UJI TOKSISITAS AKUT DAN ALERGI EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella asiatic. TERHADAP MENCIT (Mus muscullu. Hendri Poernomo1. Mochammad Taha MaAoruf2 . Luh Gede Pradnyani3 Bagian Bedah Mulut. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar Email: pradnyanii01@gmail. ABSTRAK Pegagan (Centella asiatic. merupakan jenis tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat di Bali. Khasiat yang dimiliki tanaman ini yaitu dapat mempercepat penyembuhan luka, radang reumatik, asma, wasir, disentri, demam, dan sebagai penambah darah. Penggunaan tanaman sebagai bahan baku obat semakin meningkat, sehingga diperlukan penelitian untuk membuktikan keamanan tanaman obat uji keamanan yang dilakukan yaitu uji toksisitas akut untuk mendeteksi efek toksik dari suatu zat pada sistem biologi dan untuk memperoleh data respon yang khas dari sediaan uji. Lethal Dose 50 dan klasifikasi ketoksikan serta uji alergi untuk mengetahui adanya reaksi alergi yang timbul pada mencit, selain itu pada penelitian ini juga dilakukan pengamatan mikroskopik untuk melihat histopatologi pada hati mencit. Mencit akan dikelompokkan menjadi 5 kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit yang terdiri dari 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan diberikan ekstrak daun pegagan secara oral dan dilakukan pengamatan selama 14 hari. Penelitian ini menggunakan OECD 425 sehingga dari hasil penelitian uji toksisitas akut, diperoleh nilai LD50 adalah 12,5gr/kg BB . oksik ringa. , pada pengamatan secara mikroskopis pada kelompok kontrol tidak terdapat kerusakan pada hati, sedangkan pada kelompok perlakuan terjadi perubahan berupa kerusakan hati. Untuk toksisitas akut, bobot mencit setelah diberikan ekstrak daun pegagan diuji menggunakan pengujian Shapiro Wilk dan Kruskal Wallis. Dari hasil analisis tidak terdapat perbedaan bermakna. Kata Kunci: Daun pegagan (Centella asiatic. Toksisitas akut. Uji alergi. LD50 PENDAHULUAN Luka merupakan suatu bentuk kerusakan sebagian jaringan karena terdapat faktor yang mengganggu sistem perlindungan tubuh. Pengobatan luka yang optimal sangat diperlukan untuk mencapai kesembuhan, menghindari gangguan dan masalah yang nantinya mengakibatkan pada produktivitas kerja1. Tumbuhan tradisional sebagai bahan dasar obat herbal sering digunakan karena efek samping yang dihasilkan hampir tidak ada dibandingkan obat yang berbahan dasar Salah satu tumbuhan tradisonal yang khasiatnya untuk menyembuhkan luka yaitu daun pegagan dengan nama latin Centella asiatica3. Pemberian ekstrak daun pegagan berpotensi untuk mengecilkan diameter luka, meningkatkan jumlah fibroblas, menginduksi proses angiogenesis pada penyembuhan luka setelah pencabutan gigi, dan memiliki kemampuan reepitelisasi yang baik4567. Obat herbal yang nantinya akan terus digunakan memerlukan suatu penelitian khasiat, keamanan melindungi konsumen dari efek yang berbahaya serta ketiadaan efek Pengujian toksisitas ditujukan untuk memperkirakan efek yang timbul setelah pemberian suatu zat9. Salah satu uji toksisitas yang dapat dilakukan untuk menguji keamanan suatu zat yaitu uji toksisitas akut yang merupakan percobaan yang dilakukan dengan memberikan zat kimia yang akan diuji pada hewan coba sebanyak satu kali atau beberapa kali dalam rentang waktu 24 jam10. Reaksi alergi atau yang dikenal juga dengan istilah reaksi hipersensitivitas juga perlu dilakukan pengujian. Alergi terjadi karena tubuh memberikan respon berlebih terhadap adanya allergen11. Pada penelitian ini akan dilakukan pengujian terhadap mencit (Mus musculu. mengenai uji keamanan yaitu uji toksisitas akut dan uji alergi. Setelah dilakukan pengujian tersebut, maka diharapkan dapat memperoleh batas aman penggunaan suatu bahan agar tidak terjadi efek toksik maupun alergi yang merugikan. METODE Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratoris in vivo dengan metode quasi experimental dan post test-Only Control Group Design, serta Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan untuk pengelompokan sampel. Penelitian ini mengukur kisaran nilai LD50 dengan menggunakan metode Karber. Metode penelitian yang digunakan dalam uji toksisitas akut yaitu Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) 425 fixed dose procedure yang dalam pengujiannya memiliki dua jenis perlakuan yaitu uji pendahuluan dan uji utama . ain tes. Dosis uji utama diawali dari 5000mg/kg BB dan dosis selanjutnya ditingkatkan sebesar 2500mg/kg BB. Sampel Jumlah hewan coba yang diperlukan yaitu sebanyak 5 ekor pada setiap kelompok. Kelompok penelitian terdiri dari 4 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol, sehingga jumlah mencit yang dibutuhkan secara keseluruhan yaitu sebanyak 25 ekor. Analisis Data Analisis deskriptif untuk memberikan deskripsi atau gambaran mengenai toksisitas dan alergi berdasarkan data variabel yang telah diperoleh. serta uji Shapiro Wilk dan Kruskal-Wallis Test HASIL Uji Skrining Fitokimia dan Uji Spektrofotometri Senyawa yang Diidentifikasi Parameter Metode Hasil Alkaloid Endapan merah bata Dragendorff Flavonoid Warna Kuning Mg Hcl Tannin Endapan hijau FeCl3 Steroid/ Triterpenoid Endapan warna hijau Liebermann (Steroi. dan merah Burchard . Saponin Terbentuk buih Kocok Vertikal Tabel 1. Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Daun Pegagan Hasil uji skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak daun pegagan (Centella asiatic. memiliki kandungan berupa flavonoid, tannin, dan steroid. Senyawa yang Diidentifikasi Metode Konsentrasi (WL. Flavonoid Spektrofotometri 1169,719 mgQE/ 100g Tabel 2. Hasil Uji Spektrofotometri Ekstrak Daun Pegagan Hasil uji kuantitatif kandungan flavonoid pada ekstrak daun pegagan dengan menggunakan metode spektrofotometri memiliki konsentrasi sebesar 1169,719 mgQE/ Uji Toksisitas Akut dan Alergi Kelompok Jumlah Kematian Mencit Hari Pertama Tabel 3. Hasil Pengamatan Gejala Toksik pada Mencit Keterangan: : Kelompok kontrol dengan CMC-Na : Kelompok perlakukan 1 dengan dosis 5000 mg/ kg BB mencit : Kelompok perlakukan 2 dengan dosis 7500 mg/ kg BB mencit : Kelompok perlakukan 3 dengan dosis 10. 000 mg/ kg BB mencit : Kelompok perlakukan 4 dengan dosis 12. 500 mg/ kg BB mencit ( ) : Mencit mengalami kematian (-) : Mencit tidak mengalami kematian Hasil pengamatan mencit yang diberikan ekstrak daun pegagan yang dilakukan selama 14 hari, menunjukkan adanya kematian pada hari pertama. Kelompok Sebelum . Sesudah . 21,78 A 0,84380 24,50 A 0,355 21,60 A 1,48829 22,77 A 1,17813 21,82 A 1,20706 23,88 A 1,92536 21,84 A 1,01143 24,54 A 0,85615 24,50 A 0,59582 24,40 A 0,74498 Tabel 4. Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Daun Pegagan Rerata berat setelah diberikan sediaan uji berat badan mencit tertinggi yaitu kelompok P3 sebesar 24,54 dan berat badan terendah yaitu kelompok P2 sebesar 23,88. Uji Normalitas Data Kelompok Perlakuan Sesudah Statistik 0,957 0,789 0,964 0,836 0,937 0,644 0,921 0,535 0,987 0,967 Tabel 5. Hasil Uji Normalitas pada Kelompok Sesudah Pemberian Ekstrak Daun Pegagan terhadap Mencit Hasil pengujian menunjukkan data yang digunakan merupakan data berdistribusi normal, sehingga pengujian selanjutnya menggunakan uji homogenitas yaitu Levene test. Uji Homogenitas Data Variabel Levene Statistic Sesudah 3,918 0,017 Tabel 16 Hasil Uji Homogenitas Kelompok Sesudah Pemberian Ekstrak Daun Pegagan terhadap Mencit Dari uji homogenitas, maka data berat badan mencit sesudah perlakuan antar kelompok memiliki varians yang tidak homogen, sehingga dilakukan pengujian non parametrik, yaitu uji Kruskal Wallis. Uji Kruskal Wallis Sesudah Chi-Square 0,427 0,980 Tabel 17. Hasil Uji Kruskal Wallis pada Kelompok Sesudah Pemberian Ekstrak Daun Pegagan terhadap Mencit Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok berat badan mencit sesudah diberikan ekstrak daun pegagan. Hasil Pengamatan Gejala Klinis Uji Alergi Eritema Edema Rerata Hasil Skoring Tabel 18 Hasil Pengamatan Eritema dan Edema Setelah Pemberian Ekstrak Daun Pegagan terhadap Mencit Hasil tidak ditemukan adanya eritema maupun edema pada lapisan dermal mencit. Hasil Pengamatan Preparat Hati Mencit secara Mikroskopis Kelompok Perlakuan Rerata Skor Sampel Tabel 19 Hasil Pengamatan Preparat Hati Mencit Secara Mikroskopis Gambar 5. 3 Hasil pengamatan preparat hati mencit secara mikroskopis, (A) Kelompok kontrol tidak terjadi kerusakan pada hepar, (B) P1=5000 mg/ kg BB terjadi degenerasi parenkimatosa, (C) P2=7500 mg/ kg BB terjadi degenerasi parenkimatosa, (D) P3=10. 000 mg/ kg BB terjadi degenerasi hidropik, (E) P4=12. 500 mg/ kg BB terjadi degenerasi hidropik. PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan sediaan uji berupa ekstrak daun pegagan (Centella asiatic. dengan konsentrasi 25% dan dilakukan pengujian skrining fitokimia untuk mengidentifikasi kandungan senyawa yang terdapat di dalam ekstrak daun pegagan. Hasil yang diperoleh yaitu kandungan flavonoid, tanin, dan steroid, namun pada penelitian ini hanya didapatkan kandungan flavonoid, tannin, steroid/triterpenoid. Adanya perbedaan kandungan tersebut bisa disebabkan karena faktor geografis tanaman pegagan tumbuh, proses pembuatan ekstrak, pengaruh lingkungan tempat hidup tanaman pegagan, dan jenis uji skrining fitokimia yang digunakan12. Dosis yang dapat digunakan pada uji toksisitas utama dimulai dari 5000mg/kg BB sebagai dosis terendah dan aman yang digunakan pada uji toksisitas utama. Dalam waktu 24 jam, 1 ekor mencit yang mati yaitu pada dosis 12. 500mg/kg BB, pengamatan tetap dilakukan selama 14 hari, namun hewan uji lainnya tidak memiliki gejala toksik maupun adanya kematian. Kematian mencit dapat disebabkan rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa nyeri, luka, dan penyakit, bebas dari rasa takut dan stress, serta bebas mengekspresikan perilaku normal13. Perhitungan nilai LD50 menggunakan metode Karber. Hasil yang didapatkan yaitu kematian pada dosis 12. 500mg/kg BB mencit, sehingga faktor kematian adalah 12. dengan dosis bertingkat sebesar 2. 500mg/kg BB mencit. Nilai LD50 yang diperoleh adalah 12,5gr/kg BB dan termasuk ke dalam kategori toksik ringan. Pengamatan pada kelompok kontrol yang diberikan CMC-Na, yaitu tidak terdapat perubahan yang terjadi pada hati mencit. Perubahan yang terjadi pada hati disebabkan oleh senyawa tanin yang terkandung di dalam ekstrak daun pegagan. Tannin memiliki efek toksik apabila diberikan dalam konsentrasi yang tinggi. Efek yang ditimbulkan oleh senyawa tanin yaitu adanya pendarahan pada saluran pencernaan, nekrosis hati, dan kerusakan ginjal14. Uji alergi juga dilakukan dengan mengaplikasikan ekstrak daun pegagan secara topikal pada punggung mencit lalu diamati selama 24 jam dan tidak terdapat adanya eritema atau edema pada lapisan dermal mencit. SIMPULAN Ekstrak daun pegagan pada dosis 5000mg/kg BB, 7500mg/kg BB, 10. 000mg/ kg BB 500mg/kg BB tidak menimbulkan efek toksik terhadap kematian mencit, sedangkan nilai LD50 diperoleh 12,5gr/kg BB yang termasuk ke dalam kategori toksik Ekstrak daun pegagan tidak menimbulkan kerusakan hati pada kelompok kontrol, namun kerusakan hati berupa degenerasi parenkimatosa terjadi pada kelompok dosis 5000mg/kg BB dan 7500mg/kg BB mencit. Degenerasi hidropik terjadi pada kelompok 000mg/kg BB dan 12. 500mg/kg BB mencit. Ekstrak daun pegagan 25% juga tidak menimbulkan alergi pada mencit DAFTAR PUSTAKA