif dalam proses penyuluhan. Pendidikan kesehatan tidak hanya sekedar memberikan informasi kepada masyarakat melalui Definisi pendidikan kesehatan pembelajaran meliputi berbagai macam perubahan perilaku yang diinginkan (Dwi Widiyaningsih, 2. Metode pendidikan kesehatan pada dasarnya merupakan pendekatan yang digunakan dalam proses pendidikan untuk pendidikan kesehatan yaitu pada individu, kelompok atau keluarga, dan masyarakat. Salah satu metode dalam memberikan penyuluhan adalah dengan metode ceramah, metode ini digunakan jika berada dalam kondisi seperti waktu penyampaian informasi yang terbatas, orang yang mendengarkan sudah termotivasi, pembicara menggunakan gambar atau lembar balik (Prabu et al. , 2. Proses penyampaian materi dibantu menggunakan media dengan harapan dapat membantu proses penyampaian pesan sehingga lebih mudah dipahami oleh ibu balita. Materi penyuluhan menggunakan bahasa yang disesuaikan dengan sasaran penyuluhan sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami dan dimengerti. Selain itu, alat bantu atau alat yang digunakan saat penyuluhan sangat berperan dalam tersampaikannya Alat bantu atau alat yang digunakan saat penyuluhan sangat berperan dalam tersampaikannya materi. Berdasarkan kuesioner awal yang diberikan sebelum penyampaian materi, ratarata tingkat pemahaman peserta hanya mencapai sekitar 60%. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian besar peserta masih memiliki pentingnya pemberian MP-ASI sesuai tahapan usia serta dampaknya terhadap tumbuh kembang anak. Namun, setelah dilakukan penyuluhan dengan penyampaian materi secara sistematis dan interaktif, hasil kuesioner yang diberikan kembali menunjukkan peningkatan rata-rata menjadi 90%. Kenaikan ini menandakan bahwa materi penyuluhan yang pengetahuan, kesadaran, dan pemahaman peserta secara optimal. Dengan demikian, penyuluhan tentang MP-ASI terbukti efektif sebagai upaya edukatif dalam mendukung optimalisasi tumbuh kembang anak sesuai tahapan usianya. Dengan adanya penyuluhan MP-ASI yang disampaikan secara sistematis sesuai tahapan usia, diharapkan para orang tua mampu memberikan stimulasi nutrisi yang optimal perkembangan anak secara holistik. Hasil keberhasilan optimalisasi tumbuh kembang anak tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan makanan, tetapi juga oleh pemahaman, sikap dan praktik pemberian MP-ASI yang sesuai pedoman kesehatan, sehingga anak dapat tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik di masa mendatang (Nurlaila, 2. Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm Melalui penyuluhan MP-ASI sesuai tahapan usia menunjukkan bahwa pemberian makanan pendamping ASI yang tepat memiliki peranan penting dalam mendukung proses pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta pembentukan perilaku makan yang sehat sejak dini. Penyuluhan yang diberikan kepada orang tua, khususnya ibu, menjadi pengetahuan, sikap, dan keterampilan mengenai jenis, jumlah, tekstur, serta frekuensi pemberian MP-ASI sesuai dengan kebutuhan anak pada setiap tahap usianya. Dengan pemahaman yang baik, orang tua dapat menghindari risiko pemberian makanan yang terlalu dini maupun terlambat yang berpotensi menimbulkan masalah gizi, seperti stunting, gizi kurang, maupun obesitas. Penyuluhan MP-ASI juga membantu keluarga memahami pentingnya variasi bahan makanan yang seimbang untuk memastikan terpenuhinya zat gizi makro dan mikro, termasuk protein, zat besi, vitamin, dan mineral yang mendukung daya tahan tubuh serta perkembangan otak anak. Proses edukasi ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis pemberian makanan, tetapi juga menekankan pentingnya kebersihan, cara penyajian yang benar, serta keterlibatan orang tua dalam membangun interaksi positif ketika anak belajar makan (Tsani et al. , 2. DOKUMENTASI KEGIATAN Gambar 1. 1 Pemaparan Materi MP-ASI Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm Gambar 1. 2 Pengisian Kuesioner Gambar 1. 3 Sesi Tanya Jawab Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm Gambar 1. 4 Pembagian Souvenir SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penyuluhan tentang pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai tahapan usia anak, dapat disimpulkan bahwa kegiatan penyuluhan telah berhasil meningkatkan pengetahuan ibu mengenai waktu pemberian, jenis, tekstur, frekuensi, dan jumlah MP-ASI yang sesuai dengan usia anak. Setelah diberikan penyuluhan, ibu menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya pemberian MP-ASI yang tepat untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Dengan demikian, tujuan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI sesuai tahapan usia telah Diharapkan pihak puskesmas dapat melaksanakan kegiatan penyuluhan dan edukasi MP-ASI berkesinambungan sehingga ibu memperoleh informasi yang tepat, terkini, dan sesuai dengan rekomendasi kesehatan anak. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih disampaikan kepada UPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu sudah memfasilitasi kegiatan Pengabdian Masyarakat dan Terima kasih kepada Puskesmas Betungan yang sudah memberi izin sehingga kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat dilaksanakan. DAFTAR PUSTAKA