Jurnal Teologi Pambelum Volume 5. Nomor 1 (Agustus 2. : 113-126 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: https://doi. org/10. 59002/jtp. Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi Delviero Institut Agama Kristen Negeri Toraja erodelviero@gmail. Abstract The problem of natural exploitation is currently increasingly prevalent. In addition, there is a mistake in understanding the text of the scriptures, especially the three words in Genesis 1:28-30: fill, subdue, and have dominion. These three words are often considered to be the cause of natural exploitation from a theological perspective. This background encourages the author to provide a pro-ecological interpretation of the text of Genesis 1:28-30, using a bioregionalism perspective. The research method employed in this paper is a descriptive qualitative approach, as described by Daniel K. Listijabudi's hermeneutic perspective. The results of the study indicate that, by adopting a bioregional perspective in interpreting the text of Genesis 1:28-30, the command to 'fill, subdue, and have dominion' is not an exploitative one. This command utilizes nature guided by ecological insight and is oriented to its ecological implications. Keywords: bioregionalism. Genesis 1:28-30, ecological crisis. Abstrak Masalah eksploitasi alam saat ini semakin marak terjadi. Selain itu, terdapat kekeliruan dalam memahami teks kitab suci, khususnya ketiga kata yang ada dalam Kejadian 1:28-30 yakni kata penuhilah, taklukkanlah, dan berkuasalah. Ketiga kata ini kerap dianggap menjadi penyebab eksploitasi alam dari sudut pandang teologis. Latar belakang ini mendorong penulis untuk memberikan penafsiran yang pro ekologi terhadap teks Kejadian 1:28-30, dengan menggunakan perspektif bioregionalisme. Metode Penelitian yang digunakan dalam tulisan ini, yaitu pendekatan kualitatif deskriptif yang merujuk pada hermeneutik seeing through dari Daniel K. Listijabudi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan perspektif bioregionalisme dalam menafsirkan teks Kejadian 1:28-30, perintah memenuhi, menguasai, dan menaklukkan bukanlah perintah yang Perintah ini merupakan pemanfaatan alam dengan berpedoman pada wawasan ekologis dan berorientasi pada implikasi ekologisnya. Kata kunci: bioregionalisme. Kejadian 1:28-30, krisis ekologi. Pendahuluan Secara umum isu lingkungan menjadi topik aktual dalam pembahasan teologi. Hal ini disebabkan oleh berbagai kondisi lingkungan yang sampai sekarang belum bisa diatasi, antara lain seperti yang dilansir dari data kementerian lingkungan hidup dan kehutanan Diterima Redaksi: 23-06-2025 | Selesai Revisi: 23-08-2. Diterbitkan Online: 30-08-2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi republik Indonesia tertanggal 3/10/2023, yang menyerukan triple krisis planet yakni perubahan iklim, polusi dan pencemaran, serta percepatan kehilangan biodiversitas (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa isu lingkungan tetap aktual sebagai topik kajian, termasuk dalam teologi. Salah satu penyebab isu ini tetap menjadi aktual adalah karena manusia sendiri yang melakukan tindakan eksploitatif. Dalam kondisi ini, beberapa peneliti menemukan bahwa pengajaran agama, termasuk agama Kristen, sering menjadi pendorong terjadinya eksploitasi lingkungan. Salah satu teks yang dianggap menjadi faktor perilaku eksploitatif terhadap lingkungan adalah Kejadian 1:28-30 (Toynbee, 1972. White Jr, 1. Menyikapi fenomena ini, penulis berupaya untuk mengkaji kembali teks Kejadian 1:28-30, berikut implikasi ekologisnya. Beberapa peneliti sebelumnya telah berusaha menafsir teks ini dalam perspektif masing-masing. Dalam penafsiran yang menganggap teks Kejadian 1:28-30 sebagai anti ekologis, ada beberapa penafsir, seperti Lynn White Jr dan Arnold Toynbee. Lynn White Jr berangkat dari sebuah premis bahwa ekologi manusia sangat dipengaruhi oleh keyakinan tentang diri sendiri dan hubungannya dengan alam sekitar. White Jr kemudian menganalisis kisah penciptaan dalam tradisi Yudaisme-KristenAisecara implisit menunjuk kisah penciptaan dalam Kejadian 1Aidan menunjukkan bahwa Tuhan menciptakan alam dan isinya untuk keuntungan dan dominasi dari manusia. Semua ciptaan berada pada tujuan untuk melayani Oleh White Jr, perspektif ini kemudian memengaruhi semangat misi agama Kristen. Kekristenan menghancurkan paganisme yang menjaga alam, dan kemudian menggunakan keyakinannya untuk mengeksploitasi alam dan menunjukkan ketidakpedulian (White Jr, 1. Secara eksplisit. Arnold Toynbee menyebut teks Kejadian 1:28-30 sebagai pemberi izin kepada manusia untuk melakukan apa saja yang disukainya, termasuk izin untuk ledakan populasi, sekaligus izin untuk mekanisasi dan pencemaran. Bahkan Toynbee juga menyebut bahwa masyarakat yang lahir dalam tradisi monoteis sulit untuk menunjukkan rasa kekaguman pada alam akibat dari teks Kejadian 1:28 (Toynbee, 1. Menanggapi pandangan di atas, beberapa penulis juga menanggapinya dengan menunjukkan bahwa teks Kejadian 1:28 sarat dengan perintah yang proekologis. Adesanya Ibiyinka Olusola dan Ogunlusi Clement Temitope mengkaji teks Kejadian 1:28 dan menegaskan bahwa pesan menguasai dan mendominasi ciptaan dalam teks perlu dipahami sebagai tanggung jawab pemelihara dan penjaga, bukan pengeksploitasi. Hal ini disebabkan oleh karena manusia diciptakan menurut gambar Allah, dan kesegambaran ini mengimplikasikan tanggung jawab kepada Tuhan sebagai pemilik ciptaan. Oleh karena itu, teks ini menekankan tanggung jawab (Olusola & Temitope, 2. Andar G. Pasaribu. Roy P Sipahutar, dan Edward H. Hutabarat mengkaji teks Kejadian 1:26-28 dari perspektif masyarakat Batak Toba, dan menemukan bahwa frasa AuTuhan memberkatiAy adalah sesuatu yang berimplikasi konstruktif dalam perspektif masyarakat Batak Toba. Dengan demikian, perintah menguasai, menaklukkan, dan memenuhi bumi yang mengikutinya juga perlu dipahami dalam perspektif ini, yaitu bersifat konstruktif bagi ciptaan lain (Pasaribu. Sipahutar, & Hutabarat, 2. Jefri Andri Saputra juga memberikan penafsiran pada teks Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi Kejadian 1:28-30. 2:15, tetapi menggunakan perspektif teologi agraria dari Norman Wirzba untuk mengkaji kedua teks ini. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa kedua teks ini berjumpa dalam upaya mengelola potensi alam dalam melindungi kerentanannya dari kerusakan (Saputra, 2024. Di posisi ketiga, ada Emmanuel Gerrit Singgih dan Gayus Darius yang menerima secara terus terang kecenderungan teks untuk bernada Aukeras. Ay Akan tetapi, mereka tetap menegaskan urgensi perilaku yang ekologis. Singgih mengkaji teks Kejadian 1:28-30 dan menemukan bahwa teks tersebut memang bernada AukerasAy dalam konteks kerusakan Oleh karena itu. Singgih memberikan saran untuk membekukan sementara teks tersebut, dan mempropagandakan sikap ekoteologis dengan berangkat dari teks lain, seperti Kejadian 2:15, dan teks-teks lain yang pro ekologis (Singgih, 2. Sedangkan bagi Darius, memahami teks Kejadian 1:26-28 tidak dapat lepas dari konteks pemberian perintah Allah, di mana manusia belum memiliki karakter serakah dan eksploitatif (Darius, 2. Dengan demikian, sikap dominasi dan menguasai pada konteks tersebut bukanlah sesuatu yang berdampak destruktif. Khusus dalam artikel ini, penulis juga akan menafsir teks Kejadian 1:28-30 dengan menggunakan perspektif yang kedua. Perspektif yang pertama menunjukkan kecenderungan tafsir yang terlalu literer dan gagal memahami keseluruhan teks yang menuntut tanggung jawab pemeliharaan pada manusia. Sementara itu pada perspektif ketiga, tidak ada petunjuk yang eksplisit mengenai solusi menafsir dan implementasi teks dalam konteks krisis ekologi. Pendekatan yang akan digunakan penulis adalah pendekatan bioregionalisme, untuk menjelaskan bagaimana seharusnya manusia memaknai alam dan memahami perintah Allah dalam Kejadian 1:28-30. Bioregionalisme adalah sebuah aliran filsafat yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada manusia tentang bagaimana seharusnya hubungan alam dengan manusia, dengan cara mengajak manusia untuk kembali ke tanah atau tempat ia dilahirkan dan menghayati bagaimana alam atau lingkungan tempat ia dibesarkan, sehingga ia akan selalu mempertahankan daya dukung tempat itu. dan dalam batas wilayah tersebut manusia akan memelihara beragam tanaman dan binatang (Keraf, 2. Dalam tulisan ini, penulis berharap dapat memberikan sumbangsih bagi pengembangan penafsiran teks Kejadian 1:28-30 dalam masalah ekologis, dengan secara khusus memberikan batasan yang jelas dan konkret mengenai penerapan kata memenuhi, menguasai, dan menaklukkan ciptaan Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang secara spesifik merujuk pada hermeneutik seeing through dari Daniel K. Listijabudi. Seeing through merupakan usaha melihat, meneliti, dan mendalami teks kitab suci dengan perspektif yang diberikan oleh lensa tertentu dalam memahami teks kitab suci, sehingga ada penemuan alternatif atau konsep yang baru dan kontekstual (Listijabudi, 2. Pengembangan metode seeing through pada awalnya adalah bagian dari kesadaran akan realitas multiscriptural dalam perkembangan kekristenan di Asia (Lee, 2. Dalam perkembangan studi Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi hermeneutik kontekstual, beberapa peneliti seperti Kwok Pui Lan dan Soares Prabhu kemudian menggagas pendekatan yang memberikan ruang interaksi inter-scriptural di antara teks Alkitab dengan teks-teks suci keagamaan lain di Asia (Listijabudi, 2018. Oleh Listijabudi, pendekatan ini kemudian dikembangkan menjadi studi cross-textual reading dan seeing through. Cross-textual reading adalah studi komparatif dari dua teks yang memiliki kesamaan motif dan struktur dan dalam interpretasinya saling memperkaya dengan memberikan kerangka iluminatif untuk memunculkan makna-makna implisit dari kedua Sedangkan seeing through memberikan lensa perspektif dalam menafsir kitab suci untuk memunculkan makna implisit dari teks Alkitab sekaligus memperkaya maknanya (Listijabudi, 2018a, 2. Dalam pengembangannya. Listijabudi tidak hanya menjadikan teks suci agama lain sebagai pembanding atau pemberi lensa perspektif, tetapi juga menggunakan lensa perspektif filsafat maupun kearifan lokal untuk menafsirkan ulang teks dan memunculkan makna implisitnya (Listijabudi, 2. Geovani Geraldy Laurentius Koswandy dalam bukunya menjelaskan bahwa pendekatan seeing through yang dijelaskan oleh Listijabudi cukup penting dan krusial karena tidak hanya tradisi-tradisi religius yang dipakai untuk melihat teks-teks Alkitab, atau yang disebut lensa untuk memandang teks Alkitab, tetapi juga memberi ruang bagi tradisitradisi non religius untuk melihat teks-teks Alkitab (Koswandy, 2. Maka dari itu Koswandy menegaskan bahwa, harus ada keterbukaan diri dalam melihat teks-teks Alkitab secara positif, sehingga didapatkan pemahaman baru dalam membaca dan memaknai Alkitab. Dalam penelitian ini, penulis mengkaji teks Kejadian 1:28-30 dan menjadikan filsafat bioregionalisme sebagai lensa dalam membaca ulang teks. Adapun pengumpulan data dalam penelitian ini, menggunakan studi pustaka dengan merujuk pada artikel ilmiah dan bukubuku untuk memperoleh data mengenai filsafat bioregionalisme. Penyajian dan analisis data dimulai dari penjelasan mengenai konsep filsafat bioregionalisme. Setelah itu penulis menganalisis teks Kejadian 1:28-30 dengan menggunakan perspektif bioregionalisme. Setelah itu, penulis akan mendeskripsikan implikasi dari teks 1:28-30 bagi krisis ekologi. Hasil dan Pembahasan Konsep Bioregionalisme Secara etimologis bioregionalisme berasal dari kata bahasa Yunani bios, yang artinya kehidupan, dan kata bahasa Latin regio. yang artinya wilayah, serta ism yang artinya ajaran (Keraf, 2. Bioregionalisme merupakan ajaran tentang kehidupan yang berpusat pada wilayah, tanah, habitat, dan tempat tinggal setempat. Atau secara lebih sederhana, bioregionalisme merupakan ajaran bagaimana hidup sesuai dengan kekhasan wilayah setempat (Keraf, 2. Menurut Richard Evanoff, konsep bioregionalisme merupakan gagasan yang muncul sekitar tahun 1970-an sebagai bentuk respons terhadap pengakuan mengenai kontribusi industrialisasi dan konsumerisme terhadap kerusakan lingkungan, alienasi sosial dan berkurangnya pemenuhan kebutuhan (Evanoff, 2. Silvana Maria Cappuccio, menyebut Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi bahwa konsep bioregionalisme lahir dari perpaduan ilmuwan alam, aktivis sosial dan lingkungan, seniman dan penulis, pemimpin masyarakat, serta aktivis gerakan Aukembali ke tanahAy yang bersentuhan langsung dengan keadaan lingkungan (Cappuccio, 2. Latar belakang di atas kemudian memunculkan berbagai pemikiran dan konsep tentang bioreginalisme. Allen Van Newkirk dan Raymond Dasmann dalam penelitian yang berbeda mengelaborasi konsep bioregionalisme dengan memetakan wilayah sesuai dengan kondisi alamiahnya (Evanoff, 2. Selanjutnya, ada gagasan dari Kirkpatrick Sale yang mengidentifikasi batas-batas bioregional berdasarkan keragaman makhluk hidupnya, air, iklim, tanah, bentuk lahan, dan oleh pemukiman serta budaya manusia yang dihasilkan oleh jenis keragaman tersebut (Evanoff, 2. Sampai di sini, bioregionalisme merujuk kepada sebuah identifikasi, batasan, dan karakteristik dari suatu kawasan. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bioregionalisme yang mulai memberi porsi yang lebih kepada cara hidup dalam kawasan tertentu. Peter Berg dan Dassman menetapkan tiga prinsip dasar bioregionalisme yaitu . memenuhi kebutuhan dan menikmati kesenangan atas kehidupan yang dialami dalam suatu kawasan tertentu, . reinhabitasi yaitu proses menjadi penduduk asli di kawasan yang mengalami krisis pascaeksploitasi dengan menyadari bentuk-bentuk hukum alamnya serta membangun sistem kehidupan berkelanjutan secara ekologis di dalamnya, dan . menyadari bahwa setiap kawasan telah memiliki gagasan atau konsep tentang cara hidup ditempat tersebut (Cappuccio, 2. Sale juga menggagas bioregionalisme dengan menekankan bahwa untuk menjadi penghuni bumi, mempelajari hipotesis Gaia, dan mengenal bumi secara holistik, manusia memiliki tugas Tugas tersebut adalah memahami tempat tinggal secara spesifik, batas-batas sumber dayanya, serta budaya masyarakatnya. Konsep inilah yang disebut oleh Sale sebagai hakikat bioregionalisme (Cappuccio, 2. Sampai di sini, diperlihatkan bahwa bioregionalisme sangat mengapresiasi wawasan dan cara pandang dalam lingkup lokal untuk selanjutnya menjadi cara hidup. Akan tetapi, bioregionalisme kemudian dituduh sebagai perspektif yang eksklusif, rasialis, xenophobia, hingga bersifat terisolasi. Evanoff membantah tuuduhan ini dan menunjukkan bahwa bioregionalisme, sekalipun menekankan keragaman dan perspektif kawasan atau lokal sebagai landasan bersikap dan bertindak, tetapi bioregionalisme juga membuka ruang untuk bertukar pikiran dengan gagasan pada kawasan lain, termasuk berbagai pemikiran yang berkaitan dengan lingkungan (Evanoff, 2. Dalam perkembangannya, bioregionalisme sebagai sebuah aliran filsafat atau sistem pemikiran mengajak manusia untuk kembali dan mengamati tempat asal, bagaimana kekhasan dan keunikannya, bahkan bioregionalisme mengajak untuk mengenali bumi, alam, ekosistem, dan hidup sedekat mungkin dan bersentuhan langsung dengan setiap keunikan yang ada (Keraf, 2. Bagi Cappuccio, tindakan ini penting untuk menyikapi krisis Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap wilayah memiliki kekhasan dan keunikannya masing-masing. Penyelesaian krisis lingkungan tidak bisa dengan menetapkan suatu panduan yang definitif kepada semua tempat. Masing-masing wilayah memiliki keunikannya yang spesifik. Keunikan ini harus diakui terlebih dahulu. Setelah itu Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi penanganan lingkungan dapat dilakukan dengan mengkombinasikan keunikan alam dengan masyarakat setempat (Cappuccio, 2. Evanoff juga mengakui keunikan masing-masing kawasan ini dengan menekankan bahwa bioregionalisme menolak adanya pedoman yang definitif dan dapat diterapkan secara keseluruhan. Bioregionalisme menghargai apabila ada keragaman intelektual (Evanoff, 2. Melalui bioregionalisme, kesadaran akan karakteristik regional menjadi sangat Manusia diajak untuk mampu menemukan dan memahami secara detail karakteristik dari setiap kawasan hidupnya berikut makhluk hidup yang hidup di dalamnya. Mengutip pernyataan dari Jim Dodge. Keraf menyatakan bahwa dengan memahami sistem alam bekerja, manusia dapat mencari teknik dan pendekatan paling tepat untuk membangun kehidupannya (Keraf, 2. Dari pernyataan Dodge, jelas bahwa munculnya bioregionalisme menekankan pentingnya memahami dengan baik bagaimana alam itu bekerja, sehingga manusia memahami batasan-batasan dalam mengelola kebutuhan yang disediakan oleh alam. Selain menekankan pemahaman mengenai hukum alam, bioregionalisme menekankan implikasi urgen yakni terwujudnya kehidupan yang berkelanjutan. Menurut Keraf, paradigma pembangunan berkelanjutan adalah tujuan dari bioregionalisme. Bioregionalisme menciptakan pembangunan kehidupan berdasarkan kondisi setempat, sehingga menghasilkan masyarakat yang sehat dan maju dari segi ekonomi, ekologi, maupun sosial kultural (Keraf, 2. Secara implisit. Cappuccio juga mendukung hal ini dengan menekankan bahwa krisis lingkungan dapat diatasi dan keberlanjutan ekologis dapat dicapai melalui pengakuan terhadap bioregionalisme (Cappuccio, 2. Evanoff menambahkan bahwa etika atau cara hidup bioregional bertujuan untuk mengintegrasikan kehidupan masyarakat dengan lingkungan sekitarnya secara berkelanjutan (Evanoff, 2. Dengan kata lain, cara hidup yang berdasar pada bioregionalisme akan berimplikasi pada terwujudnya kehidupan yang berkelanjutan. Memahami batasan-batasan alam dalam bekerja, memberikan cara pandang baru bagi manusia untuk mengelola dan mengusahakan kebutuhan yang telah disediakan oleh Ada beberapa contoh bentuk penerapan yang dilakukan oleh manusia dalam memberikan batasan pada alam untuk bekerja, yakni salah satunya mitos Batu Pare yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat Kalumpang Sulawesi Barat, dalam membuka lahan untuk berladang. Cara orang Kalumpang berladang dikenal dengan ladang berpindah. Mereka berpindah sesuai dengan petunjuk padi yang tumbuh di IndoAo Pare (Ibu Ratu Pad. IndoAo Pare di Batu Pare menjadi norma karena secara religi dan spiritual mengandung benih-benih abadi yang menjamin kesehatan, kualitas dan keberlanjutan spesies padi di Rotasi perkebunan berpindah secara bervariasi antara setiap empat tahun dan delapan Menurut Robert Patannang Borrong, jika lahan yang ditinggalkan dan dibiarkan menjadi semak hanya dalam tempo empat tahun, maka tingkat kesuburannya belum pulih Namun jika rotasi perkebunan dilakukan setiap delapan tahun, bekas ladang lama telah berubah menjadi hutan lagi dan tingkat kesuburannya akan pulih sepenuhnya (Borrong. Dari praktik ladang berpindah yang dilakukan oleh masyarakat Kalumpang, dapat Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi dilihat bahwa masyarakat Kalumpang tidak pernah merusak hutan karena bekas perladangan selalu dibiarkan menjadi hutan kembali tanpa harus melakukan reboisasi. Penerapan ladang berpindah yang dilakukan oleh masyarakat Kalumpang menjadi salah satu bentuk penerapan positif yang dapat dilakukan oleh manusia untuk memberikan batasan pada alam untuk bekerja, bahkan menjadi salah satu bentuk contoh penerapan bioregionalisme. Berdasarkan penjelasan di atas, penulis menemukan bahwa bioregionalisme menekankan pengenalan suatu kawasan secara detail, termasuk hukum alamnya sebagai landasan berperilaku. Dalam hal ini, bioregionalisme menempatkan pemahaman yang detail tentang hukum alam, mendahului sekaligus menjadi acuan dari cara hidup dan tata kelola Hal yang tidak kalah penting adalah implikasi dari bioregionalisme merujuk kepada Perilaku dan cara hidup . aca: mengelola ala. menuntut adanya implikasi yang bersifat berkelanjutan. Cara pandang inilah yang kemudian akan digunakan dalam menafsir teks Kejadian 1:28-30. Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioregionalisme Kisah penciptaan yang termuat secara khusus dalam Kejadian 1-2 memperlihatkan bagaimana Allah menata dan menciptakan alam semesta beserta isinya dengan sangat indah dan sempurna. Allah bukan hanya menciptakan dan menata ciptaannya dengan indah dan baik, tetapi Allah memberikan masing-masing tanggung jawab pada ciptaan-Nya, sehingga semua saling membutuhkan satu dengan yang lain. Melihat berbagai tanggung jawab yang diberikan pada ciptaan-Nya, secara khusus dalam Kejadian 1:28-30, memperlihatkan bagaimana tanggung jawab yang diberikan Allah kepada manusia. Dalam teks ini. Allah memberikan sebuah tanggung jawab kepada manusia untuk memenuhi dan menaklukkan bumi, serta diberi kuasa atas segala makhluk hidup. Sebuah hal yang menarik dan merupakan keistimewaan dari manusia, karena hanya manusia yang diberi tanggung jawab untuk menaklukkan bumi serta berkuasa atas ciptaan lainnya. Dalam teks Kejadian 28-30, ada tiga kata yang kerap disoroti kemudian memunculkan pemahaman keliru bagi manusia dan kesulitan dalam memahami teks ini. Ketiga kata tersebut kerap disorot karena kesannya yang mendukung eksploitasi dan polusi yang merusak lingkungan (Toynbee, 1. Kata tersebut merupakan perintah Allah yang diberikan kepada manusia, yakni kata menguasai, memenuhi, dan taklukkanlah, di mana kata ini dipahami manusia sebagai perintah yang diberikan oleh Allah untuk berkuasa atas semua ciptaan lain sehingga manusia merasa dirinya yang paling penting dari semua ciptaan yang ada, bahkan membuat manusia bersifat angkuh, dan semena-mena terhadap ciptaan lain. Lebih jauh lagi, hal tersebut mengakibatkan kerusakan pada lingkungan. Kurang lebih konsep seperti ini juga yang dikritik oleh Lyyn White Jr, sebagaimana dikutip oleh Gayus Darius, di mana White menganggap eksploitasi alam terjadi karena tindakan manusia menggunakan teks-teks kitab suci yang menjelaskan keunggulan manusia atas alam sebagai rujukan atau legitimasi (Darius, 2. Dari kritik yang disampaikan oleh White, tampak jelas bahwa teks dalam Kejadian 1 secara khusus dalam ayat 28-30 perlu diinterpretasikan dalam konteks krisis lingkungan untuk memahami dan menerapkannya. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi Kondisi ini kemudian mendorong beberapa penulis memberikan pandangan bagaimana menafsir dan mengimplementasikan kata menguasai, memenuhi, dan Darius memberikan penafsiran dan pandangan terhadap ketiga kata ini. Dari penjelasan yang dipaparkannya, ketiga kata ini mempunyai makna yang cukup ekstrem dan bahkan memperlihatkan konsep eksklusivitas yang sangat menonjol. Darius kemudian memberi penjelasan bahwa yang perlu dilihat dari teks ini adalah ketika Tuhan memberikan mandat kepada manusia, belum ada keinginan sama sekali dalam diri manusia untuk mengeksploitasi alam dengan mewujudkan keserakahan ekonominya. Bahkan ada hubungan yang harmonis tercipta antara Adam dan ciptaan lain pada saat itu, dan dalam hubungan Adam dengan ciptaan lainnya tidak dijumpai bahwa Adam seolah-olah berkuasa atas ciptaan lain (Darius, 2. Singgih juga memberi penafsiran dan pandangan tentang narasi teks Kejadian 1, khususnya di ayat 26-28, dan dalam penjelasannya, ia mengemukakan bahwa narasi dalam Kejadian 1:26-28 memang mempunyai makna yang AukerasAy dan bersifat antroposentrik, sehingga Singgih memberi tawaran untuk membangun sebuah teologi yang lebih biblis dan proekologi dengan melihat teks lain yang masih bermakna penatalayanan, tetapi lebih AolunakAo, dari pada mencoba kembali menafsir teks Kejadian 1:26-28. Singgih kemudian memilih teks Kejadian 2:15, di mana teks itu memperlihatkan Tuhan Allah yang dalam istilah yang dikemukakan oleh Singgih menanam kebun atau Taman Eden, dan meminta kepada Adam untuk mengusahakan atau mengerjakan dan memelihara kebun atau taman itu. Teks lain yang ditawarkan oleh Singgih, yakni Mazmur 104 yang berbicara mengenai manusia, binatang, dan daratan/lembah serta pegunungan, untuk memperlihatkan bagaimana seharusnya menjalin hubungan yang harmonis antara ciptaan yang satu dan ciptaan lainnya (Singgih, 2. Pandangan Darius dan Singgih menunjukkan bahwa terdapat kesulitan untuk melihat teks Kejadian 1:28-30 dan menjadikan teks itu proekologi. Pertama, kata AupenuhilahAy. Kata ini berasal dari kata A( uamal. Kata A uadapat juga berarti Aumenjadi penuh atau mengisiAy. Dalam terjemahan bahasa Inggris sendiri, kata A ua . diterjemahkan dalam kata . Kata fill sendiri dalam bahasa Inggris dapat berarti mengisi, atau memenuhi (Bible Works, 2. Kata ini juga kemudian mendorong Paulus Dimas Prabowo, dan Anggi Malela, untuk menafsirkan teks ini. Mereka menjelaskan bahwa kata penuhilah merupakan perintah Allah agar manusia dan keturunannya dapat mengisi bumi yang tadinya kosong, sehingga terisi oleh gambar-gambar Allah yang diinterpretasikan oleh eksistensi manusia. Dari penjelasan ini, kata ini terkesan menempatkan manusia dominan dari ciptaan lainnya (Prabowo & Malela, 2. Selanjutnya kata Autaklukkanlah. Ay Kata ini berasal dari kata A( uc AAkabas. Kata Auc AA dapat juga berarti menekan, menundukkan, menindas, atau menginjak-injak. Dalam terjemahan bahasa Inggris sendiri, kata A( uc AAkabas. diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai . , yang dapat berarti menundukkan, atau menaklukkan (Bible Works, 2. Firman Panjaitan, dan Silas Dismas Yoel Mandowen, memberikan penafsirannya terhadap teks ini dengan menjelaskan bahwa manusia sebagai wakil Allah di dunia ini, mempunyai tugas untuk menundukkan ciptaan lainnya, untuk memperlihatkan kedaulatan Allah di Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi tengah-tengah dunia ini, sebagaimana Allah menunjukkan kedaulatan-Nya kepada manusia dengan cara menjaga dan memelihara, bukan justru memperbudak ciptaan lain demi kepentingan pribadi (Panjaitan & Mandowen, 2. Penjelasan ini menunjukkan bahwa kata AutaklukkanlahAy memiliki makna yang memperlihatkan bagaimana manusia mempunyai superioritas atas ciptaan lain. Kata yang ketiga, yakni kata Auberkuasalah. Ay Kata ini berasal dari kata A( e iArada. Kata A e iAdapat juga berarti memerintah, menguasai, atau mendominasi. Dalam terjemahan bahasa Inggris sendiri, kata A( e iArada. diterjemahkan sebagai . Kata dominion sendiri dalam bahasa Inggris dapat berarti kekuasaan, hak untuk memerintah dan mengendalikan, kewenangan kedaulatan, aturan, pengendalian dan dominasi (Bible Works. Sensius Amon Karlau berusaha menafsirkan kata AuberkuasalahAy dalam perspektif yang positif. Perintah untuk menguasai bagi Karlau, perlu dipahami sebagai bentuk panggilan Allah sebagai representatif-Nya untuk bekerja dan mengelola tanah dan segala ciptaan lain sesuai dengan kehendak Allah sendiri (Karlau, 2. Perintah ini nampak memberikan perspektif yang positif terhadap perintah menguasai. Akan tetapi acuan yang diberikan, yakni sesuai kehendak Allah, belum memiliki panduan yang konkret sehingga tetap memberi ruang bagi pertanyaan mengenai batasan implementasi perintah tersebut. Beberapa pandangan di atas menunjukkan bahwa sulit untuk memberikan penjelasan yang positif dan konkret dari makna kata penuhilah, taklukkanlah, dan berkuasalah. Kondisi ini disebabkan oleh tidak adanya batasan dan pengendalian terhadap implementasi ketiga perintah tersebut. Melihat berbagai kesulitan dalam menafsirkan Kejadian 1:28-30 agar proekologis, penulis kemudian berusaha membaca kembali teks dari perspektif Usaha ini dilakukan untuk memberikan pemahaman yang proekologis dalam melihat teks Kejadian 1:28-30. Berdasarkan uraian sebelumnya mengenai bioregionalisme, penulis menemukan bahwa wawasan mengenai kondisi alam merupakan pengetahuan yang mendahului cara hidup dan tata kelola alam. Jika pemahaman ini diterapkan dalam menafsirkan teks Kejadian 1:28-30, pengetahuan mengenai alam juga menjadi landasan untuk menentukan sejauh mana implementasi memenuhi, menaklukkan dan menguasai ciptaan lain. Pengetahuan mengenai batasan dan potensi alam ikut membatasi sejauh mana ketiga kata ini diterapkan. Dalam praktiknya, kata memenuhi, menguasai dan menaklukkan bukanlah sesuatu yang merujuk kepada tindakan manusia yang seenaknya pada ciptaan lain. Pemahaman detail tentang kemampuan dan batasan dari ciptaan lain harus dijadikan acuan untuk menerapkan sekaligus membatasi upaya memenuhi, menaklukkan dan menguasai. Gagasan tentang pembatasan implementasi memenuhi, menaklukkan dan menguasai oleh pengetahuan mengenai alam, secara implisit dapat ditemukan dalam perintah Tuhan kepada bangsa Israel. Sebut saja aturan tentang Sabat yang melarang adanya pekerjaan pada hari ketujuh baik manusia . ermasuk budak dan orang asin. maupun hewan (Kel. 20:8-. Penjelasan spesifik tentang hukum ini juga disampaikan dalam pembahasan mengenai pembatasan waktu kerja budak serta lembu dan keledai (Kel. Penyampaian hukum ini mengacu pada wawasan dan pengalaman Israel yang mengalami perbudakan yang Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi memahitkan hidup mereka di Mesir. Pengalaman perbudakan mengajarkan bangsa Israel mengenai pentingnya beristirahat dari pekerjaan dan memulihkan kekuatan (Saputra. Penerapan hukum ini tidak sekadar berlaku bagi para pekerja atau budak, tetapi juga pada lembu dan keledai. Tuhan memperhatikan semua makhluk sehingga sekalipun itu adalah binatang yang digunakan untuk bekerja, haknya untuk memulihkan diri sekali dalam seminggu harus diperhatikan (Saputra, 2024. Hukum ini mengindikasikan bahwa sekalipun bangsa Israel adalah pemilik bahkan menguasai dan menaklukkan lembu dan keledai, tetapi otoritas mereka dibatasi oleh wawasannya mengenai eksploitasi kerja dan pengalamannya dalam perbudakan di Mesir. Dalam situasi ini, wawasan mengenai sistem kerja paksa mendahului implementasi berkuasa atas budak, lembu dan keledai, sehingga kata memenuhi, menguasai, dan menaklukkan tidak bersifat eksploitatif. Selain menekankan wawasan mendetail tentang alam yang mendahului tata kelola alam, bioregionalisme juga menekankan agar tata kelola alam harus menghasilkan implikasi yang sifatnya berkelanjutan. Jika perspektif ini digunakan dalam mereinterpretasi teks Kejadian 1:28-30, maka dapat dikatakan bahwa kata memenuhi, menaklukkan dan menguasai ciptaan lain, perlu diimplementasikan dengan berorientasi pada kehidupan yang Dalam hal ini penggunaan dan pemanfaatan ciptaan lain oleh manusia harus dibatasi oleh kepentingan kehidupan berkelanjutan. Manusia, sekalipun disebut menguasai dan menaklukkan tidak dapat mengeksploitasi habis tanpa mempertimbangkan dampakdampak lingkungan. Implementasi menguasai dan menaklukkan diharapkan tetap melestarikan keberlanjutan kehidupan ciptaan. Secara implisit, gagasan ini dapat ditemukan dalam perintah tahun Sabat yang disampaikan oleh Tuhan kepada bangsa Israel (Im. 25:1-. Dalam teks ini. Tuhan menekankan pentingnya sabat tanah, atau suatu masa perhentian penuh untuk mengerjakan Perintah sabat menegaskan bahwa tanah tidak boleh ditaburi dengan tanaman. Kemudian apapun yang tumbuh dari tanah dapat dipetik oleh orang lain, atau menjadi makanan bagi ternak maupun binatang liar. Sabda Budiman dan Enggar Objantoro menyebut kondisi ini sebagai bentuk pemeliharaan Tuhan bagi kehidupan semua ciptaan (Budiman & Objantoro, 2. Selain menunjukkan pemeliharaan Tuhan bagi kehidupan semua ciptaan, perintah ini juga merupakan kesempatan bagi tanah untuk melakukan pemulihan kesuburan. Tahun Sabat juga dapat disebut sebagai bentuk pemeliharaan terhadap kesuburan tanah (Budiman & Objantoro, 2. Bagi Fanny Y. Kaseke, perintah ini menunjukkan bahwa bukan hanya manusia yang diperhatikan haknya untuk beristirahat, tetapi tanah juga. Dengan adanya perintah tahun Sabat, tanah dapat melakukan pemulihan, dan juga mengembalikan kesuburan, tekstur, dan struktur tanah (Kaseke, 2. Beberapa pendapat di atas mengindikasikan bahwa tahun Sabat dapat disebut berimplikasi positif terhadap pertanian yang berkelanjutan di Israel. Dengan menyediakan waktu istirahat bagi tanah, kesuburan tanah dapat dipulihkan. Pulihnya kesuburan, tekstur, dan struktur tanah akan berdampak positif terhadap kelanjutan pertanian di Israel. Dengan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi kata lain, tahun Sabat membuat siklus pertanian yang berkelanjutan dapat terwujud di Israel. Kondisi ini kembali menunjukkan bahwa sekalipun manusia, termasuk bangsa Israel, mendapat perintah untuk memenuhi, menguasai, dan menaklukkan ciptaan lain, tetapi orientasi kehidupan yang berkelanjutan membatasi masa mereka mengerjakan tanah. Situasi ini mengindikasikan bahwa menguasai dan menaklukkan ciptaan lain bukan perilaku yang sesuka hati, melainkan sebuah perintah yang juga perlu mempertimbangkan implikasinya terhadap keberlanjutan hidup ciptaan. Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, membaca teks Kejadian 1:28-30 dari perspektif bioregionalisme menunjukkan bahwa kata memenuhi, menguasai, dan menaklukkan ciptaan lain bukanlah perintah yang tidak memiliki batasan yang konkret, dan dapat dilakukan sesuka hati. Penafsiran ini menunjukkan bahwa implementasi perintah ini dibatasi oleh wawasan detail mengenai lingkungan sekitar yang seharusnya mendahuluinya. Selain itu, perintah itu juga dibatasi oleh implikasinya yang diharapkan berimplikasi positif terhadap keberlanjutan kehidupan ciptaan. Dengan demikian, perintah memenuhi, menguasai, dan menaklukkan hanya bisa dilaksanakan dalam tata kelola alam yang selaras dengan karakter lingkungan setempat, dan dapat berimplikasi positif terhadap keberlanjutan kehidupan semua ciptaan. Implikasi Teks Kejadian 1:28-30 terhadap Krisis Ekologi Pembacaan teks Kejadian 1:28-30 dengan perspektif bioregionalisme menekankan adanya batasan dan pengendalian terhadap tindakan memenuhi, menguasai, dan menaklukkan ciptaan lain. Kondisi ini kemudian mengimplikasikan setidaknya dua hal, yaitu: implikasi teoritis dan implikasi praktis. Secara teoritis, temuan ini ikut menolak klaim White dan Toynbee bahwa teks Kejadian 1:28-30 adalah teks yang mendorong terjadinya eksploitasi alam. Teks Kejadian 1:28-30 tidak hanya menuntut tanggung jawab, perlindungan, atau pun pemeliharaan terhadap alam, tetapi juga secara implisit menyiratkan bahwa pada dasarnya perintah tersebut memiliki kontrol yaitu wawasan ekologis yang mendahuluinya, dan implikasi ekologis setelahnya. Dengan kata lain, perintah memenuhi, menguasai dan menaklukkan alam adalah perintah yang berada dalam kontrol ekologis. Secara praktis, temuan di atas mengimplikasikan pengelolaan alam secara terbatas. Batasan yang dimaksud di sini adalah dari segi waktu, ruang, dan metode atau strategi. Pemanfaatan lingkungan untuk tujuan ekonomi perlu mempertimbangkan wawasan ekologis yakni ilmu alam, berikut dampaknya terhadap lingkungan. Pertimbangan kedua aspek ini akan memberikan acuan mengenai berapa lama atau berapa batasan waktu yang seharusnya digunakan untuk mengelola sumber daya alam. Analisis dan pertimbangan ini dapat menghasilkan sebuah kebijakan layaknya hukum tahun Sabat di Israel yang membatasi pengerjaan tanah selama 6 tahun saja (Im. 25:1-. , atau misalnya dalam tradisi Batu Pare masyarakat Galumpang yang melakukan sistem lahan berpindah dengan hanya membajak tanah untuk satu kali masa tanam (Borrong, 2. Pembatasan selanjutnya juga akan dijumpai dalam kebijakan mengenai pembatasan ruang atau kawasan. Pembatasan seperti ini dapat dijumpai dengan menekankan kebijakan seperti larangan mengolah hutan lindung. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi Perspektif ini terutama sangat penting dalam kebijakan untuk menerbitkan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan dalam pemanfaatan hutan produksi oleh suatu perusahaan. Wawasan ekologis prakebijakan dan analisis terhadap implikasi dari penggunaan atau pemanfaatan hutan seharusnya menjadi indikator utama dalam memberi izin. Implikasi yang terakhir adalah pembatasan metode. Sebut saja dalam tradisi Batu Pare, pendekatan dan sistem pertanian yang digunakan adalah penanaman tanaman jangka pendek, bukan jangka panjang. Metode ini kemudian efektif dalam pemanfaatan unsur hara dalam tanah, sehingga berimplikasi pada terjaganya kesuburan tanah (Borrong, 2. Berdasarkan uraian di atas, maka implementasi menguasai teks Keluaran 1:28-30 dapat dilihat sebagai penguasaan dan penaklukan yang menuntut keselarasan dengan hukum Menjadi penguasa dan penakluk tidak benar-benar dipahami sebagai dominasi atau superioritas manusia atas alam. Penguasaan dan penaklukan ciptaan adalah pemanfaatan ciptaan secara harmonis dan selaras dengan hukum-hukumnya. Kesimpulan Dengan menggunakan perspektif bioregionalisme, penafsiran terhadap teks Kejadian 1:28-30 tidak sekadar menekankan adanya tanggung jawab, perlindungan, dan pemeliharaan terhadap alam. Hal yang tidak kalah penting untuk dijaga dan dibatasi adalah implementasi dari perintah menguasai itu sendiri. Memenuhi, menguasai dan menaklukkan alam adalah pemberian izin dan kemampuan memanfaatkan alam tetapi pemanfaatan tersebut harus berpedoman pada wawasan ekologis dan berorientasi pada implikasi ekologis yang bersifat Penemuan ini kemudian semakin memperkuat argumentasi yang menolak tesis White dan Toynbee, serta memperkaya pemaknaan perintah Allah bagi manusia dalam mengelola alam ciptaan. Selain itu, dalam praktik pemanfaatan alam, teks Kejadian 1:28-30 juga dapat menjadi panduan untuk mengontrol penggunaan waktu, ruang, dan strategi untuk mengelola alam. Daftar Rujukan Bible Works. Borrong. BATU PARE: Norma Mengelolah Lahan Pertanian Masyarakat Kalumpan. In Z. Ngelow (Ed. TEOLOGI TANAH: Perspektif Kristen terhadap ketidakadilan Sosio-ekologis di Indonesia . 123Ae. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Budiman. , & Objantoro. Implikasi Makna Sabat bagi Tanah dalam Imamat 25:1-7 bagi Orang Percaya. Jurnal Teruna Bhakti, 3. , 110Ae120. Retrieved from https://doi. org/10. 47131/jtb. Cappuccio. Bioregionalism as a new development paradigm. International Conference of Territorial Intelligence, 1Ae9. Salerno,Italia. Retrieved from https://shs. science/halshs-00533625v1 Darius. Membaca dan Menafsir Kejadian 1:26-28 dalam Fungsi Kosmis Budaya Toraja untuk Membangun Paradigma Misi Kontekstual-Ekologis. MELO: Jurnal Studi Agama-Agama, 2. , 36Ae46. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi Evanoff. Bioregionalism: A Brief Introduction and Overview. The Aoyama Journal of International Politics. Economics and Communication, . , 55Ae65. Retrieved from https://w. jp/uploads/03/Bioregionalism A Brief Introduction and Overview. Karlau. PENCIPTAAN MANUSIA SEBAGAI REPRESENTATIF ALLAH UNTUKMEWUJUDKAN MANDAT BUDAYA BERDASARKANKEJADIAN 1:26-28. Jurnal Teologi Dan Misi, 5. , 122Ae138. Kaseke. Sabat dan Pandemic Covid 19 Perspektif Eco-teologi Kristen. Jurnal Scripta Teologi Dan Pelayanan, 9. , 23Ae31. Retrieved from https://ejournal. id/index. php/scripta/article/view/110 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Indonesia Serukan 3 Isu Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan di AALCO ke-61. Keraf. Filsafat Lingkungan Hidup: Alam sebagai Sebuah Sistem Kehidupan. Yogyakarta: PT KANISIUS. Koswandy. Habakuk Sipenghayat Penderitaan Umat. Yogyakarta: PT KANISIUS. Lee. Cross-Textual Hermeneutics and Identity in Multi-Scriptural Asia. Kim (Ed. Christian Theology in Asia . 179Ae. New York: Cambridge University Press. Listijabudi. Bukankah Hati Kita Berkobar-kobar? Yogyakarta: Interfidei. Listijabudi. Pembacaan Lintas Tekstual: Tantangan Berhermeneutik Alkitab Asia . Gema Teologi, 3. , 207Ae230. Retrieved https://doi. org/10. 21460/gema. Listijabudi. Bergulat di Tepian: Pembacaan Lintas Tekstual Dua Kisah Mistik (Dewa Ruci & Yakub Yi Yabo. untuk Membangun Perdamaian. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Olusola. , & Temitope. Christians. Environment and Divine Injunction in Genesis 1:28: A Case for Environmental Sustainability. The American Journal of Biblical Theology, 20. , 1Ae11. Retrieved https://w. com/Research/OlusolaAI02. Panjaitan. , & Mandowen. HUTAN ADALAH I BU BAGI MANUSIA: Titik Jumpa Ekoteologis antara Kejadian 1:28 dengan Suku Wate. Jurnal Teologi Dan Musik Gereja, 3. , 33Ae45. Pasaribu. Sipahutar. , & Hutabarat. Imago Dei and ecology: Rereading Genesis 1:26Ae28 from the perspective of Toba Batak in the ecological struggle in Tapanuli. Indonesia. Verbum et Ecclesia, 43. , 1Ae7. Retrieved from https://doi. org/10. 4102/ ve. Prabowo. , & Malela. Konsep Prokreasi Dalam Kejadian 1:26 - 28 Sebagai Jawaban Terhadap Gaya Hidup Childfree. Jurnal Teologi Kristen, 5. , 16Ae27. Saputra. Kecerdasan Agraris: Reinterpretasi Kejadian 1:28-30. 2:15 dari Perspektif Teologi Agraria. Wawasan, 5. , 144Ae159. Retrieved from https://doi. org/10. 53800/0g3xs634 Saputra. Teologi Istirahat dan Hustle Culture: Teologi Istirahat dalam Keluaran 23:12 dan Implikasinya terhadap Fenomena Hustle culture. Track, 3. , 50Ae72. Retrieved from https://doi. org/10. 61660/track. Singgih. Agama dan Kerusakan Ekologi: Mempertimbangkan AuTesis WhiteAy dalam Konteks Indonesia. Gema Teologika, 5. , 113Ae136. Retrieved from Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Reinterpretasi Teks Kejadian 1:28-30 dari Perspektif Bioreginalisme dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi https://doi. org/10. 21460/gema. Toynbee. The Religious Background of the Present Environmental Crisis. International Journal of Environmental Studies, 3. Ae. , 141Ae146. Retrieved from https://doi. org/10. 1080/00207237208709505 White Jr. The Historical Roots of Our Ecologic Crisis. Science, 155. , 1203Ae Retrieved from http://w. org/stable/1720120 Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025